Bab 858: Sosok yang Pantang Melupakan Budi
"Saudariku, kita harus memisahkan diri sejenak dari barisan."
Audin membuka suaranya sembari menyapu pandangan matanya mengamati lingkungan di sekeliling mereka.
Tersaji banyak sekali tenda militer yang menguarkan aroma busuk nan menyengat.
Agenda menghadap Yang Mulia Raja serta jajaran komandan pembela garis depan ini adalah kewajiban tugas yang diemban oleh sang komandan ksatria.
Pria manusia beruang itu telah menemukan sebuah tanggung jawab darurat yang jauh lebih mendesak.
Audin adalah sesosok biarawan kuil yang pantang melupakan kewajiban sucinya.
'Guru dan ayahanda tempo dulu berpesan agar kita pantang memalingkan pandangan mata dari kaum yang tengah menderita sakit dan tersiksa.'
Dia pun merupakan sesosok hamba beriman yang setia mematuhi wejangan sang guru dan ayahandanya.
"Siap, saudaraku."
Theresa menganggukkan kepalanya patuh.
Gadis itu pun setia menelusuri ajaran-ajaran luhur yang tercatat di dalam lembaran kitab suci kuil.
Meskipun banyak kalangan kerap melabeli para Rasul Perang (War Apostles) sebagai sekumpulan orang-orang fanatik yang haus darah pertempuran, pada hakikat terdalamnya mereka berdua adalah hamba-hamba beriman yang teguh menaati firman Tuhan.
"Saudaraku," panggil Audin menatap ke arah Encrid.
Sorot pandangan mata Ingis turut terarah mengikuti pergerakan sang ksatria manusia beruang.
Encrid menganggukkan kepalanya tanda mengizinkan.
Di mata pemuda itu pun atmosfer yang menyelimuti perkemahan ini tampak teramat mengkhawatirkan.
Segenap hawa pertanda buruk yang sempat dia rasakan di sepanjang perjalanan menuju kemari seolah-olah telah terhimpun memadat dan mengendap stagnan di tempat ini.
Guyuran air hujan yang membasahi bumi memang mengalir menyusuri parit-parit drainase, namun hawa kejahatan racun yang dibawanya telah menggenangi seisi perkemahan militer, menyulapnya tak ubahnya sebuah danau raksasa.
Sebuah danau pekat yang dipadati oleh hawa kejahatan, pertanda buruk, serta kabut abu-abu berselimut jelaga.
"Lakukanlah apa pun yang memang harus kalian tuntaskan."
Encrid paham betul perihal keagungan daya keilahian yang bersemayam di dalam jiwa kedua biarawan tersebut.
Pemuda itu pun sanggup mengendus pekatnya aroma busuk penyakit di udara.
Dunbakel sedari tadi bahkan telah memencet hidungnya rapat-rapat menggunakan kedua jemarinya.
"Kalu teluth begini, indla penthiumanku bithal lumpuh total!"
Murni karena gadis itu berbicara sembari menjepit batang hidungnya, makna artikulasi suaranya terdengar teramat sengau dan kacau.
"Gadis manusia binatang itu barusan berkata, 'Kalau terus begini, indra penciumanku bakal lumpuh total,'" sang Dragonkin seketika menerjemahkan isi kalimatnya.
"Siapa pun sanggup memahami maksud kalimatnya bahkan tanpa perlu kau terjemahkan," tegur Luagarne.
"Begitu rupanya," sahut sang Dragonkin datar.
Makhluk itu bertanya apakah jasanya barusan turut dihitung sebagai pemotongan biaya pertemanan, dan Luagarne menegaskan bahwa hal itu sama sekali tidak dihitung.
Ingis menolehkan kepalanya ke belakang sesaat, memantapkan kembali keteguhan hatinya yang sempat terguncang halus.
'Bagaimana mungkin kau berharap kedua lenganmu pantang goyah andai poros pusat keteguhan batinmu tidak stabil?'
Itu adalah prinsip dasar paling fundamental di dalam ilmu pedang.
Itulah doktrin luhur yang dia serap dari sang guru.
Bilah pedang yang lurus selalu berakar dari palung hati yang teguh dan lurus.
Hanya lewat batin yang pantang goyah lah seseorang sanggup mengayunkan bilah pedangnya secara presisi mematikan.
Kesadaran batinnya yang sempat terdistorsi sesaat oleh celotehan konyol para ksatria abnormal seketika kembali tegak kokoh.
Ingis mengamati barisan The Order of the Madmen Knights dengan saksama.
'Mereka benar-benar sangat berbeda.'
