Eternally Regressing Knight

Bab 881: Menebus Dosa dengan Jasa

3081 Kata

Bab 881: Menebus Dosa dengan Jasa

Wuuush—!

Gemuruh deru angin yang menyapu melintasi kepalanya berhembus teramat kencang.

Apakah suara semacam ini yang bakal tercipta jika seekor naga legendaris membuka moncongnya lalu menyemburkan nafas api murni?

Kenyataan bahwa seseorang sanggup makan, tidur, dan beristirahat dengan tenang di tengah situasi seekstrem ini adalah bukti nyata bahwa sosoknya telah melangkah keluar dari batas kewajaran manusia biasa.

Dalam pengertian tersebut, sosok Encrid jelas telah menyimpang jauh dari kategori orang biasa.

Meski ia lebih condong mengandalkan kerja keras daripada bakat alami, jika menilainya hanya dari apa yang ia tampilkan saat ini, pembawaannya jauh lebih mencerminkan sosok ksatria sejati daripada siapa pun.

Bukankah orang-orang kerap menjuluki seorang ksatria sebagai bencana hidup semata-mata karena mereka melangkah di luar batas akal sehat?

Oleh karena itu, dari satu sudut pandang, hal semacam ini terasa sangat alami.

Tentu saja tidak semua ksatria sanggup bertindak segila ini.

Sosok pemuda yang berada sepenuhnya di luar batas akal sehat itu kini sedang tenggelam dalam keheningan berpikir.

'Apakah wilayah bangsawan viscount itu sedang terbakar hangus?'

Bagaimana dengan nasib sebagian prajurit garnisun Border Guard yang ditugaskan di sana?

Bukankah Krais sempat mengirimkan pasukan dua kali lipat lebih banyak dari biasanya karena merasa sangat cemas?

Begitu Krais mendengar kabar tentang meletusnya perang dengan pihak South, pria itu langsung melipatgandakan jumlah pasukan yang dikerahkan ke wilayah Harrison Viscounty.

'Pria itu pun menambah jumlah regu pengintai secara signifikan.'

Apa yang pernah diucapkan oleh Finn, kapten pengintai yang bertugas memimpin patroli di pegunungan Penn-Hanil selagi merancang rute patroli dan mengoordinasikan unit-unit pengintai di perbatasan selatan Border Guard serta area hutan dan padang rumput termasuk wilayah Harrison Viscounty, terasa sangat membekas di ingatannya.

"Kawanan semut pekerja pun tidak akan pernah berlari kesana-kemari serajin dan sepayah ini."

Meski separuhnya berupa gerutuan kesal, wanita itu tetap menuntaskan tugasnya dengan sempurna.

Begitulah sosok dari sang Kapten Pengintai Finn.

Di sela-sela waktu tersebut, Krais bahkan sempat memanggil Seiki ke kota—seorang mantan saintess suci yang kini beralih profesi menjadi seorang Penn-Hanil Ranger, yang bermimpi menjadi seorang Highlander petualang yang tidur dan makan di alam bebas pegunungan, dengan ambisi menjadi seorang petarung mandiri.

Sejak saat itu, Krais selalu memanjatkan doa khusyuk setiap hari kepada Dewi Takdir dan Keberuntungan, memohon agar Esther segera kembali dengan selamat.

Seluruh persiapan itu adalah apa yang dilakukan Krais tepat sebelum meninggalkan kota.

"Sungguh pemandangan yang sangat indah melihatmu mendoakan keselamatan wanita lain dengan begitu khusyuk."

Betapa tragisnya ekspresi wajah Krais kala itu saat ditegur dingin oleh Nurat atas tindakannya.

"Lihatlah ini, Kapten. Sosokku yang rela menumbalkan kebahagiaan pribadiku demi kemaslahatan kota ini. Kau bisa mengukir kalimat megah ini di batu nisanku kelak: Krais, tewas di tangan kekasihnya sendiri demi keselamatan kota."

Sanggup memperagakan drama kepahlawanan tragis dan lelucon konyol secara simultan adalah sebuah bakat istimewa tersendiri.

Alasan kenapa pria itu sampai membuat kehebohan semacam itu kemungkinan besar karena rasa cemas di hatinya memang sebesar itu.

Nurat mengangguk pelan lalu meletakkan telapak tangannya di gagang pedang.

Sring-ting! Suara bilah pedang yang meluncur keluar dari sarungnya berdentang renyah.

Encrid diam-diam merasa sangat kagum menyaksikannya.

