Eternally Regressing Knight

Bab 813: Gertakan dan Keberanian

3695 Kata

Bab 813: Gertakan dan Keberanian

'Aku takut.'

Di detik Dunbakel menatap ke dalam lubuk hatinya sendiri, melangkah maju menuju ke tanah antah-berantah yang belum pernah ia jamah, rasanya dia seolah hendak mengompol di celana.

Rasa takut yang mencekam hatinya sebesar itu.

'Bagaimana kalau aku pergi ke Wilayah Timur lalu mati konyol di sana?'

Kenangan masa kecilnya seketika terlintas di dalam benaknya.

Detik di mana dirinya dikucilkan dari peradaban bangsa manusia binatang lalu diusir pergi layaknya sampah.

Kala itu pun dirinya merasa teramat ketakutan.

Kedua lutut kakinya gemetar hebat tak terkendali.

'Namun situasinya sekarang berbeda dengan masa lalu.'

Dulu dia sama sekali tidak memiliki pilihan hidup, namun sekarang, langkah ini murni merupakan keputusannya sendiri.

Itulah perbedaan paling mendasar di antara keduanya.

Dunbakel tidak pernah melupakan kenyataan tersebut.

Dan oleh karena itu, dia terus melangkah maju.

Dia melangkahkan kakinya menuju ke arah timur.

Dia meninggalkan tempat tinggal yang teramat nyaman yang baru pertama kali ia rasakan di sepanjang hidupnya.

Dan di tanah asing tempatnya berlabuh, dia telah menyerap begitu banyak pelajaran berharga.

Pelajaran yang teramat sangat banyak.

Anu, sang raja dari Wilayah Timur, memiliki ambisi agung yang luar biasa besar.

Pria itu sudi menerima siapa pun yang memiliki kemampuan bela diri dan memimpin kelompoknya berlandaskan satu aturan mutlak:

"Dilarang menusuk rekan seperjuanganmu sendiri dari belakang."

Orang-orang bilang bahwa sang raja dulunya adalah mantan tentara bayaran kawakan, dan pria itu memang merupakan sosok pemimpin yang teramat berjiwa besar.

Dia pun adalah sosok yang memancarkan pesona karismatik yang memikat.

Di antara orang-orang yang setia mengikutinya, ada orang-orang yang rela mengorbankan nyawa mereka demi melindungi keselamatannya.

Setidaknya begitulah pemandangan itu terlihat di mata Dunbakel.

'Mereka yang melangkah mantap mengejar impiannya selalu memancarkan cahaya keagungan.'

Encrid dan Anu sama persis dalam hal ini.

Keduanya adalah bintang-bintang agung yang menghiasi langit malam, di mana pancaran cahaya mereka bahkan sanggup mengalahkan binar dari sepasang rembulan.

Pepatah yang menyatakan bahwa manusia akan menjelma menjadi bintang saat meninggal dunia mungkin lahir karena keberadaan orang-orang luar biasa seperti mereka.

"Kau ternyata seorang pengecut yang lumayan penakut ya?"

Itulah sambutan pertama yang ia dengar begitu menjejakkan kakinya di tanah timur.

Ada banyak sekali orang yang memiliki kepekaan luar biasa tajam dalam membaca kepribadian orang lain di sana.

"Siapa yang kau sebut pengecut?!"

Dunbakel berpura-pura bersikap masa bodoh, namun tak ada seorang pun yang sanggup ia kelabui.

Di antara para pengikut setia Anu, ada lebih dari sepuluh orang petarung yang memiliki kekuatan tempur setara dengan ksatria sejati.

Seandainya rombongan monster ini melangkah masuk ke Benua apa adanya, kemunculan mereka akan menjadi sebuah ledakan kekuatan militer yang setara dengan pergeseran lempeng tektonik bumi.

Namun mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan hal semacam itu.

Mereka murni hanya mempertaruhkan nyawa demi penjelajahan dan petualangan di tanah liar.

