**Bab 100. Yeon Yeong-ha**
***
Di bawah siraman cahaya rembulan dipadu pendaran cahaya dari barisan lentera malam serta obor jalanan di luar, kondisi area bagian dalam bangunan kayu tersebut dapat disaksikan secara sangat jelas. Ruangannya tampak sesak dipadati manusia, menyalin tingkat kepadatan yang bersiap di kedai arak maupun penginapan lainnya di kota.
`[20]`
*Satu langkah.*
Tepat di saat ia memperpendek jarak fisiknya menyamai selisih jarak sebelumnya baru saja, gema suara getaran tanda bahaya kembali meletus aktif di kepalanya.
‘Tidak salah lagi.’
Pendekar yang dianalisis bertindak sebagai sasaran buruannya saat ini secara faktual sedang mendekam di dalam kedai arak tersebut.
Dong Bong-su menaksir sela jarak 20 meter tersebut murni menggunakan sepasang matanya baru kemudian melangkah kaki meluncur masuk melintasi pintu kedai.
Satu meter, dua meter……
Dua puluh meter.
Titik koordinat area pintu masuk kedai. Namun di sepanjang sela pintu masuk tersebut, tidak ada satu pun orang asing yang bersiap di sana selain sosok pelayan kedai yang sedang sibuk. Jika kenyataannya memang seperti itu, maka……?
‘Apakah ia sedang bersembunyi?’
Di sebelah mana?
‘Koordinatnya bersiap sedikit di bagian atas atau di bagian bawah pintu masuk. Namun untuk area bagian bawah dideteksi tertutup oleh struktur pondasi bawah bangunan.’
Itu berarti sasaran buruannya sedang mendekam di bagian atas pintu masuk.
Dong Bong-su mendongakkan kepalanya perlahan baru kemudian melayangkan pandangan matanya meneliti area dinding bagian atas kusen pintu masuk. Secara fisik, area tersebut memang dilaporkan terhalang oleh keberadaan dinding luar lantai dua kedai, sehingga ia menolak dibekali kemampuan untuk bisa menembus pandangan matanya menyaksikan area bagian dalam. Ia sejak awal memang tidak dibekali oleh kemampuan mata tembus pandang sistem. Namun sasaran musuhnya dipastikan sedang menempel erat di sela dinding bagian dalam kedai.
Tetapi jika ada sesosok manusia yang bersikeras menempelkan tubuhnya di sela dinding pintu masuk seperti itu, bukankah sepasang mata seluruh pengunjung kedai secara otomatis dipastikan akan tersedot menatap lekat ke arah tubuhnya? Pada situasi normal biasa, merumuskan skenario adanya seorang manusia yang bersedia menempel di sela dinding atas kusen pintu masuk kedai dinilai sepenuhnya melabrak akal sehat.
Meskipun demikian, di antara jajaran pendekar mabuk yang sedang bersenang-senang menikmati minuman keras di sepanjang ruangan Kedai Nangnang saat itu, tidak ada satu pun orang yang menaruh keheranan batin menyikapi situasi ganjil tersebut. Mereka seutuhnya murni hanya sibuk menenggak cangkir arak, tertawa terbahak-bahak, dan melontarkan obrolan bising masing-masing. Tidak ada satu pun kepala pendekar yang bergerak melayangkan sapuan mata menatap ke arah dinding atas pintu.
*Tap, tap.*
Dong Bong-su memandu langkah kakinya berjalan santai merangsek masuk melintasi bagian dalam kedai.
Sembilan belas, delapan belas, tujuh belas……
Selisih jarak fisiknya secara konstan terus menyusut rapat.
`[2]`
“Selamat datang di kedai kami. Tuan pelanggan.”
Tepat di saat angka hologram di kepalanya menunjukkan nominal jarak minimal `[2]` meter, pelayan kedai menyapa kedatangannya dengan teriakan suara yang sangat ramah. Selisih jarak biologis di antara tubuhnya dengan pelayan saat itu tercatat berada di sela jarak kurang dari satu meter. Pelayan kedai di depannya terbukti sama sekali tidak memenuhi parameter sebagai sasaran buruannya.
