Eternally Regressing Knight

Bab 853: Sayap

4006 Kata

Bab 853: Sayap

Kala gelombang kecemasan meledak membuncah di dalam dada, ada segelintir orang yang memilih untuk menarik selimut menutupi kepala mereka di atas ranjang sembari meratapi penderitaan, namun sosok Krais adalah representasi dari kepribadian yang bertolak belakang total.

Kala dirinya dilanda rasa cemas, dia justru bakal bergerak berkali-kali lipat jauh lebih aktif.

Dia bakal terbangun beberapa jam lebih awal sebelum fajar menyingsing lalu memikul beban pekerjaan yang jauh lebih masif.

"Proyek konstruksi saluran air bersih dan pembuangan limbah kota kini telah hampir rampung seutuhnya. Kuantitas sumur air minum di dalam kawasan kota telah bertambah menjadi enam titik," lapor Nurat yang telah mengenakan baju zirah tempurnya dari samping meja kerja Krais.

Waktu fajar kala itu bahkan sama sekali belum menyingsing benderang.

Tepat di saat sebagian besar penduduk kota masih terlelap dalam tidur nyenyak mereka, Krais telah mengenakan setelan pakaian rapinya dan duduk menekuni meja kerjanya.

"Baguslah kalau begitu, instruksikan mereka untuk mempercayakan tahap penyelesaian akhir dari proyek tersebut kepada Edin—bukan, lebih tepatnya kepada adik perempuannya. Siapa tadi nama adik perempuannya?"

"Rosalind."

Rosalind adalah sebuah nama agung yang terukir di dalam lembaran sejarah daratan benua.

Nama dari sesosok cendekiawan wanita ternama yang mendedikasikan hidupnya demi meneliti seluk-beluk ekologi dari makhluk-makhluk penghuni Demon Realm.

"Apakah ayahnya dulu sangat menyayangi putrinya? Kemungkinan besar bukan sang ayah sendiri yang menyematkan nama indah tersebut padanya."

Tempo dulu sempat menjadi sebuah tren populer di kalangan bangsawan untuk memberkati lembaran hidup seorang anak murni lewat menamai mereka menggunakan nama tokoh-tokoh besar.

"Entahlah, aku tidak tahu pasti."

Itu murni hanyalah sebaris obrolan santai pengisi waktu luang.

Sesosok talenta berbakat yang sanggup memikul tanggung jawab tata kelola administrasi pemerintahan selalu menjadi berkah yang tak ternilai harganya.

Demikianlah kesimpulan batin yang dirumuskan oleh Krais sembari membolak-balik lembaran buku di tangannya.

Ada segelintir cendekiawan yang mengeklaim bahwa buku murni merupakan wadah dari ilmu pengetahuan yang telah mati, sementara yang lainnya berpendapat bahwa segala rahasia semesta bersemayam di dalam buku.

Krais memposisikan dirinya tepat di tengah-tengah kedua pandangan tersebut.

'Ada hal-hal yang mutlak dibutuhkan, dan tersimpan pula hal-hal yang sama sekali tidak berguna.'

Buku fisik itu sendiri pada hakikatnya bukanlah objek yang paling krusial, melainkan watak sikap mental dari sang pembacanyalah yang menentukan segalanya.

'Sebagai contoh nyata, bagaimana cara menyerap apa yang mutlak dibutuhkan murni lewat memposisikan diri dalam postur seorang pendengar yang rendah hati, persis seperti sang komandan ksatria.'

Dia menyerap dengan berani apa yang wajib dia pelajari, serta membuang tanpa ampun apa yang memang pantang dia simpan.

Itulah cara pandang yang dianut oleh Krais kala berhadapan dengan lembaran buku.

Krais telah mengubah arah pandangan hidupnya secara masif tepat setelah dirinya mengamati lembaran perjuangan hidup milik Encrid.

Cakrawala impiannya kian mekar berkembang, serta dirinya telah membelokkan arah tujuannya sedikit demi sedikit.

Bermula dari sekadar mendambakan panggung salon kecantikan murni demi bersenang-senang merayu para wanita bangsawan, kini bermutasi menjadi sebuah ambisi luhur merintis sebuah suaka agung demi merayakan keindahan seni kebudayaan.

'Dan demi mewujudkan impian tersebut, kobaran prahara perang wajib dipadamkan dari muka bumi, bukan?'

Krais melontarkan pertanyaan bisu tersebut di dalam batinnya sembari terus menyisir lembaran buku.

