Eternally Regressing Knight

Bab 389: Yang Berdiri di Hadapan Sang Ratu

3038 Kata

Bab 389: Yang Berdiri di Hadapan Sang Ratu

Hari ini, yang selalu berakhir sebelum matahari terbenam, telah berubah.

Ragna, bukti nyata dari perubahan itu sendiri, memutar tubuhnya.

Saat Ragna menurunkan pedangnya dan menenangkan napasnya, Apprentice Knight yang sebelumnya tampak menyerupai dewa kematian roboh terhempas ke lantai di belakangnya. Darah menyembur dari lehernya yang terputus. Darah segar menyuplai karpet yang sudah basah berselimutkan warna merah pekat.

"Bagaimana bisa?"

Mulut Encrid menganga lebar. Hal itu tidak cukup untuk membuatnya berteriak, tetapi ia benar-benar terperanjat. Ia juga sungguh penasaran.

Sebab itulah ia bertanya.

Apakah ia bertanya bagaimana Ragna sanggup tiba di sini? Itulah pemikiran yang terlintas di benak Krang yang mengamati sejak tadi.

Ini adalah penyelamatan dengan momentum waktu yang sangat sempurna. Sebenarnya, ini adalah hasil dari mencapai akhir dari hari ini yang berulang dan terputarbalikkan, tetapi Krang tidak mungkin mengetahuinya.

Sementara Ragna melepaskan kibatan darah dari pedangnya tanpa suara, Encrid secara jelas menyuarakan alasan keterkejutannya.

"Bagaimana caramu menemukan jalannya?"

Bagaimana mungkin ia tidak terkejut? Ragna telah menempuh perjalanan sejauh ini seorang diri. Ia tidak mungkin mengikutinya secara diam-diam, jadi ia dipastikan melangkah dari gerbang benteng.

Sesuatu yang seharusnya mustahil terjadi, kecuali jika Dewi Keberuntungan sendiri tidak sekadar menciumnya melainkan menggandeng tangannya, telah terjadi.

Menanggapi pertanyaan Encrid, Ragna membusungkan dadanya dan angkat bicara. Seolah-olah ia melangkah sejauh ini hanya demi momen ini.

"Aku tahu jalan pintas."

"Keberuntungan?"

Encrid mengajukan pertanyaan singkat. Ia bertanya apakah Ragna tiba karena keberuntungan belaka.

Ragna pun memberikan jawaban yang serba singkat.

"Keahlian."

Maksudnya, ia terlahir dengan bakat menemukan jalan pintas.

Krang berkedip kaku.

Apa yang sedang dilakukan orang-orang gila ini sekarang? Ini adalah percakapan yang tak sanggup dipahaminya. Bukankah ini percakapan di antara pria-pria tidak waras?

Yah, bukan kapasitasnya untuk menyuarakan apa pun. Yang terpenting adalah ia telah selamat.

Hari belum berganti malam. Krang tahu bahwa urusan ini telah terselesaikan bahkan sebelum sesuatu yang disiapkannya sempat tiba.

"Aku hampir mengompol di celana," gumam Krang sembari mendaratkan bokongnya terhenyak di lantai.

Itu bukanlah ucapan yang layak dilontarkan oleh pria yang berhasrat menjadi raja sebuah bangsa, tetapi menyuarakan hal itu tidak mengikis martabat Krang. Ia adalah tipe pria yang seperti itu. Mengapa martabat seseorang harus terkikis hanya karena bersukacita atas kelangsungan hidupnya sebagai seorang manusia? Jika ada yang bertanya, ia bakal menjawab demikian.

Setelah pertukaran singkatnya dengan Ragna, Encrid membenarkan pergelangan tangan kanannya yang terkilir menggunakan tangan kirinya kasar. Namun, matanya tetap tertuju pada Ragna.

Entah bagaimana, pandangannya berbeda ketimbang saat ia melontarkan frasa bercanda sebelumnya.