Pria itu merasakan sebuah ilusi magis di mana hawa kelam yang menyelimuti perkemahan ini seolah-olah sama sekali tidak sanggup menyentuh jubah mereka.
Secara sederhana:
'Pancaran aura keberadaan mereka berada di dimensi yang terpisah.'
Terasa sedemikian ringan dan hangat.
Bahkan andai mereka tidak mengetahui seluk-beluk detail malapetaka yang telah meletus di tempat ini, sesosok ksatria sejati sudah seharusnya sanggup membaca betapa kritisnya situasi murni menilik dari atmosfer lingkungan sekitar.
Namun sosok Encrid sama sekali tidak terpengaruh sedikit pun.
Dan fenomena tersebut bukan sekadar memancar dari sang komandan seorang, melainkan menyelimuti segenap anggota ordonya.
"Mengapa kau tidak sanggup mengendus aroma bau busuk yang menguar dari tubuhmu sendiri?" tegur Encrid mencemooh sang gadis beastkin.
Intonasi nada suaranya sama sekali tidak terdengar tegang.
"Bahkan binatang buas di alam liar sekalipun pada hakikatnya tidak pernah menyadari aroma bau tubuh mereka sendiri. Itulah alasan mengapa para pemburu berpengalaman selalu melumuri tubuh mereka menggunakan kotoran binatang buruan kala melangsungkan perburuan," timpal Rem membagikan wawasan berburunya.
"Maksudmu kau berniat melumuri sekujur tubuhmu menggunakan kotoran buang air besarku?!" seru Dunbakel sembari melepaskan jepitan di hidungnya.
Gadis itu bagaimanapun juga adalah sesosok ksatria sejati.
Dia paham betul bagaimana cara mengendalikan kepekaan indrawinya.
Hanya saja ketajaman indra penciuman milik bangsa beastkin terlampau sensitif sehingga dirinya membutuhkan waktu sesaat untuk beradaptasi.
"Bukan, maksudku aku berniat membelah tengkorak kepalamu lalu melumuri sekujur tubuhku menggunakan kucuran darah kepalamu," semprot Rem membalas celotehan menjijikkan Dunbakel.
"Astaga, bajingan ini benar-benar selalu mengancam ingin membelah kepalaku di setiap kesempatan! Sungguh keterlaluan!" seru Dunbakel membela diri.
"Tutup mulut kalian, dasar sekumpulan bajingan berisik!" Ragna seketika menyambar memotong keributan.
"Persetan dengan segalanya, ayo kita semua saling bunuh sekarang!" balas Rem sembari menyunggingkan senyuman iblisnya, dan persis seperti biasanya situasi seketika meluncur menuju ke jurang kekacauan total.
"Bagaimana dengan hasil taruhan jumlah pembantaian ghoul kita tadi? Mari kita tuntaskan di tempat ini detik ini juga. Pihak yang kalah wajib dihukum tinggal menetap bersama The Order of the Crimson Cloak Knights!" Fel melontarkan provokasinya dari samping.
"Bernaung bersama ordo ksatria terhormat ini pada hakikatnya adalah sebuah anugerah kehormatan agung yang tiada tara, dasar kau pria udik kampungan!" balas Ropord sengit.
"Kalau begitu tinggallah menetap di tempat ini selamanya, dasar manusia setengah matang!"
"Baguslah kalau begitu! Mari kita pastikan bahwa hanya salah satu dari kita berdua yang sanggup melangkah pulang dalam keadaan bernyawa hari ini!"
Sepasang pupil mata milik Ingis seketika kembali bergetar halus saking kagetnya.
'Apakah tinggal menetap bersama The Order of the Crimson Cloak Knights dinilai sebagai sebuah hukuman nista di mata mereka?!'
Sebaris sumpah serapah kotor—sebuah kalimat yang mungkin baru pernah dia lafalkan kurang dari tiga kali di sepanjang hidupnya—nyaris meluncur lepas dari bibirnya.
Pria itu memang tidak menyadarinya, namun bagi sosok Encrid, situasi saat ini sama sekali bukan merupakan sebuah krisis mematikan.
Dan segenap barisan ksatria yang dinaungi oleh pengaruh wibawa sang komandan sama sekali tidak goyah barang seinci pun.
Definisi krisis sejati di mata seorang Encrid tidak pernah berwujud seperti ini.
Hawa pertanda buruk yang pekat?
Sebuah divisi bala tentara yang diselimuti oleh kemuraman kelam?
Kondisi ini memang sangat suram.
Terasa sangat mencekam, menyesakkan rongga dada, serta terasa tak ubahnya melakoni sebuah pertempuran yang garis akhirnya telah memvonis kekalahan.
