Bab 818: Rumah Batangan Emas yang Runtuh dan Kegigihan yang Tersisa
Pria tambun itu adalah seorang pembicara yang teramat fasih bersilat lidah.
Dia sangat memahami bagaimana cara membeberkan sebuah kisah dengan gaya yang begitu memikat dan menyenangkan.
Encrid mendengarkan penuturan ceritanya sembari menikmati hiburan tersebut dengan cukup antusias.
Bahkan sampai pada tingkatan di mana dirinya rasanya ingin melemparkan beberapa keping koin tembaga ke arah sang saudagar.
Karena seorang pendongeng jalanan bagaimanapun membutuhkan saweran dari sang penikmat cerita.
Tentu saja pria ini sama sekali tidak datang melangkah kemari dalam kapasitas sebagai seorang pendongeng.
Inti utama dari kisah yang ia beberkan teramat sangat jelas.
Di dalam belantara Demon Realm, setiap iblis agung telah membangun wilayah kekuasaan dan faksi kekuatan mereka masing-masing.
Alih-alih membeberkan nama asli mereka yang sejati, entitas-entitas itu dijuluki menggunakan deretan gelar kehormatan semacam itu.
Alasan di balik penyematan gelar-gelar tersebut sebagian memang untuk memamerkan keagungan prestise mereka, namun konon gelar-gelar itu pun merupakan sebutan yang diserukan dengan penuh rasa takut dan takzim oleh mereka yang mengenal keberadaan mereka.
The Burning Crow, The Promiser of Plenty, The Heat-Bearing Companion, The Pure White Destroyer, serta The Mistrustful Loner.
Kelima nama agung ini adalah lima dari total enam penguasa iblis terkuat yang memerintah seantero Demon Realm.
"Serta sang Father of the Dead."
Kefasihan lidah sang saudagar mengalir meresap masuk ke dalam benak setiap orang yang mendengarnya.
"Beliau pun adalah sosok agung yang kerap dijuluki sebagai The Door that Ends Life. Nama keagungan beliau adalah yang paling tersohor dan menyebar luas di seantero Benua, bukan begitu?"
Dulu pernah ada sebuah kelompok yang mencoba mengumpulkan para penyihir lalu membentuk sebuah kongsi terpadu bernama Tower of Wisdom, namun proyek itu berakhir dengan kegagalan tragis, hingga membuat kelompok itu dijuluki sebagai 'Womb of Demons'.
Melalui tangan merekalah dua belas kepingan pecahan tubuh Beelrog akhirnya sanggup menerobos masuk ke daratan Benua.
Itu adalah sebuah tragedi kelam yang menorehkan luka sedalam saat kelompok sesat bernama Demon Realm Holy Land Cult memanggil monster purba penyembur api dari dunia lain yang disebut Salamander di masa lampau.
Kini keenam iblis agung penguasa Demon Realm tersebut serentak menaruh minat yang teramat besar terhadap seorang manusia biasa.
Beelrog dulunya adalah seekor monster berandalan liar.
Sosok bidah yang, meskipun terlahir sebagai seorang iblis, memilih untuk menapaki jalan hidup yang berbeda dari kaumnya.
Dan Beelrog yang perkasa itu kini telah mati binasa.
Tewas di tangan seorang manusia fana.
Itulah alasan mutlak kenapa para penguasa iblis di Demon Realm seketika menaruh rasa penasaran yang teramat besar terhadap identitas asli dari sosok yang telah menyulut kobaran api ini.
Krais telah merumuskan berbagai macam skenario terburuk tepat setelah Beelrog tewas tempo hari, dan situasi saat ini tergolong sebagai salah satu skenario yang jauh lebih baik.
Krais membuka mulutnya menatap lurus ke arah sang saudagar yang sepasang matanya tampak terjepit oleh lemak pipi dan tulang pipinya yang tebal.
"Jadi alasan kenapa kalian bertiga rela bersusah payah datang kemari adalah demi mengajukan sebuah tawaran menggiurkan kepada sang Kapten?"
Sang saudagar seketika menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Ya, tebakan Anda tepat sekali."
Anggukan kepalanya begitu bersemangat hingga tampak hampir menyerupai sebuah keceriaan yang tulus.
Alis Krais seketika bertaut menyempit.
Dia mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Kecuali jika sang saudagar memang sudah setengah gila, pria itu mustahil akan melontarkan kata-kata gila semacam itu secara sembrono.
