Eternally Regressing Knight

Bab 570: Muslihat sang Saintess dan Sosok Bermata Perak

2093 Kata

Bab 570: Muslihat sang Saintess dan Sosok Bermata Perak

Meninggalkan jejak palsu ke dalam kawasan hutan.

Tindakan ini bakal memancing sebagian besar pemburu ke dalam area yang salah.

Hutan bukanlah tempat yang ideal untuk pencarian, yang artinya perburuan mereka bakal memakan waktu lama.

Bukankah hal ini sanggup memberinya setidaknya waktu setengah hari untuk melangkah maju, mencari, dan merintis jejak baru?

Kemungkinan besar ya.

Selagi memancing mereka ke dalam hutan, gadis cilik yang dijuluki sang saintess itu memilih menempuh rute seutuhnya berbeda.

Dalam bahasa sederhana, itulah inti situasinya.

Anak itu ternyata luar biasa cerdas.

Jika tidak, siapa yang sanggup terlatih secara matang hingga metode semacam itu tertanam kuat di dalam fisiknya?

Di sini, muncul pertanyaan lain.

'Kenapa para crusader bergerak secara pribadi?'

Rumor menyebutkan bahwa kelompok pemburu Holy Nation yang sebenarnya adalah jajaran Crusader Order.

Salah satu divisi bersenjata milik Holy Nation telah dikerahkan.

Namun kenapa?

Bagaimanapun, ini hanyalah urusan mengejar seorang anak kecil.

Kenapa seorang crusader—yang membuktikan diri lewat pertumpahan darah di medan tempur—sudi turun tangan untuk urusan seperti ini?

Karena kehadiran Crusader Order inilah, mereka merasa wajib untuk memberi pemberitahuan resmi pada pihak Kerajaan.

Pemikirannya berputar cepat, dan ia tiba pada satu kesimpulan utuh.

Satu-satunya hal yang tidak diantisipasi oleh sang saintess adalah kehadiran seseorang dengan kekuatan dahsyat yang sanggup menebas manticore bagaikan memotong sayuran—seorang pria yang bakal menyapu kawasan hutan dalam satu kali putaran.

Karena Encrid telah menjelajahi pinggiran hutan secara cepat, ia sanggup menarik kesimpulan ini.

Orang yang bertindak tanpa berpikir bakal menderita dalam usahanya, tetapi imbalan atas usaha kerasnya berada di depan mata.

Ia telah membaca niat sang buronan.

Jika ia melacak tiap jejak secara perlahan satu per satu, bakal jauh lebih sulit baginya untuk menangkap niat sang pelaku.

Lokasi para pemburu: kawasan hutan di sebelah timur Pelheim.

Jejak sang target berhenti di pinggiran hutan tetapi mengarah ke dalam.

'Jadi aku telah menganalisis informasi ini dengan membaliknya luar dalam.'

Lantas bagaimana dengan jajaran Crusader Order?

Mungkinkah mereka sudah mengantisipasi hal ini?

Sangat mungkin.

Mereka mengenal rupa sang saintess, dan merekalah yang mengejarnya hingga ke titik ini.

Usai terkecoh dan dikelabui beberapa kali, bukankah mereka bakal menyiapkan antisipasi?

Lantas apa bentuk antisipasi mereka?

'Jadi itulah alasan mereka memperbanyak jumlah pemburu di lapangan?'

Uang yang mereka sebar bukan sekadar untuk memasang jaring.

Para pemburu imbalan itu adalah umpan murni. Umpan untuk memancing sang saintess agar bereaksi.

Meski begitu, bukti kepelitan mereka dalam hal uang terasa amat sangat konyol.

"Biasanya mereka memberikan separuh imbalan di depan, tetapi kali ini jumlahnya bahkan tak cukup untuk menutup biaya perjalanan. Namun yah, karena sang pendeta bersumpah atas nama Dewa mereka, aku mengira mereka bisa dipercaya..."

Dari informasi yang digalinya, pihak kuil paham para pemburu bayaran ini tak akan meraih keberhasilan dan telah memanfaatkan mereka sebagai bidak.

Mereka meminimalkan uang muka dan secara lihai memanfaatkan nama Dewa mereka.

Mereka benar-benar teramat licik.

Selagi para pemburu imbalan dan tentara bayaran bergerak gaduh, jajaran Crusader Order kemungkinan besar sedang melacak alur jejak murni sang gadis cilik.

Mereka pasti menempuh rute yang berbeda dari para pemburu bayaran.

Dari kejauhan, terlihat jelas bahwa ini adalah sebuah perburuan yang teratur.

Bagaikan berburu kelinci, mereka mengerahkan anjing-anjing pemburu di sekeliling lalu menggiring sang buronan ke arah perangkap.

