Chapter 127: Pedang Gunung Hua Sangat Kuat (2)
Wi Ripsan, yang telah menghabiskan sepanjang malam terjaga penuh tanpa memejamkan mata sedetik pun, memusatkan pandangan mata sayunya menatap ke arah langit dengan sepasang mata merah memancar lelah seutuhnya.
Musang matahari terbukti telah terlanjur membumbung tinggi menghiasi langit fana saat ini.
'Seluruh kejadian ini benar-benar merupakan wujud kegilaan sejati.'
Kemarin fajar baru saja, Wi Ripsan merasa dirinya telah terseret sepenuhnya oleh pusaran atmosfer heboh yang diciptakan secara sengaja oleh Chung Myung beserta rombongannya selama ini.
Sangat kecil sekali kemungkinan bagi sesosok pendekar senior yang menyandang usia fisik dan jam terbang bertualang setinggi dirinya untuk bisa terombang-ambing emosinya murni didasari oleh pengaruh suasana hati segerombolan pemuda ingusan yang usianya pantas menjadi anak kandungnya sendiri selama ini. Meskipun demikian, barisan pemuda dari Gunung Hua tersebut terbukti bukan merupakan segerombolan pemuda biasa belaka di bawah langit seutuhnya.
Pada akhirnya kemarin malam, Chung Myung terbukti baru bersedia menikmati waktu istirahat tidurnya setelah secara paksa menghabiskan seluruh sisa pasokan air minuman keras berkualitas lezat di dalam gudang sekte mereka tanpa tersisa setetes pun seutuhnya.
Dan yang jauh lebih mengerikan lagi bagi kenyamanan jiwanya adalah pemuda gila itu tampaknya masih memelihara tekad kuat untuk menenggak lebih banyak lagi minuman keras memabukkan lainnya jika saja aksi gilanya kemarin tidak ditahan sekuat tenaga oleh barisan Kakak Seperguruan seutuhnya kelak.
'Apakah rombongan kami kelak benar-benar akan baik-baik saja besok?'
Barisan murid Gunung Hua terbukti secara konkrit telah melangkah terlampau jauh melampaui batas kewajaran kemarin fajar.
Bukankah mereka secara sepihak telah berhasil memicu amarah permusuhan yang teramat sangat mengerikan sekali dari dalam dada seluruh murid Sekte Wudang di depan umum? Bahkan bagi diri Wi Ripsan sendiri sekalipun, ia dipastikan sama sekali tidak akan pernah bersedia meloloskan pelaku penghinaan semacam itu dengan mudah seumur hidupnya kelak seutuhnya.
Jika perang terbuka benar-benar meledak hari ini kelak, barisan murid Gunung Hua dipetakan sama sekali tidak akan pernah sanggup meloloskan diri mereka dari pertikaian tanpa menderita luka fisik yang parah kelak seutuhnya.
Meskipun begitu……
Wi Ripsan secara perlahan memberanikan diri membuka daun jendela kamarnya sedikit secara diam-diam.
Sepasang matanya menangkap pemandangan menarik dari barisan murid Gunung Hua yang telah berkumpul lengkap di halaman sekte fajar ini murni bertujuan untuk menikmati hangatnya pancaran sinar matahari pagi seutuhnya.
"Hwaaaam."
Sembari melepaskan suara kuapan panjang yang malas seutuhnya, Jo Gul memalingkan wajahnya menatap ke arah Yoon Jong saat ia membuka suara.
"Kapan sebenarnya para bajingan dari Wudang itu dipetakan akan menapakkan kaki di tempat ini hari ini, Sahyung?"
"Bukankah mereka kemarin secara resmi menegaskan kelak pasti akan meluncurkan serangan fajar hari ini?"
"Namun musang matahari saat ini terbukti telah terlanjur membumbung tinggi menghiasi langit fana."
"Mereka kemarin menegaskan kelak baru akan menyerang pada jam yang sama seperti kemarin fajar baru saja, jadi waktu luang yang tersisa bagi rombongan kita dipetakan masih terhitung cukup panjang saat ini. Jika bagian hatimu terbukti sama sekali tidak memelihara urusan penting apa pun saat ini, segeralah melangkahkan kakimu kembali masuk ke dalam kamar dan nikmatilah sisa waktu tidurmu hari ini."
"Aku pribadi telah terlanjur melatih tubuh fisikku sejak bertahun-tahun yang lalu untuk terbiasa terbangun setiap fajar menyingsing, jadi memaksakan diri untuk kembali tidur saat ini dirasa merupakan pekerjaan yang sangat menyiksa sekali bagiku seutuhnya."
"……Detail penjelasanmu barusan bersumpah terdengar teramat sangat menyedihkan sekali seutuhnya bagi lubang telingaku."
Terlepas dari apa pun wujud emosi kejiwaan yang dikandung di dalam dadanya selama ini, tubuh fisik Jo Gul terbukti telah diselimuti oleh kedisiplinan tingkat tinggi yang terpatri kuat murni berkat siksaan program latihan fisik gila Chung Myung selama ini seutuhnya.
Dan fakta menyedihkan yang sesungguhnya terjadi di lapangan adalah Yoon Jong sendiri di dalam dadanya terbukti memelihara wujud penderitaan fisik yang kurang lebih serupa seutuhnya.
"Di mana sebenarnya posisi keberadaan Chung Myung saat ini?"
"Bocah gila itu saat ini sedang terkapar pingsan tak sadarkan diri di atas ranjang tidurnya. Bukankah justru akan terlihat sangat janggal sekali bagi pandangan mata manusia jika ia terbukti sanggup terbangun dengan sehatnya hari ini setelah menenggak habis tumpukan minuman keras memabukkan sebanyak itu kemarin malam?"
"……Cepatlah melangkahkan kakimu menemui kamarnya dan paksa ia tersadar sekarang juga. Barisan bajingan Wudang dipetakan kelak pasti akan segera tiba di depan pintu gerbang utama sekte kita dalam waktu dekat."
