Return of the Mount Hua Sect

Chapter 130. Pedang Gunung Hua Sangat Kuat (5)

6590 Kata

Chapter 130. Pedang Gunung Hua Sangat Kuat (5)

"U-Uh…… uhh……."

Sepasang kelopak mata Wi Ripsan tampak membelalak lebar seketika seutuhnya, layaknya sebuah lubang besar yang bahkan diproyeksikan sanggup dijejali oleh wujud kepalan tangan fisiknya seutuhnya kelak.

"T-Tidak. Hal gila itu…… Huh?"

Ia pribadi sejak detik pertama perang terbuka meledak fajar ini bersumpah telah menyaksikan seluruh jalannya pertempuran fisik tersebut menggunakan sepasang bola mata kepalanya sendiri seutuhnya dari awal mula hingga akhir.

Meskipun demikian, kapasitas kerja otak di dalam kepalanya saat ini terbukti tetap saja mengalami kesulitan yang teramat sangat besar sekali untuk mencerna kebenaran riil dari apa yang sedang disaksikan secara langsung oleh sepasang matanya saat ini.

'Mereka secara nyata benar-benar sedang mengamankan kemenangan bertarung?'

Bukan, jika bagian hatinya bersedia meluruskan wujud penilaian riilnya saat ini, mereka semua saat ini sebenarnya sedang meluncurkan aksi dominasi pertempuran fisik yang sangat mutlak sekali seutuhnya kelak.

Barisan murid didikan dari Gunung Hua tersebut secara nyata benar-benar terpantau sedang memukuli dan mendesak mundur barisan murid Sekte Wudang yang penampilannya kemarin fajar terlihat teramat sangat tangguh dan menakutkan sekali bagi keselamatannya seutuhnya kelak.

Wi Ripsan murni hanya bisa berdiri membeku kaku akibat tidak sanggup mempercayai kebenaran visual dari pemandangan legendaris yang tersaji di depan matanya saat ini juga.

Wujud biara macam apa sebenarnya Sekte Wudang itu di dunia persilatan selama ini?

Itu adalah merupakan sebuah biara kuil Taois legendaris yang namanya telah terlanjur dinobatkan secara resmi menyandang predikat kehormatan sebagai Bintang Utara dunia persilatan Murim seutuhnya kelak.

Meskipun di sepanjang sejarah panjang dunia fana ada ratusan ribu Sekte Pedang lainnya yang berdiri kokoh menghiasi bumi fana selama ini, tidak ada satu orang pendekar pun di bawah langit yang dipetakan akan memelihara keraguan terkecil pun untuk menobatkan Sekte Wudang berada di puncak tertinggi dari kasta keilmuan pedang seutuhnya kelak.

Jika ada satu pihak persilatan lainnya di bawah langit yang dinilai menyandang kapasitas kekuatan setara untuk disandingkan dengannya kelak, maka pihak tersebut tidak lain adalah murni sebatas Keluarga Namgung saja seutuhnya kelak nanti.

Meskipun begitu saat ini, barisan murid terbaik dari Sekte Wudang yang agung tersebut justru terbukti sedang dipukuli secara brutal dan dipaksa mundur terseok-seok murni akibat dari tebasan pedang barisan murid Gunung Hua seutuhnya kelak.

"Kejadian riil ini dipastikan sama sekali tidak salah seutuhnya kelak."

Silsilah Sekte Bayangan Api bagaimanapun juga adalah merupakan sebuah sekte cabang bawahan resmi dari Sekte Utama Gunung Hua seutuhnya kelak.

Dan bagi diri Wi Ripsan sendiri seutuhnya seumur hidup kehidupannya selama ini, ia dipastikan selalu memelihara rasa kebanggaan yang teramat sangat tinggi sekali seutuhnya murni didasari didorong oleh status loyalitasnya sebagai seorang murid didikan Gunung Hua kelak.

Meskipun demikian di bawah langit fana, rasa kebanggaan batin tetaplah merupakan wujud dari rasa kebanggaan batin belaka seutuhnya, sementara kenyataan realitas yang sesungguhnya terjadi di lapangan tetaplah merupakan kenyataan realitas yang terpisah seutuhnya, bukan?

Murni didasari murni karena seorang anak kandung memelihara rasa bangga yang teramat sangat tinggi sekali ke hadapan kewibawaan Ayah kandungnya sendiri selama ini sama sekali tidak berarti anak tersebut dipetakan akan melayangkan klaim konyol menyatakan Ayah kandungnya menyandang kedudukan yang jauh lebih agung dibandingkan dengan wibawa dari seorang Jenderal Besar ataupun seorang Guru Agung Kerajaan di depan umum kelak.

Rasa kasih sayang batin dengan kapasitas keahlian nyata adalah merupakan dua buah variabel yang teramat sangat berbeda jauh sekali seutuhnya di dunia nyata.

Dan kualitas perasaan batin yang dipelihara oleh Wi Ripsan ke hadapan kewibawaan Gunung Hua selama puluhan tahun terakhir selama ini terbukti berada pada tingkat pemahaman serupa seutuhnya kelak.

Ia menyadari dengan sangat baiknya sejak lama perihal status Gunung Hua sebagai sebuah sekte persilatan yang telah runtuh seutuhnya kelak, meskipun begitu bagian jiwanya murni hanya terbukti sama sekali tidak sanggup memutus jalinan rasa kasih sayang batin yang mendalam yang telah ia warisi dari leluhurnya seutuhnya kelak.

Namun siapa yang menyangka di saat musibah kehancuran nyata benar-benar datang menghantam sektenya hari ini, sekte utama yang sempat ia anggap telah runtuh seutuhnya tersebut justru secara nyata meluncurkan bantuan fisik bertempur demi melindungi keselamatan jasadnya seutuhnya kelak.

Dan yang jauh lebih menakjubkan lagi dari segalanya adalah: rombongan penolong tersebut saat ini terbukti sedang mengamankan kemenangan bertarung secara mutlak di depan matanya.

Wi Ripsan secara perlahan mengarahkan satu tangannya mencengkeram bagian ulu dada fisiknya kencang seutuhnya.

Ia merasakan sebuah letupan emosi kehangatan yang berdenyut hebat menyiksa kesadaran jiwanya seutuhnya kelak saat ini juga.

"Ah, Ayah."

"Ya."

Wi Sohaeng juga terpantau memalingkan wajah fisiknya menatap ke arah Wi Ripsan menggunakan sepasang mata yang tampak bergetar halus dipenuhi oleh guncangan emosi yang luar biasa seutuhnya kelak.

"Tingkat kapasitas kekuatan bela diri mereka bersumpah teramat sangat dahsyat sekali seutuhnya di luar batas nalar kemanusiaan."

Kosakata kalimat pujian macam apa lagi sebenarnya yang sanggup disuarakan oleh lubang mulutnya demi menggambarkan keagungan pertarungan fajar ini kelak?

Sebuah guncangan emosi yang teramat sangat megah sekali menyelimuti jiwanya……

Teguk, teguk, teguk.

"……"

Arah pandangan kepala Wi Ripsan tampak berputar secara perlahan seutuhnya kelak.

