189. Nakal Sekali, Waktunya Kena Pukul
“Ini pedang yang bagus.”
Ia mengambil pedangnya dari pandai besi.
“Ini, ambil ini juga.”
Ia juga menerima pelindung dada baja.
Pelindung dada itu berjenis pelindung yang dikencangkan dengan paku keling di bagian samping saja.
Rasanya nyaman karena tidak ada beban yang menggantung di pundaknya, tetapi sepertinya ia harus mencari pelindung bahu secara terpisah.
Mata Encrid menangkap tumpukan besi tua di sudut bengkel pandai besi itu.
Ada dua bengkel pandai besi lain di markas Penjaga Perbatasan.
Dari ketiganya, bengkel inilah yang memiliki kualitas pengerjaan terbaik.
Karena Penjaga Perbatasan tidak memiliki pandai besi khusus untuk tuan tanah, ketiga bengkel tersebut harus memasok senjata ke barak.
Kini setelah perang usai dan tiba waktunya menimbun persediaan, mereka akan membuat tombak, pedang, dan gada dari besi tua.
Jadi, singkat kata, pandai besi di hadapannya telah memaksakan diri untuk mengerjakan pedang miliknya meskipun tidak punya banyak waktu luang.
“Ini.”
*Ting.*
Ia menjentikkan sekeping koin emas dan meletakkan beberapa keping lagi di atasnya.
“Ini terlalu banyak.”
“Gunakan sisanya untuk membelikan istrimu bunga atau semacamnya.”
Pandai besi itu menatap Encrid dengan tatapan kosong.
*Kalau kuberi, ambil saja.*
*Kenapa malah menatapku begitu?*
Keuangan krona miliknya sedang sangat longgar akhir-akhir ini.
Dan Encrid bukanlah tipe orang yang suka menimbun krona.
Krais pasti akan menyebut hal ini sebagai kelemahan terbesar sang kapten.
Kenyataannya, satu-satunya orang di peleton—tidak, bahkan di kompi—yang sensitif soal krona hanyalah Krais.
Finn pun tidak terlalu peduli soal uang.
Apalagi Aster yang merupakan seekor macan tutul, tentu saja tidak paham hal-hal seperti itu.
*Namun, apakah tepat menganggap Aster sebagai anggota unit?*
Yah, mau bagaimana lagi? Kinerja hewan itu sangat luar biasa.
Meskipun tidak bisa memasukkannya secara resmi ke dalam daftar nama anggota peleton, macan tutul itu sudah diakui sebagai rekan seperjuangan.
Bagaimanapun juga, Rem, Ragna, Audin, dan Sachsen...
Bukannya mereka semua menghabiskan krona seperti air mengalir?
Sepertinya memang begitu.
Tentu saja, orang yang paling boros di antara mereka adalah Encrid.
Entah itu karena menerima hadiah atau menjarah gudang harta, jika kantongnya penuh dengan krona, ia akan menghabiskannya tanpa ragu.
Hal yang sama terjadi setelah ia meninggalkan bengkel pandai besi.
*Ting.*
“Ambil ini.”
Sekeping koin emas melayang di udara, lalu sebuah tangan yang kasar menyambarnya.
Tangan itu milik John, si penyamak kulit.
John adalah orang yang ahli.
Bahkan, beberapa pedagang keliling yang mengunjungi kota ini datang hanya untuk menemui John.
Keahliannya dalam mengolah kulit layak disebut sebagai seorang maestro.
Kemampuannya sudah jauh melampaui tingkat pengrajin biasa.
Kali ini, ia menerima pelindung lengan bawah dari kulit darinya.
Alat pelindung itu disebut *bracer*, berfungsi melindungi area dari pergelangan tangan hingga siku.
Meskipun membungkus lengannya dengan erat, pelindung itu terasa lembut namun kokoh.
Pelindung itu berwarna hitam pekat dan dikencangkan dengan cara menarik tali kulit dari bahan yang sama, lalu melilitkannya dari bawah.
Kerapian dan ketelitian pengerjaannya terlihat jelas di setiap bagian.
Sentuhan seorang maestro terpancar di sana-sini.
