Eternally Regressing Knight

Bab 391: Keparat Tanpa Satu Pun Sifat Menyenangkan

2558 Kata

Bab 391: Keparat Tanpa Satu Pun Sifat Menyenangkan

"Jadikan seluruh pejabat istana sebagai sekutumu."

Itu adalah kondisi yang ditetapkan sang Ratu untuk Krang. Mereka bakal mendiskusikan masalah takhta setelah ia memenuhi kondisi tersebut.

Sang Ratu telah mengatakannya, dan Krang menepati kata-katanya.

"Yang Mulia."

Krang menatap sang Ratu. Sang Ratu pun menatap balik ke arah Krang.

Encrid tidak mengetahuinya, tetapi sang Ratu sebenarnya tak memiliki keserakahan atas takhta. Ia juga tak mendambakan kekuasaan.

Apa yang diinginkannya murni kehidupan yang tenang dan damai. Impiannya adalah menyaksikan bunga-bunga bermekaran di musim semi dan menyejukkan diri di bawah naungan pepohonan saat musim panas seraya mengobrol santai. Menghimpun dedaunan maple di musim gugur, dan menyeruput teh hangat sembari mengamati salju yang turun di luar jendela saat musim dingin.

Bakal jauh lebih indah jika seorang pria baik berada di sisinya sepanjang momen-momen tersebut. Dengan kata lain, bukan pernikahan politik yang dipilih demi melindungi takhta, melainkan murni menghabiskan waktu bersama sosok yang benar-benar baik—hanya itulah yang pernah diimpikannya.

Bagi seorang rakyat biasa, itu mungkin impian yang melampaui tingkatan mereka, tetapi ia adalah Sang Ratu Naurilia. Jadi hal itu bisa disebut sebagai impian yang serba bersahaja.

Sang Ratu sebagai individu tidak cocok menduduki takhta. Ia menginginkan sesuatu selain kekuasaan. Namun demikian, ia tetap bertahan. Ia tidak melarikan diri dari tanggung jawabnya. Ia melakukan apa yang sanggup dilakukannya.

Ada masa di mana ia ingin membagi kekuasaan di antara keluarga-keluarga bangsawan, termasuk faksi Vaisar, lalu pergi angkat kaki.

"Jika Anda melakukannya sekarang, Naurilia bakal terpecah menjadi minimal tiga bagian. Oh astaga, dan ketiga bagian itu bakal diserap oleh negara lain atau runtuh. Ah, satu yang bertahan mungkin menjadi kota-negara, tetapi apa yang tadi Anda katakan bakal Anda lakukan?"

Itu adalah kata-kata dari Marquis Vaisar. Ia adalah guru dari sang Ratu. Dan ia sangat benar.

Keberadaan sang Ratu menyerupai benteng terakhir bagi kaum agung dan berkuasa. Ia tak sanggup pergi. Tidak pula ia sudi menyerahkan takhta kepada keparat seperti Count Molsen.

*'Yang Mulia, mendiang raja.'*

Pada malam-malam di mana ia merindukan ayahnya. Sebuah hadiah dari mendiang raja tiba.

"Kdiant Langdiers Nauril, mereka bilang itu adalah namaku."

Pria itu menyerupai cerminan dari mendiang raja di masa mudanya. Pria itu juga memiliki banyak kemiripan dengan dirinya sendiri.

Krang telah menemui sang Ratu sebelum memulai apa pun. Krang harus menemui sang Ratu. Ia perlu mengetahui apakah negara Naurilia adalah tempat yang layak dilindungi dan diperjuangkan. Jika tidak, ia tak seharusnya memulai sejak awal.

"Mendiang raja melimpah dengan cinta."

Itu adalah kata-kata pertama sang Ratu saat bertemu Krang. Ucapan itu sangat tulus. Mendiang raja memiliki banyak wanita. Ia sering berkelana meski memiliki ratu dan selir-selir. Sungguh sebuah keajaiban ia hanya memiliki satu anak di luar nikah.

Keduanya melakukan percakapan panjang. Setelahnya, Krang pergi dan belakangan kembali menemui sang Ratu lagi, yang berujung pada masa kini.

"Apakah kau sudah melontarkan pertanyaan itu?"

Sang Ratu berkata masih ada orang lain yang harus diajukan pertanyaan serupa. Apa pun impian pribadinya, sang Ratu mencintai kerajaan tempat ia terlahir dan dibesarkan. Sebab itulah ia tidak berpaling dari tanggung jawabnya.

Ada tiga orang yang harus ditanyainya.