"Aku benar-benar dikelabui," desah Encrid.

Tak ada manusia yang sempurna, dan hal-hal semacam ini biasa terjadi.

Jika ia mengkalkulasi peluang keberhasilan dan kegagalan, tingkat keberhasilan dalam perburuan semacam ini memang berada di bawah separuh.

Menjadi seorang Knight tak mengubah kenyataan tersebut. Encrid tidak berlatih untuk menjadi seorang pelacak yang sempurna.

Apakah ia terlambat? Mungkin saja.

Namun hal itu bukanlah alasan yang cukup untuk menghentikan langkah.

Segalanya belum berakhir hanya karena kau terkecoh, tak pula berakhir sekiranya kau kehilangan rintisan jejak.

Jika tingkat keberhasilan adalah lima puluh persen, artinya separuh waktu ia bakal meraih keberhasilan, dan Encrid telah melewati cukup banyak perburuan untuk tahu bahwa keberhasilan hanya mendatangi mereka yang pantang menyerah.

"Kembali ke kota. Ikuti kecepatanku."

Encrid bersuara lalu secara instan melesat berlari.

Brak!

Tanah menganga di titik ia menghentakkan kaki, menjerit di bawah tekanan kekuatan murninya.

"Grah!"

Seekor ghoul mendadak muncul di jalurnya. Encrid bahkan tak menghunus pedangnya, melesat melewatinya selagi mematahkan leher makhluk tersebut.

Pergerakan tanpa cela dari Seni Bela Diri Gaya Valaf.

Leher sang ghoul patah, tulang belakangnya terpisah saat kedua tangan Encrid memuntirnya, dan ghoul itu ambruk seketika.

Ia menerobos tiap monster atau binatang buas yang melintasi jalurnya lalu terus berlari melesat.

Saat ia akhirnya tiba di kawasan kota, ia menarik napas dalam-dalam, membusungkan dadanya.

"Deutsche!"

Suara tersebut—yang diperkuat oleh pancaran aura miliknya—bergema memenuhi seluruh sudut kota.

"Waaah!" Seorang anak kecil di dekat sana yang sedang memberi makan keledai jatuh terlentang akibat kaget.

Seorang pekerja serikat konstruksi yang sedang memalu kerangka penginapan meleset dan menghantam tangannya sendiri, berteriak kesakitan.

"Aduh!"

Mengabaikan tatapan-tatapan terperanjat di sekelilingnya, Encrid kembali berteriak selagi melesat cepat, dan tak lama kemudian, sosok yang dipanggilnya muncul.

Sekali lagi, pria itu berlari tanpa alas kaki.

"Uh, apa? Ada apa..."

Encrid—dengan mata biru tajamnya yang berbinar—langsung berdiri tepat di depan wajah Deutsche.

"Apakah kau tahu lokasi jajaran Crusader Order saat ini?"

Tentu saja ia tahu.

Deutsche terus mengumpulkan informasi dari pelbagai sumber usai Encrid melangkah pergi.

"Ya, mereka terakhir kali terlihat di sebelah utara."

Orang-orang itu tidak ahli menyembunyikan pergerakan mereka, jadi melacak mereka bukanlah hal yang rumit.

Namun hanya sebatas itu yang diketahuinya.

Utara? Namun di mana lokasi spesifiknya?

Sekali lagi, Encrid memutuskan untuk mengambil pendekatan kekuatan murni.

Artinya ia bakal menutupi kekurangan informasi lewat sepasang kakinya sendiri.

"Ayo bergerak."

Dengan teriakan dahsyat, Encrid kembali menggoncang kota lalu melesat pergi.

"Kita akan bertemu lagi, Kakak," sahut pria berbobot raksasa di belakangnya menyusul.

"Ya, aku bakal memastikan untuk mengucapkan terima kasih atas nama tunanganku," timpal sang Peri yang menyusul dengan kalimat-kalimat uniknya.

Ketiganya—yang tiba begitu cepat—menghilang secara tak kalah cepatnya.

Bagi mereka yang menyaksikan dari jauh, ketiganya terlihat datang dan pergi bagaikan hembusan angin malam.

Deutsche merasa linglung sejenak, seolah dirinya baru saja kerasukan.

Tiap kali Encrid datang berkunjung, ia selalu membawa serta peristiwa yang tak terbayangkan.

Tak lama usai menarik napas dan kembali ke kediamannya, seorang tamu lain tiba berkunjung.

"Bolehkah saya bertanya apakah Anda tahu ke mana orang-orang dari Holy Nation melangkah pergi?"