Itu adalah sebuah naskah kuno yang merangkum riset ekologi kehidupan di dalam Demon Realm.

Secara kebetulan yang teramat unik, buku tersebut ditulis langsung oleh mendiang cendekiawan legendaris bernama Rosalind di masa lampau.

Dan bersanding di samping naskah kuno tersebut, tersaji sebuah buku catatan baru yang disusun rapi oleh sosok Rosalind Molsan yang masih hidup—sang putri kandung dari mendiang gembong pengkhianat—merangkum seluruh hal yang pernah dia saksikan, rasakan, dan pelajari di sepanjang masa pelariannya.

"Ini adalah sebaris hadiah tanda terima kasih dariku. Murni karena kalian telah sudi menerima keberadaan kakak laki-lakiku bernaung di tempat ini."

Gadis itu teramat sangat berbeda dibanding barisan wanita bangsawan angkuh yang gemar membusungkan hidung mereka tinggi-tinggi, serta sangat berbeda dibanding kaum wanita pasar yang berdarah panas.

Dia memancarkan wibawa keanggunan seorang bangsawan, namun dirinya sama sekali tidak mabuk oleh arogansi status darah birunya.

Dia murni mengeksekusi apa yang memang menjadi kewajibannya serta mengulurkan tangannya dengan penuh kehati-hatian demi merengkuh apa yang dia dambakan.

Sikapnya selalu dipadati oleh kehati-hatian, namun setiap aksi langkahnya meluncur dengan teramat berani.

Alur pemikirannya terbentang sangat mendalam, dan dia paham betul apa tugas pokok yang wajib dia tuntaskan.

"Gadis itu adalah sesosok wanita yang teramat sangat memikat, bukan?" pancing Nurat melontarkan pertanyaannya.

Krais yang tengah terhanyut di dalam pusaran kecemasan batinnya seketika melakukan sebuah kekhilafan fatal.

"Ya, gadis itu memang teramat sangat memikat."

Dia sempat menyaksikan beberapa pria dan wanita di sekeliling gadis itu melayangkan lirikan curi-curi pandang ke arahnya.

Paras penampilannya serta aura atmosfer yang menguar dari tubuhnya benar-benar berada jauh di luar standar wanita biasa.

Sungguh sebuah keajaiban besar bagaimana mungkin gadis secantik itu belum sempat dinikahkan ke dalam skema pernikahan politik sejak usia belia.

Apakah murni karena usianya yang masih terlampau belia?

Namun di dalam strata sosial kaum bangsawan, faktor usia sama sekali bukan merupakan sebuah alasan pembelaan yang sah, bukan?

Mendengar pengakuan jujur yang meluncur dari bibir sang kekasih, Nurat seketika menempatkan telapak tangannya tepat di atas pinggangnya.

Gagang pedang yang terhunus di pinggangnya seketika menyentuh jemari tangannya.

"Kulit tubuhnya pun tampak sangat putih bersih, kan?"

"Kulitnya memang sangat putih mulus."

Krais menyahut sembari memanggil kembali rekaman visual perihal sosok Rosalind Molsan di kepalanya.

Gadis itu memang telah melintasi segudang penderitaan hidup yang keras, namun lapisan kulit tubuhnya tetap terawat dengan sangat halus.

Jika dibandingkan dengan sosok Nurat, kulit gadis itu berkali-kali lipat jauh lebih pu... tunggu dulu.

Krais seketika menarik rem darurat pada alur pemikirannya.

Kriing!

Suara gesekan halus dari pengait sarung pedang yang terlepas seketika berdenting menyapa daun telinganya.

"Gadis itu benar-benar sangat cantik di matamu?"

Nurat mengulangi pertanyaannya dengan intonasi nada yang teramat sangat dingin.

Andai dirinya melakukan satu kesalahan fatal di detik ini, dia dipastikan bakal meregang nyawa seketika.

Bukan tewas akibat tebasan bilah pedang monster buas, binatang siluman, iblis neraka, ataupun ksatria musuh, melainkan tewas dibantai oleh tangan kekasihnya sendiri.

Kapasitas otak brilian yang dimiliki oleh Krais seketika berputar dalam kecepatan maksimal.

Pria bermata besar itu pantang menurunkan kewaspadaannya di detik-detik paling kritis.

"...Tentu saja tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kecantikanmu."

