**Bab 182. Awal dari Badai Baru (3)**
***
Pemimpin Balai Mahatahu mengelus dagunya, merapikan jalan pikirannya sejenak sebelum kembali melanjutkan pembicaraan.
“Sepertinya engkau menolak mengetahui kebenaran hukumnya, jadi wadah mulutku akan membeberkan baris jawabannya kepadamu secara bertahap. Menilai dari seisi kolong langit River Capital (River Capital), menolak bersisa satu orang pun master yang menyandang nama tersebut.”
“Tetapi?”
“Namun seandainya engkau memperluas jangkauan matamu memindai seisi kolong langit Jianghu benua seutuhnya, bersua tepat satu orang master yang memilikinya.”
“Sudah kuduga!”
Pemimpin Balai Mahatahu memiringkan kepalanya, memaku tatapan matanya lurus menusuk wajah Jeon Rahwa sembari meluncurkan kalimat bicaranya.
“Sungguh aneh sekali. Apakah engkau secara nyata benar-benar menolak mengenal nama Kim Rae-won?”
“Tidak.”
“Yah, engkau pastinya merapatkan langkah kaki ke mari murni guna menanyakan perkara tersebut akibat ketahuankah otaknya menolak menyimpan data sainsnya sejak awal, bukan?”
“……?”
Pemimpin Balai Mahatahu mengeluarkan cangkir teh baru lalu memoleskan tuangan air teh hangat ke dalamnya.
Aroma air teh itu sendiri menyajikan uapan hawa harum yang cukup lembut dan menyenangkan hidung, tetapi akibat letusan bau busuk kotor yang menguar pekat dari sepasang jemari tangannya, teramat sangat sulit untuk menilai cairan tersebut sebagai sajian teh berkualitas tinggi seutuhnya.
Tentu saja hal sepele sejenis itu menolak menyandang bobot penting, menimbang bahwa sajian teh tersebut secara taktis memang menolak dirakit murni untuk diminum oleh raga tamu seadanya semata.
“Mengenai kebenaran identitas master bernama Kim Rae-won.”
Ia mengusapkan permukaan cangkir tehnya secara tipis menyentuh belah bibirnya sebelum kembali menarik tangannya menjauh dan melanjutkan bicaranya.
“Master tersebut bertindak menyandang kedaulatan selaku seorang High School Student (High School Student).”
“……Seorang High School Student?!”
Barulah pada detik itulah, sesosok nama kehormatan yang pernah hinggap di rongga telinga Jeon Rahwa mendadak meletus merayap kembali menyapu ingatan otaknya seutuhnya.
Lebih tepatnya, kosakata tersebut bertindak menyandang kedaulatan selaku sebuah *gelar kehormatan* (title).
● ● ●
Sesaat kemudian.
*Tap.*
Memandu gerak kakinya melangkah keluar meninggalkan markas Balai Mahatahu, Jeon Rahwa memiringkan kepalanya dengan dahi tertekuk bingung.
‘High School Student (High School Student)…….’
Nama lahiriah secara alami dianugerahkan pada detik pertama di saat seseorang dilahirkan ke dunia fana, sehingga secara hukum menolak akan pernah mampu merekam totalitas karakter berpasangan dengan ciri khas beladiri pemiliknya secara utuh sejak awal.
Di sisi lain, gelar kehormatan terlahir bersumber dari sebaran riak pergerakan karakter maupun kehebatan jurus beladiri seseorang yang meletus mengamuk di sepanjang rimba persilatan Jianghu, hingga mengental memadatkan wujudnya menjelma menyandang kedaulatan selaku satu simbol penanda utama seutuhnya.
Itulah alasan taktis mengapa pepatah persilatan Jianghu secara berkala selalu menyuarakan baris prinsipnya: *‘Nama lahiriah akan lumat hancur dibendung kematian ajal, namun gelar kehormatan akan bertakhta abadi sepanjang masa.’*
High School Student (High School Student).
Master tersebut secara ajaib mendadak meletus menampakkan raganya di rimba persilatan Jianghu pada kurun waktu sekitar dua puluh tahun yang lalu seutuhnya.
