Chapter 168: Tetap Saja, Aku Berjalan Bersamamu (3)
Chung Myung melangkah berjalan menyusuri trotoar jalan raya Kota Namyeong dengan tatapan mata yang teramat kosong seolah jiwanya sedang kerasukan sesuatu.
Arah langkah kakinya menuntunnya kembali menuju ke arah lokasi runtuhnya kompleks Makam Pedang di luar kota.
Dengan tempo langkah kaki yang tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu lambat, ia melangkah melintasi gerbang batas kota menuju ke arah kaki Gunung Gunyeopsan, dan mulai mendaki jalur pendakian tunggal di lereng gunung dengan garis wajah yang terperangah cemas.
"Santo Pengobat. Talgeom Muheun. Santo Pengobat. Talgeom Muheun. Pil Asal Mula. Murid pewaris..."
Di sepanjang rute pendakian tebing terjal tersebut, bibirnya tiada hentinya membisikkan rangkaian kata-kata misterius itu berulang kali secara monoton.
Berpikir.
Aku wajib mengerahkan seluruh kapasitas otakku untuk berpikir jernih.
Aktivitas memutar otak menggunakan analisis filsafat sebenarnya bukanlah keahlian utama bagi gaya bertarung fisiknya, namun untuk situasi kebuntuan taktis saat ini, tidak ada satu pun praktisi di dunia selain dirinya yang memiliki kapasitas memori untuk memecahkan teka-teki gila ini.
Di dalam kepala Chung Myung, ratusan petunjuk sejarah yang saling bertolak belakang saat ini sedang berputar-putar menciptakan badai kebingungan yang teramat rumit.
'Variabel berharga apa yang sejak awal sangat ingin kuamankan dari dalam gua kemarin?'
Ramuan obat Pil Asal Mula.
Serta dokumen resep pemurnian detail mengenai metode pembuatan Pil Asal Mula tersebut.
'Lalu di dalam faksi mana seluruh variabel legendaris itu dikabarkan disimpan oleh sejarah?'
Kompleks Makam Pedang.
Yang diyakini oleh seluruh Murim sebagai makam resmi milik pendekar perampas Talgeom Muheun.
Kesalahan fatal dari analisis berpikir kita semua sejak awal ternyata terletak pada titik koordinat tersebut.
Santo Pengobat memang merupakan sosok asli di balik topeng nama alias Talgeom Muheun, tetapi motif perjuangan dari identitas Talgeom Muheun sama sekali tidak mewakili seluruh esensi dasar dari status Santo Pengobat itu sendiri.
Kelalaian fatal rombongan kita kemarin adalah menolak memikirkan adanya jurang perbedaan filosofis yang teramat sangat tipis namun krusial di antara kedua identitas tersebut sejak hari pertama keberangkatan kita ke Namyeong.
Seandainya Santo Pengobat di masa lalu memang berniat mengidentifikasi seluruh sisa warisan hidupnya di bawah nama keagungan Talgeom Muheun, ia dijamin tidak akan pernah berupaya menutupi fakta tersebut menggunakan nama alias rahasia sepanjang hayatnya, dan ia juga bersumpah tidak akan pernah rela memamerkan lokasi makam pribadinya ke hadapan dunia luar persilatan di bawah nama provokatif Makam Pedang.
Ini menandakan sejak hari pertama pendiriannya, seluruh struktur bangunan Makam Pedang yang dilingkari jebakan mematikan kemarin sama sekali tidak pernah dirancang untuk bertindak sebagai tempat persemayaman terakhir bagi sisa-sisa warisan berharga milik Santo Pengobat yang sesungguhnya.
Sebab pada kenyataannya, bukankah satu-satunya komoditas fisik yang berhasil ditemukan oleh ratusan pendekar di dalam gua terdalam kemarin murni hanya berupa tumpukan rongsokan senjata logam berkarat yang sudah kehilangan seluruh nilai gunanya?
Jika asumsi itu benar.
Lalu di titik koordinat mana sebenarnya letak dari makam persemayaman warisan asli milik Santo Pengobat—sebagai seorang tabib medis agung yang melahirkan Pil Asal Mula, bukan sebagai perampas pedang Talgeom Muheun yang penuh dengan dendam—berada saat ini?
'Seluruh analisis taktis ini hanya menunjuk ke arah satu jalur jalan yang sama.'
Selentingan desas-desus tabib kemarin memang mengabarkan bahwa Gunung Gunyeopsan di masa lalu memiliki beberapa alternatif rute jalan setapak lainnya untuk mencapai puncak.
Namun pada suatu waktu yang tidak tercatat di dalam sejarah, akibat terjadinya bencana longsor alam yang dahsyat, seluruh jalur pendakian alternatif tersebut hancur tertutup tanah dan menyisakan jalur tunggal ini sebagai satu-satunya akses mendaki.
Kondisi bencana longsor tersebut seolah-olah sengaja dirancang secara khusus untuk memastikan setiap praktisi yang berniat mendaki ke puncak Gunung Gunyeopsan dipaksa melangkah melintasi titik koordinat di mana gerbang pintu masuk Makam Pedang berada.
Tepat saat Chung Myung melangkah menapakkan kaki di area lereng tebing dengan pandangan mata setengah linglung, sebuah kawah raksasa yang teramat sangat luas nan dalam bekas runtuhnya langit-langit gua Makam Pedang kemarin seketika menampakkan wujudnya di depan mata.
Ia berdiri tepat di bibir tebing kawah raksasa tersebut dan menatap kosong ke arah kegelapan reruntuhan tanah di bawah kakinya dengan ekspresi wajah yang terperangah cemas.
