Eternally Regressing Knight

Bab 856: Anak Haram Air Hujan

4188 Kata

Bab 856: Anak Haram Air Hujan

"Hujan lebat mulai turun mengguyur."

Cypress menyambut untaian kalimat yang dilontarkan oleh Ingis.

"Ya, benar sekali."

Apakah fenomena cuaca ini merupakan sebuah berkah yang patut disyukuri?

Menakar dari dinamika konstelasi medan perang saat ini, adalah keputusan yang tepat untuk memandangnya sebagai sebuah kabar baik.

Setidaknya kawanan Penunggang Grifon (Gryphon Riders) milik pihak musuh dipastikan tidak bakal sanggup terbang di angkasa.

Pandangan mata Cypress kali ini tidak terarah menatap kawanan Gryphon Riders di langit, melainkan terpatri mengunci gerombolan kawanan Jiwa Tenggelam (Drowned Ones) yang mendadak mencuat keluar merayap dari dalam perut bumi.

Pada kondisi normal, hari-hari hujan selalu menjadi mimpi buruk paling mengerikan di sektor Garis Depan Selatan.

Sudah tak terhitung berapa banyak prajurit yang melontarkan sumpah serapah tepat saat mereka membuka mata di pagi hari dan menyaksikan rintik hujan turun membasahi tanah.

'Rasa lelah dan keletihan fisik kian menumpuk pekat.'

Bukan sekadar dirinya seorang, melainkan segenap prajurit reguler yang bertugas di pos perbatasan ini dipastikan tengah merasakan siksaan yang sama.

Alih-alih dihujani oleh bola-bola api peledak, tombak es raksasa, serta bongkahan batu yang dijatuhkan oleh divisi Gryphon Riders, guyuran air hujan yang membasahi bumi kini tengah membuahi dan melahirkan kawanan monster Drowned Ones ke permukaan.

Detik ini ancaman bahaya utamanya bukan lagi berasal dari kawanan monster terbang di angkasa; melainkan arwah-arwah penasaran jahat serta kawanan Drowned Ones yang bermunculan di dalam parit pertahanan, monster-monster ghouls yang mengintai liar di luar dinding pembatas, serta siluet lincah kawanan gnolls.

'Kuantitas populasi monster-monster ini benar-benar terlampau masif.'

Mereka memang sama sekali bukan ancaman bahaya yang sanggup melukai keselamatan Cypress ataupun barisan para ksatria agung, namun bagi para prajurit reguler biasa, eksistensi mereka adalah malapetaka maut yang teramat nyata.

Sama sekali tak ada hal yang berjalan mudah di medan perang ini.

Andai sektor Garis Depan Selatan diumpamakan sebagai raga seorang manusia, maka tubuhnya saat ini dipenuhi oleh luka menganga dan penyakit kronis di segala penjuru.

'Haruskah diriku melontarkan protes kepada sang Dewi Keberuntungan?'

Apakah situasi keputusasaan semacam ini yang sesungguhnya Engkau kehendaki?

Apakah Engkau benar-benar bersikap sangat serius mempermainkan nasib kami?

Cypress sama sekali tidak berniat melayangkan tantangan lancang ke haribaan langit.

Sebagai gantinya, pria tua itu murni mematrikan sebaris sumpah ksatria baru ke dalam relung hatinya.

"Pancaran hawa busuk yang teramat pekat tengah menyelimuti sekeliling kita."

Ingis kembali menyuarakan kekhawatiran batinnya.

"Para prajurit kita pun dipastikan sanggup merasakannya secara nyata. Kita adalah barisan veteran tempur yang telah melintasi puluhan medan pertarungan berdarah. Mustahil bagi mereka untuk tidak menangkap atmosfer pertanda buruk semacam ini. Oleh karena itu, jangan pernah mencoba mendongkrak moral tempur mereka secara artifisial."

Ingis mengerjapkan sepasang kelopak matanya heran.

Di saat-saat krisis yang mencekam semacam ini, bukankah seorang perwira komandan sudah seharusnya melangkah maju memberikan pidato penyemangat demi membakar moral prajuritnya?

Jika sang guru melarangnya mengeksekusi hal yang lumrah tersebut, dipastikan tersimpan sebuah alasan taktis yang mendalam di baliknya.

Apa yang wajib dia perbuat andai dirinya tidak mengetahui jawabannya?

Bertanya.

Ingis membuka suaranya dengan penuh rasa hormat.

"Lantas tindakan taktis apa yang wajib kita eksekusi di tengah kondisi darurat semacam ini, Tuan Guru?"

