Eternally Regressing Knight

Bab 834: Keahlian Bangsa Elf adalah Distorsi (1)

3426 Kata

Bab 834: Keahlian Bangsa Elf adalah Distorsi (1)

Encrid mengapit tubuh Shinar yang tak sadarkan diri di bawah ketiak kirinya, sembari mencengkeram tengkuk leher sang Dragonkin Themares menggunakan tangan kanannya.

Bagi orang awam yang tidak paham situasi, pemandangan itu tampak persis seperti dirinya tengah bersiap mematahkan tulang leher sang Dragonkin.

Haruskah dikatakan bahwa gestur itu terlihat semakin meyakinkan mengingat pria itu benar-benar dianugerahi kekuatan fisik sebesar itu?

"Kalau kau memang berniat membantainya, mending sekalian saja habisi sekarang," celetuk Rem melontarkan lelucon iseng saat melihat pemandangan tersebut.

"Syukurlah, serangan-serangan lainnya tampaknya mulai terhenti," timpal Audin sembari melangkah lebar mendekat.

Persis seperti penuturan Audin, guyuran hujan percikan api dari langit kini kian menipis dan akhirnya berhenti total, serta tak ada lagi kawanan pahatan monster api yang bermunculan.

Bukan, lebih tepatnya monster-monster api yang sebelumnya telah menampakkan diri kini tengah menggeliat hancur dan runtuh menjadi serpihan abu.

Selain itu, proyektil tombak api, tongkat membara, serta jaring api yang sebelumnya meluncur deras dari langit turut terhenti seketika.

Sebagai gantinya, yang kini terpampang di depan mata mereka hanyalah seberkas sulur gundukan api raksasa yang menjulur turun dari gumpalan awan api menuju ke permukaan tanah, liat menyerupai cairan kaca leleh yang memanjang.

"Bagaimana kalau kita tebas saja sulur api itu sekarang?" tanya Ragna tiba-tiba.

Melihat telapak tangannya yang telah bertengger mantap di atas gagang pedang Sunrise, pria pirang itu tampak dipadati oleh tekad mutlak untuk menebasnya terlebih dahulu dan memikirkan konsekuensinya nanti, andai saja izin telah diberikan.

Menebas apa?

Tentu saja yang dimaksud oleh pria itu adalah menebas sulur aliran api raksasa yang tengah menggantung di depan mereka.

Apakah api bisa dipotong oleh sebilah pedang?

Pertanyaan semacam itu terdengar sama sekali tidak relevan bagi sosok seperti Ragna.

Jika dia diperintahkan untuk menebasnya, pria itu dipastikan sanggup memotongnya dengan cara apa pun.

Sosoknya tak ubahnya sebilah pedang hidup yang bernapas.

Demikianlah impresi batin yang tertanam di benak Encrid saat menatap sosoknya.

"Gadis itu akan mati," ujar Esther memperingatkan dengan nada tenang.

Ragna sama sekali tidak bertanya siapa yang dimaksud oleh sang penyihir.

Sosok sang Salamander ataupun sang Dragonkin yang tengah terkulai lemas tak sadarkan diri jelas tidak pernah masuk ke dalam daftar kepeduliannya.

Esther pun memahami watak rekannya dengan sangat baik, sehingga dia sengaja memilih penjelasan yang teramat padat.

Sosok yang bakal meregang nyawa andai sulur itu ditebas adalah sang putri elf.

Encrid mengamati perubahan anomali yang terjadi di sepanjang sulur aliran api di kejauhan.

Apakah ini hanyalah ilusi optik semata jika dirinya mengaku sanggup melihat seberkas pendaran warna hijau zamrud—serupa dengan warna hamparan rumput hijau yang baru bertunas—di dalam pusaran aliran api tersebut?

"Bagaimana respons magisnya?"

Encrid tidak memahami seluk-beluk dimensi formula sihir dan tak sanggup menakar kondisi batin yang tengah dialami oleh Shinar.

Itu adalah situasi rumit yang melompati batas logika akal sehatnya.

Oleh sebab itu, dia memilih untuk bertanya kepada ahlinya.

Itu adalah prinsip berharga yang telah dia pelajari dan sadari sejak masa lampau.

Kapan tepatnya kesadaran itu pertama kali tertanam di kepalanya?