'Makam Pedang.'
Ini adalah lanskap fisik dari Makam Pedang yang sesungguhnya.
Sebuah titik koordinat kehancuran yang wajib dicapai oleh siapa saja yang berniat mendaki gunung ini.
"Jalan Dao yang lurus. Jalan kesesatan yang berliku. Jalur kebenaran. Dan titik koordinat yang menolak disebut sebagai jalan."
Seorang praktisi yang memilih untuk menghabiskan hidupnya berjalan menyusuri rute kesesatan yang tidak memiliki arah moral dijamin tidak akan pernah sanggup mencapai titik kebenaran spiritual ini; hanya seorang praktisi bela diri sejati yang memiliki ketulusan hati untuk berjalan di atas jalur kebenaran moral yang lurus saja yang pada akhirnya akan sanggup menapakkan kakinya di sini.
"...Apakah Sago baru saja berhasil memecahkan teka-teki gila di balik kehancuran gua ini?"
Mendengar bisikan pertanyaan lirih dari mulut Baek Cheon di belakang jubahnya, kepala Chung Myung seketika berputar tajam menatap ke arahnya.
Baek Cheon sempat tersentak mundur satu langkah mendapati adanya kilatan kobaran api keyakinan yang teramat dahsyat membara di dalam sepasang mata Chung Myung saat ini.
"Sasuk."
"Y-Ya?"
"Tindakan fisik apa sebenarnya yang langsung dieksekusi oleh ratusan pendekar asing saat pertama kali mereka berhasil menemukan lokasi pintu gerbang Makam Pedang kemarin?"
"Apa maksud dari pertanyaanmu itu, bocah?"
"Kukatakan kepadamu untuk segera menjawab pertanyaan sederhana berupa tindakan apa yang dilakukan oleh gerombolan manusia serakah itu saat pertama kali melihat pintu masuk Makam Pedang?!"
"Yah..."
Meskipun ia merasa terkejut menerima bentakan secara mendadak seperti itu di depan tebing, ia tetap berusaha menjawab secepat mungkin menyusun memorinya.
Sebab ia menyadari bahwa seluruh rangkaian pertanyaan aneh yang diluncurkan oleh Chung Myung saat ini merupakan bagian penting dari proses rekonstruksi taktis di dalam otaknya.
"Mereka tentu saja langsung berlari kencang menerobos masuk ke dalam gua."
"Melalui metode apa?"
"Tunggu, pertanyaan bodoh macam apa sebenarnya yang sedang kau suarakan ini? Tentu saja mereka langsung mendobrak pintu besi gerbang lalu melangkah berjalan masuk ke..."
Kalimat Baek Cheon seketika terhenti membungkam mulutnya sendiri rapat-rapat saat otaknya menangkap makna tersirat dari pertanyaan tersebut.
Mendobrak pintu gerbang lalu melangkah masuk.
"Memasuki gerbang perguruan (ipmun)."
Sebuah ungkapan bela diri yang memiliki ribuan makna aplikasi di dalam rimba persilatan Murim.
Namun di dalam konteks filsafat pendirian bangunan Makam Pedang ini, makna dari kata 'memasuki gerbang perguruan' murni hanya menunjuk ke satu esensi saja.
"Sebuah pintu gerbang raksasa yang dibentuk dari wujud relief dua orang pendekar yang sedang saling menodongkan ujung bilah pedang mereka ke depan dada lawan."
"Benar sekali. Itu adalah representasi visual dari detik pertama saat seseorang memutuskan untuk menapakkan kakinya melangkah masuk ke dalam gerbang dunia persilatan Murim."
Ekspresi wajah Chung Myung sedikit berkerut tegang saat ia menyuarakan kalimat analisisnya sendiri.
"Lalu rute jalan seperti apa yang wajib mereka lalui setelah melewati gerbang tersebut?"
"Sebuah terowongan batu yang teramat panjang dan secara bertahap ukurannya menyempit semakin sempit di depan. Dengan dilingkari oleh berbagai jebakan anak panah mematikan di sana-sini."
Jo Geol secara refleks menepukkan kedua telapak tangannya keras menahan seru.
"Aku memahaminya sekarang! Seluruh terowongan menyempit itu adalah representasi visual dari proses latihan keras!"
"Tebakanmu sangat akurat sekali, Geol. Itu adalah representasi visual dari latihan keras. Proses melatih diri pada dasarnya adalah tindakan berjalan menyusuri rute jalan yang secara bertahap akan menyempit semakin ketat di depan. Seluruh praktisi bela diri di dunia memulainya dari jalur jalan yang teramat lebar nan nyaman, namun seiring berjalannya waktu dan meningkatnya tingkat kesulitan latihan, sekelompok praktisi yang tidak memiliki ketahanan mental yang cukup kuat akan mulai tersingkir gugur satu per satu di tengah jalan. Hanya menyisakan sekelompok kecil praktisi tangguh yang sanggup melampaui seluruh siksaan tersebut untuk maju ke tahap pembelajaran berikutnya."
"Dengan dipaksa untuk menembus berbagai rintangan cedera fisik yang teramat besar dari waktu ke waktu."
Chung Myung menganggukkan kepalanya dengan sangat mantap tanda ia menyetujui analisis Jo Geol.
Segala sesuatunya saat ini telah tersaji dengan sangat jernih di dalam kepalanya.
"Dengan kata lain..."
Baek Cheon mencoba menarik kesimpulan akhir dari seluruh penjelasan filsafat tersebut.
