Eternally Regressing Knight

Chapter 300: Snow Fell Heavily

7159 Kata

300. Salju Turun dengan Lebat.

‘Cih, dia benar-benar membuat keributan besar di akhir hayatnya.’

Struktur fisik tubuh yang terlatih melalui metode perasukan roh (spirit possession) dan teknik-teknik bertarung yang disempurnakan melalui pengalaman tempur selama ratusan tahun.

Orang gila yang tidak menua itu secara jujur memanglah sesosok lawan yang teramat tangguh.

Only after part of his head was cracked did he grab his spear and charge. -> Baru setelah sebagian kecil dari tulang kepalanya retak terbelah, dia kembali mencengkeram erat javelin-nya lalu menerjang maju membabi buta.

Sembari bercucuran aliran darah segar, dia secara gigih memperpendek batas jarak bertarung secara paksa hingga berada di dalam radius jangkauan lengan tangannya.

"Bajingan keparat sialan, apa kau pikir diriku, diriku! Akan tumbang dengan mudah begitu saja di tanganmu?"

Rem secara jujur merasa kagum di dalam hatinya menyaksikan kegigihan tersebut.

Yes, this was how he should have been from the start. -> Ya, memang seharusnya seperti inilah watak bertarung yang dia perlihatkan semenjak awal pertempuran tadi.

What followed was a bloody battle. -> Pertempuran sengit berikutnya berubah wujud menjadi pembantaian yang berlumuran darah segar.

A fight where blood literally splattered. -> Suatu perkelahian brutal di mana cairan darah segar benar-benar muncrat membasahi tanah pijakan.

Tombak pendek kavaleri milik lawan menusuk robek baju zirah kulit hangatnya lalu menancap dalam di bagian otot paha kakinya.

Sangat beruntung sekali dirinya sempat memutar pergelangan kakinya untuk menghindar; jika tidak, dia dipastikan sudah berubah wujud menjadi Rem si Pincang saat ini.

Sebagai balasan atas tikaman paha tersebut, dia menebas putus dua jari tangan milik lawannya menggunakan sabetan kapak besarnya.

He managed to dodge, so it was only two fingers. -> Lawannya secara beruntung sempat melompat menghindar, sehingga dia murni hanya kehilangan dua jari tangan saja.

Originally, Rem had intended to cut off his wrist. -> Padahal rencana awal Rem sebenarnya berniat untuk memotong putus seluruh pergelangan tangannya secara bersih.

What was regrettable was regrettable, but a fight was a fight. -> Rasa penyesalan kecil memang ada, tetapi pertarungan tetaplah pertarungan yang wajib dia tuntaskan.

Rem grew excited. -> Denyut rasa bersemangat mulai melonjak di dalam dada Rem.

Sensasi getaran kegembiraan meluap-luap menyelimuti hatinya.

It had been a long time since he’d had a worthy opponent. -> Sudah sangat lama sekali rasanya semenjak terakhir kali dia mendapatkan lawan tanding yang dirasa cukup layak.

Sesosok lawan yang bahkan di saat Rem telah mengaktifkan Jantung Kekuatan (Heart of Power) miliknya, tetap sanggup mempertunjukkan kekuatan fisik yang sebanding dengan kekuatan dari ras raksasa sejati.

And he did it by continuously showing monstrous strength through spirit possession. -> Dan pria tua itu berhasil melakukannya murni dengan cara memancarkan kekuatan fisik monster secara konstan melalui perantara sihir perasukan roh.

"Bagaimana mungkin kau bisa sekuat ini, padahal tidak menggunakan sihir!"

The ageless madman was surprised many times. -> Orang gila yang tidak menua itu dibuat terkejut heran berkali-kali di sepanjang jalannya duel mereka.

The first was by the Heart of Power. -> Kejuangan pertamanya dipicu murni akibat pancaran kekuatan dari Jantung Kekuatan.

"Gulat!"

He kept exclaiming. -> Dia terus-menerus berteriak histeris penuh keheranan.

It must have meant he was that surprised. -> Hal itu menandakan bahwa dirinya memang teramat sangat terkejut heran bukan main menyaksikan kekuatan fisik Rem.

Rem menanggapi ocehannya dengan santai.

"Hei, apakah orang sepertimu layak melontarkan ocehan seperti itu kepadaku, bajingan keparat?"

Grappling, he says. -> *Gulat, katanya.*

Rem pribadi saat ini murni hanya mempergunakan sebagian kecil saja dari sihir penguat (reinforcement sorcery) miliknya, sementara lawannya meluncurkan teknik tempur aneh yang diperkuat penuh oleh kekuatan sihir barat, dan tua bangka itu berani melabeli serangannya sebagai gulat? Guuuulaaattt?

If it was a taunt, it was a good one. -> Jika ucapan barusan dimaksudkan sebagai aksi provokasi, maka dia harus mengakui trik itu cukup berhasil memancing emosinya.

"Dasar kau anak haram bajingan keparat yang tidak memiliki ibu."

Rem got angry. -> Rem seketika menjadi sangat marah besar.

"Ibuku sudah tewas meninggal dunia semenjak seratus tahun yang lalu!"

"Oh, jadi kau memang benar-benar anak yang tidak memiliki ibu."

The madman also got angry. -> Orang gila itu juga ikut menjadi sangat marah mendengar sahutan tenangnya.

They both fought while roaring at each other. -> Keduanya bertarung sengit sembari saling meloloskan suara raungan makian yang membahana.

Rem sempat merasakan firasat bahaya yang mengancam jiwanya beberapa kali di tengah jalannya perkelahian.

His opponent was formidable, but he wasn't the only problem. -> Tingkat kekuatan lawannya memang tergolong tangguh, tetapi ancaman mematikan di sekelilingnya bukan hanya berasal dari pria tua itu saja.

Grrr!

Binatang-binatang iblis yang berbau busuk menyengat terus meluncurkan serangan tanpa henti ke arah posisinya.

They circled around, constantly looking for an opening and baring their fangs. -> Mereka berputar-putar di sekeliling area pertarungan, secara konstan mengincar celah kelengahan pertahanan fisiknya sembari memamerkan taring-taring gigi tajam mereka.

Pada akhirnya, sebelah lengan tangannya berakhir tergigit oleh seekor monster, dan dengan memanfaatkan celah kelengahan emas tersebut, orang gila yang tidak menua itu langsung meluncurkan tusukan javelin secara dahsyat mengandalkan kedua belah tangannya.

Dengan tubuh monster serigala yang masih menempel menggigit lengannya, Rem mengayunkan kapak besarnya menebas dahsyat.

