Eternally Regressing Knight

Bab 603 — Pahlawan dan Kehangatannya

1999 Kata

Bab 603 — Pahlawan dan Kehangatannya

"Aku akan memotong Walking Fire."

Encrid mengucapkannya ke arah cermin, dan begitu mendengarnya, Esther langsung berubah menjadi seekor macan tutul lalu melesat pergi.

Jika dia macan tutul sungguhan, dia takkan sanggup berlari seharian karena keterbatasan stamina.

Namun dia seorang penyihir, jadi dia bisa berlari seharian. Lagipula Cross Guard tidak terlalu jauh, bahkan dengan kecepatan macan tutul.

Untungnya, dia tidak berjalan di sepanjang Border Guard, melainkan di dekat tepi Sungai Pen-Hanil, membuat jaraknya makin dekat. Jadi, dia berpacu menuju Cross Guard.

Sungai bukan penahan baginya; dengan mantra "Del Grecher's Walkway", dia bisa menyeberanginya dengan mudah.

Lapisan es tipis terbentuk di bawah kakinya saat dia berlari, memanfaatkannya sebagai pijakan melompat.

Dia telah kembali ke wujud manusianya untuk memantra, tetapi kekuatannya tetap sama, sehingga kecepatannya jauh melampaui orang biasa.

Dia terus berpacu, berganti wujud antara macan tutul dan manusia sesuai kebutuhan, sembari mengombinasikan sihir dan energi fisik.

'Tapi apakah ini sudah terlambat?'

Meski pemikiran itu terlintas di benaknya, hal itu tak memperlambat langkahnya.

Jika memang sudah terlambat, berhenti hanya bakal berarti akhir dari segalanya.

Esther terus menerjang maju. Dia dengan mudah merasakan jejak Apostle Anella, sosok yang mewujudkan Walking Fire, lalu mengikutinya.

Menyeberangi sungai dan mengarah ke Cross Guard, Esther secara naluriah mengubah arah.

Seorang penyihir handal sanggup membaca jejak-jejak sihir.

Ini bukan kebetulan. Hal ini terhubung dengan Encrid. Jika jejak ini mengarah kemari, artinya dia harus menuntaskan masalah ini terlebih dahulu.

Keputusan dan tindakannya terjadi secara bersamaan.

Tak perlu menunggu sampai bintang-bintang muncul atau membaca rasi bintang. Aroma sihir tercium sangat pekat di udara.

Tak lama kemudian, tanah tempat mantra diwujudkan mulai terlihat. Sebuah lubang besar, dipenuhi mayat-mayat yang sebagian besar telah hangus menjadi abu.

'Golden Words, Annihilation Spell.'

Itu memang benar-benar Walking Fire.

Mantra terlarang, Golden Words, mantra pemusnah yang melahap apa pun di jalur lintasannya sebelum bisa berakhir.

Saat dia mendekati lubang itu, seekor Man Beast berkepala dua menerjang maju.

Esther sudah merasakannya terlebih dahulu jadi dia tak ragu sedikit pun.

"D'muller's Scythe."

Esther mengibaskan tangannya. Mengikuti gestur sederhana itu, angin terkumpul membentuk bilah tajam yang melesat menuju sasarannya.

Cras!

Dua bilah angin membelah dan memotong tengkorak serta tubuh binatang berkepala dua itu, mengirisnya menjadi dua bagian. Makhluk itu roboh, menyemburkan darah hitam dan isi perut saat ambruk.

Masih membawa momentum lari, sisa tubuhnya terseret ke samping sebelum akhirnya terhenti.

Dengan tangan terangkat, pandangan Esther beralih ke satu sisi. Mantra pembatal ilusi telah diaktifkan.

Dia merasakannya murni berkat naluri. Dan begitu dia merasakannya, hanya ada satu hal yang harus dilakukan: menyerang.

Memanggil seekor binatang pembantu, dia menarik kekuatan dari rune lalu membisikkan kata-kata mantra yang berisi sebuah keberadaan.

"Hadirlah, Bonehead."

Itu adalah Flesh Golem, versi yang sudah ditingkatkan dari yang pernah dihadapi Encrid sebelumnya.

Saat dia memberi isyarat, lingkaran cahaya terbentuk di tanah, lalu daging dan darah saling terjalin di dalamnya, menciptakan sang Golem.

Momen saat dipanggil, Golem itu langsung menerjang maju tanpa berpikir.

Cara terbaik untuk menghancurkan ilusi adalah dengan kekuatan fisik murni.