Dia baru saja dinobatkan menyandang gelar seorang ksatria sejati baru-baru ini.

Terlepas dari tingginya kapasitas ilmu pedang yang dia kuasai, dirinya masih tergolong sangat minim pengalaman dalam memimpin divisi angkatan perang, setidaknya dalam penilaian mata seorang Cypress.

Ingis pun mengakui celah kelemahannya tersebut dengan rendah hati dan selalu meminta petuah dari sang guru setiap kali ada hal yang membingungkan batinnya, persis seperti yang tengah dia eksekusi detik ini.

Sikap gemar bertanya adalah sebuah kepribadian yang teramat sangat luhur.

Itu adalah bukti sahih yang menegaskan bahwa dirinya tidak terjerembap ke dalam delusi kemahakuasaan, tidak mabuk oleh arogansi status ksatria, serta pantang kehilangan rasa ingin tahunya terhadap ilmu pengetahuan.

"Tunggulah sebuah celah peluang emas mendarat di hadapanmu."

Tuan Guru Cypress bertutur sembari membelai janggut kasarnya yang basah kuyup oleh guyuran air hujan.

"Menunggu celah peluang?"

Ingis meminta penjelasan lebih lanjut, dan Cypress mengangkat telapak tangan yang tadinya membelai janggutnya lalu memperagakan gestur tusukan pedang yang menghunjam lurus ke depan.

"Jika kau sama sekali tidak melihat adanya celah peluang di depan matamu, maka ciptakanlah celah tersebut menggunakan kedua tanganmu sendiri."

Sama sekali tak ada urgensi untuk memberikan pidato penyemangat yang dipaksakan.

Satu-satunya instrumen yang mutlak dibutuhkan murni hanyalah sebuah pencapaian prestasi tempur yang spektakuler, layaknya melangkah maju ke garis paling depan lalu memenggal putus tengkorak kepala sang komandan tertinggi musuh.

Komandan perang kerajaan Lihin-Stetten pantang sudi bertarung menghadapi angkatan perang Naurilia secara frontal.

Mereka murni sengaja mengarahkan dan mengirimkan kawanan monster buas yang mencuat keluar dari dalam Demon Realm serta divisi Gryphon Riders.

Andai mereka berani melancarkan perang terbuka secara konvensional, pihak Naurilia dipastikan tidak bakal dipaksa menderita siksaan batin semacam ini.

Hal yang paling dibutuhkan oleh sektor Garis Depan Selatan detik ini murni hanyalah sebuah pertempuran fisik sejati.

Andai sosok Cypress, Ingis, ataupun ksatria ketiga sanggup memenggal kepala jenderal musuh, atmosfer moral di seisi garnisun dipastikan bakal seketika pulih berkobar benderang secara alami.

'Ataukah sebuah pencapaian prestasi tempur yang setara bakal memadai.'

Seiring memudarnya pancaran daya kekuatan dari Artefak Pusaka Suci (Holy Relic), hawa pertanda buruk yang berputar di dalam perkemahan militer telah berada di ambang batas memanifestasikan monster-monster baru.

Bagaimana jadinya andai moral tempur para prajurit merosot jatuh ke titik nadir di tempat ini...

'Apakah perang ini bakal menjadi sebuah pertempuran yang telah kalah bahkan sebelum dimulai?'

Kita telah terkena jebakan konspirasi mereka.

Pria tua itu merasa sangat penasaran seperti apa paras rupa dari sang perancang strategi licik di kubu kerajaan selatan.

Dia memang tidak menyadarinya sebelum serangan itu menghantam, namun detik ini dirinya telah memahami seluruh alur rencananya secara komprehensif.

'Ini adalah sebuah strategi perang yang dirancang dan dipersiapkan secara matang, batu demi batu.'

Dia pernah berhadapan dengan situasi krisis yang serupa di masa lampau.

Langkah apa yang dulu dia ambil demi membalikkan keadaan?

'Murni mendobrak dan meremukkannya mengandalkan keberanian tempur mutlak.'

Jika kau kekurangan kapasitas otak demi menandingi intrik mereka, kau sanggup menuntaskan masalah tersebut mengandalkan supremasi kekuatan fisik.

Merapikan alur pemikirannya, Cypress meresapi kembali keagungan sumpah yang baru saja dia patrikan ke dalam jiwanya.

'Aku yang bakal menjadi ksatria pertama yang gugur di medan laga ini.'

Sebaris sumpah sakral adalah fondasi dasar dari kehendak Will yang bersemayam di dalam jiwa seorang ksatria sejati.