Kala itu butiran salju tengah turun dengan teramat lebat, dan dirinya tengah melangkah di sepanjang jalanan dingin demi mengetuk daun pintu markas Gilpin Guild.

'Jika sang komandan tak sanggup menyelesaikannya seorang diri, dia cukup menjatuhkan perintah kepada bawahannya.'

Itulah ucapan berharga yang pernah dilontarkan oleh Ragna, sang ksatria jenius yang terkadang sanggup menusuk tepat ke jantung permasalahan.

Jaxon kala itu memang sempat memancing alur percakapannya, namun kesimpulan akhirnya meluncur dari bibir pria pirang tersebut.

Jika kau tak sanggup mengeksekusinya seorang diri, serahkan tugas itu kepada orang lain yang mampu melakukannya.

Dan itulah yang tengah dilakukan oleh Encrid detik ini.

Esther menyahut pertanyaan sang kapten.

"Jika situasinya memburuk, aku bisa menyusupkan tubuh mentalku untuk mendekat, namun untuk saat ini..."

"Untuk saat ini?"

"Kita wajib menunggu dengan sabar."

Esther adalah sosok gadis yang sangat bijaksana.

Dia menilai bahwa Shinar mustahil bertindak nekat tanpa disertai oleh pertimbangan matang.

'Apakah intervensi mendadak dari sang Dragonkin menjadi variabel yang tak terduga?'

Seseorang mustahil bisa melancarkan serangan destruktif fisik murni hanya bermodalkan sebuah tubuh mental (mental body).

Dan stabilitas mental milik Shinar bukanlah benteng rapuh yang sanggup diguncang dengan mudah.

Dia tahu betul fakta tersebut karena mereka telah menghabiskan banyak waktu bersama.

Jiwa batin Shinar teramat teguh, lurus, dan kokoh.

Dimensi mental milik sang putri elf sangatlah istimewa, setara dengan dimensi formula sihir yang bersemayam di dalam jiwa seorang penyihir agung.

Sebagian dari keistimewaan itu berakar dari garis keturunannya sebagai seorang elf, namun sekaligus merupakan karakteristik unik yang melekat eksklusif pada individu bernama Shinar.

Oleh karena itu, Esther paham betul apa yang wajib mereka lakukan saat ini.

Terkadang, seorang petarung sejati harus tahu bagaimana cara menunggu dengan tenang.

Encrid pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

Lidah api yang membara memanggang atmosfer udara di sekitar mereka, membuat permukaan tanah mendesis kepanasan. Tepat di hadapan mereka, sebuah ceruk yang menyerupai aliran sungai lahar panas mulai terbentuk.

Dia turut menyaksikan bongkahan-bongkahan batu yang meleleh dan memadat menjadi gumpalan kerak hitam.

Ini jelas bukan lanskap pemandangan yang nyaman untuk dinikmati dengan santai. Tentu saja, ini juga bukan situasi di mana mereka bisa berpangku tangan tanpa berbuat apa-apa.

Sebongkah gundukan api yang terlepas dari awan api di langit berguling di atas tanah lalu menggeliat membentuk sebuah raga baru.

Itu adalah segumpal bola api raksasa yang bercampur baur dengan jelaga hitam pekat.

Dan makhluk itu berada di tingkatan eksistensi yang jauh berbeda dibanding kawanan pahatan monster api yang muncul sebelumnya.

'Hawa haus darah dan kebencian murni.'

Encrid membaca tekstur emosi yang memancar dari raga monster api tersebut menggunakan kepekaan indrawinya.

Makhluk itu tampak memperlengkapi dirinya dengan segala ragam emosi negatif layaknya sebuah zirah senjata perang.

Memiliki enam kaki kokoh, dua ekor panjang, serta kepalanya murni berupa lidah api terdistorsi tanpa sepasang mata, hidung, maupun rongga mulut.

'Pancaran hawa keberadaannya.'

Auranya jauh lebih buas dan mengerikan dibanding monster mana pun yang mengklaim diri sebagai pemimpin koloni sarang.

Sama sekali tidak berlebihan jika makhluk itu dicap sebagai sesosok monster iblis yang baru saja merangkak keluar dari dasar Demon Realm.

DHUAAR!