Sensasinya tak ubahnya seekor monster siluman purba raksasa tengah membuka rongga mulutnya lebar-lebar, siap mengunyah putus tengkorak kepalamu dan menelan jasadmu hidup-hidup.
Namun meski begitu, segenap rekan-rekan seperjuangannya saat ini menggenggam senjata pusaka di tangan mereka serta mengantongi kekuatan tempur untuk melawan.
Apakah dirinya terpaksa harus menyaksikan kematian seorang anak kecil murni karena dirinya tidak dibekali oleh kekuatan tempur?
Tentu saja tidak.
Apakah dirinya dipaksa harus berdiri mematung menyaksikan orang-orang yang berdiri di belakang punggungnya meregang nyawa murni karena dirinya tidak sanggup membantai bahkan seekor monster rendahan sekalipun?
Kenyataannya sama sekali tidak demikian.
Ratusan siklus kegagalan masa lalu kala dirinya gagal membentengi orang-orang terkasih murni akibat ketidakberdayaan ilmunya telah bertumpuk padat menuntun langkahnya hingga sanggup berdiri di titik ini.
Jalinan resonansi batinnya memang masih belum sempurna, namun senjata berinskripsi Dawnforged terhunus kokoh di pinggangnya, dan barisan ksatria monster The Order of the Madmen Knights berdiri teguh di samping sisinya.
Selama tersimpan hal-hal berharga yang sanggup dia eksekusi dan dirinya mengantongi kapasitas kekuatan untuk menuntaskannya.
Selama masih tersisa ruang suaka untuk terus mendesak maju tanpa kenal kata menyerah.
Mustahil bagi palung hatinya untuk remuk murni akibat teror keputusasaan semacam ini.
"Kalian dilarang keras menyulut perkelahian fisik di markas ini," tegur Ingis mencoba menertibkan barisan ksatria gila tersebut.
SRING!
Suara hunusan bilah pedang seketika berdenting jernih membelah keheningan udara.
Terlepas dari apakah guyuran air hujan membekukan temperatur udara di sekitar mereka atau tidak, aliran darah di sekujur tubuh para ksatria The Order of the Madmen Knights selalu mendidih panas membara.
Sama sekali tak ada seorang ksatria pun yang sudi menggubris teguran Ingis.
Sebuah kegaduhan seketika meletus di dalam kawasan perkemahan selatan.
Mendengar perdebatan perihal pasukan bala bantuan yang berniat saling bunuh satu sama lain, sebagian prajurit garnisun sekitar salah mengira bahwa para ksatria tersebut telah dirasuki oleh arwah penasaran jahat, sehingga kepanikan kecil mulai merayap meluas.
Manusia yang dirasuki oleh arwah penasaran jahat kerap mengocehkan igauan yang tidak masuk akal.
Sebagai contoh nyata, seorang prajurit jelata mendadak mendeklarasikan dirinya sebagai sang juru selamat agung yang bakal membentengi keselamatan tanah ini, menuntut seisi pasukan mengikutinya, lalu menghunus pedangnya dan berupaya menggorok lehernya sendiri.
Sangat jarang meletus, namun fenomena prajurit yang kerasukan arwah penasaran memang kerap terjadi di medan perang ini.
"Kalian benar-benar selalu membuat kegaduhan di mana pun kalian berada, persis seperti biasanya."
Itu memang bukan merupakan tenda militer yang paling megah, namun merupakan tenda yang paling bersih dan terawat.
Tepat di depan pintu masuk yang dimiringkan demi menepis terpaan air hujan, sesosok sahabat karib berambut pirang menatap lurus ke arah sosok Encrid lalu menyapanya ramah.
Sebatang tiang kayu panjang menopang kanvas pintu masuk tenda, dan tetesan air hujan mengalir menetes menyusuri kain terpal yang miring.
"Bukankah bakal terasa sangat aneh andai kami mendadak bersikap sangat hening?" balas Encrid sembari dengan santai melerai pertikaian konyol para ksatrianya.
Raja Krang menyunggingkan senyuman hangatnya lalu berujar,
"Selamat datang di medan laga, wahai Enki."
* * *
Audin menatap ke arah sepasang neraca timbangan suci yang bertengger di atas tiang kayu.
Itu adalah lambang suci dari sang dewi pelindung yang mendekap neraca keadilan semesta (Goddess of the Scales).
"Apakah sama sekali tidak ada pendeta kuil yang bertugas di garis depan pertempuran ini?"
Audin melontarkan pertanyaannya kepada seorang prajurit garnisun yang tengah melintas di dekatnya.