Menolak bersisa satu pun pendekar yang mengetahui dari sela koordinat mana wadah raganya berasal, dan ia memperagakan jurus-jurus beladiri asing yang menolak dapat diidentifikasi silsilah penciptaannya.
Menyiasati sebaris rumor teori persilatan, pada detik-detik awal perkembaran fisiknya di rimba persilatan dulu kelak, wadah raganya bahkan tercatat menderita kegagalan total untuk sekadar melafalkan bahasa lokal benua sekelumit pun seumur hidup.
Setiap kali bersua sosok master yang meledakkan kalimat pertanyaan melacak jati dirinya, ia akan selalu meledakkan pelafalan kalimat tanggapan tunggal yang sejajar: ‘High School Student (High School Student)’, dan pelafalan kosakata asing itulah yang pada hasil akhirnya terpatri tegap melekat bertindak selaku gelar kehormatan dirinya seutuhnya seumur hidup.
Sedangkan versi cerita sejarah resminya mencatat bahwa lahirnya gelar kehormatan tersebut bersumber dari cara master tersebut mendefinisikan kedaulatan dirinya pasca berhasil memperoleh pengakuan hukum diakui bertindak selaku master raksasa seimbang menyamai kelayakan tempur salah satu dari *Three Monsters* (Three Monsters) di ajang Orthodox Assembly Gathering seutuhnya.
—Jeongil High School (Jeongil High School). Aku bertindak selaku seorang High School Student di tempat tersebut.
Sekolah (虐敎 / School).
Bukan kata ‘Hak (學)’ yang menyimbolkan makna pembelajaran sains, melainkan kata ‘Hak (虐)’ yang menyimbolkan cita rasa kejam dan penyiksaan maut seutuhnya.
Sesosok faksi sekte raksasa yang teramat sangat luas dan bertabur kejam yang berkuasa menghuni benua asing lain yang menolak dikenal silsilahnya.
Menahuti baris penjelasannya kelak seutuhnya, sesosok pendekar prajurit biasa yang bermukim di faksi sekte asing tersebut secara hukum biasa dijuluki menyandang panggilan gelar selaku seorang High School Student (high school student).
Ia meluncurkan klaim yang menyatakan bahwa wadah raganya di masa lalu murni murni hanya bertindak menyandang kedaulatan selaku salah satu dari jajaran anggota prajurit biasa seadanya semata seutuhnya menghuni sekte tersebut.
Namun pandangan umum mayoritas pendekar Jianghu secara kompak menyimpulkan bahwa pelafalan klaim tersebut murni merupakan bentuk kerendahan hatinya semata, dan ia diproyeksikan secara taktis merupakan salah satu dari jajaran *pemimpin* (leaders) tertinggi dari faksi Jeongil High School (Jeongil High School).
Ia.
Yakni sang master bergelar High School Student (High School Student) tersebut, tercatat aktif memamerkan taji kehebatannya mengarungi rimba Jianghu sepanjang kurun waktu sekitar sepuluh tahun lamanya berjalan, sebelum akhirnya mendadak menghilang secara gaib steril dari jejak.
Desas-desus rumor mengabarkan bahwa ia telah membuang impian persilatannya di Jianghu lalu memutuskan menyeberang melangkah penuh menapakkan kaki di jalan kultivasi Tao, sementara desas-desus lainnya mengabarkan bahwa ia telah kembali meluncur pulang ke tanah air asalnya lalu menjelma menyandang kedaulatan selaku pemimpin puncak sekte iblis seutuhnya.
Satu-satunya hal yang pasti adalah kenyataan sejarah yang mencatat bahwa bentangan waktu semenjak detik terakhir ia memamerkan raganya di Jianghu kini secara sah telah melampaui durasi sepuluh tahun lamanya seutuhnya.
Dan nama asli di balik master bergelar High School Student (High School Student) tersebut tidak lain adalah…….
‘Kim Rae-won?’
