Overgeared

Chapter 148

2881 Kata

Di penghujung akhir bulan Februari.

Sesi liburan musim semi di Sekolah Menengah Remaja Putri Geumcheon resmi berakhir. Semester baru di tahun kedua masa sekolah menengah Sehee bersiap dimulai dalam kurun waktu beberapa hari ke depan, menjadikannya meluangkan waktu belajar keras hari ini.

Aktivitas menyalurkan hobi? Perjalanan wisata? Ataupun kencan asmara? Sehee sama sekali menolak menaruh ketertarikan pada hal-hal santai tersebut. Rutinitas olahraga ringannya murni hanya dibatasi pada sesi jogging di pagi hari didampingi yoga singkat di sore hari murni demi menjaga kestabilan kondisi fisiknya sepanjang belajar.

Sehee meluangkan segenap waktu hidupnya murni untuk belajar. Untuk alasan apa dirinya dirundung obsesi belajar yang sangat kencang seperti itu?

Semua itu murni karena menimbang nasib kakak laki-lakinya, Youngwoo.

Kakaknya sejak masa belia tidak dibekali bakat akademik yang menonjol didukung ketiadaan keahlian khusus di bidang tertentu. Satu-satunya kelebihan yang diakui dari sosok kakaknya murni hanya keuletan kesabarannya saja. Namun pasca memasuki bangku perkuliahan, kelalaian sifat kakaknya yang berubah malas memicu kecemasan mendalam di hatinya menatap masa depan sang kakak.

Orang tua mereka menaruh harapan besar perilaku malas kakaknya akan membaik pasca merampungkan masa wajib militer. Namun realitasnya justru kian memburuk. Alih-alih memfokuskan pikirannya kembali belajar, Youngwoo justru terjerumus didera kecanduan bermain game Satisfy hingga menimbun tumpukan utang yang mencekik. Kedua orang tua mereka tiada henti mengembuskan napas kepasrahan menatap sisa masa depan kakaknya yang kian menggelap di setiap harinya.

*Aku memegang kewajiban moral untuk menjaga kelangsungan hidup Oppa.*

Apakah karena dirinya tumbuh menyaksikan kemalangan nasib kakaknya sepanjang hidup? Sehee dipaksa tumbuh dewasa lebih awal dibandingkan gadis sebayanya. Sejak melangkah memasuki bangku sekolah menengah, dia memantapkan sumpah di batinnya bersedia menanggung beban masa tua kedua orang tuanya serta menjamin kelangsungan hidup kakaknya nanti.

*Aku bersumpah akan belajar jauh lebih keras demi menutupi kelalaian Oppa. Aku wajib memetik kesuksesan karier di masa depan demi bisa menyokong kehidupan orang tuaku serta menjamin hidup Oppa.*

Berbeda dengan kakaknya, Sehee dianugerahi kapasitas otak yang sangat jenius. Dia memegang status siswi berprestasi di sekolah menengah elit wanita setempat, didukung perolehan nilai akademik yang bertengger di kasta tertinggi nasional. Target hidupnya sangat sederhana: lulus dari universitas terbaik, mengamankan posisi pekerjaan bergengsi dengan gaji bulanan yang melimpah, lalu mendedikasikan sisa pendapatannya demi menghidupi keluarganya secara layak.

*Oppa cukup memercayakan kelangsungan hidupnya di pundakku.*

Dia mempertahankan fokus belajarnya sembari merapalkan batinnya. Namun belakangan ini, sebuah variabel ajaib mendadak menyembul. Kakak laki-lakinya yang malas tersebut secara ajaib mengalami kemandirian ekonomi yang sangat luar biasa.

Benar, kemandirian tersebut merujuk pada game Satisfy. Sebuah game yang awalnya dikhawatirkan akan merusak sisa masa belia kakaknya. Youngwoo secara ajaib memanen kesuksesan finansial yang fantastis di Satisfy hingga sanggup melunasi seluruh utang pribadinya. Tidak berhenti di situ saja, dia bahkan melunasi sisa utang pinjaman ayahnya secara utuh diiringi pemberian uang saku bernilai ratusan juta won secara cuma-cuma demi menjamin kenyamanan hari tua orang tua mereka.