'Kenapa?'
Jika sebuah imajinasi liar kini telah bermutasi menjadi kenyataan di depan mata, sekarang adalah saat yang tepat untuk mencengkeram hakikat substansinya.
Dia harus mendeduksi niat tersembunyi dari pihak lawan.
Dia harus mengetahui alasan pasti kenapa entitas yang disebut sebagai para iblis agung sampai sudi bergerak turun tangan.
'Bahkan andai mereka adalah entitas supernatural yang berada jauh di luar batas nalar persepsi manusia sekalipun.'
Tetap saja pasti ada alasan logis di balik setiap tindakan mereka.
Krais mengingat kembali alasan paling mendasar kenapa orang-orang ini pertama kali melangkahkan kaki kemari.
'Kematian Beelrog adalah sebuah peristiwa yang teramat mengguncang bahkan bagi para iblis yang bersemayam di dalam Demon Realm.'
Sang iblis perselisihan, monster gila bertarung yang gemar mengoleksi jiwa-jiwa prajurit.
Itulah untaian kata-kata yang digunakan untuk mendeskripsikan sosok Beelrog.
Seekor monster aneh yang bahkan rela memecah sebagian kekuatannya sendiri demi membagi-bagi jiwa, menyebarkan pecahan egonya ke seluruh penjuru dunia lalu mengembara demi mengumpulkannya kembali.
Begitulah pesan tersirat yang terpancar dari penuturan sang saudagar barusan.
'Dan Beelrog yang gila itu kini telah tewas terbunuh.'
Kabar kematian itu—yang sebenarnya tidak menyebar luas di daratan Benua murni karena Encrid enggan menceritakannya ke mana-mana—telah menyebar luas hingga ke pelosok Demon Realm melalui metode tertentu.
'Sebuah peristiwa yang teramat mengguncang.'
Namun apakah reaksi yang mereka perlihatkan saat ini tergolong normal?
Sama sekali tidak.
'Bahkan andai sosok yang telah menyulut api ini memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi, apakah ada alasan kuat bagi mereka untuk merekrut dan mempekerjakannya?'
Krais memutar otaknya berulang kali.
Kisah yang baru saja ia serap dari mulut sang saudagar, analisis deduksi yang telah ia rumuskan, hingga batas daya jelajah imajinasinya yang melesat jauh.
Itu adalah sebuah proses merangkai benang-benang kusut keadaan dengan cara memadukan seluruh fakta menjadi satu kesatuan utuh.
Seluruh proses perenungan ini dituntaskan hanya dalam sekejap kedipan mata.
'Mereka saat ini tengah terlibat dalam perang saudara.'
Para penguasa iblis di belantara Demon Realm sama sekali tidak menjalin hubungan yang harmonis murni hanya karena mereka bertetangga dekat.
'Mereka membangun wilayah kekuasaan mereka masing-masing dan saling membantai serta mengucilkan satu sama lain.'
Bagaimana jadinya jika mereka saat ini tengah bertempur sengit, sama persis seperti halnya Naurillia dan Aspen yang dulu saling berperang?
Dan di tengah kancah perang antar-iblis itu, bagaimana jadinya jika tiba-tiba muncul seorang pendekar luar biasa yang sanggup mengubah jalannya peta pertempuran dari sebuah kota kecil terpencil yang selama ini tidak pernah mereka lirik?
'Bagaimana jadinya seandainya sang Kapten dulunya berpihak kepada Aspen, bukan kepada Naurillia?'
Maka hasil akhir dari perang saudara kerajaan pasti akan berujung sangat berbeda.
Perang besar di antara para iblis kemungkinan besar tidak akan jauh berbeda dengan perang yang meletus di daratan Benua.
Hal yang menjadi penentu mutlak dari pasang surutnya arus pertempuran selalu berada di tangan segelintir pasukan elite terbaik, sosok-sosok monster yang berada jauh di luar batas standar kewajaran.
"Hm."
Krais menganggukkan kepalanya pelan.
Alur pemikirannya kini telah tertata dengan sangat rapi.
Atas dasar alasan inilah mereka bertiga datang kemari demi melontarkan proposal perekrutan kepada Encrid.
Mereka berniat merangkul sosok pendekar yang telah membantai Beelrog ini menjadi bagian dari barisan kekuatan mereka seutuhnya.