He struck the spear that was drawing a large arc above his head, altering its trajectory. -> Dia menghantam keras bilah javelin lawan yang meluncur membentuk lengkungan besar di atas kepalanya, membelokkan arah jalur lintasan serangannya secara paksa ke samping.

Meskipun dia sudah mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menangkis, satu bilah javelin musuh tetap berhasil menyerempet dalam bagian samping pinggangnya.

It hurt so much that tears welled up and the hairs all over his body stood on end. -> Luka sayatan itu terasa sangat perih menusuk hingga butir air mata hampir menetes keluar dan bulu kuduk di sekujur tubuhnya meremang berdiri.

It was the side with the broken ribs. -> Area pinggang yang terserempet itu kebetulan merupakan bagian rusuknya yang patah retak kemarin.

The ageless madman had deliberately put his strength into one of the two spears and struck. -> Orang gila itu sengaja memusatkan seluruh daya hancur kekuatannya pada salah satu javelin-nya murni untuk menghantam luka lamanya tersebut.

Rem menerima hantaman cedera keras tersebut, tetapi pergerakan fisiknya tidak berhenti sedikit pun.

Sembari tetap mencengkeram erat gagang kapaknya, he smashed the wolf's head with his other fist, then repeatedly parried and deflected the incoming spearheads, dodging them. -> Sembari tetap mencengkeram erat gagang kapaknya, dia menghantam hancur kepala monster serigala yang menggigit lengannya menggunakan tinju kosongnya, lalu secara berulang-ulang menangkis dan membelokkan arah mata javelin yang melesat datang menyerbunya untuk menghindar.

Tanpa memberi celah waktu sedikit pun bagi fisiknya murni hanya untuk menarik napas lelap, dia terus bergerak lincah menyerupai sesosok orang gila di medan perang.

Di tengah-tengah gerakan menghindarnya tersebut, sesuatu zat yang lengket mendadak mencengkeram kuat pergelangan kakinya dari bawah.

‘Oh?’

It was a sticky sorcery. -> Itu merupakan perwujudan dari sihir pelekat khusus.

He’d even resort to this? -> *Pria tua itu bahkan bersedia merendahkan dirinya mempergunakan trik menjijikkan semacam ini di tengah duel?*

Indeed, they say an old fox is vicious. -> Pepatah yang mengatakan bahwa seekor rubah tua dipastikan akan bertindak teramat keji memang benar adanya terjadi.

The ageless madman was proving it right now. -> Orang gila yang tidak menua itu sedang membuktikan kebenaran dari pepatah tersebut secara langsung di depannya saat ini.

Among all prey, the old and crafty ones were always the most difficult. -> Di antara seluruh jenis mangsa perburuan di alam liar, target yang berusia tua dan memiliki kecerdikan tinggi secara konsisten selalu menjadi tipe mangsa yang paling sulit untuk dibereskan.

Rem tensed his thigh muscles. -> Rem mengencangkan seluruh urat otot di bagian paha kakinya.

Sticky sorcery or not, it must have been spread over a certain area. -> Peduli setan dengan sihir pelekat menjijikkan tersebut, jangkauan sihir itu dipastikan hanya tersebar di radius area tertentu saja.

Bumm!

Dia menghentak tanah pijakannya kuat-kuat, melompat melayang ke arah samping, lalu mengayunkan kapak besarnya menebas melingkar dahsyat.

Dengan itu, dia menewaskan tiga ekor binatang iblis sekaligus yang sedang mengincar tubuh fisiknya. (Wait: "Mengandalkan tebasan tunggal tersebut, dia menewaskan tiga ekor binatang iblis sekaligus...") -> Mengandalkan tebasan tunggal tersebut, dia menewaskan tiga ekor binatang iblis sekaligus yang sedang mengincar tubuh fisiknya.

Secara rinci, dua ekor monster tewas akibat leher dan bagian dada mereka terbelah robek, sementara monster yang ketiga tewas dengan dahi kepala yang hancur berantakan terkena hantaman tumpul kapaknya.

Rem sebelumnya memprediksi bahwa pertempuran kasar yang melelahkan ini masih akan terus bergulir dalam durasi yang cukup lama.

Namun hasil yang tersaji di depannya saat ini justru mendatangkan rasa kecewa yang besar baginya, dan di saat yang sama, dia secara otomatis telah berhasil merengkuh kemenangan duel mereka.

Karena orang gila yang tidak menua itu memilih untuk melarikan diri membalikkan badannya.

He pulled back. -> Dia menarik mundur posisi tempurnya.

He jumped backward. -> Dia melompat mundur ke arah belakang dengan terburu-buru.

The attack that flew in afterward was half-hearted. -> Luncuran serangan javelin yang dia lancarkan berikutnya secara jujur terasa sangat setengah hati dan lemah.

When he could even block spearheads swung directly at him. -> Padahal Rem saat ini bahkan sanggup menangkis sabetan javelin yang diayunkan langsung ke arah wajahnya.

At the end, it was that trick again. -> Dan pada akhirnya, orang tua itu kembali mempergunakan trik murahan yang sama dari jarak jauh.

A thrown spear connected by a thread. -> Serangan tombak javelin yang diikat menggunakan seutas benang tipis.

‘Ah, bajingan tua sialan ini.’

Rasa bersemangat membara yang tadinya sempat mendidih di dalam dadanya seketika mendingin lenyap tanpa bekas.

Jtang!

Di saat dia menangkis javelin tersebut menggunakan permukaan datar kapaknya, dia menyaksikan rekan satu sukunya itu melesat mundur melarikan diri ke kejauhan.

The spear flew back after him as if in flight. -> Tombak javelin melayang kembali ke arah tangannya seolah-olah ditarik oleh kekuatan mistis.

Pria tua itu berteriak lantang dari kejauhan.

"Di pertemuan kita yang berikutnya nanti, kau dipastikan akan tewas di tanganku!"

‘Aigoo, omong kosong macam apa itu. Di pertemuan kita berikutnya nanti, siapa sebenarnya sosok yang akan berakhir tewas? Diriku? Ataukah dirimu?’

Dengan raut wajah yang masam penuh kekesalan, Rem menghantamkan kapak besarnya ke arah bawah secara vertikal tepat di bagian kepala seekor binatang iblis yang berjalan mendekat.

Brakk!

Bilah kapak menembus masuk dari bagian kepala, membelah dua fisik tubuh binatang iblis tersebut secara vertikal secara simetris.

"Sialan, aku paham sekarang. Orang tua bangka itu kemungkinan besar bisa bertahan hidup selama ratusan tahun murni hanya dengan cara melarikan diri setiap kali situasi pertempuran lapangan mulai berubah memburuk baginya."