Satu tentu saja Krang.

Yang kedua adalah Marquis Vaisar. Ia bahkan sempat mempertimbangkan mengangkat marquis menjadi seorang Archduke dan secara bertahap menyerahkan takhta kepadanya. Tentu saja ia tak bisa melakukannya, karena gurunya menolak.

Setelahnya, ia juga memasukkan Marquis of the Fertile Plains ke dalam daftar kandidat, tetapi Marquis Vaisar menentang hal ini pula.

"Kerajaan ini bakal runtuh tak peduli apa pun."

Marquis Vaisar tahu bahwa untuk mempertahankan negara ini, sebuah titik fokus yang sanggup diakui oleh semua orang sangatlah diperlukan.

Terakhir, sang Ratu harus bertanya kepada Count Molsen. Jika pria itu benar-benar peduli pada negara, bukankah ia harus bersedia menyerahkan takhta bahkan kepada pria dengan lidah menyerupai ghoul? Melakukan hal-hal yang tidak disukainya entah bagaimana telah menjadi keahlian sang Ratu.

Namun ia bahkan tak sempat melontarkan pertanyaan tersebut.

*'Betapa menggelikannya situasi ini sekarang.'*

Tepat sebelum menjawab, pemikiran itu melintas di benak sang Ratu. Situasi ini benar-benar tampak menggelikan.

Ia berniat melontarkan pertanyaan, tetapi hanya satu orang yang tersisa untuk ditanyai. Dua orang yang disebut bangsawan agung telah memihak Krang, dan subjek pertanyaannya yang lain, Count Molsen, telah menjadi pengkhianat atas kehendaknya sendiri.

Count Molsen adalah pria yang bisa dipanggil sebagai seorang pahlawan. Namun demikian.

*'Metodenya tidak dapat disebut benar.'*

Apa yang didambakannya adalah takhta, bukan negara. Sang Ratu sanggup melihatnya.

Oleh karena itu, hanya satu pilihan yang tersisa.

"Apakah kau merencanakan ini?" tanya sang Ratu.

Krang memperlihatkan kurva senyuman di matanya.

"Aku hanya berpikir bahwa mereka yang mencintai dan bakal melindungi kerajaanlah yang bakal bertahan."

Pada akhirnya, ini adalah panggung yang disiapkan oleh Krang. Ia telah merangkul Marquis of the Fertile Plains dan menuntaskan pembicaraannya dengan Marquis Vaisar. Ia memberi tahu mereka bahwa jika ia selamat dari apa pun yang terjadi, mereka harus berdiri di belakangnya saat itu.

Marquis Vaisar menekuk satu lututnya. Lutut tuanya menyentuh tanah dengan dentuman pelan.

"Bolehkah tubuh tua ini menyuarakan patah kata?"

Sang Ratu mengangguk setuju. Sang Marquis membuka mulutnya, kepalanya tetap tertunduk.

"Semoga Anda meraih impian Anda, Yang Mulia."

Ia adalah pria yang menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya ketimbang mendiang raja. Sangat tidak salah jika menyebutnya sebagai sosok ayah lainnya.

Sang Ratu tidak menjawab. Ia murni menatap Krang dengan mata yang tidak memperlihatkan emosi apa pun.

Krang telah membuktikan dirinya. Melampaui kejelian metodenya, bukankah sangat jelas terlihat bahwa seluruh pejabat istana yang tersisa di Great Hall berada di pihak dirinya?

"Hentikan tekanan eksternal dan hukum para pengkhianat. Lakukan itu, dan aku sendiri yang bakal menempatkan mahkota di atas kepalamu." Sang Ratu mendeklarasikan.

Encrid tahu bahwa Krang telah melakukan berbagai hal untuk tiba di titik ini. Kesimpulan seperti ini tak akan terjadi jika sebaliknya. Di atas segalanya, ia menyadari bahwa urusan dengan sang Ratu telah tuntas.

*'Ia memulai ini dengan janji takhta.'*

"Jaga dirimu baik-baik," ujar Krang lalu berbalik.

"Tentu saja. Kau lakukan apa yang harus kau lakukan," teriak sang Ratu seraya bangkit berdiri.

Krang memberi penghormatan lalu memutar tubuhnya. Di belakangnya, Marquis Vaisar dan Marquis of the Fertile Plains mengikutinya. Encrid juga melangkah pergi bersama kelompoknya.

Tepat sebelum melangkah keluar, Encrid menengok ke belakang. Ia melihat sang Ratu menjulurkan tangan ke sampingnya. Itu adalah tangan yang terulur menuju wanita yang tampak sebagai seorang mage istana. Itu adalah gestur yang dipenuhi kecemasan, seolah bertanya apakah wanita itu baik-baik saja.