Itu adalah solusi yang sangat efektif.

Saat Golem menghantam tanah dengan suara dentuman keras, tirai tipis berwarna hitam yang menyelubungi area itu bergoyang lalu terurai, dan sebuah suara terdengar.

"Beraninya kau?"

Seorang wanita melangkah keluar dari dalam tirai lalu berbicara. Esther melihat wajahnya tetapi mengabaikannya dengan acuh tak acuh sembari terus membentuk segel sihir.

'Dia bukan lawan sembarangan.'

Mengabaikannya bukan berarti meremehkannya, melainkan karena Esther menganggap kecepatan adalah hal paling penting saat ini.

Kekuatan sihir yang dia rasakan dari wanita itu sangat luar biasa.

Jelas bahwa wanita tersebut memiliki kekuatan yang lebih pekat dibanding kekuatan Esther saat ini, tanda bahwa dia masih mengumpulkan sihirnya. Energi ungu berputar-putar di atas bahunya.

"Penyihir, dari sekian banyak pengganggu."

Wanita itu berbicara seolah menyatakan dirinya sebagai hamba para dewa.

Sembari membentuk segel, Esther merenungkan kondisinya saat ini.

Berkat Encrid, sebagian besar kutukan di tubuhnya sudah terangkat.

Kini, dia sedang membangun kembali dunia sihirnya. Dia belum mendapatkan kembali kekuatan penuhnya.

Apakah itu sebuah kerugian? Mungkin saja. Namun hal itu bukan alasan untuk berhenti.

Di antara pengulangan 'hari ini' yang tak terhitung jumlahnya, pernah ada hari ketika Encrid menghubunginya lewat cermin. Setiap momen telah membawanya sampai ke titik ini.

"Demon God, putra dan putrimu ada di sini."

Apostle Anella berteriak. Dia menyadari bahwa Esther bukan penyihir biasa. Dia secara refleks menarik pedangnya, bersiap menghadapi apa yang tersisa setelah Walking Fire.

Seekor makhluk, ghoul yang sudah dimodifikasi, melompat keluar dari sela-sela mayat.

Masing-masing dari mereka adalah monster berbahaya dengan kemampuan fisik yang telah ditingkatkan.

Bahkan ada prajurit tengkorak yang lahir dari penggabungan ulang tulang-belulang. Kombinasi necromancy dan sihir yang mereka kuasai.

Tubuh monster-monster itu mendadak menyala. Sekelompok makhluk berapi dengan tubuh membara.

Meski biasanya senjata semacam ini tidak berguna melawan Walking Fire, mereka sangat mematikan bagi orang-orang yang sudah kelelahan menghadapinya.

Esther tak membiarkan satu percikan api pun jatuh dari mereka.

Dia tidak menggunakan Bonehead di sini. Meski kekuatan fisik terkadang bisa menahan kekuatan fisik, hal itu tidak efektif dalam kasus ini.

Setelah memanggil kembali Golem milikya, dia mengisi ulang energi sihirnya.

"Del Grecher's Territory Marker."

Meminjam kekuatan dari mantra lain adalah bentuk memanfaatkan keberadaan makhluk yang dipinjam. Sebagai contoh, Dreler adalah roh angin yang menikmati kebahagiaan dalam membunuh, sedangkan Del Grecher adalah makhluk yang berevolusi dari binatang berkaki empat yang hidup di padang es.

Esther adalah seorang jenius dalam memadukan sihir pinjaman dengan sihir penciptaan.

"Terbakarlah menjadi abu."

Anella, seorang apostle yang mengendalikan bencana dan sangat mahir memanipulasi api, melihat api yang melahap ghoul makin membesar.

Esther mengeluarkan mantra yang sebelumnya sudah disempurnakan tetapi belum pernah diracik ulang.

"Permafrost."

Krak.

Dari bawah kaki Esther, kristal-kristal es menyebar ke luar, seolah tanah itu sendiri yang melahirkannya. Suhu udara anjlok drastis meski tidak ada badai salju.

Jika seseorang pergi ke ujung paling utara, langit berhiaskan warna-warna fantastis bakal muncul, dan tanah akan membeku di setiap hembusan napas.

Tanah itu disebut Permafrost, tanah es abadi.

Mantra sangat dipengaruhi oleh kata-kata yang digunakan. Mantra milik Esther pun tak ada bedanya.

Meski hanya mencakup radius kecil, sihir itu membekukan segala hal di dalamnya. Kobaran api padam seketika, dan makhluk-makhluk berbadan api menjadi tak stabil.