Bahkan tempo hari, kakaknya sempat melayangkan janji manisnya. “Dalam kurun waktu satu tahun ke depan, aku bersumpah akan membeli sebidang gedung perkantoran mewah seharga 10 miliar won. Kita cukup mengandalkan kas sewa bulanan gedung tersebut untuk menjamin keluarga kita hidup bahagia selamanya tanpa perlu bekerja keras lagi.”

Sehee tentu saja diliputi kebanggaan dan kebahagiaan menatap perubahan nasib kakaknya. Namun di sisi lain, kecemasan baru ikut merayap di dadanya.

*Janji manisnya kemarin dipastikan bukan sekadar bualan kosong saja...*

Youngwoo saat ini memang memegang kapasitas finansial untuk mewujudkannya, namun kelakuannya yang bergegas menggelontorkan uang sebesar 800 juta won murni untuk membeli mobil sport impor mewah sesaat setelah memegang uang memancing kekhawatiran Sehee. Dia menyadari betul banyak orang kaya baru (*OKB*) yang berakhir kehilangan seluruh harta mereka dalam waktu singkat murni akibat ketiadaan insting ekonomi yang matang. Sehee cemas kakaknya akan terjerumus menelan kepahitan yang sama. Terlebih lagi, dia dirundung kecemasan menatap sirkulasi kedekatan kakaknya dengan lawan jenis.

*Jika wujud fisik kakaknya terlampau mencolok di luar...*

Ada banyak wanita bermuka dua di luar sana yang dipastikan bersedia meluncurkan rayuan manis mereka demi mendekati pemuda pemilik mobil sport mewah seharga 800 juta won. Sedangkan kakaknya seumur hidup di dunia nyata sama sekali tidak dibekali pengalaman asmara sedikit pun, menjadikannya sasaran empuk yang sangat mudah ditipu.

*Fiuuh... kurasa fokus kepalaku baru bersiap tenang jika aku terus mengekor mengawasi pergerakan Oppa sepanjang hari.*

Hasrat ingin mengawasi kakaknya selama 24 jam penuh tanpa jeda berkobar di dadanya. Sehee memendam obsesi perlindungan yang sangat unik menghadapi kakaknya, kontribusi nyata dari perannya bertindak sebagai pelindung Youngwoo selama bertahun-tahun lamanya.

“Eh?”

Sehee yang sedang duduk fokus di meja belajarnya mendadak memutar kepala menatap ke arah jendela kamar. Gumpalan suara gaduh terdengar bersahut-sahutan membelah keheningan perumahan di luar.

“Apakah ada artis TV yang sedang berkunjung?”

Suara jeritan riuh kalangan pemuda dan warga terdengar menggema di sepanjang jalan komplek. Sehee melangkah mendekati jendela kamar guna memverifikasi sumber kegaduhan tersebut. Gurat alis matanya seketika mengernyit heran menatap visualisasi di luar.

“Untuk motif apa gadis itu nekat mendatangi rumah kami...?”

Sensasi firasat buruk seketika mendekap erat dadanya.

***

Blok 000, Komplek Perumahan Geumcheon-gu.

Wilayah komplek tersebut dihuni oleh barisan warga sipil kelas menengah biasa, namun belakangan ini atmosfer jalannya tiada henti dihujani kegaduhan. Semua itu dipicu oleh kelintasan mobil sport impor mewah buatan Jerman yang terparkir anggun di depan pekarangan rumah kediaman keluarga Shin yang sehari-harinya menyambung hidup mengelola toko sayur komplek. Barisan warga komplek berbondong-bondong merapatkan diri mengagumi kemewahan mobil tersebut.

“Bila memindai lekuk bumpernya, mobil tersebut merupakan seri terbaru keluaran pabrikan Jerman B. Nominal harganya dipatok menembus angka 800 juta won.”

“Gila, tanganku seketika gemetar menatap kemewahannya. Shin Ahjussi... apakah kas penjualan kubis di toko sayurnya belakangan ini melonjak sangat dahsyat? Bagaimana bisa dirinya sanggup mengamankan mobil semewah ini?”

“Kabar komplek menyebutkan pengemudi asli mobil mewah tersebut adalah anak laki-lakinya, bukan Shin Ahjussi...”

“Eh? Bukankah anak laki-laki Shin Ahjussi sehari-harinya murni hanya mengenakan kaus training usang layaknya pemuda pengangguran malas komplek? Dari mana datangnya koin emas melimpah hingga sanggup mengendarai mobil impor seperti itu?”

