Bab 467: Mata-Mata yang Mengkalkulasi
Sejak hari itu dan seterusnya, jalan menuju ke Barat berlangsung damai.
Menatap dataran yang terbentang luas, rasanya begitu lebar hingga menguras energi, tapi perjalanan ini benar-benar bukan perjalanan yang buruk.
"Hari ini adalah langit tinggi. Di hari-hari seperti ini, bagus untuk berjalan sembari menatap langit."
Rem adalah seorang pemandu yang benar-benar luar biasa.
Ia mahir, meski pasti sudah cukup lama sejak ia meninggalkan Barat.
"Apakah ada sesuatu yang telah berubah?" saat aku bertanya.
"Mana mungkin berubah. Tanah ini adalah jenis tanah seperti itu."
Jawaban semacam itulah yang kuterima.
Dan begitu saja, kami berjalan, menonton awan-awan melintas berhamburan.
Awan-awan memencar, lalu berkumpul, lalu memencar dan lenyap kembali, mengulang siklus tersebut.
Langit tinggi menandakan sebuah hari di mana langit kelihatan khususnya jauh.
Dengan kata lain, sebuah langit dengan hampir tanpa awan.
Hari ini adalah hari semacam itu.
***
Setelah meminum *ground squirrel fruit*, Encrid membaca keberadaan yang aneh.
Saat itu adalah waktu fajar.
Saat berdiri dalam tugas jaga malam, ia merasakan sebuah tatapan yang aneh.
Itu adalah tatapan yang rendah dan tipis, namun tatapan yang secara jelas bisa dipersepsikan.
Tidak, itu adalah sebuah tatapan yang begitu tersembunyi hingga seseorang takkan menyadarinya tanpa indra Sixth Sense.
Encrid mencari sumber dari tatapan tersebut.
Sebuah bayangan kecil melesat melintasi tanah yang tak rata lalu lenyap.
Sejak saat itu, ia tak bisa merasakan keberadaan apa pun sama sekali.
Saat ia menyebutkan apa yang dilihatnya di waktu pagi, Rem tertawa lalu mengangguk.
"Sudah waktunya bajingan-bajingan *pocket spy* itu muncul."
"*Pocket spy*? Bukankah kau bilang mereka adalah para pencuri?"
Ia mengutarakannya sembari mengelap bilah Aker dan mengumpulkan senjata-senjata serta busur yang diterimanya sebagai bingkisan.
Sarapan pagi ini adalah jatah makanan kering.
Yah, sulit untuk menyantap makanan yang layak dalam perjalanan jauh, jadi selama beberapa hari, mereka telah mengisi perut mereka tanpa apa pun selain dendeng, daging asin, dan buah-buahan kering.
Rem telah bilang ini hanya bakal berlangsung beberapa hari, tapi selama waktu itu, dalam apa yang dijulukinya sebagai perjalanan yang tenang, Encrid telah merasakan tatapan aneh tersebut.
"Jika kita mengambil buahnya, seberapa murka kau pikir pemilik yang meragikannya?"
"Benda itu punya pemilik?"
Secara alami, ia berpikir benda itu tumbuh dari tanah.
"Jangan konyol. Lihat ke seberang sana."
Rem mengangkat tangannya lalu menunjuk ke sebuah pohon dengan dahan-dahan kering yang sesekali mereka lihat di dataran yang gersang.
Ia pernah melihatnya beberapa kali.
Dahan-dahan menyerupai duri, daun-daun panjang menggantung darinya, daun-daun itu kelihatan mirip dalam material dengan kayu yang keras.
"Itulah ground squirrel fruit."
"Benda yang mana?"
Tak ada apa pun yang kelihatan menyerupai sebuah buah.
"Yang itu."
Rem sedang menunjuk pada daun-daun yang panjang.
Mengikuti jarinya dengan matanya, ia melihat hal itu benar.
"Benda itu?"
"Apakah itu benar?"
Dunbakel, kelihatan tertarik, mendekat lalu bertanya.
Sejak laga tandingnya bersama Encrid, pria itu telah berulang kali memanggilnya untuk bertarung tanding, jadi mata-matanya secara jelas terindai oleh memar-memar gelap.