Meskipun master bergelar High School Student tersebut bertindak menyandang kedaulatan selaku sosok pendekar raksasa yang teramat sangat tersohor sekali di Jianghu, namun nama lahiriah aslinya secara umum dilaporkan teramat sangat asing sekali seutuhnya di telinga publik, yang menjadi alasan taktis mengapa Jeon Rahwa menolak memendam pengetahuan menyangkal nama tersebut sejak awal.
‘Tidak, itu sepenuhnya mustahil.’
Pertama-tama menyiasati logika, parameter usianya secara mutlak menolak menyajikan keselarasan, bukan?
Master tersebut aktif mengarungi rimba Jianghu selama hampir sepuluh tahun lamanya, dan sepuluh tahun kelanjutan telah meluncur berlalu sejak detik hilangnya fisik master tersebut.
Sekalipun jika wadah raganya di masa lalu dipetakan meluncurkan sesi debut persilatannya di Jianghu pada kisaran usia biologis dua puluh tahun seutuhnya kelak, maka nominal usianya detik ini secara matematika pasti telah merambat mendekati kisaran usia empat puluh tahun seutuhnya.
Namun…….
Di sisi lain, ada sebaris kejanggalan sains yang meletus meragukan rongga dadanya.
Sesosok master raksasa yang dibekali kemampuan tempur raksasa sanggup membumihanguskan totalitas markas pertahanan Iron God Gang (Iron God Gang) sendirian seutuhnya.
Marga nama keluarga ‘Kim’ yang teramat sangat langka sekali bersua di benua persilatan.
Serta meski tergolong teramat sangat tipis sekali seutuhnya, ciri-ciri raut penampakan fisiknya juga dideteksi menyajikan sedikit kemiripan visual seutuhnya.
‘Karena aku telah melunasi pembayaran pengajuan berkas penyelidikan ini, menolak bersisa pilihan lain selain bersabar menanti hasilnya.’
Ia secara susah payah telah meremas habis totalitas tabungan keping Martial Currency (Martial Currency) yang ia kumpulkan (?) bersumber dari sela Plum Blossom Fortress (Plum Blossom Fortress) murni guna membayar biaya penyelidikan tersebut seutuhnya.
Maka menolak menyandang kegunaan apa pun sekelumit pun seumur hidup sekalipun jika bibirnya bersikeras menegaskan bahwa sang master bergelar High School Student berpasangan dengan sosok Kim Rae-won miliknya bertindak menyandang kedaulatan selaku dua orang master yang sepenuhnya berbeda seutuhnya.
Pihak pengelola Balai Mahatahu bersikeras mengunci pendiriannya menyuarakan janji bahwa seandainya jika hasil penyelidikan resmi membuktikan kedua orang tersebut bertindak selaku dua master yang berbeda seutuhnya kelak, mereka bersedia meluncurkan pengembalian ganti rugi sebesar dua kali lipat nominal uang penyelidikan seutuhnya, lalu menambahkan pembebanan biaya komisi khusus atas informasi eksklusif tersebut.
“Dasar pengemis kotor penggila uang!”
Tepat di saat Jeon Rahwa yang dadanya dilingkupi amukan amarah meledakkan pekikan suara makiannya di dekat perimeter Balai Mahatahu.
“K-kami…… kami menolak mencuri barang apa pun…… M-mohon ampunilah keselamatan nyawa kami.”
Gerakan langkah kaki sepatu Jeon Rahwa secara mendadak terhenti kaku di tempat.
Meluncurkan pemindaian matanya menyapu sela sudut gang sempit yang menjadi pusat munculnya gema suara tersebut, sepasang bola matanya secara nyata merekam keberadaan dari sekumpulan anak belia yang sedang memosisikan jasad raganya berkumpul gemetar saling merapat erat.
Bersua nominal beberapa orang anak kecil yang penampilan jubah pakaiannya compang-camping kotor seadanya semata.
Disulut rasa ketakutan disebakan oleh letusan suara teriakan amarah Jeon Rahwa beberapa detik yang lalu, anak-anak malang tersebut terpantau memaku fisiknya saling memeluk erat satu sama lain seutuhnya.