Meskipun kalimat pembelaannya meluncur terlambat sesaat, dia telah berhasil menyelamatkan lehernya dari jurang kematian.

Tengkuk lehernya seketika terasa sangat dingin merinding.

Nurat perlahan menurunkan telapak tangan yang tadinya bertengger di atas pinggangnya.

Pengait yang mengunci sarung pedang seketika kembali terkatup rapat diiringi suara klik halus.

'Aku berhasil selamat dari maut.'

Tentu saja pria itu tidak bakal benar-benar dibunuh.

Itu murni merupakan sebaris lelucon usil yang kerap dimainkan oleh sang kekasih.

Namun kelakar sepele semacam itulah yang sanggup melonggarkan jeratan kecemasan yang mencekik batinnya, meskipun murni hanya sedikit.

Krais menyahut sembari diliputi oleh palung hati yang penuh rasa syukur.

"Jawabanku tadi seratus persen tepat sasaran, bukan?"

"Andai jawabanmu tadi salah, kepalamu saat ini dipastikan telah menggelinding putus di lantai."

Menyimak lelucon harian yang familier tersebut, Krais kembali memusatkan konsentrasinya meneliti isi buku dan menghimpun segenap pengetahuan yang dia butuhkan.

'Monster-monster yang bersemayam di dalam Demon Realm kerap melangkahi batas logika akal sehat yang kita pahami.'

Bahkan sepanjang proses meneliti ekologi mereka, setiap beberapa tahun sekali sesosok spesies monster baru yang belum pernah tercatat dipastikan bakal mencuat keluar dari dalam kegelapan Demon Realm.

'Teramat sukar untuk memetakan kepastian apa pun.'

Kenyataan itulah yang menegaskan betapa pekatnya misteri teritorial tak terjamah yang menyelimuti Demon Realm di mata segenap makhluk berakal budi yang mendiami daratan benua.

Sama sekali tak ada secuil pun celah referensi yang sanggup digali dari lembaran masa lalu yang sanggup memberikan solusi instan.

Krais memijat pelan kedua pelipis kepalanya menggunakan sepasang ibu jarinya.

Gerakan itu sanggup meringankan beban kepalanya yang terasa agak berat.

Menilik dari perkiraan waktu, sosok Edin saat ini dipastikan telah melangsungkan pertemuan tatap muka bersama para petinggi aliansi kota-kota perdagangan, sementara Abnaier tengah meninjau ulang formasi taktis dari divisi prajurit infanteri tetap.

"Segala sesuatunya dipastikan bakal berjalan dengan sangat baik, bukan? Kita telah merajut jalur jalan raya menuju ke wilayah selatan dengan teramat kokoh."

Belakangan ini proyek pembangunan infrastruktur sipil yang paling banyak menyedot perhatian dan energi dari garnisun Border Guard adalah proyek pengaspalan jalan raya batu.

Pekerjaan konstruksi semacam ini menyedot alokasi waktu yang teramat panjang.

Sangat sukar untuk melangsungkan pengerjaan di tengah guyuran hari hujan, serta menuntut ketersediaan pasokan tenaga kerja manusia dalam kuantitas yang masif.

'Kala Jalan Batu (Stone Road) rampung seutuhnya, bukan sekadar sebuah nama belaka melainkan menjadi kenyataan fisik.'

Itu bakal menjelma menjadi sebuah revolusi akbar di dalam rantai logistik dan hegemoni perdagangan benua.

Untuk saat ini proyek tersebut murni baru berhasil merajut konektivitas di antara empat kota utama: Rockfreed, Martai, Green Pearl, serta benteng garnisun Border Guard.

'Kala kobaran perang melawan kerajaan selatan telah resmi berakhir nanti.'

Krais kini telah memahami bagaimana cara agar dirinya tidak terjerembap ditelan oleh rasa cemas.

Dia melukiskan sebuah masa depan baru di dalam kepalanya.

Sebuah masa depan yang dipenuhi oleh binar harapan.

'Mari kita rajut konektivitas jalur perdagangan ini menuju ke wilayah selatan juga.'

Teritorial kekuasaan milik Viscount Harrison menghasilkan pasokan komoditas gandum berkualitas unggul yang melimpah ruah, serta tersimpan segudang maestro peracik minuman anggur di tanahnya.

Minuman anggur berkemurnian tinggi selalu menjadi komoditas dagang yang sangat diburu di pasar benua.

Sebuah jalan raya agung yang menghubungkan ibu kota kerajaan, tanah selatan, serta segenap kota benteng adalah target kewajiban berikutnya.

