Eternally Regressing Knight

Bab 893: Carni Festa

2414 Kata

Bab 893: Carni Festa

Pemilik gada itu memiliki kulit hitam pekat.

Bahkan jauh lebih gelap daripada kulit Nurat.

Orang-orang sering berkata bahwa ada banyak orang berkulit hitam di wilayah Selatan, dan pria di hadapannya seolah membuktikan kebenaran kabar tersebut.

Ragna tidak bisa langsung menakar tingkat keahlian lawannya hanya dalam sekali pandang.

Apa artinya itu?

'Pria yang paham cara bertarung.'

Encrid mungkin membagi hierarki para ksatria ke dalam tingkatan yang rumit, tetapi di dalam dunia Ragna, hanya ada dua tingkatan sederhana.

Pertama, orang yang tidak tahu cara bertarung.

Entah orang itu bergelar ksatria atau bukan, siapa pun yang tidak paham cara bertarung hanyalah sosok yang setara dengan ksatria magang di matanya.

Kedua, orang yang benar-benar tahu cara bertarung.

Standar yang memisahkan keduanya teramat sederhana dan gamblang.

Apakah Ragna bisa menakar keahlian mereka dengan mudah menggunakan matanya sendiri, atau tidak?

Sang lawan memutar gada di tangannya berulang-ulang.

Cahaya biru samar berpendar di gumpalan besi bersegi enam itu.

Sebuah senjata berinskripsi yang ditempa dari True Iron, logam khusus dengan tingkat kekerasan yang setara dengan baja Valerian.

Pandangan Ragna tak pernah lepas dari mata pria pemegang gada tersebut.

Tepatnya, ia sudah selesai mempersiapkan diri untuk membunuh.

Mata Ragna yang tampak acuh tak acuh dan rileks mengunci seluruh tubuh lawannya dalam jarak pandang.

Gerakan memutar gada itu hanyalah trik untuk memancing dan mengacaukan konsentrasi.

Saat melakukan gerakan itu, garis bahu sang lawan sama sekali tidak bergerak, bahkan tidak sedikit pun.

Ragna sudah memahami perbedaan semacam itu sejak ia masih kecil.

Sekarang ia membaca lewat garis bahu, tetapi di masa lalu, ia kerap membaca langkah lawan berikutnya hanya dengan memperhatikan arah ujung jari kaki mereka.

Kali ini pun sama persis.

"Numpang lewat? Omong kosong macam apa itu? Aku datang ke sini juga bukan untuk mati konyol. Siapa kau sebenarnya?"

Ragna menyadari bahwa lawannya punya kebiasaan melontarkan pertanyaan setiap kali membuka mulut.

Itu adalah kesimpulan yang didapat lewat insting tajamnya, dan insting itu selalu tepat.

"Hei, siapa kau?"

Pria itu kembali bertanya sembari menggenggam gagang gada dengan kedua tangan lalu menariknya sedikit ke belakang.

Sekilas gerakannya terlihat ceroboh, tetapi penguasaan senjatanya jelas bukan main-main.

Kelihatan santai justru karena ia teramat ahli.

Dan kali ini, pria di depannya adalah petarung sungguhan.

Seorang ahli yang sangat layak menyandang gelar ksatria sejati.

Hawa keberadaan sang lawan memadat dan membentuk wujud yang nyata.

Bahkan tanpa disengaja sekalipun, pemahamannya secara alami telah menyentuh perubahan wujud dari Will.

"Ragna dari The Madmen."

Setelah berpikir sejenak, ia menjawab singkat.

"Apa? Dasar bajingan gila. Nekat menyusup sendirian sampai sejauh ini?"

Sang lawan membalas sembari mendengus sinis.

Bahkan saat saling melempar tanya jawab, Ragna tidak sedetik pun berhenti menganalisis lawannya.

Ia membaca taktik serangan yang akan dilancarkan pria itu.

Gada berat itu kemungkinan besar akan digunakan dengan prinsip yang serupa dengan pedang berat.

'Jika aku menghindar, aku akan kehilangan inisiatif dan terpaksa bertahan terus-menerus.'

Jika ia menangkisnya secara langsung, tenaga lawannya cukup besar untuk membuat kedua tangannya mati rasa.

