Eternally Regressing Knight

Chapter 137: A New Day

2652 Kata

Hari Baru

Dalam momen-momen krisis, manusia mampu menunjukkan kekuatan yang melampaui batas kemampuan mereka.

Menarik kekuatan itu dan menggunakannya sesuka hati, itulah teknik Heart of Power.

Nama tersebut diberikan dengan arti membangkitkan Jantung Binatang Buas itu sendiri.

Awalnya, di dalam sukunya, mereka berkata bahwa saat menggunakan teknik ini, sesosok dewa yang mereka sembah atau energi mistis tertentu akan bersemayam di dalam tubuh mereka.

Ya, memang ada efek mistisnya.

Dewa? Itu hanya omong kosong belaka.

*Tapi ini sangat jauh berbeda dari sihir sungguhan.*

Setelah mengalami dan menciptakannya sendiri, Rem memiliki teorinya sendiri.

*Ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuh untuk membuat jantung berdetak lebih cepat, begitulah.*

Tubuh manusia memang misterius.

Ini adalah salah satu dari misteri tersebut.

Ketika sesuatu mulai bekerja di dalam tubuh, otot-otot pun akan menegang.

Setelah itu, Heart of Power akan aktif.

Oleh karena itu, teknik ini bukanlah sihir ataupun persemayaman dewa.

Kapan dia pertama kali menyadari hal ini?

Di tengah bilah-bilah kapak yang tak terhitung jumlahnya, di momen menjelang kematiannya, sesuatu meletup dari dalam tubuhnya, dan ketika itu mencapai otot-ototnya, dia mampu mengeluarkan kekuatan berkali-kali lipat dari biasanya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Setelah diselidiki dan diteliti, dia menyadari bahwa ketika darahnya mulai bersirkulasi dengan liar ke seluruh tubuh, jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat daripada biasanya.

Katalis mistis memang dibutuhkan untuk ini, tetapi itu bukan landasannya.

Menurutnya, ini adalah masalah fokus, atau sensasi.

"Fokus. Sekali lagi."

Rem berucap sembari melanjutkan lamunannya.

Encrid berdiri di hadapannya.

Segera, mereka berdua menempelkan tangan ke jantung satu sama lain.

Dengan teknik peningkat fokus sialan yang diajarkan oleh si gila pemalas itu, hal ini mungkin saja terwujud.

Yah, jika tidak berhasil, yasudah.

Rem sebenarnya sudah setengah menyerah.

Apa boleh buat?

Di masa lalu sukunya, mereka yang menyadari hal ini dapat dihitung dengan jari sebelah tangan.

Bahkan mereka, pemilik tubuh sekokoh dinding besi yang melampaui kekuatan biasa, harus melewati krisis maut berulang kali sebelum berhasil.

"Apa aku baru saja mencelupkan kakiku ke sungai tertentu?"

Dia sering mendengar kata-kata seperti itu.

Dengan kata lain, untuk Heart of Power, wadahnya harus disiapkan terlebih dahulu.

Sekalipun aktif dengan benar, tubuhnya akan hancur duluan jika tidak kuat.

Jadi, apakah sang Komandan Peleton sanggup menanggungnya? Wadahnya sendiri tidaklah buruk.

Siksaan fisik yang diajarkan oleh pengkhotbah berbadan kekar itu setiap pagi.

Itu adalah tindakan yang tepat untuk menempa tubuh.

Jika si pengkhotbah kekar itu tidak melakukannya, Rem bahkan sempat berpikir untuk membantu sang Komandan Peleton mengasah tubuhnya dengan cara lain.

Namun, metode pengkhotbah kekar itu tampaknya lebih efisien.

Jadi dia membiarkannya saja.

Oleh sebab itu, wadahnya kurang lebih sudah ditempa.

Kendati demikian, dia tidak berniat memaksakannya.

Jika memungkinkan, dia akan menanamkannya, tetapi jika terlalu berat, dia akan menyerah begitu saja.

"Rasakan itu."

Encrid mendengarkan kata-kata Rem.

Dia mendengarkannya dengan patuh.

