Bab 851: Ketukan yang Mengoyak Kedamaian
Cypress mendongakkan kepalanya menatap hamparan langit luas lalu membelai janggut kasarnya yang tumbuh lebat menggunakan telapak tangannya.
"Situasi ini benar-benar terasa sangat tidak adil."
Dia merasa sangat tidak puas dengan konstelasi pertempuran yang tengah berlangsung.
KREEEAAAK!
Pekikan melengking dari seekor monster buas menggema membelah angkasa, merambat turun dari langit tinggi menghujam permukaan tanah.
Hembusan angin kencang menerbangkan jubah merah kebanggaannya serta mengibaskan helaian rambut cokelat terangnya yang telah diselingi oleh beberapa helai uban putih.
Dia awalnya mengira bahwa beban tugasnya bakal terasa sedikit lebih ringan seiring keberhasilan Ingis merengkuh gelar ksatria sejati baru-baru ini, namun pihak kerajaan wilayah selatan justru mengerahkan kartu truf tak terduga yang berada di luar batas nalar.
Sekumpulan entitas tempur yang dikenal sebagai Penunggang Grifon (Gryphon Riders).
Para penunggang yang bertengger di punggung kawanan gryphon itu menjatuhkan rentetan gulungan mantra sihir termodifikasi serta menghujankan bongkahan-bongkahan batu besar dari ketinggian angkasa yang mustahil sanggup dijangkau oleh jangkauan anak panah biasa.
Serangan udara semacam itu memang bukan instrumen maut yang sanggup mengancam keselamatan seorang ksatria agung secara individu.
Tak ada satu pun ksatria setingkat pengiring (squire) yang sebodoh itu hingga membiarkan tengkorak kepalanya pecah terbelah murni akibat kejatuhan hujan batu es.
Namun bagi barisan prajurit reguler garnisun selatan, hujan proyektil tersebut adalah sebuah malapetaka yang teramat mematikan.
Demi membendung agresi udara tersebut, segenap jajaran ordo ksatria terpaksa harus memangkas jatah waktu tidur mereka demi melempar tombak ke angkasa dan menembakkan busur panah.
'Kita membutuhkan pasokan busur raksasa (greatbows) yang tidak bakal patah kala ditarik oleh kekuatan fisik seorang ksatria, serta setidaknya membutuhkan jeda waktu tiga bulan penuh.'
Itulah prasyarat mutlak yang dibutuhkan demi sanggup mencegat kawanan monster buas yang melayang di atas kepala mereka—makhluk mitologi berkepala rajawali dengan anatomi tubuh bagian bawah berwujud seekor singa perkasa—beserta para penunggang yang bertengger di punggungnya.
Cypress mengevaluasi kondisi krisis saat ini dengan kalkulasi yang teramat dingin.
Tanpa terpenuhinya prasyarat yang baru saja dia rumuskan di dalam kepalanya, garis pertahanan sektor selatan dipastikan bakal terdorong mundur dalam waktu singkat.
Kerusakan parah telah menganga di berbagai sudut, dan beberapa gerombolan monster liar telah berhasil melintasi garis perbatasan.
Dan seluruh monster liar tersebut merupakan kawanan buas yang sengaja dibukakan jalur koridor jalannya oleh barisan bajingan dari kerajaan selatan.
'Kita sama sekali tidak mengantongi kapasitas cadangan untuk turut membendung serbuan monster-monster darat itu.'
Sebagaimana fenomena darurat yang kerap meletus di masa lalu, segenap penguasa di masing-masing wilayah kadipaten terpaksa harus membentengi tanah mereka secara mandiri mengandalkan kekuatan sendiri.
Namun tetap saja pertempuran ini adalah sebuah medan laga yang condong pada kekalahan.
Penunggang Grifon (Gryphon Riders), benar-benar sebuah kartu taktis yang teramat tak terduga.
"Ingis."
"Siap, Tuan Guru."
Andai bukan berkat kehadiran sosok Ingis yang baru saja dinobatkan sebagai ksatria sejati, serta sosok ksatria perkasa lainnya yang menyandang gelar Ksatria Tempur (Fighting Knight) yang sedari dulu memang membentengi medan perang ini...
'Garis pertahanan kita dipastikan telah jebol sejak lama.'
Fondasi ketahanan militer sektor garis depan selatan sejatinya berkali-kali lipat jauh lebih kokoh dibanding dugaan awalnya.