Tepat saat makhluk berkaki enam itu menjejakkan kakinya ke tanah, permukaan bumi seketika terkoyak dalam, menyemburkan gumpalan tanah dan lidah api ke udara layaknya atraksi air mancur yang meledak bersamaan.

"Bagianku!"

Rem bergegas melesat menerjang ke depan tanpa ragu.

Dia mengayunkan kapak tempur yang sedari tadi telah dia hunus tinggi-tinggi di atas kepalanya.

"Ayo maju ke sini, dasar anjing api keparat!"

Tak ada secuil pun keraguan di dalam setiap derap langkah kakinya saat pria barbar itu berteriak lantang sembari mendesak maju.

Segumpal bola api yang disuntik oleh kebencian murni, haruskah disebut demikian?

Dan ancaman itu belum berakhir sampai di sana.

Dari sulur aliran api yang menjulur liat layaknya cairan kaca leleh di belakangnya, gumpalan-gumpalan api lainnya terus terlepas dan melahirkan beberapa varian monster api baru.

Ada perbedaan mencolok lainnya dibanding serbuan gelombang sebelumnya.

Seluruh monster yang tercipta kini memiliki wujud raga yang teramat tegas dan padat.

Mereka menyimpan kebencian pekat, serta siluet tubuh mereka tampak jauh lebih tajam dan mematikan.

Wujud berikutnya yang menampakkan diri menyerupai anatomi seorang manusia.

Memiliki sepasang lengan dan kaki, serta menggenggam sebilah pedang panjang yang menyerupai sebatang tongkat galah.

Pedang panjang itu, meskipun tersusun murni dari kobaran api hidup, meliuk lentur dengan keluwesan yang mengerikan.

Itu adalah fenomena magis yang mustahil bisa tercipta tanpa adanya sokongan formula mantra sihir tingkat tinggi.

"Biar aku yang membereskan bajingan yang satu itu."

Ragna melangkah maju menyongsong ksatria api berpedang lentur tersebut.

Dan para ksatria ordo lainnya secara bergantian melangkah maju menghadapi setiap monster elit yang bermunculan di belakangnya.

"Kalian berdua tolong jaga tempat ini sebentar."

Encrid pun turut melangkah maju ke garis depan.

Dia membaringkan tubuh Shinar dan sang Dragonkin dengan hati-hati di atas tanah lalu melesat menerjang musuh.

Pendaran cahaya biru terang milik Dawnforged menyambut sang lawan dan memamerkan ketajamannya yang mematikan secara leluasa.

Jaxon berdiri berjaga dengan tenang tepat di antara dua sosok yang tengah terbaring pingsan tersebut.

Sementara itu di dimensi lain, Shinar merasakan kesadaran jiwanya melayang terangkat tinggi ke udara.

Kesadarannya membubung tinggi menembus kubah langit.

Pada satu titik, gumpalan awan api membara terasa sedemikian dekatnya hingga tampak bisa disentuh oleh jemarinya, sementara permukaan tanah terbentang teramat jauh di bawahnya.

Serpihan kesadarannya yang membubung tinggi itu mendadak menyentuh sebuah entitas purba dan bereaksi seketika.

Dari dalam entitas tersebut, segala macam letupan emosi dan kehendak batin meledak dahsyat, saling bertaut dan bercampur baur secara kacau.

Jika kau terperangkap duduk di dalam sebuah ruangan sempit di mana sepuluh orang tengah menjerit histeris secara serentak, apakah kau sanggup memahami makna di balik jeritan mereka?

Jeritan batin yang dia dengar saat ini tidak berbeda jauh dari analogi kekacauan tersebut.

Shinar dengan tenang membedakan dan menyaring setiap jeritan emosi satu per satu, menyimak dan menyerap makna di baliknya.

—Benci.

Dia menangkap seberkas serpihan emosi yang bergetar lalu memahaminya.

—Aku sangat membencinya.

Membenci apa?

—Tempat terkutuk ini.

Dan apa lagi?

—Segala hal yang terpaksa kulakukan di tanah ini.

Seluruh emosi kepedihan itu terikat erat di dalam satu kehendak kebencian tunggal yang pekat.

Kesadaran Shinar membubung kian tinggi melintasi dimensi.