‘Sungguh ganjil sekali.’
River Capital (River Capital) ini secara hukum persilatan secara mutlak menolak diizinkan dihuni oleh keberadaan rombongan pengemis jalanan seadanya semata.
Secara lebih presisi menyiasati bahasa, di luar ketersediaan kelompok pengemis palsu seperti yang bertugas menghuni markas Balai Mahatahu milik Beggars' Sect (Beggars' Sect), eksistensi pengemis awam secara hukum dideklarasikan menolak akan pernah sanggup bertahan hidup sekejap pun.
Alasan taktisnya murni bersumber dipicu akibat faksi Iron God Gang (Iron God Gang), Seven Star Immortal Society (Seven Star Immortal Society), maupun faksi sekte persilatan lainnya secara gerilya akan selalu meluncurkan agenda ‘pembersihan dan penangkapan’ menyapu habis totalitas pengemis jalanan seutuhnya.
Anak-anak pengemis yang dibekali bakat beladiri akan disita diangkat bertindak selaku murid asuhan, anak-anak yang menolak memendam bakat beladiri namun dibekali ketahanan fisik akan disita dijadikan budak pekerja, sedangkan anak-anak yang menolak memenuhi kedua kategori tersebut…… akan dimanfaatkan untuk nominal berbagai kepentingan kotor lainnya seutuhnya.
Seandainya jika meletus penampakan fisik rombongan pengemis baru di sela kota, maka secara presisi dipastikan wadah raga mereka akan kembali disapu bersih ditangkap dalam kurun waktu kurang dari satu hari berjalan seutuhnya.
Namun mengapa di tempat sempit ini secara ajaib justru bersua keberadaan anak-anak pengemis selevel mereka?
‘Ah!’
Saku pikiran Jeon Rahwa secara kilat langsung sanggup mencerna esensi jawaban sainsnya seutuhnya.
Ia menyadari bahwa anak-anak malang tersebut dipastikan secara taktis merupakan jajaran korban penyiksaan yang berhasil lolos memperoleh kemerdekaan fisiknya tepat pada detik meletusnya tragedi pembantaian pemusnahan totalitas faksi Iron God Gang (Iron God Gang) seutuhnya.
“K-kami…… kami bukan pengemis. D-daging tubuh kami juga t-tidak enak untuk dimakan.”
Sesosok jasad anak terkecil dari rombongan tersebut perlahan mengangkat dongakan wajahnya menatap lurus menusuk wajah Jeon Rahwa.
Apakah usia biologisnya murni baru menyentuh sekitar enam tahun lamanya? Sesosok anak perempuan belia yang jasad fisiknya teramat sangat kurus kering sekali seutuhnya.
“Aku lapar…….”
Sesosok anak laki-laki yang usia biologisnya diproyeksikan menyentuh kisaran ten tahun tampak sedang berbaring terkapar kaku di tanah pasir sembari melintaskan gema erangan rintihan lemas seadanya.
Serta totalitas anak-anak lainnya sekeliling tempat tersebut terpantau memelihara kondisi fisik yang sejajar menyedihkan seutuhnya.
“Haaa.”
Hembusan helaan napas panjang secara otomatis meluncur keluar memotong belah bibir Jeon Rahwa seutuhnya.
Disebabkan oleh keaslian takdir fisiknya yang di masa lalu secara gerilya tercatat pernah menderita keterpakuan nasib yang sejajar mengenaskan sekejam itu hingga beberapa waktu yang lalu kelak, letusan uap rasa kasihan yang teramat sangat pekat sekali secara tak terbendung langsung meletus membara membungkus sela meridian dadanya seutuhnya.
“Kalian semua…… berapa nominal jumlah kalian di sini?”
“K-kami berjumlah sepuluh orang. Mengapa Anda menanyakannya?”
Anak tertua dari rombongan tersebut melontarkan baris bicaranya.
Usia biologisnya diproyeksikan murni baru menyentuh sekitar tiga belas tahun lamanya.
“Di mana koordinat keberadaan anak-anak lainnya?”
“Di sebelah sana.”