Should he chase him down and kill him? He could, but it was a hassle. -> Haruskah dia mengejar dan menghabisi nyawanya sekarang juga? Dia secara fisik sebenarnya sangat sanggup melakukannya, tetapi tindakan itu dirasa teramat sangat merepotkan tenaganya.

The excitement was gone. -> Hasrat semangat tempurnya sudah padam sepenuhnya.

He didn't feel thrilled anymore. -> Dia tidak lagi merasakan getaran kegembiraan bertarung sedikit pun.

Bagi Rem pribadi, kaburnya musuh murni hanyalah perkara hilangnya rasa kegembiraan bertarung belaka.

But for the Wolf Bishop, it was a completely different story. -> Namun bagi Wolf Bishop pribadi, kejadian memalukan tersebut merupakan suatu bentuk malapetaka besar yang sangat berbeda maknanya.

"Hei! Ke mana kau pikir dirimu bisa pergi!"

He was too shocked to hide his bewilderment. -> Dia merasa teramat sangat terkejut heran hingga sama sekali tidak sanggup menyembunyikan ekspresi kepanikannya.

Wujud wajah serigalanya tampak diselimuti oleh raut kepanikan yang teramat sangat pekat.

It was so obvious that even Teresa could see it. -> Raut wajah paniknya terpampang dengan sangat jelas hingga bahkan Teresa sekalipun bisa membacanya dengan sangat mudah.

Akibat rasa terkejutnya yang teramat besar, dia berbicara dengan lubang mulut yang terbuka lebar, memicu luka retakan di kepalanya yang sebelumnya dia tekan kuat menggunakan tangan mendadak robek kembali, menyemburkan aliran darah segar.

Dark red blood trickled down his cheek and dripped from his chin to the floor. -> Aliran darah merah gelap pekat mengalir deras membasahi pipinya lalu menetes jatuh dari bagian dagunya ke atas permukaan tanah perbatasan.

There was no reply. -> Tidak terdengar sahutan jawaban dari kejauhan.

Orang gila yang tidak menua itu murni hanya memusatkan konsentrasinya murni hanya untuk berlari kencang menyelamatkan nyawanya.

Not a single word of apology. -> Tidak ada satu pun bait kalimat permintaan maaf yang dia ucapkan kepada rekannya.

Of course, even if he had apologized, the bishop's blood pressure would have shot up and blood would have probably spouted from his head like a fountain anyway. -> Tentu saja, bahkan jika pria tua itu bersedia melontarkan kalimat permintaan maaf sekalipun, tekanan darah sang uskup dipastikan akan melonjak drastis dan aliran darah niscaya akan menyembur deras dari kepalanya menyerupai wujud air mancur.

"Saudara Uskup, saatnya bagimu untuk pergi menghadap Tuhan."

Sang uskup mengerutkan keningnya masam mendengar sebutan gelar yang diucapkan oleh lawan di depannya lalu memutar badannya perlahan.

Sesosok wanita blasteran raksasa berdiri tegak dengan posisi tubuh yang pincang di hadapannya.

Her shield was half-broken, with only half remaining, and her sword was cracked in the middle. -> Perisai pelindungnya telah pecah hancur sebagian, hanya menyisakan setengah bagian saja, dan bilah pedang di tangannya juga tampak mengalami retakan besar tepat di bagian tengahnya.

"Dasar kau jalang murtad keparat. Aku dipastikan akan mengutuk jalan hidupmu bahkan setelah kematianku nanti."

The Wolf Bishop uttered a curse. -> Wolf Bishop melontarkan kalimat kutukan keji dengan sisa tenaganya.

It was unfair. -> Semua ini dirasa sangat tidak adil baginya.

This was clearly a winning fight. -> Pertempuran hari ini secara perhitungan awal di atas kertas seharusnya menjadi kemenangan mutlak bagi kubu mereka.

No matter how great the opponent was, the continent-renowned ageless madman and himself, a bishop of the cult, had come. -> Tidak peduli seberapa tangguhnya barisan pertahanan musuh, sosok orang gila yang tidak menua yang termasyhur di benua beserta dirinya sendiri yang menjabat sebagai uskup suci sekte, secara pribadi telah turun langsung ke perbatasan.

He'd even brought his soul-bonded companions, the dire wolves. -> Dia bahkan membawa kawanan dire wolf yang jiwanya telah terikat kontrak suci langsung dengan jiwanya.

But what was this mess? -> Namun apa-apaan hasil akhir yang berantakan seperti ini?

He should have been able to beat that bitch Teresa easily. -> Dia secara logika seharusnya sanggup menumbangkan jalang bernama Teresa tersebut dengan sangat mudah.

But no. -> Namun kenyataan di lapangan berkata lain.

It had all gone wrong. -> Segala sesuatunya telah berubah wujud menjadi sangat kacau berantakan.

Instead of sighing or looking at the sky, the bishop muttered with his last bit of resentment. -> Alih-alih meloloskan suara helaan napas panjang atau mengarahkan pandangan matanya ke langit pasrah, sang uskup bergumam kasar meluapkan dendam kesumat terakhirnya.

"Bajingan-bajingan keparat sialan."

In the middle of it, he had felt the death of the dire wolf bonded to his soul. -> Di tengah pertempuran sengit tadi, jiwanya secara nyata telah merasakan momen kematian dari dire wolf yang terikat kontrak dengan jiwanya.

There was no hope. -> Sudah tidak ada lagi secercah harapan baginya untuk bisa selamat.

"Aku dipastikan akan mengutuk garis jalan hidup kalian semua di sepanjang sisa usia kalian! Daging tubuh fisik kalian akan membusuk hancur, dan kalian sama sekali tidak akan pernah bisa mati dengan tenang! Dewa tanah iblis yang agung tidak akan pernah mengampuni dosa-dosa kalian! Dan kau, orang gila yang tidak menua, kau juga dipastikan tidak akan pernah diampuni oleh gereja suci!"

His final resentment was directed at the one who had been his ally. -> Luapan kemarahan terakhirnya justru dia arahkan murni hanya kepada sosok pria yang tadinya bertindak sebagai sekutu tempurnya.

Seeing the man who should have saved him and fought alongside him just run away made his stomach turn. -> Menyaksikan sosok pria yang seharusnya menyelamatkan nyawanya dan bertarung bahu-membahu di samping sisinya justru melarikan diri konyol seperti itu membuat perutnya terasa mual jijik bukan main.

"Yes. Please soak yourself in the rivers of hell. I will see you there later." -> "Ya. Silakan kau basuh tubuhmu di dalam aliran sungai darah neraka. Aku dipastikan akan menemuimu kembali di sana nanti."

"Baguslah!"

Pada akhirnya, Teresa menuntaskan tugasnya dengan cara menghantam keras kepala sang uskup hingga hancur lebur.