Teknik mencabut pedang milik Nurat kini telah menjadi berkali-kali lipat lebih rapi dan bersih daripada sebelumnya.

Gerakan membuka kunci sarung dan menghunus bilah pedang tampak menyatu dalam satu tarikan napas tunggal.

Itu menandakan bahwa keahlian berpedang sang gadis telah berkembang dengan sangat pesat.

Sebuah bukti nyata bahwa ia tidak pernah berhenti mencurahkan kerja keras, terlepas dari apa pun bakat yang dimilikinya.

Sebuah kemahiran yang sangat layak disandang oleh sosok kekasih sekaligus pengawal pribadi Krais.

"Apakah kita boleh menelantarkan Viscount Harrison begitu saja?"

Krais segera mengalihkan topik pembicaraan dengan kilat.

Apa alasan pria itu menanyakan sebuah hal yang sudah ia ketahui jawabannya dengan pasti?

Itu hanyalah sebuah manuver menghindar demi menyelamatkan lehernya dari sabetan pedang sang kekasih.

Demi menyelamatkan sosok pria yang rela menjulurkan lehernya di atas mata pedang kekasihnya demi melindungi kota, Encrid menyambut operan topik tersebut dengan sukarela.

Ia menyampaikan ketetapan tekadnya dengan menggelengkan kepalanya secara horizontal.

"Yah, sudah pasti itu adalah jawaban yang paling jelas."

Raut wajah Krais berubah muram dan kuyu selagi berujar pelan.

Kedua sudut matanya terkulai lemas dan parasnya tampak kian pucat pasi.

Segala macam rasa cemas sedang menyiksa ketenangan batinnya.

Dan semata-mata karena alasan itulah ia selalu bersiap menyambut segala potensi bahaya terburuk.

Melalui kilas balik percakapan dengan Krais tersebut, Encrid mengenang kembali paras wajah sang bangsawan yang menjadi tokoh utama dalam perbincangan itu.

'Viscount Harrison.'

Sosok pria terhormat yang pernah menghadiahkan air mata air suci yang diminum oleh Odd-eye, kuda terbang yang saat ini sedang mengepakkan sayapnya di bawahnya.

Meski berstatus sebagai seorang bangsawan paruh baya, ia adalah pria yang memiliki binar mata polos layaknya seorang bocah laki-laki berusia tiga belas tahun.

"Aku akan membuka dan menggarap lahan tanah ini!"

Betapa bersemangatnya raut wajah sang bangsawan saat melontarkan deklarasi tersebut dahulu kala.

Di wilayah teritorinya, seluruh warga mendedikasikan hidup untuk meriset metode penanaman dan pembudidayaan tanaman pangan.

Ia mendengar kabar bahwa sang bangsawan bahkan berhasil membangun perkebunan anggur yang subur dalam proses tersebut.

Sama sekali tidak masalah jika perkebunan anggur itu kelak terbakar hangus dan tenda-tenda kaca yang dibanggakannya robek berantakan.

'Jika bangunannya runtuh, kita hanya perlu membangunnya kembali dari awal.'

Hal yang paling esensial adalah bertahan hidup tanpa kehilangan nyawa.

Apakah ada hal yang bakal berubah jika ia menambah beban kecemasan di dalam kepalanya saat ini?

Sama sekali tidak.

Menghentakkan kedua kakinya di perut Odd-eye tidak akan membuat kuda terbang itu melaju lebih cepat dari batas kemampuannya.

Oleh karena itu, sekarang bukanlah saat yang tepat untuk meratapi kecemasan.

Encrid mengalihkan alur pemikirannya ke arah lain.

Membalikkan satu pemikiran dan memunculkan pemikiran lainnya memang tidak semudah membelokkan saluran air, namun setelah bertahun-tahun melatihnya hingga menjadi kebiasaan alami, hal ini pun kini terasa sangat mudah baginya.

'Selalu ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari setiap pengalaman hidup.'

Sebuah kebenaran mutlak yang ia pahami luar kepala.

Karena merasa cemas tidak akan mengubah kenyataan apa pun, ia memasuki ruang latihan mental di dalam kepalanya.

'Dua ksatria musuh tadi.'

Mereka bertarung dengan sangat luar biasa.

Bukan sekadar hebat, mereka bahkan telah memperhitungkan dan menyusun kerangka taktik sebelum bilah senjata mereka saling beradu.

Adalah sebuah kebohongan besar jika ia mengatakan dirinya tidak merasa terkesan oleh kelihaian mereka.

