Return of the Mount Hua Sect

Chapter 132: Pekerjaanku Baru Saja Dimulai! (2)

7357 Kata

Chapter 132: Pekerjaanku Baru Saja Dimulai! (2)

"Sahyung Jin Hyeon. Apakah fungsi kesadaran batin Anda saat ini akhirnya telah berhasil pulih kembali seutuhnya?"

Jin Hyeon secara perlahan mulai membuka sepasang kelopak matanya yang sayu seutuhnya kelak.

Wujud raut wajah dari Jin Mu beserta diiringi oleh bentangan langit malam yang pekat di belakang punggung badannya tampak menjadi visual perdana yang membanjiri sepasang bola mata kaburnya seutuhnya kelak saat itu juga.

Jin Hyeon melipat kening dahinya teramat sangat kencang sekali seutuhnya akibat didera rasa pening yang hebat.

"D-Di mana…… di belahan bumi fana mana sebenarnya posisi jasad pribadiku berada saat ini juga, Sajae……?"

"Rombongan kita saat ini sedang melangkahkan kaki menempuh perjalanan pulang menuju ke Sekte Utama Wudang kita kelak, Sahyung. Rombongan kita saat ini terpantau masih belum selesai melintasi jalur pegunungan terjal ini seutuhnya kelak."

Mendengarkan detail kalimat penjelasan tersebut baru saja, jasad Jin Hyeon secara refleks langsung melompat bangkit berdiri tegak dari posisinya kencang seutuhnya.

"Ugh."

"Dampak kerusakan luka internal yang didapat oleh ulu dada Anda bersumpah terhitung teramat sangat dalam dan serius sekali seutuhnya kelak, Sahyung. Anda diwajibkan sekuat tenaga untuk berhati-hati dalam menggerakkan tubuh fisik Anda saat ini juga kelak."

"……Dampak kerusakan luka internal, kau mengatakannya?"

Sepasang kelopak mata Jin Hyeon tampak bergetar halus seketika seutuhnya.

Satu kelebatan memori pertarungan yang menyajikan wujud dari sekuntum kelopak bunga plum merah suci yang melayang memotong udara lurus menerjang ke arah jasad badannya tampak melesat membanjiri fungsi kerja pikirannya seutuhnya kelak saat itu juga.

'Jasad pribadiku telah resmi menelan kekalahan bertarung fajar ini.'

Sama sekali tidak membutuhkan waktu luang yang terlampau lama bagi bagian hati terdalamnya untuk secara sukarela menerima kenyataan pahit dari kekalahan mutlak tersebut seutuhnya kelak. Detail visual pertarungan yang sempat ia saksikan secara langsung menggunakan sepasang bola mata kepalanya sendiri fajar ini bersumpah terlampau nyata dan terlalu mengerikan sekali bagi jiwanya untuk sekadar dilayangkan kalimat penyangkalan seutuhnya kelak.

"……Bagaimana dengan detail nasib yang menimpa keselamatan jasad dari seluruh rekan seperjuangan kita lainnya saat ini?"

"Segera setelah jasad fisik Anda terbukti secara sah berakhir tumbang pingsan tak sadarkan diri di atas tanah baru saja seutuhnya kelak, seluruh sisa murid kelompok kita dipetakan juga terpaksa harus berakhir menelan kekalahan bertarung yang memalukan seutuhnya kelak. Oleh karena itu kelak, jasad pribadiku terpaksa mengambil keputusan sepihak melayangkan pengakuan kalah di depan umum dan memerintahkan seluruh sisa pasukan kita untuk segera menarik mundur seluruh kekuatannya kelak seutuhnya."

Jin Hyeon memusatkan sepasang bola matanya menatap tajam ke arah wajah Jin Mu menggunakan kilatan pandangan mata yang memancarkan bahaya yang teramat sangat mengerikan sekali seutuhnya kelak sejenak.

Meskipun begitu, hanya selang satu kelebatan napas belaka seutuhnya kelak, sekujur ketegangan saraf di dalam ulu dadanya tampak secara drastis langsung menguap lenyap tak berbekas seutuhnya.

'Tindakan penyelamatan semacam itu dipetakan memang tidak memiliki opsi jalan keluar lain yang layak di lapangan fana kelak.'

Bagian hatinya saat ini bersumpah teramat sangat mendambakan sekali kesempatan fisik murni bertujuan untuk melayangkan makian verbal menyalahkan ketidakmampuan adik seperguruannya yang terbukti gagal mempertahankan pertarungan fisik hingga ke batas embusan napas terakhir mereka kelak seutuhnya. Meskipun jika dinilai berdasarkan logika sehatnya kelak, tindakan menyalahkan semacam itu murni hanya akan bertindak sebagai wujud cerminan dari keangkuhan dan keras kepalanya pribadinya belaka seutuhnya kelak.

Jika jasad fisiknya sendiri saja terbukti secara sah telah berakhir tumbang pingsan tidak berdaya, lengkap dengan diikuti oleh runtuhnya seluruh kekuatan murid utama lainnya seutuhnya fajar ini, maka hasil akhir pertempuran fisiknya dipetakan kelak pasti akan berjalan dengan wujud kekalahan serupa sekalipun seluruh sisa murid didikan mereka dipaksa menerjang maju menyerang lawan secara bersamaan kelak nanti seutuhnya.

Mengambil keputusan menarik mundur pasukan demi mencegah timbulnya tragedi luka fisik tambahan yang jauh lebih parah lagi melanda keselamatan jajaran adik seperguruan didikan sekte mereka dipetakan merupakan wujud dari langkah penyelamatan yang teramat sangat bijaksana sekali seutuhnya untuk diselesaikan.

"……Keputusan tindakan pertahanan yang kau pilih barusan bersumpah terbukti berjalan dengan sangat baik sekali seutuhnya kelak, Jin Mu."

"Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya ke hadapan Anda, Sahyung."

"Tidak. Tragedi memalukan hari ini bersumpah sama sekali tidak boleh ditempatkan sebagai wujud kesalahan moral dari dalam dadamu kelak seutuhnya. Semua tragedi buruk ini murni murni didasari murni hanya karena jasad pribadiku…… jasad pribadiku terbukti masih teramat sangat kekurangan sekali di dalam hal menguasai kapasitas keahlian bela diri pedang sejati seutuhnya kelak."

Jin Hyeon menggigit bibir bawahnya teramat sangat kencang sekali seutuhnya.

Sebuah kekalahan bertarung yang sangat telak dan mutlak seutuhnya kelak.

Sebuah rasa penderitaan jiwa akibat menelan pil pahit kekalahan yang teramat sangat menyiksa sekali tampak mulai merayap membelenggu ketahanan mental Jin Hyeon dengan sangat kencangnya seutuhnya kelak mulai detik ini.

Dan hal yang menyajikan rasa sakit yang jauh lebih dahsyat lagi menyiksa bagian lubang dada terdalamnya tidak lain adalah kenyataan konkrit yang menegaskan secara resmi bahwa kekalahan bertarung fajar ini sama sekali bukan merupakan wujud hasil akhir dari adanya kesalahan teknis sepele yang ia peragakan sepanjang jalannya pertempuran seutuhnya kelak.

'Bahkan hingga batas detik-detik terakhir sebelum jasad fisiku berakhir tumbang pingsan sekalipun fajar ini, bagian inderaku bersumpah tetap sama sekali tidak sanggup mendeteksi secara layak perihal bagaimana metode tebasan pedang misterius itu diluncurkan seutuhnya kelak.'

Ia secara mutlak telah menelan kekalahan bertarung murni didasari berbekal ketimpangan kapasitas kekuatan bela diri nyata seutuhnya di lapangan fana. Dan yang jauh lebih memalukan lagi dari segalanya adalah kekalahan bertarung tersebut terbukti sama sekali tidak dilayangkan oleh kekuatan sang Naga Ilahi Gunung Hua yang tersohor itu kelak seutuhnya, melainkan murni dihantam secara brutal oleh kekuatan dari sang Pedang Bunga Plum seutuhnya, sosok master muda yang selama ini di dalam catatan intelijen Sekte Wudang senantiasa ditempatkan menduduki peringkat kasta kekuatan minimal satu kasta jauh di bawah tingkat kapasitas kekuatannya selama ini seutuhnya kelak.