Prajurit itu tengah memikul sebuah helm baja yang penyok parah di samping pinggangnya.
Prajurit itu awalnya menolehkan kepalanya sembari memancarkan sorot tatapan mata yang teramat garang, namun seketika menyahut dengan nada yang sangat sopan dan patuh.
Betapa pun besarnya amarah yang membakar dada seseorang, menyaksikan postur tubuh Audin yang sebesar bukit batu karang serta sepasang kepalan tinjunya yang masif bakal seketika memaksa siapa pun bersikap sangat sopan.
Kecuali jiwamu tengah dirasuki oleh arwah jahat, tak ada pilihan lain selain bersikap tunduk.
"Siapakah Anda sebenarnya, Tuan?"
Prajurit itu menjalankan kewajiban tugasnya.
Mengingat pria raksasa ini berdiri di dalam area perkemahan, sosoknya jelas-jelas merupakan bagian dari sekutu, namun paras wajahnya sama sekali belum pernah dia lihat sebelumnya.
Audin tidak memperkenalkan identitas dirinya mengandalkan sulaman anak tangga di jubah pelindungnya.
Prajurit jelata semacam ini dipastikan tidak bakal mengenali nama besar The Order of the Madmen Knights.
"Aku adalah sesosok hamba sahaya yang mengabdi pada keagungan Dewa Perang."
"Ah, Anda adalah seorang pendeta tempur (martial priest)."
Pria raksasa ini jelas-jelas mengantongi perawakan tubuh yang teramat sempurna untuk menyandang status tersebut.
Wanita raksasa yang berdiri di belakang punggungnya—Theresa—pun memancarkan wibawa yang serupa.
Prajurit itu menyimpulkan bahwa keduanya adalah divisi pasukan bala bantuan yang diutus langsung oleh pihak kerajaan.
Namun kesimpulan tersebut seketika memicu sebaris tanda tanya besar di kepalanya.
Apakah sosok pendeta tempur merupakan figur yang paling dibutuhkan di garis depan detik ini?
Bukankah kehadiran seorang pendeta suci yang mengendalikan berkah keilahian (divine priest) berkali-kali lipat jauh lebih mendesak?
Prajurit itu terdiam merenung sesaat lalu membeberkan jawabannya.
"Jika Anda tengah memburu keberadaan para pendeta suci yang sanggup memanipulasi berkah keilahian murni, mereka seluruhnya saat ini tengah terbaring sekarat di atas ranjang medis."
Audin dan sang prajurit melangsungkan dialog mereka tepat di depan tiang Artefak Pusaka Suci.
"Dan..." prajurit itu bergumam lirih sembari menggerakkan bibirnya beberapa kali.
Pria itu tampak tengah memilih untaian kata-kata yang paling tepat.
Audin berdiri menunggu dalam keheningan membiarkan prajurit tersebut membuka suaranya.
Pria manusia beruang itu seketika teringat pada masa-masa kala dirinya mengemban tugas mendengarkan sesi pengakuan dosa umat di masa lampau.
Orang-orang yang benar-benar telah melakoni perbuatan dosa, mereka yang meyakini diri mereka telah berlumuran dosa, mereka yang memikul beban berat di dalam palung jiwa mereka, mereka yang dadanya terasa terhimpit oleh sebongkah batu karang, serta mereka yang tangannya gemetaran tepat setelah melemparkan batu penghakiman kepada orang lain.
Pria itu telah menyaksikan ribuan karakteristik manusia di sepanjang hidupnya.
Dia seketika teringat pada salah satu figur yang pernah dia saksikan di masa lampau.
Lebih presisi lagi, sesosok hamba Tuhan yang menyembunyikan keputusasaan batinnya di balik ketenangan lahiriah.
"Paling banter mereka murni hanya sanggup bertahan hidup selama satu bulan ke depan."
Bertolak belakang total dari untaian kalimatnya yang terdengar sangat sinis dan dingin, paras wajah sang prajurit tampak berkerut menahan siksaan rasa sakit yang teramat pedih.
"Apakah tersimpan sebuah pesan penting yang sesungguhnya ingin kau suarakan kepadaku?"
"Tidak. Sama sekali tidak ada."
Theresa mengamati gerak-gerik yang tengah dilakoni oleh sang kakak dalam keheningan.
"Pulangkanlah mereka kembali ke tanah kelahiran mereka. Mereka sama sekali bukan orang-orang yang pantas meregang nyawa di tempat terkutuk semacam ini."
Prajurit itu membalikkan badannya membelakangi mereka.