Dan demi mewujudkan seluruh impian megah tersebut...

"Tuan Komandan wajib kembali melangkah pulang membawa mahkota kemenangan," bisik Krais menyuarakan isi hatinya.

Kau wajib menghajar dan membantai seisi kerajaan selatan hingga babak belur sebelum kembali melangkah pulang kemari.

Nurat menempatkan telapak tangannya di atas pundak sang kekasih.

"Jangan berani-berani mencoba mengalihkan topik pembicaraan kita tadi."

"A-ah, tentu saja tidak, aku sama sekali tidak bermaksud mengalihkannya."

* * *

Sebagian dari kawanan monster buas yang mendiami kegelapan Demon Realm sanggup memeras kapasitas otak mereka untuk berpikir.

Itu tak ubahnya sebuah medali kehormatan yang dianugerahkan kepada mereka murni berkat keberhasilan mereka menaklukkan ketundukan buta terhadap insting hewani.

Sang pemimpin Centaurs yang kini memimpin koloni sarang tersebut adalah representasi dari sesosok entitas semacam itu.

Dia telah mempelajari seni berpikir murni lewat seringnya terlibat dalam bentrokan fisik melawan bangsa manusia di sepanjang garis perbatasan Demon Realm.

Dunia Demon Realm adalah neraka yang teramat sangat keras dan kejam.

Kawanan monster buas saling mewaspadai satu sama lain dan saling membantai demi berebut wilayah.

Terlebih lagi dunia itu terbagi secara tegas menjadi teritorial-teritorial yang dinaungi oleh batas wilayah yang jelas serta kawasan-kawasan liar yang tak bertuan.

Sang pemimpin kawanan saat ini adalah entitas yang sanggup bertahan hidup murni lewat melintasi batas-batas teritorial berbahaya tersebut.

Dia telah berulang kali melintasi perbatasan Demon Realm dan melangkah keluar-masuk kawasan kekuasaan milik entitas-entitas yang menyandang gelar sebagai raja iblis.

Itu murni karena dirinya dibekali oleh sepasang kaki lari yang teramat cepat serta kapasitas intelek untuk merancang taktik.

Sang pemimpin monster telah menjalani lembaran hidupnya mengandalkan dua modal tersebut.

Lalu baru-baru ini entitas-entitas penguasa yang menancapkan hegemoni kekuasaan mereka di dalam Demon Realm mulai melancarkan tekanan maut kepadanya.

Seolah hendak menegaskan bahwa membiarkannya berkeliaran bebas selama ini murni hanyalah sebuah belas kasih sesaat, entitas-entitas yang mengantongi kekuatan berkali-kali lipat jauh lebih superior mulai membidik nyawanya.

Murni karena dirinya telah merengkuh kesadaran akal budi bukan berarti dirinya menanggalkan ketajaman insting hewani miliknya.

Dia mengendus aroma bahaya maut mengandalkan instingnya lalu menetapkan suaka pelarian baru berlandaskan kalkulasi akal sehatnya.

Dia mengetahui bahwa tersimpan hamparan tanah peradaban yang jauh lebih makmur di luar batas Demon Realm—tempat di mana dirinya dulu terlahir dan dibesarkan—sehingga dia memutuskan untuk bertolak memimpin kawanannya melangkah keluar.

Pada kenyataannya tersimpan sebuah jebakan konspirasi licik yang tengah dimainkan di balik layar, namun seekor monster buas mustahil sanggup memahami intrik rumit semacam itu.

'Sebuah tanah perburuan di mana memangsa makanan berkali-kali lipat jauh lebih mudah.'

Hanya ambisi itulah yang berputar di dalam kepala sang pemimpin koloni. Serta keharusan mutlak untuk menundukkan mangsa buruan yang kini telah terkunci di depan pelupuk matanya.

'Mangsa buruan yang teramat berbahaya.'

Sang pemimpin koloni telah menjejakkan kakinya ke tanah bangsa manusia, dan alih-alih menyerbu mangsa yang terkurung di balik dinding benteng kokoh, dia memburu mangsa lain di alam terbuka dan berhasil mengunci keberadaan rombongan Encrid.

Perbedaan terbesar yang memisahkan sang pemimpin Centaurs dengan monster-monster liar lainnya adalah fakta bahwa dirinya terbiasa memburu lawan-lawan yang kapasitas kekuatannya jauh lebih perkasa dibanding dirinya sendiri.

