Eternally Regressing Knight

Bab 841: Godaan, Kedigdayaan, Keputusasaan

3305 Kata

Bab 841: Godaan, Kedigdayaan, Keputusasaan

"Sang Raksasa Arena Tempur (The Giant of the Arena)!"

Seorang perapal mantra yang telah merengkuh tingkatan keheningan tanpa suara (tacitus) sengaja melafalkan nama mantranya dengan lantang.

Dia tidak sekadar menggerakkan bibirnya, melainkan turut merajut segel tangan magis secara terkoordinasi.

Selaras dengan gema mantranya, sesosok entitas makhluk sihir yang terpahat dari bebatuan cadas mendadak menyembulkan paras wajahnya dari dalam tanah lalu mengangkat kedua pundaknya yang masif.

Ragna menyimak seluruh proses pemanggilan tersebut dengan tatapan mata yang teramat dingin dan acuh tak acuh, lalu mengayunkan pedang Sunrise miliknya.

Sebuah tebasan menyilang dari kiri atas menghunjam deras ke kanan bawah.

Mata pedangnya melukiskan lintasan bulan sabit di udara, dan sang golem raksasa batu yang terperangkap di dalamnya seketika terbelah rapi persis mengikuti pola sayatan yang digoreskan oleh bilah pedang.

Penampang potongan batu cadas itu bahkan memercikkan kobaran api suci yang menyala membara.

Pedang panjangnya, Sunrise, adalah sebuah artefak relik legendaris.

Seolah itu adalah sebuah keniscayaan alami, bilah pedang tersebut menyayat dan membelah raga makhluk sihir itu semudah memotong tahu.

Golem batu yang telah terpotong-potong itu ambruk berhamburan menjadi serpihan debu di atas tanah.

Itu adalah pemandangan yang telah terulang selama beberapa kali berturut-turut.

Sang penyihir telah memanggil barisan golem batu berulang kali.

Sebagian memanifestasikan diri dalam wujud raksasa setinggi pohon, namun ada pula yang mencoba melilit tubuh Ragna dalam wujud seekor ular batu raksasa.

Tentu saja seluruh manuver tersebut berakhir sia-sia belaka.

Tebasan pedang sederhana milik Ragna membabat dan membelah seluruh monster tanah liat itu tanpa perlu repot-repot menghancurkan inti batu (core) milik sang golem.

Sama sekali tak ada regenerasi yang tercipta.

Pedang Sunrise adalah sang malaikat maut yang terbit menyingsing dari ufuk timur.

Bilah suci itu memamerkan mukjizat untuk mengusir pekatnya kegelapan lalu memaksanya bersembunyi merayap di atas tanah.

Kegelapan yang telah dipaksa bermutasi menjadi seberkas bayangan semu hanya sanggup bertahan hidup dengan cara bersandar pada pancaran sang cahaya.

Ragna melancarkan beberapa tebasan kosong di udara.

Pria pirang itu tampaknya merasa kurang puas dengan sudut ayunan pedang terakhirnya.

Rasanya bakal sangat menyenangkan andai dirinya bisa menebas beberapa kali lagi.

"Apa kau tidak bisa memanggil lebih banyak monster lagi ke sini?" tanya Ragna santai.

Apakah jumlah golem yang dipanggil barusan terasa terlalu sedikit?

Pertanyaan polos semacam itulah yang mendadak melintas di kepalanya.

Krais tidak menempatkan Ragna di luar dinding benteng kota tanpa adanya perhitungan matang.

Sebagai gantinya, pria bermata besar itu mempercayakan pengawalan sektor dinding timur benteng perbatasan Border Guard ke pundaknya.

Sang necromancer pemuja mayat hidup telah memilih menyerbu ke arah gerbang Rockfreed yang dipadati oleh populasi warga sipil, sementara penyihir yang kini tengah mengamuk histeris di hadapan Ragna menargetkan sektor pertahanan Border Guard.

Sama sekali tak ada alasan filosofis yang muluk di baliknya.

Sebuah pertimbangan mendalam ataukah kalkulasi strategis tingkat tinggi?