'Mereka bahkan mungkin mendambakan bukan cuma sang Kapten seorang, melainkan seluruh anggota ordo ksatria ini sekaligus.'
Selagi Krais terhanyut dalam lamunannya sesaat, sang saudagar kembali melanjutkan bicaranya.
"Masa hidup seorang manusia fana sangatlah terbatas. Jika Anda sudi tunduk dan mengikuti kehendak agung tuanku, maka sebuah kehidupan abadi akan dianugerahkan kepada Anda. Ada sebuah pepatah bijak yang menyatakan bahwa jauh lebih baik bergulingan di atas hamparan lumpur kotor di dunia fana dibanding harus berdiam diri di surga. Kehidupan yang abadi... saya meyakini bahwa ini adalah sebuah tawaran yang teramat memikat hati."
Sang saudagar secara licik mendiskusikan perihal imbalan hadiah terlebih dahulu sebelum membeberkan apa tugas dan kewajiban berat yang harus dipikul.
Dalam kondisi normal seseorang mungkin akan mencibirnya, namun sudah menjadi sifat alami manusia untuk goyah jika harga tawaran yang disodorkan berada pada tingkatan yang teramat fantastis di luar nalar.
Sang saudagar mengucapkannya sembari menyadari betul sifat dasar manusia tersebut.
Sang penyihir bertopi hitam yang melihat kini adalah giliran tugasnya untuk melangkah maju baru saja hendak membuka mulutnya, namun sebelum kata-katanya sempat terucap, pria bernama Krais telah membuka suaranya terlebih dahulu.
"Cuma itu saja?"
Atmosfer yang tadinya sempat memanas oleh penuturan sang saudagar seketika mendingin dalam sekejap.
Krais baru saja menyiramkan seember air es dingin ke atas panggung negosiasi mereka.
Sebuah kehidupan abadi, sebagai bayaran harga karena kau dipaksa menjadi ujung tombak terdepan di dalam kancah perang saudara di Demon Realm, di tengah pertumpahan darah antar-iblis.
Tentu saja sang saudagar sama sekali tidak menyadari bahwa Krais telah berhasil membaca skenario tersebut sejauh itu.
"...Kehidupan abadi bukanlah sesuatu yang bisa Anda sebut 'cuma itu saja'."
Ujar sang saudagar membela diri.
Untuk sesaat dia kehilangan kata-kata, dan kalimatnya meluncur keluar menyerupai sebuah keluhan dongkol.
Hal yang memegang nilai paling berharga dan paling suci di dalam hidupnya mendadak dianggap layaknya barang rongsokan tak berguna oleh orang lain.
Perlakuan itu, dalam arti tertentu, terasa sangat menjengkelkan batinnya.
"Hmph."
Sikap Krais sama sekali tidak berubah.
Dia melipat kedua tangannya di depan dada lalu menggelengkan kepalanya sedikit.
Gestur itu menyiratkan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa terkesan.
"Jika Anda memang menginginkannya, tentu saja ada begitu banyak hal berharga lainnya yang sanggup kami berikan selain kehidupan abadi. Jika Anda membutuhkan dana, saya bahkan sanggup memberikan tumpukan keping koin emas yang cukup untuk memenuhi seluruh ruangan ini sampai penuh, tapi..."
Rasa percaya diri sang saudagar perlahan-lahan mulai memudar, dan untaian kalimatnya terdengar menggantung ragu.
Seandainya pihak lawan adalah tipe pendekar yang sanggup digoyahkan murni hanya bermodalkan kepingan koin Krona belaka, sama sekali tak ada alasan baginya untuk repot-repot datang langsung kemari.
Apa sebenarnya alasan utama kenapa seseorang sudi menyembah dan mempercayai entitas yang disebut sebagai para iblis?
Semua itu karena mereka sanggup menganugerahkan hal-hal mustahil yang tidak akan pernah bisa didapatkan melalui jalur normal.
Seperti halnya kehidupan abadi ataupun paras kecantikan abadi tiada tara.
Di hadapan hal-hal magis semacam itu, nilai dari keping koin Krona sama sekali tidak ada artinya.
Setidaknya bagi sang saudagar sendiri.
Bisakah seseorang membeli perpanjangan waktu usia murni mengandalkan tumpukan keping Krona yang melimpah ruah?
Mustahil bisa.
Oleh karena itulah dia tadi menyatakan bahwa uang materi tidak memiliki nilai apa pun.