Anak perempuan belia itu memandu jentikan jemari tangannya menunjuk lurus menyasar koordinat puing-puing bangunan runtuh di sebelah sana seutuhnya.
Sisa rombongan anak-anak lainnya terpantau sedang menyembunyikan eksistensi raganya diam di tempat tersebut secara patuh.
Jeon Rahwa secara lincah langsung memandu jemari tangannya merogoh saku jubah jasadnya lalu menarik keluar sepinggang uang perak pusaka (silver coin) seutuhnya.
“Gunakan keping perak ini untuk membeli bahan makanan secepatnya. Serta lekas pergunakan sisanya untuk membeli jubah pakaian pelindung yang layak disajikan membungkus tubuh kalian seutuhnya.”
Sepasang kelopak bola mata anak perempuan tertua itu secara seketika meledak membelalak lebar.
“B-benarkah?”
“Benar. Namun…….”
Jeon Rahwa meluncurkan pemindaian matanya menyapu sela-sela perimeter koordinat sekelilingnya seutuhnya.
“Kalian wajib secepatnya memandu pergeseran kaki melarikan diri meloloskan fisik meninggalkan tempat ini secepatnya. Rombongan pendekar jahat diproyeksikan bersiap meluncur merapat ke mari dalam waktu dekat seutuhnya kelak.”
“Apa?”
“Meskipun keaktifan Iron God Gang (Iron God Gang) telah lumat musnah seutuhnya, namun faksi sekte kotor lainnya secara mutlak dipastikan tetap bersua di sela kota ini, bukan? Menyalin keselarasan faksi One-Eyed Sect (One-Eyed Sect) berpasangan dengan Black Wind Hall (Black Wind Hall) seutuhnya.”
Raut warna wajah penampakan anak perempuan tertua itu seketika meledak pucat pasi membeku.
“……Kami menolak memendam tempat tujuan mana pun seutuhnya untuk melangkah.”
Jeon Rahwa secara seketika dipaksa menderita kegagalan nalar untuk mencerna opsi pemecahan taktisnya seutuhnya.
Koordinat wilayah mana di sepanjang sela River Capital (River Capital) ini yang didokumentasikan bersiap menyajikan tingkat keamanan steril bagi keselamatan mereka? Menolak diizinkan bersua satu titik lokasi pun yang dapat menjamin keselamatan jasad anak-anak belia selevel meereka seandainya wadah raga mereka dibiarkan bermukim mandiri steril dari naungan master pelindung seutuhnya.
Tepat di saat otaknya secara aktif dipaksa memeras sisa daya pikirnya memetakan opsi taktis, pelafalan gema kalimat nasehat Dong Bong-su tempo hari dulu secara ajaib meledak merayap kembali menyelimuti ruang otaknya seutuhnya.
—Aku murni hanya menyodorkan satu baris permohonan hukum tertuju menyasar jiwamu seutuhnya. Keadilan. Tepat pada detik pertama di saat wadah tanganmu dipanggil untuk melangsungkan perbuatan menegakkan keadilan sejati, menolak diizinkan bagi dadamu untuk menderita keraguan sekejap pun seutuhnya seumur hidup.
Menolak boleh ragu sekejap pun……
Meskipun menyadari adanya gumpalan rasa perih yang mengganjal menyiksa rongga tenggorokannya kelak seutuhnya, Jeon Rahwa pada hasil akhirnya secara mantap meledakkan pergerakan telapak tangannya meluncurkan uluran tangannya menyasar keselamatan anak perempuan tertua tersebut seutuhnya.
“Kalau begitu, ikutilah pergerakan langkah kaki jubah kakak perempuan ini seutuhnya seadanya kelak.”
Anak perempuan tertua itu memandu dongakan kepalanya menatap lurus menusuk wajah Jeon Rahwa sembari memelihara keraguan batin yang pekat sejenak seadanya.
Namun menolak membutuhkan waktu lama, wadah kepalanya secara patuh meledakkan gerakan gelengan kepalanya menolak seutuhnya.
“Hamba menolak ikut melangkah.”
“Mengapa?”