A strike with the pommel of her broken sword was the fatal blow. -> Hantaman keras menggunakan pommel dari pedangnya yang retak bertindak sebagai serangan mematikan terakhir yang menutup hayat sang uskup.

Saat Teresa, yang sempat membenahi posisi topeng pelindungnya yang berlumuran darah segar, bangkit berdiri tegak, pandangan matanya menangkap sosok Rem yang sedang berjalan pincang mendekat ke arah posisinya.

"You've returned?" -> "Kau sudah kembali?"

"Tentu saja aku kembali, ke mana lagi memangnya aku harus pergi? Di mana posisi Kapten berada saat ini?"

There was no beautiful picture of them supporting each other. -> Tidak tersaji pemandangan indah di mana kedua orang cedera tersebut saling merangkul bahu-bahu membantu melangkah kaki satu sama lain.

Keduanya murni hanya memandu langkah kaki mereka berjalan berdampingan secara mandiri dengan langkah yang terengah-engah lambat.

Neither of them was in good shape, but it wasn't like they were about to die. -> Kondisi fisik mereka berdua secara jujur memang tidak berada dalam keadaan yang baik saat ini, tetapi luka cederanya bukan tipe luka fatal yang akan merenggut nyawa mereka dalam waktu dekat.

Persetan dengan aksi saling merangkul bahu membantu berjalan seperti itu.

Seekor kuda liar berjalan mendekat ke arah posisinya berdiri.

"Did you fight too?" -> "Apakah kau juga ikut bertarung sengit barusan?"

Hii-hing!

Mendengar sahutan ringkikan dari Odd-eye, Rem mencungkil bibirnya masam.

"Cih, bahkan seekor kuda saja memiliki keberanian untuk bertarung di medan perang, sementara manusia justru membalikkan badannya melarikan diri konyol."

He was still full of complaints. -> Lubuk hatinya secara jujur masih dipenuhi oleh limpahan keluhan dan kekesalan.

His excitement had been ruined just as it was peaking. -> Hasrat kegembiraan bertarungnya telah dirusak secara paksa tepat di saat denyutnya sedang berada di puncak keemasan.

Such an experience was truly rare. -> Pengalaman tempur yang mengecewakan seperti ini secara jujur teramat sangat jarang sekali dia alami sepanjang hidupnya.

Especially when the opponent was of the same tribe and had the advantage. -> Terlebih lagi saat lawan bertarungnya merupakan rekan yang berasal dari satu suku yang sama dan sebenarnya berada dalam posisi yang jauh lebih diuntungkan.

‘Kita dipastikan akan bertemu kembali nanti. Tua bangka keparat,’ batin Rem bertekad.

Dan ada barisan prajurit sekutu yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertempuran gila mereka dari kejauhan.

The heavy infantry and the cavalry. -> Yaitu kompi pasukan infanteri berat dan unit pasukan berkuda kavaleri benteng.

Mantan tentara bayaran yang kini memimpin unit pasukan berkuda kavaleri kembali disadarkan secara nyata tentang di mana sebenarnya batas tingkat kemampuannya berdiri saat ini.

‘Jangan pernah mencari masalah dengan monster-monster gila tersebut.’

Don't ever complain about the training being hard. -> Jangan pernah meloloskan keluhan sekecil apa pun tentang beratnya sesi latihan fisik yang mereka jalani setiap hari di bawah komando mereka.

If you pick a fight, you die. -> Jika kau berani menantang salah satu dari mereka bertarung, kau dipastikan tewas.

For sure. -> Keyakinan itu terasa sangat mutlak.

I know it after seeing them fight the enemy. -> Aku mengetahuinya dengan sangat jelas murni setelah menyaksikan sendiri bagaimana cara mereka membantai barisan musuh di depan.

Let's be careful of that big, quiet-looking woman too. -> Mari kita juga ekstra berhati-hati saat bersikap di dekat wanita bertubuh raksasa yang tampak pendiam tersebut.

He hadn't looked down on them before, but now his perspective had changed. -> Dia memang tidak pernah memandang rendah mereka semenjak awal pertemuan dulu, tetapi saat ini sudut pandang penilaiannya telah berubah wujud menjadi rasa hormat dan takut yang teramat tinggi.

In the past, people might have seen Rem and Teresa fight and recoiled in fear. -> Di masa lalu, orang-orang biasa dipastikan akan langsung gemetar ketakutan setengah mati setiap kali menyaksikan secara langsung bagaimana cara Rem dan Teresa bertarung di medan perang.

That happened a lot. -> Kejadian mengerikan semacam itu secara jujur memang sudah sangat sering terjadi di perbatasan.

It was because they showed such overwhelming power. -> Semua itu murni disebabkan karena mereka selalu mempertunjukkan luapan kekuatan tempur yang teramat sangat luar biasa besar di atas rata-rata manusia.

It was something... inhuman. -> Suatu kekuatan yang... tidak bisa lagi dikategorikan sebagai wujud kekuatan dari manusia biasa.

Because they were allies, one felt relief, but there was still a sense of distance. -> Karena kedua monster gila tersebut saat ini bertindak sebagai sekutu tempur mereka, hati mereka memang diselimuti oleh rasa lega yang besar, tetapi tetap saja ada batas jarak canggung yang tidak nyaman yang tercipta secara otomatis di antara mereka.

They even inspired something like fear in their own allies. -> Mereka berdua bahkan sanggup menanamkan rasa takut yang mendalam di hati rekan sekutu tempur mereka sendiri murni melalui kehadiran fisiknya.

But this time was different. -> Namun jalannya pertempuran kali ini terasa sangat berbeda maknanya bagi para prajurit benteng.

Keduanya murni hanya memandu langkah kaki mereka berjalan berdampingan secara mandiri dengan langkah yang terengah-engah lambat. (Wait: "Kedua sosok monster gila tersebut saat ini berjalan dengan posisi tubuh yang pincang terengah-engah.") -> Kedua sosok monster gila tersebut saat ini berjalan dengan posisi tubuh yang pincang terengah-engah.

The horse walking with them looked to be in the best shape. -> Bahkan kuda liar yang berjalan menemani mereka justru terlihat memiliki kondisi fisik yang jauh lebih prima dibandingkan wujud mereka berdua.

If it weren't for those two, they might have been annihilated. -> Jika bukan karena keberadaan aksi gila dari kedua orang tersebut, barisan pasukan benteng dipastikan sudah tewas terbantai habis tanpa sisa saat ini.

Relief, joy, thrill, and the elation of victory all rushed in and mixed together. -> Rasa lega, sukacita gembira, sensasi ketegangan, dan kebahagiaan atas pencapaian kemenangan pertempuran melonjak deras dan bercampur baur menjadi satu di dalam dada para prajurit.