“Dia dipastikan sukses memenangkan lotre nasional.”

“Hmm... mengingat dia sanggup melunasi seluruh utang keluarga didampingi pembelian mobil mewah ini, dugaan lotre tersebut dipastikan sangat akurat.”

“Cih, aku yang bekerja membanting tulang setengah mati sepanjang hari saja seumur hidup dipastikan tidak akan pernah sanggup menyentuh mobil tersebut... Takdir dunia ini benar-benar tidak adil.”

“Yah... aku rutin membeli 5 lembar kupon lotre di setiap minggunya namun dewi keberuntungan belum kunjung merapat... Kurasa aku wajib mendongkrak pembelian menjadi 10 lembar kupon di minggu depan.”

Di penghujung sore akhir pekan, barisan warga komplek tampak meluangkan waktu berjalan santai menikmati kehangatan cuaca musim semi di sepanjang pekarangan rumah keluarga Shin sembari melayangkan ulasan kagum mereka menatap mobil Youngwoo. Detik berikutnya, kelintasan sesosok kendaraan mewah berukuran raksasa tampak meluncur memasuki komplek. Sepasang mata warga komplek seketika terbelalak kaku menatap kehadirannya.

“Mobil raksasa kasta apa lagi ini...?”

Sebuah mobil limusin mewah berwarna putih bersih dengan panjang fisik menembus 8,5 meter merayap anggun dan berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Shin. Kemewahan limusin putih tersebut seketika melumat habis sisa ketakjuban warga komplek menghadapi mobil sport impor milik Youngwoo sebelumnya.

*Klek.*

Tiga orang pria tegap berjas hitam dengan proporsi fisik kekar tampak melangkah turun dari limusin. Dua orang di antaranya bergegas menyapu pandangan mata mereka mengamankan koordinat sekeliling, sementara satu ksatria pengawal sisanya melangkah cepat membukakan pintu penumpang bagian belakang limusin secara hormat. Detik berikutnya, sesosok wanita berparas cantik luar biasa melangkah keluar dari mobil. Pesona kecantikannya yang memancar indah seketika melumpuhkan visualisasi keindahan bunga musim semi di sepanjang pekarangan komplek. Seolah-olah dialah satu-satunya pusat cahaya yang bersinar di semesta Satisfy maupun dunia nyata saat ini.

“Uwaaaah...!”

“Wanita secantik dewi itu?”

Barisan warga komplek yang sempat tertegun menatap kemustahilan paras cantiknya perlahan menyadari identitas aslinya. Gadis tersebut tak lain adalah Yura, yang menyandang julukan terhormat sebagai **Permata Korea Selatan**.

Kegaduhan histeris seketika meledak membelah komplek.

“Gila! Aku menolak percaya mataku! Yura! Yura asli berada di depan mataku!”

“Kak Yura! Mohon luangkan waktu Anda melayangkan tanda tangan di atas kertas ini!”

“Foto bersama! Bolehkah saya memohon bantuan foto bersama Anda, Kak Yura?!”

“Yura! Menikahlah denganku!”

“Ah... seumur hidupku aku tidak pernah bermimpi dipertemukan secara langsung dengan wujud fisik Yura di dunia nyata... aku bersumpah bersedia mati tenang pasca menyaksikan keindahannya hari ini...”

“Paras aslinya bertengger berlipat-lipat jauh lebih cantik dibandingkan tayangan layar TV. Benar-benar representasi nyata dari sosok dewi.”

Kerumunan warga kian merapat padat meluncurkan serbuan penggemar mereka. Namun tiga orang ksatria pengawal berjas hitam yang mendampingi pergerakan Yura terbukti merupakan barisan pengawal elit profesional industri keamanan. Mereka dengan sangat terampil memblokir sirkulasi kerumunan orang, membebaskan jalur gerak Yura melangkah tenang menekan bel gerbang kediaman rumah keluarga Shin tanpa gangguan.

“Heok... untuk motif apa Yura mendatangi gerbang rumah kediaman keluarga Shin?”

“J-Jangan-jangan...?”

Taksiran liar barisan warga komplek seketika membumbung tinggi. Anak laki-laki tertua keluarga Shin yang sehari-harinya dicap sebagai pemuda pengangguran malas! Mungkinkah dirinya memendam jalinan asmara khusus bersama Yura? Apakah kontribusi sokongan finansial Yura yang memuluskan jalan pemuda malas tersebut sanggup membeli mobil sport mewah seharga 800 juta won kemarin? Berbagai macam spekulasi liar menyelimuti batin mereka, namun dugaan tersebut tidak bertahan lama.