Sepasang bola matanya mendarat dengan sangat mulusnya menangkap wujud penampilan fisik dari Chung Myung yang saat ini terpantau sedang asyik duduk bersila santai di atas permukaan tanah halaman kotor tanpa memelihara kecemasan sedikit pun di wajahnya, sembari menenggak habis kandungan air minuman keras langsung dari botol di genggamannya yang entah dari sudut gudang rahasia mana lagi sebenarnya berhasil ia curi hari ini seutuhnya.

"……"

"Kuh!"

Seolah-olah bagian inderanya terbukti telah berhasil mendeteksi datangnya arah pandangan mata sayu dari pria paruh baya di depannya baru saja, Chung Myung memiringkan kepalanya sedikit menatap lurus ke arah wajah Wi Ripsan seutuhnya kelak.

"Apakah Anda memelihara ketertarikan untuk meneguk sedikit kandungan air minuman keras lezat ini saat ini?"

"……"

Sekte Gunung Hua saat ini terbukti secara konkrit telah bertransformasi seutuhnya menjadi biara yang sama sekali berbeda jauh dibandingkan dengan wujud kemerosotan masa lalunya seutuhnya. Barisan murid didikan mereka dipetakan telah tumbuh berkembang menjadi sekelompok pendekar muda yang kapasitas kekuatannya terbukti berada pada tingkat kedahsyatan yang teramat sangat luar biasa sekali seutuhnya……

'Dan sebagai kompensasi kembalinya kejayaan tersebut, sekte mereka saat ini terbukti menyandang keberadaan dari seekor monster gila semacam ini di samping jasad mereka.'

Di masa lalu kehidupannya dahulu, biara Gunung Hua yang suci bersumpah sama sekali tidak memelihara keberadaan dari kedua buah variabel gila tersebut seutuhnya kelak. Wi Ripsan di dalam batinnya saat ini bersumpah sama sekali tidak sanggup menahan kerja pikirannya murni bertujuan untuk mendiskusikan secara serius mana pilihan kondisi sekte yang dinilai jauh lebih baik kelak bagi keselamatannya; apakah kondisi sekte masa lalu di saat sekte mereka sama sekali tidak menyandang kepemilikan dari kedua hal gila tersebut seutuhnya kelak, ataupun kondisi sekte saat ini di saat sekte mereka terpaksa harus membawa serta keberadaan dari kedua hal gila tersebut secara bersamaan kelak?

Ah, tidak boleh demikian. Aliran waktu saat ini dipetakan sama sekali tidak diperbolehkan untuk disia-siakan murni bertujuan untuk merenungkan pemikiran konyol semacam itu seutuhnya kelak!

"Taois sekalian, barisan Paman Guru beserta saudara seperguruan Anda saat ini sedang mempertaruhkan nyawa bertempur mati-matian di tengah halaman sekte, dan kau di tempat kotor ini secara nyata benar-benar masih sanggup menelan cairan minuman keras memabukkan itu dengan nikmatnya, hah?!"

"Ya, rasa cairan minuman keras lezat ini bersumpah meluncur dengan sangat lancar dan lembut sekali menembus tenggorokan fisiku saat ini juga seutuhnya."

"Ah, apakah benar demikian adanya?"

Jika wujud penjelasannya terbukti berjalan dengan wujud santai semacam itu kelak, maka bagian hatiku dipetakan secara alami kelak pasti hanya akan…… Ah, bukan hal konyol semacam itu yang menjadi dasar bantahan pribadiku hari ini, bajingan!

Menyaksikan lubang mulut Wi Ripsan yang langsung terbuka lebar akibat dirundung kebingungan yang teramat sangat mendalam sekali seutuhnya baru saja, Chung Myung menyeringai tipis menyajikan senyuman seringai yang sangat licik seutuhnya kelak.

"Mengingat porsi penyiksaan latihan fisik gila yang telah berhasil dilalui oleh tubuh jasad mereka di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir selama ini, jika pada akhirnya hari ini jasad mereka terbukti masih sanggup menelan kekalahan bertarung menghadapi segerombolan bocah ingusan Wudang semacam itu kelak, maka jasad mereka dipastikan sudah sewajarnya wajib menenggelamkan lubang hidung mereka di dalam mangkuk air kotor dan berakhir mati lebur saat ini juga seutuhnya kelak nanti."

"Huh?"

Wi Ripsan melontarkan kalimat pertanyaannya kembali sembari menyajikan ekspresi wajah yang terpampang nyata memancarkan kebingungan yang teramat sangat luar biasa sekali seutuhnya kelak.

Chung Myung murni hanya menyajikan senyuman tipis tanpa memelihara ketertarikan untuk melayangkan satu suku kata jawaban lisan apa pun ke hadapannya seutuhnya kelak.

Ia secara perlahan memalingkan kembali pandangan matanya menatap lurus ke arah tengah halaman sekte, di mana jalannya pertempuran fisik di antara kedua belah pihak terpantau masih bergulir dengan sangat sengitnya seutuhnya kelak saat ini juga.

'Siapa sebenarnya sosok pendekar hebat yang melatih ketajaman pedang jasad mereka selama ini?'

Barisan saudaranya di sekte diproyeksikan memang tidak memiliki opsi jalan keluar lain selain bertransformasi tumbuh menjadi sekelompok pendekar tangguh seutuhnya kelak di bawah langit. Karena sosok yang secara konsisten melatih ketajaman pedang di dalam genggaman tangan jasad mereka selama ini tidak lain adalah jasad pribadinya sendiri seutuhnya kelak.

Apakah mereka semua saat ini menyandang keangkuhan di dalam dada mereka? Tentu saja tidak demikian seutuhnya kelak.

Jika kau bersedia meluangkan sedikit waktu berhargamu menjelajahi seluruh penjuru bumi fana saat ini, kau dipetakan mungkin saja masih akan sanggup mengamankan keberadaan dari segelintir pendekar senior lainnya di bawah langit yang memiliki kapasitas keilmuan setara untuk melatih ketajaman pedang mereka, persis seperti apa yang telah diselesaikan oleh Chung Myung selama ini. Kenyataan persilatan tersebut adalah merupakan sebuah fakta riil yang bahkan bagi diri Chung Myung sendiri sekalipun dipetakan kelak pasti akan melayangkan pengakuan jujurnya seutuhnya kelak.

Meskipun begitu sangat disayangkan, variabel yang membedakan kualitas mereka tidak lain adalah: barisan pendekar senior hebat di luar sana dipastikan sama sekali tidak akan pernah sudi meluangkan segenap waktu hidup mereka murni bertujuan untuk mendidik murid didikan mereka menggunakan metode penyiksaan gila yang diperagakan oleh Chung Myung selama ini seutuhnya kelak. Sama sekali tidak akan pernah terjadi seumur hidup mereka kelak!

