Eternally Regressing Knight

Bab 602 — Penjelas Mantra

2088 Kata

Bab 602 — Penjelas Mantra

Dalam satu tebasan tunggal, dia mencurahkan seluruh Will miliknya.

Jika itu Knight biasa—meski menyebut mereka biasa terasa kurang tepat—atau seseorang dengan kemauan setara, mereka takkan pernah mencoba hal nekat seperti itu.

Siapa pun yang pernah merasakan 'kelelahan hebat' setelah ceroboh melepaskan Will demi euforia kekuatan semu akan paham bahayanya.

Mereka bakal menyadari secara naluriah bahwa memeras kekuatan sedikit lebih banyak saja bisa berujung kematian.

Mungkin itulah harga yang harus dibayar saat mengerahkan kekuatan di luar batas kaum mereka. Mencurahkan kekuatan tak kasatmata membawa risiko merenggut nyawa.

Karena itu, hal tersebut seharusnya tak boleh dilakukan. Namun, Encrid memiliki Will yang tak pernah habis. Berkat hal itu, dia belum pernah merasakan kelelahan akibat kehabisan Will.

Tidak, ini adalah kali pertama baginya.

Tebasan itu memotong Walking Fire. Momen ketika dia melihat api yang terputus itu terurai dan menyebar.

'Hmm.'

Encrid langsung merasa ada yang tak beres.

Tenaga mendadak menguap dari lengan dan kakinya. Anggota tubuhnya terasa asing, napasnya tersengal, dan memusatkan pikiran saja membuat bernapas makin berat.

Penglihatannya kabur, sementara otot-ototnya mengejang hebat.

Paha dan lengannya gemetar, sedangkan otot perutnya melilit kesakitan.

Ini jauh melampaui rasa nyeri otot biasa, seolah kendali atas tubuhnya direnggut paksa.

Semua ini terjadi akibat kelelahan hebat setelah melepaskan seluruh Will sekaligus.

Harganya adalah Walking Fire yang tampak runtuh di balik pandangannya yang samar.

Kobaran api itu terurai lalu padam.

Percikan api menyambar di udara, membentuk gumpalan-gumpalan kecil yang berhamburan.

Meski percikan itu tak membalal jauh, tanah tempatnya jatuh langsung menyala terbakar. Itu menandakan bahwa meski inti mantra telah terpotong, sisa-sisa kekuatannya masih bertahan.

Salah satu percikan api itu terbang menuju wajah Encrid.

'Aku tak bisa mengelak.'

Dia benar-benar tak sanggup menggerakkan satu jari pun. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengumpulkan sisa Will terakhir untuk memalingkan kepala ke samping.

Beberapa warga kota yang kebetulan melihat Walking Fire dan tumbangnya sihir itu memikirkan hal yang sama.

'Dia bakal terbakar.'

Percikan api itu akan menyengat wajahnya, meninggalkan bekas luka bakar mengerikan meski tak sampai membunuhnya.

Itu adalah serangan terakhir dari sisa-sisa Walking Fire.

Tepat saat bara api itu hampir menyentuh wajahnya.

Plak!

Pandangan kabur Encrid sedikit mengabur, memperlihatkan sebuah telapak tangan tebal yang menghalangi pandangannya.

Garis-garis tipis bersilang di punggung tangan itu berguna untuk mencegah slip saat menggenggam sesuatu.

Itu adalah tangan Frog. Bau daging terbakar langsung memenuhi udara. Api menyambar kulit Frog.

Frog, Luagarne, mengibaskan tangannya untuk membuang api, tetapi sisa kobaran itu sudah menghitamkan kulitnya.

Sebelum api merembet lebih jauh, Luagarne mengelupas kulitnya sendiri seolah mengiris dagingnya. Memotongnya terasa jauh lebih tidak menyakitkan dibanding membiarkannya terbakar.

Karena kulit spesies Frog tidak terlalu sensitif, dia bahkan hampir tak mengerutkan dahi.

Tentu saja tidak semua Frog sama, tetapi Luagarne bahkan tak meringis sedikit pun.

"Tak apa. Nanti juga regenerasi sendiri."

Ucapnya santai. Encrid berkedip sekali lalu mengangguk.

"Aku tetap harus berterima kasih padamu."

Lidahnya yang tadinya kaku bagai batu kini bisa bergerak mulus kembali. Meski kelelahan sempat melumpuhkan tubuhnya, Encrid merasakan kekuatannya pulih tak lama kemudian. Pemulihannya secepat rasa lelah yang menghampirinya.

'Kenapa?'