Jadi sekeping koin emas tidak ada apa-apanya untuk karya seperti ini.
“Ini kulit monster, sudah diolesi minyak tiga kali.”
*Satu koin emas saja tidak akan cukup.*
*Ting*, satu keping lagi meluncur.
“Itu harga yang pantas.”
Maestro John selalu menerima harga yang jujur.
Ia adalah pengrajin kulit yang memiliki hati nurani.
Itulah sebabnya para pedagang keliling selalu memadati ambang pintunya.
Biasanya, jika seseorang mulai dijuluki maestro, harga barang-barang mereka akan melambung tinggi, tetapi tidak dengan John.
Bagaimanapun juga, kulit monster adalah salah satu bahan yang paling sulit diolah.
Proses penyamakan itu sendiri membutuhkan bahan kimia khusus, dan bahkan dengan begitu, kegagalan masih sering terjadi.
Bahan seperti itu mungkin mudah didapatkan di ibu kota, tetapi di wilayah perbatasan, entah bagaimana caranya.
*Apakah ada orang lain yang memiliki barang seperti ini?*
Sepertinya tidak ada.
Ia juga menyukai pedang barunya.
Roh yang pernah mengajarinya ilmu pedang telah tiada, dan pedang yang dulunya menjadi wadah bagi roh tersebut—yang sebenarnya layak disebut pedang sihir—kini tak lebih dari sekadar sebilah logam biasa.
Cahaya biru samar memancar dari bilahnya, gagang pedang yang diasah secara khusus oleh sang pandai besi dilapisi dengan kulit rusa, dan ia juga cukup menyukai bagian pommel yang bulat dan kokoh itu.
“Ambil ini, aku kebetulan punya waktu luang.”
Apakah karena ia sudah lama tidak pergi ke pasar?
Pembuat sepatu yang ia temui saat membuka Gerbang Indra Keenam mendekatinya dan memberikan sepasang sepatu bot.
Itu adalah sepatu bot dengan sol yang lebih tebal dari sebelumnya, dengan bagian punggung kaki yang diperkuat dengan pelindung keras.
Jelas terlihat dalam sekali pandang bahwa barang ini tidak dibuat dengan usaha setengah-setengah.
“Aku hanya membuatnya asal-asalan, tidak cukup bagus untuk dijual.”
Omong kosong macam apa itu?
“Ayah, katakan saja kalau Ayah memang ingin memberikannya kepada beliau.”
Putrinya yang berdiri di sampingnya menyahut sambil tersenyum malu-malu.
Senyuman yang menyegarkan.
Tangan Encrid menjentikkan koin lainnya.
*Ting!*
Sekeping koin emas.
Putri si pembuat sepatu menangkapnya.
“Ini terlalu banyak.”
“Jika ada sisa, gunakan saja sesukamu.”
Encrid terus membagikan koin, dan di sepanjang jalan, ia menerima dendeng berbumbu dalam jumlah besar.
Ia juga menerima beberapa botol anggur.
Rasanya tidak buruk.
Namun, kenapa mereka malah memberinya arang?
“Ini arang yang bagus.”
*Di mana aku harus menggunakan ini? Apa aku harus mengadakan pesta barbekyu arang atau bagaimana?*
Sungguh orang-orang yang jenaka.
Apakah ini kekuatan dari Persekutuan Gilfin? Rasanya bagian-bagian kota yang kumuh dan kelam sebagian besar telah dibersihkan.
Tentu saja, ada beberapa hal yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Sebagai contoh.
“Rakyat jelata, enyah dari jalanku.”
Bangsawan keparat itu.
Bangsawan itu, yang didampingi oleh seorang pengawal, berpapasan dengannya di jalan.
Saat melihat Encrid, ia sengaja menyunggingkan bibirnya.
Sebuah seringai meremehkan.
“Seorang komandan kompi dari kalangan rakyat jelata, sungguh konyol. Aku tidak tahu tipu muslihat apa yang kau lakukan pada Marcus, tapi itu adalah sebuah kesalahan.”