Namun selagi kedua ksatria itu mempelajari aspek taktik tempur lewat lebih dari lima ratus kali simulasi pertempuran di lingkungan tertutup ordo ksatria mereka, Encrid telah bergulat dan merangkak di dasar lumpur sebagai seorang tentara bayaran dan pemandu jalan, belajar, mengalami, merenungkan, dan menguasai ilmu bela diri selagi mempertaruhkan seluruh nyawanya di garis maut.

Dan setelah itu, ia menyerap wejangan langsung dari seekor Frog yang telah hidup selama lebih dari dua ratus tahun dan mendedikasikan eksistensinya untuk mendalami seni taktik dan strategi militer.

Alur pemikirannya terus berlanjut.

Di luar kelihaian taktik, kedua ksatria tadi memperlihatkan keunikan lain yang jauh lebih mencolok.

Hal yang satu itu pun sangat mengesankan baginya.

'Kemampuan khusus.'

Keduanya terlahir dengan bakat supranatural yang teramat istimewa.

Satu sanggup mengendalikan kekuatan fisik monster, dan yang lainnya menguasai daya gerak tak kasat mata seperti sepasang tangan gaib.

Encrid telah berulang kali memuntahkan darah segar demi meraih kepadatan kekuatan otot yang ia miliki saat ini.

Itu bukanlah sebuah kiasan metaforis belaka; ia benar-benar memuntahkan darah selagi merombak struktur raganya.

'Saudaraku, apa kau pikir semua otot di tubuh manusia itu sama saja?'

Postur tubuh Audin bukan semata-mata berukuran besar.

Serat-serat otot yang menyusun raganya memiliki tingkat kepadatan massa yang sepenuhnya berbeda dari manusia biasa.

Encrid turut merekonstruksi struktur fisiknya berlandaskan ajaran manusia beruang tersebut.

Doktrin Audin menegaskan bahwa untuk membangun raga yang sejati, seseorang tidak hanya harus memuntahkan darah, melainkan wajib melatih dan memperkuat ketahanan organ-organ di dalam tubuhnya.

Bahkan bagi Encrid sendiri, metode itu adalah sebuah siksaan neraka yang secara alami akan membuatnya mengernyit ngeri jika dipaksa mengulanginya untuk kedua kalinya.

Terlebih lagi, bahkan sang Ferryman pun menyetujui kengerian tersebut.

"Jangan pernah mengulangi hari ini lagi. Melangkahlah menuju hari esok."

Entitas misterius itu terkadang muncul di alam mimpinya dan melontarkan peringatan tersebut.

Begitu mengerikannya tempaan neraka yang ia jalani di masa lalu.

Itulah masa-masa yang telah ia lalui.

Apakah kedua ksatria musuh tadi menjalani tempaan neraka yang serupa?

Apakah mereka memiliki serat-serat otot dengan kepadatan massa yang abnormal seperti itu?

Apakah mereka menjejali tubuh mereka dengan gumpalan otot buas layaknya binatang buas?

Apakah mereka menerapkan teknik mengalirkan Will selagi merombak struktur raga mereka?

Apa yang dipraktikkan oleh Encrid adalah kombinasi dari teknik rahasia bela diri gaya Valaf dan mencuri metode latihan bangsa raksasa yang disesuaikan untuk tubuh manusia.

Namun kedua ksatria musuh tadi tidak seperti dirinya.

Tubuh mereka sama sekali tidak ditempa melalui proses rekonstruksi semacam itu.

Encrid menyadari hanya dalam satu kali pandang bahwa struktur raga ksatria wanita musuh itu berbeda dari tubuhnya sendiri.

Itu adalah massa otot dengan tingkat kepadatan yang tergolong sangat biasa.

Namun kekuatan otot sesaat yang sanggup diledakkan wanita itu berada pada tingkatan yang mustahil untuk diremehkan.

Wanita itu mengerahkan kekuatan fisik yang jauh melampaui batas wajar penampilannya.

'Sebuah kekuatan monster bawaan lahir.'

Dan ksatria penombak di sampingnya seolah-olah memiliki sepasang tangan tak kasat mata tambahan yang tumbuh dari raganya.

'Apakah musuh-musuh yang bakal kutemui di masa depan kelak akan menggunakan kemampuan aneh serupa?'

Orang-orang kerap mengatakan bahwa negeri adidaya South, Lihin-Stetten, sangat mengagungkan kemurnian garis keturunan darah khusus, dan kenyataannya memang ada begitu banyak sosok berbakat luar biasa yang lahir di sana.