"Seluruh tata letak arsitektur kompleks Makam Pedang sejak awal didirikan murni sebagai bentuk representasi visual dari proses perjalanan hidup yang wajib ditempuh oleh seorang manusia. Dimulai dari detik pertama ia melangkah masuk gerbang persilatan, hingga ke fase ia memeras keringat mengultivasi kekuatan fisiknya menyusuri jalur bela diri."
"Besar kemungkinan memang seperti itu motif pendiriannya."
Barulah pada detik pemahaman itulah Baek Cheon akhirnya sanggup mencerna alasan di balik tata letak jebakan aneh yang mereka lalui di dalam gua kemarin.
"Tetapi jalur jalan di dalam gua kemarin sempat terbagi menjadi beberapa alternatif jalan setapak di tengah terowongan."
"Variabel itu juga merepresentasikan realitas di dalam proses pembelajaran bela diri. Meskipun gerbang awal pembelajaran yang kalian lalui sama, setiap praktisi bela diri pada akhirnya dipastikan akan memilih jalur spesialisasi pedang yang berbeda-beda di tengah jalan, menyesuaikan dengan watak dan kapasitas bakat fisik mereka masing-masing. Namun apa hasil akhir yang tersaji di ujung dari terpecahnya jalur jalan kemarin?"
"...Seluruh alternatif jalur jalan setapak tersebut secara luar biasa kembali menyatu di satu titik terowongan."
"Mancheonhwigwi (Semua Aliran Air Kembali ke Satu). Seberapa banyak pun cabang jalur alternatif yang kalian pilih sepanjang perjalanan latihan pedang kalian di bawah, pada akhirnya seluruh aliran ilmu pedang tersebut dipastikan akan kembali bermuara menyatu pada satu jalur jalan yang sama di bawah arahan kehendak agung dari Dao."
Baek Cheon menyahut dengan nada suara yang terdengar menyerupai rintihan kagum di dadanya.
"...Tahap pencapaian akhir dari kesempurnaan bela diri."
"Tepat sekali."
Kompleks aula batu raksasa tempat di mana rombongan Chung Myung kemarin terpaksa harus bertarung mati-matian menahan gempuran senjata dari Jo Myeongsan dan gerombolan Tiga Iblis Pembunuh.
Titik koordinat aula tersebut adalah tempat di mana seluruh percabangan terowongan yang sebelumnya terpisah kembali menyatu sempurna menjadi satu aula besar.
Seolah-olah Santo Pengobat ingin menyuarakan pesan filsafat bahwa seberapa berbeda pun idealisme bela diri yang dipegang oleh setiap pendekar di bawah langit, tujuan akhir yang ingin diraih oleh kedua telapak tangan mereka pada akhirnya dipastikan akan bermuara pada satu ambisi kekuasaan yang sama.
"Lalu lanskap apa yang wajib dilalui oleh rombongan kita setelah melewati aula pertempuran tersebut?"
"...Sebuah terowongan gelap gulita yang teramat sangat panjang nan sunyi. Dan ancaman teror dari serangan mayat hidup Jiangshi."
Yoon Jong merintih lirih mengingat kengerian terowongan tersebut.
"Simma (Iblis Hati)."
"Benar. Kegelapan batin yang teramat pekat nan sunyi yang dijamin pasti akan mendatangi pikiran setiap praktisi bela diri tepat pada detik-detik terakhir sebelum mereka berhasil menyempurnakan kultivasi tingkat tertinggi mereka. Simma."
"Lalu bagaimana dengan rintangan tebing curam di ujung terowongan kemarin? Tindakan mendaki tebing batu setelah dipaksa melewati siksaan mental Simma..."
Kali ini kalimat jawaban tidak meluncur dari mulut Chung Myung, melainkan keluar secara spontan dari bibir Baek Cheon.
"Deungseon (Kenaikan Keabadian)."
Baek Cheon saat ini telah sanggup menguraikan seluruh maksud tersirat dari desain Makam Pedang secara komprehensif.
"Pancaran cahaya keemasan yang teramat sangat menyilaukan mata yang turun menyinari ujung tebing kemarin diyakini merupakan representasi visual dari keberhasilan seorang pendekar untuk menyempurnakan kultivasi tingkat tertinggi mereka. Di dalam sekte ajaran Taois hal itu dilabeli sebagai proses Deungseon; sementara di dalam sekte Buddha hal itu dikenal sebagai proses Pencapaian Pencerahan Agung."
Namun masih ada satu butir teka-teki krusial yang tetap menolak untuk terjawab secara logis di kepalanya.
"Jika seluruh rancangan gua kemarin memang mewakili filsafat kenaikan dewa? Lalu mengapa satu-satunya barang fisik yang berhasil kita temukan di ujung kawah murni hanya berupa tumpukan rongsokan senjata pusaka yang hancur berkarat serta sebuah kotak kayu kosong tanpa isi? Seandainya seorang pendekar memang berhasil menyempurnakan proses Deungseon di sana, bukankah ia sewajarnya akan mewariskan sebuah pusaka keagungan yang nyata bagi keturunannya?"
Chung Myung menyeringai tajam memamerkan deretan giginya yang putih.
"Sebab realitas dari hasil akhir kesempurnaan bela diri itu sendiri pada dasarnya adalah kekosongan tanpa arti."
"Hah?"
