Bab 496: Pemulihan
Haruskah aku menjuluki ini sebuah bingkisan dari sang Ferryman?
Itu tidak benar.
Sang Ferryman tidak mendorongku ke dalam gurun pasir.
Lantas haruskah aku menjulukinya sebuah bingkisan dari bajingan penyihir yang kepalanya kubelah sebelum ia terbangun?
Itu bukan salah satu dari hal-hal tersebut.
Itu adalah kebetulan dan keberuntungan, tapi dengan kata lain, itu hanya memungkinkan gara-gara masa yang telah kuhabiskan berjuang untuk menggenggam setiap kesempatan.
Encrid berhenti berpikir lalu bangkit.
Ia ingin mengetes sesuatu dengan tubuhnya, tapi untuk melakukan hal tersebut, ia pertama-tama harus membawa tubuhnya kembali ke kondisi normal.
Regenerasi, sebuah tubuh yang secara tanpa akhir terlahir kembali.
Maka dari itu, bergerak bakal membuatnya lebih baik.
Itu tidak berbasis pada teori apa pun, tapi ia merasakannya di dalam indra-indranya.
Rasa sakit tak lagi menyiksa secara cukup untuk membunuhnya.
Ia mulai memakan bubur dan meminum air secara perlahan, dan secara lambat mulai merasa lebih baik.
"Kau tak harus bergerak dulu," Enri mencoba menghentikannya, tapi Encrid menggelengkan kepalanya.
"Aku berpikir aku bakal baik-baik saja."
"Apakah pemulihanmu sebagus ini, atau apakah kau punya darah Frokk di dalam silsilahmu?"
"Itu karena aku berlatih secara tanpa henti."
Itu adalah jawaban yang benar, tapi bagi Enri, itu murni terdengar seperti sebuah gurauan.
Ini bukan gurauan; bagaimana bisa seorang pria yang hampir tewas gara-gara dehidrasi bangkit dalam dua hari lalu mulai sibuk di hari ketiga?
Yah, itu kemungkinan bakal baik-baik saja.
***
Saat ia pergi ke luar untuk pemanasan, memutar lengan-lengannya, membengkokkan pinggangnya, dan meregangkan otot-ototnya, beberapa orang Barat yang berkeliaran di dekat sana datang untuk menyapanya.
"Kau bisa bergerak sekarang?"
"Kelihatannya demikian."
"Seperti yang diperkirakan."
Semua orang Barat tinggal di sini, dan tak ada orang untuk mengatakan apa pun soal itu.
Yah, ada pada awalnya, tapi tidak lagi.
Itu adalah sebuah desa oase kecil tanpa nama.
Jika seseorang harus menamainya, mungkin itu bakal jadi Desa Dinding Rendah.
Dalam kasus apa pun, suku-suku Barat telah mengambil alih desa ini.
Itu terjadi setelah murni satu pertarungan.
Desa ini adalah rumah bagi beberapa kriminal dari Benua dan orang-orang buangan dari Barat.
Meskipun ada sebuah oase, itu kecil, membuat tempat ini bahkan lebih gersang dibanding Barat.
Orang-orang desa selamat dari sisa-sisa yang datang dari gurun pasir.
Gurun pasir kasat mata di satu sisi, dan tanah-tanah tandus di sisi lainnya.
Beberapa orang bodoh di desa yang tak bisa membuang kebiasaan-kebiasaan lama mereka menyukai beberapa wanita Barat lalu memulai masalah.
"Hey, bukankah kau tahu kau harus membayar biaya untuk tinggal di sini?"
Ada beberapa bajingan yang telah mengambil alih seluruh oase lalu membentuk sebuah geng kriminal.
Sosok yang menjuluki dirinya sendiri sang wakil ketua guild melangkah ke depan.
Mungkin ia berpikir orang-orang Barat kelihatan seperti target-target mudah, karena mereka tidak bersenjata secara baik dan tubuh-tubuh mereka kurus kering gara-gara tidak makan secara baik.
Atau mungkin ia murni seorang idiot.
Tinggal di dekat Barat, ia harusnya mengetahui betapa brutalnya orang-orang Barat bisa adanya.
Di mata Rem, keduanya adalah kejahatan-kejahatan yang bisa dihukum mati.
