Overgeared

Overgeared Chapter 27

1932 Kata

"Lululala~"

Senandung riang meluncur bebas dari bibirku. Begitu keluar dari kapsul game, kurebahkan tubuhku di sofa ruang tamu dengan perasaan gembira yang luar biasa.

"Lalalala~"

Kuberjalan santai menuju dapur untuk meneguk segelas air dingin.

"Lululululu~"

Kurebahkan kembali tubuhku di sofa sembari menyalakan TV. Senandungku tidak kunjung berhenti, bahkan sesekali aku tertawa terkikik sendirian. Aku benar-benar sangat bahagia! Berkat quest tersembunyi kemarin, aku berhasil mendapatkan skill buff bertarung khusus, menyelesaikan quest dengan aman, membuka kelanjutan quest legendaris, serta mendapatkan lonjakan level yang luar biasa dalam waktu singkat.

"Aku berhasil melumat kawanan preman itu dan langsung meloncat ke level 21! Bukankah ini keberuntungan yang sangat luar biasa? Kenapa keberuntunganku mendadak menjadi sebagus ini belakangan ini?"

Quest tersembunyi bukanlah barang murah yang bisa didapatkan dengan mudah di game ini. Ini adalah pertama kalinya aku berhasil memicu quest tersembunyi sepanjang setahun bermain Satisfy. Di antara miliaran pemain yang aktif, hanya segelintir orang saja yang beruntung bisa memicu quest semacam ini.

Segala urusanku terasa berjalan sangat mulus sejak aku bertransisi menjadi Keturunan Pagma. Class legendaris ini benar-benar luar biasa.

"Rangkaian kemalanganku selama setahun kemarin rupanya merupakan rencana dewi game untuk memberiku berkah besar ini kelak. Hahaha!"

Hadiah kelanjutan quest seperti apa yang akan diberikan oleh Khan padaku nanti? Apa ia akan memberiku salah satu dari equipment Unique tersebut sebagai hadiah? Jika benar begitu—

"Aku pasti bisa menjadi kaya raya! Hahaha!"

Daya serang dan pertahanan Dainsleif serta Valhalla hampir setara dengan spesifikasi resep 'Failure' yang kurancang kemarin. Namun, karena persyaratan penggunaan kedua barang itu jauh lebih logis dibandingkan Failure, nilainya di pasar lelang pemain dipastikan akan menyentuh angka astronomi.

"Kedua barang itu menyadarkanku jika Failure rancanganku memanglah sebuah kegagalan produk."

Albatino benar-benar pengrajin besi yang luar biasa. Dialah sosok hebat yang menjadi sumber inspirasi bagi Pagma sendiri.

"Pria sehebat itu saja tidak dianugerahi gelar pandai besi legendaris oleh sistem game, sedangkan aku yang biasa saja ini justru berhasil mendapatkan class legendaris secara cuma-cuma... Yah, begitulah keadilan dunia."

Rasa syukur kembali merayap di dadaku atas keberadaan class Legendary yang kupunya saat ini.

*Hrmm.* Kulihat jam dinding sembari menguap pelan. Sudah dua jam berlalu sejak aku logout dari kapsul. *Waktu di dalam Satisfy seharusnya sudah berjalan selama delapan jam. Apa Khan sudah siuman sekarang?*

Menurut penjelasan dokter klinik kemarin, kondisi kesehatan Khan memang sangat buruk akibat konsumsi alkohol berlebih serta tekanan stres yang tinggi. Namun, jika mengikuti alur cerita quest sistem, Khan dipastikan akan sembuh dari kecanduan alkoholnya seiring berjalannya waktu. Jadi aku tidak perlu cemas berlebihan.

Kukembali masuk ke dalam kapsul lalu terhubung ke Satisfy.

"Link start."

Jarak pandangku menggelap sejenak sebelum akhirnya digantikan oleh pendar cahaya lampu minyak yang hangat saat kedua mataku terbuka.

*Klinik desa.*

Tempat terakhirku logout kemarin adalah kamar perawatan klinik tempat Khan dirawat. Segera kulangkahkan kakiku mencari keberadaan dokter bernama Simon.

"Dokter, bagaimana kondisi kakek tua yang kubawa kemarin?"

Simon tersenyum ramah menjawab pertanyaanku.

"Kondisinya sempat kritis akibat lonjakan tekanan darah mendadak di tengah kondisi fisiknya yang melemah. Namun secara ajaib, proses pemulihannya berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan kami. Ia sudah diperbolehkan pulang hari ini. Dewa benar-benar melindunginya..."