"Proses Deungseon, tindakan melepaskan jubah keduniawian, atau nama megah apa pun yang sering disuarakan oleh sekte persilatan luar. Di titik koordinat tertinggi yang berhasil kalian raih setelah sepanjang hidup kalian dihabiskan murni untuk bertarung dan membantai sesama manusia... tidak akan pernah ada satu pun hal berharga yang tersisa di sana untuk kalian nikmati. Sejak hari pertama, ia ingin menegaskan bahwa tidak ada nilai guna spiritual apa pun yang tersimpan di dalam tindakan melatih seni bela diri membunuh manusia. Kompleks Makam Pedang kemarin sama sekali tidak pernah didirikan oleh Santo Pengobat murni untuk menguji kelayakan bakat para pendekar Murim; melainkan didirikan khusus sebagai monumen visual untuk menertawakan kehampaan dari jalan bela diri yang mereka agung-agungkan."
Nasihat sederhana mengenai kebencian tabib yang disuarakan oleh Yu Iseol di jalan tadi adalah satu-satunya anak kunci yang berhasil membuka gerbang pemikirannya.
Santo Pengobat pada dasarnya adalah seorang tabib kemanusiaan yang taat.
Seorang manusia yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk merawat tubuh manusia dijamin tidak akan pernah memiliki pandangan mata yang ramah saat menatap kelakuan para pendekar persilatan yang tiada hentinya meluncurkan luka tebasan pedang murni demi kesenangan perang.
Tidak, bahkan jika boleh jujur, ia kemungkinan besar memandang seluruh pendekar bersenjata di persilatan sebagai musuh bebuyutan bagi kemanusiaan.
Semakin besar rasa cinta dan kasih sayang yang ia miliki terhadap kelangsungan hidup kaum lemah, maka akan semakin pekat pula tingkat kebencian yang menumpuk di dalam dadanya saat menyaksikan kelakuan kejam para pendekar bersenjata.
"Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menggunakan nama alias sebagai Talgeom Muheun, meluncurkan aksi penjarahan pedang ke berbagai sekte persilatan besar murni untuk membuktikan di depan wajah para master mutlak di era tersebut bahwa seluruh kehebatan ilmu pedang yang mereka banggakan sama sekali tidak memiliki arti di hadapannya. Yaitu dengan cara merampas pedang pusaka kebanggaan mereka secara mudah, senjata logam yang selama ini disembah sebagai simbol kesaktian bela diri klan mereka. Mengingat kapasitas keahlian alkimia medis yang dimiliki oleh Santo Pengobat terbukti sangat luar biasa hebat hingga sanggup menciptakan ramuan ajaib sekelas Pil Asal Mula, ia tentu saja memiliki cadangan energi Qi internal yang teramat sangat melimpah untuk meluncurkan serangan fisik mematikan, meskipun gerak jurus pedangnya tidak memiliki keindahan bentuk."
"...Namun meskipun ia berhasil melakukan penjarahan pedang massal sepanjang hidupnya, kenyataan di persilatan tetap tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik."
"Benar sekali. Tingkat keterikatan mental dan obsesi gila yang dimiliki oleh para pendekar terhadap kesaktian ilmu bela diri mereka tersaji jauh melampaui imajinasi terburuk kita. Santo Pengobat murni hanya ingin menyampaikan pesan filsafat sederhana di ujung hidupnya. Bahwa seluruh seni bela diri yang kalian banggakan sepanjang hayat pada dasarnya hanyalah merupakan sebuah alat pembantai yang membawa bencana kematian bagi umat manusia. Seberapa indah pun kalian mencoba membungkus esensi pedang kalian menggunakan untaian kata-kata suci ajaran Dao atau filsafat suci Buddha, hasil akhir yang tersisa dari pedang pembantai kalian pada dasarnya hanyalah kehampaan tanpa arti."
Baek Cheon memegangi pundak jubahnya erat merasakan adanya seutas hawa dingin yang teramat mengerikan seketika menjalar menyusuri sumsum tulang belakangnya.
Sebuah obsesi batin yang teramat tebal, dan sebuah kegilaan filsafat yang teramat mengerikan.
Memikirkan seorang tabib tua rela menghabiskan seluruh sisa usianya dan memeras keringat mendirikan kompleks bawah tanah berskala raksasa sekelas Makam Pedang murni hanya demi menyajikan satu pesan sindiran filosofis tersebut bagi dunia Murim luar.
Seberapa besar sebenarnya tingkat keteguhan watak keras kepala yang dimiliki oleh Santo Pengobat semasa hidupnya dulu?
"Jadi, sejak hari pertama pintu gua dibuka kemarin, isi di dalam kotak kayu di ujung tebing memang tidak pernah dirancang untuk diisi oleh butir ramuan obat apa pun?"
"Tepat sekali."
"..."
"Perjuangan rombongan kita sepanjang minggu ini ternyata berakhir dengan sia-sia tanpa hasil."
Mendengarkan kesimpulan akhir mengenai motif asli di balik pendirian Makam Pedang tersebut, seluruh murid Gunung Hua secara bersamaan melepaskan desah helaan napas panjang yang teramat pasrah.
"Tetapi jika kotak di dalam gua memang kosong sejak awal? Lalu atas dasar alasan taktis apa Sago memaksa kami melangkah kembali mendaki lereng tebing Crimson Labor Mountain sore ini? Apakah perjalanan mendaki kawah runtuh ini murni ditujukan hanya untuk mengonfirmasi kebenaran sejarah kosong tersebut?"
"Tentu saja tidak."
Chung Myung menggelengkan kepalanya mantap menyangkal kekhawatiran mereka.
"Kukatakan kepadamu sekali lagi. Kompleks Makam Pedang kemarin sama sekali tidak pernah mewakili fungsi makam persemayaman asli bagi warisan Santo Pengobat. Itu murni hanyalah area pemakaman bagi identitas palsunya sebagai perampas pedang Talgeom Muheun. Santo Pengobat di dalam lubuk hatinya yang terdalam sama sekali tidak pernah bersedia mengidentifikasi sisa-sisa warisan hidupnya di bawah nama kriminal Talgeom Muheun. Identitas Talgeom Muheun hanyalah sebatas topeng kosong sementara yang sama sekali tidak layak disandingkan dengan keagungan warisan alkimia medis asli yang telah ia ciptakan sepanjang hayat."