Dong Bong-su melangkah kaki membelah ramainya ruangan lantai satu kedai seolah-olah dirinya sedang sibuk memburu keping meja kosong yang nyaman untuk ditempati, baru kemudian memutar posisi kepalanya menatap tenang ke arah pintu masuk kedai. Tentu saja, sembari gestur tubuhnya menyamar seolah sedang melayangkan pandangan mata datar menatap lurus ke depan, sepasang pupil matanya secara alami membidik ke arah area dinding atas pintu masuk.
‘……!’
Hampir tidak ada intensitas cahaya lampu kedai yang dibekali kekuatan untuk menjangkau area dinding tersebut, dipadu dengan keberadaan sekat kayu pembatas antara lantai satu dengan lantai dua yang menyelimuti area atas pintu, memicu lahirnya bayangan gelap gulita yang sangat pekat di tempat tersebut. Meski begitu ditopang oleh tingkat ketajaman sepasang matanya yang telah bertumbuh berkali-kali lipat jauh lebih tajam menyusul rentetan kenaikan level sistemnya kemarin, kegelapan tersebut seharusnya tidak dibekali kapasitas untuk bisa menyembunyikan wujud fisik manusia seutuhnya dari matanya.
Namun kenyataannya……
Sepasang matanya terbukti menolak menangkap wujud objek apa pun di sana. Detail temuan tersebut menandakan bahwa secara biologis ia sepenuhnya menolak dibekali kemampuan untuk bisa mengendus eksistensi keberadaan fisik lawannya murni mengandalkan ketajaman matanya semata saat ini.
‘Apakah kehebatan penyembunyian fisik tersebut bertindak sebagai wujud dari jurus teknik kamuflase?’
Di sepanjang perjalanannya mengacaukan wilayah Padang Rumput Utara kemarin, ia diakui telah berulang kali berduel melawan jajaran prajurit musuh yang mematangkan keahlian menyelinap di dalam tanah baru kemudian meluncur menyerang secara mendadak, maupun musuh yang menyamar menutupi fisik mereka menggunakan jerami kering. Namun ia sepanjang hidupnya belum pernah berpapasan dengan kasus menyelinap ekstrem seperti ini, sebuah tingkatan di mana matanya menolak mendeteksi keberadaan target bertarungnya bahkan di saat sepasang matanya sedang dipaksa menatap lekat lurus ke arah target secara sadar……
Jika saja otaknya menolak dibekali oleh keaktifan peringatan tanda bahaya dari indera penguji `Spiritual Vision` saat ini, ia dipastikan sama sekali tidak akan pernah menyadari adanya bahaya maut yang sedang mendekam di atas kepalanya.
‘Apakah aku di masa depan kelak juga dibekali kapasitas fisik untuk memperagakan jurus kamuflase seekstrem itu?’
Rangkaian kalimat tanya tersebut menyembur di dalam kepalanya.
Apakah detail tersebut menandakan dirinya saat ini telah resmi mengantongi kepemilikan atas jurus teknik kamuflase di dalam daftar keterampilannya?
Itu merupakan kebenaran sistem yang tak terbantahkan. Secara faktual, menyusul keberhasilan Dong Bong-su menebas mati Timur Khan kemarin, nominal kenaikan tingkat level yang ia peroleh dari kepingan poin pengalaman sistem dilaporkan melonjak drastis sebanyak beberapa kali. Menyertai meroketnya tingkat level tersebut secara otomatis mendatangkan transformasi status fisik yang sangat besar bagi tubuhnya, dengan beberapa buah keahlian aktif baru dilaporkan telah sukses ditambahkan di dalam daftarnya.
Dan di antara jajaran keterampilan baru tersebut berselip sebuah jurus bernama `[Concealment Technique (Teknik Penyembunyian)]`.