Apakah isi kepalamu saat ini secara nyata benar-benar sanggup membayangkan sebuah skenario ajaib di saat sosok pendekar terkuat di dalam sebuah sekte persilatan besar rela meluangkan segenap sisa hidupnya murni bertujuan untuk memukuli, menyiksa, sekaligus menenangkan kembali gejolak emosi murid didikan generasi kedua beserta generasi ketiga sekte utama mereka, mengajarkan secara langsung seluruh detail keilmuan pedang mulai dari wujud kuda-kuda dasar yang paling sepele sekalipun sepanjang jalan seutuhnya kelak? Sama sekali tidak akan pernah ada satu biara sekte pun di penjuru bumi fana saat ini yang sanggup menyajikan keajaiban metode pengajaran semacam itu seutuhnya kelak di bawah langit.

Kalaupun seandainya ada sesosok pendekar hebat di luar sana yang memelihara ketulusan niat mulia untuk mewujudkan metode pengajaran semacam itu kelak, detik di saat ia pertama kali meluncurkan porsi latihan penyiksaan gila tersebut ke hadapan murid didikan sekte kelak, maka seluruh jajaran tetua mulai dari Pemimpin Sekte hingga ke seluruh jajaran Tetua Agung sekte utama dipastikan kelak pasti akan melesat berlari kencang menerjang ke arah lokasi latihan murni bertujuan untuk memicu keributan besar seutuhnya kelak demi melindungi murid kesayangan mereka kelak.

Hal luar biasa semacam itu memang sudah sewajarnya terjadi di lapangan fana seutuhnya kelak.

Kadar kuantitas kekuatan dari sebuah sekte persilatan besar secara teoritis memang dipetakan kelak pasti akan ditentukan berdasarkan parameter seberapa banyak jumlah pendekar tingkat master yang berhasil mereka lahirkan selama ini seutuhnya kelak. Meskipun begitu di bawah langit, harga diri dan citra wibawa agung dari sebuah sekte persilatan besar dipetakan selamanya hanya akan ditentukan murni didasari berdasarkan seberapa dahsyatnya kapasitas kekuatan dari sosok pendekar terkuat tunggal yang bernaung di dalam sekte mereka seutuhnya kelak.

Bukankah kenyataan persilatan tersebut telah terbukti sangat jelas terpampang nyata sepanjang sejarah persilatan seutuhnya? Di mana pihak Sekte Gunung Hua, sekte yang di masa lalu senantiasa ditempatkan menduduki peringkat kasta kedua di belakang wibawa Sekte Wudang yang agung selama ini, secara mendadak terbukti sanggup melepaskan suara tawa kegembiraan sembari menodongkan bilah pedang tajam mereka lurus menusuk ulu leher Sekte Wudang dengan sangat tenangnya detik di saat sekte utama mereka berhasil melahirkan kejayaan seorang Plum Blossom Sword Saint seutuhnya kelak sepanjang sejarah?

Oleh karena alasan krusial itulah, mayoritas pendekar terkuat tunggal dari masing-masing sekte persilatan besar di bawah langit senantiasa memilih opsi murni memfokuskan segenap sisa hidup mereka murni bertujuan untuk mengasah dan menyempurnakan kapasitas keahlian seni bela diri pribadi mereka seutuhnya kelak, alih-alih bersedia meluangkan waktunya mengajar kelas dasar kelak. Dan demi mencegah punahnya pemahaman keilmuan spiritual agung yang berhasil mereka amankan selama ini, mereka secara eksklusif murni hanya bersedia menerima sebanyak beberapa orang murid langsung saja untuk dididik di bawah bimbingan pribadi mereka seutuhnya sepanjang sejarah kelak.

Meskipun begitu sangat berbeda dengan mereka semua, jalan hidup yang dipilih oleh Chung Myung terbukti berjalan dengan wujud yang sepenuhnya berlawanan seutuhnya kelak.

Ia pribadi saat ini menyandang tingkat pemahaman seni bela diri yang berada jauh melampaui batas pencapaian spiritual pendekar terkuat mana pun di bawah langit saat ini, dan terlebih lagi dari segalanya, ia saat ini menyandang modal waktu berharga yang teramat sangat panjang sekali seutuhnya, jenis modal waktu regenerasi fisik yang sama sekali tidak dimiliki oleh pendekar terkuat lainnya di dunia fana selama ini seutuhnya. Dan di atas segalanya……

'Memang benar bahwa tindakan memfokuskan segenap usaha keras murni bertujuan untuk membuat jasad pribadiku tumbuh menjadi sesosok pendekar terkuat di bawah langit adalah merupakan sebuah urusan yang teramat sangat penting sekali untuk diselesaikan kelak seutuhnya. Meskipun demikian, urusan penting tersebut bersumpah sama sekali bukan merupakan segalanya bagi keselamatanku kelak.'

Bukankah bagian jiwanya telah terlanjur merasakan kepedihan nyata terkait dengan kenyataan riil tersebut di kehidupannya yang terdahulu selama ini? Di sepanjang sisa perjalanan hidup lamanya di masa lalu dahulu, di saat ia secara keras kepala terus bersikeras memfokuskan segenap fokus pikirannya murni bertujuan untuk membuat jasad pribadinya tumbuh menjadi sesosok pendekar terkuat sendirian seutuhnya di dunia persilatan, Chung Myung pada akhirnya terbukti murni hanya berakhir dengan melepaskan suara rintihan sedih menatap ke arah wujud garis akhir pertempuran yang sama sekali tidak pernah ia dambakan kedatangannya sepanjang hidup seutuhnya kelak.

Wujud pemandangan mengerikan di saat saudara seperguruan setianya terpaksa harus berakhir meregang nyawa secara tragis bersimbah darah segar di depan mata kepala badannya saat itu bersumpah hingga detik ini masih terpantau secara konsisten terus merusak ketenangan tidurnya, melompat masuk menghiasi hamparan mimpi buruknya seutuhnya kelak dari waktu ke waktu murni bertujuan untuk menyiksa kesadaran jiwanya seutuhnya kelak.

Ia bersumpah seumur hidup kehidupannya yang baru saat ini sama sekali tidak akan pernah bersedia membiarkan wujud tragedi kematian yang serupa kembali menimpa jasad dari saudara seperguruannya kelak seutuhnya.

Dan bukan hanya wujud pertahanan jasad mereka saja yang wajib dilindungi seutuhnya kelak. Sekte Gunung Hua secara keseluruhan juga diproyeksikan kelak pasti harus tumbuh berdiri jauh lebih perkasa seutuhnya kelak di bawah langit. Oleh karena itu kelak, di saat hari bersejarah itu benar-benar tiba nanti kelak, di saat jasad Chung Myung telah berhasil menyempurnakan secara mutlak seluruh kapasitas seni bela diri pedang miliknya seutuhnya kelak, lengkap dengan diiringi oleh pencapaian kekuatan saudara seperguruannya yang telah tumbuh berdiri jauh lebih kokoh seutuhnya kelak, maka Sekte Gunung Hua diproyeksikan kelak pasti akan segera membentangkan jalinan era keemasan baru yang teramat sangat megah sekali seutuhnya, jenis era kejayaan emas yang sama sekali belum pernah sekali pun berkunjung menghiasi bumi fana sepanjang sejarah peradaban manusia fana seutuhnya kelak nanti.

Teguk, teguk, teguk, teguk.

"Kuh!"