Ia telah berhadapan dengan dua orang ksatria semacam itu dan membantai mereka berdua.

Apakah ada krisis maut dalam hasil duel tersebut?

Sebuah marabahaya?

Apakah tingkatan kekuatannya saat ini sudah layak disebut sebagai puncak tertinggi dari ilmu bela diri?

Beberapa pertimbangan melintas silih berganti, memutarbalikkan isi kepalanya, dan sebuah kesimpulan matang akhirnya mengkristal.

'Kekuatan tempur sejati dari Lihin-Stetten masih belum sepenuhnya terungkap ke permukaan.'

Itu adalah gambaran masa depan yang ia saksikan melalui ketajaman intuisi dan indera keenamnya.

Odd-eye mulai menurunkan ketinggian terbangnya menuju ke permukaan bumi.

Encrid menatap hamparan bentang alam yang terasa sangat akrab di bawahnya.

Lahan-lahan tanah yang digarap dalam berbagai bentuk demi membudidayakan tanaman pangan.

Setiap petak memiliki wujud yang teramat unik.

Beberapa titik memiliki gundukan parit tanah yang digali rapi, dan di titik lainnya berdiri tenda-tenda raksasa yang membentang luas.

'Metode rahasia demi mempertahankan kestabilan suhu udara bahkan di tengah musim dingin yang membeku.'

Itu adalah inovasi agrikultur baru yang lahir dari keringat kerja keras dan riset selama bertahun-tahun, sebuah perpaduan sejati antara waktu dan ketekunan.

Di samudra luas, ada seekor monster bernama Siren yang gemar memikat dan memangsa makhluk-makhluk berakal budi.

Sisik-sisik dari monster Siren berstruktur tipis, teramat kokoh, dan sanggup meneruskan cahaya tembus pandang.

Sudah sewajarnya jika sisik itu menjadi komoditas barang yang sangat mahal.

Dahulu kala ketika tren busana berbahan sisik Siren sedang marak digandrungi oleh para wanita bangsawan, harganya bahkan melambung jauh lebih mahal daripada keping emas murni dengan bobot yang setara.

Sebuah lembaran kain yang jauh lebih berharga daripada mayoritas batu permata langka.

'Seorang pria yang benar-benar tergila-gila pada dunia pertanian.'

Pemikiran semacam itu meluncur secara alami di benaknya.

Viscount Harrison mengumpulkan sisik-sisik Siren yang teramat berharga itu lalu menggunakannya sebagai atap tenda perkebunannya.

Lapisan kulit bersisik itu sanggup meneruskan dan mengurung pancaran cahaya di dalamnya.

Orang-orang awam mungkin tidak terlalu memahaminya, namun sisik Siren memiliki karakteristik khusus yang sanggup menyerap sinar matahari dan mengumpulkan energi panas di dalamnya.

Pada tingkatan suhu sehangat itu, kuntum-kuntum bunga musim semi pun akan mekar merona, bukan sekadar tanaman pangan musim dingin belaka.

"Sedikit lagi aku hampir bangkrut. Aku telah menuangkan separuh dari seluruh aset kekayaan yang kumiliki demi proyek ini!"

Viscount Harrison pasti akan mengoceh bangga seraya memamerkan senyuman cerah di sekujur wajahnya.

Pria itu benar-benar tampak menikmati apa yang sedang ia tekuni dalam hidupnya.

Tenda-tenda kaca raksasa itu masih berdiri kokoh seperti sediakala.

Suasananya terasa sangat damai dan tenteram.

Barisan pasukan yang berjejer rapi di samping tenda-tenda hangat yang tak ubahnya anak-anak kandung Viscount Harrison itu tertangkap oleh pandangan mata Encrid.

"Odd-eye."

Odd-eye meluncur turun ke bawah seraya melukis lengkungan kurva yang anggun di udara.

Kuda bersayap ini pun kini telah menjadi berkali-kali lipat lebih terbiasa terbang daripada sebelumnya.

Ia tidak lagi menukik jatuh secara serampangan seolah hendak menghantam tanah seperti dulu.

Ia mengayunkan sayapnya anggun, menunggangi hembusan angin, meluncur turun melukis pola spiral yang indah, lalu menjejakkan keempat kakinya mulus di atas tanah.

Sebuah pendaratan yang teramat mulus tanpa guncangan.

Tentu saja bagi orang-orang yang menyaksikannya dari bawah, pemandangan itu terasa sangat mengagetkan dan mencengangkan.