Kemungkinan besar lawannya memiliki berbagai variasi serangan selain ayunan berat vertikal, horizontal, atau diagonal.

Misalnya, ia pasti terampil memadukan serangan tangan kosong dan tendangan kaki dengan ritme berbeda di sela-sela ayunan gada.

Bukan hanya sekadar terampil, ia pasti sangat menguasainya.

Ragna yakin akan hal itu.

Jika tidak punya variasi serangan, menggunakan senjata tumpul seperti itu hanyalah pilihan yang buruk.

'Semakin sering kutangkis, semakin besar kerugian yang kutanggung.'

Menghindar akan membuatnya terdesak dalam posisi bertahan, sedangkan menangkis berulang kali hanya akan melipatgandakan gelombang benturan dan menumpulkan kepekaan kedua tangannya.

Bahkan tanpa perlu bertukar serangan berkali-kali, inti teknik yang dimiliki lawannya sudah terbaca jelas.

Kilatan cahaya samar melintas di mata Ragna.

Ia berniat menghabisi lawannya di tempat ini.

Kehendak itu menjelma menjadi niat membunuh yang pekat dan mencekik sang lawan.

"Bajingan ini? Kau benar-benar tidak punya rasa takut, ya?"

Sang lawan bertanya heran saat merasakan niat membunuh yang menusuk kulitnya.

Bukannya berpikir untuk kabur, bocah ini malah berani menantangnya duel?

"Apa aku terlihat lemah di matamu?"

Lawannya ini terlalu banyak bicara.

Mulutnya terus berkomat-kamit memuntahkan kata-kata tanpa henti.

Ragna tahu persis apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini.

Ia menangkap momen yang tepat lalu melontarkan jawaban satu kata.

"Ya."

"Mati kau!"

Sang lawan berteriak murka.

Hari ini pun, provokasinya sukses besar.

***

Beberapa perwira mengumpulkan prajurit yang formasinya berantakan lalu menarik mundur sebagian pasukan.

Kehadiran seorang penyusup gila telah membelah barisan unit garis depan menjadi dua bagian.

Salah seorang perwira memimpin unit yang tersisa dan segera menyusun ulang barisan.

Itu adalah respons taktis yang sangat baik.

Monster harus diserahkan kepada sesama monster.

'Bajingan sialan.'

Perwira itu mengumpat dalam hati sembari berteriak dan melambaikan tangannya memberi aba-aba.

"Maju! Terus maju ke depan! Jangan menoleh ke belakang!"

Satu ekor gajah perang yang tersisa segera melangkah ke depan.

Gajah itu adalah satu-satunya yang selamat dari tebasan maut Ragna.

Sang pawang buru-buru mengayunkan cambuknya untuk memacu lari sang gajah.

Ctar! Ctar! Gwoooaaar!

Hantaman cambuk itu bahkan tidak terasa gatal bagi kulit tebalnya, tetapi berkat pelatihan bertahun-tahun, gajah itu langsung melangkah lebar tanpa henti.

"Maju, terus maju!"

Sang pawang bergumam tegang.

'Bagaimana bisa seorang ksatria Naurillia menyusup sampai sejauh ini?'

Dasar orang gila.

Sulit dipahami mengapa orang itu bertindak senekat itu.

'Mencoba menciptakan kekacauan karena merasa posisi mereka terjepit?'

Membuang kekuatan seorang ksatria berharga hanya untuk hal semacam itu?

Itu murni kegilaan.

Ksatria juga manusia biasa.

Jika terkepung rapat dan dihujani tusukan tombak, mereka pasti mati.

Terlebih lagi, karena penyusup itu sudah masuk terlalu jauh, para ksatria sekutu di pihak mereka pasti akan mengeroyoknya bersama-sama.

Pihak musuh telah melakukan tindakan yang teramat bodoh.

"Bagus. Sialan, kita terus maju ke depan!"

Ucap rekannya yang duduk di pelana belakang.

Apa pun yang terjadi, mereka adalah unit garis depan, dan mencapai kubu pertahanan musuh adalah tujuan utama mereka.

Sebagai salah satu pawang pengendali gajah, ia hanya perlu menjauh dari monster pedang tadi.