Bahkan setelah dipukuli seperti itu, Dunbakel mengutarakan apa yang harus dikatakannya, dan tak ada sekelumit pun pertanda merasa tertekan.
"Benar sekali."
Hal yang sama berlaku bagi Rem, sosok yang memukulnya.
Keduanya tidak saling membenci satu sama lain, tidak pula mereka membagikan emosi khusus apa pun.
Segalanya sekadar memukul, dipukul, berlatih, dan mengasah.
Menonton mereka, mereka adalah pasangan yang aneh.
Seseorang mungkin berpikir perasaan-perasaan bisa mekar, tapi Rem selalu menyeluruh.
Rasanya seolah-olah makhluk yang dikenal sebagai 'wanita' tidak ada baginya.
"Hal-hal yang dijuluki *ground squirrel* itu mengambil buah tersebut lalu membenamkannya di dalam tanah. Kemudian buah itu menyerap semangat bumi lalu tumbuh. Menemukan tanah dengan semangat, atau lebih presisinya, tanah di mana buah itu bisa tumbuh, adalah sesuatu yang hanya sanggup dilakukan oleh *ground squirrel*."
Memang ada banyak hal langka dan menakjubkan di Barat.
Encrid menyadari tatapan yang samar-samar dirasakannya adalah milik seekor *ground squirrel*.
Di samping hal tersebut, segalanya yang didengarnya dan dilihatnya adalah sesuatu untuk dipelajari.
Juga, karena hal tersebut, rasa penasarannya mengangkat kepalanya.
Itu adalah alasan ketiga ia datang ke tanah ini.
"Bagaimana orang-orang Barat lainnya bertarung?"
Entah duduk atau berdiri, berjalan atau berhenti, tenggelam dalam satu pemikiran adalah sebuah kekuatan.
Sebaliknya, itu juga merupakan sebuah kelemahan, karena ia bakal menerjang ke depan dengan memikirkan hanya satu hal.
Rem menatap pria gila yang begitu tersedot ke dalam pedangnya lalu menjawab.
"Ada beberapa yang bertarung sepertiku."
"Lalu?"
"Dan ada beberapa yang bertarung secara berbeda dibanding diriku."
"Apakah cuma itu?"
"Apakah kau mau tahu terlebih dahulu?"
Encrid tidak berpikir terlalu dalam lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, jangan beritahu aku."
Di masa lalu, saat kemampuannya masih buruk, ia harus mencengkeram situasi secara lebih dan mengetahui bahkan sedikit soal musuh.
Jika tidak, ia bakal tewas.
Tapi sekarang, tak apa-apa untuk sedikit nekat.
Jadi, ini bakal tak apa-apa.
*'Mari kita hadapi saja dan menikmatinya.'*
Berhadapan dengan lawan yang tak diketahui bakal lebih menyenangkan.
Bukan seolah-olah ia sedang berjalan menuju kematiannya.
Rem terkekeh.
Ia tahu bakal jadi seperti ini.
Encrid tertawa pula.
Sebab ia memahami niat Rem.
Keduanya merentangkan kepalan tinju mereka lalu menepukkannya bersama.
Kelihatan seolah-olah bunga persahabatan hendak mekar.
"Bakal menyenangkan saat kau bertemu mereka. Ah, kau mungkin bakal murka, tapi mungkin tidak, Kapten? Beastman bodoh itu kemungkinan bakal tertipu dengannya, dan mereka mungkin bahkan tak berminat dengan Frokk sejak awal."
***
Rem memimpin jalan, mengaduk-aduk ingatan-ingatannya.
Tinggalkan dataran, jaga punggung bukit kecil di sebelah kiri, lalu berjalan sedikit di atas arah di mana matahari tenggelam.
Maka sebuah desa kecil bakal muncul.
Monster-monster sesekali meletup keluar, yang merupakan sebuah pening kepala, tapi orang-orang yang tinggal di sini semuanya adalah para ksatria petarung.
Dari perspektif Benua, apakah mereka harus dijuluki penjaga perbatasan yang tinggal di tanah perbatasan?
Tentu saja di Barat, itu sekadar dijuluki sebagai desa para petarung.