Hal yang ia dambakan di dalam hidupnya adalah kembali muda lalu hidup abadi selamanya.
Namun demikian...
"Ohooo."
Kerutan di kening pria bermata belok itu mendadak mengendur lurus seketika.
Sepasang daun telinganya tampak berdiri tegak mendengar tawaran tersebut.
Reaksi aneh macam apa lagi itu?!
Sang saudagar meskipun merasa bingung dan gelagapan buru-buru menyampaikan apa yang harus ia katakan.
Untaian kata-kata yang meluncur keluar saat ini murni merupakan insting alami yang lahir dari pengalaman hidupnya yang telah ia habiskan seumur hidup sebagai seorang pedagang ulung.
"Jangankan cuma satu ruangan penuh! Jika Anda memang membutuhkannya, saya bahkan sanggup membangunkan sebuah rumah megah yang seluruh dindingnya terbuat dari tumpukan batangan emas murni untuk Anda!"
Dia tentu saja tidak bermaksud secara harfiah membangun sebuah rumah menggunakan batangan emas murni.
Maknanya adalah bahwa dirinya sanggup mencurahkan pundi-pundi keping Krona sebanyak itu tanpa ragu.
Tak ada seorang pun di tempat itu yang tidak sanggup menangkap maksud kiasan tersebut.
Lipatan tangan Krais seketika terlepas dan sepasang bola matanya membelalak lebar.
"Ohooo-hooo!"
Kedua pipi Krais seketika merona merah merekah seolah dirinya baru saja meneguk anggur yang memabukkan.
Ditinjau dari harga fantastis semacam ini, bukankah tidak ada salahnya jika mereka berpartisipasi di dalam perang lokal sebagai tentara bayaran sekali saja?
Sebesar apa pun benteng Border Guard telah bertransformasi menjadi kota dagang yang makmur dan meraup pundi-pundi emas melimpah, ada begitu banyak pos pengeluaran yang harus dibiayai setiap harinya.
Biaya logistik militer yang dikerahkan murni untuk memelihara barisan angkatan perang saja sudah mencapai nominal yang teramat mencengangkan.
Namun rumah dari batangan emas yang baru saja diucapkan oleh pria tambun tadi akan tetap utuh tersisa sebagai laba keuntungan bersih!
'Satu kali misi tentara bayaran demi mendapatkan sebuah rumah dari batangan emas...'
Para iblis itu bagaimanapun tetaplah merupakan sejenis entitas tertentu, jadi bukankah sebuah kesepakatan transaksi bisnis sangat mungkin untuk dinegosiasikan?
Colek.
Kekasih sekaligus pengawal pribadinya, Nurat, mencolek pinggang Krais dengan keras.
Komandan Garet yang dulu pernah ia layani memang merupakan sosok pria yang teramat aneh, namun kekasih hatinya saat ini, pria di hadapannya ini, justru jauh lebih parah lagi.
Hanya dalam sekali lirik saja Nurat sudah tahu betul bahwa pria bermata belok ini tengah memasang sorot mata dari seseorang yang tengah mempertimbangkan untuk menandatangani sebuah kesepakatan bisnis terlarang bersama iblis.
"Ehem!"
Krais terbatuk kering canggung lalu melirik sekilas ke arah Encrid.
Sang ksatria memasang raut wajah yang memperlihatkan ketidaktertarikan mutlak terhadap kepingan uang Krona.
Krais merasa sangat menyayangkan sikap dingin tersebut dari lubuk hatinya yang terdalam.
'Padahal kita bisa saja berpura-pura tergiur, menguras habis seluruh harta yang sanggup kita rampas dari mereka, lalu menendang mereka semua keluar...'
Bukankah kita cukup berpura-pura bersikap kooperatif saja?
Tentu saja entitas yang menyandang nama sebagai para iblis agung bukanlah lawan yang mudah untuk dikelabui.
Jika seseorang bertindak sembrono mengandalkan spekulasi logika manusia biasa, mereka bisa saja dijatuhi hukuman petaka yang teramat mengerikan.
Krais pun sangat menyadari bahaya tersebut.
Dia tadi murni hanya sempat terhanyut ke dalam lamunan mimpi sesaat karena merasa teramat sayang untuk melewatkan tawaran emas itu.
Di dalam benak Krais, gambaran istana megah dari batangan emas seketika runtuh lebur menjadi debu.