Menyerang mereka keluar dari ketiadaan pengetahuan, atau melakukan demikian secara tahu.
Jadi ia mengayunkan kapaknya tanpa sepatah kata pun.
Encrid tidak melihatnya, tapi menurut Enri, itu adalah sebuah trik di mana kapak terbang oleh dirinya sendiri, membelah kepala sang lawan, lalu kembali.
Encrid sedang tak sadarkan diri di waktu tersebut.
***
"Kau bangun?"
Tepat saat Rem sedang menundukkan desa, Encrid bangun untuk ketiga kalinya.
Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Rem, membuatnya bertanya-tanya apakah ia sedang mengalami sebuah mimpi buruk.
"Apakah ini sebuah mimpi buruk?"
Berbicara jauh lebih mudah sekarang, berkat perawatan murni dari Enri.
"Apakah kau mengalami sebuah mimpi buruk?" Rem bertanya kembali.
Ia kelihatan seolah-olah ia tak cemas sama sekali.
"Tidak."
"Lantas apa yang sedang kau bicarakan?"
"Aku memberitahumu untuk menjauhkan wajahmu dari wajahku."
"Sialan, apakah itu cara berbicara pada seseorang yang datang seluruh jalan ini untuk menyapamu?"
"Ya."
Dari belakang, Ayul menarik Rem ke belakang lalu berkata, "Itu tidak secara sepenuhnya di luar alur."
Dalam kenyataannya, wajahnya tidak begitu dekat.
Itu adalah sebuah tanda dari penyambutan.
Pada akhirnya, Rem terkekeh, "Menikmati turmu di gurun pasir?"
"Itu secara maklum menyenangkan."
Itu bukan sebuah gurauan.
Itu benar.
Berkelana di gurun pasir, ia telah melihat sebuah alur jalan baru.
Setelahnya, Rua Garne bilang bahwa sifat Pemikat miliknya telah mengumpulkan orang-orang Barat di sini.
Dunbakel berkeliaran di dekat sana, mengatakan gadis itu mengetahui ia takkan tewas.
***
Setelah tiga hari lainnya dari latihan ringan, ketua suku mengumumkan bahwa semua orang kecuali Rem dan Ayul bakal kembali.
"Kami kini harus kembali ke kehidupan-kehidupan kami sendiri, jadi kami bakal pergi."
Ketua suku tidak meminta apa pun dan tidak menuntut apa pun, murni pergi bersama orang-orang Barat.
Meskipun kelihatan seperti mereka belum makan secara baik, sikapnya bermartabat.
*Gurgle.*
Sebuah suara seperti itu datang dari perut ketua suku yang pergi, tapi Encrid berpura-pura tidak mendengarnya.
"Datang berkunjung kembali," Geomnarae berkata saat ia datang sebelum pergi.
"Lain kali, aku bakal memberimu sebuah rasa dari sihiku."
"Kau bisa memperlihatkannya padaku sekarang."
"Aku bakal melepaskanmu, mempertimbangkan kondisi tubuhmu."
Bagaimanapun juga, ia merasa bahwa Rem yang lebih tua bakal berbicara persis seperti Geomnarae.
"Mari lakukan hal tersebut."
"Baiklah."
*Thump.* Geomnarae menghantam dadanya dengan kepalan tinjunya.
Satu demi satu, wajah-wajah tak asing mengucapkan selamat tinggal-selamat tinggal mereka lalu pergi.
Jiba sedang menangis meluapkan mata-matanya.
"Kau tak bisa melupakanku, suami," saat Jiba berbicara.
"Siapa suamimu?" Rua Garne, berdiri di sampingnya, secara instan menyanggah kata-katanya.
"Purity-ku milikmu," Jiba mengabaikannya lalu berkata kembali, dan Rua Garne terus membalas.
"Sejak kapan?"
"Aku takkan pernah melupakanmu, aku mutlak bakal datang menemukanmu."
"Jangan lari kabur dari rumah. Kau murni bakal menjadi makanan malam seekor monster."
Rua Garne membalas setiap satu dari kata-kata Jiba membuat mereka kelihatan seperti sebuah duo komedi.
Encrid menonton secara kosong saat sebagian besar dari orang-orang Barat pergi.