Sama sekali tidak ada.

Mereka adalah para penyihir.

Mereka bukanlah barisan perwira militer yang mahir dalam merumuskan strategi dan taktik perang.

Alasan tunggal mengapa penyihir batu ini melangkahkan kakinya ke tempat ini teramat sangat sederhana dan dangkal.

'Pasokan bijih besi berkualitas tinggi.'

Pria tua itu telah menguasai seni sihir memanipulasi batuan cadas dan lempengan besi tempa.

Bukan, lebih tepatnya dia selalu membanggakan dirinya sendiri di hadapan orang lain bahwa dirinya telah menguasai ilmu tersebut secara mutlak.

Layaknya gelar 'Dia yang Menggenggam Aliran Sungai', pria ini pun menyandang julukan kehormatannya sendiri.

Sang Penguasa Batu dan Pasir (The Master of Stone and Sand).

Sebuah gelar megah yang teramat sombong.

Dia sedari awal berencana merakit divisi pasukan golem baru menggunakan cadangan batuan dan bijih besi berkualitas tinggi yang tertimbun di kota ini, lalu dengan pasukan pribadinya tersebut, dia berambisi untuk berdiri superior di atas para penyihir lainnya.

Bagaimana jadinya jika dia menyerbu masuk membawa legiun golem batu miliknya tepat kala para penyihir lainnya telah kehabisan tenaga setelah berhadapan langsung melawan sang penyihir jenius generasi ini, Esther?

Kalkulasi serakah yang teramat dangkal inilah yang telah menuntun derap langkah kakinya ke tempat ini.

"Mereka semua hanyalah sekumpulan bajingan tamak yang sibuk memperkaya perut mereka sendiri."

Penuturan yang disampaikan oleh Esther tempo hari adalah kunci porosnya.

Krais dengan demikian telah menata ulang seluruh peta taktis pertahanan berlandaskan data intelijen yang dia korek dari sang penyihir wanita.

Dia telah memetakan secara presisi siapa saja sosok-sosok tamak yang kemungkinan besar bakal menargetkan benteng kota.

Tentu saja menyebarkan barisan ksatria The Order of the Madmen Knights ke berbagai penjuru bukanlah satu-satunya langkah yang dia tempuh.

Dia tidak pernah lalai mengerahkan regu pengintai cepat di sepanjang jalur perlintasan antar-kota demi memantau pergerakan musuh, serta secara khusus meminta Jaxon untuk menggerakkan barisan pembunuh bayaran Georg's Daggers.

Dan langkah antisipasinya tidak berhenti sampai di sana.

"Tingkah lakumu ini sudah mendekati batas obsesi gila dan paranoia akut."

Abnaier sempat melontarkan komentar geli tersebut tempo hari, dan sang mantan komandan kini memahami betul mengapa dirinya dulu mustahil sanggup meraih kemenangan kala berhadapan melawan sang kawan bermata besar ini.

Bajingan bernama Krais ini teramat sangat gigih dan ulet.

Bukan, di titik ini kegigihannya telah melompat melampaui batas keuletan normal; itu murni adalah sebuah wujud obsesi mutlak.

"Bagaimana jika mereka sengaja mengincar pos Cross Guard? Bagaimana jika mereka menyerbu ke sana demi menambah pasokan jasad prajurit arwah mereka?"

Pria itu bahkan telah memperlakukan pos pertahanan perbatasan milik kerajaan Aspen tersebut layaknya wilayah kedaulatan yang mutlak wajib dia lindungi.

Dan seolah dirinya telah meramalkan potensi bahaya tersebut sejak lama, dia telah mencurahkan segenap jiwa raganya demi membina barisan angkatan bersenjata yang tangguh.

Di bawah naungan pasukan reguler garnisun Border Guard, tersimpan kekuatan militer yang teramat mumpuni untuk menghadapi ancaman para perapal mantra.

Sebagian dari regu penyerbu asuhan Rem serta sepuluh ksatria pedang elit di bawah komando Ragna telah dikerahkan mengamankan sektor Cross Guard.

Pada saat yang sama, sosok Fallen Clemen telah bergerak memimpin divisi pasukan elit garnisun.

