Eternally Regressing Knight

Bab 466: Tak Lagi Setara

2389 Kata

Bab 466: Tak Lagi Setara

Matahari yang tenggelam menerangi separuh dari wajahnya, membuat separuh lainnya kelihatan makin gelap.

Cahaya senja memotong melintasi ruang di antara kedua pria tersebut.

Rasanya seolah-olah cahaya memisahkan mereka, menggambar sebuah garis di antara sisi-sisi mereka.

Encrid sudah menghapus senyuman dari wajahnya.

Ekspresinya kini datar.

Wajah Rem bahkan jauh lebih acuh tak acuh.

Keduanya berdiri dengan lengan tergantung santai, tak satu pun dari mereka yang telah menarik senjata mereka.

Dunbakel dan Rua Garne merasakan sensasi tekanan dari posisi berdiri kedua pria tersebut.

*'Ketenangan sebelum badai.'*

Pikir Dunbakel.

*'Sebuah gelombang yang membumbung di dalam rawa.'*

Rua Garne berpikir demikian pula.

Perspektif-perspektif mereka mirip, namun berbeda.

Hal itu karena mereka menonton dari sudut-sudut yang berbeda.

Dunbakel melihat badai yang hendak mengamuk.

Bertarung dengan insting dan intuisi, ia menilai bahwa pilihan di satu momen tunggal sanggup menentukan kemenangan atau kekalahan.

Sebaliknya, Rua Garne, yang menikmati pertarungan-pertarungan strategis, percaya bahwa sosok yang memenangkan pertarungan tekad terselubung sebelum tindakan apa pun terjadi bakal memiliki keunggulan.

Keduanya benar.

Sebuah pertarungan yang tenang, namun diiringi gelombang-gelombang yang membumbung.

Itu bisa dijuluki sebagai pertarungan tanding yang paling serius dan paling lambat dari seluruh pertarungan tanding mereka.

Dalam sebagian besar laga mereka, Encrid bakal menerjang secara nekat, atau sebaliknya, Rem bakal mulai dengan secara mendadak mengayunkan kapaknya.

***

Awan-awan yang luas dan bahkan menggumpal menyebar di sekujur langit.

Saat matahari tenggelam di bawah cakrawala barat, dua bulan yang samar mulai memperlihatkan diri secara redup.

Langit oranye secara perlahan berubah menjadi warna ungu yang halus.

Menatap ke arah cakrawala, rasanya seolah-olah langit dan bumi sedang bersentuhan.

Angin kencang, kelihatan bertiup tepat dari cakrawala tersebut, memotong di antara kedua pria.

*Wuuussh!*

Itu adalah hembusan angin yang cukup dahsyat.

Di Barat, hari seperti ini dijuluki sebagai 'langit rendah', dan jenis angin seperti ini dijuluki sebagai 'angin pemicu' atau 'angin penghalang'.

Ini adalah sebuah cerita yang diutarakan Rem pada mereka dalam perjalanan ke sini.

Saat itu adalah angin sakal, kau bisa merasakannya menghalangi langkah-langkahmu seperti sebuah dinding, dan sebaliknya, saat angin bertiup dari belakang, rasanya seperti mendukung dan mendorongmu ke depan.

Itu adalah sebuah fenomena cuaca yang unik.

Encrid, tak terganggu oleh angin, mengangkat satu tangan lalu mencengkeram gagang pedangnya.

Sementara itu, Rem mengeluarkan kapaknya.

*Srrrting!*

Saat Encrid menarik Aker, memegangnya dengan kedua tangan dan melotot tajam pada Rem kembali, Rem mengambil satu kapak di masing-masing tangan lalu membiarkan lengan-lengannya tergantung secara santai sekali lagi.

Encrid sedikit merendahkan ujung Aker, yang tadinya dipegangnya sejajar dengan tanah, lalu memiringkan bilah pedang untuk menciptakan sudut diagonal alih-alih sudut horizontal.

"Oh."

Rua Garne meletupkan suara kekaguman, mata besarnya bergulir.

Rem menggeser kaki kirinya ke belakang secara halus, memindahkan pusat gravitasinya ke kaki kanannya.

Ujung Aker membidik paha kiri Rem, dan Rem telah menyesuaikan posisinya untuk sanggup menghindar di momen apa pun.

Pertukaran strategis yang serupa terhampar.