"...Kau bisa melempar mantra semacam itu tanpa persiapan atau pengorbanan?"

Anella benar-benar terperanjat. Ada mantra yang dikenal sebagai Disaster Blizzard, mantra Golden Words yang tak bisa dirapal tanpa membekukan sebagian tubuh perapalnya sebagai persembahan.

Namun kini, dia mengalami sesuatu dengan kekuatan serupa tanpa pengorbanan apa pun.

Meski radiusnya tidak luas, hal itu cukup untuk membuatnya terpana.

Namun dia takkan membiarkannya berlalu tanpa balasan. Sambil berbicara, dia menggerakkan sihirnya dan mulai merapal.

"Flame Dancer of Maelrak."

Dia pun melempar mantra, dan saat dia melakukannya, api meletup dari tubuh Anella, menyebar ke segala arah.

Satu sisi membara oleh api sementara sisi lainnya membeku oleh hawa dingin.

Wush.

Bahkan angin pun terasa membeku, tajam bagaikan bilah pisau.

"Frostwind Scythe."

Esther melempar mantra lainnya. Itu adalah peracikan ulang dari D'muller's Scythe.

Mata Anella membelalak. Apakah wanita ini baru saja melempar jenis mantra lain, bahkan setelah mengaktifkan Permafrost?

Singkat cerita, setelah beberapa mantra saling bertukar, Esther keluar sebagai pemenang dan Anella tewas.

Perbedaan keterampilan mereka tidak terlalu jauh. Dalam pertarungan antar penyihir, kemenangan sering kali ditentukan oleh seberapa baik mereka bersiap, tetapi tak ada yang bisa mengantisipasi skenario tepat seperti ini.

Esther sedikit dirugikan karena kelelahan akibat berlari jauh.

Namun kepekaannya dalam mengendalikan sihir, dipadukan dengan mantra-mantra kreatif yang dia rancang, menutup kekurangan itu.

Sederhananya, perbedaan kejeniusan di antara mereka sangat mencolok.

Saat itu awal musim dingin, dan secara alami, mantra yang menurunkan suhu jauh lebih berguna dibanding mantra yang menghasilkan api.

Penyihir hebat selalu sanggup memanfaatkan lingkungan sekitar untuk keuntungannya.

Itulah sebabnya ada pepatah bahwa tak ada yang bisa mengalahkan penyihir di dalam gubuknya sendiri.

'Aku terlalu memaksakan diri.'

Namun, jelas bahwa tubuhnya telah bekerja terlalu keras. Seluruh tubuh Esther gemetar hebat. Dia harus makan sesuatu yang bisa mengembalikan kehangatan atau membungkus dirinya dengan jubah hangat seperti milik Rem.

Dia tak bisa pergi jauh saat ini, jadi dia mengarah ke Cross Guard.

Menemukan Encrid bukanlah hal sulit. Pria itu pasti sadar bahwa Esther-lah yang menciptakan barang-barang sihir yang dia gunakan.

Dia tiba dengan cepat setelah menemukan jejak alat-alat yang pernah buat. Meski mengenakan jubah yang dirancang untuk menjaga kehangatan, tubuhnya tetap gemetar.

Angin awal musim dingin terasa seolah merasuk menusuk tulang.

Dingin. Begitu dingin hingga rasanya seperti baru pertama kali mengalaminya.

"Esther?"

Di sana, di hadapannya, Encrid berdiri.

Pria itu tetap sama seperti biasanya. Mata birunya menembus kegelapan fajar, dan meski malam belum sepenuhnya berakhir, ada api tak terpadamkan yang bersemayam di dalam dirinya.

"Peluk aku."

Bisik Esther saat pandangannya menggelap dan dia kehilangan kesadaran.

* * *

Encrid secara refleks menangkap tubuh Esther. Kulit wanita itu dingin bagai batangan es. Wajahnya pucat, dan embun beku menempel di rambutnya.

"Luagarne."

"Aku sudah bangun."

"Panggil lord kota dan bawakan beberapa heatstone."

"Paham."

Luagarne dengan cepat berlari pergi, dan Encrid mendekap Esther di lengannya.

Dia tidak tahu pasti apa yang telah terjadi, tetapi dia memiliki firasat.

'Entah kenapa, ini rasanya ada hubungannya denganku.'

Mempercayai nalurinya, dia membaringkan Esther di atas tempat tidur. Dia pernah melihat orang-orang yang menderita radang dingin sebelumnya.