"Mau bagaimana lagi, kau kan tahu sendiri bahwa dia bukanlah tipe pria yang sudi bergerak murni demi hal-hal semacam itu."
Bisik Abnaier yang telah menembus tuntas isi hati Krais.
"Tawaran ini sama sekali tidak akan merugikan Anda. Jika bukan kehidupan abadi, lalu apa sebenarnya yang Anda dambakan? Tanah kekuasaan? Apakah yang Anda inginkan adalah seantero Benua ini? Jika memang itu yang Anda inginkan, saya sanggup menyerahkan seluruh Benua ini ke dalam genggaman tangan Anda. Saya sanggup menganugerahkan otoritas kemahakuasaan kepada Anda, di mana Anda bebas melakukan apa pun yang Anda kehendaki di kolong langit ini!"
Kali ini sang pendekar Greatsword yang melontarkan tawarannya.
Itu adalah sebuah tawaran megah yang luar biasa kolosal.
Menguasai seluruh Benua bermakna bahwa entitas itu sanggup mengangkatnya menjadi raja di atas segala raja, puncak tertinggi dari seluruh peradaban makhluk berakal budi, termasuk menundukkan Kekaisaran di utara.
Encrid masih tidak memperlihatkan secuil pun rasa tertarik di wajahnya.
Jika orang-orang ini menyatakan sanggup menjadikannya seorang raja, apakah dia otomatis akan menjadi raja?
Apakah untaian kata-kata sombong ini lahir murni dari keangkuhan para iblis di Demon Realm?
Ataukah kekuatan militer yang dimiliki oleh para iblis memang berada pada tingkatan yang sanggup memandang remeh seluruh daratan Benua?
'Kedua-duanya.'
Begitulah kesimpulan yang ditarik oleh Encrid.
"Apa gunanya sebuah kehidupan abadi atau sepetak tanah kekuasaan?!"
Kali ini giliran sang penyihir bertopi hitam yang melangkah maju ke depan.
Dia tahu betul bahwa apa yang baru saja ditawarkan oleh kedua rekannya tadi sama sekali tidak memiliki makna bagi seorang pendekar sejati.
Entitas yang disebut sebagai para iblis menyebut diri mereka sendiri sebagai para Demigod.
Hal itu bermakna bahwa mereka adalah entitas-entitas agung yang tengah berada di dalam proses metamorfosis menuju status ketuhanan yang sejati.
'Hal yang didambakan oleh setiap jiwa sejati adalah hakikat kebenaran mutlak.'
Dan demi bisa menyentuh kebenaran mutlak tersebut, hal yang diincar oleh seseorang adalah menjadi seorang dewa, sosok entitas yang mahatahu dan mahakuasa.
"Aku akan membukakan jalan bagimu demi menjelma menjadi seorang Demigod sejati!"
Seru sang penyihir bertopi hitam.
Mustahil ada tawaran yang jauh lebih agung dibanding hal ini.
Kekuatan militer sedahsyat ini, kapasitas jiwa yang sanggup menaklukkan Beelrog—seluruh kenyataan ini mengindikasikan satu pesan yang teramat jelas:
'Pria ini tengah melangkah mendaki menuju ke puncak tertinggi.'
Semakin jauh dia melangkah mendaki, rasa haus di jiwanya pasti akan semakin membakar dahaga.
Dan di tengah dahaga pencarian ilmu itu, bagaimana jadinya jika ada seseorang yang sudi memperlihatkan jalan pintas tercepat kepadanya?
"Aku datang melangkah kemari mengemban titah resmi dari sang penguasa bertanduk kambing yang diagungkan sebagai The Burning Crow!"
Sebuah resonansi gaib seketika meresap menyatu ke dalam suara sang penyihir, menambahkan kesan khidmat dan agung yang mencekam.
Itu memang hanyalah sebuah trik manipulasi vokal murahan, namun jika diterapkan pada tempo yang pas, trik itu sanggup menjelma menjadi mantra yang mengguncang keteguhan hati manusia.
Encrid menolehkan kepalanya lalu bertanya kepada sang pendekar Greatsword.
"Yang satu diutus oleh The Burning Crow, dan yang satu lagi mengaku bernaung di bawah Believer in Gold. Lalu bagaimana dengan dirimu?"
"Sang Heat-Bearing Companion menyertai langkahku!"
Encrid menganggukkan kepalanya pelan lalu melontarkan satu pertanyaan berikutnya.