Hmm, jika itu adalah Rem, begitu kata-kata itu terucap, ia mungkin sudah membelah kepala pria itu menjadi dua dengan kapak.
Tidak, ia pasti sudah melayangkan tinjunya begitu mendengar kata 'enyah'.
Ia hanya bisa berdoa agar orang itu tidak pernah mengatakan hal semacam itu di depan Rem.
Wajah bangsawan itu tampak seperti seseorang yang bisa berteman dengan ghoul.
Matanya sipit dan bibirnya tipis.
Itu adalah wajah dari seseorang yang menjalani hidup dengan cara yang keji.
Kesan pertama memang tidak membuktikan segalanya, tetapi keparat ini tampaknya menjalani kehidupan yang sangat cocok dengan penampilannya.
Kenyataannya, rumor semacam itu memang berembus kencang di mana-mana.
*Itu wajah yang akan membuat Rua Garne sekalipun merasa jijik.*
Frokk sangat pemilih soal penampilan.
Terutama penampilan manusia.
Bukankah mereka ras yang aneh?
Bukankah Frokk yang sama itu pernah berkata bahwa ia terpikat padanya?
“Cih.”
Bangsawan itu berlalu pergi dengan pengawal tunggal mengekor di belakangnya.
Ia melangkah menuju gerbang kota, mungkin karena ada urusan di pasar.
Pria itu adalah tipe orang yang selalu menunjukkan kebenciannya kepada Encrid.
Tidak ada yang baru dari sikapnya itu.
Oleh karena itu, Encrid tidak terpengaruh sama sekali.
Sebaliknya, seorang penjual buah bergumam dari sampingnya.
“Keparat sialan. Semoga dia mati membusuk karena infeksi kotoran.”
Heh, kutukan yang cukup kreatif.
Namun, siapa nama keparat itu tadi?
Ia pernah mendengarnya sebelumnya, tetapi tidak ada gunanya mengingat nama itu.
Ia hanya perlu memastikan agar orang itu tidak pernah berpapasan dengan Rem.
“Aku penasaran apa yang sedang dilakukan si pembunuh komandan.”
Encrid menggumamkan monolog itu pada dirinya sendiri saat berjalan kembali ke barak.
Tiba-tiba, Rem melontarkan ucapan yang tak terduga.
“Ada rencana untuk mencari orang seperti Andrew di suatu tempat lagi?”
“Hmm?”
“Tanganku rasanya agak kaku akhir-akhir ini.”
Ini tanda bahaya.
Itu adalah pertanda bahwa rasa frustrasi Rem sudah menumpuk.
“Latihan tanding?”
Sudah waktunya untuk segera memadamkan kobaran api itu.
Latihan tanding itu berlangsung cukup sengit.
Saking sengitnya, mereka sampai menggunakan Jantung Kekuatan tanpa pandang bulu.
“*Bracer* yang bagus.”
Rem menyadari perlengkapan barunya.
Matanya memang jeli.
“Pedang itu juga sepertinya bukan barang biasa, kan?”
“Aku memungutnya di jalan.”
Setelah mengakhiri latihan tanding dengan obrolan seperti itu, seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal saat malam tiba.
Kapan terakhir kali ia memaksakan diri sehebat ini dalam latihan tanding akhir-akhir ini?
Bagaimanapun juga, berkat latihan itu, rasa frustrasi Rem sudah cukup terlampiaskan.
“Sepertinya malam ini aku akan tidur nyenyak.”
Sebelumnya ia sempat bersikap aneh, mencemaskan apakah ia harus menjadi ksatria atau tidak, tetapi sekarang ia sudah baik-baik saja.
“Ya, tidurlah yang nyenyak.”
Malam itu, setelah menyelesaikan doa rutinnya, Audin memanggil Encrid.
“Kakak Komandan Kompi.”
“Ada apa?”
“Apakah Kakak ingin ikut patroli malam hari ini?”
Pria berbadan seperti beruang itu tersenyum lebar saat berbicara.
Senyumannya terlihat sangat lembut, berlawanan dengan tubuhnya yang besar dan kekar.
Melihatnya seperti ini, sepertinya Audin bisa memikat hati para wanita dengan mudah jika ia memang menginginkannya.