Sembari memikul helm bajanya yang penyok, prajurit itu melangkahkan kakinya menjauh diiringi derap langkah yang terasa teramat berat.
Nama prajurit tersebut adalah Rapild.
Prajurit Satu Rapild memikirkan nasib dari sekelompok pendeta suci yang kini tengah terbaring sekarat di atas ranjang barak medis.
'Jika sepasang tangan kami memang mutlak dibutuhkan di tempat ini demi merawat prajurit yang terluka, maka kami wajib tetap bertahan di tempat ini hingga akhir.' Salah seorang pendeta tua tempo dulu pernah menyuarakan ikrarnya.
Mereka adalah sekelompok ordo pendeta tanpa nama.
Lima orang di antara mereka telah berhasil membangkitkan berkah keilahian murni; sementara lima orang lainnya murni merupakan orang-orang jelata biasa.
Mereka adalah sekumpulan orang-orang berhati mulia yang mendedikasikan hidup mereka demi merawat para prajurit yang terluka dan sekarat.
'Apakah adik perempuanmu tengah menderita sakit parah di kampung halamanmu? Bersyukurlah, aku secara kebetulan mengenal sesosok ahli herbal di kawasan tersebut. Gunakanlah namaku dan ambillah beberapa racikan obat darinya.'
Rapild memang telah meninggalkan sesosok adik perempuan yang sakit-sakitan di rumahnya.
Segenap anggota keluarganya telah tewas meregang nyawa sejak lama, dan sang adik adalah satu-satunya kerabat darah yang tersisa di kolong langit ini.
Dia dengan sukarela mendaftarkan dirinya bertugas di sektor Garis Depan Selatan lalu mengirimkan separuh dari gaji bulanannya demi membiayai pengobatan sang adik.
Dia murni memohon satu hal tunggal: agar adik perempuannya sanggup bertahan hidup.
Bahkan andai penyakitnya mustahil untuk disembuhkan seutuhnya, bahkan andai sang adik terus merintih menahan sakit, yang terpenting adalah sang adik tetap bernapas.
'Apakah tersimpan sesuatu yang sanggup kita makan hari ini, Kakak?' sang adik kerap melontarkan pertanyaan polos tersebut di masa kanak-kanak mereka.
Kota tempat di mana sosok Rapild dibesarkan adalah sebuah suaka yang teramat miskin dan tertindas.
Kawasan pemukiman kumuhnya teramat luas, dan sang bangsawan penguasa tanah bukanlah sosok pemimpin yang baik.
Itu adalah sebuah kota benteng kecil yang bertengger di sektor selatan Kadipaten Jaltenbuck (Jaltenbuck territory), tepat di depan bentangan hutan belantara di mana kawanan binatang siluman kerap merajalela.
Bangkai seekor binatang siluman selalu menjadi komoditas material yang bernilai tinggi.
Sebagian besar populasi manusia yang berhimpun di kota tersebut bernaung sebagai para pemburu.
Lebih presisi lagi, mereka melabeli diri mereka sebagai pemburu binatang siluman.
Itulah tanah tumpah darah asal sosok Rapild.
Dia merawat adik perempuannya di lingkungan yang keras semacam itu.
Itu adalah sebuah lingkungan sosial di mana mustahil bagimu untuk mengharapkan uluran tangan bantuan dari orang lain.
Murni berakar dari tempaan keras tersebut, watak kepribadiannya bermutasi menjadi sangat keras, kerutan dalam mengukir dahinya, dia teramat sukar untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain, serta teramat kaku kala memanjatkan doa demi keselamatan orang lain.
'Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih...'
Pria itu mengangkat tangan yang memikul helm bajanya lalu menempelkannya tepat di depan rongga dadanya.
Rapild berdiri mematung di sudut terpencil tepat di samping dinding tenda militer lalu memanjatkan doanya dengan khidmat.
'Cabutlah nyawaku sebagai gantinya.'
Wahai Dewi Neraca Keadilan (Goddess of the Scales).
Hamba memohon kepada-Mu, tempatkanlah segenap sisa napas hidup hamba tepat di sisi seberang neraca timbangan-Mu.
Hamba memohon, cabutlah nyawa hamba detik ini juga sebagai penebus nyawa sang pendeta suci yang telah menyelamatkan hidup adik perempuan hamba.
Pendeta tua itu adalah salah seorang figur suci yang bernaung di dalam ordo pendeta yang bertugas di tempat ini.
Pria suci itulah yang dulu membiayai seluruh racikan obat herbal demi menyelamatkan nyawa adik perempuannya.
Apakah sang pendeta suci merupakan sesosok bangsawan yang bergelimang harta?