Ia telah mendengar mereka telah membakar habis semua makanan terawetkan mereka dan segalanya untuk menemukannya, namun mereka pergi tanpa sebuah bualan tunggal.
Ia bertanya-tanya apakah ini juga merupakan sebuah hal gaya Barat, tapi dari apa yang dikatakan Rem, hal tersebut tidak kelihatan sebagai kasusnya.
"Itu karena mereka berpikir apa yang kau lakukan bagi mereka lebih besar, Kapten. Orang-orang Barat khusus soal hal-hal tersebut."
Encrid berpikir ia adalah sosok yang telah menerima lebih banyak.
Bagaimanapun juga, ada apa yang telah didapatkannya dari Rem.
***
Dalam kasus apa pun, setelah orang-orang Barat pergi, Encrid menghabiskan separuh hari-harinya di atas Technique of Isolation dan separuh lainnya di dalam meditasi.
Sementara bermeditasi, Encrid meninjau kembali "hari ini" yang berulang.
Itu bukan untuk tinggal di dalam penderitaan.
Itu adalah untuk meninjau kembali apa yang telah dilakukannya, bahkan saat ia separuh keluar dari pikirannya.
Itu bukan sebuah pertarungan atau sebuah pertempuran, tapi.
*'Ada sesuatu untuk dipelajari dari segalanya yang kau lihat.'*
Begitulah yang dikatakan, bagi mereka yang tersiap.
Siapa yang telah memberitahunya hal tersebut?
Ia tak bisa mengingat, tapi kata-kata tersebut benar.
Saat ia berjalan dan berjalan menembus gurun pasir, saat ia tak bisa membangkitkan kekuatan apa pun di dalam tubuhnya, bagaimana ia sanggup mengambil satu langkah lagi?
Untuk sebuah momen, ia telah merasakan sesuatu seperti penyesalan: *Haruskah aku memaksakan diriku untuk mempercepat saat aku masih punya kekuatan?*
Tapi Encrid secara cepat mengibaskan pemikiran kosong tersebut dan, alih-alih menyesal, meletakkan kekuatan ke dalam kaki-kakinya.
Itu terjadi setelah ia menggunakan habis seluruh energinya.
Di dalam sebuah kondisi kelelahan, ia mengambil satu langkah, dan kemudian langkah lainnya.
Bagaimana?
Itu adalah tekad Will miliknya.
Itu adalah **Will**.
*'Penolakan juga merupakan Will.'*
Melangkah maju juga merupakan Will.
Memutuskan untuk memotong saat mengayunkan sebuah pedang juga merupakan Will.
Seorang Ksatria Magang menggunakan hanya sebuah bagian dari Will mereka.
Lantas bagaimana soal seorang Ksatria?
Kata-kata dari Lierbart, ksatria palsu di bawah Count Molsen, melintas di benak: *"Kau murni harus menguasai setiap kemampuan ke tingkatan seorang Ksatria."*
Ia percaya hal tersebut lalu memodifikasi tubuhnya sendiri.
Ia menjadi seorang ksatria chimera.
Lantas apakah ia menjadi seorang Ksatria sejati?
Tidak.
Lantas kenapa ia membuat pilihan semacam itu?
Itu kemungkinan karena ia berfokus pada apa yang berubah saat seseorang menggunakan Will.
Encrid tidak mengenal Lierbart.
Tapi ia merasa ia bisa memahami hasrat-hasrat dan ambisi-ambisi yang telah dipegangnya.
*Aku ingin menjadi seorang Ksatria.*
*Kenapa itu tidak diizinkan bagiku?*
*Aku mengayunkan pedangku siang dan malam, jadi kenapa aku tak bisa melakukannya?*
Saat hasratnya berubah menjadi keputusasaan, ia pasti telah melihat perbedaannya.
Pada pertanyaan *'Apa yang membuat seorang Ksatria berbeda?'* ia menjawab dengan hal-hal seperti kekuatan dan kecepatan.
Will adalah sesuatu yang memungkinkan seseorang untuk mengatasi batasan-batasan manusia menembus sebuah kekuatan tak berbentuk.
Encrid melangkah satu langkah lebih jauh dari proposisi menguasai setiap kemampuan ke tingkatan seorang Ksatria.