"Lalu apa alasan yang membuatku harus membiarkan kalian bertiga tetap hidup pulang dari tempat ini?"
Pesan tersirat yang terkandung di dalam untaian kata-kata sederhana itu murni bermakna satu hal mutlak.
"...Sebuah penolakan?!"
Sang penyihir seketika membelalak kaget tak percaya.
Bukankah pria ini sewajarnya mempertimbangkan tawaran agung tersebut terlebih dahulu?!
Lalu bagaimana dengan Esther?
Gadis itu adalah seorang penyihir berdarah murni, sehingga dia sewajarnya memiliki cara pandang yang berbeda, namun saat ini Esther hanya asyik mengulang-ulang alur pemikirannya sendiri tiada henti, hingga bahkan enggan melayangkan pandangan matanya menatap sang lawan.
Orang-orang asing ini sama sekali tidak mengenal siapa sosok Encrid yang sebenarnya.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya dicari oleh Encrid, dan mereka sama sekali tidak memahami apa impian terbesar dari sang ksatria.
Dia hanya ingin menjadi seorang ksatria sejati.
Dia murni ingin menjelma menjadi bilah pedang dan perisai kokoh yang melindungi apa yang berdiri di belakang punggungnya.
Dan oleh karena itulah dia bertekad bulat untuk mengakhiri seluruh perang dan menghapus keberadaan Demon Realm dari muka bumi.
Sebuah kegigihan baja yang tidak akan pernah luntur atau terkikis bahkan sembari mengulang-ulang hari yang sama selama ratusan tahun lamanya—itulah hakikat manusia yang tengah berdiri tegak di hadapan mereka saat ini.
Mereka bertiga sama sekali tidak mengetahui kebenaran tersebut.
Encrid seakan mendengar suara tawa geli dari sang Ferryman yang bergema dari suatu tempat di dalam jiwanya:
"Kehidupan abadi? Seorang Demigod? Ah, ini adalah momen yang paling pas untuk menggunakan ungkapan 'panen raya omong kosong busuk'. Itu adalah sebuah peribahasa populer dari wilayah barat."
"Boleh kubantai mereka sekarang?!"
Dunbakel yang sudah tidak sanggup menahan kekesalannya lagi bertanya mendesak, dan sang penyihir berteriak panik seolah tengah memekik lantang.
"Aku yang berdiri di sini bukanlah tubuh asliku yang sejati! Apa yang dikirimkan kemari hanyalah sepotong klon ilusi dari ragaku! Membunuhku di tempat ini sama sekali tidak ada gunanya! Oleh karena itu, kau pasti akan menyesali penolakan bodoh ini seumur hidupmu!"
Sang penyihir berseru lantang dan baru saja hendak merapal formula sihir pelarian, namun gerakannya terhenti mendadak.
Sang manusia binatang yang telah melangkah mendekat entah sejak kapan menyunggingkan seringai lebar lalu melecutkan tumit kakinya menghantam telak dagu sang penyihir.
Dia meletakkan kedua telapak tangannya di atas tanah dan tubuhnya berputar meliuk di udara dalam rangkaian manuver akrobatik yang teramat sangat luwes dan alami.
DUAAARRR!
Kepala di atas leher sang penyihir meledak hancur berkeping-keping seketika.
Darah hitam pekat menyembur deras ke udara lalu seketika bermutasi menjadi ratusan serangga-serangga kecil yang berhamburan liar.
Aksi pembantaian kilat itu ia lakukan tepat di detik Encrid melayangkan sebuah isyarat anggukan izin.
—Aku pasti akan membuatmu menyesali perbuatanmu ini sampai ke liang lahat!
Gema suara sang penyihir masih tertinggal mendengung di udara.
Hal ini pun murni merupakan sebuah trik sihir ilusi murahan.
Esther mengibaskan sebelah tangannya dengan tatapan mata yang teramat dingin dan datar.
Ada begitu banyak formula sihir pertahanan yang telah ia tanam dan sebarkan di hamparan tanah benteng ini.
Di antara formula-formula itu ada banyak jebakan sihir khusus yang dirancang untuk memutus trik kotor yang dimainkan oleh para penyihir asing.
Salah satu dari jebakan sihir itu bereaksi aktif lalu memutus total aliran Mana milik sang penyihir.
Sebuah gelang sihir yang melingkar di pergelangan tangan Esther hancur retak lalu berserakan menjadi butiran debu halus ke tanah.