Lantas apakah mereka harus menarik langkah mundur?
Andai mereka berniat menyerah semudah itu, mereka dipastikan tidak bakal sudi bertahan bertempur mati-matian hingga detik ini.
"Kita wajib memeras otak mencari cara bagaimana agar kita sanggup melompat naik ke atas langit."
"...Siap, Tuan."
Jawaban yang dilontarkan oleh Ingis terdengar terlambat sesaat.
Cypress adalah sesosok pahlawan legendaris yang selalu sanggup menyulap hal-hal mustahil menjadi kenyataan.
Gelar kehormatan yang melekat abadi pada namanya adalah sang ksatria yang 'Sanggup Melakukan Apa Saja (Can Do Anything)'.
Tentu saja hal itu bukan berarti dirinya benar-benar sanggup terbang mengepakkan sayap di udara, namun sebuah strategi penanggulangan dalam skala sedahsyat itulah yang mutlak dibutuhkan saat ini.
'Jika kita gagal mewujudkannya, kita dipastikan bakal kalah total.'
Ingis sanggup membaca intensi tersembunyi yang dirancang oleh komandan tertinggi kerajaan selatan.
Pada kenyataannya, mengingat sebagian besar komandan perang mendambakan pencapaian yang serupa, bukanlah perkara sulit untuk membedah isi kepalanya.
'Merengkuh kemenangan perang secara mudah sembari menekan angka korban jiwa di pihak kita seminimal mungkin.'
Demi mempertahankan premis taktis tersebut, seorang komandan bakal merancang segudang strategi licik.
Sebuah proposisi yang terdengar sangat sederhana, namun teramat sukar untuk dipertahankan di dunia nyata.
Pihak kerajaan selatan terus-menerus mengerahkan divisi Penunggang Grifon (Gryphon Riders) tanpa kenal lelah.
Saat fajar menyingsing, pagi hari, siang bolong, sore menjelang, senja temaram, hingga larut malam yang pekat, tanpa ada jeda istirahat sedetik pun.
Demi membendung ancaman tersebut, kehadiran para ksatria agung mutlak dibutuhkan, mengingat mereka wajib mencegat bundel gulungan mantra yang dijatuhkan dari angkasa serta mengancam monster gryphon menggunakan lemparan lembing berkecepatan tinggi.
Itu adalah ketinggian udara yang mustahil sanggup dijangkau murni mengandalkan kekuatan otot prajurit reguler biasa.
Berkat manuver gerilya udara tersebut, barisan ordo ksatria sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat dengan layak.
'Andai siksaan mental ini terus berlanjut selama dua pekan ke depan, kita dipastikan bakal dipaksa berhadapan melawan barisan ksatria elit selatan di tengah kondisi krisis kurang tidur.'
Menilai situasi ini dengan akal sehat yang dingin, kondisi ini tak ubahnya bertarung dengan sebelah tangan terikat di belakang punggung bahkan sebelum bentrokan fisik sesungguhnya dimulai.
'Moral tempur seluruh angkatan perang telah merosot tajam ke titik nadir murni akibat teror Gryphon Riders.' Barisan ksatria sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Bagaimana jadinya jika mereka dipaksa harus berhadapan melawan barisan ksatria Pelindung (Guardians) dari kerajaan selatan dalam kondisi tubuh yang rapuh semacam ini?
Gelar Pelindung (Guardians) adalah sebutan kehormatan bagi barisan ksatria agung yang bernaung di bawah panji kekuasaan kerajaan wilayah selatan, Lihin-Stetten.
Mereka melabeli diri mereka sendiri sebagai pilar pelindung keselamatan negara.
Mereka pun merupakan sekumpulan orang-orang angkuh yang meyakini sepenuh jiwa bahwa segala hal di dunia ini bakal selalu berputar menguntungkan pihak mereka.
Divisi Penunggang Grifon (Gryphon Riders) benar-benar merupakan sebuah instrumen perang yang sama sekali tidak pernah diantisipasi oleh siapa pun.
Kabar burung memang menyebutkan bahwa tersimpan para pawang penjinak monster di belahan wilayah selatan, namun siapa yang sanggup menduga bahwa mereka telah berhasil menjinakkan kawanan monster predator tingkat tinggi layaknya seekor gryphon?
Dan menempatkan seorang prajurit di atas punggungnya demi menjatuhkan bola-bola api peledak dari langit tinggi?
