"Bocah itu berhasil mendapatkan class Legendary, namun level karakternya saat ini baru menyentuh level 21? Bagaimana cara dia memainkan game ini sepanjang 12 hari terakhir? Luar biasa sekali. Keahliannya menghindari kenaikan level benar-benar berada di luar nalar sehat pemain umum. Sungguh sebuah keajaiban ia sanggup memicu kemunculan Class Quest di level serendah itu."
Yoon Sangmin sangat membenci gaya bermain Shin Youngwoo. Berdasarkan catatan riwayat permainannya di database Satisfy, pemuda itu sama sekali tidak dibekali bakat bermain game. Keputusan sistem memberikan class Legendary kepadanya terasa layaknya melemparkan mutiara berharga ke hadapan seekor babi hutan. Pemborosan potensi class Legendary yang sangat sia-sia.
*Bocah lambat yang diprediksi tidak akan pernah sanggup menyentuh jajaran top ranker benua seumur hidupnya. Berkat tindakannya, jutaan konten eksklusif class Legendary yang sudah kita susun rapi terancam kedaluwarsa sia-sia sebelum sempat dipublikasikan. Dan sekarang ia kembali mengacaukan skenario promosi quest tersembunyi kita...*
Yoon Sangmin memantapkan penilaian buruknya di dalam hati.
*Bocah perusak. Keberadaannya adalah racun maut bagi kelangsungan ekosistem Satisfy. Sebelum ia mengacaukan lebih banyak skenario konten game lain kelak, ada baiknya kita memblokir akun permainannya secara permanen.*
Namun Yoon Sangmin menyadari jika ia tidak memiliki kewenangan mutlak untuk memblokir akun pemain tanpa alasan hukum yang sah. Ia terpaksa menyimpan kejengkelan itu di dalam dadanya sendiri sembari melemparkan tatapan serius ke arah Yoon Nahee.
"Ngomong-ngomong, kenapa persentase keberhasilan penyelamatannya hanya bernilai 9%? Apa Morpheus mendeteksi jika peluang bocah level 21 itu menyusup menyelamatkan Allunbatar hanya sebesar 9%? Konyol sekali. Harusnya peluang keberhasilannya bernilai 0%."
Jajaran direksi lainnya mengangguk setuju.
"Angka perhitungan simulasi komputer ini pasti salah." "Benar. Aku menduga superkomputer Morpheus sedang mengalami galat sistem."
Misi penyelamatan ini dipastikan gagal total. Mustahil bagi pemain level 21 biasa menyusup menembus pertahanan kastil Winston demi menyelamatkan Allunbatar. Kampanye promosi besar-besaran yang sudah direncanakan terpaksa dibatalkan. Kekecewaan menyelimuti ruang rapat konferensi.
Namun di tengah kelesuan para direktur, hanya Lim Cheolho yang tampak tersenyum gembira.
*Pemain utama di balik tiga pemicu rekor peristiwa global Satisfy secara beruntun... Sejak menyandang class Legendary, ia berhasil memproduksi anak panah Epic, memicu Class Quest, dan kini memegang kunci nasib quest Rank-S pemain lain. Entah kenapa aku menaruh harapan besar pada pemuda unik ini.*
Gaya bermain Shin Youngwoo yang berada di luar logika umum membuatnya menjadi variabel paling menarik yang sangat dinantikan kehadirannya. Kehadiran Grid selalu menjanjikan kejutan tak terduga yang menghibur bagi Lim Cheolho.
Lim Cheolho sangat menikmati variabel kekacauan yang diciptakannya, mengabaikan kekhawatiran yang dirasakan oleh Park Eunhyuk serta Yoon Sangmin.
* * *
Pertemuanku dengan Khan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kedatangan Huroi. Akulah orang pertama yang menyelamatkan kelangsungan bengkel Khan serta melunasi seluruh biaya pengobatannya di klinik kemarin. Kontribusi bantuan yang sangat besar bagi kelangsungan hidup Khan.