Seperti biasa, dengan pikiran yang tenang dan postur tubuh yang waspada.

Namun, dia sebenarnya telah menyadari sesuatu.

Itu adalah saat dia mempelajari Fokus Titik Tunggal dari Ragna.

Ragna adalah seorang jenius.

Jadi dia mungkin bisa mempelajari apa pun dengan mudah.

Dia pasti bisa menyadari apa pun dengan mudah.

Apa yang dia katakan saat itu?

*Apakah dia bilang ketakutan akan kematian meningkatkan konsentrasi?*

Pernyataan itu hanya setengah benar.

Yang benar-benar dibutuhkan adalah lawan yang bisa membuatnya mengerahkan setiap tetes kemampuannya, hingga ke titik terdalam.

Sekarang pun keadaannya mirip.

*Tidak, bukankah ini kebalikan dari waktu itu?*

Sebuah kesimpulan yang dicapai bersamaan dengan kesadaran kecil.

Itu dimulai dari apa sebenarnya Heart of Power itu.

Ketika dihadapkan pada tekanan hebat atau situasi serupa, manusia terkadang bisa mengerahkan kekuatan melampaui batas mereka.

Hal itu sangat mungkin terjadi.

Dia mendapatkan gagasan dari sana.

Untuk menguasai Heart of Power, seseorang harus merasakan tekanan dari kematian yang mendekat.

Melalui pertempuran-pertempuran di masa lalu, yaitu sepanjang kehidupan yang dijalaninya sejauh ini, Encrid telah mengumpulkan berbagai pengalaman.

Pengulangan hari ini membuat pengalaman tersebut semakin menumpuk.

Ini adalah kesimpulan yang ditarik dari pengalaman-pengalaman tersebut.

"Lebih banyak."

Sesuatu dari tangan Rem menyentuh jantung Encrid.

Awalnya, dia hanya menyalurkan sensasinya, menekan area di sekitar jantung Encrid secara halus.

Memang seperti itu hingga saat ini.

Rem memanfaatkan efek mistis untuk melakukan hal ini.

Haruskah dia menyebutnya transfer sensorik? Bagaimanapun juga, tujuannya adalah untuk menyampaikan perasaan yang membuat jantung berdetak lebih kencang.

"Lebih kuat."

Ucap Encrid.

Matanya setengah terbuka.

Dia sedang berada dalam kondisi konsentrasi penuh.

"Sudah berapa kali kubilang, kau harus berhati-hati dengan teknik ini?"

Kata 'berhati-hati' keluar dari mulut seorang pria yang dikenal bukan cuma berani, melainkan gila.

Terdengar seolah dia memperingatkan bahwa satu langkah salah saja bisa merenggut nyawanya.

Bahaya, krisis, tekanan.

Hal-hal itulah yang memerlukan kewaspadaan.

Encrid membutuhkan semua itu.

Perasaan berdiri di tepi jurang, menahan hembusan angin kencang di punggungnya.

Momen di mana satu kesalahan kecil bisa berarti kematian.

Bukan kematian yang disengaja, bukan tekanan yang bisa didapatkan melalui bunuh diri, melainkan momen untuk perjuangan yang paling maksimal.

Secara harfiah, dia harus berada di persimpangan jalan di mana langkah yang salah akan membawanya pada ajal.

Dan jika dia bisa melakukannya sembari merasakan sensasi yang membuat jantungnya berdegup kencang, itu akan menjadi yang terbaik.

"Lebih kuat lagi."

Encrid kembali berucap, matanya masih setengah terbuka.

Kening Rem berkerut.

Apakah pria ini benar-benar sudah gila? Dialah yang biasanya disebut orang gila biasa, tetapi pria di hadapannya ini tampak jauh lebih tidak waras.

"Mari kita hentikan saja."

Kata Rem, mencoba menarik tangannya perlahan.

Deg.

Encrid mencengkeram pergelangan tangan Rem.

Dengan tangan kiri di dada Rem dan tangan kanan menahan pergelangan tangan Rem di dadanya sendiri, Encrid kembali berujar.

"Lakukan."