Sang mage melambaikan tangannya. Apakah murni imajinasinya bahwa hubungan mereka tidak tampak biasa? Itu bukanlah sesuatu yang perlu diketahui Encrid.

"Ke mana kau tadi pergi?" tanyanya kepada Esther.

"Seorang pria mencoba membujukku untuk bergabung di pihak mereka," sahut Esther.

Tak ada keperluan untuk bertanya siapa orangnya. Count Molsen. Pria itu kemungkinan seorang mage, tepat seperti yang diklaimnya.

Encrid sebelumnya mengira ia tak bisa melakukan apa pun jika Esther pergi. Namun wanita itu tetap bertahan. Haruskah ia bertanya mengapa? Ia merasa tak akan mendapat jawaban yang tepat bahkan jika bertanya. Sekadar ingin? Atau karena menyukainya?

Meskipun demikian, ia tetap ingin bertanya.

"Mengapa kau tidak pergi?"

Atas kata-katanya, Esther memutar kepalanya. Ia baru saja kembali dari membakar dua mage setengah matang yang menggumamkan mantra konyol hingga menjadi tumpukan abu.

"Aku tak pernah menjadi seseorang yang mendengarkan orang lain dengan baik," cetusnya.

Bagi seseorang yang seperti itu, Encrid merasa Esther mendengarkan permintaannya dengan sangat baik.

Krang melangkah maju, bertukar kata dengan kedua marquis. Kata-kata seperti janji dan kondisi saling dipertukarkan. Mereka juga berbicara tentang memprediksi langkah Count Molsen berikutnya dan mempertahankan ibu kota menggunakan pasukan kedua marquis.

Ingis berada bersama mereka.

"Yang Mulia, aku membawa pasukan bersamaku," ujarnya.

Seakan tak perlu berpikir, Krang menjawab tanpa menarik napas.

"Aku akan memberimu beberapa kuda cepat. Bakal sangat baik bagimu untuk memulihkan keletihanmu sejenak lalu kembali." diiringi senyuman biasanya.

Apakah ancaman sang Count tidak begitu signifikan? Pria-pria yang datang jelas merupakan pasukan yang sangat kuat, tetapi Krang menyuruh mereka kembali.

Tepat saat Ingis, setelah merenung sejenak, hendak menyuarakan sesuatu, Krang berbicara terlebih dahulu.

"Tahan ancaman dari selatan. Itulah tugasmu."

Ingis menyetujuinya. Ia telah membeli waktu sekitar tiga hari, tetapi jika tidak ada hal yang dilakukannya di sini, ia harus kembali. Menghentikan Count Molsen? Ingis mengira itu bukanlah pekerjaannya.

Namun dari perspektif Krang, bukankah mengecualikan pasukan seperti pasukannya merupakan keputusan yang membutuhkan keteguhan besar? Pasti demikian. Tentu saja harus demikian.

Meskipun demikian, tidak ada keraguan sedikit pun. Apakah ini yang dinamakan memiliki kapasitas?

Master-nya telah menyampaikannya pula.

"Dia tampak seperti wadah yang terlalu berharga untuk dihancurkan di sini. Pergilah dan bantu dia."

Bukankah karena kata-kata Master-nya ia melangkah sejauh ini?

Encrid, yang mendengarkan Krang dari belakang, merasa sedikit kecewa. Namun hal itu tak dapat dihindari.

*'Bagaimana jika aku meminta pertarungan sebelum ia pergi?'*

Hal itu tak boleh dilakukan. Encrid bukanlah Rem. Ia tahu cara mencerna situasi. Ingis adalah pria yang telah memacu kudanya dari medan perang selatan tanpa sempat mengusap noda darah dari baju zirahnya. Mengetahui keletihan dan kesulitannya, itu bukanlah sesuatu yang harus dilakukannya.

Jika orang lain mendengar pemikiran dalam Encrid, mereka mungkin bakal memiringkan kepala, tetapi Encrid tahu kapan harus melangkah maju dan kapan harus menahan diri. Sebab itulah ia hanya mendengarkan hingga Krang berbicara sejenak yang lalu.

"Enki, kudengar Border Guard dalam ancaman. Kau pun boleh kembali sekarang juga," kata Krang dari depan.

Encrid mengangguk dan membalas.

"Bakal baik-baik saja bahkan jika aku tidak pergi."