'Apakah kita terpaksa harus menuntaskan masalah ini bagaimanapun caranya?'
Sosok gurunya sedari dulu memang merupakan tipikal ksatria yang menjalani hidup dengan prinsip baja semacam itu.
Apa pun faktanya, ini adalah krisis darurat terbesar yang pernah tercatat di sektor garis depan selatan di sepanjang lembaran memori Ingis.
* * *
"Sama sekali tak ada urgensi bagiku untuk ikut berangkat ke sana. Bawa saja barisan binatang buas yang tengah birahi itu murni karena mereka tidak bisa bertarung selama beberapa hari terakhir."
Di antara segenap perwira inti ordo ksatria, hanya sosok Jaxon yang melontarkan kalimat tersebut lalu memilih untuk tetap tinggal di markas garnisun.
Secara alami, adu mulut berdarah seketika meletus tepat setelah untaian kalimat itu meluncur dari bibirnya.
"Siapa yang berani kau panggil sebagai binatang buas, keparat?! Satu-satunya binatang buas sejati di tempat ini murni hanyalah manusia beruang keparat itu!"
"Hoho, saudaraku. Apa kau barusan tengah merujuk pada diriku?"
"Apa kau baru saja menyalahgunakan istilah 'beastkin' sebagai sebuah hinaan rasisme?! Kau mau baku hantam sekarang?!" Rem, Audin, dan Dunbakel seketika bereaksi kompak merespons provokasi Jaxon.
"Jika kita bakal berangkat ke medan perang, maka akulah yang bakal memimpin di barisan paling depan!" Ragna ikut melontarkan celotehan tanpa arahnya.
"Tidak boleh, Tuan. Kita bakal menempuh perjalanan mengendarai kuda. Saya sejatinya sangat ingin memasukkan Tuan Ragna ke dalam kereta kuda tertutup, namun mengingat hal itu bakal memicu kegaduhan yang berisik, maka tolong kendarailah kuda yang paling jinak," Ropord bergegas membendung kengawuran Ragna.
"Perang akbar melawan pihak kerajaan selatan? Sangat luar biasa. Saatnya akhirnya tiba bagiku untuk memamerkan seluruh keahlian pedang yang kupelajari kala bersantai bermain," Fel yang berdarah tekun murni memperlihatkan gelora antusiasmenya tanpa memusingkan keributan di sekitarnya.
Sang Dragonkin, sang katak cerdas, serta sang putri elf sedari awal adalah entitas-entitas yang sama sekali tidak bakal bereaksi terhadap kegaduhan verbal semacam itu.
Ketiganya murni menempel rapat di samping sisi Encrid.
Dan kala melodi senandung riang milik Theresa turut menyusup ke dalam ruangan...
"Inilah wujud sejati dari The Order of the Madmen Knights." Persis seperti yang selalu diutarakan oleh Krais.
Ini adalah sebuah perkumpulan monster gila, sekumpulan bajingan abnormal.
Dan tepat di episentrum poros mereka, hanya sosok Encrid yang berdiri memancarkan ketenangan batin yang teramat stabil.
Kala mereka melangkah merapat mengiringinya satu per satu, pemuda itu murni menganggukkan kepalanya santai.
Dan barisan kecil itu kini telah mekar bermutasi menjadi sebuah kekuatan agung semasif ini.
"Mari kita berangkat."
Encrid memimpin di barisan paling depan.
Dengan bergabungnya sang kuda liar Odd-eye ke dalam formasi, jumlah rombongan mereka tergolong cukup masif.
Seluruh anggota ordo kecuali Esther dan Jaxon resmi melangkahkan kaki mereka bertolak menuju ke garis depan.
Dan demikianlah, rombongan ksatria melangkah meninggalkan markas benteng.
Rem dengan santai meniup peluit dari sehelai daun rumput liar sembari menepuk-nepuk kepala kuda tunggangannya, sementara Ragna tampak terkantuk-kantuk tertidur di atas pelana kudanya.
Encrid yang melihat bahwa bagian depan punggung Odd-eye tampak bergelombang dan dipenuhi oleh bekas lebam biru mengusap punggungnya perlahan lalu bertanya, "Kau tampak bukan seperti tipikal kuda yang bakal pasrah dihajar babak belur di sembarang tempat."
Sang kuda liar yang memahami bahasa manusia mengibaskan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Hiiiii-ring!
Makna dari dengusan napasnya tentu saja mengindikasikan kata 'bukan'.