"Apakah kau memelihara asumsi bodoh di dalam kepalamu bahwa bocah gila itu kelak pasti akan bersedia tersadar hanya murni bermodalkan usaha pemaksaan sepele dariku saat ini?"
"Jika metode biasa dinilai gagal kelak, gunakan metode menyiramkan seember air dingin tepat di atas kepalanya kelak."
"……Aku dipastikan kelak pasti akan mencoba menyelesaikannya sekuat tenaga nanti."
Wi Ripsan secara perlahan menutup kembali daun jendela kamarnya rapat-rapat dalam keheningan.
'Ayah. Aku pribadi saat ini benar-benar sudah tidak lagi mengetahui secara pasti tindakan penyelamatan macam apa yang wajib kuselesaikan demi menyelamatkan sekte kita kelak.'
Ia merasa seolah-olah arwah mendiang Ayahnya saat ini sedang menatap tajam ke arah dirinya dari alam surga sana dengan ekspresi wajah dipenuhi oleh rasa kekecewaan yang teramat sangat mendalam sekali seutuhnya.
Tepat pada momen kepasrahan tersebut melanda dirinya, daun pintu kamar didorong terbuka perlahan dari luar dan Yeom Pyeong beserta Wi Sohaeng tampak melangkahkan kaki mereka berjalan masuk ke dalam kamar seutuhnya.
"Ayah."
"……Urusan penting apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan, Sohaeng?"
"Langkah penyelamatan macam apa sebenarnya yang wajib segera kita selesaikan hari ini?"
"Hmm?"
"Barisan murid Sekte Wudang dipetakan kelak pasti akan segera meluncurkan serangan permusuhan mereka sebentar lagi. Bukankah sudah sewajarnya bagi kita untuk menyiapkan seluruh sisa murid kita demi bisa bertempur bersama-sama dengan mereka kelak?"
Wi Ripsan melepaskan helaan napas panjang yang sangat berat seutuhnya.
Pada kenyataannya, hingga detik ini ia pribadi sejujurnya masih belum sanggup merumuskan keputusan akhir yang tegas terkait dengan rencana pertempuran fisik hari ini seutuhnya.
Pihak yang terbukti secara sepihak meluncurkan kalimat provokasi perang menghadapi Sekte Wudang kemarin fajar tidak lain adalah pihak Gunung Hua sendiri seutuhnya, bukannya wujud kontribusi dari Sekte Bayangan Api mereka selama ini.
Mengingat bagian hatinya sejak kemarin fajar telah bersedia membulatkan tekad bulat untuk secara sukarela mengalah mengosongkan wilayah Namyang ini dalam skenario terburuk kelak, jika mereka memilih opsi tidak ikut campur di dalam pertempuran fisik hari ini dan memilih untuk berdiri diam mengamankan diri di sudut halaman, Sekte Bayangan Api dipetakan kelak pasti akan mampu meloloskan diri dari musibah pembantaian tanpa perlu menelan kerugian fisik yang besar seutuhnya kelak.
Selama ia bersedia melayangkan pengumuman resmi ke hadapan publik mendeklarasikan rencana kepindahan sekte mereka keluar dari wilayah Namyang dengan metode damai hari ini juga, pihak Sekte Wudang dipetakan kelak pasti tidak akan memiliki alasan logis tambahan apa pun untuk terus memperpanjang rentetan aksi penindasan fisik kejam mereka menghadapi sekte cabang kecil mereka seutuhnya kelak.
Meskipun demikian jika bagian hatinya hari ini justru memaksakan kehendak memilih bertempur bersama dengan rombongan Gunung Hua menghadapi mereka kelak, mereka sudah sewajarnya wajib mempersiapkan ketahanan jiwa mereka untuk menghadapi konsekuensi terburuk yang kelak pasti akan menyusul di masa depan nanti seutuhnya.
Ada kemungkinan besar bahwa barisan murid setia sekte mereka kelak pasti akan berakhir dengan tragedi luka fisik yang teramat sangat serius sekali seutuhnya di medan pertempuran nanti.
Terutama bagi diri Wi Ripsan beserta Wi Sohaeng sendiri seutuhnya, mereka berdua dipaksa harus membuang jauh-jauh sisa impian indah mereka untuk bisa meloloskan diri dari pertikaian fisik ini dengan kondisi jasad yang selamat tak terluka sedikit pun seutuhnya kelak nanti.
'Tindakan macam apa sebenarnya yang wajib kupilih hari ini?'
Sebuah pergolakan batin yang teramat sangat menyiksa sekali berkecamuk hebat merusak ketenangan pikiran Wi Ripsan seutuhnya saat ini.
Gagal merumuskan keputusan akhir yang matang di dalam kepalanya baru saja, Wi Ripsan memalingkan kepalanya menatap lurus ke arah Wi Sohaeng saat ia melayangkan pertanyaannya lirih.
"Menurut opini pribadi Anda sendiri saat ini, langkah penyelamatan macam apa sebenarnya yang wajib segera kita eksekusi hari ini?"
Itu bukan merupakan sejenis pertanyaan serius yang ia layangkan dengan segenap ekspektasi tinggi untuk mendapatkan solusi genius seutuhnya belaka. Ia murni melontarkan kalimat pertanyaan tersebut secara santai murni didasari murni untuk meluapkan kebingungan yang sedang berkecamuk memenuhi lubang dadanya selama ini belaka seutuhnya.
Meskipun begitu, kalimat jawaban yang disuarakan oleh Wi Sohaeng baru saja terbukti terdengar teramat sangat khidmat dan berwibawa sekali seutuhnya di luar dugaannya.
"Aku meyakini rombongan kita diwajibkan hukumnya secara mutlak untuk bertempur bersama-sama dengan mereka esok fajar nanti kelak seutuhnya."
"……Apa landasan logis di balik keyakinanmu tersebut?"
"Rombongan yang sedang menetap di paviliun saat ini adalah menyandang status sebagai tamu penolong sekte kita, sementara status hukum sekte kita di tempat ini tidak lain adalah sebagai pemilik kediaman sekte seutuhnya. Sangat tidak elok bagi moral pemilik kediaman untuk murni memilih berdiri diam menonton perjuangan fisik dari para tamu penolongnya yang sedang mempertaruhkan nyawa bertempur melindunginya kelak."