Mencermati kondisi dalamnya, dia merasakan gelombang Will kembali meluap. Will miliknya yang tak terbatas akan terisi penuh kembali dalam waktu singkat meski telah terkuras habis.

Dia juga mempelajari beberapa hal baru.

'Jika aku terbiasa dengan ini, aku bakal bisa melepaskan Will lebih banyak lagi. Mengulangnya akan memperbesar wadah kekuatanku. Merasakan kelelahan seperti ini justru menguntungkanku.'

Dia memang sosok yang gila berlatih. Ferryman pernah menyebut kegilaan Encrid seperti itu.

Meski baru saja melewati pengalaman kelelahan yang mengerikan, dia langsung berpikir untuk memanfaatkannya demi berlatih.

"Sihir itu benar-benar Walking Fire ya."

Ucap Luagarne, yang kehilangan sebelah tangannya. Alih-alih menghapus mantra mirip kutukan itu, sihir tersebut harus dipotong, dan hal itulah yang membawanya kemari hingga menyaksikan pemandangan ini. Tidak semua hal masuk akal baginya. Ada banyak bagian yang membingungkan.

Namun dia mengabaikan hal-hal sepele itu. Ada hal lain yang menyita perhatian Luagarne.

'Tebasan tadi...'

Luagarne berada tepat di belakang Encrid. Karena datang terlambat, dia hanya sempat melihat momen saat Encrid mengayunkan pedang.

Tebasan itu memotong sebuah mantra. Walking Fire, mantra kiamat yang takkan berhenti sampai semuanya terbakar, telah terpotong.

Apa sebutan yang pas untuk momen itu?

Penindasan mantra? Penahanan mantra? Pembantai mantra?

Satu hal yang pasti—itu adalah tebasan yang sangat layak disebut sebagai petaka bagi para penyihir.

'Memotong Walking Fire?'

Bahkan bagi Luagarne yang abadi dan memiliki kemampuan regenerasi, hal itu adalah pencapaian yang hampir mustahil dicoba. Knight macam apa yang sanggup melakukan hal gila seperti itu?

Dia telah menyaksikan keterampilan ajaib semacam itu, dan jantungnya berdegup kencang karena antusias.

Bagaimana dia melakukannya?

Mata tajam Frog menangkap prinsip tersembunyi di balik aksi tersebut.

'Pencurahan Will yang luar biasa sekaligus.'

Itulah yang dilakukan Encrid.

Keterbatasan Encrid yang biasa adalah jumlah Will yang terbatas yang bisa dia lepaskan dalam satu waktu.

Ibarat memiliki sumur penuh air tetapi hanya punya gayung kecil untuk menimbanya.

Itulah kelemahan Encrid selama ini. Namun tidak lagi. Dia baru saja membuktikannya di depan mata Luagarne.

Encrid menaklukkan mantra itu dengan Will miliknya.

Luagarne tersentuh dan sangat antusias oleh rasa ingin tahu. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya.

Bagaimana Encrid bisa mengatasi kelemahannya hanya dalam waktu satu hari?

'Misteri.'

Kata itu membuat jantung Luagarne berdebar keras. Sensasi yang dirasakannya begitu hebat hingga dia ingin berseru, 'Jantungku berpacu kencang.'

Encrid telah mendapatkan kembali penglihatannya dan kemampuan menggerakkan lidah, tetapi lengan dan kakinya belum pulih sepenuhnya. Pemulihan inderanya mendahului pemulihan fisiknya.

Melalui inderanya, Encrid mendeteksi niat jahat yang mengincarnya. Niat membunuh itu datang dari kedalaman gang lalu menampakkan diri.

Para penyerang itu bukan petarung yang sangat ahli.

"Mati kau!"

Teriakan mereka saat menyergap sama saja dengan mengumumkan keberadaan sendiri, menandakan bahwa mereka adalah amatir.

Mengapa mereka membocorkan posisi sebelum menyerang?

Jika Jaxon melihat ini, dia pasti bakal ber komentar betapa tak masuk akalnya tindakan mereka.

Karena itu, mereka tidak memberi ancaman berarti. Namun, niat jahat mereka sangat nyata. Ada tiga orang, bersenjatakan belati dan jarum beracun.

Jika Encrid sedang sendirian, hal itu mungkin bakal menyulitkan karena dia belum pulih sepenuhnya dari kelelahan.

Namun Encrid tidak sendirian.

Sring! Brik!

Semua serangan diadang oleh cambuk milik Luagarne. Cambuk cokelat tua berbahan kulit sihir itu melesat bagai ular, menghantam lutut, pinggang, dan bahu para penyerang.

Cambuk itu memiliki pemberat bulat di ujungnya, yang dia ayunkan seperti senjata tumpul, mematahkan tulang dan merobek kulit.