"Lantas mengapa punggungmu terluka parah seperti ini?"
Bahkan dengan usapan lembut sekalipun, serat-serat otot di punggungnya tampak berkedut ngilu menahan sakit.
Hii-ring.
Kali ini dengusannya mengindikasikan bahwa dirinya sendiri tidak mengetahui penyebab pastinya.
"Kau sanggup berkomunikasi batin bersama kuda tungganganmu. Apakah dirimu dibekali oleh bakat indrawi yang sama persis seperti diriku?" tanya sang Dragonkin penasaran.
Murni karena dirinya sanggup membaca pikiran makhluk lain bukan berarti sang Dragonkin sanggup menembus seluruh kapasitas keahlian lawan secara mutlak.
"Tidak."
"Namun kalian berdua tetap sanggup saling bertukar pikiran."
Itu adalah sebuah dialog yang dilangsungkan dengan Shinar yang menunggang kuda tepat di sela-sela mereka.
Sang putri elf menyambar untaian kalimat sang Dragonkin.
"Itu tak ubahnya berkomunikasi murni mengandalkan sebaris kontak mata, wahai Dragonkin. Sama persis seperti kala diriku dan tunanganku saling mengikat janji pernikahan suci kami murni lewat pandangan mata."
Sang Dragonkin mengerjapkan celah pupil mata vertikalnya sekali lalu membuka suaranya. "Kudengar bangsa peri elf pantang mengenal kebohongan, tampaknya peradaban dunia telah mengalami banyak sekali perubahan."
Sebelah alis mata milik Shinar seketika terangkat berkedut sesaat, sedemikian halusnya hingga mustahil disadari andai kau tidak mengamatinya dengan sangat lekat.
Apakah itu merupakan sebuah ekspresi kejengkelan batin?
Demikianlah kesimpulan yang tersaji di mata Encrid.
"Di mana letak kebohongannya?!" Seorang peri elf pantang melontarkan dusta.
Mereka murni hanya mendistorsi fakta kebenaran.
Bagi seorang Shinar, ikatan pernikahan itu memang belum menjadi kenyataan di detik ini, namun hal itu adalah sebuah peristiwa mutlak yang dipastikan bakal terjadi di masa depan, dan status pertunangan suci mereka pun berada dalam koridor hukum yang serupa.
"Ikatan pernikahan serta status tunangan tersebut," sang Dragonkin menampik klaim tersebut secara gamblang tanpa ragu.
"Itu sama sekali bukan sebuah dusta, dasar kau iblis keparat!" sang putri elf akhirnya meluapkan kekesalannya secara terang-terangan.
Andai tersimpan sebuah kutukan yang berkali-kali lipat jauh lebih mengerikan dibanding sebutir tunas kentang busuk bagi dirinya, maka kutukan itu adalah dilabeli sebagai sesosok iblis neraka.
"Aku adalah seekor Dragonkin."
"Itu adalah sebuah majas ekspresi bahasa! Bukan sebuah dusta!"
Luagarne memutuskan untuk menyerah mencoba memahami alur perdebatan di antara kedua makhluk mitologi tersebut.
Encrid sedari awal memang sama sekali tidak menaruh minat pada celotehan mereka.
Seluruh anggota rombongan menunggangi kuda masing-masing.
Tadinya merupakan tugas logistik yang teramat sulit demi mencari seekor kuda yang sanggup menopang bobot tubuh raksasa milik Audin, namun seekor kuda pejantan unggul yang dirawat oleh penjaga istal kota Green Pearl di padang rumput luas sanggup memikul bebannya dengan sangat kokoh.
Itu adalah ras kuda unggulan yang memiliki surai lebat di atas kukunya serta dibalut oleh perpaduan warna bulu cokelat keabu-abuan yang megah.
Tentu saja Theresa turut dianugerahi seekor kuda betina dari trah ras unggul yang serupa.
"Namamu mulai detik ini adalah Piyob," Audin menyematkan nama pada kuda tunggangannya.
Piyob adalah nama figur suci dari kitab suci kuil, sesosok pria beriman yang membangun sebuah kastel megah sembari memikul bongkahan batu besar di tengah siksaan rasa sakit.
"Kuda yang kau tunggangi itu berjenis kelamin betina," tegur sang pemilik istal yang menghadiahkan kuda tersebut, namun Audin sama sekali tidak berniat merevisi nama tersebut.