Untuk meminjam ekspresi Rua Garne, itu adalah gelombang mengamuk di dalam lubang rawa dan lumpur.

Saat Encrid mendorong gelombang, Rem menghindar atau menangkisnya.

"Kau pikir hal ini bakal pernah selesai?"

Atas ejekan Rem, Encrid secara batin menyetujui.

Ini, dalam beberapa cara, sekadar sebuah ujian.

Untuk melihat seberapa banyak dari apa yang dipelajarinya dan dikuasainya bakal bekerja.

Ia telah memancarkan sebuah aura tekanan, tapi tak ada cara hal semacam itu bakal bekerja pada barbarian yang buas ini.

Lantas bagaimana dengan mematahkan momentum lawan berdasarkan pertarungan adu akal?

Itu adalah jenis teknik yang dipelajarinya dari Rua Garne.

"Kau tahu cara bersiap demi sebuah pertarungan untuk menang sejak awal, kan? Ini sekadar melakukan hal tersebut secara sedikit lebih terang-terangan."

Menyesuaikan sabuk pedangmu, mengubah posisimu, menata ulang kaki-kakimu—segalanya adalah persiapan demi kemenangan.

Jika kau sanggup memegang keunggulan dengan menentukan arah ujung pedangmu atau memegang pisau belati di tanganmu terlebih dahulu, bukankah itu hal yang benar untuk dilakukan?

Tentu saja memang demikian.

Hanya saja hal itu tidak bekerja secara mudah pada Rem.

Pedang dan kapak-kapak bergerak secara mendadak.

*Clang!*

Saat bilah Aker mengayun menukik seolah-olah membengkok, kedua kapak bersilang lalu menangkisnya.

Saat menangkis, Rem mencoba menangkap bilah pedang di kepala kapaknya lalu memuntirkannya lepas dari genggaman Encrid, tapi Aker mundur di momen pedang itu menghantam kapak-kapak.

Ia telah membaca niat Rem untuk mengikat bilah pedangnya sejak awal lalu menggunakan tebasan snapping cut.

Sepotong kecil dari mata kapak terkelupas lalu melayang ke udara, tapi tak seorang pun dari mereka menghiraukannya.

"Kau sudah jadi lumayan bagus." Rem tersenyum lebar.

"Kau juga." Encrid tersenyum membalas.

Segera, pedang dan kapak-kapak secara tanpa ampun membidik leher, perut, dada, paha, lengan bawah, dan jari-jari satu sama lain—memotong, menusuk, mengayun, dan menghantam.

*Clang!*

*Cl-cl-cl-clang!*

Di antara cahaya bulan malam yang mewarnai dunia menjadi ungu, potongan-potongan logam membuktikan nilai mereka satu sama lain.

Percikan-percikan api melayang, berbicara soal kekerasan mereka, saat mereka melayang berusaha menggali ke dalam daging lawan.

Itu terjadi setelah beberapa pertukaran serangan dan pertahanan.

*Twaaang!*

Diiringi hantaman nyaring, tubuh Encrid melesat masuk ke dalam ruang personal Rem.

Melihat hal ini, Rem menusukkan lututnya ke atas, dan Encrid memblokirnya dengan lengan bawah kirinya.

*Thud.*

*Clink, krak!*

*Thwack!*

Rua Garne dan Dunbakel melihat Aker tertancap di tanah.

*Thud* adalah suara Aker menusuk ke dalam tanah.

*Clink* adalah suara kapak di tangan kiri Rem jatuh ke tanah.

Itu semua terjadi dalam sekejap saat kapak dan Aker bertemu.

Encrid melangkah mundur, mengusap lengan bawah kirinya dengan tangan kanannya.

*Krak* adalah suara lutut Rem menghantam lengan bawah Encrid.

"...Kau jadi kuat sekali, bajingan." Rem berkata.

"Kurasa begitu pula," jawab Encrid.

Dan kenapa tidak?

Merasakan tebasan ksatria telah membawakan perubahan tak terduga pada diri Encrid.

Itu adalah sebuah batu pijakan, sebuah akselerasi dari pertumbuhannya.

Encrid telah mengibaskan salah satu kapak menjauh dengan Aker lalu menerjang masuk ke dalam ruang Rem, menghantam dagunya dengan telapak tangan kanannya.

Di momen tersebut, Rem telah membaca pergerakan Encrid lalu mencoba merintangi terjangannya dengan lututnya dan memuntir pinggangnya untuk menghindar.