"……"
"Dan juga……"
Wi Ripsan sama sekali tidak menunjukkan pergerakan terburu-buru untuk menyela ucapannya, memilih berdiri diam dalam keheningan menanti kelanjutan kalimat penjelasan dari mulut Wi Sohaeng seutuhnya kelak.
"Alasan krusial yang melatarbelakangi mengapa aku seumur hidupku selama ini selalu menaruh rasa hormat yang teramat sangat tinggi sekali ke hadapan kewibawaan Anda, Ayah, beserta alasan mengapa aku secara tulus mencintai kelangsungan hidup Sekte Bayangan Api kita selama ini tidak lain adalah murni disebabkan karena Anda beserta Sekte Bayangan Api terbukti secara konsisten terus menjunjung tinggi nilai kehormatan diri yang mulia sepanjang sejarah seutuhnya. Anda tidak pernah sekali pun di dalam hidup Anda memelihara asumsi bodoh menganggap tumpukan uang sumbangan tahunan yang secara konsisten Anda kirimkan ke Sekte Utama Gunung Hua yang telah runtuh sebagai sebuah pemborosan modal finansial yang tidak berguna, dan Anda sama sekali tidak pernah melontarkan tuntutan imbalan sumbangan apa pun seumur hidup Anda kelak. Semua pembelaan mulia itu Anda lakukan murni didasari karena silsilah loyalitas sekte kita adalah sebagai sekte cabang bawahan resmi dari Gunung Hua seutuhnya."
"……Tebakanmu itu sangat tepat sekali seutuhnya."
"Meskipun status hukum sekte kita hanyalah sebatas cabang bawahan belaka seutuhnya di bawah langit, seorang murid didikan sekte tetaplah menyandang status kehormatan sebagai murid sejati seutuhnya kelak. Bagaimana mungkin hati nurani kita sanggup membiarkan diri kita sendiri murni berdiri diam menonton saudara seperguruan kita mempertaruhkan nyawa bertempur melindungi keselamatan sekte kita kelak?"
Wi Ripsan secara perlahan memalingkan pandangan kepalanya ke arah lain seutuhnya.
Rasanya teramat sangat canggung sekali bagi pandangan sepasang matanya untuk sekadar beradu tatap secara langsung dengan pandangan mata Wi Sohaeng yang memancarkan kejujuran moral yang begitu tingginya saat ini.
"Aku pribadi telah meluangkan waktuku kemarin fajar untuk menemui secara langsung sosok Pemimpin Sekte Utama Gunung Hua di atas sana. Dan tanpa memelihara keraguan mental sedikit pun di dalam dadanya, beliau secara langsung merilis izin resmi mengirimkan murid terbaiknya pergi membantu kelangsungan hidup Sekte Bayangan Api kita hari ini. Metode nyata yang diperagakan oleh rombongan mereka kemarin fajar mungkin memang tidak tergolong sopan di depan umum. Meskipun demikian, ketulusan niat yang dikandung di dalam lubang dada mereka terbukti sama sekali tidak salah sedikit pun seutuhnya. Bahkan jika hari ini jasadku dipaksa harus berakhir mati lebur di medan pertempuran kelak, aku bersumpah kelak pasti akan tetap bertempur berdampingan secara nyata dengan segenap kekuatan terbaikku di samping jasad mereka kelak."
'Aku merasa teramat sangat malu sekali seutuhnya.'
Seluruh untaian kalimat moral mulia tersebut sebenarnya merupakan wujud kalimat yang sering kali ia suarakan ke hadapan murid sektenya sendiri di sepanjang kurun waktu puluhan tahun terakhir selama ini.
Meskipun demikian di saat musibah kehancuran nyata benar-benar datang menghantam keselamatan sekte mereka hari ini, ia pribadi justru terbukti memelihara kelicikan berniat memalingkan pandangan matanya menjauh demi menyelamatkan keselamatan dirinya sendiri belaka seutuhnya, sementara Wi Sohaeng seorang diri belaka terbukti masih bersikeras sekuat tenaga mempertahankan ajaran moral mulia yang selama ini ia wariskan ke hadapannya seutuhnya.
Bagaimana mungkin ia tidak memelihara rasa malu yang teramat sangat mendalam sekali menyiksa bagian lubang dadanya saat ini?
"Yeom Pyeong."
"Ya, Pemimpin Sekte."
"Sampaikan pengumuman penting ini ke hadapan seluruh murid sekte kita saat ini juga. Siapa pun murid setia sekte kita yang memelihara tekad bertarung yang kuat hari ini, dipersilakan untuk tetap tinggal menetap di dalam sekte mempertahankan pos penjagaan mereka kelak. Sementara bagi siapa pun murid sekte kita yang sama sekali tidak memelihara ketertarikan untuk mempertaruhkan nyawa bertempur hari ini, dipersilakan untuk melangkahkan kaki mereka kembali pulang menemui kediaman keluarga mereka masing-masing hari ini juga seutuhnya."
"……Pemimpin Sekte."
"Aku secara pribadi bersumpah seumur hidupku sama sekali tidak akan pernah melayangkan tuntutan pertanggungjawaban hukum apa pun kelak ke hadapan siapa pun murid sekte yang secara sukarela memilih opsi angkat kaki meninggalkan Sekte Bayangan Api hari ini. Dan jika Sekte Bayangan Api kita terbukti secara ajaib masih sanggup mempertahankan kelangsungan hidupnya setelah musibah hari ini resmi berakhir kelak di masa depan nanti, aku dipastikan kelak pasti akan menyambut hangat kepulangan mereka kembali ke dalam pelukan sekte tanpa adanya tuntutan syarat apa pun seutuhnya kelak."
"Jika pengumuman pembebasan semacam itu benar-benar Anda rilis ke hadapan mereka saat ini juga, maka dipastikan sama sekali tidak akan tersisa satu orang murid didikan pun di dalam sekte ini kelak, tuan."