Anak perempuan tertua itu memandu pemindaian matanya melacak keselamatan jasad anak-anak belia lainnya satu per satu secara bergantian, sebelum akhirnya memosisikan kunci jangkauan tatap matanya kembali mengunci lurus penampakan wajah Jeon Rahwa seutuhnya di tempat.
“Hamba menolak diizinkan pergi melangkahkan kaki seorang diri seutuhnya.”
Jeon Rahwa memosisikan usapan telapak tangannya mengelus lembut permukaan dahi kepala anak perempuan belia tersebut semari melayangkan ukiran senyuman manis hangat di belah bibirnya seutuhnya.
“Ketahuilah bahwa jasad kakak perempuan ini juga secara hukum menolak diizinkan melangkah pergi seorang diri seutuhnya, engkau tahu?”
“Apa?”
“Sebab bersua keberadaan dari sesosok paman gila yang dipastikan bersiap meledakkan makian amarahnya menyasar jiwaku seandainya wadah ragaku bersikap nekat memandu pelarian pulang seorang diri di sela-sela penemuan tragedi menyedihkan sekejam ini seutuhnya.”
Dan tepat meletus menghuni detik milidetik yang sama, pada saat Jeon Rahwa bersiap meluncurkan pemicuan perbuatan ‘menegakkan keadilan sejati’ persis menyelaraskan ajaran nasehat beladiri yang ditanamkan oleh Dong Bong-su seutuhnya.
“Oh, rupanya jasad rongsokan kalian bersua memaku eksistensinya menghuni tempat ini.”
Sesosok gema nada suara berat yang dibalut kebuasan kasar meledak berkumandang memotong udara aliansi dibersamai perkembaran rombongan master asing seutuhnya.
Rombongan master yang kompak membalut fisiknya menggunakan perpaduan penutup kepala penutup jubah berwarna merah darah (red hoods).
Bertengger menyelimuti bagian penampang depan penutup kepala jubah mereka saat itu, tampak terukir anyaman nominal sebanyak tiga buah aksara berbenang merah kecokelatan pekat yang warnanya jauh lebih gelap menyelimuti kain jubah seutuhnya.
Fire Bell Gang (Fire Bell Gang).
Faksi kekuasaan pertahanan beladiri yang wewenang militernya menduduki peringkat kedaulatan nomor empat pilihan publik di sepanjang Jalur Barat (Western Road), tepat bertengger membelakangi eksistensi kekuasaan One-Eyed Sect (One-Eyed Sect) berpasangan Black Wind Hall (Black Wind Hall) seutuhnya.
Yah, meskipun secara catatan persilatan saat ini diaku jauh lebih presisi untuk memetakan derajat kekuasaan mereka telah secara resmi naik peringkat melompat menduduki posisi kedaulatan nomor tiga pilihan benua seutuhnya.
Kuantitas nominal kepala mereka yang merayap hadir saat itu tercatat menyentuh nominal sebanyak lima orang master seutuhnya.
Totalitas dari jajaran master tersebut bertindak menyandang kedaulatan selaku sosok master berusia paruh baya kekar, dan letusan uap panas pembakaran energi sejati secara konstan terpantau menguar keluar menyelimuti perimeter raga mereka murni murni hanya bersumber dipicu akibat pergerakan pergeseran langkah kaki sepatu mereka di tanah.
Persis menyelaraskan penyerapan gelar nama kehormatan faksi mereka seutuhnya, faksi Fire Bell Gang (Fire Bell Gang) bertindak menyandang kedaulatan selaku faksi sekte beladiri yang mayoritas jurus pertahanannya dilesetkan murni mendayagunakan penguasaan jurus pemompaan hawa api (fire arts) seutuhnya seumur hidup.
Jajaran master pengendali hawa api.
“Wadah raga kami secara berdarah-darah telah memeras sisa daya militer meluncurkan pemindaian melacak keberadaan anak-anak haram ini sepanjang hari, dan siapa sangka jasad rongsokan mereka justru secara kompak bersua berkumpul di tempat sempit ini seutuhnya kelak.”