"Peleton Gila."

"Rem, Rem sang pemilik kapak."

"Rem kapak gila."

"Dia tidak mati."

"Pria itu sama sekali tidak tewas."

"Rem yang Abadi?"

Someone's mutter became a nickname. -> Bisikan gumam dari salah satu prajurit benteng tak lama kemudian menjelma wujud menjadi julukan resmi yang diakui oleh semua orang.

Di tengah-tengah rentetan teriakan tersebut, Rem murni hanya mengorek lubang telinganya santai menggunakan ujung jemari tangannya.

What are they saying. -> *Ocehan omong kosong apa sebenarnya yang sedang mereka teriakan sejak tadi.*

The soldiers soon shouted in unison. -> Barisan prajurit benteng tak lama kemudian mulai meneriakkan julukan barunya secara serempak dengan suara lantang membahana.

"Rem yang Abadi!"

They thought he was dead, but he came back and chased off the enemy. -> Mereka semulanya mengira pria itu telah tewas terbunuh di dalam hutan lebat kemarin, tetapi dia secara mengejutkan justru kembali dengan selamat lalu memburu dan mengusir pergi komandan tempur musuh.

It was a nickname that was a great improvement from 'Rem with a dog-like temper'. -> Julukan baru ini secara kualitas dirasa jauh lebih keren dibandingkan julukan lamanya, yaitu 'Rem si watak anjing'.

"Rem yang Abadi! Rem yang Tak Bisa Mati!"

"Orang gila yang tidak bisa mati!"

"Waaaaaaah!"

They had already killed most of the demon beasts. -> Mereka secara mutlak sebenarnya telah membantai habis sebagian besar populasi binatang iblis semenjak tadi.

Karena tempat perbatasan ini merupakan wilayah teritorial pertahanan yang paling menguntungkan bagi posisi tempur mereka sejak awal. (Wait: "Murni karena tempat perbatasan...") -> Murni karena tempat perbatasan ini merupakan wilayah teritorial pertahanan yang paling menguntungkan bagi posisi tempur mereka sejak awal.

The remaining demon beasts also scattered after the deaths of the dire wolf and the bishop. -> Sisa-sisa binatang iblis yang tersisa juga segera bergerak menyebar membalikkan badan setelah menyaksikan kematian tragis dari dire wolf dan sang uskup di depan.

Without a focal point, demon beasts don't stick together. -> Tanpa ada keberadaan sosok pemimpin yang bertindak sebagai pusat komando pengendali, binatang-binatang iblis kelas rendah dipastikan tidak akan sudi berkumpul menyusun barisan pertahanan bersama.

They moved toward the center of the battlefield, cheering and shouting. -> Pasukan benteng melangkah berjalan menuju ke arah pusat medan perang sembari meloloskan teriakan sorak-sorai kemenangan yang bergemuruh nyaring.

"Cih, bising sekali bajingan," gumam Rem sembari terus mengorek lubang telinganya yang terasa gatal akibat teriakan prajurit.

"Teresa sang pengembara!"

The soldiers shouted the identity that Teresa always spoke of like a habit. -> Barisan prajurit benteng ikut meneriakkan identitas gelar yang biasa diucapkan oleh Teresa layaknya sebuah kebiasaan bertarung.

Dia menekan erat permukaan topeng pelindungnya menggunakan sebelah telapak tangannya lalu mengangkat lengan tangan lainnya tinggi-tinggi ke atas udara.

She wanted to do it. -> Dia secara tulus berkeinginan kuat untuk mengeksekusi gerakan tubuh tersebut.

It was an action moved by her heart. -> Itu merupakan jenis tindakan spontan yang lahir murni dari dorongan kebahagiaan di lubuk hatinya.

When she was with the cult, she was so taciturn that she once went a whole week without saying a word, but not anymore. -> Dahulu di saat dia masih mengabdi di dalam sekte sesat, dia tergolong sebagai sosok wanita yang teramat sangat pendiam, hingga bahkan sanggup menghabiskan waktu selama satu minggu penuh tanpa meloloskan satu bait kalimat pun dari mulutnya. Namun watak pendiam tersebut sudah tidak berlaku lagi baginya saat ini.

"Aku adalah Teresa sang pengembara."

Here, it was different. -> Di tempat Peleton Gila ini, situasinya terasa sangat berbeda baginya.

She had changed. -> Sifat kepribadiannya telah berkembang berubah wujud menjadi lebih baik.

After knowing joy and pleasure, everything looked different. -> Setelah berhasil merasakan langsung apa arti dari rasa sukacita dan kebahagiaan hidup berdampingan bersama rekan Peleton Gila, segala pemandangan dunia di sekelilingnya kini terlihat sangat indah di matanya.

"Teresa sang pengembara!"

Everyone chorused her mutter in unison. -> Semua orang di sekelilingnya menyahut gumaman lirihnya secara serempak dengan suara lantang yang kompak.

It sounded quite nice. -> Gema teriakan sorak-sorai mereka secara jujur terdengar sangat merdu menyapa indra pendengarannya.

"Apa-apaan gerakan konyol yang sedang kau pertunjukkan saat ini? Rem yang Abadi!"

Rem said, as if getting needlessly grumpy. -> Ucap Rem ketus, seolah-olah sengaja berpura-pura bersikap ketus untuk menutupi rasa canggungnya.

And the group of soldiers followed along and shouted it again. -> Dan sekelompok prajurit benteng di sekelilingnya segera mengikuti arah ucapannya lalu kembali meneriakkan julukannya lantang.

"Rem yang Abadi!"

It was a childish act. -> Itu merupakan jenis tindakan kekanak-kanakan yang menggelikan.

Anyway, where the two of them were heading, Enkrid, Ragna, and Audin were there. -> Bagaimanapun juga situasinya, di titik arah tujuan langkah kaki mereka berjalan saat ini, Encrid, Ragna, dan Audin tampak sedang berdiri tegak menunggu kedatangan mereka di depan.

Ragna was relatively unharmed, but Audin was not. -> Kondisi fisik Ragna tergolong relatif aman tanpa ada cedera serius yang berarti, tetapi hal serupa sama sekali tidak berlaku bagi kondisi tubuh Audin.

His entire body was covered in minor wounds. -> Sekujur wujud tubuh raksasanya tampak dipenuhi oleh puluhan luka sayatan kecil yang terus mengeluarkan rembesan darah.

His left arm was hanging limp. -> Lengan tangan kirinya terkulai lemas tanpa daya di sisi tubuh fisiknya.

Was it broken? -> Apakah tulang lengannya patah terbelah?