Kelompok Shepherds setia menjaga tanah lapang sembari menggembalakan domba-domba mereka, dan serikat Black Leather Guild mempertaruhkan segalanya demi perburuan monster purba, begitulah kabar yang beredar.

"Hei, menjadi seorang pengecut itu bukanlah sebuah kelemahan."

Salah seorang dari mereka melangkah mendekati dirinya.

Jika ditinjau dari kehebatan ilmu bela diri murni semata, wanita itu adalah sosok yang sulit untuk dikategorikan sebagai seorang ksatria.

Anu telah menugaskan seorang pendekar wanita dari serikat Black Leather Guild untuk membimbing Dunbakel.

Dia adalah seorang pendekar berambut merah keriting yang selalu menyunggingkan senyuman ramah.

Jika terjadi benturan fisik secara langsung dari arah depan, ada begitu banyak petarung yang sanggup mengalahkannya dengan mudah.

Namun tak ada seorang pun di tempat itu yang merasa senang jika harus bertarung melawannya.

Wanita itu adalah tipe petarung yang belum pernah dilihat oleh Dunbakel sebelumnya, dan gaya bertarungnya terasa sangat rumit dan halus.

'Bukan seorang Junior Knight, dan juga bukan seorang ksatria sejati.'

Dalam hal membangkitkan kehendak Will miliknya, wanita itu memang sangat kurang, namun di dalam pertempuran nyata di medan tempur, efisiensi serangannya sanggup menghasilkan daya hancur yang setara.

'Meskipun efisiensi itu terikat oleh sejumlah kondisi tertentu.'

Itulah alasan kenapa Dunbakel merasa sangat takjub.

Semua itu karena metode mereka dalam membangun kekuatan bela diri dan cara berpikir mereka sangatlah berbeda dari logika umum.

'Tidak semua hal di dunia ini terukir jelas layaknya sebuah garis batas yang tegas.'

Dunia ini memang berjalan seperti itu.

Karena dirinya sempat dibuang dan diusir dari peradaban bangsa manusia binatang murni gara-gara memiliki sepasang mata Demon Eyes berwarna kuning keemasan, Dunbakel dulunya sempat mengasah bilah dendam kesumat demi membalas perlakuan kejam mereka.

Namun apakah hal semacam itu memang benar-benar hal yang ia dambakan?

Menjalani hidup dengan benar bermakna menentukan jalan hidupmu sendiri.

Dunbakel hingga saat itu belum sempat menentukan jalan hidupnya secara pasti.

Dia tidak pernah secara tegas memilih sebuah tujuan agung, impian masa depan, atau apa pun itu.

Dulu dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk memilih, dan setelahnya, kapasitas pemikirannya belum sempat berkembang sejauh itu.

Lalu bagaimana dengan sekarang?

Mumpung dirinya tengah berada di belantara Wilayah Timur, ada baiknya dia merapikan benang kusut pemikiran ini satu demi satu.

"Rasa takut bukanlah sesuatu yang harus kau taklukkan, melainkan sesuatu yang harus kau jadikan sebagai kawan seperjalananmu."

Dunbakel menyerap begitu banyak ilmu dari wanita berambut merah tersebut.

Dalam arti tertentu, di tempat asing inilah dia akhirnya mempelajari apa yang seharusnya ia pelajari di tanah kelahirannya dulu.

"Kau sekarang kelihatannya sudah mulai sedikit berguna?"

Anu, sang raja dari Wilayah Timur sekaligus sang raja tentara bayaran, berulang kali melemparkan Dunbakel ke dalam kancah medan pertempuran maut yang teramat berbahaya.

Pria itu memaksanya bertarung melawan kawanan monster berukuran raksasa serta menerobos masuk ke dalam sarang-sarang yang dipenuhi oleh ratusan monster ular berbisa.