Ia bisa memahami alasan Krais sangat ingin membawanya masuk ke salon miliknya.
“Bagaimana kalau menjadi pendeta yang berkelana di malam hari?”
Krais sering kali menggoda Audin dengan kata-kata seperti itu.
Namun, Audin hanya tersenyum menanggapi.
Ia bahkan tidak menjawab, seolah-olah gurauan itu tidak patut ditanggapi.
Bagaimanapun, tampaknya Audin memiliki sesuatu yang ingin disampaikan.
Jika tidak, berarti ia memang benar-benar hanya mengajak jalan-jalan malam.
“Mari.”
Sebenarnya, ia sendiri merasa kurang nyaman di barak karena dibebaskan dari segala tugas kedinasan hanya karena ia memimpin kompi independen atau semacamnya.
Jadi patroli ini merupakan sebuah kebetulan, dan lebih terasa seperti jalan-jalan santai.
Audin ingin membicarakan sesuatu dan patroli malam adalah alasan yang bagus, sedangkan Encrid sendiri juga berniat untuk melakukan tugas jaga setidaknya sekali saja.
“Ada sebuah ayat dalam Kitab Suci yang berbunyi bahwa sehari pembangunan yang konsisten lebih penting daripada sehari pemaksaan diri yang berlebihan. Makna dari hal ini adalah...”
Sebuah khotbah.
Khotbahnya yang biasa.
Terkadang, Audin memang terlalu banyak bicara.
Terutama jika sudah menyangkut masalah khotbah dan Kitab Suci.
Dan Finn bisa tahan dengan semua ini?
“Bagaimana dengan Finn?”
Ia bilang ia sedang mendekatinya.
“Aku sedang berusaha menuntun kembali sang Saudari.”
Ia mencoba menanamkan pandangan agamanya kepada orang yang sedang didekatinya? Sangat khas Audin, tetapi cara seperti itu bisa merusak harga diri seorang wanita.
Namun, terlepas dari semua itu, wajah Finn selalu tampak ceria setiap hari.
“Intinya adalah ini. Lebih baik memacu tubuh Anda ke tingkat yang wajar daripada memaksanya secara berlebihan, Kakak Komandan Kompi.”
Audin begitu teliti dalam mengingat dan menggunakan pangkat barunya.
Encrid mengangguk mendengar perkataan Audin.
Ia memahaminya.
Akhir-akhir ini, ia terus memacu tubuhnya seolah-olah sedang dikejar oleh sesuatu.
Bagaimana harus mengatakannya?
*Rasanya seperti ada sesuatu yang sudah berada dalam jangkauan, tetapi tidak bisa benar-benar kugenggam.*
Mengayunkan pedangnya, mengerahkan Jantung Kekuatan.
Saat ia menjalani seluruh proses tersebut, pikiran untuk bisa melangkah setingkat lebih maju mungkin telah memicu semacam ketidaksabaran dalam dirinya.
Hanya karena ia tidak mengenal rasa frustrasi dan keputusasaan, bukan berarti ia bisa mencegah hatinya agar tidak terburu-buru.
Ia tidak bermaksud memaksakan tubuhnya dengan sengaja, tetapi tindakan dan sikap seseorang memang akan berubah tergantung pada isi pikirannya.
Dan melalui hal itu, cara pandang seseorang terhadap dunia juga ikut bergeser.
Itu adalah pelajaran yang berharga.
“Begitu rupanya.”
“Benar.”
Hanya butuh beberapa patah kata, dan jika ia merasa hal itu masuk akal, ia akan langsung mengakuinya dan menerimanya.
Itulah kekuatan terbesar Encrid.
Akan tetapi...
*Kau benar-benar tidak punya hati nurani.*
*Bisa-bisanya kau yang mengatakan hal itu.*
Siapa dulu yang berkata bahwa mendobrak batas kemampuannya setiap hari adalah tugasnya, dengan menggunakan Teknik Isolasi sebagai alasan?
“Selama aku yang mengawasinya, itu bukan pemaksaan diri yang berlebihan, melainkan tingkat yang pas.”