Seluruh unit pertahanan membentuk formasi kotak pelindung terpadu dengan benteng Border Guard sebagai poros pusatnya.

Demikianlah cetak biru pertahanan yang dia bangun.

'Dasar pria psiko gila.'

Abnaier telah berulang kali berdecak kagum di dalam hatinya.

Krais bahkan turut menyertakan sosok Seiki ke dalam barisan pengawalan tersebut.

Sebagian dari kegigihan obsesifnya memang terbukti sangat jitu di lapangan, meskipun sebagian lainnya berakhir murni sebagai aksi pawai pasukan yang sia-sia.

Namun tak ada satu pun prajurit yang berani mendebat instruksi yang dia jatuhkan.

Jika ada yang bertanya apa alasan mendasar di balik kepatuhan mutlak tersebut, faktor utamanya adalah rasa kepercayaan yang teramat luar biasa terhadap sosok Krais.

Dan alasan keduanya adalah...

'Jika kau berani membantah perintahnya, sosok Encrid dan barisan ksatria ordonya yang bakal turun tangan mendidikmu.'

Bagi barisan prajurit reguler yang telah kenyang mencicipi siksaan latihan fisik langsung dari sosok Rem dan Audin, sosok Krais tak ubahnya sesosok malaikat penyelamat.

Krais, sang malaikat pengelola salon kecantikan yang tengah berdiri mengamati jalannya laga Ragna dari kejauhan, mendadak dilanda oleh rasa gelisah yang menggelitik batinnya.

Sudah menjadi tabiat alaminya untuk selalu merasa cemas dan tidak sabar setiap kali dirinya berhadapan dengan situasi yang menguntungkan.

Tepat di sampingnya, Anne, sang mahaguru alkimia sekaligus kekasih tercinta milik Ragna, berdiri bersedekap dada sembari memancarkan ketenangan yang teramat anggun.

Mereka saat ini tengah berdiri dengan punggung bersandar pada dinding kokoh benteng kota.

Sang penyihir batu menampakkan dirinya di dekat sektor dinding timur, bukan di depan gerbang utama, sehingga kuantitas prajurit garnisun yang bersiaga di sekitar titik ini tergolong sangat minim.

Krais telah menginstruksikan barisan prajurit penjaga tersebut untuk pantang melangkah maju ke garis depan.

"Tenang saja. Semua situasi ini telah berada di dalam kalkulasi persiapan kita."

Di permukaan, pembawaannya tampak sangat sempurna mencerminkan figur seorang ahli strategi ulung.

Beberapa perwira bintara bahkan merasa sangat tenang kala menyaksikan ketenangan Krais.

Dia pantang membiarkan rasa cemasnya menular ke dalam benak para prajurit, sehingga Krais berusaha keras memamerkan paras wajah yang teramat tenang di luar.

Bukan, lebih tepatnya hanya tubuh bagian atasnya yang tampak tenang.

"Berhentilah mengguncang-guncang kakimu seperti itu. Pria itu pasti sanggup membereskan bajingan di depan sana."

"Ini murni kebiasaan refleks," sahut Krais membela diri kepada Anne.

Anne menaruh kepercayaan mutlak pada sosok Ragna.

Pria yang dia cintai mustahil bakal meregang nyawa murni hanya oleh sihir murahan semacam itu.

Terlebih lagi, Anne pun telah meracik serangkaian persiapan khususnya sendiri, terpengaruh oleh gelombang kecemasan yang ditebarkan oleh Krais tempo hari.

Namun meski begitu, melihat pria bermata besar di sampingnya terus gemetaran gelisah membuatnya merasa agak terganggu.

"Jika kau tidak sanggup melangkah maju untuk bertarung seorang diri, maka mempercayai mereka dengan sepenuh hatimu adalah bagian dari tugasmu. Apa kau belum mengetahuinya?"

Krais telah mempelajari pentingnya menyerap hikmah pelajaran melalui sosok Encrid.

Dia sama sekali tidak tersinggung oleh teguran Anne.

Sebagai gantinya, dia menyimak nasihat tersebut dengan sungguh-sungguh.