Jubah kebiaraan tuanya yang compang-camping serta sepasang sepatu bot kulitnya yang telah aus terkoyak membeberkan seutuhnya perihal kemiskinan harta yang dia miliki.
Rapild mengendus aroma yang teramat familier di tubuh sang pendeta, sebuah aroma yang sama persis dengan masa kanak-kanaknya.
Aroma pekat dari sebuah kemiskinan hidup.
Pria itu teringat pada tawa renyah sang pendeta yang suatu hari telapak kakinya tertembus luka murni karena sol sepatu botnya yang teramat tipis terinjak sebongkah batu karang tajam.
Sang pendeta sejatinya sama sekali tidak mengenal ahli herbal mana pun di tanah kelahirannya.
Pria tua itu murni telah menguras habis segenap pundi-pundi tabungan hidup yang berhasil dia himpun sepanjang puluhan tahun mengembara di berbagai medan perang dan melayani umat, lalu menyerahkan seluruh uang tersebut demi membiayai obat sang adik.
'Mengapa Anda sudi berkorban sejauh itu demi diriku?' tanya Rapild kala itu.
Sang pendeta tua tersenyum hangat lalu memberikan jawabannya.
'Itu murni merupakan kemurahan hati dari Tuhan. Sebuah pemeliharaan suci dari sang Ilahi. Itu terwujud murni berkat berkah rahmat yang ditempatkan oleh sang Dewi Neraca tepat di sisi seberang timbangan.'
Segala sesuatunya bermula dari sebuah kebetulan yang indah.
Sang pendeta yang secara kebetulan bersua dengan sosok Rapild, Rapild yang secara kebetulan menceritakan perihal penyakit sang adik.
Dan secara kebetulan sang pendeta memahami jenis tanaman herbal yang sanggup menyembuhkan penyakit tersebut serta mengantongi sarana finansial demi mengulurkan bantuan.
Sehingga pria tua itu mengeksekusinya.
Hanya sebatas itu saja.
'Apakah sesosok manusia membutuhkan sebaris alasan logis murni demi menolong sesamanya yang tengah menderita?'
Rapild merasakan sesuatu yang mendidih panas mendadak meledak membuncah dari dalam rongga dadanya.
Pria itu seketika berlutut menjejakkan kedua lututnya ke tanah lalu menangis tersedu-sedu, menumpahkan kucuran air mata penyesalan dan rasa syukur yang teramat panas.
'Tuhan Yang Maha Kuasa bakal selalu menjaga langkah hidupmu.'
Adik perempuannya berhasil bertahan hidup.
Penyakit kronis yang menggerogoti raganya berhasil disembuhkan tuntas.
Seiring berjalannya roda waktu, bermula dari detik pertama sang pendeta jatuh sakit terbaring di ranjang hingga detik ini, sosok Rapild sengaja dengan sukarela mendaftarkan dirinya bergabung ke dalam divisi patroli pengintai murni demi mengembara memburu tanaman obat herbal.
'Dasar kau prajurit gila, hentikan tindakan nekatmu itu! Populasi kawanan monster telah melonjak drastis. Jika kau melangkah terlalu jauh menembus garis depan, kau dipastikan bakal berpapasan dengan mereka. Melangsungkan pengintaian seorang diri adalah tindakan bunuh diri yang gila!' rekan-rekan seperjuangannya kerap membentak memarahinya.
Namun pria itu mustahil sanggup murni berpangku tangan dan membiarkan sang penyelamat meregang nyawa.
Dia baru saja kembali melangkah pulang tepat setelah menyisir segenap semak belukar liar di sekitar perimeter Demon Realm.
Pasokan dukungan logistik dari ibu kota kerajaan sama sekali tidak memadai.
Pada kenyataannya menemukan tanaman herbal liar mungkin tidak bakal sanggup menyembuhkan racun tersebut seutuhnya.
Aksi nekat ini murni hanyalah sebuah bentuk perjuangan keputusasaan.
Sebuah perjuangan batin yang lahir murni berakar dari ketidaksanggupan jiwanya untuk berdiam diri menatap kematian sang penyelamat.
'Tepat setelah diriku terbangun dari tidur nanti,' mari kita bertolak menyusup keluar sekali lagi.
Dia pantang membiarkan sesosok dermawan yang telah menyelamatkan keluarganya tewas membusuk di tempat ini.
Jika memang mutlak dibutuhkan, pria itu rela melempar dan menumbalkan nyawanya sendiri demi mencegah tragedi tersebut.
Guyuran air hujan racun milik Demon Realm memang sanggup membangkitkan hawa kebencian di dalam palung hati bangsa manusia.
