Return of the Mount Hua Sect

Chapter 125: Akan Kutunjukkan Kepadamu Apa yang Terjadi Jika Kau Berani Mengusik Gunung Hua! (5)

4903 Kata

Chapter 125: Akan Kutunjukkan Kepadamu Apa yang Terjadi Jika Kau Berani Mengusik Gunung Hua! (5)

Kalau begitu mari kita buktikan bersama saat ini juga seberapa dahsyatnya kapasitas kekuatanmu kelak.

Pernyataan angkuh tersebut terbukti secara mutlak sanggup mengacak-acak ketenangan di dalam lubang dada Jin Hyeon seutuhnya.

Kejadian buruk semacam itu memang sudah sewajarnya terjadi di lapangan seutuhnya.

Total jumlah murid Sekte Wudang yang saat ini sedang berdiri kokoh mengawal pintu gerbang utama Sekte Bayangan Api terhitung ada sebanyak sembilan orang pendekar.

Dan jika wujud Jin Hyeon ikut dihitung di dalamnya, maka total kekuatan mereka saat ini adalah sebanyak sepuluh orang pendekar seutuhnya.

Meskipun begitu di seberang sana, jumlah murid utusan dari Gunung Hua terbukti hanya diisi oleh lima orang pendekar saja secara keseluruhan.

Ia dipastikan masih akan mampu menerima logika situasinya jika saja pihak Gunung Hua kemarin fajar melayangkan opsi pertarungan persahabatan formal, di mana masing-masing pihak hanya diperbolehkan mengutus satu orang master muda terbaik demi mewakili sekte mereka kelak.

Mereka bagaimanapun juga melangkahkan kaki ke tempat ini murni bertujuan untuk melindungi keselamatan sekte cabang bawahan mereka seutuhnya.

Tidak peduli seberapa timpangnya peta kekuatan di antara kedua belah pihak di atas kertas, mengingat mereka telah melangkahkan kaki sejauh ini ke mari hari ini, mereka setidaknya diwajibkan untuk meninggalkan kesan visual yang meyakinkan kepada publik bahwa mereka telah berusaha sekuat tenaga sebelum akhirnya kembali pulang ke sekte nanti kelak.

Meskipun demikian saat ini, pemuda kurang ajar tersebut terbukti tidak sedang mendiskusikan opsi pertarungan persahabatan sepele semacam itu sama sekali, melainkan sedang memaksakan pecahnya perang terbuka secara fisik seutuhnya.

Ia melontarkan kalimat angkuh yang menegaskan bahwa dirinya secara sukarela bersedia menghadapi serbuan dari seluruh murid Sekte Wudang secara bersamaan saat itu juga seutuhnya.

"Anak gila ini……."

Total jumlah kekuatan mereka terbukti kalah telak sebanyak dua banding satu di atas kertas saat ini.

Meskipun berada dalam kondisi timpang semacam itu, melayangkan desakan angkuh meminta seluruh murid Sekte Wudang untuk menerjang maju menyerang dirinya secara bersamaan sama saja dengan tindakan merendahkan martabat Sekte Wudang seutuhnya di depan umum.

Seumur hidupnya selama ini, kapan sebenarnya Jin Hyeon pernah menerima perlakuan meremehkan yang teramat sangat menghinakan martabat sektenya semacam ini?

"Amitabha."

Bahkan pada detik ini juga, ia dipaksa sangat kesulitan menahan gejolak amarah hebat yang meledak-ledak di dalam lubang dadanya jika tidak meluangkan waktunya untuk melafalkan nama gelar Taois suci di dalam batinnya seutuhnya.

Jin Hyeon, yang berulang kali memaksakan diri melafalkan nama gelar Taois suci di dalam batinnya demi bisa menenangkan kembali gejolak pikiran kasarnya dengan segenap usaha terbaiknya, tetap melayangkan pandangan mata melotot tajam menatap ke arah Baek Cheon dengan sisa-sisa amarah membara berkilat jelas di matanya.

"Apakah aku diperbolehkan untuk menafsirkan kelancangan ucapan barusan sebagai representasi dari wujud sikap resmi pihak Gunung Hua hari ini?"

Ia melayangkan pertanyaan tersebut dengan harapan agar Baek Cheon, sosok murid dengan tingkat kepangkatan generasi tertinggi di tempat itu, bersedia membuka suara meralat ucapan kasar tersebut seutuhnya.

Meskipun begitu sangat disayangkan, demi bisa mengacak-acak ekspektasi indah pemuda di depannya saat ini, Baek Cheon murni hanya memilih untuk mengangkat kedua belah pundaknya santai seutuhnya.

"Jika aku pribadi bersedia mengambil keputusan menarik kembali kalimat ucapan yang telah terlanjur disuarakan di depan umum baru saja, seluruh penjuru dunia persilatan dipetakan kelak pasti akan mentertawakan wibawa Gunung Hua seumur hidup mereka kelak."

"……"

"Dan juga."

Baek Cheon menyeringai tipis seutuhnya.

"Bahkan jika aku bersedia melayangkan opsi bagi kita untuk membatalkan pertikaian ini dan segera pulang sekarang juga, bagian hatiku menduga Anda sekalian saat ini pasti sama sekali tidak akan pernah melayangkan izin untuk membiarkan kami pergi begitu saja kelak, bukan?"

"Evaluasi pikiranmu barusan terbukti sepenuhnya benar adanya seutuhnya."