Ada beberapa butir kebenaran mutlak yang berhasil ia petik melalui seluruh pengalaman hidup dan mati tersebut.

'Tak ada seorang pun di dunia ini yang pernah mencicipi kematian lalu kembali hidup, jadi kenapa kematian selalu menjadi puncak dari segala rasa takut dan teror yang paling mencekam?'

Suara bariton Anu seakan terngiang kembali di telinganya.

Itu adalah kalimat yang telah ia dengar ribuan kali.

"Insting biologis bawaan lahirmu yang membuatnya menjadi seperti itu. Mengendalikan insting tersebut dengan benar adalah tugas pertamamu. Mengasah kekuatan fisik dan bela dirimu barulah langkah berikutnya, dasar manusia binatang bau."

Setiap patah kata yang diucapkan Anu, tanpa terkecuali, selalu berlandaskan pada fakta kenyataan yang tak terbantahkan.

Bahkan sebutan 'manusia binatang bau' sekalipun.

Dunbakel mengakui kebenaran itu dengan lapang dada.

Mengenali kapasitas diri sendiri, sanggup mengevaluasi diri melalui wawasan yang jernih, adalah syarat mutlak demi bisa melangkah ke jenjang berikutnya.

'Aku takut.'

Orang-orang telah memberitahunya bahwa rasa takut atau teror bukanlah sesuatu yang harus kau musnahkan, melainkan sesuatu yang harus kau kelola.

Dia telah melakukan tepat hal tersebut.

Dia tidak mencoba untuk menaklukkannya secara buta, melainkan mengakuinya secara jujur, merapikan alur pemikirannya, meraih apa yang memang ia incar, lalu kini berhasil kembali pulang ke tempat ini.

'Meskipun pedang lengkung Scimitar milikku langsung patah berkeping-keping begitu aku sampai.'

Sejujurnya, masalah pedang patah itu bahkan tidak layak untuk dipusingkan.

Di Wilayah Timur sudah menjadi hal yang lumrah jika sebuah Relic kuno hancur remuk atau patah terbelah di tengah pertempuran.

Setelah duel pemanasan singkatnya melawan Rem tadi, Dunbakel kini ganti bersiap menggelar latihan tanding melawan Encrid.

Gadis itu adalah seorang manusia binatang yang telah kembali membawa peningkatan kemampuan bertarung yang teramat berbeda dibanding masa lalu serta memiliki metode serangan yang sangat unik.

Encrid tentu saja tak bisa menahan rasa penasarannya yang membuncah.

"Satu ronde denganku juga ya."

Hal itu bermakna bahwa sudah sangat alami bagi pria gila bertarung bernama Encrid ini untuk menerjang maju menantang.

Cara bicaranya sembari membasahi bibirnya memperlihatkan dengan jelas antisipasi yang tengah bergejolak di dalam dadanya.

Tubuhnya terasa gatal ingin segera bertarung detik ini juga.

Dunbakel menganggukkan kepalanya tanpa ragu.

Dan bersamaan dengan anggukan itu, dia membuka mulutnya.

"Hm, aku tadi cuma sedikit lengah saja kok."

Encrid seketika bereaksi mendengar dalih tersebut.

Setiap pertempuran sejati selalu bermula bahkan sebelum bilah pedang terhunus dari sarungnya.

Begitulah prinsip bertarung yang selama ini ia pelajari.

"Apa kau di sana juga belajar bagaimana caranya membuat kulit mukamu menjadi setebal kulit muka Rem?"

Mendengar provokasi ringan tersebut, tawa geli renyah meletup dari bibir Dunbakel.

"Memangnya hal semacam itu adalah sesuatu yang bisa dipelajari?"

Dan kemudian detik untuk memulai latihan tanding pun tiba.

"Kau bakal mati sehabis ini, keparat."

Dari belakang punggung mereka, suara dingin Rem terdengar menggema sembari menyunggingkan senyuman yang meneteskan niat membunuh yang pekat.