Sebuah desa di mana semua orang tahu cara bertarung dan bertarung dengan baik.
Kini saatnya bagi sebuah wajah yang diketaus Rem sendiri untuk muncul.
*'Hoo.'*
Rem secara rahasia menahan napasnya.
Ia agak cemas.
Jika ia melanjutkan di jalan ini, salah satu orang yang bakal ditemuinya kembali tentu bakal sangat membencinya, dan kebencian tersebut sangat beralasan.
*'Apa yang harus kukatakan?'*
Haruskah kubilang sudah lama tidak bertemu?
Jika aku tahu hal ini bakal terjadi, aku seharusnya mengambil beberapa permata berkilau.
Jika Krais berada di sini, bukankah ia pasti melakukan apa pun untuk mencegahku pergi dengan tangan kosong?
Ia memiliki pemikiran-pemikiran beragam semacam itu.
*Thud.*
Encrid mengangkat satu lengan untuk menghentikan langkah Rem.
Rem melirik lengan Encrid yang melintasi perutnya, lalu mengangkat kepalanya.
Desa yang diketahuinya masih sedikit lebih jauh dari sini.
Di depan mereka berdiri sebuah ras yang harus kau tengadahkan kepalamu untuk bertemu dengan mata mereka.
Dan ada tiga dari mereka.
Mereka yang tadinya secara canggung menyembunyikan tubuh mereka di belakang sebuah bukit kecil merayap keluar.
"Apakah seseorang mengirimkan kita bekal makan siang?"
"Tidak, bodoh, kita adalah yang paling luar, siapa yang bakal mengirimkannya?"
"Lantas benda-benda apa itu?"
Ketiganya berbicara saat menatap rombongan.
Suara-suara mereka nyaring dan tebal menyerupai petir.
Sangat nyaring hingga jika kau mendengarnya dari jarak dekat, gendang telingamu bakal menjerit dalam kesakitan.
Janggut menyerupai kawat, jari-jari menyerupai baja, dan torso yang tebal masuk ke dalam pandangan.
Mereka adalah para raksasa.
Tiga raksasa mengedipkan mata saat berbicara di antara sesama mereka.
Ketiganya membawa pemukul kayu cokelat gelap yang tebal dengan objek-objek menyerupai duri tajam terbenam di dalamnya.
"Apakah para raksasa juga sering muncul di Barat?" tanya Rua Garne.
Di matanya, atau lebih presisinya, di dalam **Eye of Talent Reading** miliknya, ketiga raksasa tersebut adalah lawan-lawan yang dahsyat.
Saat rombongan ragu-ragu untuk sekejap, ketiga raksasa mengukur ukuran mereka lalu mencapai sebuah kesimpulan.
"Aku tidak tahu."
"Sekadar camilan."
"Mari kita makan."
Ketiga raksasa memutar tubuh mereka.
Encrid pernah berhadapan dengan seekor raksasa sebelumnya.
Tapi ini adalah pertama kalinya ia melihat raksasa seperti ini.
Melakukan apa?
Makan?
Apa?
Kita?
Apakah mereka memangsa manusia?
"Frokk rasanya buruk, jadi enyahlah!"
Raksasa yang berdiri di tengah-tengah ketiga raksasa berteriak.
Teriakan kasar itu melesat melintasi padang yang gersang.
Ia merasakan tekad tekanan.
Will dari penolakan secara alami teraktivasi di dalam tubuh Encrid.
"Grrr!"
Pupil Dunbakel memanjang secara vertikal.
*Flick, clack.*
Bahkan di dalam situasi absurd ini, Rem memutar kapaknya sekali di atas tangannya lalu menangkapnya.
*Chwaak!*
Rua Garne mengeluarkan cambuknya lalu memotong tanah.
Diiringi suara cambuk menghantam tanah, sekelompok debu tipis membumbung.
Ketiga raksasa melangkah lebar ke depan.
"Frokk itu ulet."
"Kunyah dan lepehkan."
"Beastman itu milikku!"
Kanibal-kanibal, tidak, karena mereka tidak murni hanya memakan manusia, haruskah mereka dijuluki raksasa omnivora?
Ketiga raksasa menutup jarak.