Segera setelah berhasil menenggak habis sisa kandungan air minuman keras yang menyegarkan di dalam botolnya baru saja seutuhnya, Chung Myung mengarahkan bagian lengan baju pakaiannya menyeka tetesan air di belahan bibirnya sembari menggumamkan kalimat kritikan lirihnya pelan seutuhnya kelak.

"Kakak Seperguruan Jo Geol, tiga buah kesalahan fatal dalam pertarungan. Bukan, jika jalinan pergerakannya dinilai secara jujur, total kesalahannya mencapai kisaran angka empat buah kesalahan fatal seutuhnya."

Bajingan gila yang satu itu bersumpah dipetakan kelak pasti akan segera mati lebur di dalam kamarnya nanti kelak segera setelah pertarungan fisik ini resmi berakhir seutuhnya kelak.

Baek Cheon secara perlahan tampak memalingkan wajah fisiknya sedikit menatap lurus ke arah Jo Gul seutuhnya kelak.

Pendengaran telinga fisiknya sedari tadi bersumpah telah berhasil menangkap dengan sangat jelasnya perihal detail kalimat gumaman kritikan yang dilontarkan oleh Chung Myung dari arah belakang punggung badannya baru saja seutuhnya. Dan dipetakan sama sekali tidak akan ada kemungkinan terkecil pun bagi Jo Gul sendiri untuk terbukti gagal menangkap deteksi kalimat ancaman tersebut seutuhnya kelak.

Ia saat ini secara nyata benar-benar sanggup menyaksikan sekujur raut wajah dari Jo Gul yang saat ini sedang sibuk mengayunkan pedang tajamnya di tengah halaman mendadak secara drastis berubah memancar pucat pasi layaknya raut wajah mayat seutuhnya kelak saat ini juga.

'Jasad pribadiku diwajibkan hukumnya secara mutlak mulai detik ini untuk tidak meluncurkan satu celah kesalahan pertahanan terkecil pun di sepanjang sisa pertempuran fisikku hari ini kelak.'

Arah pandangan mata Baek Cheon tampak kembali berputar lurus menatap ke arah depan seutuhnya kelak.

Tepat di hadapan badannya saat ini, Jin Hyeon tampak sedang menatap lurus ke arah jasad badannya menggunakan raut wajah yang terpampang nyata memancar mengeras kaku diliputi oleh emosi permusuhan yang teramat sangat serius sekali seutuhnya kelak.

Baek Cheon secara perlahan mulai membuka lubang mulutnya lirih seutuhnya.

"Tindakan konyol macam apa sebenarnya yang sedang dicoba diselesaikan oleh kedua belah kaki jasadmu di tempat itu sejak tadi, tuan?"

"……Apa?"

"Karakter kepribadian yang kau sandang di dalam dadamu selama ini bersumpah sama sekali tidak terlihat menyerupai tipe pendekar didikan luar yang terlampau gemar menyia-nyiakan waktu berharganya murni bertujuan untuk menjaga batas wibawa citra kesopanan yang kaku di depan umum kelak seutuhnya."

Detik di saat fungsi otaknya berhasil mencerna secara tepat esensi dari kalimat sindiran tajam yang dilayangkan oleh Baek Cheon baru saja seutuhnya, Jin Hyeon menggigit bibir bawahnya kencang seutuhnya.

Dan segera setelah itu, ia melepaskan suara teriakan lantangnya menggunakan intonasi suara yang terdengar sangat rendah dan dalam seutuhnya kelak.

"Bantu pergerakan saudara seperguruan kalian sekarang juga!"

"……Sahyung?"

"Urusan konyol macam apa lagi sebenarnya yang sedang diselesaikan oleh sepasang mata kalian di tempat itu, hah?! Rapatkan barisan kalian dan meluncurlah membantu sekarang juga!"

"Baik!"

Seluruh murid didikan Sekte Wudang yang sebelumnya secara konsisten terus memosisikan jasad mereka berdiri tegak mengawal area belakang punggung badan Jin Hyeon tampak secara kompak langsung melesat membubarkan barisan mereka, meluncur deras menyebar ke berbagai penjuru arah halaman sekte murni bertujuan untuk menyokong pertahanan jasad dari saudara seperjuangan mereka yang saat ini terpantau sedang berada dalam kondisi babak belur dihantam oleh tebasan pedang didikan Gunung Hua seutuhnya kelak.

Baek Cheon melayangkan pandangan matanya memantau kegaduhan tersebut sejenak sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman tipis seutuhnya kelak.

"Sebuah wujud pemandangan pertempuran yang teramat sangat indah sekali seutuhnya, jenis pemandangan langka yang seumur hidup kehidupanku bersumpah sama sekali tidak akan pernah sudi kulupakan kelak. Barisan pendekar utusan Sekte Wudang yang agung pada akhirnya dipaksa harus secara memalukan meluncurkan aksi serangan gabungan massal murni bertujuan hanya untuk sekadar menandingi kapasitas kekuatan dari murid Gunung Hua kami……"

"……"

Jin Hyeon sama sekali tidak mampu menyuarakan satu suku kata kalimat sanggahan atau kalimat bantahan verbal apa pun dari balik bibirnya seketika seutuhnya dan murni hanya memilih untuk terus menggigit bibir bawahnya kencang dalam keheningan seutuhnya.

'Keparat sialan seutuhnya.'

Terlepas dari apakah pada akhirnya fajar hari ini rombongan mereka terbukti secara ajaib sanggup mengamankan kemenangan pertempuran kelak, kemenangan kotor semacam itu dipastikan sama sekali tidak akan pernah menyandang martabat wibawa kehormatan yang layak untuk dibanggakan oleh Sekte Wudang kelak untuk selamanya. Bukan, jika bagian hatinya bersedia meluruskan kenyataannya riilnya hari ini, peristiwa pertikaian fisik hari ini diproyeksikan kelak pasti hanya akan berakhir tercatat sebagai sebuah aib kehinaan yang teramat sangat memalukan sekali bagi nama besar Sekte Wudang seutuhnya kelak.

Seandainya sengketa wilayah hari ini bukan merupakan sejenis pertempuran fisik krusial yang hukumnya diwajibkan secara mutlak untuk dimenangkan oleh pihak Sekte Wudang demi kelancaran rencana makam pedang mereka selama ini, ia bersumpah seumur hidup kehidupannya sama sekali tidak akan pernah sudi meluncurkan metode bantuan gabungan memalukan semacam ini hari ini kelak, bahkan sekalipun jasad pribadinya dipaksa harus secara terhormat menelan kekalahan bertarung satu lawan satu di lapangan kelak seutuhnya.

"Bukankah kenyataan riil hari ini terlihat teramat sangat menggelikan sekali seutuhnya bagi lubang dadamu, tuan?"

Jin Hyeon melepaskan suara helaan napas panjang yang sangat berat seutuhnya, sebelum akhirnya secara perlahan menutup dan membuka kembali sepasang kelopak matanya pelan seutuhnya kelak.

Menyaksikan seluruh luapan emosi amarah beserta guncangan mental yang sebelumnya sempat merusak ketegangan jiwanya mendadak secara drastis menguap lenyap tak berbekas seutuhnya dari wajah pemuda di depannya baru saja seutuhnya seketika, Baek Cheon secara refleks tampak menganggukkan kepalanya khidmat dalam keheningan seutuhnya.