“Mana mungkin Yura sudi menaruh ketertarikan asmara menghadapi pemuda berwajah biasa sepertinya...”

“Benar sekali. Bahkan jika mereka berdua murni terisolasi di sepanjang pulau terpencil yang tidak berpenghuni sekalipun, Yura dipastikan menolak melayangkan pandangan matanya menatap pemuda Shin tersebut.”

“Lalu untuk urusan penting apa Yura mendatangi rumah kediaman keluarga Shin?”

Pintu gerbang rumah kediaman keluarga Shin akhirnya dibuka dari dalam.

“Untuk urusan apa Anda nekat mendatangi gerbang kediamanku?”

Sebuah kalimat tanya yang diselimuti oleh nada kejengkelan yang sangat pekat menyembul keluar. Sepasang mata warga komplek seketika merapat menatap sosok pemilik suara tersebut. Gadis tersebut tak lain adalah putri tunggal keluarga Shin, Sehee. Ketakjuban kembali menghiasi batin warga komplek.

“Wah... dia bahkan berani melayangkan nada ketus menghadapi keagungan Yura.”

“Paras cantiknya... bahkan jika disandingkan berdampingan dengan kecantikan Yura sekalipun, pesona kecantikannya sama sekali tidak terkikis pudar...”

“Visualisasi pertemuan kedua gadis cantik tersebut menyajikan lukisan estetis yang sangat memukau.”

“Mungkin Yura meluncur kemari murni demi bertamu menemui Sehee. Bukankah wajar jika barisan gadis cantik meluangkan waktu bersosialisasi bersama?”

“Dugaanmu tepat.”

Warga komplek telah kehilangan kelogisan berpikir kepala dingin mereka sepanjang melayangkan ulasan kagum tersebut.

*Sangat mengganggu fokusku.*

Menyadari kilatan lampu kamera ponsel warga komplek yang tiada henti mengarah ke posisi mereka, Sehee dirundung kejengkelan dan bergegas menarik pergelangan tangan Yura melangkah masuk ke dalam rumah.

“Mohon dudukkan diri Anda di dalam.”

“Terima kasih banyak.”

“Kini, silakan paparkan rincian target kedatangan Anda ke rumah kediamanku hari ini,” tanya Sehee ketus sembari mengunci rapat pintu gerbang depan dari dalam.

Yura melayangkan pandangan matanya menatap lekat ke arah pekarangan taman kecil rumah yang ditumbuhi tanaman camelia indah, menyahut diiringi senyuman tipis.

“Tujuan kedatanganku kemari tak lain adalah murni demi bertamu menemui Youngwoo-ssi.”

“...”

Batin Sehee seketika dirundung kecemasan yang mendalam. Gurat permusuhan menolak disembunyikannya.

“Untuk urusan apa tokoh agung sepertimu bersikeras menemui Oppa-ku? Dan bagaimana cara awal Anda dipertemukan dengannya? Jalinan hubungan kasta apa yang sedang kalian jalin saat ini?”

Yura diakui memegang kapasitas otak yang sangat jenius, namun kejeniusan tersebut sama sekali tidak berlaku bagi pemahaman asmara di dunia nyata. Dia melayangkan kalimat jawabannya secara polos tanpa menyadari ketegangan batin Sehee. “Aku dipertemukan dengannya di sepanjang petualangan Satisfy. Hubungan persahabatan kami terjalin erat pasca kami sempat bermain peran sebagai sepasang kekasih di sepanjang quest petualangan dulu.”

“Bermain peran sebagai sepasang kekasih?”

“Sesi quest-nya memang berlangsung singkat, namun perjalanannya menyajikan kesenangan yang sangat membekas di dadaku.”

Telinga Sehee menolak mencerna sisa penjelasan Yura berikutnya. Kepalanya murni hanya dirundung oleh getaran kata “kekasih” yang tiada henti bergema di batinnya.