'Gadis ini benar.'

Jika dirimu tidak berniat menghunus pedang ke medan laga, maka kau wajib menaruh kepercayaan penuh pada rekanmu.

Dia telah mengeksekusi segala hal yang sanggup dia perbuat.

Mengubah angka mata dadu yang telah terlanjur dilemparkan ke atas meja adalah tindakan curang yang hanya diperbuat oleh seorang penipu.

'Namun bagaimana jika tindakan curang semacam itu memang mutlak dibutuhkan demi meraih kemenangan?'

Sebuah kilasan pemikiran pragmatis yang mendadak mencuat di kepalanya.

Tepat di samping Krais dan Anne yang tengah bertukar percakapan santai, Nurat berdiri dalam keheningan mengamati jalannya pertempuran.

Kepekaan mata Nurat dalam menilai bakat dan kapasitas seseorang berdiri jauh lebih superior dibanding kedua orang di sampingnya.

Itulah sebabnya mengapa dirinya memahami dengan sangat jelas betapa berbahayanya mata pedang tajam yang tengah diayunkan oleh Ragna di depan sana.

'Apakah tindakan yang bijak menghadapi seorang ksatria semacam itu dalam sebuah bentrokan frontal?'

Seorang penyihir yang mempersiapkan diri dengan matang sanggup membantai seorang ksatria lapis baja.

Sebuah adagium kuno yang telah lama mengakar di daratan benua.

Nurat menilai bahwa adagium lawas tersebut sudah saatnya untuk direvisi total.

'Semuanya bergantung pada ksatria tingkatan mana yang tengah kau coba hadapi.'

Encrid telah mendakwahkan standar klasifikasi ksatria di lingkungan benteng perbatasan Border Guard.

Jika musuh yang dihadapi berada di tingkatan pemula (entry level) seperti yang kerap dipaparkan oleh Encrid, pepatah kuno itu mungkin masih relevan.

'Namun jika ksatria itu telah melangkahi tingkatan pemula menuju novice, bukan, cukup di tingkatan madya (intermediate level) saja.'

Encrid membagi standar ksatria menjadi empat divisi besar: Entry, Novice, Intermediate, dan Advanced.

Kategori klasifikasinya memang terbentang sangat luas.

Itu murni karena dirinya tidak sanggup merumuskan standar yang terlalu kaku dan terperinci.

Tingkatan Entry adalah kapasitas untuk memanipulasi kehendak Will secara bawah sadar, dan tingkatan Novice adalah keahlian menerapkan serangkaian teknik pedang melalui perantara Will tersebut.

Tingkatan Intermediate menuntut seorang pendekar untuk sanggup merengkuh perubahan kecepatan dan akselerasi dari aliran Will itu sendiri.

Itu adalah sebuah pencapaian di mana seorang ksatria melangkah melampaui manipulasi bawah sadar menuju ke tingkatan mengendalikan Will secara sadar penuh.

Murni hanya dengan berdiri di tingkatan madya tersebut, bukankah seorang ksatria telah dibekali kapasitas fisik yang cukup untuk meloloskan diri dari jeratan persiapan seorang penyihir?

Tentu saja efektivitasnya bakal berbeda-beda bergantung pada watak dan karakteristik dari masing-masing ksatria.

Bagaimanapun juga, tidak semua ksatria terlahir dengan kapabilitas yang seragam.

Ini adalah sebuah prinsip yang disuarakan secara serempak oleh seluruh anggota ordo ksatria, termasuk sosok Encrid itu sendiri.

Nurat, meskipun dirinya bukanlah seorang peramal masa depan, merasa seolah dirinya telah sanggup menyaksikan akhir hayat tragis dari sang penyihir yang tengah sibuk merapalkan mantranya di kejauhan.

'Esther memang tidak salah menilai.'

Mereka teramat sangat sombong dan angkuh.

Dan buah dari kesombongan buta selalu berakhir dengan tragedi yang memilukan.

Bahkan kala ketiga pengamat di dinding benteng tengah menyaksikan aksinya, sang penyihir batu masih sibuk menggumamkan sebaris formula mantra.