Karena itulah, ketika kepala gajah yang ia tunggangi tiba-tiba meledak hancur berkeping-keping, wajar jika sang pawang langsung mati tertimpa tanpa sempat memahami apa yang terjadi.

Wuuuush!

Tepat saat gemuruh suara yang merobek udara terdengar dari kejauhan, udara di ruang kosong memadat dan memancarkan gelombang kejut melingkar yang dahsyat.

Sebuah proyektil batu yang melesat sembari menciptakan gelombang kejut menghancurkan kepala gajah raksasa itu layaknya buah labu matang yang dihantam martil.

Dhuarrr!

Kepala yang meledak menyemburkan darah segar ke segala penjuru, dan tubuh gajah yang limbung langsung ambruk ke samping.

Dhuuuum!

Makhluk sebesar itu selalu menimbulkan suara yang memekakkan telinga bahkan saat terjatuh mati.

Debu tebal membubung tinggi ke udara.

Pawang yang duduk di atas punggung monster tanpa kepala itu bahkan tidak sempat menjerit saat tubuhnya tergilas remuk di bawah bangkai gajah.

Karena wajahnya yang terhantam tanah terlebih dahulu, suara kertak tulang adalah bunyi terakhir yang keluar dari tubuhnya.

Bahkan perwira di dekatnya yang tadinya nyaris selamat ikut tertimpa tubuh gajah yang roboh. Pinggangnya hancur remuk, isi perutnya terburai keluar, dan ia tewas menjerit dalam rasa sakit yang mengerikan.

"Cara mati yang buruk, dasar keparat."

Tentu saja itu adalah ulah Rem.

Sembari merapikan tali umban yang baru saja ia putar, ia menepuk pelan punggung beastkin yang berdiri di sampingnya.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Bersiap untuk bertarung?"

Dunbakel mengendus aroma-aroma berbahaya yang bergerak cepat di berbagai penjuru.

Jika ksatria kawan mulai bergerak, ksatria musuh pun pasti akan ikut turun tangan.

Itu adalah hukum alam di medan tempur.

Bukankah mereka harus segera pergi menyambut lawan-lawan itu?

"Untuk apa bertingkah gila di tengah-tengah sarang musuh? Kita bereskan saja gajah dan para raksasa seadanya, lalu kita mundur."

Rem berucap santai.

Dunbakel tidak menunjukkan rasa keberatan mendengar perkataan Rem.

Jika memang tidak ada strategi yang lebih baik selain bergerak fleksibel sesuai situasi, maka melakukan hal itu adalah tindakan yang paling tepat.

Itu adalah prinsip yang sudah ia pahami bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di wilayah Timur.

"Dimengerti. Taktik hit-and-run yang sangat pengecut, licik, dan kotor."

"Kenapa kau harus menambahkan kata sangat pengecut, licik, dan kotor?"

"Aku ini beastkin. Mulutku hanya mengatakan kebenaran."

Rem mengayunkan kapaknya ke arah leher Dunbakel.

Dunbakel dengan santai menarik lehernya ke belakang untuk menghindar.

Wuuush!

Suara angin yang terbelah terdengar sangat bising.

Jika ada orang luar yang melihat, mereka pasti mengira Rem berniat membunuhnya sungguhan.

Tentu saja, di dalam The Madmen Knights, kebiasaan saling serang seperti ini hanyalah lelucon kecil yang menggemaskan.

"...Aku tidak bisa hanya membabat bajingan-bajingan ini lalu pergi begitu saja. Sialan, Kapten berutang budi padaku."

Rem bergumam pelan sembari menenangkan pikirannya dengan satu ayunan kapak.

Biasanya, keberadaan sang Kapten akan membuatnya bebas bergerak sesuka hati dalam situasi seperti ini.

Maka, harus menutupi kekosongan peran itu terasa sedikit menjengkelkan baginya.

Tentu saja, ia tidak benar-benar marah.

Ia sangat menikmati pertempuran semacam ini.

Pertempuran di mana ia bisa membantai musuh secara sepihak dari jarak aman.

Ditambah lagi, ada rasa tanggung jawab di dalam dirinya yang mempertanyakan: siapa lagi yang akan maju jika sang Wakil Kapten tidak mengambil inisiatif?