'Tingkat kapasitas yang sangat mengagumkan sekali seutuhnya.'

Jika parameter penilaiannya diarahkan lurus untuk menilai kualitas ketahanan Ketenangan Pikiran (Immovable Mind) yang dikuasai oleh pemuda di depannya saat ini, ia secara jujur dipaksa harus mengakui bahwa tingkat kapasitas batin yang dikuasai oleh Jin Hyeon terbukti berdiri jauh lebih matang melampaui batas Ketenangan Pikiran yang ia kuasai sendiri selama ini seutuhnya kelak. Baek Cheon hingga detik ini di dalam dadanya sejujurnya masih sangat kesulitan sekali untuk bisa mengendalikan rambatan gejolak emosi batinnya seutuhnya hingga ke batas kestabilan emosi sematang itu kelak.

Meskipun demikian di bawah langit fana, ketahanan batin yang mengagumkan tersebut hanya sebatas itu saja kadar kemampuannya kelak seutuhnya.

Tepat pada momen kestabilan jiwa tersebut dicapai seutuhnya, Jin Hyeon kembali membuka suara lirih seutuhnya kelak.

"Apakah aku secara pribadi diperbolehkan untuk melayangkan satu buah pertanyaan penting ke hadapan Anda saat ini?"

"Silakan utarakan kelancangan pertanyaanmu kelak."

"……Murni bermodalkan mengerahkan metode penyiksaan macam apa sebenarnya kalian sekalian dipetakan kelak pasti akan sanggup tumbuh berkembang mengamankan kapasitas kekuatan bela diri sedahsyat ini di dalam dada kalian hari ini?"

"Kosakata pertanyaan yang kau ajukan baru saja bersumpah sama sekali tidak terdengar menarik bagi minat pribadiku seutuhnya kelak. Bukankah alasan logis di balik kemunculan kapasitas kekuatan bela diri kami hari ini terlampau sederhana sekali wujudnya seutuhnya di dunia nyata? Kami semua murni murni didasari murni hanya karena telah melangsungkan porsi latihan kerja keras fisik kami dengan sebaik-baiknya kelak seutuhnya."

"Apakah di dalam isi kepalamu saat ini kau secara nyata benar-benar sedang melayangkan lelucon sepele murni bertujuan untuk mentertawakan kelangsungan hidup jasad pribadiku saat ini juga, hah?"

Baek Cheon murni hanya memilih untuk mengangkat kedua belah pundaknya santai seutuhnya kelak.

Langkah penyelamatan macam apa lagi sebenarnya yang sanggup ia laksanakan kelak jika pendekar di depannya saat ini terbukti tetap bersikeras menolak mempercayai kebenaran kalimat ucapannya seutuhnya kelak, meskipun ia pribadi telah menyuarakan wujud kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lapangan selama ini? Tentu saja, di sepanjang jalinan kalimat penjelasannya baru saja, ia secara sengaja telah melalaikan keberadaan dari barisan kosakata tambahan penting seperti: "latihan kerja keras hingga ke batas ambang kematian fisik", "latihan kerja keras hingga lubang mulutmu memuntahkan busa putih pekat", serta "latihan kerja keras hingga jasadmu memuntahkan kucuran darah segar dari lubang hidungmu" seutuhnya kelak dari dalam penjelasannya seutuhnya kelak.

'Bahkan jika jasad pribadiku bersedia membeberkan seluruh metode latihannya secara terperinci ke hadapan lubang telingamu saat ini sekalipun, jasad fisizmu dipetakan sama sekali tidak akan pernah sanggup melaluinya kelak seumur hidupmu seutuhnya.'

Hal luar biasa semacam itu bersumpah sama sekali bukan merupakan sejenis pencapaian fisik yang akan sanggup diselesaikan hanya bermodalkan mengandalkan kekuatan tekad kemauan batin yang kuat belaka seutuhnya kelak di bawah langit. Keajaiban perkembangan fisik semacam itu terbukti baru akan sanggup diwujudkan secara nyata kelak jika di samping badannmu senantiasa memelihara kehadiran dari seorang pendekar iblis kejam yang tidak akan pernah sekali pun membiarkan jasad badannmu menikmati waktu istirahat tenang, secara konsisten terus menerus menyiksa ketahanan jiwamu hingga ke batas di mana pikiran logismu kelak pasti akan secara refleks meyakini bahwa menelan ajal kematian yang tragis dipetakan menyandang nilai kenyamanan yang jauh lebih indah sekali untuk dinikmati dibandingkan dengan harus memaksakan diri bertahan hidup melintasi program penyiksaan fisiknya kelak seutuhnya.

Mengingat kembali segenap memori penyiksaan fisik yang telah berhasil ia lalui di masa lalu selama ini secara instan terbukti sanggup memicu rasa merinding yang teramat sangat menyiksa sekali menjalar memenuhi sekujur area tulang belakang badannya baru saja seutuhnya, memicu tubuh fisiknya bergetar halus secara refleks seutuhnya kelak.

"Semua detail rahasia tersebut sudah tidak lagi penting untuk dipikirkan seutuhnya saat ini kelak. Tidak peduli metode latihan macam apa yang telah berhasil kalian selesaikan selama ini, fakta riil yang menegaskan bahwa rombongan kalian saat ini telah tumbuh berkembang menyandang kapasitas kekuatan bertarung yang tangguh tetaplah merupakan kenyataan konkrit yang wajib diterima seutuhnya kelak. Meskipun begitu, ada satu pertanyaan penting tambahan lainnya kelak."

Sekujur raut wajah dari Jin Hyeon tampak berkerut halus seketika seutuhnya kelak, seolah-olah wujud pertanyaan yang satu ini dipetakan merupakan satu-satunya hal sepele yang sama sekali tidak akan pernah sanggup diterima oleh harga diri tingginya seumur hidupnya kelak, terlepas dari seberapa suksesnya ia melatih kapasitas Ketenangan Pikiran di dalam dadanya selama ini seutuhnya.

"Mengapa pendekar keparat yang satu itu hingga detik ini terbukti tetap bersikeras memosisikan jasad badannya duduk diam di sudut halaman tanpa memelihara ketertarikan untuk melangkah mengambil posisi bertempur di halaman ini fajar ini? Apakah di dalam isi kepalanya saat ini ia secara sepihak benar-benar sedang melayangkan kelancangan sikap merendahkan martabat Sekte Wudang kami seutuhnya kelak? Ataukah jangan-jangan jasad keparat itu murni sedang mencoba sekuat tenaga melindungi sisa reputasi nama harum sepele miliknya dari ancaman kekalahan bertarung menghadapi kekuatan pribadiku kelak?"

Pendekar keparat yang satu itu.

Sembari memalingkan pandangan kepalanya sedikit menatap ke arah posisi duduk bersila Chung Myung di sudut halaman sekte sejenak seutuhnya baru saja, Baek Cheon sama sekali tidak sanggup menahan diri dan berakhir melepaskan suara dengusan tawa geli yang tipis seutuhnya kelak.