Wuuush!

Bersamaan dengan mendaratnya Odd-eye, hempasan angin kencang berputar menerbangkan debu-debu tanah di sekitarnya.

Encrid yang turun dari pelana dengan membelakangi sinar matahari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Ada beberapa wajah yang terasa sangat akrab baginya.

Beberapa di antara mereka telah mencabut kapak tempur mereka dan menggenggamnya siaga di tangan.

Salah seorang prajurit bahkan telah memiringkan tubuhnya ke belakang, bersiap melemparkan kapaknya secara mendadak.

"Viscount Harrison."

Encrid membuka suaranya begitu kakinya menginjak tanah.

"...Tuan Encrid?"

Sang viscount bertanya balik dengan kedua bola mata yang membelalak lebar seolah hendak melompat keluar dari rongganya.

"Apakah tidak ada serangan musuh di wilayah ini?"

Sebuah pertanyaan yang dilontarkan dengan nada teramat tenang.

Sang viscount menyahut secara refleks.

"Mereka melintas begitu saja. Maksudku... pasukan musuh baru saja lewat melintasi perbatasan kita tanpa menyerang. Apa tadi sebutan dari unit pasukan musuh itu? Korps Tanah?"

"Bukan itu, melainkan Korps Tanah Kuning, Yellow Soil Corps, yang melambangkan ordo Mud Knights."

Encrid memang tidak memahami struktur detailnya, namun jika tradisi militer Naurillia adalah menamai divisi pasukan berdasarkan nama sang ksatria pelindung, maka negeri South sangat tersohor lewat lima korps pasukan besar yang dibentuk selaras dengan nama ordo ksatria mereka.

Keterangan itu baru saja disuarakan oleh salah seorang anggota regu penyerbu milik Rem yang berdiri di dekatnya.

Meski Encrid tidak mengetahui detail birokrasi tersebut, ia sanggup membaca garis besar situasinya melalui ketajaman intuisinya.

"Pasukan dari Lihin-Stetten?"

"Benar sekali, Komandan."

Sebagian besar anggota regu penyerbu Rem memang memiliki watak liar yang keras kepala, namun tidak semuanya seperti itu.

Sosok yang melangkah maju saat ini adalah salah seorang komandan regu penyerbu yang tergolong sangat mudah untuk diajak berkomunikasi.

"Bajingan-bajingan itu bergerak lurus menuju ke arah Border Guard."

"Berapa estimasi jumlah pasukan mereka?"

"Setidaknya ada lebih dari tiga ribu prajurit."

Jumlah yang berkali-kali lipat lebih masif daripada unit penyusup yang bergerak menuju ibu kota tadi.

Selisih perbedaannya berkisar sekitar tiga kali lipat.

Kenapa?

Ia sama sekali tidak sanggup menebak alasan kenapa ada disparitas jumlah yang begitu mencolok di antara kedua unit ini.

Lalu kenapa mereka membiarkan wilayah Harrison Viscounty tetap utuh tanpa disentuh?

Informasi intelijen yang dimilikinya saat ini terlalu minim untuk sanggup memastikan motif di baliknya.

Namun kepalanya berdenyut tajam, dan rentetan pertimbangan taktis meluncur susul-menyusul di dalam benaknya.

'Alasan mereka menghindari pertempuran yang tidak perlu adalah demi menjaga keutuhan kekuatan pasukan, dan jika mereka memiliki target objektif yang jelas, mereka tidak akan sudi membuang-buang waktu berharga.'

Seorang perwira komandan yang ulung tahu betul apa yang wajib diselesaikan terlebih dahulu.

"Mereka tampak melaju maju tanpa keraguan sedikit pun," imbuh sang komandan regu penyerbu.

"Ayo kita berangkat."

Encrid segera mendorong Odd-eye untuk kembali bergerak.

Odd-eye berlari kencang lalu kembali mengepakkan sayapnya membubung ke angkasa.

Ini sudah merupakan manuver berlari dan terbang yang ketiga kalinya sebelum hari berganti malam penuh.

Negeri adidaya Lihin-Stetten pada mulanya memiliki lima ordo ksatria agung: Ruby, Amethyst, Sapphire, Mud, dan Onyx Knights.

Saat ini hanya tersisa tiga ordo besar yang masih aktif: Ruby, Amethyst, dan Mud Knights.

Amethyst Knights adalah kelompok bangsawan terkemuka yang mewakili keluarga-keluarga aristokrat turun-temurun, sementara Ruby Knights adalah wadah terbuka yang menerima siapa pun tanpa memandang status sosial selama memiliki bakat ilmu bela diri yang luar biasa.