Dia menumpuk sumpah demi sumpah demi menjelma menjadi sesosok dewa pelindung yang membentengi keselamatan garis depan perbatasan.

Setidaknya begitulah cara para prajurit jelata dan sosok Ingis memandang keberadaan dirinya.

"Siap, laksanakan, Tuan Guru."

Ingis membungkukkan kepalanya takzim menyahut patuh.

Hari ini pun pemuda itu mematrikan ajaran luhur sang guru ke dalam relung hatinya.

Petuah yang disampaikan oleh Cypress memang merupakan pesan filosofis yang teramat padat dan terkondensasi, namun keduanya telah melintasi masa-masa perjuangan bersama bukan sekadar satu atau dua hari belaka.

Bagaimanapun juga sosok Cypress-lah figur yang membimbing langkah Ingis hingga sanggup dinobatkan sebagai seorang ksatria sejati.

Aliran hawa pertanda buruk telah resmi mengendap pekat di atas garis depan pertempuran.

Mungkin satu-satunya secercah kabar baik yang sedikit melegakan hati adalah fakta bahwa Yang Mulia Raja Krang telah tiba secara langsung memimpin barisan bala tentara kerajaan tadi malam.

Divisi bala tentara kerajaan bakal diterjunkan menghadapi kawanan monster Drowned Ones yang terlahir dari guyuran air hujan demi menggantikan posisi para prajurit garnisun yang telah kelelahan.

* * *

Segenap perwira The Order of the Madmen Knights mengenakan setelan jubah pelindung khusus yang disulam indah mengusung pola anak tangga bertingkat yang menyimbolkan arsitektur dinding benteng pertahanan yang kokoh.

Jubah berwarna hijau tua pekat tersebut kini telah resmi menjelma menjadi simbol kehormatan agung milik ordo mereka.

Sebagian besar anggota ordo ksatria mengenakan jubah hijau tua tersebut.

Jubah yang membalut raga Encrid memang memiliki spesifikasi yang sedikit lebih istimewa, namun jubah yang dikenakan oleh rekan-rekan lainnya pun sama ampuhnya dalam menepis guyuran air hujan.

Kecuali sosok Themares dan Luagarne, jubah-jubah pusaka yang dihadiahkan langsung oleh para peri elf terbukti lebih dari cukup demi membentengi tubuh mereka dari terpaan air hujan.

Jubah-jubah tersebut memantulkan setiap tetesan air dan pantang membiarkan kainnya basah kuyup dengan mudah.

Mereka murni cukup menarik tudung kepala berbahan kulit berlapis minyak yang dijahit dalam dua lapisan demi menjaga agar kepala mereka tetap kering dan hangat.

Sang Dragonkin yang tidak mengenakan jubah semacam itu membiarkan sekujur raga fisiknya basah kuyup oleh guyuran air hujan tanpa memusingkannya sedikit pun.

Sang Dragonkin adalah sesosok pejalan tunggal yang perkasa; hawa dingin dan penyakit duniawi bahkan pantang sanggup menyentuh seujung kukunya.

Demikianlah keagungan wibawa dari sebuah ras mitologi purba yang terlahir ke dunia dengan kapasitas alami sanggup memanipulasi kehendak Will.

Tentu saja mulutnya yang gemar mengoceh berada di dimensi yang teramat sangat jauh dari kata berwibawa.

"Bisakah kau menutup rongga mulutmu yang menyebalkan itu?"

Luagarne bergumam jengkel.

Sang Dragonkin menyahut santai bahkan tanpa perlu menolehkan pandangannya ke arah sang katak cerdas.

"Murni karena sama sekali tak ada urgensi bagiku untuk menutupnya."

Benar-benar untaian kalimat khas dari sebuah ras yang teramat angkuh.

Sang Dragonkin baru saja membaca alur kesadaran batin sang putri elf lalu membeberkan secara terang-terangan perihal apa yang terus-menerus diulang di dalam hati sang putri: bahwa hanya dialah satu-satunya pendamping hidup sejati bagi sang komandan ksatria.

Shinar menganggukkan kepalanya dengan teramat tenang, mengakui kebenaran klaim tersebut tanpa ragu.

"Tentu saja, hanya diriku seorang."

Terlepas dari apa pun celotehan yang dilontarkan oleh sang Dragonkin, sosok Shinar sedari dulu memang telah melangkah jauh melampaui batas kewajaran normal.

Bahkan diukur menggunakan standar bangsa peri elf sekalipun, dan segenap hadirin di tempat ini memahami betul perihal anomali tersebut.