"Tampaknya bagian pemahaman logis di dalam kepalamu saat ini benar-benar telah terlanjur dilanda oleh kesalahpahaman yang teramat sangat mengerikan sekali seutuhnya kelak, tuan."

"……Kesalahpahaman, kau menyatakannya?"

"Murni bermodalkan mengandalkan kualitas keahlian bela diri pedang sepele yang kau kuasai di dalam genggaman tangan jasadmu saat ini saja bersumpah sama sekali tidak akan pernah menyandang kapasitas yang cukup untuk sekadar menyeret keluar jasad pendekar itu masuk ke dalam area pertempuran fisik hari ini kelak. Seorang pendekar sejati di bawah langit dipetakan baru akan bersedia menarik keluar pedang tajam dari sarungnya kelak jika tingkat kapasitas keilmuan spiritual dari jasad lawannya terbukti menyandang tingkat pencapaian spiritual yang dinilai sepadan seutuhnya kelak."

Sekujur wajah Jin Hyeon langsung memancar menggelap suram akibat didera oleh emosi permusuhan yang membara hebat seketika seutuhnya kelak.

"Meskipun begitu, kuharap bagian hatimu sama sekali tidak perlu meluapkan emosi amarah yang terlampau berlebihan semacam itu ke hadapanku hari ini kelak. Variabel ketimpangan kekuatan yang kau hadapi saat ini bagaimanapun juga terbukti berjalan dengan wujud serupa ke hadapan jasad pribadiku selama ini seutuhnya kelak. Catatan takdir dunia fana terkadang memang terbukti secara ajaib sanggup melahirkan wujud-wujud ciptaan mistis yang teramat sangat janggal sekali di luar batas kewajaran fana; persis seperti wujud dari seekor anak ayam fana yang dilahirkan menyandang kepemilikan dari tiga buah kaki fisik seutuhnya, ataupun wujud dari sesosok ular liar yang dilahirkan menyandang kepemilikan dari dua buah ekor fisik seutuhnya kelak. Dan jika takdir keajaiban semacam itu benar-benar mewujud nyata kelak, maka kau sekalian diproyeksikan kelak pasti akan dipaksa harus terbiasa berhadapan langsung secara fisik menghadapi sesosok monster iblis sejati yang menyandang kepemilikan dari tiga buah kepala lengkap dengan enam buah lengan fisik seutuhnya kelak nanti."

"……Tiga buah kepala lengkap dengan enam buah lengan fisik, kau mengatakannya?"

"Jangan pernah sekali pun memelihara rasa cemas di dalam lubang dadamu hari ini kelak. Jasad pribadiku dipastikan kelak pasti akan dengan sangat antusiasnya bersedia melayani jalannya nafsu bertarungmu esok fajar hari ini seutuhnya kelak. Murni bertujuan untuk melayani pertempuran fisik menghadapi sang Pedang yang Tak Patah didikan Wudang hari ini, aku pribadi meyakini kualitas kekuatan dari Pedang Bunga Plum Gunung Hua dipetakan sudah terlampau lebih dari cukup sekali kelak untuk mengimbangi kapasitas kekuatanmu seutuhnya kelak, bukan begitu? Mengerahkan kapasitas kekuatan dari sang Naga Ilahi Gunung Hua murni bertujuan hanya untuk menumbangkan pendekar sekelas dirimu bersumpah dipetakan merupakan wujud pemborosan kekuatan bertarung yang terlampau berlebihan sekali belaka seutuhnya kelak."

"Bukankah kau pribadi menyandang status kehormatan sebagai Paman Guru didikan dari pendekar keparat tersebut selama ini?"

"Status kepangkatan generasi didikan sekte bagaimanapun juga sama sekali tidak akan pernah bisa digunakan sebagai tameng pelindung murni bertujuan untuk menutupi ketimpangan kapasitas kekuatan bertarung yang sesungguhnya terjadi di lapangan fana seutuhnya kelak."

Ada satu kurun waktu perjalanan hidup di masa lalu dahulu di saat diri Baek Cheon sendiri terbukti secara kaku terus memelihara kegilaan terobsesi secara berlebihan untuk menjunjung tinggi nilai kepangkatan generasi didikan sekte semacam itu sepanjang hidup seutuhnya kelak. Meskipun demikian mulai detik ini, ia akhirnya berhasil menyadari secara nyata sebuah kebenaran persilatan yang menegaskan bahwa tindakan memfokuskan segenap usaha keras murni bertujuan untuk membuat jasad pribadinya tumbuh berkembang menjadi sesosok pendekar yang jauh lebih tangguh seutuhnya kelak dipetakan menyandang tingkat kepentingan yang mencapai kisaran angka ratusan kali lipat jauh lebih krusial sekali untuk diselesaikan seutuhnya kelak di bawah langit.

"Rombongan kita sudah sewajarnya wajib segera memulai jalannya pertempuran fisik kita saat ini juga kelak. Jika tidak, keponakan murid iblis gila pribadiku di seberang sana diproyeksikan kelak pasti akan segera meluncurkan badai amarah verbalnya kembali memaki jasad badanku sepanjang jalan seutuhnya kelak nanti. Meskipun begitu sebelum pertarungan fisik kita resmi meledak di halaman ini kelak, akan berjalan jauh lebih bijaksana bagi rombongan kita untuk menyepakati satu buah janji pertempuran resmi terlebih dahulu fajar ini kelak."

Baek Cheon menyuarakan kalimat lanjutannya sembari memusatkan sepasang bola mata tajamnya menatap lurus ke arah raut wajah Jin Hyeon dengan ketegasan yang mutlak seutuhnya kelak.

"Jika jasadmu pada akhirnya terbukti secara memalukan menelan kekalahan bertarung di dalam pertarungan satu lawan satu menghadapi kekuatan pedangku fajar ini, maka pihak Sekte Wudang diwajibkan hukumnya secara mutlak untuk segera angkat kaki menarik mundur seluruh sisa pasukan kalian meninggalkan wilayah Namyang ini hari ini juga seutuhnya kelak. Dan jangan pernah sekali pun di sepanjang sisa hidup kalian meluncurkan tindak penindasan fisik terkecil pun kelak ke hadapan keselamatan hidup Sekte Bayangan Api kita kelak seutuhnya. Janji pertempuran resmi ini dipetakan baru akan memiliki kekuatan hukum yang sah kelak jika jasadmu memang terbukti dilahirkan menyandang status sebagai sesosok pendekar persilatan sejati yang masih sanggup memahami esensi rasa malu seutuhnya kelak di bawah langit."

Jin Hyeon menyahut menyuarakan kalimat jawabannya menggunakan raut wajah yang terpampang nyata memancar mengeras kaku seutuhnya kelak.

"Jika jasad pribadiku pada akhirnya terbukti secara memalukan menelan kekalahan bertarung dihantam oleh kekuatan pedangmu hari ini kelak, aku bersumpah kelak pasti akan mempertaruhkan seluruh sisa nama kehormatan pribadiku seutuhnya murni bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh rangkaian janji pertempuran tersebut kelak pasti akan terwujud nyata seutuhnya kelak."