"Skenario buruk semacam itu dipastikan sama sekali tidak akan pernah terwujud nyata seutuhnya kelak."
Wi Ripsan menyajikan senyuman hangat yang tipis di wajahnya seutuhnya.
"Jasad pribadiku dipastikan kelak pasti akan tetap tinggal menetap bertempur di tempat ini seutuhnya, dan jasad Wi Sohaeng juga dipetakan kelak pasti akan tetap bertahan di samping badanku seutuhnya kelak."
"……"
"Hasil akhir semacam itu dirasa sudah terlampau lebih dari cukup bagi kita kelak. Kita dipetakan kelak pasti akan menyajikan pertempuran fisik terbaik kita murni murni bermodalkan membawa serta nama besar dari Sekte Gunung Hua seutuhnya kelak."
Yeom Pyeong menggelengkan kepalanya pasrah seutuhnya sembari melayangkan senyuman tipis seutuhnya.
"Anda berdua dipersilakan untuk melakukan hal tersebut kelak."
"Apakah kau pribadi dipetakan kelak pasti akan memilih opsi angkat kaki meninggalkan kami?"
"Aku secara pribadi dipetakan kelak pasti akan tetap tinggal menetap bertempur di tempat ini murni bermodalkan membawa serta nama besar dari Sekte Bayangan Api kita seutuhnya kelak, bukannya murni bertujuan membawa nama besar Sekte Gunung Hua seutuhnya kelak nanti."
"……"
"Sebuah aliran fajar yang teramat sangat indah sekali belaka rupanya hari ini, Pemimpin Sekte."
Setelah melewati kurun waktu keheningan yang cukup lama di antara mereka berdua baru saja, Wi Ripsan menyunggingkan senyuman tipis seutuhnya sembari menganggukkan kepalanya khidmat seutuhnya.
"Perkataanmu itu sangat benar adanya."
Sebuah pancaran tekad penyelesaian yang sangat kokoh dan beku sekali tampak mewarnai sepasang bola mata Wi Ripsan saat ia memusatkan pandangan matanya menatap lurus ke arah langit fajar yang jauh di balik belahan jendela kamarnya seutuhnya kelak.
"Benar-benar sebuah hari yang teramat sangat indah sekali seutuhnya."
"Ughhh. Bagian perut fisiku bersumpah rasanya teramat sangat menyiksa sekali karena didera oleh rasa mual yang dahsyat saat ini."
"……Bukankah hal menyiksa semacam itu sudah sewajarnya terjadi murni disebabkan karena keputusan bodohmu kemarin malam yang bersikeras menenggak habis seluruh sisa minuman keras di dalam tong secara membabi buta!"
"Kelakuan gilamu kemarin malam benar-benar tidak berbeda jauh dengan kelakuan seekor kuda tunggangan liar yang tali kekangnya baru saja ditebas putus secara sengaja di tengah jalan seutuhnya!"
Chung Myung mengarahkan sepasang tangannya mencengkeram kepalanya kencang seutuhnya.
"Ah, tolong hentikan teriakan berisik kalian dari tadi kencang. Suara berisik kalian terbukti secara instan sanggup memicu timbulnya rasa pening yang teramat sangat menyiksa sekali di dalam kepalaku saat ini."
"……Apakah di dalam kondisi kepala pening semacam itu kau dipetakan tetap kelak pasti akan sanggup menahan aliran air minuman keras di dalam perut fisimu saat ini? Kita diproyeksikan kelak pasti harus segera meluncur ke medan pertempuran fisik dalam waktu dekat nanti seutuhnya."
"Aku murni hanya perlu menetralisir racun minuman keras di dalam tubuhku sekarang juga belaka seutuhnya."
Chung Myung meregangkan seluruh jari-jemari telapak tangannya kencang seutuhnya.
Sebuah kelelebatan hawa mistis yang berwarna transparan tampak mulai menguap naik memancar keluar dari arah ujung jari-jemari telapak tangannya seutuhnya seketika.
Ia saat ini sedang mengerahkan kapasitas energi internalnya murni bertujuan untuk mengeluarkan sisa racun minuman keras memabukkan dari dalam tubuh fisiknya seutuhnya kelak.
Baek Cheon memusatkan pandangan matanya menatap lekat ke arah wujud keajaiban visual tersebut sejenak sebelum akhirnya melangkahkan kakinya bangkit berdiri tegak dari posisinya duduk seutuhnya.
Kemudian, dengan menggunakan intonasi suara yang terdengar teramat sangat serius sekali, jenis intonasi suara yang teramat sangat bertolak belakang sekali jika dibandingkan dengan kualitas perilakunya selama ini, ia mulai menyuarakan pidato singkatnya seutuhnya kelak.
"Semua anggota rombongan sekte kita, dengarkan ucapanku baik-baik."
"Ya, Paman Guru!"
"Hingga batas fajar hari ini baru saja, aku pribadi terbukti secara sah sama sekali tidak pernah sekali pun melayangkan satu suku kata teguran verbal apa pun ke hadapan kalian, terlepas dari kualitas tindakan tidak sopan macam apa yang kalian peragakan di dalam sekte cabang ini selama ini seutuhnya. Meskipun demikian, takdir aliran waktu mulai detik ini diproyeksikan kelak pasti akan berjalan dengan wujud yang sama sekali berbeda jauh seutuhnya kelak. Pertempuran fisik yang akan kita hadapi hari ini sama sekali bukan merupakan wujud dari pertarungan pertikaian pribadi sepele belaka seutuhnya di dunia persilatan. Singkirkan seluruh keraguan di dalam dada kalian dan ukir sangat dalam fakta penting mulai detik ini bahwa rombongan kita diwajibkan hukumnya secara mutlak untuk bertempur murni bermodalkan membawa serta nama kehormatan Sekte Gunung Hua di belakang punggung jasad kita seutuhnya kelak!"
"Kami dipastikan kelak pasti akan mengukir instruksi mulia Anda ini sangat dalam di dalam dada kami masing-masing, Paman Guru!"
Sebuah pancaran tekad bertarung yang membara hebat tampak menyelimuti raut wajah dari Jo Gul, Yoon Jong, beserta Yu Iseol seutuhnya seketika.