"Gender bukanlah perkara yang krusial, melainkan makna luhur yang bersemayam di balik nama itulah yang teramat berharga, saudaraku. Nama kuda ini adalah Piyob."
Menatap struktur postur tubuh Audin yang masif, kepalan tinjunya yang sebesar batu karang, serta senyuman damai yang menghiasi wajahnya, siapa pun dipastikan bakal dengan sukarela menyepakati apa pun keinginannya.
Sang perawat kuda pun mengeksekusi hal serupa.
"Baiklah, Piyob. Mulai hari ini namamu resmi menjadi Piyob."
Pria yang tengah memasang tapal kuda itu seketika menganggukkan kepalanya cepat.
Dan demikianlah, seiring Audin menyematkan nama pada kudanya, segenap anggota ordo ksatria mulai membaptis kuda tunggangan mereka masing-masing.
"Pathfinder (Sang Perintis Jalan)." Ini adalah nama yang disematkan oleh Ragna.
"Black Eye (Si Mata Hitam)."
Rem menamai kudanya demikian murni setelah menyaksikan bahwa sepasang bola mata kuda tunggangannya berwarna hitam pekat tanpa celah.
Sang katak cerdas Luagarne, murni akibat lapisan kulitnya yang licin dan berlendir, terpaksa harus menunggangi kuda sembari terjepit di antara sandaran pelana depan dan belakang yang sengaja ditinggikan, dan dia menamai kudanya 'Carriage (Kereta)'.
Sebuah nama yang tidak menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Themares membaca alur kesadaran batin kudanya lalu mengumumkan bahwa nama sejati dari rekan tunggangannya adalah 'Father's Seventh (Anak Ketujuh Ayah)'.
"Apakah seekor Dragonkin sanggup melontarkan kebohongan?"
Kala Rem bertanya penasaran apakah sang kuda benar-benar memikirkan nama semacam itu di dalam kepalanya, Themares menganggukkan kepalanya mantap.
"Jika memang mutlak dibutuhkan. Namun detik ini belum ada urgensi bagiku untuk berbohong."
Dalam satu sudut pandang, kalimat itu terdengar sangat arogan, namun terdengar sangat selaras dengan gelar kehormatannya sebagai sang pejalan tunggal yang dingin.
Terlebih lagi nama 'Anak Ketujuh Ayah' adalah identitas ego yang diyakini oleh sang kuda di dalam batinnya.
Rem terkekeh geli mengakui bahwa fakta tersebut memang benar adanya.
Ropord, Fel, dan Theresa menyematkan nama Cream, Spot, dan Pania pada kuda mereka masing-masing.
Cream dan Spot disematkan murni berlandaskan corak warna bulu mereka, sementara Pania adalah nama dari sesosok peziarah suci yang tercatat di dalam lembaran kitab suci kuil.
Dunbakel murni menyebut tunggangannya sebagai 'Kuda (Horse)'.
Total anggota The Order of the Madmen Knights yang bertolak menuju ke garis depan berjumlah tiga belas orang, atau lebih presisi lagi tiga belas ksatria ditambah seekor Odd-eye, menggenapkan jumlah menjadi empat belas.
Perjalanan mereka menuju ke medan perang selatan dinaungi oleh atmosfer yang agak menyerupai sebuah agenda piknik santai.
Bentangan kubah langit dihiasi oleh sedikit gumpalan awan putih, terik sinar mentari terasa sangat hangat, serta hembusan angin sejuk bertiup menyapa secara berkala.
'Hari yang benar-benar sangat indah.'
Encrid menikmati kesegaran cuaca tersebut.
Kala mereka melangkah keluar meninggalkan benteng Border Guard lalu menyusuri rute jalur setapak yang aman, mereka menerima gestur penghormatan militer resmi dari beberapa pos penjagaan perbatasan.
Punggung Odd-eye memang tampak bergelombang di bagian depannya, namun sama sekali tak ada kendala berarti andai pemuda itu duduk menunggang di bagian belakangnya.
Mereka melangkahkan kuda mereka dalam derap lari santai (trot) melintasi padang rumput hijau, dan kala kawanan kuda tampak letih, mereka memperlambat ritme menjadi langkah santai (walk).
Betapa pun kokohnya kuda-kuda pengangkut yang ditunggangi oleh Audin dan Theresa, binatang-binatang tersebut sedari awal bukanlah kuda perang tempur (warhorse), serta mereka turut dibebani oleh berbagai macam peralatan tenda dan perbekalan logistik.