Menemukan jalan adalah satu hal. Namun apa yang terjadi berikutnya? Ragna telah mendesak mundur pria yang bahkan tak sanggup ditangani Encrid sendiri lalu memenggal kepalanya.

Encrid telah menyaksikan seluruh pertarungan tersebut. Siapa pun yang melihat pertarungan Ragna, melihat pedangnya, bakal tahu. Meski ia belum meraih gelar sebagai seorang ksatria, Ragna dipastikan menjadi seorang ksatria. Demikianlah besarnya bakat yang dimilikinya. Sebagian dari bakat itu telah merembes keluar dan tersingkap.

Matthew pun membelalakkan mata dengan napas memburu kencang. Keterkejutannya amat luar biasa.

Mulut Encrid terbuka.

"Terima kasih."

Kandungan kata-katanya adalah rasa terima kasih, tetapi nada suaranya menyimpan emosi lain yang lebih besar ketimbang sekadar ucapan terima kasih.

Telinga Krang menegak dan kepalanya memutar. Encrid yang biasanya tak bakal memperlihatkan emosinya dengan mudah, tetapi kini ia tampak kesulitan untuk menahannya.

Krang menatap Encrid lalu berteriak nyaring.

"Healer! Bawa healer ke sini!"

Dua pengawalnya menderita luka parah. Merawat mereka juga merupakan urusan yang serba mendesak.

Apakah karena rasa kewajiban profesional yang kuat atau loyalitas murni, seorang pelayan pria dan pelayan wanita segera menampakkan diri.

"Y-ya, Yang Mulia!"

Entah bagaimana mereka berhasil menghindari kematian atau luka, siapa yang tahu di mana mereka bersembunyi. Tidak, ini adalah hal yang wajar. Jika niat Apprentice Knight yang telah tewas tadi terwujud seluruhnya, merekalah yang bakal menangani jasad Krang yang tewas.

Lagi pula, kecuali jika ia adalah pria gila pervert yang haus akan pembunuhan, tidak ada alasan untuk membantai para pelayan. Bahkan jika pria yang tewas tadi telah berkhianat, ia tetaplah seorang anggota Knights. Krang mengetahui hal ini, yang menjadi alasan ia memanggil orang-orang.

"Bawa healer ke sini," ulang Krang sementara masih duduk di lantai, dan pelayan pria serta wanita itu bergerak cepat.

Sepanjang waktu itu, pandangan Krang tidak beralih dari Encrid.

"Kau hampir mati," cetus Ragna.

Ia tentu saja berbicara tentang Encrid yang hampir tewas. Apakah karena ia merasakan emosi yang terkandung dalam kata 'terima kasih'? Apakah ia sedang menegurnya, bertanya apakah itu emosi yang tepat ditujukan kepada orang yang menyelamatkannya? Bertanya apakah ia benar-benar harus merasakan hal itu?

Ucapan itu tampaknya menyimpan makna tersebut pula. Krang memiliki keahlian dalam mencerna makna terselubung yang terbaur dalam kata-kata orang lain. Itu adalah sesuatu yang bisa disebut sebagai wawasan tajam.

Meskipun demikian, pandangan Encrid tidak berubah.

Encrid bermimpi menjadi seorang ksatria. Namun, ia tidak sanggup menghentikan seseorang yang bertekad melancarkan serangan. Dan itu bukan cuma dirinya sendiri; pengawal Krang, Matthew dan pesilat tombak lainnya, telah membantu, tetapi inilah hasilnya.

Ia kalah. Itu adalah sebuah kekalahan.

Orang biasa mungkin telah mengecap frustrasi dan keputusasaan. Bahkan jika mereka tidak merasakan frustrasi dan keputusasaan, melihat Ragna dipastikan memicu pemikiran lain. Seseorang tidak bakal menjadi manusia jika mereka tidak merasakan kecemburuan. Bisakah seseorang disebut manusia tanpa hatinya tergoyahkan oleh rasa iri?