Bahkan Chung Myung sendiri terbukti ikut menganggukkan kepalanya khidmat sembari menyeka habis seluruh sisa senyuman main-main dari wajahnya seutuhnya saat ini.
"Pemimpin Sekte Utama kita kemarin fajar menegaskan secara resmi bahwa peristiwa pertempuran fisik hari ini kelak pasti akan memegang peranan penting sebagai wujud sinyal deklarasi resmi yang menandakan ke hadapan seluruh dunia persilatan Murim bawah langit perihal takdir kembalinya Sekte Gunung Hua memulai aktivitas luar daerah kami seutuhnya kelak."
Arah pandangan mata Baek Cheon tampak terfokus menatap lurus ke arah wajah Chung Myung seutuhnya kelak.
"Chung Myung."
"Aku memahaminya dengan sangat baik seutuhnya. Aku mengerti, Paman Guru. Aku dipastikan kelak pasti akan menahan kadar serangan fisikku agar berjalan dengan wujud yang lebih bersahaja kelak nanti……"
"Tidak boleh!"
"Huh?"
Sepasang kelopak mata Chung Myung tampak sedikit membelalak lebar seketika seutuhnya saat ia melayangkan pandangan matanya menatap lurus ke arah Baek Cheon dengan kebingungan yang mendalam.
"Jika kau memang berniat melayangkan serangan fisikmu esok fajar nanti kelak, laksanakan seluruh pembantaian tersebut dengan segenap kapasitas kekuatan fisik terbaikmu seutuhnya kelak."
"Oh?"
Rasanya teramat sangat asing dan janggal sekali bagi inderanya untuk sekadar mendengarkan untaian kalimat kejam semacam itu meluncur bebas dari lubang mulut seorang Baek Cheon seutuhnya selama ini.
"Bagaimanapun juga, pilihan takdir rombongan kita di masa depan nanti dipetakan kelak pasti harus tetap berakhir dengan wujud permusuhan yang nyata menghadapi mereka kelak seutuhnya di dunia persilatan. Jika kenyataan masa depannya terbukti harus berjalan dengan wujud permusuhan semacam itu kelak, bukankah akan berjalan jauh lebih efisien bagi rombongan kita untuk melayangkan serangan pemusnah yang paling tegas sejak hari pertama pertempuran fisik kita kelak?"
"Bukankah Pemimpin Sekte Utama kita kemarin secara tertulis melayangkan instruksi ketat melarang keras dirimu untuk melayangkan aksi kekerasan brutal semacam itu kelak?"
"Bukankah kau sendiri sosok tunggal yang kemarin malam dengan begitu kerasnya menyuarakan tekad gila ingin menghancurkan seluruh kepala dari para bajingan Wudang tersebut sebelum hari kematian Pemimpin Sekte Utama kita benar-benar tiba di masa depan kelak?"
"Oooh?"
Belahan bibir Chung Myung tampak melengkung membentuk senyuman seringai tipis yang memancarkan kelicikan yang sangat luar biasa seutuhnya kelak saat ia mendengarkan jawaban tersebut.
'Bagian hatiku bersumpah sangat menyukai perubahan watak barumu ini saat ini, Paman Guru.'
Sosok Baek Cheon di masa lalu kehidupannya dahulu dipetakan merupakan tipe pendekar suci yang teramat sangat terobsesi sekali untuk secara kaku mematuhi aturan kesopanan dan hukum keadilan yang ideal di dunia persilatan sepanjang hidupnya.
Meskipun demikian, sebagai wujud hasil konkrit dari kontribusi siksaan psikologis yang secara konsisten dan perlahan ia layangkan ke hadapannya di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir ini, ia saat ini akhirnya terbukti secara ajaib telah berhasil melatih kapasitas otaknya untuk bisa mengabaikan…… bukan, untuk bisa menafsirkan seluruh rangkaian kalimat instruksi Pemimpin Sekte Utama dengan metode penafsiran yang jauh lebih menguntungkan jalannya nafsu bertarung mereka seutuhnya kelak.
"Heh. Atmosfer di dalam sekte kita belakangan ini bersumpah terbukti telah berkembang menjadi sekte yang teramat sangat menyenangkan sekali bagi minat pribadiku seutuhnya kelak!"
"……"
Sudut belahan bibir Chung Myung tampak melengkung membentuk senyuman seringai tipis yang memancarkan kelicikan seutuhnya kelak.
"Meskipun begitu, apakah kau sekalian telah berhasil memahami dengan sangat jelas perihal apa makna krusial yang sesungguhnya terkandung di balik kata-kata penjelasan tersebut baru saja?"
"Makna krusial macam apa yang kau maksudkan baru saja?"
"Esensi sesungguhnya di balik makna deklarasi kembalinya Sekte Gunung Hua memulai aktivitas persilatan luar daerah kami seutuhnya kelak."
"……Bukankah makna implisitnya sudah terlampau jelas terpampang nyata layaknya apa yang tersuarakan di dalam rangkaian kosakatanya selama ini?"
Chung Myung terkekeh sinis seutuhnya.
"Mengambil keputusan melangkahkan kaki memulai aktivitas persilatan luar daerah secara resmi sama saja dengan melayangkan komitmen tegas bahwa pihak sekte kita ke depannya nanti dipetakan secara konsisten kelak pasti akan mencurahkan fokus perhatian sekte kita demi mengurus masalah dunia persilatan luar seutuhnya kelak. Meskipun begitu secara jujur seutuhnya, jenis aktivitas persilatan luar macam apa sebenarnya yang akan sanggup dikelola secara resmi oleh pihak Sekte Gunung Hua kita di bawah langit kelak nanti?"
"……Aku secara pribadi tidak mengetahui detail jawabannya secara pasti saat ini."
"Apakah kau sekalian hingga detik ini terbukti masih belum sanggup melatih ketajaman otak kalian untuk menyadari detail jawabannya seutuhnya, bahkan setelah sepasang mata kalian berhasil menyaksikan secara nyata perubahan kemakmuran yang melanda Sekte Bayangan Api ini selama ini?"