'Mangsa buruan yang lamban selalu menjadi santapan yang sangat mudah.'

Betapa pun perkasanya daya hantam sang musuh, andai serangan mereka mustahil sanggup menyentuh kulitmu, maka seluruh kekuatan itu murni tidak memiliki makna apa pun.

Sang monster memahami hukum alam tersebut dengan sangat baik.

Oleh karena itu, selama kau pantang memberikan celah jarak serang kepada lawan, maka kemenangan dipastikan bakal berada di dalam genggamanmu.

Sang monster telah menerapkan doktrin tersebut di sepanjang hidupnya, sehingga dia mengeksekusi hal serupa detik ini.

Seekor monster yang sanggup merajut koloni sarang di dalam belantara Demon Realm berada di tingkatan yang terpisah total dibanding monster-monster daratan benua.

Apakah ada konspirasi pihak tertentu di balik pertemuan di antara kawanan monster ini dan rombongan Encrid di tempat ini?

Sama sekali tidak ada.

Ini murni hanyalah sebuah kebetulan alamiah belaka.

Sedikit manipulasi tipu daya bangsa iblis memang sempat menyusup di dalamnya, namun hal itu berakar murni dari pergolakan internal di dalam Demon Realm, bukan sebuah konspirasi yang secara spesifik sengaja diarahkan demi membidik mereka.

Segala sesuatunya bermula dari sebuah kebetulan, namun bagi sesosok entitas yang telah mempersiapkan dirinya secara sempurna, sebuah kebetulan sanggup menjelma menjadi sebuah keniscayaan takdir.

'Sebuah pemantik dan rangsangan pemicu.'

Hari sakral yang dulu menganugerahkannya gelar seorang ksatria sejati—sebuah menara keteguhan yang dia bangun kokoh tepat sebelum dirinya resmi dinobatkan sebagai ksatria—seketika melintas di benak Encrid.

Dia dulu menatap bias tenggelamnya sang surya, terhanyut di dalam keagungannya, dan segudang perenungan batin membuncah di dalam kepalanya.

Encrid paham betul bahwa sosok Odd-eye sama sekali tidak menghabiskan waktunya murni untuk bersantai kala dirinya tidak berada di sampingnya.

'Keteguhan kehendak Will miliknya teramat kokoh dan prinsip jiwanya membubung sedemikian tingginya.'

Bahkan tanpa perlu meminjam bantuan indra milik sang Dragonkin, pemuda itu sanggup mendengar degup palung hati milik Odd-eye secara nyata.

Bukan mendengarnya dalam artian fisik.

Melainkan kemurnian kehendak Will sang kuda yang tengah tersalurkan masuk ke dalam jiwanya.

Odd-eye berlari kencang membelah angin membawa Encrid di atas punggungnya, dan Encrid menundukkan tubuhnya serendah mungkin, menempel rekat di atas punggung sang kuda.

Sebuah postur menunggang yang dirancang demi meminimalisir hambatan angin sekecil mungkin.

Secara alami pemuda itu paham betul bagaimana cara mengeksekusinya.

Derap!

Bermula dari entakan langkah kaki pertama yang dilancarkan oleh Odd-eye, hempasan udara seketika menghantam kedua pipinya dengan sedemikian kasarnya hingga terasa seolah-olah kulit wajahnya bakal terkoyak robek.

Seiring sang kuda melesat dua hingga tiga langkah berikutnya, sensasinya tak ubahnya tengah bertarung menembus amukan badai topan.

Wuuuush—!

Dia samar-samar mendengar suara gemuruh yang menyerupai deburan ombak lautan, namun sepersekian detik berikutnya bahkan suara deburan itu pun seketika lenyap menguap ditelan kecepatan.

Odd-eye memacu kecepatan larinya dengan mengerahkan segenap jiwa raganya.

Akselerasi kecepatannya sedemikian dahsyatnya hingga sanggup mengguncang ketajaman indra seorang ksatria agung.

'Aktivitas gila macam apa sebenarnya yang telah kau lalui sepanjang masa-masa kala diriku tidak berada di sampingmu?!'

Encrid membatin takjub sembari merendahkan postur tubuhnya kian rapat menempel pada punggung sang kuda.

Surai leher milik Odd-eye menusuk-nusuk kulit kepalanya layaknya duri-duri tajam.

Murni karena dirinya tidak mengenakan helm baja pelindung kepala, surai kaku itu terasa menusuk langsung ke kulit kepalanya.