Kenyataan pahit tersebut bersumpah terbukti teramat sangat sulit sekali untuk bisa diterima secara damai oleh ketahanan mental Jin Hyeon seutuhnya kelak.

'Fakta riil bahwa seluruh jajaran adik seperguruan didikan sekte kita dipetakan juga terpaksa harus berakhir menelan kekalahan bertarung fajar ini, bukankah kenyataan buruk semacam itu menyampaikan sebuah pembuktian konkrit yang menegaskan bahwa kapasitas kekuatan didikan Gunung Hua saat ini sama sekali tidak terbatas hanya dimiliki oleh sang Pedang Bunga Plum seorang diri saja seutuhnya kelak?'

Barisan murid generasi kedua didikan Sekte Gunung Hua saat ini menyandang kapasitas kekuatan bertarung yang jauh lebih perkasa seutuhnya dibandingkan dengan kapasitas kekuatan murid generasi kedua didikan Sekte Wudang yang agung seutuhnya kelak.

Apakah bagian otaknya saat ini secara nyata benar-benar diwajibkan untuk menelan secara bulat kenyataan tidak masuk akal yang teramat sangat gila semacam ini kelak seutuhnya?

"……Bagaimana dengan detail status sengketa dari biara cabang Aula Jalan Leluhur kita saat ini?"

"Hingga batas fajar hari ini baru saja seutuhnya kelak, jasad pribadiku secara sepihak telah melayangkan instruksi resmi meminta Ketua Aula Jalan Leluhur untuk segera mengosongkan seluruh area biara selambat-lambatnya sebelum besok fajar tiba seutuhnya kelak nanti. Sosok sang Pedang Bunga Plum Gunung Hua kemarin secara tegas melayangkan kalimat tuntutan tersebut ke hadapan rombongan kita, murni didasari bermodalkan membawa serta nama kehormatan pribadi Anda untuk mendesak rombongan kita, Sahyung……"

Jin Hyeon secara perlahan mulai memejamkan sepasang kelopak matanya erat seutuhnya kelak.

Ia pribadi kemarin fajar memang secara sadar telah meluncurkan jaminan janji pertempuran resmi, mempertaruhkan seluruh sisa nama kehormatannya di depan umum bahwa seandainya rombongan Sekte Wudang terbukti menelan kekalahan bertarung menghadapi kekuatan Gunung Hua kelak, maka biara Aula Jalan Leluhur beserta seluruh murid Wudang dipastikan kelak pasti akan segera angkat kaki meninggalkan area kekuasaan wilayah Namyang seutuhnya kelak.

Dan janji pertempuran resmi semacam itu, jenis janji pertempuran yang kemarin fajar ia layangkan secara santai tanpa memelihara pertimbangan logika yang matang di dalam dadanya seutuhnya kelak, mulai detik ini terbukti secara ajaib telah bertransformasi menjadi sesosok belenggu hukum raksasa yang mengurung ketat ruang gerak operasional Sekte Wudang seutuhnya kelak.

'Jasad pribadiku hari ini secara nyata benar-benar telah menodai kesucian nama besar Sekte Wudang kelak untuk selamanya.'

Ada terlampau banyak sekali pasang mata penduduk sipil setempat yang saat ini telah terlanjur menyaksikan secara nyata jalannya perang terbuka di antara Sekte Wudang menghadapi Sekte Gunung Hua fajar ini seutuhnya kelak. Selama jajaran penonton sipil tersebut masih menyandang kepemilikan sepasang bola mata lengkap dengan diiringi oleh kepemilikan lubang mulut yang masih sanggup menyuarakan ucapan di dunia nyata kelak, maka kabar buruk terkait dengan kekalahan memalukan rombongan kita dipetakan kelak pasti akan segera merambat keluar membanjiri jalanan Namyang menuju ke berbagai penjuru daerah yang letaknya terhitung berada sangat jauh sekali seutuhnya kelak dalam waktu singkat.

Persis layaknya metode penyebaran populer yang sempat diperagakan secara nyata oleh Gunung Hua di masa lalu baru saja baru saja, di saat mereka secara cerdas memanfaatkan nama kehormatan Sekte Southern Edge sebagai modal umpan finasial murni bertujuan demi mendongkrak kembali popularitas nama harum sekte utama mereka agar kembali mengguncang dunia persilatan luar selama ini seutuhnya, maka mulai fajar hari ini jalannya nama kehormatan Sekte Wudang yang agung diproyeksikan kelak pasti akan segera diperas fungsinya sebagai kayu bakar murahan murni bertujuan demi meninggikan kembali api kejayaan nama besar Gunung Hua kelak seutuhnya.

'Bukan, detail kecemasan moral semacam itu dipetakan hanyalah merupakan wujud dari masalah sekunder sepele belaka seutuhnya kelak.'

Daya jangkau popularitas nama harum persilatan luar bagaimanapun juga sama sekali tidak menyandang kedudukan penting terkecil pun saat ini juga seutuhnya kelak bagi keselamatan tugas rahasia kami. Bahkan seluruh sengketa kepemilikan biara Aula Jalan Leluhur ataupun nama besar Sekte Bayangan Api sekalipun bersumpah sama sekali tidak menyandang nilai penting apa pun seutuhnya bagi pertimbangan kami kelak.

Alasan krusial mengapa rombongan mereka bersikeras mencurahkan segenap kapasitas kekuatan mereka murni bertujuan untuk merebut dominasi kekuasaan atas wilayah Namyang selama ini bersumpah sama sekali tidak pernah terbatas hanya murni bertujuan demi mengamankan variabel sepele tidak berguna semacam itu seutuhnya kelak di bawah langit.

Sembari terus menggigit bibir bawahnya kencang seutuhnya kelak, Jin Hyeon mulai membuka suara menyuarakan kalimat tegasnya seutuhnya kelak.

"Jin Mu."

"Ya! Sahyung!"

"Jasad pribadimu diwajibkan hukumnya secara mutlak mulai detik ini juga untuk segera memecut laju langkah kakimu melesat kembali pulang menuju ke Sekte Utama Wudang dan segeralah melaporkan seluruh kronologi kekalahan bertarung rombongan kita fajar ini ke hadapan Pemimpin Sekte Utama seutuhnya kelak!"

"Baik!"

"Sementara bagi seluruh jajaran adik seperguruan lainnya dipetakan kelak pasti harus tetap tinggal menetap di wilayah pegunungan terjal ini murni bertujuan untuk melangsungkan sesi pengobatan medis luka jasad mereka terlebih dahulu kelak, sembari menanti datangnya instruksi operasional resmi selanjutnya dari biara Sekte Utama kelak nanti. Kondisi darurat di lapangan saat ini dipastikan sama sekali tidak berada dalam kondisi yang aman bagi rombongan kita untuk sekadar melangkahkan kaki kembali pulang secara membuta kelak seutuhnya."

"Aku dipastikan kelak pasti akan mematuhi seluruh kalimat instruksi Anda dengan sebaik-baiknya kelak, Sahyung."

Sekujur raut wajah Jin Hyeon tampak secara drastis langsung memancar mengeras kaku seutuhnya kelak.

'Jasad pribadiku telah berhasil menyelesaikan kewajiban janjiku untuk memindahkan seluruh pasukan kita keluar dari wilayah Namyang seutuhnya fajar ini. Dan aku juga dipetakan kelak pasti akan tetap mematuhi secara hukum janji pertempuranku untuk tidak mengusik kembali kelangsungan hidup Sekte Bayangan Api kelak seutuhnya. Meskipun begitu sangat disayangkan bagi mereka sekalian, jasad pribadiku seumur hidup kehidupanku di halaman sekte kemarin fajar bersumpah sama sekali tidak pernah melontarkan satu suku kata janji pertempuran pun yang mewajibkan jasad rombonganku untuk melangkahkan kaki kembali pulang menuju ke biara Sekte Wudang kelak seutuhnya nanti.'