Encrid telah berbicara lewat tatapan matanya, dan Audin menjawabnya dengan kata-kata.
“Akhir-akhir ini, aku merasa tatapan mataku terlalu mudah dibaca.”
“Itu karena Kakak menunjukkannya dengan begitu terang-terangan.”
*Pfft*, Encrid tertawa.
Audin juga ikut tertawa.
Saat mereka berjalan menyusuri lorong beratap dalam patroli mereka, beberapa prajurit yang mengenalnya memberi hormat.
“Ini hanya patroli biasa. Jangan hiraukan aku.”
Kota ini terasa damai.
Dan aman.
Apa pun yang terjadi di luar sana, tembok-tembok kokoh ini akan senantiasa melindungi mereka.
*Apakah dulu aku disuruh untuk mencintai kota ini?*
Dengan cahaya rembulan di punggungnya, ia menatap ke arah kota yang diselimuti oleh kegelapan malam.
Dari atas lorong beratap itu, seluruh pemandangan kota terhampar luas di bawah kakinya.
Suara serangga di malam musim panas menggelitik telinganya.
*Aku tidak tahu apa itu cinta.*
Setidaknya, ia tidak akan tinggal diam dan membiarkan mereka mati di depan matanya sendiri.
Melindungi kaum yang lemah.
Itu adalah hal pertama yang selalu digaungkan ketika membahas tentang ksatria dan kehormatan.
Ada yang bilang itu hanya alasan untuk membenarkan penggunaan kekuatan ksatria.
*Jika kau memiliki kekuatan tetapi tidak menggunakannya dengan benar, kau tak lebih dari sekadar berandal.*
Impian Encrid bukanlah untuk menjadi seorang berandal.
Cahaya rembulan terasa hangat menyelimutinya.
Ia tidak berpikir bahwa ia bisa menjelma menjadi seorang ksatria hanya dalam semalam.
Perjalanannya masih sangat panjang.
Masih ada Will.
Ia merasa masih banyak hal yang harus ia pelajari.
Sebelum melangkah lebih jauh, ia juga membutuhkan waktu untuk benar-benar menguasai apa yang dimilikinya saat ini.
Hanya karena mempelajari teknik pedang yang baru, bukan berarti ia akan menelantarkan ilmu pedang lamanya.
*Masih ada ruang untuk terus berlatih.*
Encrid sendiri yang menilai demikian.
Ia tenggelam dalam lamunannya sendiri, terbuai di bawah naungan cahaya rembulan.
Daun telinga Encrid tiba-tiba berkedut.
“Ada sesuatu di sini.”
Audin juga menunjukkan reaksi yang sama.
Kemudian, bau busuk yang menyengat tercium di udara saat sesuatu merayap naik menaiki tembok kota.
“*Kheuheoheoheong!*”
Bukan, itu adalah raungan keras dari seekor monster.
Suara itu mengandung kekuatan yang sanggup mengguncang keteguhan hati seseorang.
“Uh, uh...”
Prajurit yang berdiri tepat di depannya langsung terpaku kaku mendengar jeritan monster tersebut.
Bahkan sebelum Encrid sempat menggerakkan tubuhnya.
Sesaat setelah raungan itu berkumandang, sesosok bayangan bertubuh raksasa laksana beruang melesat membelah cahaya bulan.
Sesosok beruang yang sangat berbakat dan luar biasa cepat.
Sosok itu adalah Audin.
“*Krawr!*”
Lawan mereka kali ini adalah seekor manticore.
Seekor monster tingkat tinggi dengan ekor kalajengking serta kepala dan tubuh singa; makhluk yang sering dijuluki sebagai monster sekaligus binatang buas.
Makhluk ini sanggup melumpuhkan pergerakan mangsanya hanya lewat raungan semata.
Seekor makhluk yang ekor kalajengkingnya bisa mengirim siapa saja ke akhirat hanya dengan satu goresan racunnya.
Itu adalah musuh yang dikatakan tidak boleh dihadapi secara sembarangan, bahkan dengan kekuatan penuh dari satu kompi sekalipun.