*Oppa melayangkan bualannya di rumah bahwa dirinya berjuang keras mandi keringat di dalam game murni demi memanen koin emas pembayar utang, namun realitasnya dirinya justru asyik menjalin hubungan asmara dengan gadis secantik dewi ini di dalam game? Di saat aku memeras otakku belajar keras demi masa depan keluarga dan bahkan seumur hidupku belum pernah sekali pun menggenggam tangan pria lain...*

Guratan warna kulit wajah Sehee seketika pucat pasi menahan perih. Sepasang matanya perlahan dihujani oleh genangan air mata kepedihan batinnya yang mendalam.

***

*Prioritas utamaku sejak awal adalah mendongkrak stat Failure serta set zirah tempurku, namun...*

Grid memahami betul langkah yang wajib dirintisnya. Dia menolak membiarkan keselamatannya murni hanya bertumpu pada status stat bawaan item legendarisnya saat ini. Insiden benturan fisik menghadapi Awakened Guardian of the Forest kemarin menegaskan fakta bahwa status Defense miliknya masih tergolong sangat rahasia rentan terkikis, meskipun sekujur tubuhnya telah dibalut set peralatan tempur legendaris Holy Light. Grid berencana memanfaatkan keistimewaan pasif kelas legendarisnya yang dianugerahi peningkatan probabilitas keberhasilan enhancement guna memperkuat bilah Failure serta set zirahnya.

*Aku berniat mengenakan persenjataan ini dalam jangka panjang... Meskipun biayanya dipastikan akan menguras koin emas yang melimpah, opsi penguatan ini sangat layak diperjuangkan. Aku wajib memborong seluruh pasokan **Enhancement Stone** (Batu Peningkatan) yang beredar di rumah lelang secepatnya.*

Namun sebelum merintis proyek penguatan pribadi tersebut, dia memegang kewajiban kontrak menyelesaikan set zirah Vantner terlebih dahulu.

“Aku dilarang keras menunda pengerjaan zirahnya lebih lama lagi...”

Didorong oleh kesibukan quest berkat, upacara pernikahan, serta perburuan Guardian of the Forest kemarin, proyek penempaan zirah Vantner terhitung telah mengalami penundaan selama hampir dua bulan lamanya. Grid menolak bersikap tidak profesional melanggar kontrak kerjanya kembali. Dia memicu panel layar Satisfy memindai formula metode pembuatan Wave Armor secara teliti.

“Bagus sekali.”

Wave Armor menyajikan status stat pertahanan yang tergolong sangat kokoh. Khususnya opsi pasif pertamanya menyodorkan perlindungan stat yang sangat luar biasa bagi kelas ksatria tameng.

*Meskipun output-nya masih bertengger di bawah wibawa Holy Light Armor.*

Status Defense bawaan serta opsi pasif reduksi damage fisik 40% didukung pertahanan sihir 50% milik Holy Light Armor terbukti bertengger jauh lebih superior dibandingkan Wave Armor. Ditambah efek sinkronisasi set peralatan yang melipatgandakan kekuatannya. Namun prasyarat penggunaan Holy Light Armor dikunci ketat sistem murni bagi keturunan ‘Franz’ saja, memosisikannya sebagai zirah eksklusif yang murni hanya sanggup dikenakan oleh Grid.

*Jika menimbang komoditas penjualan barang ke pasar pemain luar, Wave Armor menyajikan komoditas perdagangan yang jauh lebih menjanjikan.*

Pasca merampungkan set zirah baru untuk seisi anggota Serikat Tzedakah nanti, dia bertekad menempa Wave Armor dalam jumlah besar guna dijual ke pasar pemain ranker luar demi meraup tumpukan emas. Grid diliputi kegembiraan karena dianugerahi cetak biru metode pembuatan Wave Armor secara cuma-cuma dari Jishuka.

*Ttang! Ttang!*

Hantaman palu pandai besi legendarisnya bergema ringan membelah keheningan bengkel. Grid meluncurkan sisa fokus konsentrasinya secara maksimal di sepanjang penempaan.

Tiga jam pengerjaan berlalu kencang.

Vantner tampak melangkahkan kakinya memasuki bengkel besi mencari keberadaannya. Grid mendeteksi hawa kedatangannya namun memilih mengabaikannya dan terus mengayunkan palunya kencang menghantam lempengan besi panas.

“Bagaimana perkembangannya, Grid? Bukankah kau sempat bersumpah akan meluncurkan doa restu sepanjang menempanya?”

Vantner menggaruk kepalanya canggung. “Aku sangat penasaran ingin menyaksikan langsung detik-detik penyempurnaan zirah baruku... Hehe, bolehkah aku meluangkan waktuku duduk menonton pengerjaannya di sudut ruangan?”