"Syukurlah."

"Namun pastikan ia tidak menyentuh alkohol lagi mulai sekarang jika ingin tetap sehat."

Aku melangkah menuju kamar perawatan Khan didampingi Simon. Begitu melihat kehadiranku, Khan langsung menyambutku dengan senyum hangat. "Oh, selamat datang. Aku berutang budi sangat besar padamu."

Kujawab ucapannya sembari tersenyum lebar. "Sesama manusia yang sedang kesulitan memang harus saling membantu, Kek. Sekarang Kakek sudah diperbolehkan pulang. Kakek hanya perlu melunasi biaya pengobatannya saja di depan."

"......"

Kenapa Khan mendadak terdiam bisu? Firasat buruk kembali merayap di dadaku. Kalimat berikutnya yang meluncur dari mulut Khan terasa bagai sambaran petir di siang bolong.

"Maaf... saat ini aku tidak memiliki..."

*S-Sialan!*

"Jangan bilang... Kakek tidak punya koin untuk membayar biaya kliniknya?!"

"Bukannya aku menolak membayar, namun aku benar-benar tidak memegang koin sepeser pun saat ini."

"Lalu bagaimana sekarang? Apa klinik ini menerima sistem hutang?"

Kulemparkan pandanganku ke arah Simon. Senyum ramah di wajah dokter itu seketika lenyap berganti dengan ekspresi dingin tanpa kompromi. Simon menjawab tegas. "Klinik kami tidak menerima sistem hutang."

"......"

Aku ingin sekali meninggalkan orang tua tidak tahu diri ini sendirian di klinik, namun jika kulakukan, kelanjutan quest-nya pasti akan hangus secara permanen.

*Sial! Keberuntungan sialanku kembali beraksi! Nasib sial yang selalu mengintai di saat-saat terbaik!*

Terpaksa kurogoh saku inventarisku lalu menyerahkan satu koin emas untuk melunasi biaya pengobatan Khan. Jumlah pengeluaran koin emas ku hari ini benar-benar membuat dadaku terasa nyeri saking sesaknya.

Khan menatapku penuh rasa bersalah.

"Terima kasih atas bantuanmu sekali lagi."

Begitu kami tiba kembali di bengkel miliknya, Khan langsung berbalik menghadapku lalu membungkukkan tubuhnya sedalam 90 derajat menyatakan rasa terima kasihnya yang terdalam. Setidaknya ia masih memiliki sedikit harga diri untuk berterima kasih pada orang yang baru saja membayarkan biaya rumah sakitnya sebesar satu koin emas.

"Terima kasih banyak, Nak. Berkat bantuanmu, aku bisa merasakan secercah harapan kembali di hidupku. Aku berhasil mempertahankan bengkel warisan leluhurku yang sudah berdiri selama tujuh generasi ini, bengkel yang hampir saja hilang akibat kebodohanku sendiri. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas budi baikmu ini..."

Khan mulai meneteskan air mata. Air mata orang tua memang sangat mudah mengalir jika dirundung kesedihan mendalam.

"Kek..."

Kugenggam erat tangan keriput Khan yang kasar.

Adegan klasik yang umum dijumpai pada drama pahlawan keadilan di TV. Seharusnya aku mengucapkan kalimat bijak seperti: *"Membantu sesama yang sedang kesulitan adalah kewajiban kita, Kek. Jangan dipikirkan. Aku tidak mengharapkan imbalan apa pun dari bantuan kecilku ini."*

Namun, aku bukanlah pahlawan drama yang suci! Aku adalah produk dari masyarakat modern yang kejam dan penuh persaingan, di mana hukum rimba saling melindas adalah aturan mutlak untuk bertahan hidup. Aku menginginkan hadiah!

"Kek, jika Kakek benar-benar merasa berutang budi padaku, berikan aku hadiah yang setimpal. Ayo."

"Ah, iya, tentu saja. Memang sudah kewajibanku memberikan hadiah untukmu. Kebaikanmu terlalu besar hingga aku bingung hadiah apa yang pantas untukmu."

Apa orang tua ini pura-pura bodoh? Kenapa ia tidak menangkap maksud dari ucapanku? Kupertegas kembali perkataanku dengan nada bicara yang serius.

"Kek, jika bukan karena bantuanku kemarin, bengkel ini pasti sudah disita paksa oleh preman-preman itu. Dan jika Kakek terus melarikan diri pada alkohol, kondisi kesehatan Kakek pasti akan semakin memburuk hingga ajal menjemput."