`[Teknik Penyembunyian (Concealment Technique) Lv. 1 – Persentase Tingkat Kemahiran: 30.0%]`
*Di sepanjang belantara rimba persilatan, bilah pedang di tangan pendekar diakui tidak dibekali sepasang mata. Terlebih lagi bilah pedang panjang yang digenggam di tangan jajaran pendekar pengelana miskin yang merangkak naik membelah dunia persilatan dari kasta terendah. Agar kau dibekali kemampuan untuk mengayunkan bilah pedang pemangsa seperti itu secara presisi, pada situasi tertentu kau dituntut untuk memiliki keterampilan menyembunyikan wujud fisikmu seutuhnya. Serta demi bisa mengamankan keselamatan nyawamu menghindari sabetan pedang maut serupa, penguasaan atas teknik penyembunyian fisik secara mutlak dideteksi sangat vital bagi kelangsungan hidupmu.* *Di saat keahlian ini dipicu aktif oleh pemain, wujud fisik pemain secara instan dipastikan akan menyatu seutuhnya dengan kondisi lingkungan di sekelilingnya secara presisi. Namun pada detik pertama kau meluncurkan pergerakan fisik maupun memicu keaktifan keterampilan lainnya, durasi keaktifan teknik penyembunyian ini secara otomatis akan resmi dibatalkan seutuhnya.*
*Nominal konsumsi energi sejati dantian per detik: 10 JP*
Ia memang tercatat sempat mencoba memicu keaktifan jurus baru tersebut beberapa kali sebelumnya, namun karena ia menolak memiliki cermin zirah raksasa untuk meneliti visual pantulan fisiknya saat itu, ia tidak memiliki dasar informasi untuk mengukur seberapa tinggi persentase tingkat keberhasilan dari jurus kamuflase miliknya.
Jika tingkat kehebatannya secara faktual terbukti sejajar dengan tingkat kamuflase musuh di atas pintu masuk saat ini, jurus baru tersebut dipastikan akan bertransformasi menjadi aset pertempuran yang sangat berguna bagi kelangsungan hidupnya di arena pertarungan nyata nanti.
Namun perkara penting yang menuntut perhatian logikanya saat ini sama sekali bukan menyangkut detail keunggulan jurus tersebut.
Melainkan.
‘Alasan taktis apa yang melatarbelakangi seorang master puncak setangguh dirinya bersedia mendekam menyembunyikan fisiknya secara serapat itu di lokasi kotor seperti ini?’
Misi pembunuhan berencana (`assassination`)?
Ia sempat menaruh dugaan tersebut di dalam kepalanya selama beberapa saat, namun persentase peluang kebenarannya dinilai sangatlah rendah. Di sela-sela larutnya malam kota Zhengzhou saat ini, sosok birokrat penting mana yang bersedia meluncurkan kunjungannya merapat di kedai arak kotor seperti ini? Dan jika sosok penting tersebut memang merencanakan pertemuan bisnis malam ini, kediaman istana aliansi dideteksi berkali-kali lipat jauh lebih ideal dibandingkan dengan area kedai ini.
Dong Bong-su secara konstan terus mematangkan alur simulasi taktisnya.
Jika kenyataannya memang seperti itu, maka aktivitas militer apa sebenarnya yang sedang dieksekusi oleh master tersebut di atas pintu?
Sesosok bayangan rahasia yang bersiap di balik kegelapan. Yin…… bayangan sejati…….
Sebuah tugas rahasia yang secara mutlak menolak dijalankan kecuali dengan cara mendekam di balik kegelapan malam.
Ada banyak sekali kemungkinan taktis yang melintas di sela sel otaknya, namun jika opsi misi pembunuhan disimpulkan keliru, maka hanya tersisa satu opsi penjelasan alternatif lainnya yang mumpuni.
‘Pengawalan rahasia (`secret escort`).’
Di sela situasi Zhengzhou saat ini, persentase peluang bagi munculnya analisis alternatif ketiga di luar kedua opsi di atas dideteksi sangatlah tipis.
“Ehem…… Tuan pelanggan. Mengingat kedai kami saat ini sedang dalam kondisi padat pengunjung, apakah dinilai tidak keberatan bagi batin Anda jika kami memandu Anda untuk berbagi meja makan (`sharing a table`) bersama pengunjung lainnya?”