Pria itu memiliki raut wajah yang lembut, dengan sudut mata agak menurun. Usianya tampak berada di pertengahan hingga akhir empat puluhan, mengenakan zirah kokoh yang menandakan ia bukan sosok biasa.

Hal yang paling menonjol adalah matanya—pupil berwarna perak yang memancarkan kilau pendar yang tidak biasa.

Terlebih lagi, ia terlihat jauh lebih berpengalaman dibanding penampilannya.

"Jika kurang berkenan, Anda tidak wajib menjawabnya, tetapi saya akan teramat berterima kasih sekiranya Anda sudi memberitahukannya. Tak ada hal buruk yang akan terjadi, saya jamin itu, Saudaraku," pangkas pria tersebut bersuara.

Deutsche merasa tak bisa menolak permintaan pria ini secara gegabah.

Atmosfernya, nadanya, pembawaannya—terlihat jelas bahwa pria ini memiliki keahlian yang teramat tinggi.

Pada akhirnya, pikirnya, lebih baik ia bicara dan menanggung dampaknya secara pribadi nanti.

"Ayo kita pergi bersama kalau begitu."

Untuk mengurus komplikasi yang mungkin Meletus, ia memutuskan untuk mendampingi pria tersebut secara pribadi.

Pria bermata perak itu tersenyum lebar.

"Terima kasih banyak. Saya teramat menghargainya."

* * *

Hal pertama yang pernah dipegang oleh gadis cilik yang kelak menjadi sang saintess adalah sebuah busur panah, dan hal pertama yang pernah dibuatnya adalah sebuah jerat perangkap.

Sebuah jerat sederhana dari ranting kayu, tali kulit tipis, dan batu pemberat untuk menjerat hewan kecil—benda itu hanya sanggup menangkap seekor tikus, tetapi itu adalah mainan dan permainannya di masa kecil.

Itulah masa kecilnya.

Kini—seorang saintess yang berubah menjadi seorang buronan—ia bertekad kuat untuk mengocok jejak para pemburunya.

'Pelheim.'

Ia menghafal nama kota itu secara naluriah, mengamati medan alam di sekelilingnya sebelum kembali melangkah.

Dengan meninggalkan jejak di pinggiran hutan, ia tahu sanggup mengocok pikiran sebagian besar pemburunya.

Itu adalah pelajaran yang dipetiknya dari pengalaman pribadi.

'Mereka pasti bakal terlalu percaya diri.'

Berlari seolah terdesak masuk ke dalam hutan bakal terlihat jelas bagaikan pelarian yang membabi buta.

Persis seperti itulah citra yang ingin diperlihatkannya. Ia sama sekali tak berniat masuk jauh ke dalam kawasan hutan.

Ia paham betul betapa berbahayanya hutan bagi manusia.

'Mungkin jika hanya ada beberapa ekor flesh hound atau ghoul.'

Padang rumput terbuka memberikan pandangan yang jauh lebih luas, dan pengamatan matanya yang tajam bakal menekan peluang berhadapan dengan bahaya.

Namun di dalam hutan? Sama sekali tidak.

Tak peduli seberapa tajam inderanya, ada terlalu banyak hal tak terduga yang mendekam di dalam kegelapan bayang-bayang hutan.

Ia merasakannya secara naluriah.

'Aku bakal tewas.'

Kau tak boleh memasuki hutan tanpa persiapan matang.

Tak boleh pula mendaki pegunungan tanpa persiapan.

Kakeknya pernah mengajarkan hal tersebut, dan pengalamannya telah membuktikan kebenarannya.

Jadi ia tak akan memasuki hutan.

Namun ia sanggup membuatnya terlihat seolah-olah ia memasuki hutan.

Ia telah mempertaruhkan nyawanya tiga kali, menempuh rute-rute rumit untuk mengecoh para pemburunya.

Usai berpikir sejenak, gadis cilik yang dijuluki sang saintess itu mengusap telinganya dengan telapak tangan.

Meski lebih membulat dibanding telinga milik seorang Peri, telinganya tetap tampak agak meruncing—sebuah pertanda jelas dari garis keturunan blasteran Peri yang mengalir di tubuhnya.

Sang saintess meneliti lanskap alam sekali lagi lalu mengambil keputusan.

'Di sinilah batasnya.'

Jika ia mendadak menghilang bagaikan lesap ke udara atau tenggelam ke dalam bumi, para pemburu bakal menaruh kecurigaan.

Ia harus mengarahkan alur pemikiran mereka.

Ia meninggalkan jejak kaki yang memotong ke arah hutan.

Demi memberikan kesan pelarian yang terburu-buru, ia mematahkan beberapa dahan kayu di sepanjang rintisan jalur.