*'Bagaimana jika aku menginfusi setiap tindakan dengan Will?'*
Untuk meniru sebuah tebasan ksatria, ia menginfusi Will dari ujung-ujung jarinya hingga ujung-ujung jarinya.
Apa prinsip di baliknya?
Apakah ia melakukannya secara tahu?
Tidak, ia melakukannya tanpa mengetahui.
Namun ia masih meniru sebuah tebasan ksatria.
*'Makan, tidur, dan buang air.'*
*Bisakah aku menginfusi Will dari momen aku terbangun hingga aku berbaring?*
*Jika aku melakukan hal tersebut, tak akankah sesuatu berubah?*
Itu adalah sebuah pemikiran mendadak.
Sebuah konklusi yang telah dicapainya saat berkelana di gurun pasir.
Bagaimana jika aku mencoba menginfusi Will ke dalam Technique of Isolation sekarang juga?
Dari proses berniat dan membangkitkan tekad Will miliknya hingga meragakan gerakan-gerakan, tak ada yang mudah.
Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukannya sekarang juga murni karena ia ingin.
Tapi itu tak masalah.
Melangkah maju satu langkah pada satu waktu adalah apa yang dilakukan Encrid terbaik.
Ia telah melihat dan menggenggam sebuah petunjuk yang benar, dan fakta bahwa segalanya yang harus dilakukannya adalah melangkah maju sebenarnya membuat pikirannya tenang.
***
Itu bukan segalanya yang harus dilakukannya.
Rem sedang menunggu baginya sekarang juga.
"Memberitahuku saat kau tersiap," ia telah bilang ia bakal berbeda sekali ia menemukan sihinya.
Kau takkan jadi manusia jika kau tidak penasaran soal berapa banyak ia telah berubah.
"Pergi habiskan lebih banyak waktu bersama Ayul."
Sekali tubuhnya sembuh, itu bakal jadi waktu untuk pergi kembali.
Kemudian Ayul bakal harus pergi kembali pula.
"Jangan cemas. Aku bakal menunggu secara baik. Jika Rem kebetulan tewas, tolong beritahu aku. Aku bakal perlu menikah kembali."
Pada doa Ayul bagi suaminya yang sehat secara sempurna, Rem mengangguk, "Ya, jika aku tewas, pergilah hidup dengan pria lain. Tapi aku penasaran apakah ada kawan yang bertarung lebih baik dibanding diriku?"
Tipe ideal Ayul telah konsisten sejak ia masih seorang anak kecil: Seorang pria dengan setidaknya cukup kemampuan untuk menjatuhkannya.
Bahkan jika kau mencari di setiap sudut dari Barat, kau takkan menemukan banyak sosok seperti itu.
"Jika tak ada, aku murni bakal membesarkan satu," Ayul membalas secara santai.
Ini juga, mungkin, merupakan sebuah kebiasaan dari orang-orang Barat.
Orang mungkin itu karena mereka adalah Rem dan Rem versi wanita.
***
Itu adalah sebuah masa dari berfokus pada pemulihan, jatuh kembali ke dalam meditasi, dan mengulang tindakan-tindakan yang sama.
Encrid tidak mengetahui jika metode yang ditemukannya adalah jawaban yang benar.
Dalam kenyataannya, bahkan jika itu salah, tak ada yang bakal berubah.
Kapan ia pernah melangkahi sebuah jalan yang diketahuinya?
Jalan yang pernah merangkak di atasnya, ia kini sedang berjalan, dan di atas jalan tersebut, penanda-penanda jalan telah mulai muncul.
Itu adalah sebuah jalan yang telah dilangkahinya bahkan saat tak ada satu pun.
Encrid tinggal di oase untuk satu minggu lainnya.
Di dalam masa tersebut, Rem menyarankan memanggil beberapa orang Barat ke atas untuk mengorganisasi sebuah guild.
Berkat hal tersebut, si kembar kembali ke oase.
"Jika kita menggunakan semua air dari oase ini, itu bakal mengering dalam tak ada waktu. Tanah ini tak punya nilai khusus."
Dengan tak ada apa pun selain gurun dan tanah-tanah tandus di sekeliling, si kembar melihat tak ada nilai di dalamnya.
Enri melangkah ke depan untuk menjelaskan bagian tersebut, "Itu punya nilai."
"Apa?"