Krang berpikir demikian. Dan menatap Encrid, ia membatin.

*'Pria ini bukanlah manusia biasa.'*

"Mari kita bertarung setelah luka ini sembuh," tantang Encrid seraya mengacungkan pergelangan tangan kanannya.

Emosi apa yang terlihat di matanya yang membara? Tak ada rasa iri. Hanya ada sensasi mendebarkan, sukacita, dan semangat bertarung yang berkobar.

Melihat hal itu, Ragna menegurnya.

"Kau harusnya tahu rasa pengendalian diri setelah selamat dari pengalaman nyaris tewas."

Itu bukanlah sesuatu yang diharapkan bakal terdengar dari Ragna, tetapi kali ini Encrid jelas-jelas sudah melampaui batas. Encrid mengakuinya dan mengangguk setuju.

"Krang?" panggilnya.

Krang baru saja hendak berpikir sejenak lalu bertindak. Pikirannya dipenuhi hal-hal yang harus dilakukan untuk melangkah berikutnya.

Saat itulah mata Krang menangkap 'persiapannya'. Perjalanannya melintasi benua tidak sekadar untuk melarikan diri. Ini adalah salah satu hasilnya.

"Kau terlambat."

Itu adalah seorang pria dengan rambut cokelat pendek. Ia berbicara seraya melangkah mendekat.

Ragna menatap pria yang melangkah mantap menyusuri koridor dan mengenali dalam sekali pandang bahwa orang ini adalah lawan yang amat tangguh.

"Tuan Ingis," panggil Krang padanya.

Encrid mengenali afiliasi pria tersebut. Sangat mustahil untuk tidak mengetahui afiliasi seseorang yang mengenakan lambang dua pedang dan Sun Beast yang terukir pada baju zirah pelat besi yang menutupi dadanya.

"Aku adalah Ingis dari Knights."

Suaranya terdengar muda. Parasnya pun tampak muda. Paling bagus, ia mungkin baru berusia sedikit di atas dua puluh tahun. Pada kenyataannya, Ingis baru berusia dua puluh delapan tahun. Penampilannya yang awet muda adalah salah satu kompleksitas pribadinya.

Ia juga merupakan jenius berbakat paling menonjol di lingkungan Red Cloak Knights.

Pada masa persembunyiannya dahulu, Krang sempat mengunjungi wilayah selatan. Tepatnya, ia menemui ksatria yang menjaga wilayah perbatasan selatan yang berbatasan dengan tanah iblis.

"Tuan Cyprus."

Ia pernah melihat ksatria yang bahkan memiliki pasukan dinamai menurut namanya lalu berbincang bersamanya.

Setelahnya, ia menyaksikan pertempuran-pertempuran di wilayah selatan. Di tempat itu, Krang hampir kehilangan kepalanya empat kali. Berkat pengalaman itu, ia menyaksikan cara bertarung selatan dan memahami bahaya yang mereka simpan.

"Aku tidak akan naik ke atas takhta dengan meminjam kekuatan para ksatria."

Krang melihat masa depan. Ia menggambarkan hari-hari mendatang di istana kerajaan. Oleh karena itu, ia tahu ia tidak boleh membawa masuk kekuatan tidak biasa seperti ksatria untuk saat ini.

Haruskah ia memotong daging istana kerajaan demi meraih takhta?

"Kalian lindungi kehormatan kalian. Aku akan melakukan pekerjaanku."

Ia tidak bakal melakukannya. Ia bakal mengambil pilihan yang tampak konyol dan lambat. Itulah yang dilakukan Krang.

Apakah berkat hal itu? Ia telah memperoleh janji, dan kini ia sanggup melihat Ingis di tempat ini. Ini adalah persiapan yang seharusnya muncul menjadi jalan keluar jika ia sanggup bertahan selama setengah hari.