Apa yang bakal meletus andai dirinya menerjang maju dalam kecepatan supersonik semacam ini lalu melancarkan hantaman tombak berkuda (lance charge)?

Bilah senjatanya dipastikan bakal sanggup meremukkan dan menembus dinding benteng kota biasa dalam sekejap mata.

Ketajaman intuisinya membisikkan kepastian tersebut.

Namun raga fisiknya sendiri yang melancarkan hantaman tersebut dipastikan tidak bakal sanggup keluar dalam kondisi utuh tanpa cedera.

'Tepat setelah membalut sekujur tubuhku menggunakan setelan zirah pelat baja penuh (full plate mail)...'

Apakah dirinya bakal sanggup bertahan selamat andai dirinya menyelimuti raganya menggunakan seni manipulasi Will Zirah Besi (Ironclad)?

Dia wajib mengujinya secara langsung demi mengetahui jawabannya.

Murni karena seseorang menyandang status seorang ksatria bukan berarti daging dan darah di dalam tubuhnya seketika bermutasi menjadi lempengan baja ataupun lelehan besi cair.

Kapasitas itu murni tampak serupa berkat gemblengan latihan yang teramat keras.

Derap lari Odd-eye meluncur dalam kecepatan yang sedahsyat itu.

Kawanan Centaurs yang telah menempatkan pos-pos pengintai layaknya sebuah divisi angkatan perang dengan sangat cepat tertangkap oleh garis pandang matanya.

Noktah hitam di kejauhan mulai memadat membentuk siluet anatomi yang utuh.

Sebuah siluet pergerakan yang tampak buram dan bergetar hebat.

Kondisinya sedemikian ekstremnya hingga bayangan semu (afterimage) tampak terpampang nyata bahkan di hadapan ketajaman daya tangkap visual dinamis milik seorang ksatria sejati.

Kawanan Centaurs seketika mengentakkan kaki mereka memacu kecepatan lari.

Tidak, mereka pada hakikatnya adalah kawanan makhluk buas yang sedari awal memang selalu bergerak aktif.

Mereka murni melipatgandakan akselerasi lari mereka tepat pada detik mereka menyadari kehadiran Odd-eye yang tengah menerjang mendekat.

Encrid mengerahkan kehendak Will miliknya lalu memusatkannya tepat di sepasang matanya.

Alur pemikirannya pun seketika terakselerasi dalam kecepatan kilat.

Bahkan di tengah kecepatan berpikir yang telah terakselerasi ekstrem sekalipun, untaian benang pikirannya terasa sukar untuk tersambung secara utuh.

Itu adalah sebuah derap lari yang berada di tingkatan kecepatan yang sedemikian gilanya.

Kawanan monster buas mengentakkan kuku mereka ke tanah dan meliuk lincah.

Sebuah pergerakan dinamis yang sukar disaksikan di dalam dimensi tanpa suara terpampang benderang di depan matanya.

Pandangan mata Encrid secara alami membedah struktur anatomi tubuh mereka.

'Kaki-kaki mereka teramat sangat kekar dan tebal.'

Pada saat yang sama, otot-otot tubuh mereka terpahat dengan definisi yang sangat tajam, tubuh bagian atas mereka tergolong ramping, serta kuku-kuku kaki mereka tampak sekeras bongkahan besi padat.

Itu adalah sebuah struktur anatomi raga yang dirancang dan terspesialisasi murni demi satu tujuan: berlari dalam kecepatan mutlak.

Faktor itulah yang menjadi alasan tunggal mengapa raga monster tersebut sanggup melesat beberapa kali lipat jauh lebih cepat dibanding monster-monster liar biasa.

'Mereka dipastikan telah berevolusi secara khusus menuju ke arah tersebut.'

Pemuda itu mempertahankan posisi tubuhnya yang rendah dengan hanya kepalanya yang sedikit menyembul mengawasi ke depan.

Tepat saat kawanan monster buas mulai memacu kecepatan lari mereka mengandalkan otot-otot kaki mereka yang unik, jarak di antara kedua belah pihak rupanya tidak sanggup terpangkas dengan mudah.

Kian menyulitkan situasi, mereka sanggup melepaskan tembakan anak panah tulang secara akurat sembari terus berlari kencang.

Murni menilik dari keahlian tempur tersebut, mereka teramat sangat pantas untuk dilabeli sebagai kawanan monster yang menguasai trik-trik perang tingkat tinggi.