"..."
"Lalu tindakan psikologis apa yang sewajarnya akan dieksekusi oleh seorang manusia ketika ia mendapati seluruh target perjuangan hidup yang ia kejar sepanjang hayat terbukti berakhir hancur berantakan?"
"...Mereka secara alami pasti akan segera mencari target perjuangan baru untuk menyelamatkan mental mereka."
Warga biasa dipastikan akan mendongakkan kepala mereka menatap ke arah langit mencari harapan baru.
Kemarin siang di dalam gua, seluruh pendekar bersenjata dari berbagai faksi secara serentak memusatkan pandangan mata mereka menatap lurus ke arah langit-langit gua yang runtuh, bahkan Chung Myung sendiri di saat-saat terakhir runtuhnya gua secara refleks terus mencari celah pancaran sinar matahari yang turun dari celah langit.
Seolah-olah di atas langit sana masih tersisa seberkas keagungan cahaya dewa yang siap menyelamatkan kelangsungan hidup mereka.
"Tetapi bagi seorang tabib medis yang telah berhasil menyadari kehampaan dari seluruh ambisi tinggi di atas langit tersebut, ia dijamin akan segera menundukkan kepalanya menatap ke arah permukaan tanah di bawah kakinya. Sebab di atas permukaan tanah gersang tersebut... di titik koordinat terendah yang sepanjang hayatnya tidak pernah sudi ditatap oleh sepasang mata sombong para pendekar bela diri, di sanalah letak dari esensi kehidupan yang sesungguhnya berada. Di sanalah letak dari kelangsungan hidup manusia, dan di sana jugalah barisan rakyat jelata yang sekarat berada."
Chung Myung terus menyuarakan kalimat analisismya tanpa jeda.
Kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya saat ini jelas bukan ditujukan untuk mendidik mental adik-adik seperguruannya.
Melainkan murni merupakan aliran ide taktis yang meluncur deras bagai air bah di dalam kepalanya yang secara spontan dirumuskan kembali dalam bentuk untaian kalimat lisan.
"Lalu langkah operasional apa yang wajib dieksekusi oleh seorang praktisi bela diri yang telah berhasil menyadari kebenaran filsafat tersebut? Tindakan apa yang wajib ia lakukan berikutnya?"
"Melangkah pulang kembali ke titik awal keberangkatan mereka?"
"Sama sekali bukan."
Langkah kaki Chung Myung perlahan-lahan kembali bergerak menyusuri jalan setapak.
"Ia wajib mengayunkan kedua telapak kakinya melangkah maju ke depan. Seberapa salah pun target perjuangan awal yang pernah ia tetapkan di masa lalunya dulu. Seberapa tebal pun noda darah kejahatan yang telah ia goreskan di sepanjang perjalanannya menyusuri rute bela diri pedang pembantai. Selama nafas kehidupan masih berembus di dalam dadanya, ia tetap memiliki hak spiritual untuk melangkah maju ke depan memperbaiki diri."
Titik koordinat yang dituju oleh arah langkah kaki Chung Myung saat ini secara mengejutkan adalah sebuah jalur jalan setapak terpencil yang membentang terus melewati bibir kawah kawah reruntuhan gua.
Sebuah rute jalan terpencil yang sama sekali tidak pernah dilirik oleh sepasang mata praktisi mana pun kemarin siang.
Ada ratusan pendekar bersenjata dari berbagai sekte yang berkumpul mengantre di lereng tebing Crimson Labor Mountain kemarin, namun tidak ada satu pun di antara mereka yang bersedia mengayunkan kaki mereka melintasi jalur kelanjutan jalan setapak ini setelah berhasil menemukan posisi gerbang Makam Pedang, dan anehnya tidak ada satu pun praktisi yang merasa janggal atas keputusan tersebut.
Sebab fokus utama dari nafsu ketamakan mereka sejak awal memang sudah terkunci sepenuhnya pada titik koordinat gerbang Makam Pedang saja.
"Santo Pengobat sepanjang hidupnya telah menebarkan teramat banyak sekali petunjuk petunjuk taktis yang teramat eksplisit nan ramah di lereng gunung ini bagi kita. Salah satunya adalah sebidang tanah gersang di tengah-tengah kelebatan hutan lereng gunung di depan yang sama sekali tidak ditumbuhi oleh sebutir pun tanaman rumput liar. Di dalam pandangan mata sekelompok pendekar yang jiwanya telah dibutakan oleh nafsu ketamakan berburu harta pusaka melegenda dijamin akan langsung menafsirkan lahan gersang tersebut sebagai area tanah suci yang mengandung emas... padahal realitasnya itu hanyalah sebidang tanah mati yang telah kehilangan seluruh kesuburannya akibat kontaminasi zat kimia berbahaya."
"Ah..."
Mendengar kata kunci 'tanah mati' tersebut, seutas benang merah taktis seketika terhubung sempurna di dalam kepala seluruh murid Gunung Hua.
Memikirkannya kembali secara saksama, Santo Pengobat di sepanjang jalur pendakian Gunung Gunyeopsan sebenarnya telah menyajikan teramat banyak sekali petunjuk detail yang menjelaskan realitas Makam Pedang dengan sangat jujur nan eksplisit.