"Jika jalinan kesepakatannya terbukti berjalan dengan wujud semacam itu kelak, maka kesepakatan janji pertempuran kita resmi disahkan mulai detik ini juga seutuhnya kelak."

Sret.

Baek Cheon dengan gerakan gagah tampak menarik keluar pedang tajam miliknya dari sarungnya seutuhnya kelak.

Jin Hyeon juga secara perlahan mulai menarik keluar pedang tajam miliknya membelah udara seutuhnya kelak.

Kedua belah pihak di lapangan saat ini terpantau telah selesai melangsungkan sesi pertukaran silsilah nama kehormatan masing-masing lengkap dengan diiringi oleh penyelesaian janji pertempuran yang matang, sehingga tidak ada satu suku kata basa-basi lisan pun yang dipetakan akan sanggup menyajikan kegunaan tambahan apa pun lagi kelak di antara mereka seutuhnya kelak. Satu-satunya urusan operasional yang tersisa bagi tangan jasad mereka saat ini tidak lain adalah murni bertujuan untuk membuktikan secara nyata di depan umum perihal siapa sebenarnya sosok pendekar pedang sejati yang menyandang kapasitas kekuatan terunggul seutuhnya kelak di bawah langit.

"Hiaaaat!"

Jin Hyeon melesat menerjang maju kencang menghampiri posisi jasad Baek Cheon tanpa memelihara keraguan mental sedikit pun di dalam dadanya seutuhnya kelak seketika.

'Jasad pribadiku sama sekali tidak diperbolehkan meluncurkan satu celah kesalahan pertahanan terkecil pun yang sanggup digunakan sebagai celah masuk bagi tebasan pedangnya kelak.'

Ia sedari tadi bersumpah sama sekali tidak membiarkan fokus jiwanya hanyut terlena menonton pertunjukan bela diri dari posisi barisan belakang belaka seutuhnya kelak. Ia secara sadar telah memusatkan segenap kepekaan inderanya murni bertujuan untuk memantau detail jalannya pertempuran fisik yang telah diselesaikan oleh saudara seperguruannya selama ini seutuhnya. Dan kualitas serangan tebasan pedang didikan Gunung Hua yang ia amati selama ini terbukti menyandang kadar laju tebasan yang teramat sangat kilat dan memancar luar biasa megah sekali seutuhnya kelak. Jika jasad pribadinya terbukti secara sepihak menyerahkan inisiatif serbuan perdana kepada pihak lawan sejak detik pertama pertempuran meledak kelak, maka bagian tangannya dipetakan kelak pasti tidak akan pernah memiliki kesempatan fisik untuk meluncurkan satu pecutan serangan balasan pun kelak seumur hidupnya seutuhnya, apalagi memiliki mimpi indah untuk menerapkan taktik menusuk belakangan kelak, sebelum akhirnya dipaksa menelan tragedi kekalahan bertarung yang teramat sangat menghinakan martabatnya seutuhnya kelak.

Meskipun demikian saat ini, di dalam sepasang bola mata Baek Cheon yang saat ini sedang berdiri diam menyaksikan datangnya laju serbuan kencang dari Jin Hyeon baru saja, sama sekali tidak terpantau adanya secercah keraguan ataupun kecemasan spiritual terkecil pun di dalam jiwanya seutuhnya kelak.

'Hari ini, jasad pribadiku akhirnya berkesempatan untuk menyaksikan secara nyata kembali seutuhnya kelak.' Perihal kualitas kengerian dari sesosok monster iblis didikan luar macam apa sebenarnya yang selama ini telah melatih ketajaman bilah pedang jasad rombongan kami di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir ini seutuhnya kelak.

- Isi di dalam kepala jasadmu bersumpah terbukti teramat sangat kosong melompong sekali belaka seutuhnya kelak! Kosong melompong seutuhnya! Paman Guru, jasad pribadimu hari ini terbukti secara sah telah berakhir mati lebur sebanyak dua belas kali berturut-turut di sepanjang jalannya sesi latihan fisik kita baru saja! Huh? Apakah di dalam dadamu saat ini kau secara nyata benar-benar memelihara hobi aneh untuk mencicipi kematian fisik sepanjang hari, hah? Kau memelihara ketertarikan untuk berakhir mati lebur berulang kali kelak di dunia nyata? Baiklah kalau begitu. Mari kita saksikan bersama seberapa banyak jumlah kematian fisik tambahan yang sanggup ditampung oleh tubuh jasadmu hari ini hingga kau secara nyata benar-benar berakhir mati lebur untuk selamanya kelak nanti!

"Urgh."

Sembari memaksakan bagian hatinya menepis jauh-jauh sisa kenangan penderitaan penyiksaan fisik gila yang bahkan seumur hidupnya sama sekali tidak pernah ia dambakan kehadirannya untuk mampir menghias mimpi buruk tidurnya selama ini seutuhnya, Baek Cheon menggertakkan sepasang gigi gerahamnya kencang seutuhnya sembari mempererat genggaman telapak tangannya mencengkeram gagang pedang tajamnya kencang seutuhnya. Dan ia langsung melesat menerjang maju ke depan menyongsong datangnya laju serbuan fisik Jin Hyeon kencang seutuhnya kelak saat itu juga.

'Naga Pedang, kau menyatakannya?' Sosok master muda terkuat tunggal yang namanya dinobatkan menduduki kasta tertinggi di antara barisan pendekar generasi zaman sekarang seutuhnya kelak? Mungkin saja jika tragedi memalukan di sepanjang peristiwa Ancestral Flame Conference kemarin fajar terbukti tidak pernah sekali pun meledak di dunia nyata selama ini, nama kehormatan dari Jin Geum-ryong didikan Sekte Southern Edge diproyeksikan kelak pasti akan ikut diseret masuk menempati tempat kehormatan di bawah naungan nama besar Enam Naga seutuhnya kelak sepanjang sejarah. Dengan kata lain di lapangan fana, kapasitas kekuatan bertarung yang dikuasai oleh Jin Hyeon di dalam dadanya saat ini sebenarnya berada pada tingkat pencapaian bela diri yang kurang lebih setara seutuhnya dengan kapasitas kekuatan yang dimiliki oleh Jin Geum-ryong selama ini seutuhnya kelak.

Sepasang kelopak mata Baek Cheon tampak memancar mendingin kaku seketika seutuhnya kelak.

Laju pergerakan bilah pedang tajam Jin Hyeon, yang saat ini terpantau telah diselimuti secara penuh oleh kelebatan energi pedang (Sword Qi) berwarna biru samudra yang sangat tebal sekali seutuhnya, tampak meluncur membelah udara dengan gerakan menebas yang teramat sangat anggun sekali seutuhnya kelak. Itu benar-benar menyajikan keindahan visual yang teramat sangat menakjubkan sekali, menyerupai sehelai kain sutra biru berkualitas tinggi yang sedang dikibas-kibaskan dengan sangat indahnya membelah angkasa raya seutuhnya kelak. Aliran kekuatan Qi internal yang teramat sangat dahsyat sekali seutuhnya. Lengkap dengan disokong secara kokoh oleh wujud pertahanan kuda-kuda pedang yang teramat sangat stabil dan immovable sekali sepanjang jalan seutuhnya kelak. Itu adalah merupakan wujud keindahan jurus pedang yang teramat sangat legendaris sekali seutuhnya, jenis keindahan jurus pedang suci yang memicu seluruh pendekar persilatan di penjuru bumi fana untuk melayangkan kalimat pujian khidmat murni bertujuan untuk mengagumi keagungan nama besar Jin Hyeon selama ini seutuhnya.