"Aku datang membawa delapan Squires," ujar Ingis.

Memang seperti yang dikatakannya. Yang lainnya tengah membersihkan area di depan gerbang benteng, sementara Ingis memburu ke tempat ini.

Pandangannya beralih kepada Apprentice Knight yang dibunuh Ragna.

"Tuan Pilten."

Sebaris penyesalan mewarnai suaranya. Namun ia tidak menyalahkan Ragna atau yang lainnya. Ia murni menatap Apprentice Knight yang tewas itu dengan mata duka sejenak.

Segalanya adalah pilihan pria itu sendiri. Ia paham betul bahwa Pilten iri padanya. Bukan berarti ia mendambakan hasil seperti ini. Pria itu telah menjadi pengkhianat dan mereka memilih memihak. Baik atau salah, itulah jalan yang dipilahnya.

Oleh karena itu, adalah benar bagi pria itu menanggung konsekuensinya sendiri.

Jauh di lubuk hatinya, ada pula rasa terima kasih yang tersembunyi. Jika Pilten tetap hidup, Ingis sendiri yang harus membunuhnya menggunakan tangannya sendiri.

Ingis segera mengangkat kepalanya dan berbicara.

"Aku harus pergi menemui Yang Mulia Sang Ratu."

Perintah Master Cyprus ada dua. Ingis ditugaskan memastikan keselamatan Krang, tetapi juga menahan serta memadamkan segala ancaman makar terhadap istana kerajaan.

"Aku juga baru akan ke sana," Krang menyetujui.

Apakah sebilah pedang yang disiapkannya hanya seorang Apprentice Knight dari selatan? Bisakah ia mempertaruhkan segalanya pada keputusan satu orang yang bisa saja berubah jika pikiran mereka berbalik?

Tentu saja tidak cuma itu. Namun tidak ada hal lain yang tiba. Maksudnya, ada masalah di tempat lain.

Kelompok itu melangkah bersama ke satu tempat. Tempat tujuan mereka adalah Great Hall milik Sang Ratu.

* * *

"Apakah kau sang penagih pajak?"

Setibanya di istana kerajaan, Jaxon telah mencapai tujuan akhirnya. Dengan kata lain, ini adalah sasarannya.

Apa yang ditemukan Jaxon adalah sang pemesan dari guild assassin.

Pada awalnya, ia mengira orang itu adalah Baronet Mernes. Bagaimanapun, pria itulah yang mendapat keuntungan dengan memanfaatkan bandit bernama Black Blade. Setelah menemukan beberapa petunjuk dan melangkah, ia mengetahui bahwa ada satu orang lagi.

Ia mendapat banyak keuntungan dengan membunuh semua orang di guild assassin. Ini adalah hasilnya. Ia sanggup mengetahui siapa pemimpin Black Blade, dan siapa pemesan mereka.

Ia tidak mengetahuinya sendirian. Ini adalah hasil dari tekanan eksternal. Tepatnya, ini berkat manuver pria bernama Krang. Apa yang dilakukan Krang secara fisik membagi faksi para bangsawan.

Jadi.

*'Aku tidak bisa bilang aku tidak mendapat bantuan Kapten.'*

Berkat Black Blade yang dihajar babak belur, wujud mereka tersingkap. Jika tidak, pemesan itu tak akan menekan guild assassin untuk membentuk aliansi, tidak pula menempatkan permintaan. Tidak, sejak awal pria itu tak akan melangkah keluar sendiri.

"Apakah ini gagal?"

Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan.

Jaxon melihat seorang pria berdiri membelakangi jendela besar. Posturnya cukup besar.

Atas pertanyaannya, Jaxon mengangguk setuju.

"Sama sekali tidak ada kesempatan."

"Mengapa?"

"Perbedaan keahlian."

"Betapa baiknya."

"Aku punya sesuatu yang ingin kutanyakan, bisakah kau menjawab dengan jujur?"

"Katakan."