Tepat pada timing presisi tersebut, tangan Encrid telah memperlihatkan sesuatu yang mirip dengan tebasan ksatria.

Artinya, tangan itu melesat keluar dengan kecepatan yang tak terbayangkan.

Rem tak sanggup menghindarnya tepat waktu.

*Thwack* adalah suara dagu Rem terkena hantaman.

Ia tidak menduga hal semacam ini terjadi dalam sebuah pertarungan tanding bersama Encrid, tapi hal itu telah terjadi.

Kepala Rem berputar.

Ia bisa menahannya jika ia mencoba, tapi kekalahan tetaplah kekalahan.

Ia terduduk ambruk tepat di mana ia berdiri.

"Hoo, rasanya aku mau muntah."

Hantaman yang layak pada rahang cenderung membuat seseorang merasa mual.

"Kau memang memutar kepalamu di detik terakhir," ujar Encrid sembari mengambil Aker dari tanah.

Itu bukan hantaman langsung, tapi itu adalah hantaman yang valid.

Bagaimana jika mereka terus bertarung?

*'Aku bisa menang.'*

Dengan demikian, laga terputus di sini.

***

"Grrrrrrr."

Pipi Rua Garne membusung lebih besar dari yang pernah ada sebelumnya.

Itu adalah sebuah perkembangan yang mengejutkan bahkan baginya.

Dunbakel bahkan jauh lebih terkejut.

Mata-mata keemasannya melebar lebih besar dibanding bulan di langit.

Ia menatap Rem dalam waktu yang lama sebelum bertanya.

"Apakah kau makin lemah?"

*Krak.*

Rem memiringkan kepalanya dari sisi ke sisi beberapa kali, lalu berdiri dan membalas, "Kemarilah, mari kita lihat apakah aku makin lemah."

Tentu saja Rem tidak makin lemah.

Hantaman yang baru saja diterimanya sudah pulih dalam rentang satu hela napas tunggal.

Tapi jika itu adalah pertarungan nyata, itu bakal jadi celah yang menentukan.

"Gack!"

Dunbakel menerima beberapa hantaman hari itu, sementara Encrid secara tenang menata napasnya.

Sesuatu di dalam dirinya hendak meletup dan mendidih, tapi kemudian hal itu mereda dan mendingin.

Ia bahagia, tapi keriangannya tidak membumbung secara gila.

Ia senang, tapi tidak hingga pada titik meletupkan gelak tawa.

Itu murni sebuah konfirmasi.

*'Aku telah melangkah sejauh ini.'*

Itu murni sebuah bukti.

Setelah melihat kematian Oara, menonton pertarungannya, dan sekali lagi selamat dari hari tersebut.

Encrid telah sanggup meniru pergerakan-pergerakan seorang ksatria.

"Di antara tingkatan ksatria magang, kemungkinan tak ada orang yang sanggup tanding dengannamumu sekarang," ujar Rem, setelah memukuli Dunbakel.

"Satu ronde lagi?"

"...Mari lakukan. Boleh."

Rua Garne sangat amat terkejut tapi menerima hasil saat ini.

Dalam beberapa cara, hal itu mungkin telah diperkirakan.

Bukankah ia sudah melihatnya bertarung melawan monster ghoul?

Lantas kenapa ia masih terkejut?

*'Apakah ada alasan untuk tidak terkejut?'*

Setiap kali ia menatap pria bernama Encrid, ia selalu melihatnya mencapai sebuah batas.

Itu hingga pada titik di mana ia tak bisa memahami bagaimana kemampuannya telah meningkat begitu banyak.

Rasanya seolah-olah ia adalah seseorang yang telah bertarung dengan nyawanya dipertaruhkan ribuan kali untuk menyadari sesuatu, lalu mengasah pencerahan tersebut selama ratusan hari lebih.

*'Bahkan di kehidupan sehari-harinya.'*

Ia bakal mencurahkan seluruh waktunya untuk mengayunkan pedangnya dan merenungkannya.

Gadis itu telah membantunya dan menontonnya melakkukannya.

Dalam aspek pengalaman saja, Encrid sudah lebih unggul dibanding siapa pun di Benua.