Oleh karena itu tak ada seorang pun yang dilanda keterkejutan kala menyaksikan sang putri melontarkan pengakuannya sembari mempertahankan paras wajah yang dingin tanpa ekspresi.

Shinar menerima untaian kata sang Dragonkin dengan lapang dada.

Sama sekali tak ada alasan baginya untuk menyembunyikan isi hatinya.

"Para perajin tenun tempo hari sempat memaparkan bahwa bukanlah perkara mudah untuk merajut benang-benang kain sutra ini."

Encrid dengan santai mengabaikan ocehan Shinar lalu bergumam pelan.

Jubah ajaib ini sanggup mengembang atau menyusut secara otonom menyelaraskan postur tubuh pemakainya, membendung sebagian besar hantaman serangan fisik, serta menolak guyuran air hujan secara mutlak.

Pemuda itu teringat pada untaian kalimat yang disuarakan oleh salah seorang perajin wanita dari klan Dryads (Driads) yang memiliki sepasang mata berbinar kuning kehijauan:

"Segenap esensi keagungan dari klan kami telah kami curahkan seutuhnya ke dalam jalinan kain tenun ini."

Klan yang dia maksud adalah klan Dryads.

Bahkan bangsa peri elf sekalipun terbagi menjadi berbagai macam klan suku yang berbeda.

Tersimpan banyak sekali figur yang dibekali oleh bakat-bakat keahlian spesialisasi yang unik di antara mereka.

'Termasuk sesosok ksatria Penjaga Hutan (Woodguard) tertentu yang gemar mengisap lintingan daun tembakau herbal, ada banyak sekali peri elf yang wataknya tidak normal.'

Namun mengamati sosok sang pandai besi elf yang tempo hari memperbaiki bilah pedang Penna yang patah, pria itu murni tampak tak ubahnya sesosok pengrajin sejati yang teramat berdedikasi dan mencintai pekerjaannya.

Encrid berulang kali menggenggam lalu melepaskan cengkeraman jemarinya pada gagang pedang Penna yang terpasang menyilang di pinggang kanannya.

Pikiran-pikiran liar yang mengaburkan konsentrasi.

Sebuah celah kelengahan yang mencuat murni berakar dari tersedianya ruang luang di dalam kepalanya.

Encrid sama sekali tidak merasa frustrasi ataupun tertekan oleh lebatnya guyuran air hujan.

Andai palung hatinya sanggup terguncang murni oleh tetesan air hujan yang membawa pertanda buruk, dirinya dipastikan telah terjebak membusuk di salah satu siklus hari lampau.

Ataukah dirinya dipastikan telah tewas meregang nyawa bahkan sebelum sempat mengulang ratusan siklus 'hari ini'.

Memahami bagaimana cara menata ketenangan batinnya—meskipun belum sanggup merengkuh kedamaian mutlak yang sempurna—adalah salah satu keahlian spesialisasi terbesar yang dimiliki oleh seorang Encrid.

Kecenderungannya yang kerap memprovokasi musuh-musuhnya menggunakan intonasi nada yang teramat tenang disokong kokoh oleh watak kepribadian semacam ini.

"Aku murni merasa sangat bersyukur bahwa mereka sudi menghadiahkan sehelai jubah pelindung yang sanggup membalut ukuran tubuhku yang raksasa ini secara sempurna."

Audin bergumam lirih.

Pria perkasa itu benar-benar tampak sangat gembira.

Hadiah yang dipersembahkan oleh bangsa peri elf dirajut dengan ketulusan hati yang mendalam.

Mereka bahkan merancang sehelai jubah khusus yang sanggup membalut proporsi tubuh raksasa milik Audin secara presisi.

Ini adalah hadiah pakaian pertama yang pernah dia terima di sepanjang lembaran hidupnya.

Kala masih mengabdi sebagai seorang biarawan kuil di masa lampau, pria itu terpaksa harus menjahit tiga helai kain jubah menjadi satu murni demi menciptakan setelan pakaian yang sanggup menutupi tubuhnya.

"Yah, kurasa mereka memang berhasil menakar ukuran badanmu dengan sangat baik," gumam Rem menimpali.

Audin merasa agak canggung mengenakan sehelai kain sebagai jubah pelindung alih-alih digunakan sebagai tenda darurat.

Namun dirinya merasa sama terpuaskannya.

Theresa mengusap permukaan jubahnya di antara ibu jari dan jari telunjuknya.

Tekstur rajutan kainnya benar-benar terasa sangat unik dan magis.

Kain itu bahkan sama sekali tidak terasa lembap di tengah guyuran hari hujan semasif ini.