Jin Hyeon menggigit bibir bawahnya sangat kencang.

Ia secara pribadi dipetakan masih akan sanggup berlapang dada menerima jenis kalimat penghinaan apa pun di bawah langit jika ia sendiri sosok tunggal yang menjadi target penghinaan tersebut selama ini.

Meskipun demikian saat ini, bajingan gila bernama Chung Myung itu terbukti tidak sedang melayangkan kalimat penghinaan ke hadapan dirinya seorang diri belaka seutuhnya, melainkan sedang merendahkan wibawa suci dari Sekte Wudang secara keseluruhan di depan umum.

"Kau sebelumnya menyatakan secara resmi batas waktu toleransi selama tiga shichen lamanya, bukan?"

Jin Hyeon menatap tajam ke arah Chung Myung dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan bahaya yang teramat sangat mengerikan sekali seutuhnya.

"Satu hari lamanya. Aku secara pribadi dipetakan kelak pasti akan melayangkan batas waktu toleransi selama tepat satu hari penuh untuk sekte kalian kelak. Tepat pada jam yang sama esok hari nanti kelak, pihak kami dipastikan kelak pasti akan segera meluncurkan serangan permusuhan secara fisik untuk menghancurkan Sekte Bayangan Api, persis seperti wujud keputusan yang kau suarakan baru saja. Mengingat pihak sekte kalian adalah pihak pertama yang mengajukan usulan perang terbuka ini hari ini, ketahuilah dengan sangat baiknya mulai hari ini bahwa berdasarkan hukum rimba dunia persilatan Murim, pihak kami sama sekali tidak akan pernah memikul tanggung jawab hukum apa pun atas tragedi kematian mengerikan apa pun yang kelak pasti akan menimpa keselamatan jiwa murid sekte kalian kelak."

"Mengapa jadwal pertempurannya harus ditunda hingga esok hari nanti? Jika bagian hatimu merasa teramat sangat terganggu sekali oleh kehadiranku saat ini, rombongan kita dipetakan masih sangat mungkin untuk melangsungkan sesi pembantaian fisik saat ini juga seutuhnya."

Chung Myung melayangkan lambaian satu jari telunjuknya meminta Jin Hyeon melangkah mendekat santai seutuhnya.

"Kemarilah."

"……"

Kedua belah kepalan tangan Jin Hyeon yang terkepal sangat kencangnya tampak bergetar hebat seutuhnya saat itu juga.

Deru napas fisiknya berubah menjadi teramat sangat memburu kasar sekali, dan sekujur raut wajah fisiknya tampak memancar pucat pasi seutuhnya.

Yoon Jong, yang sedari tadi berdiri diam menyaksikan jalannya ketegangan mental tersebut dari samping, hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah seutuhnya.

'Jika ketegangan mental ini terus dibiarkan berlangsung lebih lama lagi kelak, pemuda itu dipastikan kelak pasti akan mati lebur karena terserang penyakit stroke terlebih dahulu sebelum sempat melayangkan satu tebasan pedang sekalipun menghadapi kita kelak.'

Seluruh murid Sekte Gunung Hua telah mengetahui kenyataan unik tersebut sejak lama di dalam dada mereka masing-masing seutuhnya.

Bagi mereka yang tidak mengetahui kualitas watak asli dari Chung Myung dipetakan kelak pasti akan melayangkan ribuan kalimat pujian khidmat untuk mengagumi kehebatan seni bela diri pedang yang dikuasainya selama ini. Namun kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lapangan adalah tingkat keahlian bela diri Chung Myung terbukti tidak lebih dari sekadar setetes air belaka di tengah lautan jika dibandingkan dengan bakat luar biasa miliknya dalam memicu amarah orang lain seutuhnya sepanjang sejarah.

Di sepanjang aliran kurun waktu perjalanan hidupnya bersama dengan Chung Myung selama ini, Yoon Jong bersumpah bagian hatinya telah puluhan kali didera oleh ketakutan nyata bahwa dirinya kelak pasti akan berakhir mati lebur murni murni disebabkan karena menahan rasa emosi amarah yang membara di dalam dadanya seutuhnya kelak.

Tepat pada momen ketegangan saat ini, bagian hati terdalamnya sama sekali tidak bisa menahan rasa iba yang mendalam ke hadapan wujud Jin Hyeon, melintasi sekat batasan perselisihan sekte di antara mereka seutuhnya kelak.

'Saran terbaikku untukmu adalah tolong jangan pernah meladeni ucapan bocah gila itu kelak.'

Semakin sering kau meladeni ucapan kasarnya, maka bagian dadamu dipetakan kelak pasti hanya akan meledak semakin kencang dipenuhi oleh rasa emosi amarah seutuhnya kelak.

Meskipun demikian, alih-alih melayangkan terkaman fisik secara membabi buta murni bertujuan untuk menghancurkan tubuh fisik Chung Myung saat itu juga, Jin Hyeon justru dengan sangat anggunnya memaksakan diri merapatkan kedua belah telapak tangannya memperagakan salam kepalan tangan dan telapak tangan yang sangat disiplin dan berwibawa seutuhnya kelak.

Menyaksikan keindahan kontrol emosi tingkat tinggi tersebut terpampang nyata di depan mata mereka baru saja, barisan murid Gunung Hua melepaskan suara decakan kagum yang dalam di dalam hati mereka seutuhnya seketika.