Kelihatan lambat dalam sekali lirik, tapi itu gara-gara tubuh besar mereka; mereka tidak lambat sama sekali.
Terlebih lagi, salah satu dari ketiganya yang telah melangkah mendekat secara mendadak meningkatkan kecepatannya.
Diiringi akselerasi, raksasa itu menusukkan pemukulnya lurus ke luar.
Itu adalah pergerakan yang tak terduga.
Kelihatan seolah-olah bakal menghantamkannya secara buas, tapi secara mendadak menusukkan pemukul?
Di atas segalanya, datang berlari secara canggung lalu secara mendadak melepaskan pukulan semacam itu?
Terkejut adalah satu hal, tapi Encrid bereaksi secara instan.
Indra Sixth Sense miliknya, terintegrasi melalui **Sensory Skill**, meretas jalannya.
Bilah konsentrasi, terlahir dari **Single Point Focus**, memperlihatkan dirinya, tajam dan dingin.
Setelah hal tersebut, yang harus dilakukannya hanyalah menggunakan kekuatan fisiknya untuk melukiskan gambaran yang tergambar di dalam pikirannya.
*Kwang!*
Saat Aker ditarik lalu menghantam pemukul sang raksasa, sebuah ledakan nyaring meletup.
Bilah pedang dan pemukul bertemu lalu berpisah.
Kedua senjata terdorong mundur pada saat yang sama.
Bilah tajam Aker membelah bagian dari pemukul cokelat gelap.
Potongan pemukul yang terbelah melayang ke sisi samping.
Sang raksasa terperanjat lalu berhenti.
Saat satu raksasa berhenti, dua raksasa di sampingnya juga melebarkan jarak ke satu sisi lalu berhenti.
Ketiga raksasa kini mengepung rombongan.
Encrid, dalam posisi telah mengayunkan pedangnya menukik ke atas, menatap ke bawah ke arah kaki-kakinya.
Haruskah ia menjuluki ini sebagai kekuatan seekor raksasa?
Meskipun ia baru saja melepaskan **Heart of Power**, kaki-kakinya telah terdorong mundur.
Di satu sisi, Rem, yang sedang memegang kapak, memiringkan kepalanya lalu bertanya.
"Benda-benda apa kalian ini?"
Raksasa-raksasa, dan pemakan manusia pula, kenapa mereka meletup keluar di sini?
Rem murni penasaran.
"Roar, apakah kau takut, si kecil?"
Sang raksasa berbicara seolah-olah untuk menakut-nakutinya.
Nadanya seperti membodohi seorang anak kecil.
Rem tak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya.
Ia mengangkat kepalanya lalu berpikir.
Bahkan jika hanya satu dari ketiganya yang selamat, ia masih harus sanggup berbicara, kan?
Melihat bagaimana mereka menyerang baru saja, mereka tidak rendah dalam kecerdasan melainkan tahu cara menggunakan penampilan mereka untuk keunggulan mereka.
Dengan kata lain, mereka adalah sosok-sosok yang tahu cara menggunakan kepala mereka.
Mengetahui cara menggunakan kepala mereka pasti berarti mereka juga mengetahui rasa takut dengan baik.
"Jangan bunuh salah satu dari mereka, sekadar bermainlah dengannya sebentar," ujar Rem lalu membiarkan kapaknya menggantung rendah.
Ia membenamkan dagunya dan merendahkan kepalanya sedikit, tapi kobaran api hantu membara di matanya yang menengadah ke atas.
Ada seseorang yang seharusnya menjaga area ini.
Mereka tak terlihat di mana pun, dan hanya raksasa-raksasa omnivora yang tersisa.
Apa artinya hal tersebut?
Artinya sesuatu telah terjadi di sini.
Hal itu menggerus saraf-saraf Rem.
Ia meletakkan kekuatan pada kaki yang memijak di atas tanah.
**Heart of Power** bergerak, mengirimkan kekuatan ke otot-otot pahanya.
Ia membengkokkan lutut-lututnya dan meletakkan kekuatan ke dalam pergelangan kakinya.
*Guncang, guncang!*
Tanah berguncang.
"Apa ini?"