Pandangan Encrid tertunduk, sehingga Rem tidak bisa melihat matanya.

Apakah matanya benar-benar sudah membelalak putih?

"Apa kau gila?"

Tatapan Rem berubah menjadi sengit.

Bukankah ini sama saja dengan meminta untuk dibunuh oleh tangannya sendiri?

Ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan gairah dan tekad.

Ada kalanya seseorang harus menerima batas kemampuannya dengan mundur...

Pikiran Rem terputus.

Ada suara yang menembus pikiran, akal sehat, dan emosinya.

"Lakukan, lakukan saja."

Itu adalah sebuah perintah.

Perintah yang harus dipatuhi.

Jika kata-kata memiliki kekuatan magis, Rem merasakannya sekarang.

Bahkan tanpa sihir apa pun, mantra apa pun, atau bahkan 'kekuatan' yang dikatakan sebagai wilayah eksklusif para ksatria.

Di lubuk hatinya yang terdalam, sosok seperti apa Encrid bagi Rem?

Encrid mengangkat pandangannya.

Netra kedua pria itu saling bertemu.

Api beradu api.

Berbeda warna, tetapi merupakan kobaran api yang bisa saling melahap habis.

Api biru dan api abu-abu saling menjalin.

Mereka saling melotot seolah ingin saling membunuh.

Apakah ada sesuatu yang bisa didapatkan dengan memenangkan pertarungan ini?

Tidak ada.

Paling-paling, dia akan berakhir setengah lumpuh.

Dan bukan dirinya, melainkan pria yang berdiri di hadapannya ini.

Namun, mengapa?

Terlepas dari semua itu, Rem hanya ingin melakukannya.

Dia merasa terdorong untuk melakukannya.

Dia harus mematuhi perintah pria ini.

Perasaan bahwa dia harus melakukannya.

Perasaan bahwa dia ingin melakukannya.

Apakah karena instingnya sendiri sehingga dia tidak bisa berpaling dari hal ini? Ataukah karena dia terlampau terpikat oleh pria yang dipanggil Komandan Peleton di hadapannya ini?

"Lakukan."

Bibir Encrid terbuka sekali lagi.

"Persetan dengan semuanya."

Rem menyemburkan kutukan lalu meremas jantung Encrid.

Pikiran bahwa dia diperintahkan untuk melakukan ini karena dipercaya juga menyusup di sudut kepalanya.

Setelah pembenaran diri tersebut, Rem menggunakan kekuatannya dengan sungguh-sungguh.

Deg-deg-deg-deg!

Jantung berdegup kencang bagai orang gila dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh.

Tekanan darah yang bergejolak itu segera mengunci jantungnya.

Dengan demikian, seluruh tubuh dan otot-ototnya akan mampu mengerahkan kekuatan manusia super yang melampaui batas kemampuannya.

Deg.

Encrid merasakan rasa sakit yang teramat sangat.

Ditusuk pedang dan tombak, ditembus anak panah.

Dia telah mati dan mati lagi, jadi dia seharusnya sudah kebal terhadap rasa sakit.

Namun entah mengapa, setiap kematian selalu terasa berbeda.

Kematian, yaitu Tukang Perahu Sungai Hitam, terlintas dalam benaknya.

Deg, deg, DEEEG.

Mata Encrid terbelalak lebar.

Rem melihat matanya yang memerah penuh urat darah.

"Sialan."

Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku menuruti omongan orang ini?

Rem menyesalinya.

Encrid merasa puas.

Dia tersenyum.

Sebuah kesadaran kecil akan segera menjadi petunjuk jalan pada rute yang akan dia tempuh.

Deg.

Jantungnya, setelah berdegup untuk terakhir kalinya, berhenti berdetak.

Sesuatu yang aktif melampaui batasnya menghantam jantungnya dan membuatnya berhenti.

Itulah kematian.

Lingkungan di sekitarnya mulai diselimuti kegelapan.

"Hentikan."

Melalui kegelapan yang menyelimutinya, suara Sachsen terdengar.

"Keparat gila."

Suara Ragna pun terdengar.

"Saudaraku, apa yang telah kau lakukan?"