Hanya saja, nafsu ketamakan batin dari para pendekar persilatan yang terlampau fokus berburu butir ramuan Pil Asal Mula dan koleksi senjata pusaka dewa telah menutup rapat gerbang logika di dalam kepala mereka untuk sanggup berpikir jernih.
Bahkan rombongan murid Gunung Hua sendiri pada hari pertama kedatangan mereka kemarin langsung meluncurkan gerakan melompat menerobos masuk ke dalam gua gerbang Makam Pedang tanpa memikirkan alternatif lain, dan setelah gua tersebut runtuh hancur menjadi debu kemarin, mereka secara refleks langsung berputar badan melangkah pulang tanpa memikirkan opsi pencarian tambahan.
Sebab bagi para pendekar yang target hidupnya murni hanya terikat pada wujud fisik Makam Pedang saja, keberadaan jalur jalan setapak yang membentang lebih jauh di belakang gerbang sama sekali tidak memiliki nilai penting bagi kelangsungan hidup mereka.
Chung Myung kembali meluncurkan langkah kakinya berjalan cepat ke depan dengan pandangan mata yang teramat fokus.
Melangkah meninggalkan sebidang tanah mati gersang, melewati kawasan kawah raksasa runtuhan gua—yaitu sebuah area di mana seluruh keagungan nama besar Talgeom Muheun telah runtuh lebur kembali menjadi abu kehampaan...
Menuju ke arah jalur jalan setapak terpencil yang masih terus membentang jauh di belakang tebing.
Ia berjalan membelah kelebatan ranting pohon dan semak berduri yang menutupi permukaan jalan setapak dengan tangannya sendiri.
'Jadi pesan moral ini yang sejak awal ingin kau suarakan kepada generasi baru, Santo Pengobat.'
Kehampaan dari jalan bela diri pedang pembantai bukanlah merupakan akhir dari perjalanan hidup seorang manusia.
Berjalanlah.
Tetaplah mengayunkan kedua telapak kakimu melangkah maju ke depan.
Seberapa hancur pun target impian yang telah kau perjuangkan sepanjang hayatmu, jangan pernah biarkan jiwamu dirundung oleh keputusasaan batin yang mendalam, dan seandainya kau telah berhasil menyadari kebenaran dari realitas kehidupan yang terpampang di bawah telapak kakimu saat ini... pintu pertobatan sama sekali belum ditutup rapat bagi jiwamu, oleh karena itu tegakkan kepalamu kembali dan melangkahlah maju ke depan menggunakan kedua kakimu sendiri.
Bukan demi kejayaan ilmu bela diri pedang pembantai, melainkan murni demi kelangsungan hidup kemanusiaan itu sendiri.
Tempo langkah kaki Chung Myung secara bertahap bertransformasi menjadi teramat anggun nan berwibawa.
Chung Myung secara pribadi sebenarnya sama sekali tidak sepakat dengan filsafat spiritual cinta damai yang dianut oleh Santo Pengobat semasa hidupnya dulu.
Namun ia tetap berkewajiban untuk menaruh rasa hormat yang setinggi-tingginya atas kehebatan rancangan taktis yang telah didirikan oleh pria tua tersebut menggunakan seluruh warisan pengetahuan hidupnya di gunung ini.
Tak lama kemudian.
Rombongan mereka akhirnya resmi menapakkan kaki di sebuah area tanah lapang yang teramat sangat luas nan terbuka.
Namun lanskap tanah lapang di titik koordinat ini menyajikan pemandangan yang teramat sangat berbeda dengan lanskap tanah mati yang mereka temukan di lereng depan tadi, menyajikan keharmonisan alam yang teramat sangat asri nan menyejukkan mata.
Aliran air bersih tampak mengalir jernih keluar dari celah-celah bebatuan gunung yang kokoh, dan area sekeliling tanah lapang dipenuhi oleh kelebatan rumput hijau yang tumbuh subur nan segar.
Barisan pepohonan hutan tumbuh berdiri tegak secara alami, dan sekelompok hewan liar yang sebelumnya sedang asyik bermain dengan tenang di sekitar kolam air seketika melesat pergi berlari menyembunyikan diri ke balik semak akibat dikejutkan oleh kedatangan rombongan Chung Myung.
Sebuah area alam biasa yang sama sekali tidak memiliki keunikan fisik apa pun, menyajikan lanskap alam pegunungan yang teramat sangat alami tanpa sentuhan arsitektur buatan manusia.
Namun murni karena kesederhanaan lanskap alamnya itulah yang membuat Chung Myung memiliki keyakinan 100% bahwa titik koordinat inilah yang merupakan lokasi makam warisan asli yang dipilih oleh Santo Pengobat untuk mengistirahatkan warisan hidupnya yang sesungguhnya.
Sebab area asri ini menyajikan kontras keindahan yang teramat sangat sempurna jika disandingkan dengan kehancuran tanah mati di depan Makam Pedang tadi.
"Bagi sekelompok pendekar serakah yang tidak memiliki pemahaman spiritual untuk mencerna kehendak mulia dari Santo Pengobat, mereka dipastikan hanya akan melangkah melewati tanah lapang ini secara acak tanpa memikirkan rahasia apa pun di dalamnya."
"Ucapanmu sangat akurat sekali, Geol. Di mata praktisi luar, tempat asri ini murni hanya akan terlihat sebagai lanskap lereng gunung biasa yang tidak memiliki nilai jual finansial."
Pandangan mata Chung Myung sejak detik pertama melangkah masuk ke tanah lapang ini telah terkunci rapat menatap ke arah satu titik koordinat tertentu.
Yaitu ke arah sebuah celah retakan batu gunung di sudut tanah lapang yang mengalirkan air bersih yang teramat jernih ke bawah.