Audin berada di Border Guard, dan begitu pula Krais. Jika itu adalah ancaman nyata, mereka dipastikan sudah mengirim kabar sejak lama. Cuma karena seluruh pengintai dihadang, apakah itu berarti mereka kehilangan kemampuan mengirim berita?

Itulah Krais. Pria itu dipastikan sudah menyiapkan puluhan cara untuk menyelamatkan kulitnya sendiri. Lagi pula, dengan keberadaan Audin dan Teresa, bahkan Apprentice Knight yang memotong urat syarafnya sekalipun tak akan sanggup melakukan apa pun.

Lebih dari itu, apakah seorang Apprentice Knight dengan keahlian semacam itu tergolong umum? Pria itu memang individu dengan keahlian luar biasa mendominasi. Masalahnya adalah pria bernama Ragna telah muncul.

Dalam situasi saat ini, Audin adalah sosok yang paling mungkin sanggup bertarung imbang melawan Ragna.

*'Kau harus mengkhawatirkan mereka yang perlu dikhawatirkan.'*

Dan di balik Audin ada Krais yang licik.

Bagaimanapun, setelah ia membalas, pandangan kedua marquis terkunci pada Encrid.

"Ada apa?" tanya Encrid balik dengan sikap tenang.

Nada suaranya mengisyaratkan ia benar-benar tidak tahu. Ekspresi kedua marquis tampak aneh. Marquis of the Fertile Plains berkedip kaku, dan ujung bibir Marquis Vaisar gemetaran sementara parasnya tetap tanpa ekspresi.

Itu karena cara bicara santainya.

Melihat hal itu, Krang terkekeh dan berucap.

"Biarkan dia. Aku sudah bilang padamu kami adalah sahabat."

"Yang Mulia, martabat Anda bakal terkikis."

"Anda harus sadar akan pandangan orang lain."

Kedua marquis telah memutuskan untuk mengabdi pada Krang. Kata-kata mereka sangatlah tepat. Namun orang yang diajak mereka bicara bagaimanapun adalah Krang.

"Jika martabatku berkurang hanya karena beberapa patah kata biasa, tidak, karena kata-kata dari sahabat yang kubuat sendiri, lantas tak ada hal yang sanggup dilakukan oleh orang sepertiku dari titik itu dan seterusnya."

Seorang raja harus menjaga martabat. Seorang raja harus menempatkan semua orang di bawahnya. Seorang raja harus kesepian dan agung. Apakah seseorang benar-benar harus melakukan semua itu untuk membuktikan diri bahwa ia adalah seorang raja?

Itu menyerupai pertanyaan yang dilemparkan kepada dunia. Bahkan dalam momen ini, Krang memperlihatkan niatnya dan mengungkap kapasitasnya. Ia berbeda. Bahwa ia berbeda dari manusia biasa dapat dirasakan dari bobot kata-katanya.

Atmosfer berat dengan cepat sirna.

"Apa yang bakal kalian lakukan jika aku menegur Enki karena tersinggung oleh kata-katanya, lalu ia memutuskan untuk beralih ke pihak musuh?"

Karena Krang menyuarakan hal itu penuh dengan kejahilan. Paras kedua marquis terpelintir secara aneh. Mereka tahu keahlian Encrid. Mereka juga tahu tentang Mad Company di bawah komandonya.

Jika mereka tidak berada di sini saat ini, tak ada yang tahu bagaimana pertempuran melawan Count Molsen bakal berakhir. Dan mereka tak bisa memanggil Knights, bukankah begitu? ไม่, mereka bisa memanggil mereka jika mendesak. Master Cyprus kemungkinan besar bakal datang, terlepas dari selatan atau apa pun itu.

Krang mengetahui hal itu pula. Meskipun demikian, ia harus menghentikannya tanpa memanggil mereka. Bukan momen terdekat yang penting. Menghentikan perang saudara murni titik perlintasan. Krang menilai bahwa ia harus melakukannya demi apa yang datang setelah ia menduduki takhta.

Alasan pertama adalah ia tak akan sanggup pulih dari kerusakan yang disebabkan akibat gagal menahan kekuatan besar selatan Lihinstetten dan tanah iblis.

Dan alasan kedua adalah.

*'Jika aku bahkan tak sanggup memegang kataku sendiri, siapa yang bakal mengikutiku?'*

Ia telah bertarung melawan sang Count dengan kata-kata. Saat mereka tak dapat menentukan pemenang, Encrid telah mengangkat tangannya. itu adalah situasi konyol, tetapi satu hal yang jelas.