Melangkah jauh melampaui sekadar menolak air, hawa sirkulasi udara di balik jubah terasa sedemikian segar dan menyejukkan.

Itu adalah puncak dari mahakarya teknologi tenun bangsa peri elf yang dipadukan bersama keajaiban energi sihir mereka.

"Jika kalian berniat menyalakan api unggun, katakanlah padaku. Akulah sesosok peri elf agung yang mengendalikan elemen api."

Shinar sedikit membusungkan batang hidungnya ke udara.

Tingkat keangkuhannya di detik tersebut sanggup disejajarkan bersama arogansi milik sang Dragonkin.

Hii-ring!

Seekor kuda tunggangan meringkik pelan merespons atmosfer pertanda buruk yang berbaur bersama guyuran air hujan.

Shinar menepuk-nepuk kepala sang kuda dengan penuh kelembutan.

Sama sekali bukan sebuah perjalanan yang ceria ataupun menyenangkan dalam sudut pandang mana pun.

Itu adalah sebuah hari yang kelam, penuh pertanda buruk, suram, serta menyesakkan dada, namun rombongan ksatria ini seolah-olah berdiri satu langkah terpisah dari pengaruh negatif tersebut.

Mereka saling melontarkan lelucon dan bertukar celotehan konyol.

Tak ada seorang ksatria pun yang mengeluhkan rasa sakit kepala, dan tubuh mereka sama sekali tidak terasa berat.

Seluruh anggota rombongan terus melangkahkan kaki mereka mendesak maju tanpa henti sembari berbincang santai.

Mereka melangkah dengan penuh kedisiplinan.

Bukanlah perkara yang sukar untuk memetakan arah jalan.

Mereka murni cukup melangkah lurus ke depan sembari menjaga beberapa puncak pegunungan tetap berada di sebelah kiri mereka; siapa pun selain sosok Ragna dipastikan sanggup menemukan arah navigasi yang tepat murni lewat membaca posisi terbitnya sang surya.

"Bangunkan diriku andai kalian merasa bahwa kalian telah tersesat kehilangan arah."

Ragna melontarkan ocehan tanpa maknanya lalu mulai terkantuk-kantuk tertidur di atas pelana.

"Baiklah kalau begitu."

Encrid menyahut santai tanpa memusingkannya.

Tepat saat hamparan padang rumput terbuka berakhir, mereka wajib mendaki dan melintasi bentangan bukit-bukit bergelombang.

Itu adalah kawasan tanah lapang yang diselimuti oleh hamparan rumput pendek.

Bentangan hutan lebat tampak terpampang di sebelah kiri mereka.

Andai mereka membelokkan arah melingkar jauh ke arah timur dari titik ini, mereka bakal tiba di teritorial kekuasaan milik Viscount Harrison.

Kabar burung menegaskan bahwa semakin jauh kau melangkah ke belahan wilayah selatan, kuantitas monster Jiwa Tenggelam (Drowned Ones) bakal bermunculan dalam jumlah yang kian masif.

Secara alami di tengah guyuran hari hujan lebat, kawanan Drowned Ones mencuat keluar di segala penjuru mata angin.

Terutama guyuran hujan berkepanjangan semacam ini adalah waktu yang paling ideal bagi kawanan Drowned Ones untuk bangkit bergerak aktif.

Ini adalah kesimpulan mutlak dari hasil observasi, uji eksperimen, serta riset mendalam yang diteliti oleh ratusan cendekiawan benua.

Kawanan monster Drowned Ones terlahir dari air.

Benih-benih petaka yang disemai secara paksa di seantero benua oleh kawanan monster Demon Realm kini telah tersebar luas.

Kawanan Drowned Ones adalah anak-anak haram yang terbuahi dan terlahir ke dunia tepat saat benih-benih liar tersebut tersiram oleh guyuran air hujan.

Demikianlah karakteristik racun dari atmosfer udara dan tetesan hujan yang menguar dari dalam kegelapan Demon Realm.

Sebagian cendekiawan bahkan melabeli kawanan monster air tersebut sebagai divisi barisan pelopor yang dikerahkan demi menginvasi daratan benua.

"Tidakkah situasi ini terasa sangat menjengkelkan menilik dari betapa banyaknya jumlah mereka yang bermunculan?!"

Rem berujar sembari menatap ke arah gerombolan kawanan Drowned Ones di depan mereka.

Tersimpan sebuah batasan wajar perihal apa yang sanggup dinilai sebagai sebuah pertempuran fisik sejati.

Makhluk-makhluk menjijikkan ini murni tak ubahnya sampah-sampah pengganggu yang mengotori jalanan mereka.