Tidak semua monster diciptakan setara.
Manticore adalah jenis monster yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan binatang buas sekelas hiena.
Bagi seorang prajurit biasa, kehadiran monster yang sangat mengerikan seperti ini tidak ada bedanya dengan mimpi buruk yang menjadi nyata.
“Pus, kalau kau mengeong terlalu keras di malam hari, kau bisa membangunkan orang-orang tidur.”
Melihat Audin yang dengan santainya menenangkan makhluk buas itu, manticore tersebut seolah-olah langsung jatuh derajatnya menjadi sekadar kucing liar biasa.
Manticore itu terlihat langsung merendahkan tubuhnya begitu melihat Audin berdiri di hadapannya.
Dari posisi yang terlihat santai, Audin hanya mengangkat kedua tangannya ke depan.
Telapak tangannya terbuka setengah, dengan kedua ibu jari terarah ke dirinya sendiri.
Di saat yang sama, Encrid mencengkeram tengkuk prajurit yang masih terpaku itu lalu menariknya ke belakang.
“Tarik napas dalam-dalam, embuskan, lalu mulailah bergerak. Mulailah dengan perlahan-lahan menyalurkan tenaga ke ujung-ujung jarimu.”
“U-uh, baik!”
Makhluk seperti manticore memiliki aura penekan di dalam raungannya yang bisa membuat lawan terintimidasi.
Encrid membisikkan cara untuk melepaskan diri dari pengaruh tersebut.
Seorang prajurit jaga di lorong beratap itu mencengkeram erat peluitnya.
Ia tampak siap meniupnya kapan saja.
“Tunggu sebentar.”
Karena tidak ingin memicu perhatian sang manticore dengan suara yang tidak perlu, Encrid menghentikan prajurit itu lewat tatapan matanya.
Meskipun tubuhnya masih terasa kaku, prajurit itu dengan patuh mengikuti perintah Encrid.
“Mundur.”
Sementara Encrid menarik mundur prajurit yang berada di lorong beratap.
Manticore itu akhirnya bergerak.
Makhluk itu melesat maju membelah cahaya rembulan, lalu mengayunkan cakar depannya.
Gerakannya sangat cepat.
Memang layak menyandang status sebagai binatang buas tingkat tinggi.
Ia melompat dari tanah dengan ringan, meninggalkan bayangan samar di udara.
Sepasang mata Encrid mengikuti setiap jengkal pergerakannya.
Audin, yang menjadi target serangan, menghindari cakar tersebut dengan selisih tipis dan langsung melayangkan tinju kirinya.
*Ah.*
Encrid berdecak kagum dalam hati.
Itu adalah serangan balasan yang dilancarkan setelah gerakan menghindar yang sempurna.
Gerakan tersebut berada pada jalur yang sama dengan beberapa teknik pedang yang baru saja ia pelajari baru-baru ini.
“Tarik kakimu ke belakang untuk memancing musuh mendekat, lalu putar tubuhmu untuk menciptakan celah dan hantam dia. Hal itu sangat mungkin dilakukan jika kau bisa membaca arah serangan lawan.”
Ajaran Rua Garne seketika melintas di benaknya, berpadu sempurna dengan kepalan tinju dan pergerakan Audin saat ini.
Saat Audin memutar tubuhnya, tinjunya menghantam keras rahang manticore tersebut.
*Bugh!*
Suara dentuman keras seperti bedug dipukul menggema dengan begitu memuaskan.
Makhluk itu terhempas keras ke tanah dan terpelanting ke samping.
“*Krreung!*”
Monster yang terkena hantaman telak itu mengeluarkan erangan penuh rasa sakit.
“Dasar nakal, waktunya diberi pelajaran.”
Setelah itu, Audin berubah layaknya seorang guru yang sedang memarahi anak didiknya.
Satu-satunya perbedaan adalah lawannya kali ini adalah binatang buas tingkat tinggi yang sanggup memangsa satu kompi penuh.
Sisanya adalah pemandangan yang biasa mereka saksikan sehari-hari, sebuah perpaduan antara omelan dan khotbah ceramah.