Kombinasi kekuatan Frog dan teknik cambuknya dengan cepat melumpuhkan ketiga penyerang.

Jeritan kesakitan, "Ah, ugh, ak!" bergema saat mereka ambruk.

Bahkan saat roboh, mata mereka masih menyala dengan niat jahat, lalu berteriak geram,

"Dunia yang dikuasai Black Blood bakal tiba!"

"Demon God, turunlah ke tanah ini!"

Mereka adalah anggota sekte.

Hal itu mungkin bakal memicu pertanyaan: Apakah Encrid mengayunkan pedang demi orang-orang semacam ini?

Namun tatapan Encrid tak goyah sedikit pun saat menatap ketiga anggota sekte yang sudah tak berdaya.

Dengan memotong Walking Fire, dia telah menyelamatkan masa depan kota ini.

Jika sang Ferryman menyaksikan momen ini, dia mungkin bakal bertanya:

"Jadi, inikah masa depan yang ingin kau selamatkan?"

Jika demikian, Encrid bakal menjawab dengan keyakinan tak tergoyahkan.

"Bukan, bukan ini."

Apa yang tidak benar ya memang tidak benar.

Apakah jawaban itu bakal membuat Ferryman bingung?

Ingin menyelamatkan semua manusia, termasuk mereka yang berniat mencelakainya dan bergelimang niat jahat, serta memberi semua orang kesempatan yang sama? Encrid tak memiliki cita-cita mulia yang naif seperti itu.

Karena itu, dia tak merasa punya dorongan suci untuk mengampuni orang-orang yang menyerangnya.

"Bunuh mereka."

Ucap Encrid dingin.

"Tentu saja."

Luagarne mengangguk setuju.

Meski tindakan mereka lahir dari cuci otak, menyerukan nama Demon God dan perbuatan sesat mereka bukanlah urusan Encrid.

Sejak awal, menyelamatkan semua orang yang terlihat tak pernah menjadi pilihannya.

Dia akan melindungi masa depan di belakangnya, tetapi tetap bakal membinasakan siapa pun yang melompati batas.

Jika dia tak menerima kenyataan ini, sejak awal dia takkan memegang pedang. Pedang adalah alat untuk melukai orang lain.

"Fuh."

Encrid mengembuskan napas, mengatupkan dan membuka telapak tangannya untuk mengecek kondisi.

"Kau tak apa-apa?"

Luagarne kembali setelah mematahkan leher mereka dengan tendangan cepat, menewaskan ketiganya sekaligus.

Seseorang di antara kerumunan penonton berteriak, "Mati juga kalian!". Belakangan diketahui bahwa ketiga orang itu memang sangat terkenal kejam bahkan di kota yang tak mengenal hukum ini.

Bukan berarti mereka adalah satu-satunya penjahat yang tersisa.

"Ya."

Jawab Encrid sembari berdiri. Kekuatan telah kembali ke tubuhnya yang tadinya dikuasai kelelahan. Dibandingkan sebelum memotong Walking Fire, dia tak merasa makin lemah.

'Tidak, aku justru merasa lebih kuat.'

Bagi seseorang yang paham tentang Will seorang Knight, pernyataan itu bakal sangat mengejutkan, tetapi bagi Encrid, hal itu sangat alami.

Will yang lahir dari tekad selalu melimpah ruah. Encrid memeriksa bilah longsword emas-hitam miliknya, menyadari ada retakan di sepanjang mata pedangnya.

'Aku harus minta bantuan Eitri lagi.'

Saat dia kembali nanti, Krais pasti bakal mengomeli, "Apa kau harus merusak peralatanmu setiap kali pergi keluar?"

Tentu saja, sangat beruntung hal-hal bisa berakhir seperti ini.

Meski masih ada tatapan dingin yang mengarah pada Encrid di dalam kota, ada pula tatapan lain.

Di antara mereka, ada orang-orang dengan niat baik, bahkan kekaguman yang melampaui rasa cemas.

Tatapan kakek penjaga kandang, yang menggenggam garpu rumputnya dan terpaku bingung, berubah dari terkejut menjadi hormat, dan akhirnya menjadi kehangatan.

"Te-terima kasih banyak."

Kakek tua itu berbicara dengan kata-kata yang meluap oleh rasa syukur yang tulus. Karena telah melihat Walking Fire dari dekat, dia secara naluriah paham betapa berbayanya sihir itu.

Jika Encrid tidak memotongnya, bukankah beberapa orang pasti bakal tewas?

Masa depan seperti apa yang menanti kakek tua itu, yang tadinya berulang kali tewas dalam tragedi 'hari ini'?