Setidaknya begitulah cara pandang yang diyakini oleh para ksatria.

Hawa pertanda buruk, kemuraman, serta atmosfer kelam yang disebarkan oleh Demon Realm, kawanan monster, serta binatang siluman?

Sosok Rem telah terbiasa hidup di tengah cuaca ekstrem semacam ini sejak belia.

Pria itu pun telah terbiasa bernapas di dalam atmosfer yang serupa.

'Atmosfer ini masih berkali-kali lipat jauh lebih bersahabat dibanding kawasan di dekat Domain Iblis Keheningan (Silence).'

Terlebih lagi teritorial tempat di mana dirinya dibesarkan bertengger tepat di samping sebuah Domain Iblis yang dikenal sebagai 'Silence'; siapa pun yang mentalnya rapuh dan terpengaruh oleh hawa pertanda buruk tersebut dipastikan mustahil sanggup mengendalikan kekuatan sihir (sorcery).

Tubuh fisiknya tetap sekokoh dan setangguh kala dirinya pertama kali melangkah keluar meninggalkan benteng Border Guard.

Rem menyipitkan sepasang matanya lalu membiarkan lengan yang mencengkeram kapak tempurnya menjuntai rileks ke bawah.

Aliran air hujan mengalir membasahi lengan bawahnya lalu merayap menyusuri mata bilah kapaknya.

Bilah kapak tempurnya dipastikan pantang berkarat murni akibat guyuran air hujan biasa.

Senjata yang dia genggam adalah sebilah senjata pusaka warisan leluhur.

Mata bilah kapak tersebut bergetar mendengung layaknya detak jantung yang berdenyut kencang seiring gumpalan energi sihir memadat pekat di permukaannya.

"Heh? Bukankah dugaanku seratus persen benar?"

Rem kembali melontarkan pertanyaannya sembari menyunggingkan seringai tajamnya yang mengerikan.

Dia sama sekali tidak tengah memburu sebaris jawaban verbal.

Dia menyaksikan siluet sosok-sosok mengerikan yang merayap bangkit dari genangan air hujan lalu mengencangkan serat-serat otot di kedua lengan bawahnya.

Terlepas dari terbatasnya jarak pandang visual akibat pekatnya guyuran hujan dan kabut tebal, Encrid sanggup menghitung kuantitas populasi monster yang membentengi jalan mereka secara presisi.

Bukanlah perkara yang sulit.

Ketajaman daya tangkap visual milik seorang ksatria agung tidak bakal terhambat murni oleh kabut air semacam ini.

Terlebih lagi menakar kuantitas pasukan musuh adalah sebuah rutinitas yang telah dia eksekusi ratusan kali kala mengemban tugas sebagai seorang prajurit pengintai (scout) sembari mempertaruhkan nyawanya di masa lampau.

Secara mental pemuda itu melukiskan sebuah lingkaran di dalam kepalanya, menghitung jumlah Drowned Ones yang bersemayam di dalamnya, lalu melipatgandakan kalkulasi tersebut dengan cara memperbanyak kuantitas lingkaran demi menakar total populasinya.

'Apakah jumlah mereka telah melampaui dua ratus ekor?'

Apakah angka tersebut tergolong sangat masif?

Ya, kuantitas tersebut teramat sangat banyak.

Lebih dari cukup untuk dicap sebagai sebuah prahara krisis mematikan andai sekelompok pedagang keliling ataupun rombongan karavan biasa berpapasan dengan mereka.

Ataukah sudah lebih dari cukup untuk menuntut sebuah keputusan penarikan mundur pasukan secara darurat.

Namun situasi tersebut sama sekali tidak berlaku bagi barisan ksatria monster ini.

"Yah. Aku sejatinya sangat ingin meregangkan otot-otot kakiku, namun sangatlah sulit bagiku untuk meninggalkan barisan sebelum sosok Odd-eye kembali pulang," tutur Shinar.

Sang putri elf adalah satu-satunya figur yang sanggup menenangkan gejolak kecemasan kawanan kuda pengangkut barang.

Gadis itu masih terus membelai lembut kepala beberapa ekor kuda dan menenangkan binatang-binatang tersebut dengan penuh kesabaran.

"Kalau begitu biar aku saja yang maju menumpas mereka."

Luagarne melangkah maju ke garis paling depan.

Guyuran hujan di wilayah selatan memang terasa sangat deras, dingin, dan menusuk, namun sang katak cerdas selalu menikmati guyuran hujan badai apa pun di dunia ini.

Itulah alasan tunggal mengapa hanya sosok sang Dragonkin dan dirinya yang tidak mengenakan jubah pelindung.