Sama sekali tidak bersisa satu pun keping meja kosong yang nyaman untuk ditempati saat itu, dan menilik dari padatnya pengunjung kedai, tanda-tanda akan bersiapnya meja kosong dalam waktu dekat dideteksi sepenuhnya nihil. Oleh karena kendala spasial itulah, pelayan kedai secara alami melayangkan opsi berbagi meja makan kepadanya. Metode pelayanan bisnis yang tergolong sangat wajar untuk diterapkan di kedai mana pun. Sejak awal pelayan kedai tersebut memang telah memetakan situasi padatnya kedai di kepalanya, dan sudah menjadi rencana awalnya sejak mula untuk memandu langkah kakinya masuk ke dalam kedai menggunakan cara ini.
Namun bagi logika Dong Bong-su saat ini, perkara apakah dirinya dipandu berbagi meja makan bersama orang asing atau menolak mendapatkan meja makan sama sekali tidak mendatangkan pengaruh penting apa pun bagi kelangsungan misi perburuannya.
‘Siapa identitas asli dari sosok yang sedang dikawal?’
Ia secara mutlak ingin mendeteksi siapa sosok manusia istimewa yang rela dikawal secara sangat rahasia oleh seorang master puncak di balik kegelapan malam saat ini. Kemungkinan besar sosok manusia tersebut dideteksi menyandang kelas status sebagai “monster event” sejati yang baru ditambahkan di sepanjang area medan luar Zhengzhou malam ini.
“Ehem, Tuan pelanggan?”
Tidak memedulikan detail kosakata tanya yang terus dilontarkan oleh mulut pelayan kedai di sampingnya, Dong Bong-su murni hanya melangkah kaki santai menyusuri sela-sela area dalam kedai. Seiring pergeseran langkah kakinya bergerak menjauh, nominal angka hologram dari indera penguji *Spiritual Vision* di kepalanya terpantau terus mengalami fluktuasi naik turun secara berkala.
Namun pada beberapa kali pergeseran langkah kaki tertentu, nominal fluktuasi angka tersebut terdeteksi sama sekali tidak memiliki kaitan spasial dengan selisih jarak lurus diukur dari pintu masuk kedai tadi. Temuan tersebut mengunci satu buah analisis kesimpulan baru: bahwa di sepanjang ruangan kedai arak saat itu secara faktual sedang menampung keberadaan satu orang master puncak tambahan lainnya.
‘Persis seperti perkiraan logikaku…….’
Pendekar misterius kedua inilah yang sedang diuji keselamatannya oleh master penyusup di atas kusen pintu masuk tadi.
Dong Bong-su mempersempit diameter pencarian sasarannya menyelaraskan gema suara peringatan bahaya dari indera penguji *Spiritual Vision* di kepalanya. Meskipun pelayan kedai di sampingnya masih terus melontarkan kalimat tanya memohon kesediaannya berbagi meja makan, detail tersebut dibiarkan menguap begitu saja dari kepalanya.
Sepasang mata Dong Bong-su secara sangat datar terus menggeledah visual masing-masing pengunjung kedai seutuhnya.
Sosok pria paruh baya berjanggut tebal yang duduk bersiap di meja sebelah kiri, sosok pria kurus berambut tipis dengan sepasang mata sipit yang duduk di meja bagian belakang, serta sosok pria berdarah gemuk yang duduk bersiap tepat di depannya yang sedang sibuk meracau melontarkan kosakata tidak jelas akibat mabuk berat.
Bukan mereka sasarannya.
Sepasang mata Dong Bong-su secara konstan terus menyapu lekat wajah masing-masing pendekar yang bersiap di sepanjang area jangkauan deteksi *Spiritual Vision* miliknya.
Hingga pada satu detik waktu tertentu.
“……!”
Ia secara nyata berhasil menangkap keberadaan “sesuatu”. Benar. Sesatu objek yang sangat unik.
Ia kesulitan untuk merumuskan padanan kosakata alternatif lainnya untuk mendefinisikan karakteristik objek tersebut.