"Hei, ayo bergerak. Beberapa hawa pembunuh yang berbahaya sedang mendekat ke arah sini."

Rem dan Dunbakel menolehkan kepala ke satu arah secara bersamaan.

Sebagian bulu di tubuh Dunbakel langsung berdiri tegak.

Bulu kuduknya meremang hebat.

Insting binatangnya bereaksi liar terhadap ancaman itu.

"Apa kita tidak perlu membantunya?"

Arah yang ditatap Dunbakel adalah titik tempat si pendekar pedang malang yang mudah tersesat itu sedang bertarung sengit.

"Kalau dia mati, itu sudah takdirnya."

Rem menjawab acuh tak acuh.

"Kau benar."

Dunbakel mengangguk setuju.

Rem tersenyum puas mendengar respons itu.

"Kali ini kumaafkan omong kosongmu yang tadi. Ayo jalan."

Keduanya kembali melesat kencang.

Baik Rem maupun Dunbakel adalah petarung yang sanggup berlari secepat kuda pacu dalam jarak pendek.

Ragna telah membantai dua ekor, Rem menghabisi satu ekor di barisan belakang, tetapi kawanan gajah dan para raksasa masih tersisa di barisan musuh.

"Cilukba!"

Rem melemparkan kapak lemparnya tepat mengincar kepala gajah perang lainnya.

Sementara itu, Dunbakel mengincar target yang kepalanya menjulang tinggi di antara barisan manusia biasa.

Ukuran tubuh dan kekuatan fisik ras raksasa jelas tidak diragukan lagi untuk disebut sebagai spesies petarung terkuat di antara ras berakal.

Kekuatan otot mereka melampaui ras Frog, dan kulit mereka sekeras lempengan besi sejak lahir.

Ditambah lagi, insting bertarung alami memberi mereka julukan monster berdarah merah.

"Kutu busuk sialan!"

Dua raksasa meraung murka sembari mengayunkan senjata mereka.

Dunbakel melompat lincah di antara kedua raksasa itu, lalu mengayunkan sepasang scimitar melengkungnya layaknya mengibaskan kain sutra.

Dalam proses itu, kedua kakinya menjejak tanah sebanyak enam kali tanpa jeda.

Langkah kakinya teramat ringan dan sunyi, tetapi sama sekali tidak lambat.

Bayangan semu tercipta di udara.

Rambut putihnya membentuk garis panjang yang anggun.

Bersamaan dengan itu, bilah scimitar menyayat jakun kedua raksasa tersebut dalam satu lintasan kilat.

Kiri dan kanan secara serentak.

Menarik kembali kedua bilah pedangnya, ia melenting ke depan dengan anggun.

Kaki Dunbakel bukan hanya sekadar lincah, melainkan tampak seperti sosok hantu gentayangan bagi para prajurit yang menonton dengan ngeri.

Di titik yang disapu oleh sang hantu putih, semburan darah memancar deras dari leher kedua raksasa.

Dhuuum, dhuuum!

Kedua raksasa itu berlutut bersilangan lalu jatuh tersungkur ke depan.

Suara debuman tubuh mereka terdengar sangat keras menghantam bumi.

***

Saat Rem dan Dunbakel tengah mengamuk dengan leluasa.

"Majuuuuu!"

Teriakan komando dari perwira musuh meledak membahana.

Jika di belakang adalah neraka, bukankah mereka hanya perlu menerobos maju ke depan?

Perwira yang memimpin unit garis depan adalah tipe prajurit fanatik yang akan tetap menghujamkan tombaknya ke depan bahkan jika bagian belakang kepalanya hancur meledak.

Ia memerintahkan pasukannya untuk terus merangsek maju tanpa peduli kekacauan yang terjadi di belakang mereka.

Garis depan Great Emperor terdiri dari pawang gajah, prajurit raksasa, dan Yellow Soil Corps.

Unit tahanan yang mengibarkan panji kuning itu adalah kelompok petarung yang tidak mengenal kata mundur.

Atas perintah sang komandan, para prajurit memasukkan sebutir pil hitam yang sedikit lebih besar dari kuku jempol ke dalam mulut mereka masing-masing, lalu menelannya sembari mengunyahnya kuat-kuat.