Sebaliknya, siapa Huroi? Ia hanya pengembara asing yang baru melangkah masuk ke dalam bengkel dan melayangkan beberapa patah kata saja kepada Khan.
"Lalu kenapa?"
Kenapa Khan justru mempercayakan quest besar 'For the Residents of Winston' kepada Huroi? Sedangkan aku hanya diberikan quest remeh dengan nominal hadiah 600 koin emas saja.
"Bukankah seharusnya seluruh quest penting itu diberikan kepadaku?!"
Jika Khan memang tipe NPC yang tahu tata krama dasar membalas budi baik orang lain, ia seharusnya menyerahkan seluruh quest berharga Winston kepadaku tanpa ragu. Orang tua tidak tahu diri yang sangat pelit.
*Khan harus membalas budi... Apa dia sudah pikun? Sial, aku harus memikirkan cara memicu interaksi dialognya kembali kelak. Apa aku harus bertingkah lebih manis di depannya mulai sekarang agar ia bersedia melimpahkan quest penting padaku?*
Semakin kupikirkan, suasana hatiku semakin buruk. Quest 'For the Residents of Winston' adalah tipe quest makro yang menentukan nasib kelangsungan desa Winston kelak, sehingga sangat wajar jika Khan hanya akan mempercayakannya kepada orang yang paling ia percayai.
Namun kenapa orang kepercayaan itu adalah Huroi! Ini berarti posisiku di mata Khan masih kalah terhormat dibandingkan pemain asing yang baru pertama kali ditemuinya kemarin!
*Kenapa reputasiku bisa kalah telak dari anjing jalanan yang meluncur entah dari mana itu?! Sial!*
Kutenggak habis segelas shochu hangat ke dalam mulutku sembari merutuki nasib sialku di dalam kedai makanan pinggir jalan dekat apartemenku. (Shochu adalah minuman beralkohol tradisional khas Jepang.)
Batas ketahanan alkohol tubuhku sebenarnya hanya mentok di angka satu setengah botol shochu saja, namun rasa iri mendalam terhadap Huroi memaksaku menghabiskan minuman keras lebih banyak dari biasanya malam ini.
"Kuaaah~!"
Kusodorkan botol shochu ketiga yang sudah kosong ke atas meja. Dadaku masih terasa sesak menahan kejengkelan, air mata hampir saja menetes dari kelopak mataku saking kesalnya.
Semakin kuingat wajah Khan, amarahku semakin memuncak. Kupikir kebersamaan kami selama beberapa hari kemarin sudah membangun ikatan persahabatan yang tulus di antara kami, namun rupanya Khan memiliki pandangan yang berbeda. Orang tua itu sama sekali tidak menaruh kepercayaan padaku.
"Kenapa dia melimpahkan quest berharga itu kepada pemain lain di depanku?! Kenapa?! Sialan!"
Untung saja ramalan cuaca mengabarkan jika esok hari hujan lebat akan mengguyur kota selama tiga hari berturut-turut, sehingga aku tidak perlu cemas memikirkan panggilan kerja kasar di lokasi proyek.
Kupanggil pemilik kedai makanan dengan suara lantang.
"Bibi!"
Wanita paruh baya yang sedang sibuk memotong sosis soondae tampak tersentak kaget mendengar teriakan mendadakku. Kulihat jemari tangannya sedikit bergetar saat mata kami saling berpapasan.
*...Apa karisma kesepian yang kupancarkan malam ini terlalu memikat bagi wanita seusianya?*
Sorot mata kesepianku malam ini layaknya badai salju abadi di puncak Gunung Everest. Menatap getaran di matanya, wanita paruh baya itu sepertinya mulai menaruh ketertarikan pada pemuda tampan seusia putra sulungnya ini.
"Aku memang pemuda berdosa yang penuh pesona..."
Aku merasa kasihan padanya, namun aku menolak terlibat hubungan asmara dengan wanita yang sudah berkeluarga.
*Aku menolak menjadi perusak rumah tangga orang lain.*
Kupertegas maksud ucapanku agar ia tidak menaruh harapan palsu padaku.