"Jenis apa?"
Si kembar memutar kepala-kepala mereka di waktu yang sama.
Bagi orang lain, itu murni sebuah pemandangan penasaran, tapi bagi Enri, itu agak mengerikan.
Kedua sosok tersebut adalah orang-orang Barat, dan ia merasa mereka mungkin melempar tombak-tombak di tangan-tangan mereka jika hal-hal berjalan salah.
Enri berpikir bahwa jika mereka bisa secara sukses berdagang dari sini ke kota perdagangan, mereka bisa meletakkan tangan-tangan mereka di atas banyak krona.
Itu adalah sebuah konklusi berbasis pada pengalaman yang didapatkannya dari sibuk di sekitar sepanjang waktu ini.
Tentu saja, tidak segalanya bakal berjalan sebagaimana yang direncanakan, tapi Encrid telah bilang ia bakal membantu jika dibutuhkan.
Di tengah-tengah semua hal tersebut, ia bahkan menerima sebuah busur komposit yang kelihatan berharga dalam sebuah sekilas.
"Kau ambil ini," mengingat kembali momen ia menerima busur komposit, Enri terus berbicara, busur di tangan.
"Kita bisa menjual hal-hal seperti kulit-kulit dari kadal-kadal gurun atau obsidian."
"Di mana?"
"Jika kita membawa mereka ke kota perdagangan Selatan, bakal ada sebuah keuntungan masif."
"Di mana itu?"
Itu berada di suatu tempat di bagian Tenggara dari Benua, tak dikenal bagi si kembar.
Ia sedang berbicara soal negara kota perdagangan di samping kerajaan besar Selatan, lebih jauh ke Tenggara dari Naurilia, berlokasi di persimpangan dari sebuah sungai besar.
Encrid hanya pernah mendengar cerita-cerita soal itu, tapi kelihatan Enri telah melakukan beberapa pekerjaan di sana pula.
Perdagangan jarak jauh tidak memungkinkan di Benua ini gara-gara monster-monster dan binatang-binatang iblis, tapi sesekali, beberapa orang berhasil.
Itu terjadi saat seseorang berkelana di sekitar, mata-mata mereka terbuka, dan situasinya menguntungkan.
Begitulah Enri sekarang juga.
Ia telah melewatkan gem-eared foxes, tapi sebuah kesempatan yang bahkan lebih besar telah berguling masuk.
Busur komposit di tangannya saja kemungkinan berharga jauh lebih banyak dibanding permata-permata di atas telinga sang rubah.
Enri menjelaskan secara tenang, dan Encrid melakukan pemanasan di sampingnya.
Setelah satu minggu penuh dari istirahat dan meminum banyak air, kekuatan pada akhirnya kembali pada tangan-tangannya.
"Rem, keluarlah. Aku bakal mematahkan hidung sombongmu itu."
Encrid memanggil bagi Rem di dalam sebuah cara yang ramah dan penuh pertimbangan.
Rem keluar, menguap dan menggaruk pipinya, "Ah, hari ini? Tak ada tangisan bahwa itu terasa sakit setelah kau dihantam, okay?"
Encrid menyesuaikan kembali genggamannya pada Aker lalu menatap ke depan.
Ia hendak bertarung dengannya satu kali lalu bertanya.
Murni seberapa berguna sihir yang dinamai ini?
Di bagian luar, ia kelihatan sama seperti sebelumnya.
Encrid secara momental melupakan betapa liciknya seorang bajingan Rem itu adanya.
Hal tersebut adalah masalahnya.
*Whoosh.*
Saat kapak, dilemparkan tanpa posisi persiapan apa pun, mencapai tepat di depan hidungnya, Encrid merasakan bahwa itu dua kali lebih cepat dibanding ayunan-ayunan kapak Rem sebelumnya.
Di waktu yang sama, ia mengayunkan Aker ke atas.
*Clang.*
Alih-alih membal keluar, kapak meluncur ke atas Aker dengan sebuah suara menggerus, dan kemudian secara mendadak membelah menjadi delapan potongan.
Barulah kemudian Encrid mendapatkan sebuah pandangan jelas pada Rem.
Di belakangnya, seekor binatang buas biru yang samar dan baru tumbuh sedang menerjang padanya.