Obat itu adalah pasokan khusus yang dipersiapkan untuk mereka.

Nama obat itu adalah Carni Festa, yang bermakna festival meminum darah dan mengunyah daging mentah.

Glek, kraaak!

Sebagian menelannya langsung, sebagian lagi mengunyahnya hingga hancur sebelum menelannya ke tenggorokan.

Tak lama kemudian, raungan-raungan gila meledak dari dalam barisan pasukan mereka.

"Gwaaaaarrrgh!"

"Khaaaaargh!"

"Kikikikikik!"

Semua prajurit seketika kehilangan akal sehat dan urat-urat darah memerah pekat memenuhi mata mereka.

Otot-otot di sekujur tubuh mereka membengkak mengerikan dan pembuluh darah kebiruan menjalar menonjol di seluruh wajah mereka.

Mulai detik ini, untuk menetralkan racun mematikan dari obat tersebut, mereka harus meminum darah musuh dan mengunyah daging lawan mereka hidup-hidup.

Oleh karena itu, kini hanya ada satu premis tunggal yang tersisa di kepala mereka:

Mereka harus terus membantai dan bertarung jika ingin tetap hidup.

Bahkan para komandan di garis depan pun menelan obat yang sama persis.

Mulai saat ini, unit garis depan musuh telah menjelma menjadi kawanan berserker haus darah yang akan terus mengamuk hingga titik darah penghabisan.

Kondisi mereka mirip dengan Holy Berserkers yang menjadi kebanggaan Holy City Legion, tetapi mengingat mereka harus meminum darah dan mencabik daging musuh yang mereka bantai, kegilaan mereka jauh lebih menjijikkan dan mengerikan.

Meskipun bagi mata orang luar, para prajurit fanatik yang bertarung memuji cinta Tuhan sembari mabuk kesucian pun memperlihatkan kegilaan yang tak jauh berbeda.

"Dasar orang-orang gila."

Mulut Rem terbuka secara alami saat menyaksikan pemandangan itu.

Para Shaman dari wilayah Barat sangat akrab dengan berbagai ramuan dan racun.

Mereka kerap menggunakannya untuk mengacaukan kesadaran pikiran agar roh mudah merasuki tubuh.

Karena itu, Rem bisa langsung mengenali apa yang sedang terjadi pada pasukan musuh.

"Kejar mereka!"

Rem menilai bahwa ia tidak boleh membiarkan pasukan gila itu menghantam barisan sekutu dalam kondisi seperti ini.

"Baunya sangat menjijikkan."

Menerima instruksi Rem, Dunbakel dan Rem bersiap melesat mengejar bagian belakang pasukan musuh.

Tepat pada detik itu, hawa pembunuh yang pekat menusuk punggung mereka berdua seolah telah menanti sejak tadi.

Rem dan Dunbakel memutar tubuh mereka secara bersamaan.

Srat!

Gerakan menolehkan kepala dan mengambil jarak ke kiri dan ke kanan bergerak sangat serasi layaknya pantulan di cermin.

Tentu saja, reaksi gerak berikutnya sangat bertolak belakang.

Rem mengangkat kapaknya sejajar dengan dada, sementara Dunbakel merendahkan tubuh menekan tanah dengan tangan dan kakinya, mendongakkan kepala sembari memperlihatkan taring tajamnya.

Grrrrrrr.

Insting binatangnya bangkit dan memuntahkan geraman buas dari tenggorokannya.

Dua sosok mengenakan topeng hitam pekat melangkah maju menghadang mereka.

Topeng tanpa lubang mata.

Hanya permukaan hitam legam yang pekat.

Suara deru napas mereka tidak terdengar, dan ekspresi wajah mereka mustahil terbaca.

Tentu saja, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.

Kedua sosok misterius itu masing-masing memegang senjata.

Sebuah trisula dan sebuah longsword.

Lawan Rem adalah pemegang trisula, sementara Dunbakel berhadapan langsung dengan sosok pembawa pedang panjang.

Kedua ksatria bertopeng itu melangkah maju seolah telah memperhitungkan segalanya dan sengaja memilih lawan yang paling menguntungkan bagi gaya bertarung mereka masing-masing.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.