Itulah alasan mengapa segenap prajurit dilanda oleh emosi yang mudah tersulut, serta seisi peradaban dunia tampak bermutasi menjadi berwarna abu-abu berselimut jelaga yang muram.
Hujan badai Demon Realm terus mengguyur, dan kawanan Drowned Ones terlahir di dalam area perkemahan.
Itu adalah manifestasi nyata dari pengaruh hawa abu-abu kelam.
Namun bahkan di detik-detik paling kritis semacam ini sekalipun, nyala api kemanusiaan di dalam jiwa mereka sama sekali belum kunjung padam seutuhnya.
Nyala api suci yang disulut oleh ordo pendeta tanpa nama tersebut masih terus menyala abadi.
'Sudah berapa hari berlalu sejak hujan pertama turun?'
Guyuran air hujan terus turun mengguyur tanpa kenal jeda.
'Mari kita hitung rentang waktunya.'
Sang prajurit menghitung deretan angka sembari merasakan kepalanya berdenyut ngilu seolah hendak pecah terbelah.
Satu pekan penuh.
Baru satu pekan berlalu sejak rintik gerimis pertama turun membasahi tanah.
'Namun rasanya tak ubahnya seolah kita telah dipaksa bertahan melintasi siksaan ini selama puluhan tahun lamanya.'
Sensasinya terasa seolah-olah ada seseorang yang tengah menempelkan sebilah pahat besi tepat di atas batok kepalanya lalu menghantamnya menggunakan palu godam tanpa henti.
Andai dirinya sanggup, dia sangat ingin membelah tengkorak kepalanya sendiri lalu memotong dan membuang bagian otak yang terasa sangat menyiksa tersebut.
Sudah tak terhitung berapa banyak prajurit yang mengeluhkan sakit kepala kronis yang serupa.
Prajurit lainnya bahkan dilanda mimpi buruk yang mengerikan setiap kali memejamkan mata.
Itu sama sekali bukan merupakan ulah sihir dari seekor iblis penggoda succubus.
Andai itu merupakan ulah succubus, barisan para ksatria agung dipastikan bakal langsung menyadarinya sejak awal.
Banyak prajurit yang mulai merasa bahwa seluruh penderitaan ini—sakit kepala dan mimpi buruk yang tiada akhir—murni tidak memiliki makna apa pun.
Mereka terjerembap ke dalam jurang kelesuan mental (lethargy), terkantuk-kantuk kala mengemban tugas piket jaga malam ataupun murni berdiri mematung sembari memancarkan tatapan mata yang kosong hampa.
Namun meski begitu, divisi angkatan perang ini tetap sanggup bertahan berdiri tegak.
"Tuan Cypress."
Sebagian prajurit terus merapalkan nama agung dari sesosok pria perkasa yang membentengi keselamatan pos ini.
Nama besar dari sebuah dinding benteng pertahanan serta tanggul bendungan hidup yang—meskipun telah berkarat dan aus dimakan zaman—pantang sudi runtuh roboh.
"Lindungilah para pendeta suci kita!"
Prajurit lainnya memanggil kembali memori kebaikan budi yang pernah dia terima.
Murni karena mereka yang telah dianugerahi kebaikan pantang melupakan budi tersebut, mereka semua tetap sanggup bertahan menyambung perjuangan hidup.
* * *
Jika sebuah pertarungan memang mutlak dibutuhkan, maka perang berdarah wajib dikobarkan.
Bagi seorang prajurit dan ksatria sejati, hal itu adalah sebuah konsekuensi alami.
Namun melangkah jauh sebelum itu, bagaimana dengan nasib rakyat jelata yang bermukim di negara tersebut?
Krang belum pernah bersua langsung dengan raja penguasa kerajaan Lihin-Stetten.
Namun andai dirinya berhadapan tatap muka bersama pria itu detik ini, sang raja sangat ingin melayangkan tinju mentahnya tepat ke wajah bajingan tersebut.
Dengan segenap ketulusan hatinya.
Di masa depan yang teramat jauh nanti, kala roda waktu telah melintasi zaman dan luka-luka perang telah mengering sembuh, dirinya pantang menjatuhkan sebuah keputusan yang bakal dia sesali di kemudian hari.
Encrid menyimak pidato deklarasi yang disuarakan oleh Raja Krang.
Sungguh sesosok manusia agung yang teramat luar biasa.
Kapasitas bejana jiwa yang dimiliki oleh sang raja bukan sekadar berukuran raksasa; melainkan telah robek terbuka lebar dan membentang tanpa batas.