Butiran peluh keringat dingin membanjiri dahinya, dan sepasang matanya mulai memerah saga.

Pembuluh-pembuluh darah halus di dalam bola matanya pecah melebar, mewarnai bagian putih matanya menjadi semerah darah.

Sepanjang waktu yang dihabiskan oleh sang penyihir demi merapalkan mantranya, seluruh makhluk sihir ciptaannya telah ditebas hancur dan berserakan menjadi debu di atas tanah.

Fenomena ini benar-benar tidak masuk akal baginya.

Mengapa?

Karena golem-golem batu ciptaannya pada hakikatnya tidak memiliki inti batu (core) fisik di dalam raganya!

Itu adalah metode manipulasi tingkat tinggi di mana dirinya mengendalikan monster-monster tersebut dengan cara menanamkan inti penggeraknya langsung di dalam dimensi formula sihir jiwanya sendiri.

Tentu saja ini adalah sebuah kartu as rahasia yang pantang dia bocorkan kepada siapa pun.

Namun meski begitu, trik rahasianya sama sekali tidak mempan di hadapan sang ksatria.

'Menebas Mantra Sihir (Spell Slaying).'

Jauh di masa lampau yang teramat purba, seekor Dragonkin pernah mengobarkan perang suci demi membantai seluruh perapal mantra di muka bumi.

Keahlian pamungkas yang dipamerkan oleh sang Dragonkin kala itu adalah seni menebas mantra sihir.

Sebuah tebasan pedang sakral yang sanggup memutuskan denyut nadi dari sebuah formula mantra.

Apakah pria pirang di hadapannya ini tengah mengeksekusi teknik legendaris serupa?

Dugaannya separuh benar dan separuh keliru.

Ragna telah menyerap ilmu dengan cara mengamati ayunan pedang milik Encrid, dan lewat mengadopsi metode pembinaan sihir milik Esther, dia memahami konsep dasar dari seni menebas mantra.

Namun teknik itu bukanlah hal yang sanggup dikuasai murni hanya lewat latihan biasa.

Ini bukanlah perkara yang sanggup diselesaikan murni hanya mengandalkan bakat alami belaka.

Dia wajib sanggup membaca anatomi sebuah formula sihir menggunakan kepekaan indrawinya.

Dengan kata lain, dibutuhkan sebuah bakat di tingkatan dimensi yang berbeda dari talenta yang selama ini dimiliki oleh Ragna.

Namun meski begitu, pria pirang itu paham betul bagaimana cara menirunya.

Sosok Ragna di era saat ini telah mengerti bagaimana cara mengayunkan pedangnya di waktu pagi dan petang hari.

Dia telah menyerap nilai kedisiplinan dan ketekunan murni lewat menyaksikan perjuangan hidup seorang Encrid.

Di mata orang lain, terutama bagi bajingan biadab seperti Rem, porsi latihannya mungkin masih jauh dari kata rajin, namun jika dibandingkan dengan sosoknya di masa lalu, Ragna telah berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda.

Ketekunan barunya menyusun separuh dari kekuatannya, dan separuh sisanya dituntaskan secara sempurna oleh bilah senjata yang terhunus di tangannya.

Sang malaikat maut yang terlahir dari ufuk timur telah menjelma menjadi sebuah instrumen suci yang sanggup menindas dan membelah denyut sihir lawan.

"Temperatio, Temperatio, dengarlah sumpah kidungku!"

Sang penyihir menuntaskan bait mantranya sembari bermandikan peluh keringat dingin.

Pembuluh darah kapiler di matanya meletup pecah, dan lelehan air mata darah mengalir membasahi pipinya.

Darah segar turut memancar deras keluar dari rongga hidungnya.

Dia tidak hanya mengorbankan sebagian besar cadangan mananya kepada entitas dari dimensi lain, melainkan turut mengoyak sekerat bagian dari dimensi formula jiwanya sendiri sebagai upeti persembahan.

Bagi seorang penyihir sejati, dimensi formula sihir adalah representasi dari kesadaran sukma jiwa mereka.