"Tulangnya hanya terkilir ringan saja. Aku kemarin gagal mengerahkan seluruh kekuatan asliku murni hanya untuk menangkap seekor anjing liar biasa di depan. Namun sebaliknya, kau tampaknya justru menerima cukup banyak hantaman keras di sekujur tubuhmu, Saudaraku."

"Ya, ini murni hanya luka goresan ringan biasa saja. Aku sengaja mengalah sedikit murni hanya untuk menunjukkan rasa hormatku terhadap orang tua di depan tadi."

Teresa remained silent. -> Teresa memilih bertahan menutup mulutnya dalam keheningan.

Ragna stared blankly at them before opening his mouth. -> Ragna menatap datar ke arah mereka berdua dengan pandangan kosong selama beberapa saat sebelum kemudian membuka lubang mulutnya berbicara dingin.

"Mereka semua tergolong sebagai pendekar yang teramat lemah. Membawa bocah-bocah tidak berguna seperti ini berkeliling di perbatasan murni hanya akan menambah beban pekerjaanmu saja, Kapten."

"…Sialan bajingan keparat pirang ini, mengapa kemarin aku membiarkan pendekar linglung sepertinya tetap bertahan hidup?" gerutu Rem kasar menahan geram di dadanya, sementara Audin murni hanya menyunggingkan senyuman tenang di wajahnya sembari mengepalkan tangan kanannya erat-erat.

"Tampaknya Saudara Rem saat ini sedang merindukan kehangatan dari dekapan pelukan Tuhan yang penuh damai."

Watching this, Enkrid swept his hair back. -> Menyaksikan pertengkaran kecil yang menggelikan di antara anak buahnya tersebut, Encrid menyapu rambut kepalanya ke arah belakang menggunakan jemari tangannya santai.

It was all nonsense. -> Segala perdebatan di antara mereka murni tidak lebih dari sekadar omong kosong yang menghibur hatinya.

Then he looked at Rem and opened his mouth. -> Dia kemudian mengarahkan pandangan matanya menatap tajam ke arah Rem lalu mulai berbicara pelan.

"Stop fooling around so much." -> "Hentikan aksi konyol pamer julukanmu itu di depan prajurit."

"Tch, why? Were you getting your asses kicked without me?" -> "Cih, mengapa memangnya? Apakah kalian semua hampir berakhir babak belur dipukuli musuh tanpa ada bantuan kekuatanku di sini kemarin?"

"Aren't you the one who got beat up?" -> "Bukankah kau sendiri sosok pendekar yang wajahnya paling babak belur saat ini di antara kita semua?"

"I went easy on him because he was an old man." -> "Aku sengaja mengalah menahan kekuatanku murni karena mempertimbangkan usianya yang sudah tua bangka."

"I see." -> "Oh begitu rupanya."

"What's this? Why is it over as soon as I get back? I was just about to have some fun." -> "Lalu ada apa-apaan dengan situasi di perbatasan ini? Mengapa jalannya pertempuran mendadak berakhir tepat di detik saat aku baru saja kembali ke sini? Padahal aku baru saja bersiap-siap ingin bersenang-senang menghabisi barisan musuh."

In that condition? Enkrid said it with his face. -> *Mencari kesenangan bertarung dalam kondisi fisikmu yang babak belur pincang seperti itu?* Raut wajah Encrid secara jujur memancarkan pertanyaan sindiran tersebut secara tersirat.

He was expressionless, but that's what it sounded like. -> Wajah kaptennya memang tergolong datar tanpa ekspresi, tetapi makna raut wajahnya secara tersirat terdengar seperti kalimat sindiran kasar tersebut.

Rem shouted. -> Teriak Rem lantang membantah.

"You don't know me? It's just getting started! Don't you know who I am?" -> "Kau meragukan kapasitas kekuatanku? Ini baru saja dimulai! Apa kau lupa tentang siapa sebenarnya diriku ini, hah?!"

With his words, he spread his palm out behind him. -> Menyusul teriakan lantangnya tersebut, dia membentangkan telapak tangannya lebar-lebar ke arah barisan prajurit benteng di belakang punggungnya.

A few quick-witted commanders hurriedly opened their mouths. -> Beberapa orang komandan peleton infanteri yang memiliki ketajaman refleks insting yang cepat bergegas membuka lubang mulut mereka menyahut kodenya.

"Rem yang Abadi!"

Those who heard it shouted once again. -> Prajurit-prajurit benteng lainnya yang mendengar sahutan teriakan tersebut tak lama kemudian kembali ikut meneriakkan julukannya dengan kompak.

"Rem yang Abadi!"

Aigoo, he's having fun. -> *Aigoo, lihatlah anak nakal itu, dia benar-benar sedang bersenang-senang menikmati kepopuleran barunya.*

Enkrid chuckled and shook his head. -> Encrid terkekeh pelan melihat tingkah laku gilanya lalu menggelengkan kepalanya pasrah.

"Kondisi pergerakan barisan di dalam kamp pertahanan musuh terlihat sangat aneh," ucap ajudan pribadi Graham yang berdiri di antara kerumunan mereka menyuarakan keheranannya.

Enkrid spoke without looking. -> Encrid menyahut tenang tanpa ada keinginan memalingkan mukanya memandang ke arah ajudan tersebut.

"It's the work of one of my soldiers." -> "Itu murni merupakan wujud hasil karya dari salah satu prajurit Peleton Gila milikku."

"That?" -> "Aksi sabotase sehebat itu?"

What was the point of saying it? It was Jacksen. -> Apa gunanya bagi dirinya murni hanya untuk menyuarakan nama pelakunya saat ini? Sosok yang berada di balik aksi sabotase tersebut tentu saja adalah Sachsen.

He could have killed Baronet Tarnin long ago, but he was watching for the right time. -> Sachsen secara kemampuan bertarung sebenarnya sudah bisa menghabisi nyawa Baronet Tarnin sejak kemarin dulu, tetapi dia sengaja menahan diri murni hanya untuk menantikan celah waktu yang paling ideal dan mematikan.

When would be the most effective time to kill him? -> Kapan tepatnya celah waktu emas yang dirasa paling efektif untuk mengeksekusi aksi pembunuhan sang baron?

Jacksen was clever. -> Sachsen secara watak memang tergolong sebagai sosok pria yang teramat sangat cerdik dan licik sekali.

Just because you kill the enemy commander, does the battle end right away? No. There are others left. -> Hanya karena kau berhasil menghabisi nyawa dari komandan utama musuh di medan perang, apakah hal itu otomatis membuat jalannya pertempuran akan langsung berakhir seketika? Jawabannya tentu saja tidak semudah itu. Masih ada sosok perwira-perwira tempur cadangan lainnya yang tersisa di dalam kamp musuh.