'Mereka bahkan mengenakan setelan baju zirah pelindung.'

Itu adalah bukti sahih yang menegaskan bahwa mereka telah menyerap tatanan ilmu perang milik bangsa manusia.

Mereka telah merajut dan mengukir lempengan-lempengan tulang belulang demi membentengi tubuh bagian atas mereka yang menyerupai manusia.

Menyempurnakan persenjataan tersebut, sebilah busur panah berbahan tulang, tali busur yang dirajut dari urat liat binatang siluman, serta seikat anak panah tulang beracun.

'Apakah ini adalah representasi dari sebuah koloni sarang yang telah dipersenjatai penuh?'

Encrid mencengkeram gagang pedang Dawnforged miliknya erat-erat.

Bukanlah perkara yang mudah untuk mengayunkan bilah pedang di tengah posisi tubuh yang menunduk rendah merapat ke punggung kuda.

Namun andai hal itu memang mutlak dibutuhkan, maka dia wajib mengeksekusinya.

Bukankah sosok Odd-eye saat ini tengah berlari mempertaruhkan segenap jiwa raganya?

Kawanan musuh di depan mereka mengangkat busur tulang mereka lalu memutar tubuh bagian atas mereka menghadap lurus ke arah belakang.

Separuh manusia dan separuh kuda, kaki-kaki mereka berlari membelah angin sementara tubuh bagian atas mereka menembakkan anak panah.

Sebuah pembagian tugas fungsional yang teramat sangat sempurna.

'Odd-eye benar-benar sesosok kawan yang teramat istimewa.'

Demikianlah kesimpulan batin yang dirumuskan oleh Encrid.

Bangsa kuda pada hakikatnya adalah hewan yang bertabiat penakut dan mudah terkejut.

Namun meski begitu, kuda jantan ini sama sekali tidak gentar oleh desingan anak panah dan tidak pernah mengamuk liar.

Kuda-kuda pengangkut barang yang ditunggangi oleh rekan-rekan ordonya sedari awal murni hanyalah kuda beban biasa, bukan kuda perang yang digembleng untuk medan pertempuran, namun mereka semua tetap sanggup mempertahankan ketenangan mereka.

Seluruh ketenangan itu bermuara murni berkat wibawa kepemimpinan yang dipancarkan oleh sosok Odd-eye.

Dan menyempurnakan seluruh kehebatannya...

'Kuda ini bahkan sanggup menginjak-injak dan menggigit monster-monster buas biasa hingga tewas.'

Apakah ketangguhan itu merupakan anugerah bawaan lahir, ataukah buah dari hasil pembelajarannya di alam liar?

Kawanan Centaurs seketika melepaskan tarikan tali busur mereka.

Anak-anak panah beracun yang mereka lepaskan sembari berlari melesat deras di udara, membidik lurus ke arah raga Odd-eye.

Encrid mengunci dan membaca lintasan pergerakan dari seluruh anak panah tersebut.

Sembari mempertahankan posisi tubuhnya yang rendah menempel pelana, dia menghunus pedangnya, lalu mendekap erat raga Odd-eye menggunakan kedua kakinya dan menyuntikkan gelombang tenaga ke dalamnya.

Tangan kanannya mencengkeram gagang Dawnforged, sementara tangan kirinya menahan bagian tengah penampang bilah pedang, mengayunkannya lincah layaknya sebuah senjata tumpul pendek berkecepatan tinggi.

'Andai kucoba menjulurkan atau mengayunkannya dalam lintasan tebasan yang lebar, bilah pedangku bakal terhambat oleh besarnya resistensi angin.'

Adalah keputusan yang paling tepat untuk menepis setiap anak panah yang meluncur menggunakan pergerakan minimal yang teramat efisien.

Tingkat akurasi tembakan anak panah tersebut pada hakikatnya tidak terlalu tinggi.

Itu adalah tembakan proyektil yang dilepaskan dalam kondisi panik kala tengah dikejar oleh predator maut.

Satu-satunya faktor yang membuatnya terasa sangat berbahaya murni karena kuantitasnya yang teramat masif serta permukaan matanya yang telah dilumuri racun asam mematikan.

Bilah perak milik Dawnforged menepis dan mementalkan seluruh anak panah tersebut tanpa ada satu pun yang lolos.

"Larilah sepuas hatimu, Odd-eye! Aku yang bakal menepis seluruh serangan maut yang menghujam dari atas! Kau murni cukup berlari! Larilah sesuka hatimu!"