*'Jumlah dari seluruh pengalaman tersebut, sebuah tubuh yang terlatih, teknik-teknik yang terasah secara teliti, dan kejelian untuk menangkap lawan tanpa pertahanan.'*

Itulah apa yang memungkinkannya melampaui Rem beberapa saat lalu.

***

Dalam pertarungan tanding kedua antara Rem dan Encrid, tak ada orang yang terkena hantaman di rahang atau dijatuhkan.

Tapi Encrid yakin.

*'Aku bisa menjatuhkannya.'*

Ia bisa mengalahkan Rem jika ia memantapkan pikirannya.

Setara?

Mereka tak lagi setara.

Ia memegang keunggulan.

"Kau kelihatan berpikiran kau bisa menjatuhkanku jika kau sekadar memantapkan pikiranmu, tapi hentikanlah. Huh? Kau tahu hal itu bakal berbeda jika kita bertarung dengan nyawa dipertaruhkan, kan?"

"Kau mengetahuinya pula, kan? Aku tidak bertarung dengan nyawaku dipertaruhkan pula."

"...Man, ada sesuatu dari caramu berbicara yang sekadar membuatku kesal."

Itu sudah merupakan pertarungan tanding ketiga mereka.

Sorot di mata Rem berubah.

Aura Encrid berubah pula.

"Salah satu dari kalian bakal tewas pada tingkatan ini," ujar Dunbakel, yang merasakan aura-aura mereka dengan indranya yang tajam.

Ini adalah tempat berkemah kedua mereka, yang mereka capai setelah berjalan selama satu hari penuh.

Dengan punggung mereka menghadap api unggun yang dibuat dari ranting-ranting kayu yang dikumpulkan, pedang dan kapak-kapak mereka bergerak kembali.

Pertarungan tanding ini tidak lama.

Sebagai gantinya, setiap teknik tunggal sangat amat mematikan.

*Cl-clang!*

Logam jarang bertemu.

Senjata-senjata Rem tidak seperti Aker, jadi mereka hanya bakal makin terkelupas makin sering berbenturan.

Sebelum lama, mata-mata kapak kelihatan seperti gergaji.

Kau bisa menjuluki mereka kapak-gergaji dan takkan ada orang yang mendebatnya.

Keduanya bertarung seolah-olah itu adalah sebuah pertarungan nyata.

Dan di tengah-tengahnya, Encrid terkejut secara baru.

Rem memperlihatkan sisi lain dari dirinya.

Ia bertindak seolah-olah pertarungan tanding mereka bukanlah segalanya.

Saat niat membunuh mengalir di antara mereka.

Pada akhirnya, mereka berdua berhenti.

Bahu-bahu mereka naik turun, dan napas mereka datang dalam hembusan yang kasar.

Meskipun stamina mereka luar biasa besar, mereka menjadi seperti ini.

Begitulah betapa melelahkan pertarungan tersebut secara mental.

Pedang dan kapak terhenti, terbidik ke arah hati satu sama lain.

"Jika kau menggangguku, hoo, hah, kau bakal mendapat lubang. Tepat di sana."

"Hooooo, kau sudah tewas."

Adalah balasan Encrid atas kata-kata Rem.

"Omong kosong."

"Mana mungkin."

Keduanya berhadapan satu sama lain, lalu meletupkan gelak tawa.

"Yah, ini bagus. Kita bakal bepergian selama sepuluh hari lebih, dan kau kemungkinan bakal terus meminta pertarungan tanding. Persetan, aku bisa kalah beberapa kali."

Rem mundur.

"Ini bukan membiarkanku menang, ini murni kalah," Encrid memastikan untuk menunjuk hal tersebut.

"Ya, ya, baiklah. Mari kita bilang aku kalah."

Saat Rem berbicara, ia menilai hal ini cukup aneh.

*'Ini terasa benar-benar aneh.'*

Ia telah menjalani sebuah kehidupan di mana pengalaman kalah sangat amat langka.

Ia tidak dijuluki seorang jenius tanpa alasan.

Ada hari-hari ia dijuluki yang terkuat di Barat, bakat terbesar dari suku-suku Barat.

Di antara mereka yang mengajarinya, sedikit yang bertahan lebih dari sebulan.

*'Mempelajari sihir agak menyulitkan, sih.'*

Tapi bahkan hal itu, ia pelajari, kuasai, dan pahami.

Beberapa penyihir telah mendiskusikan untuk menjadikannya penerus mereka.

Dan kemudian ia meninggalkan tanah tersebut.