Jin Hyeon menggigit bibir bawahnya pelan dalam keheningan seutuhnya.

Ia pribadi menyadari dengan sangat baiknya perihal detail kalimat pembelaan dirinya baru saja sebenarnya tidak lebih dari sekadar wujud kalimat dalih murahan yang teramat sangat tipis sekali seutuhnya kelak. Mengambil keputusan melanggar secara sepihak isi kesepakatan janji pertempuran yang secara resmi ia layangkan murni didasari membawa nama kehormatan pribadinya di depan umum bagaimanapun juga tetap akan dicatat secara hukum persilatan sebagai sebuah tindakan curang yang teramat sangat memalukan sekali seutuhnya kelak. Meskipun demikian di bawah langit fana, ada kalanya takdir pertempuran memaksa sesosok pendekar untuk secara sukarela mengorbankan keselamatan nama harum jasad pribadinya kelak, murni demi mengamankan tercapainya sasaran kebaikan bersama yang jauh lebih agung kelak seutuhnya kelak.

"Jin Mu, segeralah meluncur berangkat sekarang juga kelak."

"Baik, Sahyung!"

Tepat pada momen pelepasan tugas tersebut baru saja diselesaikan seutuhnya kelak.

"Sama sekali tidak ada kebutuhan mendesak terkecil pun bagi jasad kalian sekalian untuk menyia-nyiakan waktu berharga kalian melangsungkan pekerjaan konyol semacam itu fajar ini kelak seutuhnya."

Sesosok volume suara datar yang asing tampak menyusul membelah udara pegunungan kencang seutuhnya seketika, memicu seluruh kepala pendekar di tempat itu secara refleks langsung berputar menatap ke arah sumber suara secara bersamaan seutuhnya kelak.

Semak belukar liar di kejauhan tampak bergoyang halus sejenak sebelum akhirnya sesosok jasad pendekar secara perlahan melangkahkan kakinya keluar membelah semak belukar liar tersebut seutuhnya kelak.

"P-Paman Guru Mu Jin!"

"Alasan krusial macam apa sebenarnya yang melatarbelakangi alasan mengapa jasad Paman Guru Mu Jin secara ajaib sanggup menapakkan kaki di area pegunungan terjal ini fajar ini……"

Seluruh pendekar di tempat tersebut bersumpah sama sekali tidak mampu menutupi letupan guncangan mental dan kecemasan spiritual yang luar biasa dahsyat menyelimuti lubang dada mereka seutuhnya kelak saat ini juga. Jasad pendekar yang baru saja melangkahkan kakinya keluar membelah semak belukar liar di depan mata kepala mereka baru saja adalah merupakan sesosok pendekar agung yang silsilah wajahnya telah terlanjur terpatri sangat dalam sekali di dalam ingatan mereka seutuhnya sejak lama kelak.

Pria paruh baya yang baru saja tiba di lokasi tersebut memusatkan sepasang bola mata tajamnya menatap tajam ke arah raut wajah Jin Hyeon sembari melipat kening dahinya kesal seutuhnya kelak.

"Jasadmu fajar ini secara nyata benar-benar telah menelan kekalahan bertarung yang memalukan dihantam oleh kekuatan lawan kelak?"

Jin Hyeon menggigit bibir bawahnya kencang seutuhnya kelak.

"……Jasad pribadiku memohon maaf yang sebesar-sebesarnya ke hadapan wibawa luhur Anda, Paman Guru."

"Apakah kekalahan bertarung tersebut didapatkan murni disebabkan karena pihak jasad kalian terbukti secara sepihak telah dikeroyok secara kejam di lapangan fana kelak? Apakah total nominal kuantitas pasukan pendekar yang diutus oleh Gunung Hua kemarin fajar terbukti berada pada kisaran angka nominal yang jauh lebih padat melampaui batas prediksi awal kita selama ini kelak? Ataukah jangan-jangan rombongan mereka saat ini terbukti secara diam-diam telah berhasil mengamankan uluran bantuan militer dari sekte persilatan besar lainnya kelak?"

"……"

Jin Hyeon sama sekali tidak mampu menyuarakan satu suku kata kalimat jawaban apa pun dari balik belahan bibirnya seutuhnya kelak.

Hal luar biasa semacam itu memang sudah sewajarnya terjadi di lapangan fana seutuhnya kelak. Terasa teramat sangat canggung dan menyiksa sekali bagi harga diri tingginya untuk sekadar membeberkan secara jujur seluruh detail aib kekalahan memalukannya baru saja ke hadapan sosok pendekar yang baru saja menapakkan kakinya di depan jasad badannya saat ini juga seutuhnya kelak. Karena pendekar paruh baya yang baru saja tiba di tempat itu tidak lain adalah Paman Gurunya sendiri, Mu Jin seutuhnya kelak.

Mu Jin.

Siapa pun pendekar persilatan di penjuru dataran tengah yang memelihara kepekaan telinga untuk mendengar sebutan nama agungnya selama ini dipetakan kelak pasti secara instan akan langsung mengaitkan silsilah namanya lurus menunjuk ke arah satu buah gelar kehormatan yang sangat legendaris sekali seutuhnya kelak.

Tiga Pedang Wudang.

Generasi 'Mu', barisan murid generasi pertama didikan Wudang yang memikul tanggung jawab penuh sebagai wujud pilar kekuatan bela diri sejati dari Sekte Wudang seutuhnya kelak. Dan di antara barisan pedang master tersebut, ia dinobatkan sebagai pendekar terkuat nomor satu dari Tiga Pedang Wudang seutuhnya kelak.

Sosok legenda hidup dari biara Sekte Wudang yang agung tersebut hari ini secara nyata benar-benar telah menapakkan kaki fisiknya berdiri tegak tepat di hadapan jasad mereka seutuhnya kelak saat ini juga.

"Pemimpin Sekte Utama kita kemarin fajar menegaskan secara resmi ke hadapan jasad pribadiku perihal bagaimana bagian hati beliau secara konsisten terus didera oleh rasa cemas yang mendalam menyangkut tugas operasional kalian di tempat ini, sehingga beliau memutuskan merilis perintah resmi memintaku meluncur ke tempat ini murni bertujuan memantau detail perkembangan tugas kalian kelak. Dan berdasarkan apa yang kusaksikan di depan mata kepala badanku baru saja saat ini, Jin Hyeon, kualitas wawasan luas milik Pemimpin Sekte Utama kita terbukti sepenuhnya benar adanya seutuhnya sejak awal mula kelak."

"……Ya, Paman Guru."

"Segeralah menggunakan lubang mulutmu sendiri murni bertujuan untuk menjelaskan secara jujur ke hadapanku perihal musibah bencana macam apa sebenarnya yang baru saja melanda kelangsungan tugas kalian di wilayah Namyang fajar ini?"

Jin Mu, yang sedari tadi berdiri diam menyimak jalannya interaksi di antara Jin Hyeon dengan Mu Jin sejak awal mula, tampak melangkah mengambil satu langkah maju ke depan secara perlahan sembari melayangkan ucapan sopannya seutuhnya kelak.

"Paman Guru Mu Jin, jika diperkenankan kelak, jasad pribadiku dipastikan kelak pasti akan menjelaskan seluruh detail kronologi kejadiannya secara terperinci ke hadapan Anda saat ini……"

"Jin Mu, jangan pernah memelihara kelancangan bertindak meluncurkan langkah kakimu maju membuka suara tanpa adanya instruksi resmi dariku kelak seutuhnya."

"……Baik, Sahyung."

Jin Hyeon, pendekar yang sedari tadi memilih berdiri membisu menyimak ketegangan tersebut dalam keheningan, akhirnya secara perlahan memaksakan lubang mulutnya didorong terbuka sembari menyajikan raut wajah yang terpampang nyata memancar teramat sangat serius sekali seutuhnya kelak.