Tepat saat dirinya mendadak merasa tubuhnya melayang hampa, dia sanggup melihat siluet raga fisiknya sendiri di bawah sana.

Lalu kesadarannya melesat melintasi sekat ruang dan waktu.

Lebih presisi lagi, kepekaan indra milik sang putri elf telah mulai menyelami lembaran memori masa lalu yang diizinkan oleh sang Salamander untuk dia lihat.

Shinar memusatkan kestabilan batinnya.

Memori milik siapa sebenarnya ini?

Ini adalah lembaran ingatan masa lalu yang bersemayam di dalam jiwa sang Binatang Gaib.

Dia tak sanggup melihat lanskap lingkungan di sekitarnya secara utuh.

Yang tertangkap oleh sensor indrawinya hanyalah hamparan padang pasir hitam yang teramat panas membara.

Saat sang roh api purba tengah berguling tenang di atas hamparan pasir hitam habitat aslinya itu, sebuah lubang dimensi raksasa mendadak tercipta, dan sebuah suara gaib menggema memanggil dari dalamnya.

"Lewat sini."

Sang Salamander, yang terdorong oleh rasa penasaran polos, melangkah mendekat merespons panggilan tersebut.

Kehendak batin yang terkandung di dalam uluran tangan dan suara yang memanggilnya kala itu terasa teramat ramah dan penuh kebajikan.

Sang roh Binatang Gaib sama sekali tidak mengenal apa itu tipu muslihat.

Saat dirinya melangkah mendekati bibir lubang dimensi tersebut, sepasang tangan hitam pekat mendadak mencuat keluar dari dalam kegelapan lalu mencengkeram erat kaki depannya.

"Kena kau."

Sosok asing itu mencengkeram sebagian dari raganya lalu menariknya paksa ke dalam lubang.

Sang roh api sempat memberontak liar sembari menyemburkan lidah api panas, namun dirinya kembali terjerat oleh berbagai lapisan tipu muslihat licik lainnya.

Sebuah proses penundukan paksa yang dirajut melalui belenggu kontrak palsu.

Shinar sanggup menyaksikan seluruh proses kelam bagaimana sang Binatang Gaib diseret paksa ke daratan dunia fana ini.

Demi memanggilnya keluar dari dimensinya, para pemuja sesat itu membakar habis apa saja di atas tanah.

Hewan ternak, warga sipil, mereka memanggang semuanya hidup-hidup tanpa pandang bulu.

Semuanya ditumbalkan sebagai hewan kurban.

Kelompok sekte bidah Demon Realm Holy Land Cult kala itu bergerak membabi buta setelah menerima bisikan wahyu gaib dari sesosok dewa sesat yang mereka sembah.

Dan para perapal mantra terlarang bertindak sebagai jembatan ritual pemanggilan tersebut.

'Melalui rantai tipu muslihat mutlak.'

Siapa sebenarnya dalang utama di balik konspirasi keji ini?

Kepekaan batin Shinar menangkap sesosok siluet bayangan hitam pekat.

Sesosok entitas yang mengenakan jubah cadar hitam berlapis-lapis, dirancang sedemikian rupa agar wujud aslinya tak sanggup diintip dari luar.

'Sesosok iblis.'

Sesosok entitas penguasa yang bermukim di Demon Realm telah menjerat sang Binatang Gaib dari dimensi lain menggunakan ikatan kontrak palsu, lalu memanggilnya secara paksa ke tanah peradaban ini.

Dan sekte pemuja sesat Demon Realm Holy Land Cult yang terjebak di tengah-tengah konspirasi itu murni hanya dimanfaatkan sebagai pion tumbal kurban semata.

—Aku sangat membencinya.

Gejolak kehendak sang Salamander mengguncang kesadaran batin Shinar.

Dan rasa sakit yang menyiksa makhluk itu meresap masuk menembus rongga dadanya.

Atmosfer udara di dunia fana ini adalah siksaan yang teramat menyakitkan bagi sang roh api.

Bagi makhluk itu, bernapas di tanah ini tak ubahnya berguling di dalam kubangan racun mematikan.

Itulah sebabnya makhluk itu tak sanggup menghimpun kejernihan akal budinya dan sangat mudah dimanipulasi oleh iblis dari Demon Realm, serta terpaksa menyerahkan kendali egonya kepada para penyihir yang membangun jembatan pemanggilan tersebut.