"Bibi, tambah satu botol shochu lagi. Dan tolong isi ulang sup ikannya kembali. Jangan lupa masukkan potongan lobak rebus ekstra sebagai bonus pelayanan cuma-cuma..."
*Brak!*
Wanita paruh baya itu menancapkan pisau jagal di genggamannya ke atas talenan kayu dengan keras. Ia menunjuk ke arah wajahku sembari berteriak murka.
"Bocah kurang ajar! Aku tidak keberatan kamu menghabiskan tiga botol shochu di kedai ini, namun ini sudah kesembilan kalinya kamu meminta isi ulang sup ikan cuma-cuma! Ditambah lagi minta bonus lobak rebus ekstra! Nilai nominal sup ikan cuma-cuma yang kamu makan bahkan jauh lebih mahal dibandingkan harga shochu yang kamu bayar! Pemuda berbadan kekar tapi tidak tahu malu!"
"...Bibi pelit sekali. Menyediakan sup ikan hangat bagi pelanggan setiamu adalah standar pelayanan dasar, kan? Dunia ini benar-benar dipenuhi oleh orang-orang pelit yang mengecewakan. Sama pelitnya dengan Khan."
"Apa katamu?! Aku menolak memberikan isi ulang gratis lagi padamu!"
Pemilik kedai berdiri tegak dengan wajah kaku. Rencana makan malam kenyang bermodalkan sup ikan gratisanku malam ini dipastikan kandas.
"Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada kenyataan dunia yang kejam ini..."
Kuurungkan niat meminta isi ulang sup lalu bergegas berdiri meninggalkan kedai. Kulemparkan beberapa lembar uang kertas pembayaran di atas meja sembari melangkah pergi ke arah jalan raya. Baru beberapa langkah kakiku meluncur, suara teriakan murka wanita paruh baya itu kembali terdengar dari arah belakang.
"Hei! Bocah Mabuk! Uang pembayarannya kurang 1.000 won! Sini kembalikan 1.000 won-ku!"
*Eh? Pembayaranku kurang karena salah hitung akibat efek mabuk shochu.*
*Kesempatan emas untuk menghemat 1.000 won!*
Di masa lalu, aku tidak pernah memedulikan nominal uang receh sekecil ini. Namun semenjak terlilit utang puluhan juta won di dunia nyata, berhemat adalah kewajiban mutlak demi kelangsungan hidupku. Di tengah maraknya generasi muda yang boros saat ini, membudayakan sikap hemat adalah kunci utama kemakmuran masa depan Korea Selatan. Demi masa depan bangsa, aku harus menghindari pembayaran 1.000 won ini.
*...Tidak, tidak boleh. Lokasi kedai ini dipenuhi oleh kamera pengawas jalanan. Aku bisa dilaporkan ke kantor polisi atas kasus pencurian makanan jika nekat melarikan diri.*
Sangat memalukan jika namanya harus terdaftar di catatan kriminalitas polisi hanya karena nominal uang 1.000 won. Terpaksa kuputar langkah kakiku kembali lalu menyerahkan selembar uang 1.000 won ke tangan wanita paruh baya itu.
"Bibi, jika aku adalah pemuda berandalan pada umumnya, aku pasti sudah melarikan diri tanpa memedulikan kekurangan uang ini. Namun aku memilih berbalik kembali untuk melunasinya. Bukankah kejujuranku ini sangat luar biasa?"
"...Bukankah melunasi pembayaran adalah tindakan wajar yang dilakukan oleh semua orang?"
"Tindakan wajar?! Bibi sepertinya kurang pergaulan di dunia luar. Hari gini sangat jarang ada pemuda jujur sepertiku! Aku adalah spesies langka!"
"Iya, iya, terserah katamu saja. Cepat pulang sana. Kamu sudah sangat mabuk."
"Bibi! Apa kamu tidak mengerti kesedihan hatiku malam ini? Pemuda jujur sepertiku seharusnya diberikan bonus bungkusan sup ikan gratis di malam yang dingin ini."