"Apakah sasaran utama aktivitas luar yang kau maksudkan barusan tidak lain adalah murni menyangkut masalah perluasan jaringan sekte cabang bawahan kita kelak?"
Chung Myung menganggukkan kepalanya tegas seutuhnya.
"Tebakanmu itu sangat tepat sekali seutuhnya kelak. Tujuan luar sekte kita ke depannya nanti tidak lain adalah murni bertujuan untuk meningkatkan total kuantitas kepemilikan dari sekte-sekte cabang bawahan kita di seluruh penjuru dunia fana kelak. Dan jika rencana perluasan wilayah kekuasaan tersebut benar-benar mulai dieksekusi kelak nanti, musibah konflik fisik yang kurang lebih serupa dengan apa yang sedang kita hadapi saat ini dipetakan kelak pasti hanya akan kembali terulang menyelimuti langkah perjuangan sekte kita kelak di masa depan nanti, namun dengan wujud pembagian peran yang terbalik secara total seutuhnya kelak."
"Hmm."
"Kenyataan masa depan tersebut menyampaikan sebuah pesan penting bagi kita semua bahwa masa-masa indah yang damai di saat kita hanya perlu mencurahkan segenap fokus pikiran kita murni bertujuan melatih ketahanan fisik tubuh kita di atas gunung terjal selama ini telah resmi berakhir hari ini seutuhnya kelak."
"Masa-masa indah, kau menyatakannya?"
"Apakah di dalam isi kepalamu saat ini kau benar-benar berani melayangkan klaim konyol menyebut program latihan penyiksaan fisik gila itu sebagai masa-masa indah yang menyenangkan sepanjang hidupmu, hah?"
"Tindakan ucapanmu barusan bersumpah terbukti telah terlampau melampaui batas kewajaran sekali seutuhnya bagi lubang dadaku!"
Chung Myung langsung tersentak cemas sedikit seutuhnya saat menerima ledakan amarah verbal yang begitu kompaknya dilayangkan oleh barisan rekannya baru saja seutuhnya seketika.
Tepat pada momen ketegangan tersebut melanda mereka.
Dengan dipimpin secara langsung oleh sosok Wi Ripsan, Wi Sohaeng, Yeom Pyeong, lengkap dengan diikuti oleh kehadiran sekitar sepuluh orang murid setia dari Sekte Bayangan Api tampak melangkahkan kaki mereka berjalan mendekat dengan ekspresi wajah yang terpampang nyata memancarkan tekad pertempuran yang teramat sangat serius sekali seutuhnya kelak.
Segera setelah langkah kakinya berhasil menempatkan tubuh fisiknya berdiri tegak tepat di hadapan Chung Myung, Wi Ripsan dengan sangat berwibawanya merapatkan kedua belah telapak tangannya melayangkan salam kepalan tangan dan telapak tangan yang khidmat ke hadapan Baek Cheon seutuhnya kelak.
"Taois Baek Cheon. Di sepanjang kurun waktu kemerosotan sekte kami selama ini baru saja, bagian hati pribadiku terbukti telah terlanjur melalaikan kewajiban moral yang sudah sewajarnya wajib kuselesaikan dengan sebaik-baiknya kelak bagi sekte kita. Aku secara pribadi hari ini menundukkan kepalaku sangat dalam murni bertujuan untuk mengekspresikan rasa syukur dan terima kasih yang teramat sangat mendalam sekali ke hadapan Anda beserta segenap rekan seperjalanan Anda yang secara sukarela bersedia melesat berlari kencang berkunjung ke tempat ini demi menyelamatkan keselamatan Sekte Bayangan Api kita dari cengkeraman kejam pertikaian fisik ini, dan terlebih lagi, rasa hormat yang mendalam ke hadapan nama besar Sekte Gunung Hua seutuhnya."
Sembari menyaksikan Wi Ripsan yang secara nyata benar-benar menundukkan kepalanya dengan sangat dalamnya di depan halaman sekte baru saja, Baek Cheon dengan terburu-buru mengulurkan kedua belah tangannya menahan pundak badannya dan membantu menegakkan kembali postur tubuh fisiknya seutuhnya kelak.
"Kuharap Anda tidak perlu meluncurkan kelakuan yang terlampau berlebihan semacam itu ke hadapan rombongan kami hari ini, Pemimpin Sekte Wi. Rombongan kami saat ini murni hanya sedang melangsungkan apa yang sudah sewajarnya wajib diselesaikan oleh kewajiban moral kami seutuhnya."
"Aku pribadi sama sekali tidak memiliki kapasitas pikiran untuk sekadar meramalkan wujud hasil akhir macam apa yang kelak pasti akan menimpa keselamatan jasad kita setelah perang terbuka esok fajar resmi berakhir nanti, namun aku bersumpah kelak pasti akan memimpin jalannya pergerakan seluruh murid setia Sekte Bayangan Api kita demi bisa bertempur berdampingan secara nyata di samping tubuh fisik Anda sekalian kelak."
Seluruh keraguan dan kecemasan mental yang sebelumnya sempat merusak ketenangan jiwanya tampak telah resmi lenyap tak berbekas seutuhnya dari sekujur raut wajah Wi Ripsan saat ia melayangkan janji setianya baru saja.
Menyaksikan keindahan ekspresi wajah yang memancarkan tekad ksatria yang sangat agung tersebut terpampang nyata di depan matanya saat ini, bagian hati terdalam Baek Cheon merasa dirinya telah berhasil mengamankan ketenangan pikiran yang sangat matang seutuhnya kelak.
'Memang benar demikian adanya.'
Tampaknya desas-desus dunia persilatan luar yang mengklaim bahwa Pemimpin Sekte Bayangan Api senantiasa memelihara kualitas jiwa dari seorang pahlawan ksatria yang sejati terbukti sepenuhnya benar adanya seutuhnya sejak awal mula.