'Sangat luar biasa, reputasi wibawa Sekte Wudang memang terbukti bukan merupakan wujud omong kosong belaka seutuhnya.'

'Memikirkan kapasitas hatinya yang sanggup menahan ledakan emosi amarah yang sedahsyat itu baru saja.'

'Ia benar-benar terbukti sanggup meredam emosinya seutuhnya.'

'Tingkat pelatihan ketenangan batin yang dikuasainya terbukti teramat sangat matang sekali seutuhnya di bawah langit.'

Mereka bahkan merasa bagian hati mereka sangat ingin melayangkan satu tepuk tangan meriah murni bertujuan untuk mengapresiasi kontrol emosi pemuda tersebut hari ini.

"Besok. Besok tepat pada jam yang sama seperti hari ini."

Gemetar!

Segera setelah untaian kalimat penegasan tersebut disuarakan baru saja, suara gesekan gigi yang mengertak sangat kencang terdengar mengalun dingin dari balik belahan bibirnya seutuhnya.

"Aku dipastikan kelak pasti akan kembali menapakkan kaki di halaman sekte ini esok fajar hari nanti. Tepat pada momen pertempuran fisik kita besok nanti kelak, singkirkan seluruh secercah harapan indahmu untuk bisa mendapatkan belas kasihan dari genggaman pedangku kelak. Rombongan kalian dipetakan kelak pasti akan segera menyadari dengan sangat menyakitkan seutuhnya perihal mengapa nama besar Gunung Hua selamanya tidak akan pernah diperbolehkan disandingkan di depan nama Wudang yang agung kelak!"

"Ya, ya. Aku telah mendengarnya dengan sangat baik seutuhnya."

"……"

Chung Myung membalikkan badannya santai seolah-olah seluruh ketertarikan mental di dalam dadanya terhadap eksistensi pemuda tersebut telah resmi lenyap tak berbekas seutuhnya seketika.

"Kosakata ucapanmu terlampau panjang lebar sekali belaka seutuhnya hanya murni bertujuan untuk membungkus rasa takutmu melarikan diri karena menyadari kapasitas dirimu tidak memiliki kapasitas kekuatan yang cukup menghadapi kami kelak. Mari kita segera masuk ke dalam kamar sekarang juga demi menikmati waktu istirahat tidur kita hari ini."

Lubang mulut Yoon Jong langsung terbuka lebar karena tersentak kaget seutuhnya.

'Bocah iblis pembawa petaka sejati.'

Apakah ia sengaja meluangkan waktu berharganya menjalani masa meditasi tertutup selama tiga bulan lamanya di dalam gua kotor kemarin murni bertujuan untuk meneliti metode bahasa macam apa yang paling efektif untuk mengacak-acak ketenangan saraf emosi manusia kelak?

Meskipun demikian saat ini, Jin Hyeon terbukti sudah tidak melayangkan reaksi emosi heboh seperti yang mereka bayangkan sebelumnya seutuhnya.

Orang-orang sering mengatakan bahwa di saat seorang manusia terbukti telah terlanjur dilanda oleh emosi amarah yang berada jauh di luar batas nalar kemampuannya, kondisi kejiwaan mereka justru dipetakan kelak pasti akan berbalik menjadi teramat sangat tenang sekali seutuhnya kelak.

Ia murni hanya melayangkan satu kilatan pandangan mata yang teramat sangat dingin sekali ke hadapan Chung Myung sebelum akhirnya memalingkan badannya menjauh seutuhnya.

"Sampai bertemu esok fajar hari nanti."

Dengan diiringi oleh kalimat penegasan akhir tersebut baru saja, ia melangkahkan kaki besarnya berjalan keluar meninggalkan gerbang pintu masuk Sekte Bayangan Api dengan langkah kaki yang teramat sangat tegas dan kokoh sekali seutuhnya.

"Sahyung!"

Barisan murid Sekte Wudang yang sedari tadi berdiri diam menyimak jalannya konflik langsung bergerak cepat merapatkan barisan mereka di samping badan Jin Hyeon seutuhnya kelak.

"Mengapa Anda bersedia mengambil keputusan membiarkan bajingan kurang ajar itu melenggang pergi begitu saja hari ini, Sahyung?! Sama sekali tidak ada kebutuhan mendesak bagi kita untuk menunggu hingga esok hari nanti! Kita wajib mengulurkan kekerasan fisik murni demi memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi keselamatan jiwanya saat ini juga!"

"Perkataanmu itu sangat benar sekali, sasaeng! Seumur hidupku berkelana di dunia persilatan selama ini, aku bersumpah belum pernah sekali pun menemui sesosok manusia yang kualitas kelakuannya terbukti sekasar dan seburuk anak gila itu seutuhnya. Ada seseorang di antara kita yang berkewajiban untuk mematahkan setidaknya satu buah tulang fisiknya hari ini agar ia dipaksa tersadar dari mimpi indahnya kelak. Tidak, bajingan gila semacam dia dipetakan bahkan sama sekali tidak akan pernah sanggup tersadar dari kegilaannya kelak!"

Mendengar banjir keluhan emosi dari barisan adik seperguruan di sampingnya baru saja, langkah kaki Jin Hyeon tampak terhenti mendadak seutuhnya.

"……Meluncurkan serangan saat ini juga, kalian mengatakannya?"

"Ya, benar sekali, Sahyung!"

Jin Hyeon menarik napasnya dalam-deep sejenak seutuhnya.