Mustahil bagi mereka untuk memacu kecepatan lebih dari sekadar derap trot sejak awal.
Mereka pun sengaja memilih kuda-kuda yang dibekali oleh daya tahan fisik dan stamina yang liat dibanding kuda-kuda yang murni mengandalkan kecepatan lari kilat.
Setelah melintasi beberapa petak hutan lebat, hamparan padang rumput terbentang terbuka luas, dan cuaca yang teramat cerah menyajikan garis pandang visual yang sangat lapang.
'Edin Molsan.'
Encrid saat ini tidak tengah merenungkan seluk-beluk ilmu pedang, melainkan tengah memikirkan sosok pemuda yang baru saja dia tinggalkan di belakangnya.
'Di medan perang berdarah, sosok Edin murni hanyalah sebuah beban yang merepotkan.'
Nilai guna dan kapasitas sejatinya murni memancar benderang kala dirinya mengelola tata kota dan administrasi pemerintahan.
Lantas apakah sosok Edin adalah satu-satunya manusia yang memiliki karakteristik semacam itu?
'Para petani jelata, pengrajin kriya, seniman lukis, penyair keliling, musisi, serta barisan tukang kayu.' Hingga detik ini panggung suaka bagi mereka untuk berdiri tegak teramat sangat sempit di benua ini.
'Daratan benua ini sedari dulu selalu dikendalikan secara mutlak oleh supremasi kekuatan militer.'
Sosok ksatria yang direpresentasikan oleh segelintir kaum elit perkasa adalah simbol agung dari supremasi militer tersebut.
Alasan mengapa kerajaan kecil di seberang belahan barat yang sempat disaksikan oleh Edin sanggup bertahan hidup hingga detik ini?
Itu murni berkat pengabdian hidup dari seorang ksatria tua tunggal yang telah mendedikasikan segenap napasnya demi membentengi tanah tersebut.
Bahkan andai masa keemasan seorang ksatria sanggup diperpanjang berkat kehendak Will, teramat langka bagi seorang ksatria untuk sanggup aktif bertarung hingga menginjak usia delapan puluh atau sembilan puluh tahun.
'Namun meski begitu, berkat eksistensi ksatria tua itulah kerajaan kecil tersebut sanggup bertahan.'
Meskipun mereka kerap dicap telah menjual kesetiaan mereka demi imbalan kepingan emas, tak ada seorang pun yang berani meremehkan kesetiaan mereka murni karena mereka pantang merobek perjanjian kontrak murni demi meraup lebih banyak emas.
'Sebuah tatanan dunia baru di mana siapa pun sanggup merengkuh impian luhur mereka bahkan tanpa perlu dibekali oleh supremasi kekuatan militer.'
Itu adalah sebuah prinsip hidup yang kini telah terpatri kokoh di dalam jiwanya, melangkah jauh melampaui sekadar mengakhiri sebuah perang.
Membentengi apa yang berdiri di belakang punggungnya berarti membentengi keselamatan orang-orang lemah semacam itu.
Lantas apakah sama sekali tidak ada orang-orang berharga semacam itu di belahan wilayah selatan di mana dirinya bakal segera bertarung menumpahkan darah?
Itu adalah sebuah kilasan perenungan yang mendadak terlintas di benaknya.
Tuk.
Odd-eye seketika menghentikan derap langkah kakinya.
Pandangan mata Encrid terarah menatap lurus ke depan.
Pupil matanya seketika menyipit tajam dan mengunci sebuah objek pergerakan jauh di kejauhan.
Ketajaman mata seorang ksatria sejati sanggup menembus jarak yang berkali-kali lipat jauh lebih jauh dibanding manusia biasa.
Encrid melihat sebutir noktah hitam tengah bergerak mendekat dari kejauhan.
Noktah hitam tersebut memangkas jarak dengan akselerasi kecepatan yang teramat mengerikan.
Itu adalah hamparan padang rumput terbuka yang luas di mana garis cakrawala terpampang teramat jelas di depan mata.
Rencana perjalanan mereka adalah bertolak menyusuri rute ini menuju ke teritorial wilayah Viscount Harrison (Viscount Harrison's territory), beristirahat memulihkan tenaga di sana, lalu melanjutkan perjalanan ke selatan.