'Kapasitas ilmunya masih sama persis seperti dulu.'
Begitulah vonis penilaian yang dijatuhkan oleh Esther.
—Kau, wahai Child of the Stars! Apakah kau sudah melupakan fakta bahwa ada begitu banyak entitas agung di dunia ini yang akan memburu keberadaanmu lalu mencabik-cabik ragamu hingga berkeping-keping?!
Itu adalah sebuah ancaman maut yang mengerikan, namun gertakan itu pun tak lebih dari sekadar trik murahan yang rapuh.
Bersamaan dengan tubuh sang penyihir yang hancur berserakan dan sirna bagai debu dihembus angin, sang pendekar Greatsword turut mengangkat pedang besarnya, namun mustahil bagi perlawanan nekat itu membuahkan hasil.
Fel dan Ropord yang telah melangkah kembali entah sejak kapan kini telah berdiri tegak menjaga di sisi kiri dan kanannya.
"Tuh kan, sudah kubilang juga apa, pria ini memang sangat aneh dan mencurigakan."
"Memangnya siapa yang bilang sebaliknya?"
Fel terlebih dahulu, dan kemudian disusul oleh Ropord, melontarkan komentar santai mereka masing-masing lalu menebas putus kedua lengan sang pendekar Greatsword secara simultan.
Yang satu menebas menyabet dari arah bawah ke atas, dan yang satunya lagi menebas menghujam dari atas ke bawah.
Dua garis tebasan pedang terlukis serupa namun memiliki karakteristik yang berbeda.
Mengingat bahwa kemampuan bela diri kedua pendekar ini turut menyimpan sisi yang luar biasa istimewa, sang pendekar Greatsword bahkan sama sekali tidak sanggup merespons datangnya tebasan tersebut.
Selagi Encrid dan yang lainnya bertarung mati-matian melawan Beelrog tempo hari, kedua pendekar ini pun telah bertarung menumpahkan darah melawan kawanan monster buas beserta ratusan jiwa-jiwa prajurit yang dikoleksi oleh sang iblis.
Dengan kata lain, mereka berdua pun telah mempertaruhkan nyawa, memetik kemenangan, dan bertahan melewati neraka demi bisa berdiri kokoh di titik ini.
Sudah sangat alami jika kapasitas kemampuan bertarung mereka telah berevolusi sangat jauh dibanding masa lalu.
Pendekar dengan kedua lengan yang tertebas putus itu memuntahkan genangan darah segar dari mulutnya.
Darah segar yang menyembur itu membubung naik bagaikan lidah api membara lalu melukiskan sepasang mata merah dan sebuah rongga mulut raksasa di udara bebas.
Ukurannya sebesar torso tubuh manusia dewasa.
—Kau, manusia... apakah kau benar-benar serius melontarkan penolakan ini?
Sepasang mata tajam Encrid yang sarat akan wawasan menatap lurus ke arah hawa keberadaan sang entitas agung di hadapannya.
Manifestasi ini teramat berbeda dibanding trik-trik murahan yang dimainkan oleh sang penyihir tadi.
Ini adalah sebuah hawa tekanan absolut yang hanya sanggup dipancarkan oleh entitas penguasa setingkat iblis agung sejati.
Hawa keberadaan itu mengubah kerapatan udara di sekitarnya, menjadikannya teramat pekat dan berat, seolah sanggup membakar hangus seluruh makhluk hidup dan bangunan di kawasan ini hanya dalam satu hembusan napas.
Tak peduli apakah itu manusia ataupun tembok benteng yang kokoh.
Prestise keagungannya teramat sangat menjulang tinggi.
Benar-benar sangat pantas menyandang gelar agung sebagai seekor iblis penguasa.
"Ya, aku sangat serius."
Dan Encrid memberikan jawabannya dengan nada suara yang teramat riang, santai, dan cerah.
—Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi di medan pertempuran kelak.
Sang iblis agung pun memudar berserakan lalu sirna ditelan kehampaan udara.
Sang saudagar tambun memandangi sekelilingnya dengan sepasang mata yang gemetar hebat ketakutan, dan kemudian sorot matanya seketika berubah drastis.
Dia mulai menggumamkan untaian aksara mantra yang mustahil dipahami oleh siapa pun, dan detik berikutnya kepulan jelaga hitam pekat mulai membubung keluar dari sekujur tubuhnya.