Among them were several renowned mercenaries. -> Di antara barisan perwira musuh tersebut, terdapat beberapa nama tentara bayaran terkenal yang memiliki reputasi tempur yang cukup tinggi di benua.

Compared to Enkrid and the Mad Company, they might not seem like much, but from a normal perspective, their strength was incomparable to that of ordinary soldiers. -> Jika disandingkan secara langsung dengan kehebatan Encrid beserta para anggota Peleton Gila, tingkat kemampuan mereka memang tidak terlihat terlalu istewa. Namun jika dinilai dari sudut pandang manusia normal, kapasitas kekuatan bertarung mereka secara jujur masih jauh berada di atas rata-rata kemampuan prajurit benteng biasa. (Wait: typo: "istewa" -> "istimewa") -> Jika disandingkan secara langsung dengan kehebatan Encrid beserta para anggota Peleton Gila, tingkat kemampuan mereka memang tidak terlihat terlalu istimewa. Namun jika dinilai dari sudut pandang manusia normal, kapasitas kekuatan bertarung mereka secara jujur masih jauh berada di atas rata-rata kemampuan prajurit benteng biasa.

They thought, ‘The justification is on our side.’ -> Para perwira musuh berpikir, ‘Kebenaran dan dalil keadilan dari pertempuran ini saat ini berada di pihak kita.’

All they had to do was retreat with Baronet Tarnin alive. -> Langkah pertahanan terbaik bagi mereka saat ini murni hanya perlu memandu Baronet Tarnin mundur melarikan diri dari perbatasan dalam keadaan hidup-hidup.

Then they could hold onto their justification and maintain a threatening position. -> Dengan cara seperti itu, mereka tetap bisa menggenggam erat dalil keadilan perang tersebut dan mempertahankan posisi tempur yang mengancam kedaulatan benteng perbatasan di masa depan.

Some among them even knew of Azpen's existence. -> Beberapa orang perwira di antara mereka bahkan secara rahasia telah mengetahui tentang catatan rahasia mengenai eksistensi dari Azpen.

First, pull out and let the Border Guard fight Azpen. -> Taktik awal mereka adalah menarik mundur seluruh pasukan tempur mereka terlebih dahulu, lalu membiarkan seluruh Pasukan Penjaga Perbatasan disibukkan bertempur mati-matian melawan gempuran kekuatan Azpen di depan.

They could just start another territorial war later. -> Dan mereka tinggal meluncurkan aksi perang perebutan wilayah kekuasaan kembali nanti di masa depan saat situasi lapangan telah stabil.

They would fight the Border Guard from an advantageous position after their forces had been depleted. -> Mereka akan menggempur barisan pertahanan Pasukan Penjaga Perbatasan dari posisi yang jauh lebih diuntungkan murni setelah kuota personil militer benteng terkuras habis di depan.

The clever ones reached a conclusion. -> Orang-orang cerdik di dalam jajaran perwira musuh berhasil merancang konklusi kesimpulan rencana taktis tersebut.

They were planning to find the Baronet first, but. -> Mereka semulanya merancang rencana untuk bergegas pergi mencari posisi Baronet Tarnin terlebih dahulu murni hanya untuk mengamankan keselamatannya, tetapi rencana itu buyar seketika.

Baronet Tarnin's head was already on a pike. -> Kepala Baronet Tarnin saat ini secara mengejutkan telah terpajang tegak di atas sebuah ujung tombak kayu (pike) di tengah kamp pertahanan mereka.

"…When did that pig bastard die?" The clever mercenary was dumbfounded. -> "...Kapan tepatnya babi keparat gemuk itu tewas terbunuh?" tanya tentara bayaran cerdik itu dengan sepasang mata yang terbelalak tercengang tak percaya.

And he was unlucky. -> Dan nasib sialnya secara kebetulan baru saja dimulai saat ini.

Jacksen didn't even need to use a magical artifact to erase his presence and move around. -> Sachsen secara keahlian bergerak lincah bahkan sama sekali tidak memiliki kebutuhan untuk mempergunakan bantuan dari artefak sihir khusus murni hanya untuk menghapus keberadaan emisi jiwanya saat menyusup ke kamp musuh.

He just disguised himself in an enemy soldier's clothing and observed people. -> Dia murni hanya menyamar mengenakan pakaian zirah dari salah satu prajurit bawahan musuh lalu memantau perilaku orang-orang di dalam kamp secara santai dari dekat.

Among them, he found those who might rally the troops again and gave them a red necklace as a gift. -> Di antara kerumunan prajurit musuh tersebut, dia menandai orang-orang yang dirasa berpotensi besar sanggup memimpin dan menyusun kembali barisan pasukan tempur lawan, lalu memberikan sebuah kalung merah indah sebagai hadiah perpisahan yang manis kepada mereka.

He gave the same gift to the nameless, clever mercenary. -> Dia mempersembahkan hadiah kalung merah yang persis sama kepada tentara bayaran tanpa nama yang cerdik tadi.

All he had to do was place a uniquely shaped dagger, dull on the outside and sharp only on the inside, against his neck and pull. -> Metode eksekusi pembunuhannya tergolong sangat sederhana sekali; dia hanya perlu menempelkan bilah dagger berbentuk unik milikinya, yang berwujud tumpul di bagian luar dan hanya memiliki ketajaman di permukaan bagian dalamnya, tepat di atas permukaan leher target lalu menariknya melintang cepat.

He grabbed the surprised mercenary's wrist, but his right hand drew a semicircle and grazed his neck. -> Dia menahan pergelangan tangan tentara bayaran yang terkejut heran tersebut, sementara tangan kanannya melukis gerakan setengah lingkaran memotong lehernya dengan cepat.

The pulled blade created a red necklace, and the mercenary died, dripping blood. -> Tarikan bilah belati tajamnya sukses menciptakan lukisan kalung merah yang indah di kulit lehernya, dan tentara bayaran tersebut tewas terkapar di tanah dalam sekejap mata sembari memancarkan cucuran darah segar.

He had already killed seven people this way. -> Dia sudah berhasil menghabisi nyawa dari tujuh orang perwira penting musuh menggunakan metode pembunuhan yang persis sama hari ini.

This was enough. -> Jumlah pembunuhan sebanyak itu dirasa sudah lebih dari cukup untuk mengacaukan moral tempur musuh.

Jacksen pulled back just like that. -> Sachsen segera menarik mundur posisi fisiknya keluar dari kamp musuh setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Thinking that surely the Captain hadn't died just because he was away for a moment, he returned to the main unit. -> Sembari berpikir di dalam kepalanya bahwa kaptennya dipastikan tidak akan berakhir tewas konyol murni hanya karena dirinya pergi meninggalkan garis depan pertempuran selama beberapa saat, dia berjalan santai melangkah kembali ke unit pasukan utama Peleton Gila.