Baik di sepanjang sejarah hidupnya di Bumi dulu maupun semenjak kakinya menapak di dunia persilatan saat ini, Dong Bong-su belum pernah sekalipun berpapasan langsung dengan eksistensi makhluk seunik dirinya. Karakteristik wibawa batinnya dideteksi sepenuhnya berbeda dengan wibawa tempur milik Tang Wu maupun Eulji Tae, sang master puncak dari daftar Dua Puluh Master Agung di Bawah Langit, dan juga menolak memaparkan kemiripan dengan wibawa batin master Byeonggwae. Serta dideteksi menolak memiliki keselarasan wujud dengan wibawa bela diri Zhong Zhihang yang baru saja ia saksikan kemunculannya di desa nelayan kemarin.
Terlebih dari seluruh perbedaan itu, karakteristik batinnya secara sangat mencolok dideteksi sepenuhnya bertolak belakang dengan karakteristik batin Dong Bong-su sendiri…… sesosok eksistensi yang sangat ganjil.
Makhluk tersebut saat itu terpantau sedang duduk bersenang-senang seorang diri di sudut meja paling ujung kedai, memosisikan salah satu telapak tangannya menopang dagu wajahnya secara santai. Berkat gestur santainya tersebut, fokus arah pandangan sepasang matanya secara alami terpantau mengunci erat ke arah satu titik koordinat tunggal sejak awal.
Titik koordinat arah bidikan matanya terkunci rapat menatap lekat wajah Dong Bong-su. Ia sedang melayangkan fokus tatapan matanya menatap tajam Dong Bong-su seolah-olah dirinya memang sejak awal telah bersiap menanti tibanya pemuda tersebut di tempat ini.
Makhluk tersebut.
Ia secara visual mengenakan pakaian jubah bela diri khas laki-laki, namun struktur anatomi fisiknya secara mutlak mengabarkan kebenaran bahwa ia berstatus sebagai seorang wanita, berusia sangat muda, dan menyandang wujud paras wajah yang sangat cantik. Kemungkinan besar karena ia saat itu sedang melayangkan senyuman manis yang memancarkan kepolosan kekanak-kanakan di wajah cantiknya, pesona kecantikannya terlihat tumbuh menjadi berkali-kali lipat jauh lebih memikat.
Namun tepat di saat Dong Bong-su berhadapan langsung menyongsong pameran senyuman polos kekanak-kanakan tersebut, barisan bulu kuduk di sekujur tubuhnya seketika meremang hebat karena ngeri. Sesosok hawa dingin mengerikan yang belum pernah ia rasakan sepanjang sejarah hidupnya seketika merayap membungkus seluruh tubuh fisiknya seutuhnya.
Sosok tersebut, atau lebih tepatnya wanita cantik tersebut bangkit berdiri dari kursi kayunya baru kemudian melangkah kaki perlahan mendekati posisi tubuhnya.
`[2]`
Laporan hologram dari indera penguji *Spiritual Vision* di kepalanya mengabarkan kebenaran bahwa sesosok musuh yang sangat luar biasa tangguh saat ini telah sukses merapat di dalam radius minimal 2 meter di hadapannya. Dan wanita cantik tersebut saat ini sedang memamerkan senyuman manisnya secara benderang tepat di sela jarak 2 meter di hadapan matanya.
Ekspresi wajah Dong Bong-su justru terlihat tumbuh menjadi semakin kuyu dan sayu menyikapi terkaman wibawa tersebut.
‘Wanita di hadapanku saat ini dianalisis dibekali kemampuan untuk bisa membedah detail isi kepalaku seutuhnya secara instan.’
Itu merupakan kebenaran mutlak. Wanita tersebut secara faktual sukses mengenali esensi identitas dirinya.
Dan.
Dirinya sendiri juga secara faktual dibekali kapasitas batin untuk bisa mendeteksi esensi identitas asli wanita tersebut.
Ia memang dilaporkan tidak memiliki dasar informasi untuk bisa merumuskan secara ilmiah klasifikasi makhluk hidup apa sebenarnya wanita di depannya saat ini.