Bahkan bagi dirinya sekalipun, air hujan yang bersemayam di dekat kawasan Demon Realm memang tidak terlalu menyejukkan jiwa, namun apakah hal itu menjadi sebuah masalah besar?

Katak cerdas itu menyenggol siku sang Dragonkin lalu membuka suaranya,

"Apakah dirimu pernah mendengar perihal konsep 'Biaya Pertemanan (Friendship Fee)', wahai Themares?"

"Konsep macam apa sebenarnya itu? Apakah itu merupakan sebuah teori doktrin yang baru?"

"Makna hakikinya adalah menerima imbalan kepingan koin emas sebagai upah kompensasi murni karena telah sudi bermain bersama seseorang. Aku tidak bakal menuntut kepingan emas darimu, sehingga aku terpaksa harus memungut imbalan lain sebagai gantinya."

Themares terdiam merenung sesaat mencerna untaian kalimat Luagarne lalu berujar datar,

"Apakah dirimu mendambakan diriku untuk berubah wujud menjadi sesosok wanita lalu menjelma menjadi pasangan hidup bagi pria berambut hitam itu?"

"...Pola pikir sinting macam apa yang berputar di dalam kepalamu hingga kau sanggup menarik kesimpulan gila semacam itu?!"

Shinar yang menyimak percakapan tersebut seketika meledak meluapkan amarahnya.

Sang putri elf menanggalkan ekspresi datarnya lalu mengangkat sebelah alis matanya tinggi-tinggi.

Perubahan ekspresi pada wajah sang peri elf kini bukan lagi merupakan sebuah fenomena langka.

Raut wajahnya memancarkan kobaran amarah yang teramat sangat jelas.

Meskipun jika dibandingkan dengan manusia biasa, perubahan itu murni terlihat dari alisnya yang sedikit terangkat dan berkedut halus.

Luagarne menggembungkan kedua pipinya lalu meluapkan suara tawa berdeguknya yang khas, kemudian berujar tegas,

"Bertarunglah. Sapu bersih segenap makhluk hidup apa pun yang berani membentengi rute perjalanan dari sang komandan yang kau ikuti. Wahai Themares, saatnya telah tiba bagimu untuk membayar lunas harga dari bermain bersama kami."

Sang Dragonkin menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun.

"Aku akan mengeksekusinya."

Sebuah transaksi bisnis selalu mengindikasikan adanya pertukaran timbal balik.

Sang Dragonkin memahami konsep sakral dari sebuah transaksi.

Dia mengakui bahwa tersimpan harga yang wajib dibayar lunas demi berstatus sebagai seorang kawan ataupun rekan seperjuangan.

Encrid pun turut menghunus bilah pedang Dawnforged miliknya.

Pemuda itu menyingkirkan sejenak kegelisahan perihal belum sempurnanya ikatan batin dengan senjatanya.

Tersedia kawanan monster buas dalam kuantitas yang melimpah ruah di depan matanya yang siap menyambut sabetan pedangnya.

Kekuatan sihir misterius macam apa sebenarnya yang bersemayam di dalam guyuran air hujan ini?

Kemungkinan besar fenomena ini meletus murni karena posisi geografis mereka yang kian merapat mendekati kawasan Demon Realm.

Arus pusaran air mendadak berkumpul memadat tepat di episentrum formasi kawanan Drowned Ones, dan sesosok arwah penasaran jahat yang berwujud semi-transparan mendadak menampakkan eksistensinya.

Itu adalah sesosok Arwah Air (Water Wraith).

Entitas mistis yang bertengger di antara batas wujud Jiwa Tenggelam (Drowned One) dan arwah jahat murni, makhluk yang selalu dipandang sebagai pertanda malapetaka maut di mata para prajurit reguler dan tentara bayaran biasa.

"Haruskah kita sedikit mengakselerasi ritme langkah kita?"

Encrid menilai bahwa sama sekali tak ada urgensi bagi mereka untuk memperlambat derap langkah murni akibat terpaan hujan badai.

"Monster arwah air itu adalah mangsa buruanku!"

Dunbakel berseru lantang lalu melesat menerjang maju ke depan.

Entakan langkah kakinya meluncur sedemikian kilatnya hingga bayangan semu yang bercampur bersama cipratan air hujan seketika meledak berhamburan di sepanjang lintasan yang dia lewati.

Percikan air hujan berhamburan terbang layaknya guguran biji bunga dandelion yang tertiup angin topan.