"Apakah kalian sekalian mengetahui alasan logis mengapa aku secara sepihak melayangkan keputusan untuk mengundur jadwal pertempuran fisik kita esok hari kelak?"

"Kami semua sejujurnya sama sekali tidak mengetahuinya secara pasti, Sahyung……."

"Alasan krusialnya adalah murni disebabkan karena aku pribadi merasakan sebuah firasat kuat bahwa jika kita membiarkan pertarungan fisik meledak di halaman sekte tadi saat ini juga, salah satu di antara kita dipetakan kelak pasti hanya akan berakhir dengan tragedi kematian yang mengerikan seutuhnya kelak."

Seluruh adik seperguruan di sekelilingnya langsung terbungkam rapat membisu seketika.

Ini bukan merupakan kunjungan petualangan perdana mereka melangkahkan kaki menjelajahi dunia Murim luar selama ini seutuhnya. Mereka telah berulang kali dikirim untuk menyelesaikan berbagai macam tugas persilatan luar sekte selama ini, dan di sepanjang sisa petualangan tersebut mereka telah berulang kali berhadapan dengan berbagai macam musibah konflik fisik, baik yang skalanya dinilai kecil bersahaja maupun yang skalanya teramat sangat besar sekali sepanjang sejarah seutuhnya.

Apakah itu berarti genggaman pedang tajam milik Jin Hyeon selama ini tidak pernah sekali pun dialiri oleh tetesan darah segar dari lawannya?

Kenyataan sejarah yang sesungguhnya adalah pedang tajam milik Jin Hyeon telah terlanjur dialiri oleh tetesan darah segar dari ratusan lawannya seutuhnya sepanjang sejarah Murim.

Merupakan hal yang mustahil bagi sesosok monster pembantai seusia dirinya untuk memelihara rasa cemas atau takut melihat tetesan darah segar lawannya di depan umum kelak seutuhnya.

Makna implisit yang sedang dicoba disuarakan oleh Jin Hyeon baru saja tidak lain adalah: jika pertarungan fisik meledak di halaman sekte tadi saat itu juga, bagian tangannya dipetakan secara alami kelak pasti tidak akan sanggup menahan diri dan berakhir membantai keselamatan nyawa Chung Myung seutuhnya kelak.

Jin Hyeon memalingkan kepalanya sedikit menatap lurus ke arah pintu gerbang masuk Sekte Bayangan Api di kejauhan dalam keheningan.

"Mereka semua dipetakan kelak pasti akan segera menyadari secara nyata besarnya kesalahan gila yang telah mereka lakukan hari ini dalam waktu dekat. Kurun waktu satu hari penuh dirasa sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk menikmati rasa ketakutan dingin yang teramat sangat menyiksa sekali terkait dengan bencana kematian macam apa yang sedang menanti kedatangan mereka esok hari nanti seutuhnya."

"Perkataan Anda sangat tepat sekali seutuhnya, Sahyung."

"Mari kita kembali pulang sekarang."

Jin Hyeon melangkahkan kakinya berjalan menuju ke arah Aula Jalan Leluhur dengan langkah kaki yang teramat sangat tegas dan kokoh sekali seutuhnya.

Barisan adik seperguruannya tampak melangkah berjalan mengekor di belakang punggung badannya, dan selang beberapa menit berlalu barulah Ketua Aula Jalan Leluhur yang sempat berdiri membeku linglung di halaman tampak melompat panik dan melesat berlari kencang menyusul rombongan mereka seutuhnya.

"T-Tunggu aku, tolong mari kita melangkah pergi bersama-sama!"

"Mereka semua akhirnya telah resmi melangkahkan kaki meninggalkan kediaman sekte kita."

"Mm. Mereka benar-benar telah melangkah pergi."

"Mereka telah resmi pergi menjauh."

Barisan murid Gunung Hua yang tersisa di halaman tampak memusatkan pandangan mata mereka menatap kosong ke arah pintu gerbang utama sekte yang kini telah kosong melompong seutuhnya dengan ekspresi wajah yang terlihat agak linglung seutuhnya.

Meskipun begitu sangat berbeda dengan ketenangan mereka saat ini, kondisi jiwa Wi Ripsan saat ini terbukti sedang berada di ambang bencana pingsan seutuhnya kelak.

"A-A…… Perbuatan gila macam apa sebenarnya yang baru saja kalian lakukan hari ini……."

Ia kemarin fajar memang sengaja mengirimkan utusan murni bertujuan untuk memohon bantuan penyelamatan darurat dari Sekte Utama.

Meskipun demikian, apakah wujud bantuan penyelamatan yang ia bayangkan sebelumnya dipetakan kelak pasti harus melibatkan aksi memukuli murid Sekte Wudang sampai babak belur di depan umum semacam ini kelak?

Bagaimanapun juga, mengingat Sekte Gunung Hua adalah merupakan sebuah sekte persilatan yang terhormat dan prestisius yang di masa lalunya sempat bernaung di bawah atap Sembilan Sekte Besar dan Satu Serikat yang sama di masa lalu, mereka sudah sewajarnya memelihara jalinan hubungan persahabatan sekte yang wajar dengan Sekte Wudang selama ini.

Target awal yang ia bayangkan tidak lain adalah murni berharap agar kehadiran rombongan utusan Sekte Utama kelak pasti akan mampu memediasi jalannya sengketa wilayah ini dengan metode damai berbekal jalinan hubungan persahabatan sekte tersebut, agar urusan sengketanya tidak berakhir dengan pecahnya pertempuran fisik yang mematikan kelak…….