Dia juga merasakan sebuah tangan kasar mencengkeram pergelangan tangannya.

Semuanya sudah terlambat.

Bukan kekuatan suci, bukan pula ramuan ajaib mana pun.

Tidak ada yang bisa menyelamatkan pria yang jantungnya telah berhenti berdetak, pria yang telah menaruh tubuhnya sendiri di ranjang kematian.

Encrid mati.

Itu adalah pengalaman yang baru.

Dalam beberapa hal, itu bisa disebut bunuh diri.

Cara untuk mendapatkan Heart of Power, tidak peduli seberapa keras dia merenungkannya, dia merasa tidak ada jalan lain.

Ini adalah hasil dari perjuangan hari ini, yang dia yakini sebagai jalan terbaik.

Menyerah pada Heart of Power? Jika dia berniat menyerah dan melupakannya.

*Aku pasti sudah berkompromi.*

Aku tidak akan berkompromi.

Aku bergerak maju.

Bahkan jika itu hanya setengah langkah dalam satu waktu, dan jika itu pun tidak memungkinkan, maka dengan merangkak.

Sentakan rasa sakit melilit seluruh tubuhnya.

Itu terjadi setelah dia mengatasi seluruh gelombang rasa sakit.

Kecipak.

Kegelapan memudar, dan saat dia membuka matanya, dia melihat Tukang Perahu Sungai Hitam.

Tidak ada sepatah kata pun.

Tukang perahu harus menunjukkan kehendaknya agar Encrid bisa mendengar tawa atau perkataannya.

Saat ini, dia tidak menawarkan tawa maupun kata-kata.

Dia hanya merasakan tatapan kosong.

Tatapan itu.

Itu hanyalah perpaduan antara rasa ingin tahu dan keraguan, *Sebenarnya orang macam apa keparat ini?*

Saat Encrid membuka matanya kembali, hari masih dini hari.

Awal dari hari yang sama seperti hari-hari lainnya.

Hanya mengangkat tubuh bagian atasnya dari tempat tidur, Encrid mengembuskan napas dalam-dalam lalu membuka suara.

"Kurasa teknik ini benar-benar menyebalkan. Rem."

"...Aku sudah bangun. Aku bisa mendengar semuanya."

"Aku tahu."

"Tapi kau mengutuk bahwa ini menyebalkan di pagi buta begini? Apa aku muncul tanpa busana di mimpimu atau bagaimana?"

"Tidak, tekniknya saja yang menyebalkan."

Sebuah teknik yang hanya bisa kau rasakan dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri.

Isn't that a shitty technique? (Wait, let's translate: Bukankah itu teknik yang payah?)

Kendati demikian.

Pada hari tepat sebelum dia mati, hari yang tidak bisa ingat oleh Rem, Encrid tersenyum.

Dia merasa puas.

Momen saat dia melihat jalan di depannya selalu mendebarkan baginya.

"Selamat pagi."

Encrid melontarkan sapaan itu lalu melangkah keluar untuk memulai harinya.

"...Kau bilang teknik itu menyebalkan."

Di belakangnya, Rem menggerutu dan bersungut-sungut.

He thought that the Platoon Leader was definitely not normal. (Wait, let's translate: Dia membatin bahwa Komandan Peleton itu jelas tidak normal.)

Dan tebakannya tidak salah.

Encrid menghadapi hari baru.

Hari musim semi, musim yang konon dipenuhi dengan keajaiban.

Dunia masih berada dalam musim semi.

Dan Encrid harus menikmati musim semi ini untuk sementara waktu.

Karena memperbarui hatinya kembali bukanlah perkara yang mudah.

"Ini hari yang sangat menyenangkan."

Itu adalah hari di mana dia bisa melihat petunjuk arah, jadi dia tidak membencinya.

Setelah itu, Encrid mati berkali-kali lagi.

Namun, ada juga hari-hari ketika dia tidak bisa mati dan harus menjalani hari itu sampai selesai.

Kematian yang disengaja.

Lalu, apakah dia akan lanjut ke hari berikutnya begitu saja? Pikiran semacam itu terlintas di benaknya.