Ini adalah tragedi kelam yang mustahil bakal terjadi andai dirinya tidak diseret paksa ke dunia ini, andai dirinya tetap hidup damai di alam asalnya yang tenang.

Sang Binatang Gaib sejatinya hanyalah sesosok tahanan malang yang diculik dari dunianya lalu dibelenggu di tempat ini.

Bagi dirinya, dunia fana ini adalah sebuah penjara neraka yang berkali-kali lipat lebih menyiksa dibanding bui terkejam milik umat manusia.

Shinar menyelami lebih dalam ke dalam pusaran emosi sang Binatang Gaib dan merasakannya secara teramat nyata.

'Apakah ini hanyalah sebuah kebetulan semata?'

Ataukah ini adalah suratan takdir?

Shinar menyimpulkan bahwa kuantitas makhluk hidup di benua ini yang sanggup berkomunikasi secara batin dengan sang Binatang Gaib hingga ke tingkatan sedalam ini teramat sangat terbatas.

'Dan salah satu dari segelintir sosok itu adalah diriku.'

Seorang putri elf yang memimpin kota peradaban Kiraheis, sosok yang memiliki bakat manipulasi energi vigor paling murni di antara seluruh kaumnya, serta seorang elf yang memiliki ikatan sejarah kelam yang teramat dekat dengan entitas iblis.

Siapa lagi sosok lain yang mampu melakukannya selain dirinya?

Dan andai bukan karena dirinya, siapa lagi di tempat ini yang sanggup bertahan sebagai bagian dari kesadaran sang Salamander melalui proses 'sinkronisasi jiwa' lalu membedah isi hatinya?

Lantas apa motif mendasar yang mendorongnya mengambil keputusan impulsif yang berbahaya ini?

Sang Salamander sejatinya bisa saja dilumpuhkan dengan kekerasan lalu ditidurkan secara paksa.

Namun detik ini, dia rela mempertaruhkan keselamatan jiwanya demi membaca memori sang Salamander melalui sinkronisasi batin, serta menerima seluruh beban emosinya ke dalam dirinya.

Alasannya...

'Aku sendiri tidak tahu pasti.'

Mungkin itu serupa dengan dorongan hati milik Encrid yang selalu berteriak lantang ingin melindungi setiap jiwa yang berdiri di belakang punggungnya, atau mungkin karena pemandangan ini mengingatkannya pada masa-masa saat dirinya dulu tersiksa oleh jeratan iblis.

Apa pun alasannya, eksistensi sesosok Binatang Gaib bukanlah hal yang asing bagi bangsa elf.

Entitas pelindung hutan Wood Guards tercipta demikian, begitu pula dengan bangsa peri bersayap Winged Faeries dan para peri pohon Dryads.

Bangsa Dryads murni bertahan hidup hanya dengan meneguk tetesan embun pagi, sementara para Wood Guards hidup dengan menyerap nutrisi murni dari dalam tanah.

Raga fisik mereka terpahat murni dari manifestasi energi vigor alam.

Itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa entitas dari dimensi lain kerap berinteraksi dengan bangsa elf.

Fakta bahwa sumber dari gumpalan bola api ini memiliki karakteristik yang serupa tidak mungkin lahir dari alasan lain.

Perbedaannya hanyalah sumber energinya berasal dari elemen api murni, bukan pepohonan dan rerumputan hijau.

Persis seperti Encrid yang selalu menaruh rasa iba mendalam kepada seorang anak kecil yang menderita, Shinar pun merasakan kepedihan yang setara.

Memori masa lalu dan luapan emosi sang monster bertubrukan membanjiri jiwanya secara serentak.

Shinar meneguhkan kestabilan batinnya lalu membuka suaranya dingin.

"Enyahlah kau dari sini, dasar makhluk busuk nan menjijikkan."

Percakapan di dimensi batin ini murni berlandaskan pada proyeksi Will, sehingga dia melesakkan kehendak penolakannya lurus ke arah sang lawan.

Tentu saja sang iblis parasit mengabaikan peringatan tersebut.

Iblis itu mencibir sinis sembari menyunggingkan senyuman keji, lalu melangkah mendekati raga batin sang Salamander.

Lalu dia berbisik dingin tepat di lubang telinga sang monster, menghasutnya tanpa henti.