Titik retakan batu tersebut kemungkinan besar merupakan sumber mata air utama yang menyuplai seluruh kelangsungan ekosistem di sepanjang lereng Gunung Gunyeopsan selama ratusan tahun.
"Aliran airnya terasa teramat halus nan samar."
Chung Myung bergumam dengan nada suara yang teramat lirih.
"Sebuah aliran mata air yang tipis nan dangkal di lereng gunung ini, dalam jarak beberapa kilometer ke depan dipastikan akan segera menyatu dengan aliran air lainnya untuk membentuk anak sungai, bertransformasi menjadi sungai besar, dan pada akhirnya bermuara menyatu ke dalam hamparan samudra luas di bawah langit. Dan di sepanjang jalur alirannya tersebut, ia tiada hentinya menyumbangkan kehidupan bagi jutaan makhluk hidup yang tidak berdaya. Filsafat air itulah yang pada akhirnya menjelma menjadi makna sejati dari jalan Dao, dan esensi sejati dari Kebajikan."
"Seandainya Santo Pengobat di masa tuanya memang berniat mewariskan seluruh puncak pengetahuan alkimia medisnya kepada generasi setelahnya, ia berkewajiban untuk terlebih dahulu membuang seluruh ego keangkuhan bela diri serta kecemasan pribadinya dari dalam dada."
Kompleks Makam Pedang di depan adalah perwujudan dari kecemasan hidupnya (Hwa).
Lalu di manakah letak dari keagungan harga diri medis milik Santo Pengobat yang sesungguhnya berada?
"Aku..."
Chung Myung bergumam lirih dengan nada suara yang terdengar seolah jiwanya saat ini telah menyatu sempurna dengan kesadaran Santo Pengobat semasa hidupnya dulu.
"Seluruh pencapaian resep medis yang berhasil kuciptakan sepanjang hayatku di dunia ini dijamin akan menyebar ke seluruh penjuru bumi layaknya aliran mata air ini, menjadi titik awal penyelamatan bagi kelangsungan hidup jutaan umat manusia yang sedang didera penderitaan sakit."
Sebuah pemikiran filsafat yang terdengar teramat sangat angkuh nan sombong bagi ukuran manusia biasa.
Namun...
Seandainya praktisi yang mendirikan seluruh rancangan taktis ini memang benar-benar merupakan tabib legendaris Santo Pengobat, maka ia bersumpah pria tua itu memiliki hak mutlak untuk bersikap sesombong itu di depan dunia.
Chung Myung melangkah berjalan perlahan mendekati posisi retakan batu gunung yang sedang mengalirkan air jernih tersebut.
Seandainya seluruh alur logika taktis di dalam kepalanya saat ini terbukti akurat.
Seandainya pesan warisan kemanusiaan yang ingin disampaikan oleh Santo Pengobat kepada generasi masa depannya di persilatan telah berhasil ditangkap dengan sempurna oleh kesadaran Chung Myung saat ini.
Maka lokasi fisik dari warisan alkimia medis sesungguhnya yang ingin ia wariskan kepada generasi baru...
Dipastikan tersembunyi tepat di titik koordinat ini!
Chung Myung menjulurkan lengan jubah kanannya yang sedikit gemetar hebat menyusup masuk ke dalam celah retakan batu gunung yang sedang memancarkan air bersih tersebut.
Sebuah celah retakan batu yang teramat sangat sempit, hanya menyajikan lebar ruang yang cukup untuk memuat lebar dua buah telapak tangan orang dewasa saja.
Ia mendorong masuk lengan kanannya semakin dalam melintasi Retakan hingga bagian pundak jubahnya menempel rapat pada permukaan batu, dan mulai meraba-raba ke arah bagian dalam rongga batu basah tersebut.
Dalam sekejap mata, seluruh permukaan jubah bagian kanan tubuhnya basah kuyup akibat siraman air gunung.
Retakan retakan batu ini adalah sumber mata air utama bagi lereng gunung.
Sumber dari segala kelangsungan kehidupan ekosistem.
Seandainya Santo Pengobat memang berkewajiban memilih lokasi teraman untuk menyimpan warisan medis berharganya dari jarahan pendekar serakah, lokasi retakan batu basah inilah yang merupakan satu-satunya pilihan koordinat paling logis di gunung ini.
Tidak! Warisan berharga itu bersumpah demi langit wajib tersembunyi di sini!
'Praktisi bela diri yang sepanjang hidupnya belum pernah dipaksa mencicipi arti dari sebuah keputusasaan hidup yang terdalam dijamin tidak akan pernah sanggup mengurai teka-teki retakan ini.'
Seorang praktisi yang tidak memahami seberapa hampa nan sia-sia jalan pedang pembantai itu pada akhirnya dijamin tidak akan pernah sanggup mencerna esensi kebaikan yang ingin diwariskan oleh Santo Pengobat kepada dunia.
Hanya Chung Myung—seorang pendekar pedang terkuat yang di ujung kehidupan masa lalunya telah dipaksa mencicipi kehampaan batin yang paling teramat mendalam namun secara luar biasa tetap memilih untuk melangkah maju ke depan membangun kembali sektenya di era baru ini—yang memiliki kapasitas mental untuk mengurai maksud tersirat dari Santo Pengobat dengan sempurna.
Oleh karena itu di retakan batu ini!
Warisan dewa itu wajib berada di sini!
Tepat pada detik keyakinan itu memuncak di dalam batinnya.
*Deg!*
Ujung jari-jemari tangan kanan Chung Myung menyentuh sebuah permukaan benda asing di dalam retakan batu.