Tampaknya pengulangan waktu itu didasarkan pada kematian pertamanya.

Terlepas dari rasa penasarannya tentang apa yang akan terjadi, pada akhir hari ketika dia tidak bisa mati karena gagal membujuk Rem dan malah membebani tubuhnya hingga kelelahan, saat dia bangun, dia kembali ke 'hari ini' yang asli.

Haruskah dia menyebutnya titik balik yang dimulai dengan kematian? Bagaimana ini bisa terjadi? Sebuah pertanyaan muncul, tetapi dia segera menepisnya.

Apa gunanya memikirkannya? Yang bisa dia lakukan di sisa hari ini hanyalah terus memacu tubuhnya.

Pada hari-hari ketika dia tidak bisa mati dan harus menjalani hari ini, apa boleh buat.

Meskipun dia menunjukkan kesungguhannya kepada Rem dan berbicara dengan ketulusan serta keseriusan setiap saat, hasilnya sering kali berbeda.

"Percayalah padaku dan lakukan."

"Tidak, sialan, apa menurutmu ini masuk akal? Aku bisa gila, sungguhan."

Keberhasilan, yaitu pada hari ketika dia berhasil membujuk Rem, dia melihat ekspresi yang belum pernah dia lihat sebelumnya di wajah pria itu.

Ekspresi aneh yang bercampur antara kebingungan, kepanikan, kekonyolan, dan seolah-olah dia sedang terpikat oleh sesuatu.

"Tidak, apa yang tidak bisa dilakukan, tetap tidak bisa dilakukan."

Saat dia menghadapi momen sebaliknya, dia melihat ekspresi yang menunjukkan tekad yang bulat.

Apa perbedaan antara kedua 'hari ini' tersebut? Rasanya tidak ada perbedaan yang besar.

Berbicara dengan ketulusan pun sama saja.

Ada satu perbedaan.

Setelah mengulanginya sekitar enam puluh enam kali, dia merasa kurang lebih sudah paham.

Apa yang kurang selain ketulusan dan kesungguhan?

"Lakukan."

Dia harus memerintahkannya.

Mengapa? Mengapa orang seperti Rem menuruti kata-katanya dengan sangat patuh?

Rasa ingin tahu muncul ke permukaan, tetapi dia menundanya.

Seiring berjalannya waktu, pasti akan ada kesempatan untuk mengetahuinya.

Namun tidak untuk sekarang.

"Lakukan."

"Lakukan."

"Lakukan."

"Lakukan."

"Lakukan."

"Lakukan."

"Kukatakan lakukan."

"Sudah kubilang lakukan."

"Lakukan."

"Lakukan."

"Lakukan saja."

"Lakukan saja."

"Diam dan lakukan tugasmu."

Dia menjalani 'hari ini' yang tak terhitung jumlahnya.

Demikianlah hari ini berlalu, dan hari ini lagi, dan hari ini sekali lagi.

"Eh? Ada apa?"

Pada satu titik, dia tidak lagi membutuhkan sentuhan Rem.

Itu terjadi sekitar waktu dia telah melewati pengulangan yang kedelapan puluh.

Setelah itu, dia merasa seolah-olah dia menjadi gila dengan sendirinya.

Itu berkat keberhasilannya mendapatkan sensasi tersebut tanpa bantuan Rem lagi.

Setelah mengulanginya berkali-kali.

Tukang Perahu Sungai Hitam muncul dalam mimpinya sekali lagi.

"Itu bukanlah dinding pembatas."

Tukang perahu itu berujar, dan Encrid mendengarkan.

Dia masih belum bisa menjawab.

Bahkan secuil emosi pun tidak terlihat dari kata-kata si tukang perahu.

Sebuah perahu kecil yang mengapung di Sungai Hitam, si tukang perahu, riak gelombang air.

Encrid berada di atas perahu itu.

"Pergilah."

Mendengar perkataan si tukang perahu, Encrid membuka matanya.

Dia tidak terlalu mempertanyakan kata-katanya.

Dia juga tidak memaksakan rasa penasarannya.