Usai merancang jejak palsunya, ia mengikatkan tali di sekeliling pinggangnya lalu memasangkan bongkahan batu tumpul di ujung tali.

Memutar batu tersebut, ia melemparkannya ke atas dahan pohon tinggi, menguncinya usai beberapa kali putaran.

Memanjat naik ke atas pohon hingga sejajar dengan ketinggian dahan, ia melangkah dari satu dahan ke dahan lain, merancang jalur perjalanan di atas pepohonan.

Menempuh rute di atas tanah bakal mengocok para pelacak yang mengikuti jejak kakinya.

Ia berniat bergerak melingkar di sepanjang pinggiran hutan sebelum akhirnya keluar di titik lain.

Untuk mewujudkan hal ini, ia harus bergerak menembus pepohonan bagaikan seekor tupai terbang.

Ia sanggup melakukannya. Dan sebab itulah ia menjalankannya.

Jika ada binatang terbang yang mendekat, ia harus mendengarkan secara tajam dan bersiap meloloskan diri.

Ini pun merupakan pergerakan yang mempertaruhkan nyawa, tetapi peluang bahayanya teramat kecil.

Di titik di mana sinar matahari menyentuh pinggiran hutan, mahluk gaib dan binatang terbang berukuran besar kecil kemungkinannya untuk berkeliaran.

Ancaman utamanya adalah binatang menyerupai burung hantu, tetapi karena ini siang hari, hal itu pun makin kecil kemungkinannya.

Sebab itulah ia memilih melarikan diri pada jam-jam seperti ini.

Hasil dari seluruh kalkulasi dan tindakannya adalah ini.

'Boleh juga.'

Seluruh hal yang diajarkan oleh kakeknya dan seluruh hal yang dipetiknya di sepanjang perjalanan telah membawanya hingga ke titik ini.

Tentu saja tak ada satu pun dari hal ini yang terasa mudah.

Meloloskan diri dari genggaman Holy Nation bukanlah hal yang sederhana.

Untuk bisa tiba sejauh ini, Saintess Seiki telah bersandar pada nurani seseorang dan membiarkan orang lain mempertaruhkan keselamatan demi dirinya.

Seorang pendeta yang pernah merawatnya bagaikan seorang perawat dan seorang biarawan yang akhirnya membantunya melarikan diri.

Mereka berdua kemungkinan besar bakal dieksekusi sebagai heretik.

Pada awalnya ia tak memahami alasannya, tetapi usai delapan bulan lebih menjalani penempaan untuk menjadi seorang saintess, ia telah paham secukupnya.

Cukup paham untuk mengerti apa yang direncanakan oleh gereja ini terhadap dirinya.

'Kenapa meracik air suci atau ramuan sihir begitu krusial?'

Doktrin mengklaim hal itu dilakukan demi membuktikan kesucian, tetapi hal itu terasa lebih menyerupai doktrinasi otak murni.

Ia menyembunyikan keraguannya dan berpura-pura penurut.

Sang saintess menepis pemikirannya.

Kini adalah saatnya untuk berfokus utuh.

Untuk bagian akhir dari rute pelariannya, ia menekan tubuhnya ke batang pohon, berpegangan erat pada dahan.

Hanya sedikit yang sanggup melacaknya hingga ke titik ini, tetapi tak ada yang tahu pasti.

Ia menarik napas dalam-dalam, menekuk lututnya, lalu melompat.

Dengan dorongan halus dari dahan pohon, ia melesat bagaikan tupai terbang, melayang tipis di udara.

Saat tubuhnya sejajar dengan permukaan tanah, ia mulai mendarat.

Ia menekuk bahunya saat menyentuh tanah, berguling secara halus lalu berdiri tegak di atas sepasang kakinya.

Pendaratan tanpa cela membuatnya tak mengalami luka sedikit pun, meski pergelangan tangannya agak berdenyut pelan—bukan sesuatu yang tak akan sembuh dalam waktu dekat.

Menarik kembali talinya dari atas dahan, ia melilitkannya di sekeliling pinggang lalu melesat berlari.

Target berikutnya adalah bergerak melingkar kembali mendekati kawasan kota lalu melewatinya dari luar.

Selagi melangkah, ia teringat kembali bagaimana seluruh hal ini berawal.

Hari itu benar-benar hari yang teramat buruk.

Ia tak menyadarinya saat itu, tetapi saat menengok kembali, ia melihatnya secara jelas.

Sekiranya ia menyikapi hal-hal secara berbeda, mungkin ia tak akan sedang melarikan diri saat ini.

Namun kenyataannya, ia tak bisa tahu pasti.

Pihak gereja kemungkinan besar tak akan membiarkan gelar saintess dilepaskan begitu saja.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.