Menyuruhnya untuk menumpahkan seluruh kobaran kebenciannya sepuas hati, memuntahkan seluruh daya kehancuran yang bersemayam di dalam raganya.

"Jadi kau rupanya."

Sebuah kehendak batin lain mendadak menyusup mengintervensi ke tengah-tengah mereka.

Segumpal pendaran cahaya emas redup membubung tinggi lalu memadat membentuk siluet sesosok pemuda berambut pirang.

Itu adalah tubuh mental milik sang Dragonkin Themares.

"Kaulah sosok keparat yang telah berani mengganggu jalannya kewajibanku."

Sang Dragonkin berucap datar, layaknya tengah melantunkan sebuah kidung takdir.

Apa makna sebuah kewajiban bagi seekor Dragonkin?

Itu adalah fondasi mutlak yang menyusun alasan eksistensi hidup mereka.

Oleh karena itu, kewajiban adalah sumpah sakral yang wajib dijaga dan dituntaskan hingga akhir.

Dia memproyeksikan kesadarannya masuk ke tempat ini murni karena dirinya merasakan keberadaan entitas asing yang telah berani mengacaukan pelaksanaan kewajiban sucinya.

Seekor Dragonkin selalu dipadati oleh rasa hampa abadi (ennui) dan tidak mudah terombang-ambing oleh gejolak emosi.

Oleh karena itu, mustahil baginya untuk meledak marah hanya gara-gara seseorang mengusik urusannya.

Namun justru karena mereka hidup dalam kehampaan abadi, mereka bereaksi dengan sangat sensitif terhadap segala hal yang bersinggungan langsung dengan pelaksanaan tugas mereka.

Secara sederhana, seekor Dragonkin adalah seorang 'konglomerat waktu' yang memiliki kekayaan waktu yang teramat melimpah.

Agar mereka tidak melepaskan cengkeraman hidup mereka di tengah rasa hampa yang membunuh, mereka bereaksi dengan teramat tajam terhadap segala anomali yang mengancam kewajiban mereka.

Oleh sebab itu, mengusik apa yang tengah dikerjakan oleh seekor Dragonkin adalah sebuah kesalahan fatal yang teramat bodoh.

Namun sang iblis parasit hawa panas sangat minim pengalaman dalam berhadapan dengan bangsa Dragonkin, sehingga dia sama sekali tidak memahami bahaya tersebut.

Terlebih lagi, asal-usul sejatinya sedari awal bukanlah entitas pribumi daratan ini.

Dia memang menyadari kehadiran sang Dragonkin, namun memilih untuk tidak memedulikannya.

Themares mengamati sang lawan dengan ekspresi wajah yang teramat datar tanpa emosi.

Seekor Dragonkin tidak mengenal fluktuasi emosional, sehingga mereka cukup menetapkan sebuah direktif komando yang presisi lalu bertindak setia mengikuti direktif tersebut.

"Aku akan memberimu satu kesempatan untuk menjelaskan alasan logismu. Bicaralah."

Seekor Dragonkin dalam wujud tubuh mental tidak dibekali keterampilan magis khusus.

Dia murni hanya melontarkan tuntutan klarifikasi.

Sang iblis parasit, yang menerima pancaran kehendak dari tubuh utamanya, bertanya balik dengan nada mencibir.

Apa yang bisa diperbuat oleh seekor Dragonkin seorang diri di dimensi mental ini?

Tuntutan yang dilontarkan pria itu terdengar sangat konyol di telinganya.

"Apa katamu?"

"Jelaskan alasanmu."

"Apakah kau bakal paham andai kujelaskan panjang lebar?"

Sang iblis membalas dengan arogansi khas milik kaumnya.

Alih-alih terpancing emosi, dia memamerkan keangkuhan yang dingin.

"Kalian semua bakal terpanggang mati menjadi abu di tempat ini. Hanya itu yang perlu kau ketahui."

Mendengar jawaban tersebut, sang Dragonkin menetapkan kembali klasifikasi bagi lawannya.

'Sang pengacau kewajiban.'

Kehampaan abadi milik seekor Dragonkin tak ubahnya sebuah pundi kekayaan tanpa batas yang tak memiliki arah tujuan.