Sama sekali tidak menyadari gejolak kekhawatiran yang sedang melanda bagian hati terdalam Wi Ripsan baru saja, Chung Myung menyuarakan ucapannya sembari menyajikan senyuman cerah yang sangat ramah seutuhnya.

"Anda saat ini akhirnya dipetakan telah diperbolehkan untuk merebahkan tubuh fisik Anda di atas ranjang dengan kaki yang berselonjor santai menikmati waktu tidur dengan tenang seutuhnya kelak."

Kaki berselonjor santai? Merebahkan tubuh fisik dengan tenang?

"Klek."

Thud.

Pada akhirnya seutuhnya, mulut Wi Ripsan tampak mengeluarkan busa putih pekat dan tubuh fisiknya langsung tumbang pingsan roboh ke belakang seutuhnya saat itu juga.

"Heok! Ayah!"

"Pemimpin Sekte!"

Wi Sohaeng beserta Yeom Pyeong melesat menerjang maju menghampiri tubuh pingsan Wi Ripsan dengan ekspresi wajah dipenuhi kepanikan yang luar biasa seutuhnya.

Chung Myung menatap lurus ke arah kegaduhan tersebut dalam keheningan sejenak sebelum akhirnya melepaskan suara decakan lidah yang pelan seutuhnya.

"Aku melayangkan saran berselonjor kaki barusan bukan murni bertujuan untuk memintanya tumbang berselonjor pingsan di atas tanah kotor halaman ini saat ini juga, tuan. Sifat kepribadian aslinya terbukti agak terlampau tidak sabaran sekali belaka rupanya."

Seluruh murid Sekte Gunung Hua secara kompak melepaskan helaan napas panjang yang sangat berat seutuhnya seketika.

"Heeeuuuk!"

Wi Ripsan, yang secara mendadak tersentak melompat bangun dari atas ranjang tidurnya baru saja, memusatkan pandangan mata sayunya menatap kosong ke arah langit-langit atap kamar dengan mata yang membelalak lebar karena panik seutuhnya.

Setelah tubuh fisiknya sempat membeku kaku layaknya patung batu untuk beberapa saat lamanya, Wi Ripsan mengarahkan sepasang tangannya yang gemetar hebat menyeka tetesan keringat dingin yang membasahi sekujur area dahinya seutuhnya.

'Semua kejadian buruk tadi ternyata hanyalah merupakan bagian dari sebuah mimpi buruk belaka rupanya.'

Tentu saja hal mengerikan semacam itu hanya bisa terjadi di dalam sebuah mimpi buruk seutuhnya.

Bagaimana mungkin kejadian yang teramat sangat tidak masuk akal sekali semacam itu dipetakan akan sanggup terwujud nyata di dalam dunia realitas persilatan Murim kelak?

Sembari melepaskan suara helaan napas panjang tanda lega di dalam dadanya, Wi Ripsan mengulurkan satu tangannya mengambil teko air minum di samping ranjang, dan meneguk kandungannya langsung dari mulut teko dengan sangat rakusnya seutuhnya.

Setelah air dingin yang menyegarkan tersebut berhasil membasahi kerongkongan tenggorokannya baru saja, ia merasa bagian kerjanya pikirannya perlahan-lahan mulai mendapatkan kembali ketenangan logikanya seutuhnya kelak.

Kriet.

Tepat pada momen kelegaan tersebut, daun pintu kamar didorong terbuka perlahan dari luar dan Yeom Pyeong tampak melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam kamar seutuhnya.

"Apakah Anda saat ini akhirnya telah berhasil memulihkan kembali fungsi kesadaran batin Anda seutuhnya, Pemimpin Sekte?"

"……Berapa lama sebenarnya aku tidak sadarkan diri di atas ranjang ini?"

"Sekitar dua shichen lamanya, Pemimpin Sekte."

"Aliran waktu yang dinilai terlampau lama sekali belaka rupanya……."

Ia merasa kondisi tubuh fisiknya perlahan-lahan dipetakan tumbuh semakin lemah dan lunglai saja seiring berjalannya waktu selama ini. Meskipun jika dipikir-pikir kembali, ia memang sangat membutuhkan waktu istirahat tidur yang cukup demi memulihkan kembali kondisi fisiknya, namun di saat waktu sulit ini ia terbukti sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk sekadar menikmati waktu tidur tenang, jadi sangat wajar jika kondisi fisiknya merosot tajam seutuhnya.

"Aku wajib memaksakan tubuh fisikku bangkit berdiri sekarang juga. Kita sama sekali tidak memiliki cara apa pun untuk mengetahui kapan sebenarnya pihak Sekte Wudang kelak pasti akan melangkahkan kaki menyerang kediaman sekte kita kelak."

"Bukankah mereka kemarin fajar secara resmi telah melayangkan batas waktu toleransi dan berjanji kelak baru akan menyerang sekte kita esok hari kelak?"

"……Esok hari, kau mengatakannya?"

"Ya, benar sekali."

"Apakah mereka kebetulan sempat melangkahkan kaki berkunjung ke mari di saat aku sedang terbaring pingsan di atas ranjang ini tadi?"

Yeom Pyeong melipat kening dahinya bingung sembari memusatkan pandangan matanya menatap tajam ke arah Wi Ripsan seutuhnya kelak.