Pemuda itu nyaris menggigit lidahnya sendiri kala berseru lantang di tengah terpaan angin badai supersonik, namun dia tetap menyuarakan teriakannya dengan segenap tenaga.

Itu memang bukan situasi yang kondusif di mana untaian kalimatnya sanggup tersampaikan secara verbal, namun pemuda itu tetap melontarkannya.

Melalui untaian kata-kata itulah, dia menyalurkan kemurnian kehendak Will miliknya.

Dan itulah hal yang baru saja dieksekusi oleh seorang Encrid.

Untaian kalimatnya menjelma menjadi sebuah rangsangan pemantik dan pemicu ledakan bagi jiwa Odd-eye.

Encrid memang tidak sanggup melihatnya secara langsung dari atas punggung, namun seberkas kilauan cahaya benderang mendadak memancar meluap dari sepasang bola mata milik Odd-eye.

Keteguhan kehendak Will miliknya kini telah terisi penuh hingga meluap tanpa batas.

KRAAAK!

Semburan darah segar seketika meledak memancar dari punggung Odd-eye.

Sebuah objek misterius mencuat melesat keluar dari sela-sela semburan darah merah pekat tersebut.

Sebuah manifestasi berwarna merah membara yang bercampur baur bersama kepulan uap biru pekat yang tercipta dari penguapan keringat panasnya.

Sepasang Sayap (Wings).

Sepasang sayap agung mendadak tumbuh mekar mencuat dari punggung dan kedua sisi tubuh Odd-eye lalu membentang lebar membelah angkasa!

Percikan darah segar berhamburan terbang ke arah belakang.

Sepasang sayap tersebut—tak ubahnya sepasang bilah pedang raksasa yang direbahkan mendatar—membelah dan merobek hambatan gesekan angin secara mutlak.

SRAAAK—!

Sebuah ilusi suara halus mendadak menggema di telinganya, seolah-olah ada sesuatu di dimensi semesta yang baru saja terpotong terbelah dua.

Pada saat yang sama, akselerasi kecepatan lari Odd-eye seketika melompat kian tak terkendali!

Untuk sesaat, Encrid merasakan sensasi mengerikan di mana seluruh organ dalam di dalam rongga tubuhnya seolah terdorong terhempas jauh ke arah belakang.

Struktur anatomi tubuh seorang ksatria sejati berada di dimensi yang terpisah dari manusia biasa.

Sensasi dorongan inersia kinetik semacam ini adalah sebuah fenomena yang sudah teramat lama tidak pernah dia rasakan di sepanjang hidupnya.

Sebuah sensasi di mana ragamu melesat menerjang maju ke depan sembari menelantarkan organ dalammu tertinggal di belakang.

Sosok Centaur yang membelalakkan sepasang bola mata hitam pekatnya saking ngerinya kini telah berada tepat di depan batang hidungnya.

Sebuah radius jarak tempur di mana dirinya sanggup menjangkaunya murni lewat mengayunkan bilah pedangnya.

Insting hewani dan ketajaman intuisi, tempaan disiplin dan ratusan siklus pertarungan hidup-mati.

Seluruh akumulasi ilmu tersebut terkonsentrasi padat dan seketika menggerakkan lengan kanan Encrid.

Bilah pedang Dawnforged yang dipadukan bersama akselerasi daya inersia kinetik dari terjangan supersonik Odd-eye meluncur menyambar secara horizontal.

BLAAAAR!

Suara dentuman ledakan dahsyat menggema memekakkan telinga terlambat sepersekian detik di udara.

Bilah pedang Dawnforged milik Encrid telah membuat raga sang Centaur meledak berkeping-keping di udara!

Meskipun pemuda itu menebasnya secara presisi mengandalkan ketajaman bilah peraknya, raga monster tersebut seketika meletup hancur berkeping-keping.

Itu murni karena besarnya akselerasi kecepatan terjangan sang kuda telah dikonversi seutuhnya menjadi daya hancur destruktif yang teramat dahsyat.

Sebuah kawanan monster buas yang ekor formasinya baru saja dicengkeram dan dibantai tanpa ampun.

Encrid merasakan gelora ekstasi yang teramat liar dari sensasi akselerasi kecepatan tersebut, sementara seisi kawanan Centaurs seketika dicekam oleh teror kengerian dan keputusasaan maut yang abadi.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.