"Jasad pribadiku dipastikan kelak pasti akan menjelaskan seluruh kronologinya secara terperinci ke hadapan Anda saat ini juga, Paman Guru."

"Hmm."

Mu Jin dalam keheningan mulai mengarahkan satu tangannya mengusap-usap bagian jenggot fisiknya lembut seutuhnya kelak.

Berdasarkan seluruh alur cerita penjelasan yang meluncur bebas dari lubang mulut Jin Hyeon baru saja seutuhnya, hal tersebut menyampaikan pesan penting yang menegaskan secara konkrit bahwa tidak ada satu orang murid generasi kedua didikan Sekte Wudang pun di lapangan hari ini yang menyandang kapasitas bertarung yang cukup untuk sekadar mengimbangi kehebatan murid generasi kedua didikan Sekte Gunung Hua kelak seutuhnya. Catatan kegagalan pertahanan ini bersumpah merupakan sebuah kondisi darurat yang menyandang tingkat kedaruratan yang mencapai kisaran angka jauh lebih serius sekali seutuhnya di bawah langit, melampaui batas aib kekalahan bertarung Jin Hyeon seorang diri belaka seutuhnya kelak.

"Apakah kualitas keilmuan pedang Sekte Gunung Hua saat ini benar-benar telah terlanjur tumbuh berkembang menjadi sedahsyat itu kelak?"

Hal gila semacam itu bersumpah dipetakan teramat sangat mustahil sekali untuk bisa diterima oleh akal sehat umum manusia fana seutuhnya kelak.

Kapasitas seni bela diri pada hakikatnya dipetakan kelak pasti akan selalu diwariskan secara berkesinambungan melintasi jalinan kepangkatan generasi didikan sekte seutuhnya sepanjang sejarah kelak. Jika kualitas kasta pendekar generasi di atasnya terbukti menyandang ketangguhan kekuatan bela diri yang perkasa seutuhnya, maka barisan pendekar generasi di bawahnya secara otomatis diproyeksikan kelak pasti akan tumbuh menyandang kapasitas kekuatan bertarung yang tidak kalah tangguhnya seutuhnya kelak. Namun jika kualitas kasta pendekar generasi di atasnya terbukti menyandang tingkat kapasitas bela diri yang suram dan tidak berguna selama ini, maka barisan pendekar generasi di bawahnya dipastikan kelak pasti akan berakhir menyandang kapasitas kekuatan yang tidak kalah suramnya seutuhnya kelak.

Terkadang di dalam dunia persilatan memang dipetakan kelak pasti akan selalu ada kemunculan anomali bakat jenius tingkat tinggi kelak di bawah langit. Meskipun begitu di bawah langit fana, keajaiban anomali bakat jenius semacam itu diproyeksikan selamanya sama sekali tidak akan pernah diizinkan meledak secara serempak membanjiri seluruh jajaran pendekar di dalam satu kasta kepangkatan generasi yang sama secara bersamaan kelak seutuhnya.

Sekte Gunung Hua adalah menyandang status sebagai sebuah sekte persilatan yang telah runtuh hancur lebur tanpa sisa seutuhnya sejak puluhan tahun yang lalu kelak. Oleh karena alasan silsilah tersebut, kualitas kapasitas keilmuan bela diri yang dikuasai secara resmi oleh jajaran tetua kepangkatan generasi atas Gunung Hua saat ini sudah sewajarnya dinilai berada pada tingkat kedahsyatan yang teramat sangat sepele dan tidak berguna sekali seutuhnya bagi pertimbangan kami. Meskipun demikian saat ini, bagi barisan murid generasi bawah mereka secara ajaib terbukti sanggup melahirkan tingkat kapasitas kekuatan bertarung yang berdiri secara mutlak jauh lebih perkasa melampaui batas kekuatan murid Sekte Wudang, apakah keanehan gila semacam ini dipetakan masih sanggup diterima secara logis oleh akal sehat manusia fana kelak?

"Hmm."

Sembari memiringkan kepalanya sedikit murni bertujuan untuk mendiskusikan seluruh opsi pertimbangan di dalam kepalanya seutuhnya kelak, Mu Jin memusatkan sepasang bola mata tenangnya menatap lurus ke arah wajah Jin Hyeon sembari menganggukkan kepalanya khidmat seutuhnya kelak.

'Anak didik yang satu ini bersumpah seumur hidup kehidupannya sama sekali tidak akan pernah berani meluncurkan kalimat kebohongan palsu murni bertujuan untuk mengelabui jasad pribadiku kelak seutuhnya.'

"Jin Hyeon."

"Ya, Paman Guru."

"Jasadmu barusan menyatakan secara resmi telah meluncurkan jaminan janji pertempuran resmi menggunakan nama kehormatan pribadimu di depan umum baru saja, bukan?"

"……Tebakan Anda sangat tepat sekali seutuhnya kelak, Paman Guru. Meskipun demikian…… variabel konyol semacam nama kehormatan pribadiku saat ini……"

"Jasad murid bodoh keparat!"

Mu Jin menyemburkan suara teriakan marahnya dengan menggunakan nada suara yang sangat rendah dan dalam seutuhnya kelak seketika.

"Tindakan konyol membiarkan nama kehormatan pribadimu berakhir dengan tragedi ternoda di depan umum mungkin saja memang terbukti sama sekali tidak menyandang nilai penting terkecil pun bagi kenyamanan hidup jasad pribadimu seumur hidupmu kelak. Meskipun begitu di bawah langit, apakah di dalam isi kepala kotormu saat ini kau memelihara asumsi bodoh meyakini nama kehormatan pribadimu hanya dimiliki secara eksklusif oleh jasad badannmu sendiri saja seutuhnya kelak? Detik di saat jasadmu terbukti secara sepihak meluncurkan tindakan curang yang tidak terhormat di depan umum kelak, seluruh dunia persilatan luar dipetakan kelak pasti tidak akan melayangkan kalimat makian menyalahkan jasad pribadimu kelak seutuhnya, melainkan mereka semua secara kompak kelak pasti akan melayangkan kalimat makian kotor menodai kesucian nama besar Sekte Wudang seutuhnya kelak untuk selamanya! Alasan krusial macam apa sebenarnya yang membuat lubang otakmu terbukti secara konsisten terus gagal memahami esensi bahaya tersebut seutuhnya, hah?!"

"……Jasad pribadiku memohon maaf yang sebesar-sebesarnya ke hadapan wibawa luhur Anda, Paman Guru."

Raut wajah Mu Jin tampak secara konsisten terus memancar menggelap suram dipenuhi oleh ketidakpuasan batin yang mendalam seutuhnya kelak.

"Seluruh rangkaian kosakata kalimat yang meluncur bebas dari lubang mulut seorang pendekar pedang sejati selamanya dipetakan sama sekali tidak diperbolehkan untuk dinilai secara ringan kelak seumur hidupnya kelak. Dan kesucian nama kehormatan yang terpatri di dalam dadamu juga dipetakan selamanya sama sekali tidak diperbolehkan untuk disia-siakan secara murah semacam itu kelak seutuhnya."

"……Ya, Paman Guru."

"Rombongan pasukan kita diproyeksikan kelak pasti akan secara resmi memilih mengalah menyerahkan sengketa kekuasaan atas wilayah Namyang ini seutuhnya kelak."

"Paman Guru Mu Jin?"

"Wilayah Namyang bagaimanapun juga sejak awal mula hanyalah merupakan sejenis wilayah pemukiman kecil bersahaja yang sengaja dicoba dirampas oleh kekuatan sekte kita murni didasari murni hanya karena kita ingin mengamankan area makam pedang tanpa perlu memicu timbulnya arah kecurigaan dari sepasang mata pendekar luar selama ini seutuhnya kelak. Mengingat jalannya takdir pertempuran fajar ini terbukti telah terlanjur bergulir membentuk wujud ekstrem semacam ini saat ini juga, rombongan pasukan kita ke depannya nanti dipetakan secara sepihak justru akan langsung melangsungkan langkah kakinya melompati wilayah Namyang ini seutuhnya kelak dan segeralah mengarahkan seluruh kekuatan tempur kita lurus meluncur menuju ke area Makam Pedang yang sesungguhnya seutuhnya kelak nanti."