Sama sekali tak ada gunanya mencoba mengukur kapasitas jiwanya.
Itulah alasan tunggal mengapa dirinya dengan sukarela mengabdikan pedangnya melayani pria perkasa ini sebagai sahabat karib sekaligus rajanya.
Mereka yang melangkahkan kakinya ke medan pertempuran bertarung sembari mempertaruhkan segenap jiwa raga mereka.
Mereka membantai dan dibantai.
Itu adalah sebuah keniscayaan hukum perang.
Namun Raja Krang pantang menerima keniscayaan tersebut sebagai sebuah kewajaran yang mutlak.
Dia tidak sekadar merajut angan-angan perihal tatanan dunia damai pascaperang.
Dia memaparkan secara komprehensif mengapa pertarungan terkutuk ini wajib diakhiri secepat mungkin, dengan menekan angka kehancuran dan korban jiwa sekecil mungkin.
"Ya, mari kita wujudkan rencana tersebut bersama-sama."
Encrid adalah sesosok ksatria, pedang kebanggaan milik sang raja.
Pemuda itu bakal menjelma menjadi bilah pedang terhebat yang mengabdi bagi kemuliaan Raja Krang.
"Hanya hal itulah yang ingin kusampaikan padamu."
Krang menyadari betul bahwa dirinya bukanlah sesosok ahli strategi perang.
Tanggung jawab utama yang wajib dia emban adalah memetakan arah garis haluan serta menegakkan tujuan luhur.
Dan sang raja telah mengeksekusinya secara teramat sempurna.
Di luar tenda, divisi Pasukan Pengawal Kerajaan (Royal Guard) yang diboyong oleh Raja Krang seketika membantai kawanan Drowned Ones tepat pada detik monster-monster tersebut terlahir dari genangan air.
Mereka menghunjamkan tombak, mengayunkan bilah pedang, serta mengangkat perisai baja mereka.
Bukankah Tuan Guru Cypress sempat menegaskan bahwa dirinya lebih memilih untuk melangkah keluar membantai seekor Drowned One tambahan dibanding murni beristirahat berpangku tangan?
Sebagian ksatria memang tengah beristirahat memulihkan tenaga murni karena tubuh mereka telah mencapai batas toleransi fisik.
Mereka telah terjaga tanpa tidur selama satu pekan penuh murni akibat teror serangan udara kawanan Gryphon Riders.
"Rem."
"Katakan perintahmu."
"Ajak Dunbakel bersamamu. Sapu bersih seluruh kawanan monster yang berkeliaran di sekitar perimeter perkemahan."
Mereka telah berpapasan dengan kawanan monster dalam kuantitas yang masif sepanjang perjalanan kemari.
Detik ini tepat setelah menginjakkan kaki di perkemahan garnisun, pemuda itu paham betul akar penyebabnya.
Tersimpan kawanan monster dalam kuantitas yang berkali-kali lipat jauh lebih masif di sekitar perimeter markas ini.
Saatnya telah tiba bagi ketajaman indra penciuman Dunbakel serta jam terbang pengalaman berburu milik Rem untuk dikerahkan secara optimal.
"Siap, laksanakan."
Rem bangkit berdiri tegak dengan sangat ringan.
Jika Tuan Guru Cypress serta jajaran ksatrianya mutlak membutuhkan waktu untuk beristirahat memejamkan mata, maka mereka bakal membereskan ancaman monster tersebut terlebih dahulu.
Detik ini para ksatria perbatasan bahkan tidak sanggup memejamkan mata andai mereka menginginkannya, murni akibat ancaman teror monster yang terus mengintai di perimeter luar.
Beberapa saat kemudian, tepat setelah mengutus keberangkatan Rem dan Dunbakel, Encrid melangkahkan kakinya berkeliling meninjau perimeter markas dan mendadak bersua dengan sesosok figur yang teramat tak terduga.
"Encrid... benarkah kau Encrid?!"
Sosok pria tersebut mengenali paras wajah Encrid terlebih dahulu.
Paras wajah tampan milik Encrid bukanlah sebuah sosok yang sanggup dilupakan dengan mudah oleh siapa pun.
Hal itu adalah sebuah kewajaran mutlak.
Sesosok pria berparas rupawan dengan helaian rambut hitam pekat serta sepasang manik mata biru safir yang mempesona teramat sangat langka di daratan benua ini.
Pria yang menyapanya mengernyitkan dahinya rapat-rapat lalu menyambung kalimatnya dengan takjub.
"Kupikir mustahil sosok itu adalah dirimu."
Itu adalah sebuah jalinan takdir dari lembaran masa lampau.