"Apakah Anda barusan baru saja tersadar dari sebuah mimpi buruk belaka, Pemimpin Sekte?"

"Ya, benar sekali. Aku baru saja melewati sebuah mimpi buruk yang teramat sangat aneh dan menakutkan sekali seutuhnya di dalam tidurku baru saja. Rombongan utusan dari Gunung Hua benar-benar telah menapakkan kaki di sekte kita hari ini, dan salah satu di antara mereka, seorang pemuda yang penampilannya sama sekali tidak berbeda dengan preman jalanan terbukti secara sepihak meluncurkan tantangan perang terbuka menghadapi seluruh murid Sekte Wudang, mengajukan opsi pertaruhan yang mempertaruhkan nasib keselamatan Sekte Bayangan Api kita murni hanya bermodalkan satu kali pertempuran fisik habis-habisan esok hari kelak."

"……"

"Aku merasa sangat terperangah sekali saat itu…… aku bahkan merasa bagian dadaku hampir saja pingsan karena tersentak kaget setengah mati, meskipun kejadian mengerikan tersebut hanyalah terjadi di dalam mimpi burukku belaka selama ini. Apakah masuk akal jika seorang murid gila semacam itu benar-benar dilahirkan dari Sekte Gunung Hua yang suci kelak? Pemuda gila itu bahkan dengan beraninya mengklaim dirinya sendiri menyandang gelar Naga Ilahi Gunung Hua di depan umum. Naga Ilahi Gunung Hua, ia mengatakannya. Hahahaha. Kondisi kesehatan fisik pribadiku saat ini tampaknya benar-benar telah terlanjur merosot hancur parah sekali belaka rupanya……."

Sembari memusatkan pandangan matanya menatap ke arah raut wajah Yeom Pyeong yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan untuk sekadar menyajikan senyuman tipis di wajahnya saat ini, Wi Ripsan secara perlahan menutup kembali lubang mulutnya rapat-rapat dalam keheningan yang dingin.

Satu momen keheningan yang mencekam berlalu di antara mereka seutuhnya.

"……Semua detail cerita burukku barusan dipastikan bukan merupakan wujud kenyataan yang sesungguhnya terjadi di lapangan, bukan?"

"Kisah mengerikan tersebut adalah kenyataan yang sesungguhnya terjadi hari ini, Pemimpin Sekte."

"Evaluasi logismu barusan dipastikan salah seutuhnya kelak, bukan?"

"Seluruh detail kejadiannya terbukti berjalan persis layaknya detail kronologi mimpi buruk yang baru saja Anda ceritakan kepada kami baru saja seutuhnya."

Sepasang telapak tangan Wi Ripsan langsung bergetar teramat sangat hebat sekali seutuhnya saat itu juga.

"K-Kejadian gila itu adalah wujud realitas yang sesungguhnya terjadi hari ini?"

"Pemimpin Sekte, kuharap Anda bersedia sekuat tenaga untuk menenangkan kembali deru pikiran Anda saat ini. Nasi telah terlanjur berubah menjadi bubur saat ini. Mengingat situasinya telah terlanjur berjalan dengan wujud ekstrem semacam ini saat ini juga, satu-satunya opsi penyelamatan darurat yang wajib segera kita diskusikan tidak lain adalah rencana melarikan diri secara diam-diam di tengah pekatnya kegelapan malam hari ini kelak seutuhnya."

"M-Melarikan diri secara diam-diam di tengah kegelapan malam hari ini?"

"Bukankah keputusan untuk melarikan diri secara diam-diam melintasi jalanan malam terasa jauh lebih baik dan terhormat untuk dilakukan dibandingkan dengan bersikeras menetap di tempat ini hanya demi menanti datangnya ajal kematian yang tragis kelak? Hanya bermodalkan mengamati wujud raut wajah dari sang Naga Pedang, Jin Hyeon kemarin fajar saja sudah lebih dari cukup bagiku untuk menyadari secara nyata bahwa ia dipetakan kelak pasti akan membantai habis siapa pun manusia di tempat ini saat ia kembali esok hari nanti."

"……Meskipun begitu, bukankah ia terbukti menyandang status kehormatan sebagai seorang pendeta Taois yang suci?"

"Pemimpin Sekte, kuharap Anda bersedia melatih keahlian mata Anda agar bisa melihat kenyataan realitas persilatan yang sesungguhnya hari ini. Jika Anda bersedia meluangkan sedikit waktu Anda murni bertujuan untuk mengumpulkan silsilah jasad dari seluruh manusia persilatan yang terbukti telah dibantai habis secara sepihak oleh kekuatan Sembilan Sekte Besar dan Satu Serikat selama ini, jumlah total jasad mereka dipetakan kelak pasti sudah terlampau lebih dari cukup untuk membendung aliran Sungai Kuning seutuhnya kelak. Apakah Anda memelihara asumsi bodoh bahwa hanya segerombolan penjahat kotor faksi hitam saja yang terbukti didepak jasadnya oleh kekuatan mereka selama ini? Tentu saja tidak, bukan?"

Wi Ripsan sama sekali tidak mampu melayangkan satu kalimat bantahan logis pun dari balik bibirnya dan memilih untuk menutup lubang mulutnya rapat-rapat dalam keheningan yang dingin seutuhnya.