Dia baru saja mengeksekusi sebuah pengorbanan yang tak ubahnya mengoyak separuh jiwanya sendiri lalu mempersembahkannya ke neraka.

Ragna tidak memusingkan mengapa dirinya harus berdiri bertarung di tempat ini.

Dia tidak mengetahui latar belakang konspirasi rumit yang telah dikalkulasikan secara matang oleh Krais.

Dia sama sekali tidak menaruh minat pada hal-hal semacam itu.

Dia murni menyadari bahwa saat baginya untuk mengayunkan pedang telah tiba, dan dirinya cukup mengeksekusinya dengan sempurna.

Pendaran cahaya redup memancar berkilau dari sepasang manik mata merahnya.

Itu adalah sebuah fenomena magis yang meletup murni karena sekujur raganya kini telah dipadati oleh luapan kehendak Will yang teramat murni.

"Pikiran manusia pada hakikatnya tidak pernah sempurna. Atas nama sang penguasa alam mimpi abadi, aku menjatuhkan titahku! Kau hanya akan menatap ke arahku dan hanya akan menyimak kidung suaraku!"

Sang penyihir mengulurkan telapak tangannya ke depan.

Sihir terlarang yang dia lepaskan adalah sejenis kutukan ilusi mental tingkat tinggi.

Dan pria tua itu tetap memelihara ketamakannya hingga ke detik-detik terakhir.

'Jika aku sanggup menundukkan ksatria pedang sehebat ini menjadi budak pelindungku!'

Atas dasar itulah dirinya melantunkan mantra sihir godaan (temptation spell) sebagai kartu as pamungkasnya.

Ragna menjejakkan kakinya ke tanah lalu menyeret langkahnya maju sembari mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Ujung mata pedang Sunrise membidik lurus ke arah kubah langit.

Yang perlu dia lakukan hanyalah mengayunkannya turun ke bawah, namun ayunan pedangnya mendadak terhenti di udara.

Untuk sesaat, Ragna menyaksikan sebuah ilusi fatamorgana yang memukau.

Sesosok wanita yang teramat jelita dalam balutan gaun jala transparan tampak melambaikan jemarinya menggoda dirinya.

Dan tepat pada detik tersebut, di dalam benak memorinya mendadak terlintas siluet sesosok wanita berwajah bintik-bintik yang kerap mencekoki ramuan tonik pahit ke dalam rongga mulutnya secara paksa.

"Apa kau tahu bahwa Esther selalu merapalkan formula sihir perlindungan ke jubah mantel milik sang komandan di setiap malam?" rajuk wanita itu tempo hari.

"Aku pun tidak boleh kalah dari penyihir itu!" tegas wanita itu dengan nada bersungut-sungut.

Anne.

Nama dari wanita berharga yang dia sebut sebagai kekasih hatinya.

"Kau berani-beraninya melirik wanita lain dan mencampakkan diriku di belakangmu?!"

Anne tampak tengah meledak marah di dalam kepalanya.

Ragna sama sekali tidak menginginkan kemarahan wanita itu meletus di dunia nyata.

Retakan ilusi seketika menjalar hancur berkeping-keping.

Sosok penyihir di balik ilusi yang pecah itu bukanlah wanita jelita impiannya, melainkan sesosok nenek sihir tua yang mengenakan jubah lusuh berkerudung.

"...Kau sanggup melangkahi mantra ilusiku?!"

Itu adalah mantra sihir godaan maut yang dirapalkan oleh sang nenek sihir bahkan lewat cara mengoyak dimensi formula jiwanya sendiri.

Dan mantranya sama sekali tidak mempan sedetik pun.

Ada beberapa faktor kunci yang mendasari kekebalan tersebut.

Faktor pertamanya adalah dirinya baru saja memperoleh resistensi ilusi alami setelah melewati fenomena fatamorgana sang Salamander purba beberapa hari lalu.

Faktor keduanya adalah ketahanan mental seorang ksatria sejati berada di tingkatan yang jauh melampaui manusia biasa.

Faktor ketiganya adalah pedang Sunrise yang dia genggam merupakan sebuah artefak relik suci yang sanggup memblokir mayoritas serangan invasi mental.