Vantner telah menghabiskan waktu selama hampir dua bulan penuh murni untuk menanti momen penempaan ini, memicu antusiasme yang tinggi di dadanya. Grid memaklumi ketidaksabarannya.

“Aku mengizinkanmu menonton dengan syarat mulutmu terkunci rapat tak bersuara. Dudukkan dirimu di sudut paron sana.”

“Terima kasih banyak, Grid. Aku bersumpah akan melayangkan doa restu kepada seisi dewa Satisfy agar zirah baruku ini menetas menyentuh rating legendaris.”

Vantner berlutut khusyuk di sudut paron. Dia merapatkan kedua telapak tangannya kencang dan mulai merapalkan doa restunya secara tertib. Perilaku konyolnya seketika mengingatkan Grid pada kepasrahan Pendeta Cassus sepanjang proses penempaan Divine Shield dulu.

*Atmosfer kuil pusat Vatikan saat ini dikabarkan sedang diliputi kestabilan...*

Hingga saat ini belum ada pemberitaan resmi dari Satisfy mengenai pelantikan Paus baru penerus takhta kepausan.

*Ah, bukankah aku sempat lupa meluncurkan opsi segel suci ke arah pusaka tombak milik Isabel kemarin? Bagaimana jika kondisi fisiknya mendadak didera kematian akibat kelalaian segelku? Sialan... tapi sudahlah, jika saatnya telah tiba, gadis suci tersebut dipastikan akan merapat ke Winston mencariku.*

Grid menepis kekhawatirannya dan kembali memusatkan segenap fokus pikirannya mengayunkan palu legendarisnya menghantam besi.

*Ttang! Ttang!*

Lempengan plat besi hitam berpadu indah dengan lempengan baja mithril di atas landasan paron perlahan menyatu membentuk lekuk zirah pelindung dada yang sangat kokoh. Kegembiraan Vantner membumbung tinggi menyelimuti rangkaian doanya.

*Mohon kemurahan hatimu, seisi dewa Satisfy...! Izinkan zirah ini disempurnakan menyentuh rating legendaris secara mutlak...! Hamba memohon bantuan berkat suci kalian! Tolong jadikan zirah ini berperingkat legendaris!*

Tepat saat kesucian doa Vantner menyentuh puncaknya...

“Eh? Panggilan darurat dari adikku.”

Ayunan palu Grid mendadak terhenti kaku di udara.

“Hah? Apa maksud dari penghentian mendadak ini?!”

Vantner terpaku kebingungan gagal menangkap maksud pergerakan Grid. Grid dengan tenang meletakkan palu legendarisnya ke meja tempa dan memasukkan zirah setengah jadinya ke dalam inventaris karakternya.

“Mohon maaf, Vantner. Adik perempuanku di dunia nyata mendadak meluncurkan panggilan darurat darinya, menjadikanku wajib secepatnya melakukan logout saat ini.”

Grid menangkap nada kepanikan yang sangat tidak biasa di sepanjang suara panggilan darurat adiknya tadi.

“...?”

Vantner meragukan pendengarannya sendiri. Dia berasumsi Grid sengaja meluncurkan lelucon konyol murni demi mempermainkan batinnya. Namun sistem Satisfy mempertegas kebenaran kalimat Grid.

**[Anggota Serikat ‘Grid’ resmi melakukan logout memutuskan koneksi karakternya dari dunia Satisfy.]**

“...”

Siluet tubuh Grid lumat menghilang menyisakan keheningan. Vantner menatap nanar kobaran api tungku pembakaran besi yang masih menyala sepanjang beberapa saat, sebelum akhirnya meledakkan jeritan marahnya.

“Bocah keparat kau, Grid! Kau sengaja merancang sandiwara penantian ini murni untuk menyiksa batinkuuuu!”

“Suaramu terlampau mengganggu keheningan bengkelku, segera angkat kakimu keluar dari tempat ini,” usir Khan dingin.

“Ugh... Uwaaaack!”

Vantner diseret paksa keluar dari bengkel besi oleh Khan. Dia berlari kencang menuju ke area berburu monster terdekat, melayangkan sabetan kapak tempurnya meremukkan monster-monster liar secara brutal murni demi meluapkan kegeraman batinnya kepada Grid.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.