Seorang pria yang bermula sebagai pedagang, membeli gelar bangsawan, dan menjadi penagih pajak, pejabat yang menghimpun pajak demi keluarga kerajaan. Seorang pria yang dikabarkan telah menjual jiwanya kepada iblis demi melangkah sejauh ini.

"Apakah kau sang Black Lily?"

Penagih pajak bertubuh besar itu memutar bibirnya. Ia tersenyum, tetapi parasnya terlalu berkerut untuk disebut sebagai senyuman.

"Sialan, aku sudah bilang pada mereka harusnya kita membantai dan membakar mereka semua secara teliti saat itu."

Kata-katanya membawa gambaran kediaman yang terbakar hebat.

Jadi Jaxon telah tiba di tempat yang benar.

Jaxon mengangkat pedangnya dan bersuara.

"Pewaris keluarga Benzens telah kembali."

Sembari berbicara, sang penagih pajak tak pernah sekalipun menarik tangannya dari bawah meja. Dari balik meja kayu mawar yang tebal, kokoh, dan berharga mahal, ia menarik keluar kedua tangannya.

Di tangannya terdapat dua buah *crossbow*. *Crossbow* yang telah dimodifikasi. Senjata itu telah terisi anak panah, siap ditembakkan begitu pemicunya ditarik.

"Apakah kau mengira bisa menghindarinya di ruangan sempit begini?"

"Aku datang atas nama seseorang yang kehilangan keluarganya, seorang anak yang kehilangan orang tuanya."

"Hentikan omong kosongmu dan kemarilah!"

Itu adalah upaya terakhir yang menyedihkan bagi seseorang yang merancang berbagai skema menggunakan Black Blade, tetapi Jaxon tidak mengkritik lawannya.

Ia murni berharap.

"Kumohon. Jangan berani-berani meminta ampunan."

Ia sangat tulus.

"Omong kosong!"

Penagih pajak menembakkan anak panah di tangan kirinya.

Dengan mecutan tali, anak panah bercat hitam meluncur menerobos kegelapan yang diciptakan oleh matahari terbenam. Ujung anak panah itu dilumuri racun bernama Ten Breaths, sehingga goresan tunggal saja bakal menjadi akhir hidup.

Jaxon tidak bersembunyi di balik kegelapan untuk mengejutkan lawannya. Ini adalah momen untuk bertindak sesuai hasrat hatinya, jadi ia ingin memperlihatkan wujudnya secara jelas kepada lawan hingga akhir.

Ia mengayunkan pedangnya dan menepis anak panah itu. Ini bukanlah pencapaian luar biasa. Dengan retakan tajam, anak panah patah dan memantul dari dinding dan lantai ke samping.

Dalam rentang waktu itu, anak panah kedua meluncur. Sebuah serangan dengan tempo teratur.

Jaxon menarik pedangnya mundur dan menghentak anak panah kedua pula. Anak panah yang patah menggores pipinya diiringi tebasan tajam.

Ia tidak ingin menghindarinya. Lantas ia tidak menghindar.

Sebaris goresan terbentuk di pipinya. Rasa sakit menyengat membumbung naik. Itu adalah racun.

"Kena kau!" teriak penagih pajak.

Nada suaranya terdengar ringan, tidak cocok dengan postur tubuhnya yang besar. Jaxon tidak menyukai hal itu. Ia tak pernah mendambakan sasaran balas dendamnya menjadi seorang pria agung.

Namun apa-apaan ini? Pria ini tak lebih dari seorang manusia yang kotor dan menjijikkan.

"Apakah kau tidak mengagungkan mereka di dalam pikiranmu sendiri? Berpikir bahwa pasti ada alasan besar bagi mereka yang membakar keluargamu hingga tega melakukannya?"