"Meskipun begitu, bukankah hingga batas fajar hari ini baru saja seutuhnya kelak, rombongan kita sebenarnya masih belum berhasil mengidentifikasi secara akurat perihal di mana posisi koordinat lokasi geografis dari Makam Pedang tersebut berada selama ini? Bukankah alasan logis itulah yang mendasari alasan mengapa sengketa wilayah Namyang ini memegang peranan yang teramat sangat vital sekali bagi kelancaran tugas kita selama ini?"

"Jangan pernah membiarkan lubang dadamu dilanda rasa cemas menyangkut masalah koordinat tersebut kelak seutuhnya. Jajaran master didikan biara Sekte Utama kita beberapa jam yang lalu secara resmi telah berhasil memecahkan sandi misteri peta kuno dan berhasil mengamankan koordinat lokasi riil dari Makam Pedang tersebut berada seutuhnya kelak."

"Ah!"

Sepasang kelopak mata Jin Hyeon tampak bergetar halus seketika seutuhnya akibat dirundung kebahagiaan yang luar biasa dahsyat seutuhnya kelak.

Jika wujud penjelasannya memang terbukti berjalan dengan wujud kesuksesan semacam itu kelak di lapangan fana, maka sama sekali tidak akan ada kebutuhan mendesak tambahan apa pun kelak bagi jasad pasukan mereka untuk membuang-buang waktu berharga mereka melayani sengketa wilayah Namyang yang sepele ini seutuhnya kelak sepanjang jalan. Rombongan mereka dipetakan kelak pasti akan langsung meluncur kencang mendatangi area Makam Pedang tersebut secara langsung dan mulailah merintis tugas penggalian pusaka makam pedang seutuhnya kelak saat itu juga dengan sangat rapinya kelak.

"Menelan kekalahan bertarung dihantam oleh kekuatan Sekte Gunung Hua yang telah runtuh memang merupakan wujud aib kehinaan yang teramat sangat menyiksa sekali bagi harga diri kita kelak. Meskipun jika dibandingkan secara langsung dengan wujud sasaran tugas operasional agung yang wajib segera kita selesaikan saat ini juga kelak, aib kehinaan sepele semacam itu bersumpah sama sekali tidak menyandang nilai penting terkecil pun seutuhnya bagi pertimbangan kami kelak. Diproyeksikan kelak pasti akan selalu ada jutaan peluang emas di masa depan bagi jasadmu murni didasari murni hanya karena ingin menuntut balas dendam atas aib kekalahanmu hari ini kelak, oleh karena itu segeralah menata kembali fungsi kestabilan jiwamu saat ini juga seutuhnya kelak."

"Baik! Paman Guru!"

Sepasang bola mata Jin Hyeon, yang sepanjang jalan sedari tadi terpantau secara konsisten terus meredup suram menatap tanah akibat dirundung rasa malu yang mendalam seutuhnya kelak, tampak mulai memancarkan kilatan cahaya keyakinan diri yang membara kembali seutuhnya kelak saat ini juga.

'Selama bagian tangan pribadiku terbukti secara ajaib sanggup menyelesaikan tugas pembongkaran Makam Pedang tersebut dengan sukses kelak, aku bersumpah kelak pasti akan melunasi seluruh rentetan aib kehinaan memalukan fajar ini hingga lunas bersih seutuhnya kelak sepanjang hidup!'

"Bagi siapa pun di antara kalian sekalian yang melayangkan penilaian menilai tingkat keparahan luka fisik jasadnya tergolong sangat parah fajar ini kelak, segeralah angkat kaki melangkahkan kaki kalian kembali pulang menuju ke Sekte Utama saat ini juga kelak. Gelombang pasukan bantuan tambahan dari biara Sekte Utama diproyeksikan kelak pasti akan segera menapakkan kaki mereka di lokasi ini dalam waktu dekat nanti kelak, jadi sama sekali tidak dibenarkan bagi kalian sekalian untuk memaksakan sisa ketahanan jasad kalian secara berlebihan kelak sepanjang jalan. Hanya barisan pendekar yang ketahanan tubuh fisiknya dinilai masih sanggup melangsungkan pergerakan fisik saja yang diperbolehkan secara hukum untuk ikut melangkahkan kaki membelah jalanan bersama-sama dengan jasad pribadiku hari ini kelak."

Detik di saat seluruh jajaran murid generasi kedua didikan Sekte Wudang di sekelilingnya, barisan pendekar yang sejak awal mula memang secara alami memelihara ketulusan tekad kuat murni bertujuan agar bisa ikut serta mengawal perjalanan Mu Jin fajar ini, tampak melayangkan pergerakan tubuh ragu-ragu seutuhnya kelak baru saja, Mu Jin kembali melipat kening dahinya kesal seutuhnya kelak.

"Bukankah jasad pribadiku telah berkali-kali menegaskan secara keras di depan umum bahwa seorang pendekar pedang sejati selamanya diwajibkan secara mutlak untuk memiliki kemampuan memindai kualitas kapasitas jasad dirinya sendiri dengan ketenangan kepala yang matang kelak seutuhnya, hah?! Apakah bagian hati kalian sekalian secara nyata benar-benar memelihara niat buruk berniat memosisikan jasad fisik kalian sebagai batu penghalang yang menyiksa kelancaran langkah bertempur saudara seperjuangan kalian kelak?!"

Mendengar letupan amarah verbal tersebut disemburkan kembali baru saja seutuhnya kelak, barulah ada sebanyak tiga orang pendekar didikan generasi kedua yang tampak melangkah mengambil posisi maju sembari membungkukkan kepala jasad mereka khidmat seutuhnya kelak dalam penyesalan batin seutuhnya.

"Kami memohon maaf yang sebesar-sebesarnya ke hadapan wibawa luhur Anda, Paman Guru."

"Sama sekali tidak ada hal memalukan apa pun yang wajib kalian tangisi di tempat ini fajar ini kelak. Bagaimana mungkin jasad pendekar yang terluka di medan pertempuran kelak dipetakan diperbolehkan untuk dilabeli sebagai wujud dari aib kehinaan yang memalukan kelak di bawah langit? Segeralah melangkahkan kaki kalian kembali pulang menuju ke Sekte Utama dan segeralah layani kebutuhan pengobatan medis jasad kalian dengan sebaik-baiknya kelak. Aku pribadi dipetakan kelak pasti akan menyelesaikan seluruh sisa urusan operasional di tempat ini seutuhnya kelak nanti. Apakah bagian hati kalian sekalian secara nyata benar-benar memelihara kecemasan moral meragukan kualitas ketangguhan bela diri yang dikuasai oleh jasad Mu Jin ini kelak, hah?"

"Tentu saja kami semua senantiasa menaruh keyakinan spiritual yang teramat sangat tinggi sekali seutuhnya ke hadapan ketangguhan bela diri Anda, Paman Guru."

"Jika kenyataan di dalam isi kepalamu memang terbukti berjalan dengan wujud kepatuhan semacam itu kelak, maka kesepakatan tugas kita resmi disahkan mulai detik ini juga seutuhnya kelak."

Mu Jin menyunggingkan senyuman tipis yang sangat ramah seutuhnya kelak.

"Segeralah meluncur dan nantikan kabar baik dari rombongan kami kelak. Segera setelah jasad kalian selesai melangsungkan tugas pelaporan kronologi kekalahan Namyang ke hadapan jajaran master didikan biara Sekte Utama kelak, sampaikan pesan penting tambahan ke hadapan mereka menyatakan bahwa jasad pribadiku saat ini telah selesai memimpin barisan pendekar yang tersisa untuk langsung meluncur menerjang ke area Makam Pedang seutuhnya kelak nanti."

"Baik!"