Master yang bertindak selaku pemimpin barisan terdepan meledakkan ukiran senyuman seringai kasarnya di belah bibirnya seutuhnya.
Penampakan raut wajah kekarnya secara mengeraskan terpampang lumat dipenuhi oleh rajahan bekas luka bakar (burn scars) yang teramat parah sekali seutuhnya seumur hidup.
“Wadah tangan kami secara hukum persilatan telah lebih dulu meluncurkan pengklaiman hak kedaulatan atas jasad mereka sejak mula…….”
Belah bibir kasarnya meledakkan pergeseran ukiran seringai kotornya sembari memaku jangkauan tatap matanya lurus memindai penampakan raga Jeon Rahwa seutuhnya di tempat.
“Langkah tindakan sekelas apa yang sebenarnya sedang disukseskan oleh jemari manis nona muda di tempat ini baru saja kelak, hah?”
Jeon Rahwa secara seketika dipaksa menderita kegagalan total untuk sekadar meledakkan kalimat tanggapan seadanya sekejap semata seutuhnya.
Meskipun secara silsilah garis keturunan fisiknya diaku memang bertindak menyandang kedaulatan selaku sosok keturunan penerus resmi asuhan sekte raksasa benua di masa lalu, namun bentangan masa keemasan tersebut secara hukum telah lumat musnah ditelan masa belasan tahun yang lalu kelak! Sepanjang bentangan kurun waktu belasan tahun terakhir berjalan seutuhnya, wadah raganya secara nyata murni baru terbatas diperkenankan hidup melayani penderitaan status selaku barang budak pekerja kotor seadanya semata seumur hidup steril dari kemerdekaan sejati.
Ia murni baru terbatas memeras fisiknya melangsungkan sesi latihan jurus beladiri dantian selama nominal satu hari penuh semata seutuhnya sejak fajar kemarin!
Totalitas jasad raganya secara tidak terkontrol langsung meledak bergetar hebat dilingkupi gelombang rasa takut yang teramat sangat pekat sekali menusuk tulang sumsumnya.
Namun walau menderita kegagalan refleks sekejam itu kelak seutuhnya…… jemari kakinya secara insting refleks tetap saja secara patuh memandu pergeseran fisiknya merambat mundur memagari keselamatan anak-anak belia di belakang punggungnya seutuhnya.
“Wadah mulutku baru saja meledakkan kalimat pertanyaan menuntut baris penjelasan menyangkut langkah tindakan sekelas apa yang sedang ditekuni oleh jemari manismu seutuhnya kelak. Nona. Muda.”
Bo Geonhwi, sang komandan prajurit garda terdepan asuhan faksi Fire Bell Gang (Fire Bell Gang), memandu pergeseran langkah kakinya meluncur maju satu langkah mendatangi posisi Jeon Rahwa sembari memfokuskan sepasang matanya meluncurkan pemindaian tajam menyapu penampilan fisik gadis tersebut seutuhnya secara presisi.
Bagian sela pelipis dahi wanitanya terpampang halus mulus steril dari pancaran hawa meridian tingkat tinggi, dan jubah pakaian pelindung yang melekat di tubuhnya menolak dihiasi oleh rajahan lambang faksi sekte mana pun seutuhnya.
Wadah fisiknya juga dideklarasikan menolak terdaftar mengikat kedaulatan bertindak selaku aparat petugas pejabat kekaisaran sekelumit pun, dibersamai penemuan bukti sains berupa penampakan uap rasa takut yang teramat jelas sekali membungkus raut penampakan wajah cantiknya seutuhnya di tempat.
Heh heh, Bo Geonhwi meledakkan pelepasan gema geraman erangan halus di tenggorokannya sebelum akhirnya memantapkan kesimpulan taktisnya seutuhnya.
Kesimpulan hukumnya menyodorkan kepastian berupa jasad raganya dipasangkan secara mutlak bersiap sangat diizinkan sekali seutuhnya murni guna melayangkan sabetan kasar menepis keberadaan Jeon Rahwa dari sela perlintasan fisiknya seutuhnya kelak ditelan lantai.