Noktah hitam yang tengah melesat mendekat itu datang tepat dari arah selatan, dekat dengan perimeter kekuasaan sang viscount.
Noktah hitam yang berlari kencang membelah padang rumput terbuka kian mendekat ke hadapan mereka.
Jaraknya sedemikian jauhnya hingga sangat sukar untuk diidentifikasi secara visual murni mengandalkan mata biasa, namun pergerakan noktah tersebut teramat sangat cepat.
Andai disaksikan dari jarak dekat, bukankah sosoknya bakal melesat melintas hanya dalam tempo satu kedipan mata singkat?
Tepat kala jarak di antara noktah tersebut dan rombongan ksatria telah terpangkas hingga radius tertentu, sebatang anak panah meluncur deras di udara sembari melukiskan lintasan parabola yang mematikan.
Itu adalah sebatang anak panah berbahan tulang yang telah memudar berwarna abu-abu kusam.
Tanpa perlu mengucap sepatah kata pun, seluruh anggota ordo ksatria seketika bereaksi secara refleks mengandalkan insting mereka masing-masing.
Semua orang kecuali Encrid membentengi kuda tunggangan mereka lalu mengayunkan senjata mereka ke udara.
Odd-eye berkelit menghindar secara mandiri.
Wuuush-wuuush! TRANG!
Murni suara benturan logam halus yang menggema membelah keheningan.
Anak-anak panah yang berhasil ditepis seketika berhamburan berserakan di atas tanah.
'Aroma asam yang menyengat.'
Encrid, sembari menepis anak panah tersebut menggunakan bilah pedangnya, mengendus seberkas aroma anomali yang mengambang tipis di udara.
Aroma asam yang bercampur dengan bau amis yang teramat pekat.
"Itu adalah racun mematikan," Rem memperingatkan.
Ragna yang sedari tadi terkantuk-kantuk seketika melompat turun dari atas punggung kudanya.
Dalam adu lari jarak pendek, kecepatan lari seorang ksatria agung berkali-kali lipat jauh lebih cepat dibanding seekor kuda.
Kalkulasi keputusannya teramat kilat, dan akselerasi aksi fisiknya melesat jauh lebih cepat.
Itulah keunggulan terbesar yang dimiliki oleh sosok Ragna.
Namun reaksi gerak sang musuh di kejauhan ternyata meluncur jauh lebih cepat.
"Lihatlah ulah licik para bajingan keparat itu," gumam Fel dingin.
Mereka menembakkan anak panah lalu seketika melarikan diri terbirit-birit.
Dan mereka melesat kabur menggunakan kecepatan kilat yang membuat siapa pun enggan membuang tenaga untuk mengejar mereka.
Sosok-sosok monster yang tadi menghantam permukaan tanah dan berlari kencang di kejauhan telah resmi meloloskan diri begitu saja.
"Makhluk-makhluk yang benar-benar sangat menjengkelkan," Ropord menyuarakan firasat buruk yang baru saja menyentuh indra keenamnya.
Pria itu sama sekali tidak merasakan ancaman bahaya yang sanggup merenggut nyawanya, namun manuver gerilya semacam itu teramat sangat mengganggu konsentrasi.
Hii-ring!
Beberapa ekor kuda yang sempat terkejut mengangkat kepala mereka, namun mereka tidak sampai membuat kegaduhan yang lebih besar.
Odd-eye telah resmi memegang tampuk kepemimpinan sebagai pemimpin kawanan kuda di antara mereka.
Murni lewat dirinya melangkah melintasi barisan kuda sekali saja, kuda-kuda lainnya seketika kembali tenang dan patuh.
Itu adalah sebuah ketukan taktis yang baru saja mengoyak ketenangan damai dari perjalanan mereka.
"Kawanan Centaurs (Kentaur)," ucap Encrid datar.
Mereka adalah kawanan monster buas separuh manusia separuh kuda yang dulu pernah dia bantai kala koloni sarang mereka mekar berkembang di masa lalu.
Namun kali ini, haruskah dikatakan bahwa pola perilaku bertarung mereka terasa agak sedikit berbeda?
Setelah tiga hari berturut-turut berlalu, pola taktik busuk yang tengah mereka mainkan terpampang semakin nyata di depan mata.
"Makhluk-makhluk keparat ini sengaja mengulur waktu dan tengah menunggu kita jatuh kelelahan," tutur Rem, sang pemburu berdarah dingin alami.