Dan ordo Mud Knights beserta divisi bawahannya, Yellow Soil Corps.

"Menebus dosa dengan jasa."

Sebuah resimen militer yang mengibarkan panji perang dengan semboyan tersebut.

Mereka adalah barisan keturunan dari para pendosa dan narapidana kelas berat.

Oleh karena itu, ini adalah sebuah korps militer dengan penegakan disiplin yang teramat kejam, hingga mereka mengoperasikan unit pengawas pemenggal kepala yang terpisah.

Mundur dari medan tempur berarti kematian instan, dan melanggar disiplin militer diganjar hukuman mati yang mengerikan.

Jika seluruh ordo ksatria Lihin-Stetten pada mulanya dibentuk terlebih dahulu sebelum unit pasukan bawahannya diciptakan, maka Korps Tanah Kuning, Yellow Soil Corps, adalah kebalikannya.

Korps narapidana ini tercipta terlebih dahulu di medan lumpur, dan ksatria-ksatria tangguh yang lahir dari pertumpahan darah medan tempur itulah yang kelak dilantik menjadi ordo Mud Knights.

"Tujuan akhir pergerakan kita adalah membakar habis Border Guard!"

Komandan tertinggi Mud Knights melangkah memimpin barisan bersama dua orang ksatria bawahannya.

Tiga ribu prajurit narapidana ini adalah bidak-bidak maut yang siap mati seketika hanya dengan satu kali perintah serbuan tunggal.

Benar-benar tak ubahnya sebatang anak panah yang ditembakkan lepas dari busurnya tanpa ada niat sedikit pun untuk dipungut kembali.

Kecuali tiga orang ksatria dan sebagian perwira pengawas militer, korps ini adalah kekuatan tempur yang sama sekali tidak dipedulikan apakah mereka bakal kembali hidup-hidup atau tewas membusuk di negeri orang.

Inilah cara berperang khas negeri adidaya Lihin-Stetten.

Apakah The Madmen Knights di kota benteng Border Guard terasa teramat merepotkan dan menjadi duri dalam daging?

Maka bakar hangus sarang markas utama mereka hingga rata dengan tanah!

Bagaimana caranya?

Dengan membakar tubuh para prajurit narapidana itu dengan kobaran api lalu menerjangkannya membabi buta ke dalam kota!

Negeri mana yang paling lihai dalam seni berperang di seantero benua ini?

Di mana ras manusia yang paling haus akan pertumpahan darah bermukim?

Siapakah raja yang memiliki ambisi penaklukan paling buas di muka bumi?

Seluruh jawaban mutlak itu bersemayam di wilayah South yang berbatasan langsung dengan neraka Demon Realm.

Mereka tumbuh dewasa dengan mencampurkan tetesan darah merah manusia di atas genangan darah hitam legam milik para monster.

Hawa kelam yang pekat senantiasa menyelimuti wilayah perbatasan Demon Realm.

Jika seekor demon agung memperluas wilayah kekuasaannya, sebuah kota berpenduduk padat sanggup lenyap dalam semalam penuh.

Tempat mengerikan semacam itulah negeri South.

Sebuah panggung opera terkutuk di mana malam abadi, kegelapan pekat, keputusasaan, dan rasa frustrasi terus bergulir tanpa akhir.

"Mari kita melangkah maju, demi mencabik-cabik daging lunak kota benteng tersebut!" seru sang komandan ordo memimpin di depan.

"Tebus dosa dengan jasa!"

"Menebus dosa dengan jasa!"

Karena ini adalah metode pengampunan dosa jika mereka berhasil menorehkan jasa militer berdarah, maka keluarga dari prajurit yang tewas di tempat ini tidak akan lagi menyandang status aib sebagai keturunan penjahat.

Oleh karena itu, mereka akan membuang nyawa mereka dan bertarung hingga tetes darah penghabisan.

Jika seorang ksatria musuh sanggup membantai seribu prajurit, maka seribu lima ratus prajurit narapidana akan merangsek maju menerkamnya, dan bahkan jika seluruh rekannya tewas bergelimpangan, mereka rela berkorban asalkan prajurit terakhir yang tersisa sanggup menancapkan sebilah pedang menembus raga sang ksatria.

Mereka melangkah santai dan berbaris mantap menyusuri jalan raya keselamatan yang dahulu kala pernah diratakan dan dibangun dengan susah payah oleh Border Guard.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.