Dan detik ini, dia memutuskan untuk menguras dan menggelontorkan seluruh kekayaan tersebut ke medan perang.

Jika sesosok pengacau kewajiban telah menampakkan batang hidungnya, dia dipastikan bakal membantai entitas tersebut hingga musnah, bahkan andai seisi dunia harus hancur lebur dalam prosesnya.

Dia akan mengeksekusi vonis mati itu tanpa memedulikan sarana ataupun metode yang harus ditempuh.

Demikianlah keputusan mutlak yang diikrarkan oleh sang Dragonkin di dalam jiwanya.

Sang iblis parasit terus menyunggingkan senyuman kejinya sembari berbisik di telinga sang Salamander.

Sikapnya seolah hendak menantang: memangnya apa yang bisa kalian berdua lakukan untuk menghentikanku?

Dia berdiri tepat di sisi kiri tubuh mental sang Salamander yang tengah terkapar lemas di atas tanah.

Wujud tubuh sang parasit meniru perawakan raga inangnya.

Sosoknya persis seperti sosok ksatria berotot kekar yang menggenggam pedang besar.

Berkat manifestasi itu, pemandangannya tampak layaknya seorang pria dewasa berbadan kekar yang tengah membisikkan racun ke telinga seekor anak anjing yang tengah meringkuk ketakutan.

Shinar tidak tahu bagaimana cara bertarung menggunakan tubuh mental.

Oleh karena itu, dia menilai bahwa dirinya tak sanggup menghentikan apa yang tengah dieksekusi oleh sang proyeksi pemikiran iblis secara fisik.

Namun setidaknya, dia sanggup melontarkan bisikan tandingannya sendiri.

Dia berbisik lembut dari sisi kanan tubuh sang Salamander.

"Kau boleh berhenti sekarang. Makhluk busuk itu tak lagi memiliki kuasa untuk membelenggumu."

"Apa artinya eksistensimu jika kau melanggar sumpah kontrakmu?! Bencilah mereka! Meledaklah! Tak ada alasan bagimu untuk menahan amukanmu!"

Dua bisikan yang saling bertolak belakang menggema bersahut-sahutan dari kedua sisi telinganya.

Sang Salamander yang termanifestasi dalam wujud seekor kadal api purba seketika memuntahkan kobaran lidah api pekat ke atas tanah.

Pemandangannya tampak persis seperti seseorang yang tengah memuntahkan darah segar dari dalam tenggorokannya.

'Jika situasi ini dibiarkan terus berlanjut, kesadaran jiwa sang Salamander bakal hancur lebur.'

Shinar, bahkan dalam wujud tubuh mental sekalipun, dianugerahi kepekaan indrawi yang teramat luar biasa.

Dia menangkap akar permasalahan tersebut secara naluriah.

Sang Dragonkin tidak ikut menyela percakapan itu.

Sebagai gantinya, dia hanya berdiri mengamati sosok yang telah berani mengacaukan pelaksanaan tugasnya dengan tatapan dingin.

Dia saat ini tengah merumuskan sebuah tujuan baru berlandaskan kewajiban sucinya.

Tentu saja tak ada seorang pun yang mengetahui kalkulasi batinnya.

Bahkan bagi seekor Dragonkin sekalipun, tak ada banyak hal yang bisa dia eksekusi di dimensi batin ini.

Pada kenyataannya, sang iblis parasit hawa panas—meskipun sanggup melontarkan ancaman maut—sama sekali tidak memiliki keahlian magis untuk mengekang kedua tubuh mental tersebut secara fisik.

Sebagai gantinya, dia memilih untuk terus menyiksa kewarasan sang Salamander.

Pada akhirnya, misinya bakal dinobatkan sebagai sebuah kesuksesan mutlak andai roh api purba ini berhasil ditenggelamkan ke dalam jurang kegilaan total.

Shinar membaca niat jahat sang iblis parasit dengan sangat jernih.

'Apa yang bakal kau lakukan andai kau berada di posisiku saat ini, Enki?'

Shinar melontarkan pertanyaan itu kepada sang tunangan di palung hati terdalamnya, dan sebuah jawaban spontan seketika bergema di kepalanya.

'Bukankah dia bakal langsung memukul kepalanya keras-keras lalu membentaknya untuk segera sadar?'

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.