"Dasar binatang buas yang bau," dengus Rem mengerucutkan bibirnya, merasa jengkel murni karena manuver pembukanya telah diserobot oleh orang lain.

Beberapa ekor Drowned Ones yang menyadari serbuan kilat Dunbakel mengayunkan kedua cakar tangan mereka ke udara.

Cakar-cakar runcing yang bernoda ungu pekat menyayat lapisan atmosfer.

Dunbakel merendahkan posisi tubuhnya lalu melompat melenting tinggi ke angkasa, menginjak dan meremukkan tengkorak kepala salah seekor Drowned One hingga meledak hancur berkeping-keping.

KRAAAK!

Tengkorak kepala sang monster meletup hancur, dan semburan darah hitam pekat seketika bercampur baur bersama guyuran air hujan.

Dunbakel melesat terbang menuju ke arah sang Water Wraith, melayang di udara seolah-olah dirinya memiliki sayap, lalu menyayat raga sang arwah air yang berdiri kokoh di episentrum formasi mengandalkan bilah pedang lengkung scimitar yang telah diselimuti oleh kehendak Will murni.

Seluruh rangkaian aksi mematikan tersebut meletus hanya dalam kurun waktu dua hembusan napas singkat.

Sebuah tebasan pedang yang teramat kilat, presisi, dan dipadati oleh keberanian mutlak.

Tepat saat sang arwah air meregang nyawa, entitas itu meledakkan bilah-bilah pisau air ke segala penjuru mata angin, namun sang gadis beastkin yang teramat lincah menepis setiap bilah air tersebut mengandalkan putaran pedang lengkungnya di udara, lalu berkelit lincah mengeksekusi salto akrobatik tepat setelah menjejakkan kakinya di atas tanah.

Kala kawanan Drowned Ones mencoba menerjang mengepungnya dari berbagai sisi, gadis itu secara bergantian mengayunkan bilah pedangnya, melancarkan tendangan kaki, serta menghantamkan tinjunya, menyayat dan meremukkan kepala serta torso tubuh monster-monster tersebut tanpa ampun.

"Hahahaha! Akulah sosok Dunbakel, wanita paling jelita dan mempesona di seantero belantara wilayah Timur!"

Gadis itu berseru girang sembari memutar tubuhnya di atas permukaan tanah.

Diiringi oleh putaran tubuhnya yang lincah, arus pusaran air di sekeliling Dunbakel seketika bergolak dahsyat dan memercik ke segala arah layaknya sebuah pusaran air bah raksasa.

Jubah sutra yang membalut tubuhnya meliuk menyatu secara harmonis menyelaraskan setiap lekuk pergerakan akrobatiknya.

Gadis manusia beruang itu tampaknya berniat menciptakan gelar julukan kehormatan baru bagi dirinya sendiri di setiap pertempuran yang dia lalui.

"Benar-benar sangat berisik," gumam Ragna sembari melangkahkan kakinya santai ke depan.

"Wanita gila itu terus-menerus melontarkan bualan dusta tepat di saat sama sekali tak ada orang lain yang sanggup mengonfirmasi kebenarannya," kekeh Rem geli.

Namun tingkah polah gadis itu bagaimanapun juga terlihat agak sedikit menggemaskan.

Apakah belantara wilayah timur merupakan sebuah tanah terpencil di mana bangsa manusia pantang bermukim?

Kuantitas populasi manusia di kolong langit ini yang sudi melabeli Dunbakel sebagai sesosok wanita jelita tepat setelah mengendus aroma asam tubuhnya dipastikan bakal teramat sangat langka.

Sama sekali tidak membutuhkan alokasi waktu yang lama demi menyapu bersih eksistensi dari dua ratus ekor kawanan Drowned Ones tersebut.

Rombongan ksatria membelah dan membantai seisi kawanan monster lalu terus melangkahkan kaki mereka mendesak maju menembus pekatnya malam buta.

Curahan air hujan memang telah mereda menjadi rintik gerimis yang lebih halus, namun guyuran tersebut sama sekali belum kunjung berhenti.

Itu adalah sebuah hari yang teramat suram dan kelam di mana bentangan langit biru yang jernih sama sekali tidak meninggalkan jejak.

Rasanya tak ubahnya seolah-olah dewa semesta tengah berpihak membela kegelapan Demon Realm.

Semakin dekat rombongan mereka merapat menuju ke belahan wilayah selatan, kepekatan hawa pertanda buruk terasa kian mencekik rongga dada.

Dan gelombang serangan monster buas sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda bakal berhenti.

Secara alami derap langkah kaki dari barisan para ksatria monster ini pun dipastikan pantang berhenti selamanya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.