"Jika Anda memang masih memelihara tekad kuat untuk menyelamatkan kelangsungan hidup Anda kelak, Anda wajib melatih keahlian pikiran Anda untuk memikirkan solusi ini dengan sebaik-baiknya kelak. Saat ini, waktu yang tersisa bagi sekte kita hanya tinggal satu hari saja…… bukan, bahkan aliran waktu satu hari penuh sekalipun dipetakan sudah tidak lagi tersisa seutuhnya bagi sekte kita saat ini."

Wi Ripsan memaksakan tubuh fisiknya bangkit berdiri tegak dari atas ranjang dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat serius seutuhnya.

"Di mana sebenarnya posisi kediaman dari barisan murid Gunung Hua saat ini?"

"Aku secara pribadi telah mengawal perjalanan mereka untuk tinggal menetap di area paviliun kediaman terpisah kita selama ini, Pemimpin Sekte. Mereka saat ini kemungkinan besar sedang menyantap hidangan makanan mereka di sana saat ini."

"Begitu rupanya……."

Wi Ripsan akhirnya memaksakan bagian hatinya untuk menerima kenyataan realitas yang sesungguhnya terjadi seutuhnya.

Jika seluruh detail kejadian gila yang sempat ia anggap sebagai mimpi buruk tadi terbukti benar-benar eksis di dunia nyata hari ini, maka ia secara pribadi dipaksa harus segera merumuskan keputusan akhir yang tegas mulai detik ini seutuhnya.

'Jika musibah kematian ini hanya akan melanda keselamatan jiwa pribadiku sendiri kelak, aku dipastikan sama sekali tidak akan memedulikannya sedikit pun seutuhnya.'

Meskipun begitu, ia saat ini terbukti masih memiliki sesosok istri tercinta beserta anak-anak kandungnya, dan barisan murid setia sekte yang wajib ia lindungi keselamatannya seumur hidupnya seutuhnya kelak.

Dan yang terpenting dari segalanya adalah……

'Jika situasi ini dibiarkan terus berjalan kelak, mereka juga dipetakan kelak pasti akan berakhir dengan tragedi luka fisik yang sangat parah nanti.'

Meskipun metode penyelesaian masalah yang diperagakan oleh mereka kemarin terbukti teramat sangat buruk dan kasar sekali akibat dari minimnya jam terbang bertualang yang mereka miliki selama ini, mereka bagaimanapun juga adalah sekelompok pendekar muda mulia yang rela meluangkan waktunya berjalan jauh-jauh berkunjung ke mari murni bertujuan untuk membantu menyelamatkan keselamatan Sekte Bayangan Api seutuhnya.

Ia sama sekali tidak akan pernah sanggup membiarkan hati nuraninya menyaksikan rombongan pendekar muda penolong tersebut berakhir tumbang bersimbah darah segar dihantam oleh kekuatan pedang tajam Sekte Wudang kelak seutuhnya.

"Yeom Pyeong."

"Ya, Pemimpin Sekte."

"Aku secara pribadi menilai sudah saatnya bagi sekte kita untuk secara resmi menurunkan papan nama Sekte Bayangan Api kita dari depan pintu gerbang utama sekte hari ini juga seutuhnya."

"……"

"Terlepas dari apakah wilayah pemukiman baru kita kelak berlokasi di wilayah Namyang ataupun di luar daerah sekalipun kelak nanti, selama kita masih sanggup melindungi dan mempertahankan kelangsungan hidup dari nama besar Sekte Bayangan Api kita seutuhnya kelak, bukankah hasil akhir semacam itu dirasa sudah terlampau lebih dari cukup bagi kita kelak?"

"Pemimpin Sekte Wi……."

Yeom Pyeong memasang ekspresi wajah yang memancarkan penderitaan jiwa yang mendalam seutuhnya, meskipun begitu bagi diri Wi Ripsan sendiri saat ini, melepaskan keputusan berat tersebut justru terbukti sanggup membuat lubang dadanya terasa jauh lebih lega seutuhnya dari sebelumnya saat ini.

'Seluruh keinginan pribadiku selama ini tidak lebih dari sekadar wujud ketamakan pikiran pribadi belaka seutuhnya.'

Wujud ketamakan yang bersikeras menolak angkat kaki meninggalkan area tanah kotor tempat tinggalnya selama ini.

Wujud ketamakan yang enggan menerima kenyataan diusir paksa oleh dominasi kekuasaan dari sekte cabang bawahan Wudang.

Dan bahkan wujud ketamakan untuk sekuat tenaga melindungi kejayaan operasional Sekte Bayangan Api kelak seutuhnya.

Pada akhirnya seutuhnya, seluruh keinginan mulianya selama ini tidak lebih dari sekadar wujud ketamakan pikiran pribadi belaka seutuhnya. Sekarang setelah ia bersedia melatih keahlian hatinya untuk melepaskan seluruh ketamakan tersebut seutuhnya hari ini, bagian jiwanya akhirnya benar-benar bisa merasakan kedamaian batin yang sesungguhnya seutuhnya kelak.

Meskipun demikian di bawah langit, jalannya peristiwa di dunia fana terbukti tidak selalu berjalan mulus sesuai dengan apa yang didambakan oleh bagian hati manusia seutuhnya sepanjang sejarah.

"Hal itu…… wujud realisasinya dipetakan sama sekali tidak akan berjalan dengan semudah itu kelak bagi sekte kita, Ayah."

"Hm?"