"Benar sekali."

"Saat Kakek pingsan terkena serangan darah tinggi kemarin pun, Kakek pasti sudah tewas jika aku tidak bergegas menggendongmu ke klinik dan melunasi biaya pengobatannya, kan?"

"Iya, itu benar."

"Berarti secara tidak langsung aku adalah penyelamat nyawamu, kan?"

"Iya."

Kususun argumen logisku secara runtut. "Sebagai penyelamat nyawamu, bukankah wajar jika aku meminta hadiah yang nilainya setara dengan nyawamu sendiri?!"

Khan seketika terdiam dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah.

"Hadiah yang nilainya setara dengan nyawaku... Aku tidak memiliki harta berharga seperti itu saat ini. Bagaimana sekarang? Kuh..."

"Kakek tidak perlu bersedih begitu. Aku adalah orang yang sangat baik hati, jadi aku tidak akan menuntut hadiah yang terlalu memberatkanmu." Kujulurkan jariku menunjuk ke arah galeri pajangan lantai dua. "Cukup berikan Dainsleif dan Valhalla itu padaku sebagai hadiah, maka seluruh utang budimu kuanggap lunas."

Jantungku berdebar kencang dipenuhi rasa antusias menanti persetujuannya. Namun hidupku memang tidak pernah berjalan mudah.

"Kedua barang itu adalah pusaka leluhur yang sudah diwariskan turun-temurun di keluargaku. Nilainya jauh lebih berharga dibandingkan nyawaku sendiri. Aku rela menyerahkan nyawaku kepadamu saat ini juga, namun aku tidak akan pernah bisa menyerahkan pusaka leluhurku itu kepadamu."

Penolakan yang sangat tegas. Jika ia menolak memberikannya sejak awal, buat apa bersikap sehormat itu padaku tadi? Keningku berkerut menahan kesal, sementara Khan tampak terbatuk canggung lalu memberikan penjelasan tambahan.

"Kedua barang itu adalah mahakarya yang dibuat oleh leluhurku, Albatino, dengan mengerahkan seluruh jiwanya. Pusaka yang melambangkan tekad Albatino itu tidak boleh diserahkan secara sembarangan bahkan oleh keturunannya sendiri. Namun, sebenarnya ada satu pengecualian."

Khan adalah keturunan langsung dari Albatino? Garis darah keturunan memang tidak bisa berbohong. Pantas saja ia memiliki bakat pandai besi yang luar biasa jika kecanduan alkoholnya berhasil sembuh kelak.

"Apa pengecualiannya?"

Tatap mata Khan mendadak berubah sangat serius. "Sebelum itu, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Bagaimana bisa kamu mengenakan kedua barang pusaka itu kemarin? Dan bagaimana kamu bisa langsung mengetahui nilai sejarahnya hanya dalam sekali lihat?"

Khan menjelaskan alasannya.

**"Dainsleif** dan **Valhalla** adalah persenjataan perang yang legendaris. Spesifikasi kekuatannya berada di luar nalar, namun karena persyaratan penggunaannya yang sangat tinggi, tidak ada satu pun pahlawan di benua ini yang sanggup mengenakannya selama ratusan tahun terakhir. Catatan sejarah mengenai keberadaannya pun perlahan-lahan mulai terlupakan dari benak orang-orang."

Khan mengajakku melangkah naik ke lantai dua. Kami berdiri berhadapan menatap pajangan Dainsleif dan Valhalla yang kokoh.

Khan mengelus permukaan bilah pedang raksasa itu lembut.

"Aku merasa sedih karena mahakarya leluhurku ini terus tersembunyi tanpa ada orang yang mengetahui nilai aslinya. Oleh karena itu, sengaja kupajang di tempat yang mencolok ini. Namun, untuk bisa memahami nilai sejati dari kedua barang ini, seseorang harus memiliki tingkat wawasan yang setara dengan pembuatnya sendiri. Meskipun sudah kupajang di sini selama puluhan tahun, tidak ada satu pun pengunjung yang menyadari nilainya."

Khan menatapku tajam.

"Hingga kamu melangkah masuk ke tempat ini."

Penjelasan sejarah yang panjang dimulai.