Sembari memusatkan sepasang bola matanya menyaksikan kepergian kilat dari barisan murid generasi kedua didikan Sekte Wudang yang tampak melesat berlari kencang membelah jalanan setapak pegunungan baru saja seutuhnya kelak, Mu Jin secara perlahan memalingkan kembali wajah fisiknya menatap lurus ke arah Jin Hyeon seutuhnya kelak.

"Apakah jasadmu dipetakan masih sanggup melangsungkan langkah perjalanannya hari ini kelak?"

"Jasad pribadiku bersumpah seumur hidupnya sama sekali tidak akan pernah membiarkan dirinya berakhir sebagai batu penghalang yang menyiksa kelancaran perjalanan Anda kelak, Paman Guru."

"Mm."

Mu Jin menganggukkan kepalanya khidmat seutuhnya kelak.

"Jika kenyataannya demikian kelak, maka hal tersebut dipetakan sangat bagus sekali seutuhnya. Segeralah merapatkan barisan jasadmu di samping badanku dan ikutilah jalur……"

Tepat pada momen pelepasan perintah tersebut baru saja disuarakan seutuhnya kelak, arah pandangan kepala Mu Jin secara mendadak tampak berputar tajam menatap lurus ke arah sudut samping semak belukar pegunungan seutuhnya kelak seketika.

"Paman Guru?"

Mu Jin melipat kening dahinya teramat sangat kencang sekali seutuhnya sembari memusatkan sepasang bola mata tajamnya menatap lekat ke arah sudut kegelapan semak belukar liar di samping badannya seutuhnya kelak dalam keheningan.

"Siapa sosok manusia fana yang sedang menyembunyikan jasad fisiknya di balik dedaunan itu sejak tadi, hah?!"

"Maaf?"

Arah pandangan mata dari Jin Hyeon lengkap dengan diikuti oleh arah pandangan dari seluruh murid didikan Sekte Wudang lainnya tampak secara refleks langsung memecut membelah kegelapan malam, mengikuti ke mana arah pandangan mata Mu Jin terfokus sejak tadi seutuhnya kelak.

Keresek, keresek.

Seiring dengan berkumandangnya suara gesekan kasar dedaunan liar di dalam kegelapan malam baru saja seutuhnya, sesosok jasad manusia fana dengan mengenakan jubah jinjing pakaian ketat berwarna hitam pekat tampak secara perlahan melangkahkan kakinya berjalan santai keluar membelah pekatnya kegelapan malam hari seutuhnya kelak.

'Pakaian kain hitam pekat?'

Jubah jinjing pakaian pencuri malam ketat berwarna hitam pekat secara keseluruhan seutuhnya kelak. Lengkap dengan dibungkus oleh penggunaan kain penutup wajah hitam (mask) yang sangat ketat seutuhnya kelak.

Sesosok jasad manusia fana yang seluruh penampilan fisiknya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki benar-benar didekorasi dengan sangat janggal dan mencurigakan sekali seutuhnya kelak tampak melangkah berjalan santai menghampiri posisi rombongan mereka sebelum akhirnya berdiri diam menatap jasad mereka seutuhnya kelak dalam keheningan.

Segera setelah itu, ia dengan sangat tenangnya tampak merapikan kembali lilitan kain penutup wajah hitamnya sejenak sebelum akhirnya didorong membuka lubang mulutnya santai seutuhnya kelak.

"Jasad pribadiku hanyalah sesosok perampok jalanan sepele yang kebetulan sedang melintas di jalan ini baru saja, kawan. Ada satu hal kecil yang sangat ingin kutanyakan secara pribadi ke hadapan kalian. Rahasia barang macam apa sebenarnya Makam Pedang yang baru saja kalian sebut-sebut tadi, hah?"

"……"

"……"

Sesosok perampok jalanan sepele yang kebetulan sedang melintas di jalanan pegunungan terjal ini baru saja? Apakah anak gila di depan mereka baru saja secara nyata benar-benar meluncurkan klaim konyol menyatakan jasad badannya menyandang status kehormatan sebagai seorang perampok jalanan di depan umum fajar ini?

Sepasang kelopak mata Mu Jin tampak bergetar halus seketika seutuhnya akibat dirundung kebingungan yang luar biasa dahsyat seutuhnya kelak.

'Di sepanjang sisa kurun waktu perjalanan hidup dari jasad pribadiku selama ini……'

Mu Jin di dalam dadanya dipetakan selalu memelihara rasa kebanggaan yang teramat sangat tinggi sekali meyakini jasad badannya selama ini telah terbiasa menghadapi berbagai macam jenis kejadian janggal yang berada di luar batas nalar kemanusiaan di penjuru dunia persilatan seutuhnya kelak. Meskipun demikian, menyaksikan kejadian riil yang teramat sangat konyol sekali semacam ini bersumpah merupakan pengalaman perdana yang baru pertama kali melanda sisa hidupnya seutuhnya kelak.

Bentuk perampok jalanan konyol macam apa sebenarnya di bawah langit fana ini yang secara sukarela bersedia melayangkan pengumuman resmi mendeklarasikan di depan korbannya bahwa dirinya adalah sesosok perampok jalanan sejati seutuhnya kelak? Dan yang jauh lebih menakjubkan lagi dari segalanya adalah aksi perampokan konyol tersebut terbukti secara nekat diluncurkan tepat di hadapan sepasang mata jajaran master didikan Sekte Wudang yang agung seutuhnya kelak saat ini juga.

"Sesosok perampok jalanan kotor secara sepihak meluncurkan pergerakan fisiknya berkeliaran bebas melintasi jalur pegunungan terisolasi yang sepi semacam ini kelak?"

"……Uh."

Jasad manusia fana dengan mengenakan kain penutup wajah hitam tersebut tampak secara refleks langsung tersentak cemas sedikit seutuhnya kelak saat mendengar pertanyaan kritis tersebut dilayangkan baru saja.

"Kalau begitu, apakah kosakata sebutan perampok gunung (mountain bandit) dipetakan akan sanggup terdengar jauh lebih masuk akal dan alami kelak bagi kenyamanan lubang telinga kalian fajar ini kelak?"

'Apakah isi di dalam kepala dari jasad pendekar di depanku saat ini secara nyata benar-benar telah terlanjur dilanda oleh penyakit kegilaan yang akut seutuhnya kelak?'

Mu Jin saat ini bersumpah di dalam batinnya sedang memelihara satu pemikiran logis yang teramat sangat identik sekali seutuhnya dengan wujud kecemasan mental yang sempat melanda bagian kepala Jin Hyeon kemarin fajar baru saja seutuhnya kelak. Dan bagi diri Jin Hyeon sendiri, sosok murid yang kemarin fajar sempat memelihara kecemasan serupa seutuhnya kelak saat menghadapi kelakuan tidak waras Chung Myung, secara refleks langsung merasakan sebuah sensasi kejanggalan emosi yang teramat sangat akrab sekali merambat menyelimuti jiwanya detik di saat lubang telinganya berhasil mencerna kualitas intonasi suara beserta wujud dimensi fisik tubuh dari jasad asing di depannya saat ini seutuhnya kelak.

'Kekhasan intonasi suara tersebut, mungkinkah jika jasad pendekar keparat itu adalah?'

Jauh sebelum kerja pikiran di dalam kepalanya berhasil merumuskan detail kesimpulan logisnya secara matang seutuhnya kelak, rangkaian kosakata kalimat jawabannya terbukti telah terlanjur meluncur bebas terlebih dahulu dari balik belahan bibirnya kencang seutuhnya kelak seketika saat itu juga.

"Naga Ilahi Gunung Hua?!"

"……"

Arah pandangan kepala dari jasad manusia fana dengan mengenakan kain penutup wajah hitam tersebut tampak secara perlahan miring ke samping seutuhnya kelak.

"……Bukan, tindakan kelalaian macam apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh jasad pribadiku baru saja hingga memicu lubang kepalamu sanggup memindai identitas aslimu dengan laju kecepatan mendeteksi yang secepat ini kencang seutuhnya kelak—…… ah, bukan. Jasad pribadiku bersumpah seumur hidup kehidupannya sama sekali tidak pernah menyandang status kehormatan sebagai sosok pendekar mulia semacam itu kelak seutuhnya."