Dia bahkan tidak bisa bertanya mengapa Rem mematuhi perintahnya saat ini.

Apa gunanya mengetahui isi pikiran seorang tukang perahu yang hobinya mendayung?

Kalimat 'itu bukanlah dinding pembatas' tertanam begitu saja di lubuk dadanya.

Apa yang dimaksud dengan dinding pembatas? Itu pasti rintangan yang membuatnya terus mengulangi hari ini.

Kata-kata tukang perahu pasti berarti bahwa apa yang terjadi sekarang terlepas dari kehendaknya sendiri.

*Lalu apa yang harus kulakukan?*

Tentu saja, itu bukan urusan Encrid.

Entah itu tertanam jauh di lubuk dadanya atau hanya menempel di permukaan saja, dia mencabut dan membuangnya jauh-jauh.

Dia memiliki banyak hal yang harus dilakukan, jadi mengabaikan hal-hal sepele bukanlah masalah.

"Selamat pagi, Rem."

Encrid menyapa lalu bangkit berdiri.

"Eh? Bagaimana kau tahu aku sudah bangun?"

"Tahu saja."

Bagaimana dia bisa tahu? Dia tahu karena telah mengulanginya lebih dari seratus kali.

Awal dari hari baru.

Encrid mengaktifkan Heart of Power.

DEG!

Jantungnya berdegup kencang, menyegarkan otot-otot di seluruh tubuhnya.

Darah mengalir deras bagaikan orang gila.

Rasanya seolah-olah seekor kuda sedang berderap kencang di jalanan pembuluh darahnya yang teraspal mulus.

Deg.

Dan jantungnya tidak meledak.

"...Aku akan menanyakan dua hal saja."

Segera setelah itu.

Rem membuka suara.

Dia sengaja menunjukkannya di saat Rem keluar, agar pria itu melihatnya, untuk diperlihatkan kepadanya.

Bahwa dia telah mempelajarinya dengan benar.

Dia harus menunjukkan kepadanya bahwa dia telah berhasil.

"Pertama, apakah kau mungkin berasal dari wilayah barat. Dan yang kedua."

Rem memilih kata-katanya sejenak sebelum bertanya dengan hati-hati.

"Apakah kau sebenarnya seorang jenius?"

Encrid tertawa kecil.

Memikirkan kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut Rem.

Dia sama sekali tidak menduganya.

"Bukan, tidak keduanya."

Saat dia menjawab dengan datar, Rem menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

"Tapi bagaimana mungkin itu bisa dilakukan hanya dalam sehari?"

Bagi Encrid, itu tidak bisa disebut sehari saja.

Namun bagi Rem, itu adalah satu hari.

He had just witnessed him using a technique he couldn't even get a feel for just one night ago. (Wait, let's translate: Dia baru saja menyaksikan Encrid menggunakan teknik yang semalam pun bahkan belum bisa dirasakan sensasinya.)

Encrid, yang seluruh kulitnya memerah, selesai mengaktifkan Heart of Power lalu membuka suara.

Khawatir, terkejut, dan tercengang memang wajar saja, tetapi.

"Bagaimana kalau berlatih tanding satu ronde?"

Bukankah dia ingin menggerakkan tubuhnya sekarang?

"Hmph, kedenangannya menarik."

Sahut Rem.

Dia juga bukan tipe orang yang hidup terbebani oleh kekhawatiran.

Trang.

Pedang beradu kapak.

Keduanya saling menyapa.

Sekali lagi, pertarungan latihan, latihan tanding lainnya, sebuah momen untuk mengukur pertumbuhannya.

Encrid

Encrid

Karakter Utama
Ragna Zaun

Ragna Zaun

Pendukung
Rem

Rem

Pendukung
Audin Pumrei

Audin Pumrei

Pendukung
Jaxon Benzino

Jaxon Benzino

Pendukung
Kreise Allman

Kreise Allman

Pendukung
Shinar Kirhais

Shinar Kirhais

Pendukung
Esther

Esther

Heroine
Dunbachel

Dunbachel

Pendukung
Finn

Finn

Pendukung
Luagarne

Luagarne

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.