"Ada legenda yang diwariskan turun-temurun di keluargaku. Sekitar 130 tahun lalu, seorang pandai besi bernama Pagma mengunjungi tempat ini. Ia melihat keberadaan Dainsleif dan Valhalla yang berdebu di sudut ruangan, dan langsung mengenali nilai sejati kedua barang pusaka tersebut hanya dalam sekali lihat."

Sorot mata Khan tampak berbinar kagum.

"Pagma sangat mengagumi hasil karya Albatino tersebut. Dikabarkan ia bahkan melayangkan tarian pedang yang sangat indah menggunakan Dainsleif, pedang raksasa yang tidak pernah bisa diangkat oleh pahlawan mana pun saat itu. Keindahan tarian pedangnya begitu memukau, melesatkan tebasan kilat yang sanggup menembus langit."

Kutatap ceritanya dengan takjub. Legenda kuno yang sangat mendebarkan! Khan yang menyadari ketertarikanku segera melanjutkan ceritanya dengan lebih antusias.

"Leluhurku yang menyaksikan langsung keindahan tarian pedang tersebut seketika berlutut di hadapan Pagma lalu memohon: *'Tolong bawalah Dainsleif dan Valhalla ini pergi bersama Anda. Itulah keinginan terbesar mendiang leluhurku.'*"

"Oh! Menarik sekali! Lalu apa Pagma menerimanya?"

"Tidak. Jika ia menerimanya saat itu, kedua barang ini pasti tidak akan ada di sini hari ini. Pagma menjawab lembut: *'Karya-karya ini menyimpan jiwa murni dari Albatino. Kualitasnya terlalu agung, tidak pantas disia-siakan untuk wadah kecil sepertiku.'* Sekeras apa pun leluhurku memohon, Pagma tetap teguh menolaknya."

Aku benar-benar tidak bisa memahami logika berpikir Pagma. Kenapa menolak barang mewah yang diberikan secara cuma-cuma? Jika aku yang berada di posisinya saat itu, aku pasti langsung menerimanya lalu menjualnya ke situs lelang barang game demi uang tunai.

*Pagma pasti orang kaya raya yang tidak butuh uang saku tambahan.*

Khan melanjutkan ceritanya kembali.

"Sebelum melangkah pergi meninggalkan bengkel, Pagma berucap lembut: *'Saat ini memang belum ada pahlawan yang sanggup menguasai persenjataan perang ini. Namun kelak seiring berjalannya waktu, banyak pahlawan tangguh akan lahir dan mereka semua dipastikan layak menjadi pemilik sejati dari mahakarya ini.'*"

"......"

Kucoba menerjemahkan maksud ucapan Pagma tadi. 'Pemain tangguh yang akan lahir kelak' yang ia bicarakan sudah pasti merujuk pada para pemain (*users*) Satisfy. Kecepatan perkembangan level para pemain Satisfy memang sangat cepat dan tidak terbatas. Tidak lama lagi pasti akan muncul jajaran top ranker yang sanggup memenuhi persyaratan penggunaan Dainsleif dan Valhalla.

*Aku tidak boleh membiarkan barang-barang ini jatuh ke tangan pemain lain.*

Kutanya Khan langsung. "Lalu apa hubungannya cerita sejarah panjang ini dengan pengecualian tadi?"

Khan menjawab mantap tanpa ragu. "Aku ingin mengetahui identitas aslimu yang sebenarnya."

"Apa kamu berpikir jika aku adalah salah satu pahlawan yang diramalkan oleh Pagma dulu?"

"Benar sekali. Bukankah tadi kukatakan ada satu pengecualian? Jika kamu sanggup membuktikan diri sebagai pahlawan yang diramalkan oleh Pagma, aku dengan senang hati akan menyerahkan Dainsleif dan Valhalla ini ke tanganmu."

Sorot mata Khan tampak dipenuhi oleh rasa harap yang mendalam ke arahku.

Hubungan keterikatanku dengan quest kuno legendaris akhirnya dimulai.

Grid

Grid

Karakter Utama
Irene Blanc

Irene Blanc

Heroine
Mercedes

Mercedes

Heroine
Ruby

Ruby

Pendukung
Lauel

Lauel

Pendukung
Piaro

Piaro

Pendukung
Braham

Braham

Pendukung
Faker

Faker

Pendukung
Peak Sword

Peak Sword

Pendukung
Pon

Pon

Pendukung
Vantner

Vantner

Pendukung
Regas

Regas

Pendukung
Euphemina

Euphemina

Pendukung
Agnus

Agnus

Antagonis

Komentar (...)

Masuk untuk ikut berdiskusi di kolom komentar