Tak ada yang tahu.

Hanya ada satu kenyataan bahwa dia masih hidup untuk menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih.

Itulah satu-satunya perubahan.

Seluruh warga Cross Guard tidak lantas mengelu-elukan Encrid atau meneriakkan julukannya.

Namun hal-hal semacam itu memang tidak diperlukan.

"Apa yang terjadi di sini?"

Sang lord tiba belakangan, diikuti oleh Delma dan pemilik penginapan.

Lord kota itu segera mendengar tentang Walking Fire dan memahami secara garis besar betapa besarnya bahaya yang sempat menyusup ke dalam kota sebelum akhirnya lenyap.

Dalam penjelasan itu, bumbu cerita dari Luagarne memberikan penekanan yang pas.

Gadis Frog itu seakan tak sabar ingin mengumumkan betapa luar biasanya tindakan Encrid.

"Kau bisa memotong mantra sihir? Mulai sekarang, pahlawan yang menyelamatkan kota ini harus mendapatkan julukan 'Spell Slayer' di namanya. Jika mantra kiamat Walking Fire terus mengamuk, siapa di sini yang bakal selamat? Satu hal yang pasti—aku takkan mati."

Luagarne dengan percaya diri menyatakan bahwa jika dia tidak mati, Encrid pun takkan mati. Dia takkan membiarkan pria ini mati mendahuluinya.

Dia telah membuktikannya berulang kali sepanjang 'hari ini'.

Jika dia terbakar, Encrid bakal terbakar setelahnya; jika dia terbakar belakangan, artinya Encrid yang sudah terbakar lebih dulu.

Entah itu kesetiaan yang sengit atau hal lain, kenyataan itu tak bisa dibantah.

Sang lord, yang awalnya bingung, perlahan menyadari betapa parahnya bahaya yang mengancam kotanya lalu menyampaikan rasa lega dan terima kasihnya.

Sementara itu, Encrid merenungkan hari yang takkan mengulang lagi.

Di awal hari, dia telah menatap cermin dan memberitahu Esther bahwa dia akan memotong Walking Fire.

Jika ditanya mengapa, dia bakal menjelaskannya sebagai cara untuk memantapkan tekadnya.

'Aku juga harus menyiapkan baju zirahku.'

Setelah membereskan situasi, Luagarne bertanya.

"Kenapa kau melakukannya?"

"Maksudmu apa?"

"Kenapa kau maju bertaruh nyawa? Kau tak punya kewajiban untuk melindungi kota ini."

Memotong Walking Fire adalah sebuah perjudian, setidaknya dari sudut pandangnya. Encrid juga memikirkan hal serupa selama pengulangan tewas terbakar yang tak terhitung jumlahnya hari ini.

Saat Ferryman bertanya, dia menjawab ingin melindungi 'hari esok'.

Kini, jawaban inilah yang terasa paling tepat.

"Karena aku mampu."

Ya, hanya itu alasannya.

Itu adalah hal yang sanggup dia lakukan. Dia tak perlu menghindarinya. Di dalam pengulangan 'hari ini', dia bisa mewujudkan hari esok yang baru.

Itulah alasannya melakukannya.

Dia juga merasa puas bisa melindungi anak yang ingin menjadi pemilik penginapan, para pembuat kapal yang gigih, dan bahkan sang lord yang mengucapkan terima kasih tanpa benar-benar paham apa pun.

Di bawah langit kota, lebih banyak orang berlalu-lalang tanpa menyadari bahaya yang sempat ditimbulkan oleh Walking Fire.

Saat dia tidur lalu terbangun, matahari baru terbit, serupa dengan hari sebelumnya tetapi entah bagaimana terasa berbeda.

Meski dia baru tinggal beberapa hari dan hanya satu malam yang berlalu, masa kini Cross Guard terasa sedikit berubah. Itulah kesannya.

Ada lebih banyak keceriaan, dan rasa harapan tertinggal di udara—harapan seperti menanam pohon apel yang kelak bakal berbuah.

Ada bara keputusasaan dan penderitaan, tetapi ada pula tebasan harapan yang memanggil kehidupan dan melindungi sesama.

Itulah yang terjadi di kota kemarin.

Lalu, saat fajar menyingsing keesokan harinya dan dia bangun untuk berlatih seperti biasa.

"Peluk aku. Aku dingin."

Seorang tamu muncul tanpa diduga.

"Esther?"

Wajah wanita itu pucat, dan dia hanya mengenakan sehelai jubah tipis yang nyaris tak menutupi bagian dalamnya, saat dia melangkah mendekat.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.