Namun batinnya dibekali kemampuan untuk bisa mengunci kesimpulan medis secara sangat akurat bahwa wanita cantik di hadapannya merupakan sesosok jenis makhluk hidup yang seluruh aturan hukum akal sehat dunia persilatan menolak berlaku padanya. Seolah-olah ia merupakan sesosok program rusak (`bug`) yang secara tidak sengaja meletus aktif menghuni bagian dalam sistem game New Murim Online saat ini.
‘Sesosok *bug* sistem.’
Wanita cantik tersebut membuka mulutnya bersuara perlahan melayangkan kalimat pembuka.
“Meskipun hari ini secara administratif dihitung sebagai pertemuan ketiga yang kita lalui secara fisik, namun kau secara konstan selalu sukses memicu jantung di dalam dadaku berdegup kencang secara gila setiap kali sepasang mataku berpasangan menatap wujud tubuhmu. Dirimu.”
“………”
Pertemuan ketiga?
Dong Bong-su kesulitan untuk bisa mencerna makna taktis di balik baris kalimat wanita di depannya saat ini.
Otaknya didesain menolak dibekali kemampuan untuk melupakan visual wajah dari setiap manusia yang sempat tertangkap oleh sepasang matanya sekali saja. Namun wanita di depannya justru mengklaim bahwa hari ini merupakan pertemuan ketiga yang mereka lalui. Dan logikanya secara mutlak mengunci kesimpulan bahwa kalimat yang disuarakan wanita tersebut sama sekali bukan merupakan baris kalimat kebohongan belaka. Ia memang menolak dibekali kemampuan untuk membaca alur batin wanita tersebut, namun insting bertarungnya secara akurat mendeteksi kebenaran kalimatnya.
Kalimat tersebut merupakan kebenaran faktual.
“Sangat senang bisa berpasangan tatap dengan wujud fisikmu kembali hari ini. Aku secara faktual telah selesai menyuarakan nama pendaftaranku kepadamu sebanyak dua kali di masa lalu, namun mengingat sel otakkmu kemungkinan besar menolak dibekali penyimpanan memori untuk mengingatnya saat ini, aku berkomitmen untuk melafalkannya kembali di depan wajahmu sekali lagi. Khusus untuk pertemuan hari ini, pastikan sepasang sel otakmu bekerja keras mengunci nama pendaftaranku dengan rapat di dalam kepalamu seumur hidup.”
Ia mengklaim telah selesai memperkenalkan nama pendaftarannya sebanyak dua kali di masa lalu……?
Kembali lagi, detail klaim tersebut dirasa selaras dengan baris penjelasannya sebelumnya baru saja. Namun meski begitu Dong Bong-su tetap menolak menemukan sisa rekaman data memori menyangkut wanita di depannya di sela kepalanya.
“**Yeon Yeong-ha.** Nama pendaftaranku adalah Yeon Yeong-ha.”
Yeon Yeong-ha.
Ini merupakan kali pertama lubang telinga Dong Bong-su menangkap gema nama pendaftaran tersebut disuarakan sepanjang hidupnya. Namun secara sangat ganjil, di saat yang sama otaknya memicu sesosok rasa familier yang tipis seolah-olah nama tersebut pernah singgah di dalam kepalanya di masa lalu. Jika memang benar nama tersebut sempat ia dengar kemarin, rasanya menyerupai sesosok kepingan ingatan masa lalu yang sangat tua yang sedang berjuang keras merangkak naik ke permukaan air baru kemudian tenggelam kembali ke dasar danau ingatan secara instan.
Itu merupakan sesosok riak sensasi emosi yang sepenuhnya baru dan terasa sangat asing bagi kelangsungan batinnya seumur hidup.
Oleh karena keanehan sensasi batin itulah ia melayangkan kalimat tanyanya datar.
“Makhluk hidup jenis apa sebenarnya dirimu saat ini?”