He saw Enkrid, and next to him, he also saw a ghost. -> Pandangan matanya menangkap sosok Encrid yang berdiri tegak di depan, dan tepat di samping sisinya, dia juga melihat keberadaan sesosok hantu barbar yang menyeramkan.

"It's a ghost. We should perform an exorcism. A few daggers should do the trick." -> "Itu adalah sesosok hantu gentayangan. Kita harus bergegas melangsungkan ritual pengusiran setan (exorcism) sekarang juga. Kurasa lemparan beberapa bilah belati dagger tajam niscaya akan sukses mengusir rohnya pergi."

"…Why does it feel like that wild cat bastard is talking about me?" -> "...Mengapa perasaanku mendadak merasa sangat tidak enak, seolah-olah bajingan kucing liar licik itu sedang membicarakan diriku saat ini?"

The ghost barbarian said. -> Ucap sang barbar yang dianggap hantu (Rem) ketus menahan geram.

Jacksen strongly insisted on exorcising the ghost once more, but it didn't work. -> Sachsen secara vokal kembali mendesak untuk melangsungkan ritual pengusiran roh barbar tersebut sekali lagi, tetapi usulannya murni diabaikan oleh semua orang.

Instead, he only heard the blessed words of the mad barbarian with the axe. -> Sebagai gantinya, dia murni hanya mendengar sahutan doa berkat yang dilontarkan oleh si barbar gila pemilik kapak tersebut ke arah wajahnya.

"You die. You go die." -> "Mati saja kau bajingan. Pergilah membusuk di kuburan."

He ignored it. -> Dia mengabaikan makian kasar tersebut dengan santai.

He had done his job, and the Captain was fine. -> Dia sudah menuntaskan kewajiban tugas sabotase miliknya dengan sangat baik, dan kondisi fisik sang Kapten terbukti berada dalam keadaan yang aman.

"I really thought I was going to die this time," Krais said. -> "Aku benar-benar sempat mengira bahwa ajalku dipastikan akan tiba hari ini di perbatasan," ucap Krais perlahan dengan nada suara lelah.

Enkrid looked at the big-eyed soldier nonchalantly. -> Encrid mengarahkan pandangan matanya menatap tajam ke arah prajurit bermata besar tersebut secara acuh tak acuh.

Krais, who hadn't slept properly for days, showed a smile. -> Krais, yang tidak sanggup tidur dengan layak selama berhari-hari lamanya murni hanya untuk mengatur logistik dan pertahanan benteng, menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya yang kuyu.

"We're lucky. Really. It feels like the Goddess of Fortune gave us a kiss. A goddess's kiss brings good fortune." -> "Kita benar-benar tergolong sebagai orang yang teramat sangat beruntung kali ini. Sungguh. Rasanya seolah-olah sosok Dewi Keberuntungan baru saja mendaratkan satu ciuman manis di kening kita. Ciuman dari sang dewi secara konsisten selalu membawakan limpahan keberuntungan yang besar bagi jalan hidup manusia."

As Krais spoke, white snow fell heavily over his head. -> Tepat di saat Krais menyelesaikan ucapannya tersebut, butiran salju putih bersih mulai berjatuhan perlahan di atas kepalanya secara lebat.

It started around the time the battle ended. -> Hujan salju lebat ini mulai berguguran turun tepat di saat durasi jalannya pertempuran di perbatasan dinyatakan berakhir dengan kemenangan.

Sleet turned into a flurry of snow. -> Hujan es salju perlahan bertransformasi wujud menjadi badai salju yang lebat.

"You like this?" Rem said sullenly. -> "Kau menyukai hujan salju sialan seperti ini?" ucap Rem ketus dengan raut wajah masam kendinginan.

The demon dust was falling relentlessly. -> Debu iblis (demon dust) di udara tampak berjatuhan turun secara konstan tanpa henti bersama butiran salju.

Jacksen and Audin had similar looks in their eyes. -> Sachsen dan Audin memancarkan kerutan tatapan mata yang persis sama menyikapi turunnya salju lebat tersebut.

But not Enkrid. -> Namun reaksi acuh tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Encrid.

He understood at once. -> Dia seketika langsung memahami logika dari ucapan Krais barusan.

"As expected, the Captain is smart." -> "Seperti yang kuduga, tingkat kecerdasan Kapten memang berada di level yang sangat tinggi."

When Krais said that, Rem got angry, thinking, ‘Alright, let's gouge those eyes out today,’ but it was just a small commotion. -> Saat Krais melontarkan kalimat pujian tersebut ke arah Kapten, Rem mendadak menjadi sangat kesal, membatin di dalam hatinya, ‘Bagus sekali bajingan mata besar, mari kita lihat apakah aku sanggup mencongkel sepasang bola mata besarmu keluar hari ini,’ namun kemarahan kecilnya murni hanya berakhir menjadi keributan kecil yang tidak berarti di antara Peleton Gila.

The snow poured down. -> Hujan salju lebat terus mengguyur turun membasahi bumi perbatasan.

Even those in the heat of battle would have to regroup their forces. -> Bahkan barisan pasukan musuh yang tadinya sedang bersemangat melancarkan aksi penyerbuan pun dipastikan akan terpaksa menghentikan gerakannya murni hanya untuk menyusun kembali formasi kekuatan militer mereka di tengah badai salju yang membeku.

In other words. -> Dengan kata lain.

"We've bought some time," Krais voiced the thought. -> "Kita berhasil membeli sedikit celah waktu luang yang sangat berharga saat ini," ucap Krais menyuarakan isi pemikiran taktisnya di dalam kepala.

The pouring snow was a stroke of luck that would hold back Azpen's movements. -> Turunnya hujan salju yang sangat lebat di luar dugaan ini merupakan bentuk dari limpahan keberuntungan besar yang dipastikan akan menahan dan menghambat segala rute pergerakan taktis dari barisan militer milik Azpen di depan.

They had earned time to recover and reorganize their ranks. -> Mereka berhasil mendapatkan celah waktu luang yang berharga murni untuk memulihkan luka-luka cedera prajurit dan menyusun kembali kerapian jajaran formasi militer benteng pertahanan mereka secara optimal.

Encrid

Encrid

Karakter Utama
Ragna Zaun

Ragna Zaun

Pendukung
Rem

Rem

Pendukung
Audin Pumrei

Audin Pumrei

Pendukung
Jaxon Benzino

Jaxon Benzino

Pendukung
Kreise Allman

Kreise Allman

Pendukung
Shinar Kirhais

Shinar Kirhais

Pendukung
Esther

Esther

Heroine
Dunbachel

Dunbachel

Pendukung
Finn

Finn

Pendukung
Luagarne

Luagarne

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.