Informasi sensorik yang dikirimkan oleh ujung saraf jarinya seketika menegaskan satu kebenaran medis.
Permukaan asing ini sama sekali bukan merupakan bongkahan batu gunung biasa.
Benda ini dipastikan adalah...
'Sebuah kotak logam?'
Chung Myung mendorong pergelangan tangannya menyusup lebih dalam ke dalam retakan batu.
Rasa rabaan logam besi yang teramat halus nan presisi hasil tempaan pandai besi seketika terasa sangat jelas di telapak tangannya.
Ia mempererat cengkeraman telapak tangannya pada permukaan kotak logam tersebut dan menariknya keluar dari dalam retakan rongga batu secara perlahan.
*Gubraaakkk!*
Diiringi oleh pancaran semburan air gunung yang menyembur keluar semakin deras dari dalam retakan, sebuah kotak besi berbentuk persegi panjang yang teramat kokoh berhasil ditarik keluar dengan selamat oleh tangan kanan Chung Myung ke atas tanah!
Chung Myung menahan nafasnya rapat-rapat dan memandangi wujud kotak besi yang baru saja ia amankan dengan tatapan mata yang teramat fokus nan bergetar.
'Sebuah kotak warisan.'
Kedua belah telapak tangannya seketika gemetar hebat menahan keharuan yang mendalam.
Keempat rekan seperguruannya yang berdiri di samping jubahnya bahkan sampai kehilangan kemampuan untuk membuka mulut mereka murni karena terperangah ketakutan, berdiri mematung layaknya patung batu menyaksikan wujud kotak besi yang baru saja ditarik keluar dari dalam sumber mata air gunung oleh tangan Chung Myung.
Permukaan kotak besi tersebut tersaji dalam kondisi tersegel sangat rapat menggunakan kunci logam khusus, dan meskipun kotak berharga tersebut telah terendam di dalam air gunung yang dingin selama lebih dari dua ratus tahun lamanya, keutuhan fisik logamnya terbukti masih tersaji dalam kondisi yang teramat sangat sempurna tanpa adanya noda karat seujung kuku pun.
Murni hanya dengan meneliti keutuhan fisik logamnya saja sudah cukup untuk menegaskan bahwa kotak ini bukan merupakan barang sekuler biasa yang murah.
Ujung jari tangan Chung Myung secara perlahan bergerak mendekati posisi lubang kunci segel logam kotak.
*Klek.*
Meluncurkan tekanan Qi untuk merusak segel kunci dalam satu gerakan klinis yang teramat presisi, Chung Myung menarik nafas panjang menenangkan dadanya yang bergemuruh kencang.
Kemudian, dengan menggunakan kedua telapak tangannya yang gemetar hebat menahan tegang, ia membuka penutup kotak besi tersebut secara perlahan.
*Krieeet.*
Dengan diiringi oleh suara gesekan engsel logam yang teramat halus nan samar, penutup kotak besi akhirnya terbuka lebar.
Bahkan sebelum sepasang matanya sempat memindai ke arah jenis isi barang yang tersimpan di dalam ruang kotak, seberkas aroma harum obat yang teramat sangat jernih nan menyegarkan dada seketika melesat keluar menusuk rongga hidung Chung Myung dengan sangat dahsyat.
"Hah..."
Di dalam rongga kotak besi yang kini telah terbuka sempurna di depannya.
Chung Myung menyaksikan pemandangan tersebut menggunakan sepasang matanya sendiri secara nyata.
Di dalam ruang sempit kotak besi berukuran kecil tersebut, terlihat berjejer rapi sekitar dua puluh butir ramuan obat berbentuk bulat kecil berwarna merah delima yang memancarkan aura Qi yang teramat murni, serta sebuah kitab manual kuno yang sampulnya terlihat teramat antik nan berwibawa.
Kitab manual kuno tersebut memamerkan goresan tinta emas yang teramat gagah membentuk rangkaian judul kitab:
Kitab Rahasia Alkimia Asal Mula.
"Pil Asal Mula..."
Kesadaran di dalam kepala Chung Myung seketika terasa melayang ke awan menahan haru.
"B-B-Beraaaahaaaasiiiillll!"
"Berhasil?"
"Aku bersumpah demi langit telah menemukannyaaaa!"
"Uwaaaaah!"
"Gila! Rombongan kita benar-benar berhasil menemukannya! Aku berhasil mendapatkan resepnya!"
Chung Myung meluncurkan teriakan kepuasan yang teramat sangat keras nan dahsyat mengguncang langit lereng gunung.
"Uwaaaaah! Santo Pengobat bajingan tua kesayanganku! Aku bersumpah telah berhasil mengamankan warisanmu dengan tanganku sendiri!"
Dengan mulut yang tampak sedikit mengeluarkan busa akibat luapan emosi kebahagiaan yang terlampau dahsyat melampaui batas fisik tubuh mudanya, tubuh Chung Myung secara perlahan roboh terlentang jatuh pingsan ke belakang di atas rerumputan hijau.
Sahyung!
Pemimpin Sekte Sahyung-ku yang terhormat di alam sana!
Persetan dengan seluruh takdir buruk sejarah! Aku bersumpah telah berhasil menuntaskan tugas sejarah ini dengan gemilang!
Di tengah-tengah memudarnya kesadaran pandangan matanya yang mulai meredup gelap akibat kelelahan fisik, seberkas bayangan wajah keriput dari Sahyung Cheong Mun yang sedang tersenyum sangat bangga nan teduh menatapnya tampak berkelebat samar menyambut kegelapan tidurnya.