Kata-kata gurunya terbayang di benaknya. Kata-kata itu sangat benar. Begitulah cara ia memandangnya selama ini. Pria-pria agung pasti memiliki alasan-alasan agung untuk melakukan hal semacam itu. Mezbah iblis, kebangkitan dewa sekte. Bukankah seharusnya minimal seperti itu? Atau bangsawan agung yang memegang kendali negara? Ia mengira harus demikian. Ia telah membangun sasarannya di dalam pikirannya seperti itu. Jika tidak, tak ada alasan untuk melangkah sejauh ini.

Tidak, ada sebuah alasan. Manusia sanggup membunuh bahkan demi keserakahan kecil. Sebuah kesalahan. Tidak masalah. Ia dapat memperbaikinya.

Bukankah Encrid telah memperlihatkannya? Apa yang harus dilakukan seseorang saat mereka melangkah di jalan yang salah?

*'Kau hanya perlu kembali.'*

Kau dapat memulai lagi dari awal. Bagaimana jika hal itu terjadi lagi? Bagaimana jika kesalahan berlanjut? Itu pun tidak masalah. Kau dapat mengulangnya. Mulai lagi dari awal. Kau hanya perlu melakukannya sampai berhasil.

Encrid mengangkat pedang dan menyimpan impian menjadi seorang ksatria. Apakah impian itu konyol? Apakah menggelikan? Apakah menjadi objek cemoohan? Sama sekali tidak.

Dengan mengulang, melangkah maju, dan tidak menyerah, seseorang membangun menaranya sendiri dan menempuh jalannya sendiri. Hanya sekadar itu yang ada. Hanya itu yang harus dilakukan seseorang.

Jaxon memutuskan untuk tidak kecewa hanya karena lawannya begitu menyedihkan.

"Ten Breaths?" Alih-alih meluapkan kekecewaan, ia menyebutkan nama racun tersebut.

"... Apakah itu benar-benar belati Georg?" ujar penagih pajak. Sebaris kecemasan dan ketegangan terlihat jelas.

Pada saat yang sama, ia melempar benda lain secara licik ke bawah.

*Poof!*

Asap membumbung tinggi. Itu adalah bom asap.

Jaxon merasakan getaran yang melumpuhkan pendengarannya. Penglihatannya pun kabur dihalangi asap.

Meski demikian, itu bukanlah masalah. Ia telah menembus trik semacam ini ratusan kali.

Ia merasakan Sixth Sense, keberadaan, serta pergerakan udara. Murni dengan indranya, ia menemukan posisi lawannya.

Keparat itu mencoba melarikan diri menerobos jendela.

Jaxon melangkah maju, mencengkeram kerah bajunya, dan melemparkannya kembali ke belakang.

Kemudian sang lawan mengayunkan tangannya. Senjata menyerupai kait ada di tangannya.

Mencengkeram dan melemparkan lawan menggunakan tangan kiri, Jaxon menarik dan mengangkat *stiletto* dengan tangan kanan. Ia menahan dan menepis serangan lawan, lalu melangkah beberapa langkah menuju pria yang dilemparkannya ke belakang.

Pria itu tidak berteriak maupun mengerang. Di dalam asap, ia menyuarakan apa yang diperlukan. Tentu saja, kata-kata yang diperlukan demi dirinya sendiri. Kata-kata itu tidak bermakna bagi Jaxon.

"Ampuni aku dan aku akan memberimu kekayaan yang tak pernah sanggup kau impikan! Aku bisa memberimu harta karun! Aku tahu ruang rahasia milik Black Blade!"

"Aku tahu ruang rahasia milik guild assassin nomor satu di benua."

Cuma ruang rahasia Black Blade? Atas makna yang terkandung dalam kata-katanya, penagih pajak berkeringat dingin.

Jaxon membuka pintu. Beberapa jasad yang bergelimpangan di luar menyambutnya. Hasil karyanya sendiri. Mereka yang berdiri menghalangi jalannya untuk tiba di sini. Ada pengawal dan assassin. Mereka pastilah apa yang disiapkan oleh pemimpin Black Blade untuknya.