Itu terjadi saat seorang bangsawan gila bersikeras memanen tanaman obat dari wilayah kutub.

Itu adalah kegilaan murni, tetapi saat itu Krona sedang terdesak, jadi tak ada pilihan lain. Encrid menjadi pemandu, dan tiga rekannya tewas karena radang dingin.

Mereka yang selamat tetap harus kehilangan jari-jari kaki mereka.

Jika bukan karena seorang pendeta yang lewat membantu mereka, mungkin mereka semua sudah tewas.

"Kau membawa matahari di dalam dadamu."

Itulah yang dikatakan pendeta saat itu. Saat semua orang membeku setengah mati, Encrid sanggup bertahan, memicu komentar tersebut.

"Jika kubiarkan, dia bakal mati membeku."

Encrid bergumam sendiri sembari berbaring di tempat tidur bersama Esther. Menyelimuti mereka berdua, dia mendekap Esther erat-erat lalu berbicara.

"Siapkan air hangat, Delma."

"Apa? Oh, baik."

Pekerja penginapan, yang bangun lebih awal di pagi hari, melihat seorang wanita tiba-tiba datang lalu dipeluk oleh pahlawannya.

'Kekasihnya?'

Mungkin saja begitu.

Merasakan atmosfer yang tak biasa, dia akhirnya mengintip diam-diam, hingga Encrid menyadarinya dan memanggilnya.

"Jangan terlalu panas."

"Baik."

Encrid melepas jubah Esther dan kaus miliknya sendiri, menempelkan tubuh wanita itu pada tubuhnya.

Suhu di dalam jubah Esther masih sangat membeku. Dia berhati-hati untuk tidak menatap tubuhnya—dia tak ingin matanya dicongkel.

Seharian dan semalam penuh, dia mendekapnya erat, meminta Luagarne membantu memandikan Esther dengan air hangat, mengeringkannya, lalu mendekapnya kembali.

"Suhu tubuhku terlalu rendah untuk menghangatkannya dengan baik."

Suhu tubuh spesies Frog lebih rendah dibanding manusia, jadi Luagarne hanya bisa menyampaikan keprihatinannya.

"Aku sudah membawa semua heatstone yang ada di kota."

Sang lord berhasil mendapatkan beberapa heatstone. Kota yang buruk dan miskin ini penuh dengan obat-obatan terlarang dan sarang perjudian, tetapi sangat minim barang kebutuhan saat benar-benar diperlukan.

Meski hal ini kemungkinan bakal berubah di masa depan.

Encrid mendekap Esther di pelukannya selama dua hari. Barulah setelah itu suhu tubuh wanita tersebut perlahan kembali normal. Warna kemerahan mulai tampak kembali di wajahnya.

Saat fajar, ketika Encrid terbangun kembali dengan Esther di pelukannya, dia membuka mata dan mendapati dirinya menatap mata biru, persis seperti milik dirinya sendiri.

"Kau tidur nyenyak?"

Tanya Encrid.

"Kenapa? Kenapa kita... di tempat tidur yang sama?"

Jawab Esther, ingatannya sempat terpecah sesaat.

"Tak ada cara yang lebih baik untuk mengembalikan suhu tubuh yang anjlok."

Meski dia tak secara harfiah membawa matahari di dadanya, dia kemungkinan adalah satu-satunya orang yang sanggup mendekap Esther dan bertahannya.

Hanya bernapas saja, wanita itu seakan menurunkan suhu udara di sekitarnya. Seolah dia membawa semacam kutukan bersamanya.

Encrid berhasil bertahannya, tetapi tidak semua orang sanggup. Bahkan Delma mengeluhkan hawa dingin hanya dari berada di dekatnya, menolak untuk mendekat.

Bahkan saat Encrid mendekapnya, Will miliknya secara alami bergolak, berputar-putar di dalam tubuhnya.

Itu adalah bukti bahwa hawa dingin buatan yang memancar dari tubuh Esther bukanlah hal yang alami.

Itu tak meragukan lagi adalah sihir, tetapi tak ada orang yang bisa ditanyai untuk kejelasannya. Pilihan apa lagi yang dia miliki selain bertahannya?

Meski begitu, menjelaskan semuanya secara terperinci terasa tidak perlu.

Encrid, dengan nada santai, berbicara.

"Kau dulu selalu meringkuk menempel padaku setiap kali kau menjadi wujud macan tutul."

Mendengar ucapannya, Esther diam-diam menatap matanya untuk beberapa saat.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.