“Seandainya jika keputusan ragamu bersedia memandu kelajuan sepatumu melangkah mundur sekarang juga, wadah tanganku dipasangkan bersiap melepaskan pengampunan hukum membiarkan raut wajah cantikmu dipelihara tetap utuh seutuhnya. Dasar. Jalang. Tengik.”
Dan tepat bertumpu menyertai meletusnya letusan ancaman maut sekejam itu kelak seutuhnya.
「Wadah mulutku sejak mula telah menyodorkan baris nasehat kepadamu agar memfokuskan totalitas perhatian jiwamu secara hening merampungkan penguasaan jurus beladiri dantianmu seutuhnya, dan sekarang engkau justru meluncurkan ragamu memicu lahirnya masalah pertumpahan darah di luar kelogisan, hah?」
Sesosok pelafalan gema suara asing yang teramat sangat akrab sekali di telinganya secara mendadak meledak menusuk merayap merasuk membungkus ruang kesadaran otak Jeon Rahwa seutuhnya.
Sesosok pelafalan transmisi suara batin khusus (Voice Transmission) yang keaslian zirah penampang bunyinya secara mutlak murni murni hanya diizinkan untuk didengar oleh rongga telinganya seorang diri seutuhnya kelak steril dari kebocoran luar.
Sesosok ukiran senyuman manis hangat secara tak terbendung langsung meletus merayap membungkus belah bibir wajah Jeon Rahwa seutuhnya steril dari instruksi nalar.
Ia memosisikan gigitan giginya mengetat kaku menyegel belah bibirnya, seiring penampakan raut ekspresi wajah wanitanya meledak semakin membeku tegap dibalut kebulatan tekad batin yang berkali-kali lipat jauh lebih kokoh menusuk angkasa.
Selanjutnya, dengan secara konsisten memaku jangkauan kunci pandangan matanya menusuk lurus membidik sepasang mata kasarnya Bo Geonhwi, Jeon Rahwa memosisikan lambaian jemari tangannya memandu anak-anak belia di belakangnya melangkah mundur secepatnya.
“Mundurlah secepatnya.”
“Haha. Pilihan tindakan yang menyebalkan! Menolak menghargai uluran pengampunan dan justru memilih meluncurkan perlawanan konyol seutuhnya kelak ditelan ajal.”
“Seandainya jika keputusan kaki kalian bersedia memandu pergeseran fisiknya melangkah mundur sekarang juga, jasad kalian diproyeksikan secara taktis masih diperkenankan memelihara keselamatan nyawa raga kalian seutuhnya kelak dari terkaman ajal maut.”
“Dan bagaimana seandainya jika keputusan tangan kami bersikeras menolak menyahuti peringatan konyolmu seutuhnya kelak, hah?!”
“Maka wadah raga kalian dipasangkan secara mutlak bersiap dirusak dilubangi hingga penuh menyerupai penampakan sarang lebah raksasa seutuhnya kelak ditelan lumat. Oh, serta sebagai baris koreksi sains tambahan kelak, jasad lebah raksasa di alam terbuka dipasangkan murni meluncurkan sengatan jarum racun pertahanan seutuhnya kelak dari sela pantatnya, bukan meluncurkan penusukan menggunakan alat kelamin seadanya semata seumur hidup. Pasca bersikap bebal memaksakan kelancaran alat kelamin kasarmu menusuk sembarangan menyasari tempat yang engkau sukai seutuhnya kelak berjalan—”
Jeon Rahwa menyunggingkan ukiran senyuman manis tipis di belah bibirnya, sesosok gaya ukiran senyuman yang menyajikan penampakan kemiripan visual yang teramat sangat identik sekali seutuhnya menyalin gaya ukiran senyuman sosok master yang teramat sangat ia kenal dekat seutuhnya.
Memamerkan kilatan kerapian jajaran gigi putih bersihnya secara benderang menyapu udara.
“Kalian dipasangkan secara mutlak wajib membiarkan jasad kalian mati dibantai lumat seutuhnya kelak.”