***
**Di satu sudut lembah ngarai terpencil di Provinsi Yunnan**, wilayah subur di mana kuantitas barisan bunga langka beserta tanaman obat pusaka berharga tumbuh mekar melimpah ruah memenuhi tebing.
Sesosok orang tua berpostur cukup pendek dengan sepasang mata yang memancarkan kilatan cahaya yang sangat tajam tampak sedang memandu pergerakan jalannya memeriksa kondisi kelopak bunga dengan memosisikan kedua belah telapak tangannya melipat patuh di bagian belakang punggungnya.
Di bawah guyuran cahaya rembulan malam, kelopak bunga pusaka di sekelilingnya memancarkan pendaran cahaya tipis yang shimmer menyerupai visual kerlip gugusan bintang di kejauhan.
Di sepanjang lembah ngarai raksasa yang diameter bentangan ujungnya dideteksi mustahil untuk bisa dijangkau oleh pandangan mata biasa tersebut, sang orang tua tampak menikmati jalannya secara santai seorang diri menikmati keindahan panorama alam di sekelilingnya.
Mengingat posisi rembulan saat itu sedang bersiap tegak lurus di atas langit, wujud bayangan tubuh sang orang tua tampak tercetak jauh lebih pendek dibandingkan dengan postur tubuh aslinya, dan setiap kali fisiknya menggeser langkah kaki menyusuri jalan, bayangan hitamnya tampak ikut bergeser menyelaraskan jalannya menyerupai visual noda tinta hitam yang bergerak meliuk di atas kain.
Hingga pada satu detik waktu tertentu.
Meskipun secara hukum astronomi dideteksi sepenuhnya mustahil bagi rembulan di atas untuk bisa memutar arah cahayanya secara mendadak, wujud bayangan hitam orang tua tersebut secara misterius tampak bergerak meliuk kencang menyerupai kelopak bunga yang dihantam embusan angin badai.
Gesturnya diposisikan seolah-olah bayangan hitam tersebut sedang menaruh hasrat besar untuk meluncurkan sebaris kalimat pesan penting ke hadapannya.
“Perkara krusial apa yang terjadi?”
Orang tua tersebut menundukkan kepalanya menatap tenang ke arah bayangan hitam di bawah kakinya baru kemudian bersuara.
“Ada sebaris pesan darurat yang dikirimkan oleh Tetua Noh baru saja.”
Bayangan hitam melayangkan jawaban.
Sorot sepasang mata orang tua tersebut seketika mengalami transformasi ketajaman mutlak. Informasi darurat tersebut dipastikan merupakan informasi penting yang memang sejak lama dinanti datangnya oleh kepala sang orang tua.
“Lalu menyangkut nasib Yeong-ha?”
“Ia dilaporkan telah resmi menapakkan kakinya dengan selamat di kota Zhengzhou saat ini.”
“Huhuhu. Meluncur dengan selamat? Kau bersuara ia tiba dengan selamat di kota tersebut baru saja? Apakah sel otakkmu saat ini telah kehilangan kapasitas memori untuk mengingat siapa esensi identitas asli dari anak manusia tersebut seutuhnya?”
“…… Mohon ampunan mautnya, Tuan Aula (`Hall Master`). Bawahan hina ini sempat kehilangan kewaspadaan batin selama sepersekian detik menyangkut kelas eksistensi gila apa sebenarnya yang melekat di tubuh sosok wanita tersebut. Mohon kemurahan hati Anda memberikan ampunan maut atas kelalaian bawahan ini.”
“Tiba dengan selamat. Benar-benar kata dengan selamat, rupanya.”
“…….”
“Mendengarkan laporan keberhasilan pendaratan kakinya di kota tersebut baru saja, logikaku mendeteksi bahwa genderang pembuka peperangan maut dipastikan telah resmi ditabuh secara nyata mulai detik ini juga.”
“Ya? Kalimat penjelasan seperti apa yang terkandung di balik kosakatamu tersebut……?”
“Itu memiliki arti taktis bahwa dunia persilatan Dataran Tengah dipastikan menolak dibekali kedamaian seumur hidup kembali. Terhitung mulai detik ini juga.”