Jika ia memosisikan jasad pribadinya sendiri di bawah cengkeraman kesulitan yang serupa dengan kesulitan yang sedang dihadapi oleh Wi Ripsan selama ini, ia meragukan apakah dirinya kelak pasti akan memelihara keberanian mental untuk melangkah maju bertempur bersama-sama dengan rombongan penolong yang kelakuannya terbukti tidak waras semacam ini kelak seutuhnya.
"Aku secara pribadi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya ke hadapan Anda, Pemimpin Sekte Wi."
"Hah!"
Chung Myung melayangkan satu kali tepukan telapak tangannya kencang seutuhnya.
"Wujud karakter pendekar ksatria yang menjunjung tinggi keadilan yang sesungguhnya di bawah langit memang terbukti berjalan dengan wujud semacam ini belaka seutuhnya."
"……"
Tampaknya Baek Cheon bukan merupakan satu-satunya pendekar di halaman tersebut saat ini yang memelihara kepekaan telinga yang peka untuk menyadari secara nyata bahwa kata "keadilan" yang dilontarkan oleh Chung Myung baru saja terdengar menyandang nada suara yang tidak berbeda jauh dengan sebutan istilah "uang perak" seutuhnya di dalam dadanya…….
"Meskipun begitu, hm……"
Chung Myung mengarahkan tangannya menggaruk bagian belakang kepalanya pelan seutuhnya.
"Total nominal kuantitas pasukan kita saat ini bukankah dirasa teramat sangat sedikit sekali belaka rupanya saat ini?"
"Aku secara sepihak telah melayangkan instruksi pembebasan tertulis kemarin fajar meminta siapa pun murid sekte kita yang memelihara kekhawatiran pribadi atas keselamatan jiwanya untuk segera mengemas barang-barang mereka dan angkat kaki meninggalkan sekte hari ini."
"Dan meskipun pengumuman pembebasan tersebut terbukti telah resmi dirilis ke hadapan mereka baru saja, total jumlah murid setia yang bersikeras memilih tetap tinggal menetap bertempur di halaman ini masih tersisa sebanyak ini belaka rupanya saat ini."
Chung Myung menganggukkan kepalanya khidmat seutuhnya.
"Ini benar-benar merupakan sebuah sekte cabang yang menyandang kualitas loyalitas yang sangat indah sekali seutuhnya kelak. Dan mereka semua adalah sekelompok pendekar baik yang sejati di bawah langit."
Seluruh pendekar di halaman sekte secara kompak memalingkan pandangan mata mereka menatap tajam ke arah wajah Chung Myung seutuhnya kelak, terkejut mendengar untaian kalimat apresiasi yang terdengar agak sedikit melankolis dan bernada kerinduan yang mendalam terpancar dari dalam lubang mulutnya baru saja seutuhnya.
"Yah, wujud kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lapangan memang berjalan seperti itu belaka seutuhnya."
Chung Myung, yang tampak baru saja berniat membuka mulutnya menyuarakan kalimat tambahan di dalam dadanya, memilih untuk menghentikan ucapannya seutuhnya sembari murni menyajikan senyuman tipis yang hangat di wajahnya seutuhnya kelak.
'Wujud asli dari kualitas kepribadian Sekte Gunung Hua di masa lalu kehidupanku dahulu juga terbukti berjalan dengan wujud loyalitas yang sangat indah semacam itu seutuhnya kelak.'
Atau setidaknya, seperti itulah wujud gambaran masa lalu yang melintasi ingatan batin Chung Myung seutuhnya saat ini. Tentu saja, wujud penampilan fisik dari Sekte Gunung Hua kita saat ini juga diproyeksikan kelak pasti akan segera bertransformasi kembali menjadi sebuah sekte agung yang menyandang wujud loyalitas serupa kelak nanti di masa depan seutuhnya.
"Meskipun demikian saat ini, aku secara pribadi menilai sama sekali tidak akan ada banyak pekerjaan fisik yang kelak pasti akan membutuhkan uluran kontribusi dari kekuatan pedang kalian esok fajar nanti kelak seutuhnya."
"……Maaf?"
"Hmm. Metode bahasa macam apa sebenarnya yang paling tepat untuk kugunakan demi bisa menjelaskan hal sepele ini secara layak ke hadapan Anda saat ini kelak? Anda dipastikan kelak pasti akan segera menyadari kebenaran dari ucapanku secara otomatis segera setelah sepasang mata kalian berhasil menyaksikan jalannya pertempuran fisik esok fajar nanti kelak seutuhnya."
Chung Myung mengangkat kedua belah pundaknya santai seutuhnya sembari memalingkan pandangan kepalanya ke arah lain seutuhnya.
Segera setelah itu, sepasang bola mata tajamnya terpantau mulai terfokus menatap lurus ke arah jalur gerbang utama sekte seutuhnya kelak.
"Rekan seperjalanan kita tampaknya telah resmi menapakkan kaki mereka di luar pintu gerbang saat ini."
"Apakah kau pribadi saat ini secara nyata benar-benar telah sanggup mendeteksi hawa keberadaan mereka dari jarak sejauh ini saat ini juga?"
"Mereka saat ini sedang melangkahkan kaki mereka berjalan kencang menghampiri halaman sekte kita dari arah luar jalanan di sana saat ini. Menyaksikan langkah kaki mereka yang berjalan dengan sangat lambat dan santainya semacam itu baru saja, bukankah mereka semua terlihat teramat sangat sombong sekali seutuhnya di bawah langit?"
"……Kau benar-benar merupakan sesosok monster indera yang sejati di bawah langit."
Baek Cheon menggelengkan kepalanya pasrah seutuhnya.
Bagian inderanya saat ini bersumpah sama sekali tidak mampu mendeteksi keberadaan hawa Qi murni atau tanda-tanda kehadiran manusia terkecil pun di luar pintu gerbang sekte saat ini, namun anehnya bagi diri Chung Myung sendiri saat ini, posisi keberadaan dari musuh di luar jalanan terbukti terpantau dengan sangat jelas dan terperinci sekali layaknya sedang berada di dalam genggaman telapak tangannya seutuhnya kelak.