Meskipun demikian di bawah langit fana, semua detail keindahan tersebut hanya sebatas itu saja kadar kemampuannya seutuhnya kelak.

Bilah pedang tajam di dalam genggaman tangan Baek Cheon tampak bergetar halus untuk satu detik lamanya seutuhnya kelak.

Mekarlah seutuhnya kelak.

Dari arah ujung bilah pedang tajam miliknya baru saja seutuhnya, satu buah kelopak bunga plum merah suci tampak mekar menghiasi udara dengan sangat indahnya seketika seutuhnya kelak.

'Jasad pribadiku akhirnya secara nyata benar-benar telah berhasil memicu kelopak bunga plum suci ini mekar dengan sempurnanya fajar ini.' Setelah secara konsisten terus menerus memaksakan batas ketahanan fisik tubuhnya menempuh porsi penyiksaan fisik gila tanpa henti sepanjang hari selama ini, menghancurkan seluruh silsilah pemahaman pedang lamanya hingga hancur berkeping-keping tanpa sisa sebelum akhirnya menyusunnya kembali dari dasar seutuhnya kelak berulang kali sepanjang sejarah seutuhnya. Tepat di bagian ujung bilah pedang tajam milik Baek Cheon saat ini juga seutuhnya, sekuntum kelopak bunga plum merah suci akhirnya secara resmi benar-benar telah mekar dengan sangat indahnya menghiasi udara seutuhnya kelak saat ini juga.

Wujud kelopak bunga plum suci yang mekar dengan anggunnya tersebut hanya selang satu kelebatan napas belaka seutuhnya kelak tampak berlipat ganda memuntahkan puluhan kelopak bunga plum merah suci lainnya yang memenuhi seluruh penjuru angkasa seutuhnya kelak. Seolah-olah sebuah embusan angin badai misterius mendadak meledak membelah halaman sekte dari arah yang sama sekali tidak diketahui sejak tadi, barisan kelopak bunga plum merah suci yang memenuhi angkasa raya tersebut tampak meluncur deras membelah udara menyajikan kelebatan visual menyerupai datangnya fenomena hujan badai kelopak bunga plum merah suci yang sangat megah dan menakjubkan sekali di udara seutuhnya kelak.

"Ah……."

Sepasang kelopak mata Jin Hyeon tampak membelalak lebar seketika seutuhnya akibat dirundung keguncangan mental yang hebat. Ia secara terburu-buru memaksakan sisa otot fisiknya bergerak kencang mengayunkan pedang tajamnya sekuat tenaga murni bertujuan menghalau datangnya hamparan badai kelopak bunga plum di depannya seutuhnya kelak.

Sebuah gelombang tebasan energi pedang (Sword Qi) berwarna biru samudra tampak meledak hebat menyelimuti seluruh penjuru tubuh badannya seutuhnya kelak. Sebuah jurus pertahanan defensif yang Berkelanjutan dan Tak Terputus seutuhnya. Aliran energi pedang defensif Wudang yang tampak seolah-olah dipetakan akan runtuh dihantam lawan pada detik ini juga, namun secara ajaib terbukti senantiasa sanggup mempertahankan kelangsungannya secara berkesinambungan tanpa pernah sekali pun terputus di tengah jalan seutuhnya kelak.

Meskipun demikian di bawah langit fana, merupakan sebuah kemustahilan besar bagi pertahanan jasad manusia fana untuk sekadar sanggup menangkis seluruh arah datangnya ribuan kelopak bunga plum merah suci yang meluncur deras menyelimuti sekujur tubuh badannya dari berbagai penjuru arah secara bersamaan seutuhnya kelak.

Sret.

Satu buah kelopak bunga plum merah suci yang secara ajaib terbukti sanggup meluncur mulus melintasi celah kosong di antara kerapatan jalinan tebasan energi pedang defensif miliknya baru saja seutuhnya tampak meluncur deras menyayat kencang bagian area pinggang samping tubuh jasad Jin Hyeon kencang seutuhnya kelak.

"Keuk!"

Seiring dengan runtuhnya kerapatan kuda-kuda pertahanan pedang defensif miliknya akibat dari hantaman luka sayatan di pinggangnya baru saja seutuhnya seketika, hamparan kelopak bunga plum merah suci yang tersisa di udara secara kompak tampak langsung melesat memburu kencang menerjang ke arah sekujur tubuh jasad Jin Hyeon secara bersamaan seutuhnya kelak saat itu juga.

"Ah……."

Ratusan kelopak bunga plum merah suci tampak meluncur deras menyapu bersih sekujur tubuh jasad Jin Hyeon seutuhnya kelak.

Bruk.

Baek Cheon, yang sedari tadi berdiri diam menatap tenang ke arah tubuh jasad Jin Hyeon yang kini telah resmi roboh tersungkur kotor di atas permukaan tanah halaman sekte baru saja seutuhnya, dengan gerakan tubuh yang teramat sangat tenang sekali tampak mendorong kembali bilah pedang tajam miliknya masuk ke dalam sarungnya dengan sangat rapinya seutuhnya kelak.

"Tampaknya pemberian gelar kehormatan Naga Pedang masih terhitung agak sedikit terlalu dini belaka seutuhnya bagi kapasitas dirimu."

Itu adalah merupakan sejenis kalimat sindiran kejam yang memancar sangat dingin sekali layaknya sebongkah es beku seutuhnya kelak di depan umum.

Dan tanpa pernah sekali pun melewatkan kesempatan emas tersebut seutuhnya, sesosok volume suara aneh yang sangat khas tampak menyusul menyela ucapannya kembali dari arah belakang punggung badannya seutuhnya kelak saat itu juga.

"Kuh, lihatlah betapa luar biasa kerennya wujud penampilan sok jagoan dari Paman Guru kita yang satu ini, kawan."

"Ah, bukankah sudah kukatakan kepadamu sebelumnya secara tegas untuk tidak meluncurkan ejekan konyol semacam itu hari ini, bajingan?!"

Keparat keponakan murid sialan yang satu ini seutuhnya kelak memelihara kelakuan yang teramat sangat kurang ajar sekali belaka rupanya seutuhnya kelak……

Chung Myung

Chung Myung

Karakter Utama
Baek Cheon

Baek Cheon

Pendukung
Yu Iseol

Yu Iseol

Heroine
Yoon Jong

Yoon Jong

Pendukung
Jo Gul

Jo Gul

Pendukung
Tang Gunak

Tang Gunak

Pendukung
Hyeyeon

Hyeyeon

Pendukung
Lim Sobyeong

Lim Sobyeong

Pendukung
Jang Ilso

Jang Ilso

Antagonis
Hyun Jong

Hyun Jong

Pendukung
Hyun Young

Hyun Young

Pendukung
Tang Soso

Tang Soso

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.