Dan faktor keempatnya murni karena pria itu telah memiliki seorang kekasih tercinta tempat di mana dirinya menambatkan hatinya.

Di kemudian hari, Anne dipastikan bakal membual bahwa Ragna sanggup melangkahi godaan sihir tersebut murni berkat pesona kecantikannya yang tak tertandingi, dan Ragna tidak bakal membantah klaim tersebut.

Esther pun memilih untuk mengunci rapat bibirnya, menyadari bahwa ketiga faktor lainnya memegang peranan yang berkali-kali lipat lebih dominan.

Ragna yang telah meremukkan ilusi tersebut mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.

Bilah Sunrise menyayat dan membelah raga sang perapal mantra tanpa ampun.

Mengenal kapasitas sang musuh dan musuh buta terhadap kemampuanmu.

Tak ada strategi perang yang jauh lebih unggul dibanding doktrin tersebut.

Krais telah membedah anatomi sang lawan secara mendalam melalui bantuan visualisasi Esther, sementara pihak musuh sama sekali tidak pernah melakukan upaya intelijen semacam itu.

Alih-alih bersiap, seluruh anggota organisasi Astrail murni mengira bahwa Esther tengah bersembunyi pengecut di balik dinding benteng kota.

Oleh sebab itu, mereka hanya memandangnya sebagai sebuah gangguan sepele.

Tak ada seorang pun di antara mereka yang menyangka bahwa pergerakan mereka bakal dicegat di tengah jalan, dan bahwa anggota-anggota yang sengaja memisahkan diri demi menyerbu kota secara diam-diam bakal meregang nyawa satu per satu.

"Penadex, riwayatmu resmi berakhir di sini, bukan?"

Sang Anak Bintang memanggil nama pria di hadapannya dengan nada dingin.

Sang penyihir senior yang telah membidani lahirnya organisasi Astrail sejak masa awal hingga detik ini berdiri menatap sang penyihir wanita yang telah berhasil memojokkan dirinya ke sudut jurang.

Andai Esther dulu tidak dikutuk bermutasi menjadi seekor macan kumbang hitam, gadis itu dipastikan telah lama ditundukkan menjadi budak bawahan milik penyihir bernama Penadex ini.

Pria tua itu memang menyimpan cadangan kekuatan sihir sebesar itu.

Dia pun merupakan sosok konspirator licik yang sempat menghasut Esther untuk membidik gurunya sendiri di masa lalu.

Namun bahkan bagi sesosok penyihir sekuat dirinya sekalipun, mustahil baginya untuk mahir dalam merumuskan taktik dan strategi perang terbuka.

Kekalahan Penadex berakar kokoh dari kesombongan buta dan kebodohan kaumnya, namun faktor penentu utamanya adalah keberadaan sosok sang pria jenius bernama Krais.

'Sebuah skakmat yang sempurna (checkmate).'

Jika diibaratkan dalam permainan catur, sama sekali tak ada celah langkah baginya untuk meloloskan diri.

Demikianlah keputusasaan yang merayapi benak Penadex.

Dia sanggup menyaksikan sesosok penyihir rekannya tengah dihajar babak belur di sisi lain medan perang.

"Apa?! Hah?! Apa katamu barusan?! Aku tidak bisa mendengar suaramu, dasar orang cacat yang bahkan tak becus merapalkan sebaris mantra!"

Seorang pria barbar tengah menindas dan membantai sesosok penyihir yang memiliki kapasitas kekuatan yang setara dengan dirinya.

Pemandangan itu benar-benar sangat memilukan untuk disaksikan.

Lantas apakah dirinya bakal pasrah menerima kekalahan memalukan semacam ini?

Permainan catur adalah pertarungan adil yang berlandaskan aturan.

Ada regulasi hukum yang mengikat.

Oleh karena itu, andai ini adalah sebuah papan catur, maka riwayatnya dipastikan telah tamat, namun seorang penyihir sejati adalah entitas yang sanggup meremukkan logika tatanan dunia dan melancarkan kecurangan mutlak.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.