Meskipun jika dipikir-pikir kembali dengan saksama di dalam kepalanya, ini bukan merupakan hari pertama ataupun hari kedua bagi dirinya dipaksa harus terbiasa menghadapi ketajaman kepekaan indera luar biasa yang tidak masuk akal milik Chung Myung selama ini seutuhnya.
"Baiklah kalau begitu, musuh kita akhirnya telah resmi tiba di lokasi!"
Baek Cheon, dengan diiringi oleh pergerakan dari Yoon Jong, Jo Gul, beserta Yu Iseol tampak melangkahkan kaki besar mereka maju mengambil satu langkah ke depan sembari menempatkan sepasang telapak tangan mereka mencengkeram erat gagang pedang tajam yang tersemat kokoh di bagian pinggang mereka seutuhnya kelak.
Mereka sebelumnya telah mencurahkan segenap kata-kata tantangan perang terbuka yang paling tegas kemarin fajar baru saja, sehingga pihak Sekte Wudang dipastikan kelak pasti akan langsung meluncurkan serangan fisik secara membabi buta esok fajar hari ini tanpa perlu membuang-buang waktu melayangkan kalimat basa-basi verbal apa pun lagi seutuhnya kelak.
"Sama sekali tidak ada kebutuhan bagi kalian sekalian untuk merasa begitu tegang di halaman ini."
Baek Cheon menyuarakan kalimatnya menggunakan intonasi suara yang terdengar sangat pelan seutuhnya kelak.
"Jangan pernah sekali pun di sepanjang pertempuran fisik kalian nanti melupakan wujud porsi penyiksaan latihan fisik luar biasa yang secara konsisten telah kalian lalui di sepanjang kurun waktu dua tahun terakhir selama ini. Rombongan kita dipetakan kelak pasti tidak akan pernah menelan kekalahan bertarung menghadapi kekuatan pendekar mana pun di bawah langit kelak. Kita diproyeksikan kelak pasti akan bertempur dengan segenap martabat mulia kita sebagai murid didikan dari Sekte Gunung Hua yang Agung seutuhnya kelak!"
"Baik, Paman Guru!"
"Kami dipastikan kelak pasti akan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, Sahyung."
Sepasang bola mata dari seluruh murid sekte langsung memancar meredup dipenuhi oleh tekad pertarungan yang teramat sangat serius sekali seutuhnya kelak.
Watak kekanak-kanakan dan kelakuan main-main yang sebelumnya secara konsisten mereka peragakan di dalam sekte selama ini terbukti telah resmi lenyap tak berbekas seutuhnya dari sekujur raut wajah mereka saat ini juga.
Satu-satunya wujud penampilan yang tersisa di halaman sekte saat ini tidak lain adalah murni menyajikan kelebatan raut wajah dingin setajam bilah pedang baja milik pendekar pedang yang sesungguhnya di bawah langit seutuhnya.
Baek Cheon akhirnya terbukti ikut berhasil menangkap deteksi hawa keberadaan musuh yang merambat mendekat seutuhnya kelak.
"Mereka akhirnya tiba di lokasi!"
Pandangan mata seluruh pendekar di halaman langsung berputar kencang memusatkan fokus tatapan mereka menatap tajam ke arah dinding tembok batu yang melingkari batas kediaman Sekte Bayangan Api seutuhnya kelak.
Sepasang bola mata mereka berhasil menangkap kelebatan visual dari barisan murid Sekte Wudang dengan mengenakan jubah jinjing Taois berwarna hitam pekat tampak melompati dinding tembok batu sekte dengan laju lompatan yang teramat sangat tinggi sekali seutuhnya di udara kelak.
Ada sebanyak tiga orang pendekar yang tampak memimpin lompatan perdana tersebut seutuhnya!
'Untuk membagi peta pertempuran fisiknya saat ini, masing-masing dari kita dipetakan kelak pasti harus bertugas mengunci pergerakan satu orang pendekar secara sendirian kelak……'
Tepat pada momen pembagian takdir pertempuran tersebut baru saja dirumuskan di dalam kepalanya.
"Hyaaah!"
Bersamaan dengan meledaknya satu embusan angin badai yang teramat sangat kencang sekali seutuhnya, jenis angin badai yang meluncur deras menyapu permukaan halaman dari arah belakang punggung badannya baru saja, sesosok bayangan putih transparan tampak meluncur deras membelah jalanan dengan laju kecepatan yang teramat sangat mengerikan sekali mengincar posisi dari ketiga murid Sekte Wudang yang saat ini sedang melayang di udara melompati dinding tembok sekte seutuhnya kelak.
Duar! Duar! Duar!
Ketiga murid didikan Sekte Wudang yang baru saja melompati dinding tembok sekte tadi tampak terhempas meluncur deras kembali ke arah luar halaman dengan laju kecepatan terhempas yang terhitung mencapai kisaran angka dua kali lipat lebih dahsyat jika dibandingkan dengan laju lompatan awal masuk mereka seutuhnya kelak.
Seluruh ketegangan otot fisik yang sebelumnya terkumpul padat di dalam tubuh keempat pendekar Gunung Hua yang sedari tadi bersiap meluncur kencang ke medan pertempuran tampak langsung menguap lenyap tak berbekas seutuhnya seketika, menyisakan kelemasan otot fisik yang luar biasa konyol seutuhnya kelak saat mereka menyaksikan wujud keajaiban pertarungan tersebut terpampang nyata di depan mata kepala mereka sendiri seutuhnya.
"Huh?"
Chung Myung memiringkan kepalanya bingung sembari memusatkan sepasang bola matanya menatap tajam ke arah depan pintu halaman sekte seutuhnya.
"Apakah keputusan tindakanku barusan dinilai terlalu terburu-buru kelak? Apakah bagian hatiku sudah sewajarnya wajib membiarkan jasad mereka mendarat dengan sempurnanya di atas permukaan tanah halaman ini terlebih dahulu tadi baru boleh kupukuli hingga hancur lebur kelak nanti?"
"……"
Laksanakan saja seluruh pembantaian fisik itu secara sendirian saja kelak, dasar bajingan gila keparat seutuhnya.