Sekujur raut wajah Jin Hyeon langsung memancar kerut kesal yang teramat sangat hebat sekali seutuhnya kelak.

Seluruh wujud kebohongan penyamaran yang kau peragakan fajar ini bersumpah telah terlanjur terpampang nyata dengan sangat jelas dan terperinci sekali bagi sepasang mata kami seutuhnya sejak detik pertama kau menapakkan kaki di tempat ini, bajingan ingusan keparat seutuhnya! "Jasad pribadiku sebelumnya senantiasa memelihara asumsi hangat meyakini bahwa dengan menyandang kedudukan terhormat sebagai salah satu murid didikan Sekte Gunung Hua, jasadmu setidaknya dipetakan kelak pasti masih akan sanggup memahami esensi nilai kejujuran moral yang suci kelak seutuhnya di bawah langit. Namun memikirkan kelakuan rendahmu hari ini yang secara pengecut bersikeras menyembunyikan wujud wajah aslimu murni bertujuan agar bisa meluncurkan klaim palsu menyatakan jasadmu menyandang status sebagai sesosok perampok jalanan kotor di depan umum! Apakah isi di dalam kepala kotormu saat ini secara nyata benar-benar telah terlanjur membuang habis seluruh sisa rasa malu yang dikandung di dalam dadamu sepanjang hidup, hah?!"

Mendengar banjir makian verbal yang disuarakan secara lantang oleh Jin Hyeon baru saja seutuhnya kelak, jasad manusia fana dengan mengenakan kain penutup wajah hitam tersebut…… bukan, Chung Myung murni hanya memilih untuk mengangkat kedua belah pundaknya santai seutuhnya kelak.

"Hei, bukankah sudah berkali-kali kubegaskan secara resmi ke hadapan lubang telingamu baru saja secara jujur bahwa jasad pribadiku fajar ini sama sekali bukan merupakan sosok pendekar gila tersebut seutuhnya kelak, kawan."

"Sungguh menyajikan wujud dari sebuah kelakuan pengecut yang teramat sangat menyedihkan sekali seutuhnya kelak di depan umum!"

"Yah, tampaknya bagian logika berpikir di dalam kepalamu saat ini memang terbukti masih sangat kesulitan sekali untuk mencerna esensi dari kalimat penjelasanku seutuhnya kelak."

"Hm?"

"Jasad fisizmu diproyeksikan kelak pasti akan segera dipaksa secara hukum untuk melayangkan pengakuan jujur mengakui secara sah bahwa jasad pribadiku fajar ini memang benar-benar sama sekali bukan merupakan wujud dari jasad pendekar Gunung Hua tersebut kelak seutuhnya. Aliran takdirnya biasanya dipetakan kelak pasti akan selalu berjalan dengan wujud penyelesaian semacam itu kelak di lapangan fana seutuhnya kelak."

Murni didasari murni karena ada jutaan orang pendekar didikan luar di sekelilingnya yang di masa lalu telah terlanjur merasakan secara nyata dampak penyiksaan fisik dari tangannya seutuhnya kelak sepanjang sejarah.

"Sifat kelakuanmu yang gemar meluncurkan aksi ejekan tidak sopan ke hadapan orang lain bersumpah dipetakan menyandang batas kewajaran kelak……"

Tepat di saat Jin Hyeon bersiap meluapkan gejolak emosi amarah yang membara di dalam dadanya kembali baru saja seutuhnya kelak, sepasang bola matanya berhasil menangkap visual dari gerakan tangan Mu Jin yang tampak terangkat naik sedikit seutuhnya ke udara. Menyaksikan gestur isyarat tangan tersebut, Jin Hyeon secara refleks langsung menutup kembali lubang mulutnya rapat-rapat dalam keheningan seutuhnya.

"Jika wujud kesepakatannya terbukti berjalan dengan wujud semacam itu kelak."

Mu Jin menyunggingkan senyuman tipis yang sangat ramah seutuhnya kelak.

"Maka jasadmu saat ini secara sepihak sedang mencoba menegaskan secara resmi ke hadapan rombongan kami perihal status hukum jasadmu yang menyandang predikat perampok jalanan seutuhnya, bukannya menyandang kedudukan sebagai murid didikan Sekte Gunung Hua kelak seutuhnya."

"Wah, bagian hati terdalam pribadiku bersumpah merasa teramat sangat lega sekali fajar ini, karena pada akhirnya jasad pribadiku berhasil mengamankan keberadaan dari sesosok pendekar dewasa yang fungsi logikanya masih sanggup diajak berkomunikasi secara waras seutuhnya kelak di tempat ini."

"Ya, tebakanmu itu sangat tepat sekali seutuhnya kelak. Jasadmu fajar ini dipastikan secara resmi sama sekali tidak menyandang kedudukan sebagai murid didikan Sekte Gunung Hua kelak seutuhnya bagi pertimbangan hukum kami."

"Eh?"

Mu Jin dengan gerakan yang teramat sangat santai sekali tampak mendorong gagang pedang tajam yang tersemat kokoh di pinggang fisiknya maju sedikit ke depan seutuhnya.

"Maka dari itu kelak, jasad pribadiku fajar ini dipetakan murni hanya memikul kewajiban hukum murni bertujuan demi menebas hancur jasad dari sesosok perampok jalanan kotor di tengah area hutan pegunungan sepi ini kelak seutuhnya. Kehadiran dari seorang murid didikan Sekte Gunung Hua bersumpah secara sah dinyatakan tidak pernah sekali pun menapakkan kakinya di tempat ini fajar ini sejak awal mula kelak. Bukankah logika hukum persilatannya terbukti berjalan dengan sangat tepat sekali seutuhnya kelak?"

"Hoh?"

Chung Myung melepaskan suara decakan kagum yang pelan seutuhnya kelak dari balik belahan kain penutup wajahnya.

Pria paruh baya didikan Wudang yang satu ini bersumpah menyandang ketajaman otak yang terhitung cukup cerdas juga belaka rupanya seutuhnya kelak di bawah langit.

"Jika jasadmu bersedia melatih fungsi kesadaran batinmu sekuat tenaga mulai detik ini juga murni bertujuan demi melepaskan kain penutup wajah hitam kotor tersebut lengkap dengan melayangkan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya secara tertulis ke hadapan rombongan kami saat ini juga, aku pribadi dipetakan masih akan sanggup melobi jalannya urusan ini agar berakhir dengan wujud penyelesaian damai yang masuk akal kelak seutuhnya. Meskipun begitu, jika jasadmu terbukti tetap bersikeras memelihara kelakuan gila menyuarakan kalimat omong kosong tidak berguna ini hingga ke batas akhir pertempuran kelak, maka jasadmu dipetakan kelak pasti akan segera dipaksa secara fisik menyadari secara nyata perihal seberapa dahsyatnya kekejaman tebasan pedang tajamku yang tidak memiliki belas kasihan kelak seutuhnya kelak."

"Ah, apakah wujud ancaman pertempurannya secara nyata benar-benar dipetakan akan berjalan dengan wujud sedahsyat itu kelak, pak tua?"

Chung Myung menyeringai tipis menyajikan senyuman seringai yang sangat licik seutuhnya kelak saat ia melayangkan kalimat lanjutannya lirih.

"Maka dari itu kelak, izinkan jasad pribadiku hari ini untuk melayangkan satu kalimat peringatan resmi terlebih dahulu ke hadapan lubang telinga Anda sekalian kelak. Jika Anda sekalian bersedia melatih keahlian mulut kalian saat ini juga murni bertujuan demi membeberkan secara jujur perihal rahasia pusaka makam pedang macam apa sebenarnya yang kalian sebut-sebut sejak tadi, lengkap dengan menyerahkan secara sukarela seluruh detail dokumen informasi intelijen yang kalian kuasai saat ini juga ke hadapan tanganku kelak, aku bersumpah kelak pasti akan meloloskan keselamatan jasad kalian agar dipetakan sanggup melangkahkan kaki meninggalkan area pegunungan terjal ini dengan kondisi tubuh utuh tanpa tersiksa sedikit pun kelak nanti seutuhnya."