Bukan berarti tak ada yang selamat. Tak ada alasan melukai pelayan yang bersembunyi di sudut tanpa menyerang.

Jaxon menanti asap mereda lalu memutar kepalanya. Ia melihat belati dengan bilah melengkung di tangan penagih pajak. Tepatnya, ia melihat pria itu menggenggamnya dengan posisi terbalik dan menyembunyikannya di bawah paha.

Jaxon mengangkat pedang panjangnya dan memberikan satu tusukan pada pahanya, murni menekan niat sang lawan.

*Plunge.*

Ujung pedang panjang yang ditusukkan bersarang di pahanya.

"Ack!" Jeritan nyaring bergema.

Ia menggerakkan pedangnya seolah mengaduknya. Ia menariknya keluar dan berulang kali menusuk lengan dan kakinya yang lain.

Setelah memotong urat-urat di lengan dan kaki penagih pajak, Jaxon mengambil senjata-senjatanya, melemparnya ke samping, lalu memanfaatkan kain besar untuk mengikat luka-lukanya dan menghentikan pendarahan.

"Pria gila keparat!" teriak penagih pajak. Suaranya dipenuhi niat jahat.

"Aku sudah sering mendengarnya, tetapi itu tak pernah terdengar ramah," Jaxon berbicara lesu lalu menarik keluar *stiletto* dan batu pengasah untuk mengasah bilahnya.

Di sampingnya, ia juga menarik keluar belati dengan mata bergerigi menyerupai gergaji. Di sebelahnya, ia memosisikan penusuk, tang, dan benda-benda serupa. Itu adalah alat-alat penyiksaan.

"Apa yang kau inginkan?! Black Lily?! Kau ingin aku memberitahumu siapa yang lainnya?! Atau apa?! Apa yang ingin kau ketahui?! Apa itu, keparat!"

Jaxon berkedip beberapa kali dan membalas.

"Tidak ada."

"... Apa?"

"Kumohon, jangan bilang kau menyesal. Lidah adalah yang terakhir."

Jaxon tidak menganggap balas dendamnya indah, tidak pula menganggapnya adil.

"Lantas apa? Itu bukan urusanku, bukan?"

Kata-kata Encrid terbayang di benaknya. Ia tidak ingin menusuk teman dari belakang hanya karena hal itu diperlukan. Ia ingin memandang ke samping, tidak cuma lurus ke depan.

Apakah semua orang hidup dengan menusuk orang lain dari belakang? Ada orang-orang yang tidak melakukannya. Bagaimanapun, itu bukan urusannya. Ia hanya bakal melakukan apa yang disukainya.

"Jika ada yang bertanya, beri tahu mereka Jaxon dari keluarga Benzens yang mengutusmu. Aku bakal mengutus semua temanmu pula. Salah satu dari mereka seharusnya sudah berada di sana."

"Uwaaaaaaaah!"

Jeritan penagih pajak bergema menembus kediaman.

"Bukan akuuuuuuu! Aku bilang padamu, itu bukan akuuuuuuu!"

Penagih pajak ngotot bahwa itu bukan dirinya hingga akhir, tetapi Jaxon tidak mendengarkannya.

* * *

"Apakah aku harus bilang bahwa ini sudah cukup lama?"

Great Hall milik Sang Ratu juga dalam kondisi berantakan. Terjadi kekacauan di tempat ini pula.

Sang Ratu duduk di atas takhta, dengan seorang mage di satu sisi dan Frokk Rua Garne di sisi lainnya. Di bawah mereka, beberapa bangsawan telah mengambil tempat mereka.

Di sebelah kanan Encrid adalah Marquis of the Fertile Plains, dan seorang pria tua yang belum pernah dilihatnya tetapi menyerupai Marcus.

Di sisi berlawanan adalah pria yang mengatakan bahwa ini sudah cukup lama.

Itu adalah Count Molsen.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.