Sang raksasa terus memancing Rem dengan tindakan bodohnya.
Rem memutuskan untuk jatuh ke dalam pancingan tersebut.
*Kwang!*
Ia menendang lepas tanah lalu bergerak ke depan.
Ada hal-hal yang tak pernah bisa digunakannya saat bertarung tanding bersama Encrid.
Sebagai contoh, mendorong Heart of Power hingga ke batasnya.
Tentu saja hal itu tidak berarti ia bisa mengalahkan Encrid.
Kaptennya pasti telah menyembunyikan sama besarnya seperti dirinya.
*Wuuussh.*
Diselaraskan dengan terjangannya, sebuah pemukul jatuh secara presisi di atas kepala Rem.
Rem menendang tanah dengan kaki kirinya, meluncurkan tubuhnya ke depan, dan diiringi akselerasi tambahan, ia menendang tanah kembali dengan kaki kanannya.
Itu lebih lemah dibanding sebelumnya, tapi sebuah langkah yang melipatgandakan kecepatannya.
Itu adalah sebuah trik murah yang dijuluki double jump.
*Poof.*
Langkah kedua tidak meletup seperti yang pertama, tapi itu lebih dari cukup untuk menambahkan kecepatan.
Setelah melewati pemukul, kapak Rem menebas tubuh sang raksasa.
*Skeok!*
"Kuh-huuung!"
Sang raksasa meraung seperti seekor binatang buas.
Darahnya menyembur ke mana-mana.
Raksasa-raksasa awalnya adalah sebuah spesies yang dijuluki binatang darah merah, tapi darah mereka agak sedikit berbeda.
Darah mereka berwarna magenta gelap.
Sebuah warna yang dekat dengan ungu.
Di antara darah yang menyembur berhamburan, sang raksasa meraung lalu mengangkat kakinya, menyapu tempat di mana Rem tadi berada.
Fakta bahwa raksasa itu tidak sekadar menendang secara nekat melainkan menyapu kakinya secara lebar adalah bukti bahwa ia tahu cara bertarung.
Rem menghantam kaki mengayun sang raksasa dengan kapaknya lalu menggunakan pantulan untuk memantulkan dirinya ke sisi samping.
Tentu saja itu adalah sebuah pergerakan sengaja.
Di arah Rem bergerak, raksasa lainnya berpura-pura mengayunkan pemukulnya, lalu merentangkan tangannya.
Rem menendang hal itu pula lalu menghindar ke satu sisi.
Saat Encrid menonton hal ini terhampar, salah satu raksasa telah melangkah lebar di belakangnya.
"Kau bajingan!"
Sang raksasa mengayunkan pemukul di tangan kanannya untuk memblokir jalan Encrid terlebih dahulu, sementara secara bersamaan mencoba menyambar dan menekan ke bawah bahu Encrid dengan tangan kirinya.
Saat melakukannya, ia berteriak, "Kau bajingan!"
Suaranya begitu nyaring hingga benar-benar menyakitkan telinganya.
Hal itu sendiri mungkin punya efek membuat tubuh seseorang membeku untuk sekejap, tapi hal itu tidak bekerja pada semua orang.
Encrid, yang telah membaca keberadaannya, berbalik lalu menusuk dengan Spark, kemudian mengayunkan Aker menukik ke atas.
Hasilnya, Aker menghantam pemukul, dan Spark membuat luka kecil di telapak tangan sang raksasa.
Berkat menarik kembali tangan kirinya yang terulur, sang raksasa hanya mendapat goresan kecil alih-alih sebuah lubang.
*Pibik!*
Gara-gara Spark, darah magenta gelap mengalir dari tangan sang raksasa pula.
Tak peduli siapa yang melihat, itu bukan darah merah.
"Dari mana pria seperti kau meletup keluar? Aku takkan mengampunimu! Kau!"
Sang raksasa menyala dalam amarah.
Encrid menatap tajam ke dalam mata-matanya.
Mata-mata dari raksasa yang murka sangat amat dingin.
Mata-mata itu sama seperti mata Krais saat ia sedang menghitung koin-koin demi krona.
Itu adalah mata-mata yang mengkalkulasi.