"......"
Wanita paruh baya itu mengabaikan ocehanku lalu melangkah masuk kembali ke dalam kedainya. Kuberdiri menanti di depan gerbang kedai selama sepuluh menit berharap ia akan keluar membawakan sup ikan gratisan untukku, namun ia tidak kunjung muncul kembali.
"Hahaha... Sekali lagi aku dikhianati. Baik karakter NPC maupun manusia di dunia nyata semuanya mengkhianati ketulusanku!"
Ya, dunia ini memang sangat kejam dan dingin bagi orang jujur sepertiku. Melangkah gontai kupulangkan tubuh mabukku menuju ke apartemen dengan perasaan sunyi.
* * *
"Oppa! Kamu harus memberi kabar jika ingin pulang selarut ini! Apa kamu tahu ini sudah jam berapa?!"
Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Begitu membuka pintu apartemen, aku langsung disambut oleh omelan adik perempuanku, Sehee, yang sedang duduk menonton TV di ruang tamu.
"Oppa minum alkohol lagi malam-malam begini? Oppa tidak punya pacar ataupun teman bermain, lalu minum dengan siapa? Jangan-jangan Oppa minum sendirian lagi di kedai? Menyedihkan sekali."
"...Sehee, besok pagi kamu ada jadwal sekolah, kan? Kenapa belum tidur jam segini?"
"A-Aku... Aku khawatir melihat Oppa yang biasanya hanya tahu mengurung diri di dalam kapsul game tiba-tiba menghilang selarut ini... Tidak! Maksudku, acara TV malam ini sangat seru sehingga aku belum mengantuk!"
"Eh? Kamu mengkhawatirkanku? Sengaja menungguku pulang hingga larut malam begini?"
"Apa?! Siapa yang menunggumu pulang?! W-Wajah Oppa yang merah padam begitu terlihat sangat menjijikkan! Aku mau tidur sekarang!"
*Brak!*
Sehee berbalik arah lalu membanting pintu kamarnya erat.
"Fuuuh, sifat gadis remaja memang sangat sulit dipahami."
Teriakan melengking Sehee berhasil meredakan kabut mabuk di kepalaku, menyisakan kekesalan mendalam di dadaku mengingat kegagalan quest Winston kemarin.
"Sial, lebih baik aku segera tidur."
Belum sempat kulangkahkan kakiku menuju kamar tidur, pintu kamar Sehee kembali didorong terbuka. Ia menghampiriku sembari melayangkan omelan panjang. "Gosok gigi dan cuci kakimu terlebih dahulu sebelum tidur! Oppa sangat bau shochu saat ini! Dan jangan nekat mandi di kamar mandi saat kondisi mabuk begitu! Tapi aku tahu Oppa memang tipe pemalas yang jarang mandi setiap hari."
"...Kamu belum tidur juga?"
"Aku hanya ingin mengambil segelas air dingin di dapur sebelum tidur."
"Ya sudah, ambil air minummu lalu segera tidur. Selamat malam."
Sehee melangkah menuju dapur sedangkan aku berjalan masuk ke kamar mandi.
"Gosok gigi di tengah malam begini hanya membuang-buang pasta gigi saja."
Biasanya aku hanya menggosok gigi sekali sehari, atau paling banyak tiga kali sehari jika ada urusan penting di luar rumah. Kutaruh kembali sikat gigi di genggamanku ke tempatnya semula. Efek alkohol membuat kelopak mataku terasa sangat berat saat ini.
"Aku tidak akan tewas hanya karena melewatkan gosok gigi semalam..."
Kucuci bersih kedua tanganku lalu melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamar tidurku. Sayup-sayup kudengar suara teriakan omelan Sehee dari arah luar kamar, namun kuabaikan suara tersebut lalu merebahkan tubuhku ke atas ranjang empuk hingga kesadaranku terlelap sepenuhnya.
Hari yang sangat melelahkan akhirnya berakhir.