Bahkan setelah pergi, kalah adalah kejadian langka.

Baru-baru ini, ada pria gila tersesat itu, dan pria kucing liar itu secara mendadak mengamuk, tapi...

Sebelum hal itu, konsep kalah telah jadi samar.

Jadi ia tak bisa terbiasa dengan kekalahan.

Itu seharusnya tidak menyenangkan.

Namun ia tidak merasa buruk.

Itu berbeda dari saat ia berhadapan dengan pria tersesat tersebut.

*'Kenapa aku tidak merasa buruk?'*

Bisa ada banyak alasan, tapi mungkin salah satunya adalah kapten gila ini tidak kelihatan punya niat untuk berhenti.

Pria itu tidak menjadikannya sekadar titik perlintasan, tidak pula menjadikannya sebuah tujuan akhir untuk dicapai.

*'Hal itu terjadi begitu saja.'*

Itu adalah sesuatu yang terjadi saat pria itu bergerak menuju impiannya.

Karena itulah pria itu masih mengayunkan pedangnya seperti itu.

***

"Berkemah di sini tidak nyaman dalam banyak cara," ujar Dunbakel saat ia mengurusi api.

"Aku haus pula," Rua Garne menyela.

Saat mereka pergi lebih jauh ke barat, cuacanya makin kering, jadi sangat bisa dipahami bahwa hal itu bakal berat bagi sang Frokk.

"Baiklah, mari kita lihat," ujar Rem lalu mulai menggali di tanah.

Mata Encrid dan semua orang beralih padanya.

"Tunggu sebentar. Kita butuh sesuatu yang manis untuk diminum, kan?"

Ini adalah Barat, tanah tempat ia terlahir dan dibesarkan.

Pergi lebih dalam bakal menyajikan gunung masalah yang menyulitkan, tapi...

*'Bakal jadi sebuah pemborosan untuk tidak menikmati saat ini.'*

Selalu, selalu bersenang-senang.

Bukankah itu motonya?

Setelah menggali secara kasar di tanah, Rem menancapkan kapaknya lalu menggunakan bagian belakang bilah pedang untuk mencungkil sesuatu ke atas.

*Krr-krak.*

Tanah pecah lebih mudah dibanding yang diperkirakan, dan sesuatu melesat ke atas.

Itu adalah buah bulat, terlalu besar untuk dipegang di satu tangan tapi agak terlalu kecil untuk dipegang dengan dua tangan.

"Apakah buah tumbuh di bawah tanah?"

Apakah ini semacam buah akar?

Encrid bertanya dengan rasa penasaran.

"Spesialisasi dari Barat, ground squirrel fruit."

Cangkang luar yang keras terbuat dari tanah yang mengeras.

Saat Rem memecahkannya, buah yang kisut keluar dari bagian dalam.

Ia menyapu kasar dirt lepas, meletakkan mata kapaknya padanya, mengirisnya, lalu membelahnya menjadi dua, memperlihatkan air yang berkilau di dalam.

"Minumlah. Sekali kau mencicipinya, kau takkan pernah melupakannya, bahkan dalam kematian. Pedagang-pedagang masa lalu dulu menjulukinya sebagai air surga."

Encrid mengambil buah tersebut terlebih dahulu lalu meminumnya sedikit.

Saat ia menelan, sebuah rasa manis kelihatan dimulai di mulutnya dan menyebar di sekujur tubuhnya.

Itu sangat manis, tapi tidak secara tidak menyenangkan.

Itu adalah jenis rasa manis yang membuatmu ingin terus meminumnya.

"Jika kau makan terlalu banyak, mulutmu sebenarnya bakal makin kering, jadi satu per orang sehari adalah ukuran yang pas."

"Aku sudah memutuskan. Kau adalah pemandu untuk Barat," Encrid memujinya dengan rasa kagum.

Rem memuntahkan deretan sumpah serapah.

Sekadar mendengar kata 'pemandu' membuatnya mengutuk secara refleks.

Tentu saja ia adalah sang pemandu, siapa lagi yang telah memimpin jalan hingga saat ini?

Terkadang, bajingan kapten itu punya cara untuk memutar perut seseorang hanya dengan beberapa kata.

Ini berbeda dari mengakui kekalahan.

Ia merasa sangat tidak senang, seolah-olah ia sedang dibandingkan dengan pria gila tersesat itu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.