Telah diputuskan bahwa karena kata-kata tak sanggup mengakhirinya, mereka bakal menuntaskan urusan dengan tindakan. Oleh karena itu, ia harus menghentikannya tanpa Knights. Krang harus melakukannya dengan cara seperti itu.

"Kau bakal membantu, kan?"

Atas pertanyaan yang diajukan dengan gurauan, Encrid menganggukkan kepalanya. Kedua marquis menatap Encrid dan Krang lalu merasakan perbedaan kapasitas mereka. Haruskah mereka menyebutnya seperti yang diharapkan?

Bulan telah terbit di langit. Sinar bulan merembes masuk menerobos jendela saat mereka melangkah keluar dari Great Hall. Kebisingan seakan telah mereda, seolah pertarungan telah tuntas dan terselesaikan.

Sebagian dari Royal Guard yang berkumpul bersama mendekati kelompok tersebut sebelum menahan langkah. Pria di barisan terdepan mengenakan helm abu-abu gelap.

"Kami menyapa Yang Mulia." Ia berlutut pada satu lutut.

Krang menganggukkan kepalanya.

"Kalian telah bekerja keras."

"... Aku bakal menerima hukumanku belakangan, dan meminta ampunan di masa mendatang."

"Aku tidak menyuarakan hal ini karena kau mengambil pihakku. Kau melakukan apa yang harus kau lakukan."

Krang menyuarakannya demikian dan menyuruhnya berlalu. Itu bukanlah akhir dari segalanya. Mayoritas dari mereka yang pergi memihak pada Krang.

Encrid berpikir ini adalah kekuatan Krang. Mereka yang mengenalnya, berbicara dengannya, dan menghabiskan waktu bersamanya semuanya datang untuk mengakui pria bernama Krang. Haruskah seseorang menyuarakan ia memiliki kekuatan untuk memikat hati orang-orang?

Saat mereka melangkah, ia melihat seorang ksatria wanita berambut oranye, mencengkeram perutnya dengan satu tangan, penampilannya berubah aneh akibat hidung yang patah. Langkah kakinya yang terpincang memperjelas kondisinya sangat buruk.

Wanita yang mendekat itu menahan langkah dan mengangkat kepalanya.

"Encrid."

Matanya terarah bukan pada Krang, melainkan murni pada Encrid. Itu adalah pandangan yang menatap dirinya seorang.

Encrid tahu bahwa wanita itu telah selamat. Pada saat yang sama, ia menyadari bahwa hari ini telah berlalu.

Apakah sang Penyeberang menyuarakan hal ini bakal sangat menyenangkan? Ia menyetujuinya. Ia telah menyelamatkan orang yang ingin diselamatkannya. Hal itu saja sudah cukup untuk memuaskan Encrid.

Dadanya terasa menggelitik. Sosok bernama Aisha hidup, bergerak, melangkah, dan bernapas menerobos mulutnya alih-alih hidungnya yang patah di sana.

"Apakah kau tidur nyenyak?" tanyanya, mengemas seluruh hal tersebut ke dalam pertanyaannya, dan Aisha tersenyum sinis sebelum mencengkeram pinggangnya. Itu bukanlah luka yang bakal sembuh dalam sehari atau dua hari.

"Kalian saling mengenal?" Krang melempar kata dari samping. Tiba giliran baginya untuk menyuarakan bahwa wanita itu telah menghalanginya dan berdiri di pihak musuh, tetapi ada situasi di baliknya.

Encrid membuka mulutnya.

"Apprentice Knight, dia bertarung dengan baik. Sedikit di bawahku."

Atas kata-kata itu, ujung mata Aisha terangkat sedikit, dan bagi Krang, penjelasan itu sudah cukup.

"Bakal sangat baik bagimu untuk memulihkan diri dari lukamu."

"Apa?"

"Sebuah perang saudara telah dijadwalkan," ujar Krang diiringi senyuman.

Ia menyuarakannya seakan berbicara tentang rutinitas harian, seperti mengajak menyantap makanan. Tak ada celah dari sensasi krisis, tetapi kata-kata Krang sangat tepat.

Ini adalah awal dari perang saudara. Apa yang dilakukan sang Count adalah menantang mereka untuk bertarung yang bakal ditentukan lewat perang.

Apa yang mungkin telah disiapkannya? Encrid justru menantikannya. Apa pun yang dilakukannya, Encrid ingin menebas, memotong, dan menusuk jalannya menerobos lalu menyaksikan paras sang Count.

Mengancam Border Guard? Menggodai Esther?

Tak ada satu pun hal yang disukainya dari keparat itu.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.