"……"

"Jika tidak, jasad kalian sekalian bersumpah dipetakan sama sekali tidak akan pernah diizinkan secara hukum untuk melangkahkan kaki meninggalkan tempat ini menggunakan sepasang kaki fisik kalian sendiri kelak seumur hidup kalian seutuhnya. Jaminan komitmen tersebut bersumpah secara resmi kulayangkan ke hadapan jasad kalian hari ini kelak."

Ulasan senyuman tipis yang terpatri di belahan bibir Mu Jin tampak merayap membelah raut wajah fisiknya dengan sangat kencangnya seutuhnya kelak seiring berjalannya waktu.

"Bagian telinga pribadiku belakangan ini telah berulang kali mendengar kabar hangat yang mengklaim bahwa pihak Sekte Gunung Hua saat ini telah tumbuh berkembang menyandang kapasitas kekuatan bela diri pedang yang teramat sangat tangguh sekali kelak."

"Ah, sungguh menyajikan rasa canggung yang mendalam sekali seutuhnya bagi jiwaku. Anda dipastikan sama sekali tidak perlu melayangkan kalimat pujian yang berlebihan semacam itu ke hadapanku hari ini kelak."

……Jasad keparat yang satu ini dipetakan sama sekali tidak diperbolehkan merasa gembira di tempat ini saat ini juga, bajingan. Tolong setidaknya kerahkan sedikit usaha dalam fungsi otokmu murni bertujuan untuk menyembunyikan identitas aslimu kencang seutuhnya kelak!

"Dan desas-desus persilatan luar juga menegaskan secara resmi bahwa di antara barisan pendekar muda Gunung Hua, Naga Ilahi Gunung Hua adalah sosok terunggul nomor satu seutuhnya kelak?"

"Hahaha. Sanjungan Anda barusan bersumpah terlampau berlebihan sekali seutuhnya bagi jiwaku."

Hingga batas detik ini juga seutuhnya kelak, bahkan bagi diri Jin Hyeon sendiri sekalipun dipetakan secara alami telah terlanjur membulatkan tekad bulat memilih opsi menyerah pasrah meladeni kelakuan tidak waras pemuda di depannya seutuhnya kelak. Sangat mustahil sekali bagi akal sehat umum manusia fana mana pun di bawah langit untuk sekadar memahami esensi dari watak kepribadian gila yang dikuasai oleh anak gila tersebut seutuhnya sepanjang hidupnya kelak.

"Jika kenyataannya demikian kelak, maka mari kita buktikan bersama saat ini juga kelak."

Mu Jin secara perlahan mulai menarik keluar bilah pedang tajam miliknya membelah udara seutuhnya kelak.

"Apakah jasad pribadiku fajar ini dipetakan kelak pasti akan berkesempatan menyaksikan kehebatan dari tebasan pedang didikan dari sang Naga Ilahi Gunung Hua yang sangat legendaris sekali tersebut kelak?"

"Jasadmu bersumpah terbukti masih saja konsisten terus gagal memahami esensi kalimat penjelasanku sejak tadi, pak tua. Bukankah sudah berkali-kali kubegaskan kepadamu secara jujur bahwa jasad pribadiku fajar ini sama sekali tidak memiliki hubungan afiliasi hukum apa pun dengan Sekte Gunung Hua kelak seutuhnya?"

Chung Myung secara perlahan mulai menarik keluar bilah pedang tajam yang tersemat kokoh di pinggang fisiknya kencang seutuhnya kelak.

"Meskipun jika bagian mataku memandangnya secara jeli saat ini, ada satu buah ukiran pola lukisan bunga plum merah suci yang terukir sangat indahnya menghiasi permukaan bilah pedang tajam yang sedang kau genggam erat saat ini juga, bukan?"

"……Ah, jasad pribadiku sebenarnya sejak kemarin fajar telah berniat sekuat tenaga murni bertujuan demi menukar bilah pedang tajam ini menggunakan pedang polos biasa seutuhnya kelak, namun karena bagian kepalaku terbukti secara memalukan mengalami kelalaian fatal melupakan detail rencana penting tersebut sepanjang jalan seutuhnya kelak."

Chung Myung mengedipkan satu kelopak mata kirinya nakal seutuhnya kelak ke hadapan Mu Jin.

"Kuharap Anda sekalian bersedia sekuat tenaga melatih fungsi mata kalian murni bertujuan demi memperagakan aksi pura-pura tidak menyaksikan keberadaan ukiran bunga plum suci tersebut fajar ini kelak seutuhnya. Tolong peragakan kesopanan yang layak kelak."

Ulasan senyuman tipis di wajah Mu Jin tampak tumbuh berkembang memancar semakin lebar dan dingin sekali seutuhnya kelak.

"Jasad pribadiku dipastikan kelak pasti akan dengan senang hati memperagakan kesopanan palsu tersebut ke hadapan jasadmu fajar ini kelak seutuhnya."

Sepasang bola mata tajamnya tampak secara refleks memancarkan kelelebatan pendaran hawa Qi murni berwarna biru samudra yang sangat tebal dan mengerikan sekali seutuhnya kelak.

"Dengan metode penyelesaian semacam itu kelak, jasad pribadiku diproyeksikan kelak pasti akan tetap sanggup mengamankan satu buah kalimat dalih pembelaan diri yang teramat sangat kuat sekali kelak seutuhnya sekalipun jasadmu pada akhirnya terpaksa harus berakhir dengan tragedi luka fisik yang teramat sangat parah dan mematikan hari ini kelak. Segeralah pasang kuda-kuda jasadmu kencang seutuhnya."

"Sifat kelakuan munafik milik Sekte Wudang bersumpah terbukti sama sekali tidak pernah sekali pun bergeser kualitasnya sepanjang sejarah dunia fana, bahkan setelah aliran waktu yang sangat panjang terbukti telah berlalu membelah bumi fana selama ini seutuhnya."

Chung Myung secara perlahan mulai mengangkat bilah pedang tajam miliknya membelah udara dan mengarahkan ujung mata pedangnya lurus menunjuk tepat ke arah ulu dada Mu Jin seutuhnya kelak.

"Apakah jasad pribadiku diperbolehkan melayangkan satu buah kalimat penegasan akhir tambahan kelak sebelum pertempuran fisik kita resmi meledak hari ini?"

"……Silakan utarakan kosakata akhirnya kelak."

Chung Myung menyajikan senyuman seringai yang teramat sangat masam dan masam sekali seutuhnya kelak saat ia melayangkan kalimat jawabannya lirih seutuhnya kelak.

"Kuharap jasadmu bersedia sekuat tenaga memusatkan fokus pikiranmu mulai detik ini juga murni bertujuan demi melindungi keselamatan area kepala jasadmu kelak sepanjang jalannya pertempuran seutuhnya kelak. Tindakan memukuli kepala orang lain hingga hancur lebur bagaimanapun juga bersumpah telah terlanjur bertransformasi menjadi sesosok hobi bertarung yang teramat sangat sulit sekali untuk dihentikan dari dalam dadaku kelak seutuhnya kelak."

Seluruh ulasan senyuman hangat tampak secara instan langsung menguap lenyap tak berbekas seutuhnya dari wajah Mu Jin seketika seutuhnya kelak.

Chung Myung

Chung Myung

Karakter Utama
Baek Cheon

Baek Cheon

Pendukung
Yu Iseol

Yu Iseol

Heroine
Yoon Jong

Yoon Jong

Pendukung
Jo Gul

Jo Gul

Pendukung
Tang Gunak

Tang Gunak

Pendukung
Hyeyeon

Hyeyeon

Pendukung
Lim Sobyeong

Lim Sobyeong

Pendukung
Jang Ilso

Jang Ilso

Antagonis
Hyun Jong

Hyun Jong

Pendukung
Hyun Young

Hyun Young

Pendukung
Tang Soso

Tang Soso

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.