Wi Sohaeng tampak melangkahkan kakinya berjalan memasuki bagian dalam kamar seutuhnya.

"Makna implisit macam apa sebenarnya yang sedang dicoba disuarakan oleh kalimat ucapanmu baru saja, Sohaeng? Perihal rencana kepindahan kita yang dipetakan tidak akan berjalan dengan mudah kelak?"

"Bahkan jika bagian hati kita saat ini telah bersedia membulatkan tekad bulat untuk secara sukarela mengalah dan angkat kaki menyerahkan wilayah ini hari ini juga, barisan pendekar utusan dari Sekte Gunung Hua dipetakan sama sekali tidak akan pernah bersedia melangkahkan kaki mereka pergi meninggalkan kediaman sekte kita seumur hidup mereka kelak."

"Mengapa mereka bersikap keras kepala semacam itu?"

"……Meskipun penjelasan logisku baru saja dipetakan kelak pasti hanya akan terdengar sangat aneh sekali bagi lubang telinga Ayah saat ini, mereka semua hingga detik ini terbukti sama sekali tidak memelihara secuil pun rasa khawatir atau ketakutan mental di dalam dada mereka bahwa mereka kelak pasti akan menelan kekalahan bertarung menghadapi kekuatan Sekte Wudang kelak seutuhnya."

Raut wajah Wi Ripsan langsung memancar kosong melompong seutuhnya seketika.

'Apakah mereka semua benar-benar merupakan segerombolan pendekar muda bodoh yang tidak tahu cara memperagakan rasa takut di dunia persilatan?'

Kenyataan konyol semacam itu dipetakan sama sekali tidak mungkin terjadi seutuhnya.

Rekan seperjalanannya yang lain mungkin masih memiliki kemungkinan untuk menyandang kebodohan semacam itu di dalam dada mereka. Namun bagi diri Baek Cheon, sang Pedang Bunga Plum yang tersohor itu, ia adalah merupakan sesosok master muda yang namanya telah terlanjur dinobatkan menyandang reputasi bertarung yang teramat sangat tinggi sekali di seluruh penjuru dunia persilatan luar selama ini.

Terlebih lagi, status sosialnya di dalam sekte dinobatkan sebagai sosok Kakak Seperguruan Tertua dari generasi Baek, sosok pendekar masa depan yang silsilah takdirnya telah dipersiapkan sejak lama untuk tumbuh memimpin sebagai sosok Pemimpin Sekte Gunung Hua yang baru kelak nanti.

Sama sekali tidak masuk akal jika pendekar sekaliber dirinya terbukti gagal melatih akal sehatnya untuk mencerna kualitas situasi darurat di lapangan dengan ketenangan kepala yang matang seutuhnya selama ini.

"……Aku secara pribadi wajib meluangkan waktuku saat ini juga murni bertujuan untuk menemui secara langsung sosok Pedang Bunga Plum tersebut saat ini juga."

Wujud ekspresi wajah Wi Sohaeng tampak mengalami perubahan yang sangat janggal dan tidak biasa sekali seutuhnya kelak saat ia melayangkan kalimat lanjutannya.

"Opsi pertemuan tersebut kebetulan berjalan dengan sangat tepat waktu sekali saat ini, Ayah."

"Apa?"

"Mereka baru saja mengirimkan perwakilan mereka ke mari murni bertujuan untuk menyampaikan pesan bahwa mereka saat ini sedang menunggu kedatangan Anda, berasumsi bahwa fungsi kesadaran batin Anda dipetakan sudah harus pulih kembali saat ini."

"……Apakah sosok pendekar yang melayangkan pesan permohonan pertemuan tersebut tidak lain adalah sang Pedang Bunga Plum?"

"Bukan."

Wi Sohaeng berbicara sembari menyajikan ekspresi wajah yang teramat sangat masam kesal sekali seutuhnya di wajahnya.

"Melainkan pesan tersebut dikirimkan secara resmi mewakili kehendak dari sang Naga Ilahi Gunung Hua seutuhnya."

Naga Ilahi Gunung Hua sialan yang satu itu kembali berulah rupanya.

"……Naga Ilahi keparat. Bahkan jika bagian hatiku memaksakan diri menyebut bajingan kurang ajar itu menggunakan istilah Naga Tanah (Cacing Tanah) sekalipun, rasanya kosakata sebutan tersebut masih terlampau boros belaka seutuhnya untuk disematkan ke pundak kelakuannya."

Untuk pertama kalinya di sepanjang sisa hidupnya selama ini, Wi Sohaeng merasa bagian hati terdalamnya terbukti sanggup menyetujui dan bersimpati penuh secara mutlak ke hadapan kebenaran dari untaian kalimat makian kasar yang disuarakan oleh Ayahnya baru saja seutuhnya.

Chung Myung

Chung Myung

Karakter Utama
Baek Cheon

Baek Cheon

Pendukung
Yu Iseol

Yu Iseol

Heroine
Yoon Jong

Yoon Jong

Pendukung
Jo Gul

Jo Gul

Pendukung
Tang Gunak

Tang Gunak

Pendukung
Hyeyeon

Hyeyeon

Pendukung
Lim Sobyeong

Lim Sobyeong

Pendukung
Jang Ilso

Jang Ilso

Antagonis
Hyun Jong

Hyun Jong

Pendukung
Hyun Young

Hyun Young

Pendukung
Tang Soso

Tang Soso

Pendukung

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.