Ancaman itu jelas terarah lurus kepada Dunbakel, kemungkinan besar dipicu oleh lelucon 'kulit muka tebal' tadi.

Itu pastilah merupakan sebuah tekanan psikologis yang sangat berat, namun Dunbakel sama sekali tidak ambil pusing.

Encrid merenung sembari mengamati sosok sang manusia binatang bermata emas di hadapannya.

'Menaklukkan rasa takut dengan gertakan sok berani.'

Itu adalah sebuah nasihat yang pernah ia dengar di masa-masa dirinya berpindah-pindah dari satu kelompok tentara bayaran ke kelompok lainnya.

Hanya karena seseorang kekurangan bakat bela diri bukan berarti orang itu tidak memahami prinsip-prinsip filosofis dasar kehidupan.

Tentara bayaran senior di kelompoknya dulu adalah sosok yang sangat memahami prinsip-prinsip tersebut.

'Keberanian sejati itu, kau tahu... itu bukan soal melupakan rasa takut di dalam hatimu, melainkan memastikan agar kau tetap sanggup bergerak tanpa hambatan bahkan saat rasa takut tengah merayap di sekujur tubuhmu.'

Lalu apa kesimpulan yang didapat saat itu?

Ah, sang senior dulu menyuruhnya untuk berlatih gila-gilaan bagaikan orang kesurupan agar dirinya tetap sanggup bertarung seperti biasa bahkan di dalam kondisi teror yang mencekam.

Itu adalah hal yang selalu ia kerjakan setiap hari, sehingga dulu dia tidak terlalu memikirkannya secara mendalam.

Namun baru setelah dirinya berhasil membangkitkan Heart of the Beast, dia akhirnya sanggup mempraktikkan kata-kata sang senior ke dalam tindakan nyata.

'Hal itu memang sama sekali tidak mudah.'

Mengetahui teorinya dan melakukannya dalam praktik adalah dua perkara yang teramat berbeda.

Encrid membaca sebagian dari kondisi kejiwaan Dunbakel melalui ketajaman wawasannya.

'Tetap sanggup bertarung seperti biasa bahkan saat merasa gentar dan ketakutan.'

Gadis itu tidak melupakan rasa takutnya.

Sebaliknya, dia telah melatih raganya agar sanggup bertarung sengit sembari mendekap rasa takut tersebut di dalam dadanya.

Anu pastilah telah melemparkan Dunbakel ke dalam medan pertempuran nyata yang tak terhitung jumlahnya demi tujuan ini.

Sang raja timur telah memaksanya merasakan pertempuran hidup dan mati di mana satu langkah ceroboh akan berujung pada maut seketika.

Kesan mendalam yang ditinggalkan oleh sang raja tentara bayaran Anu teramat sangat kuat.

Karena pria itu bukanlah sosok yang bisa dilupakan dengan mudah, sosoknya tetap terukir jelas di dalam benak Encrid.

Rasanya seolah Encrid sanggup mendengar gema suara sang raja timur:

"Dasar manusia binatang bodoh, berjuanglah sekuat tenaga dan cobalah bertahan hidup!"

Pria itu pastilah telah mendesak Dunbakel sampai ke batas kemampuannya dengan cara seperti itu.

Dan buah manis dari perjuangan bertahan hidup itu adalah sosok gadis di hadapannya saat ini.

Saat Encrid mulai memancarkan hawa tekanan dan menekannya ke arah sang manusia binatang, sepasang mata emas Dunbakel seketika melengkung tajam.

Sebuah ekspresi seringai percaya diri.

Keberaniannya kini tumpah keluar dalam wujud gertakan penuh percaya diri.

Yah, andai tidak bisa menunjukkannya lewat tindakan nyata, seseorang setidaknya sanggup memperlihatkannya lewat kata-kata.

"Tekananmu ini terasa sangat ringan lho, Kapten."

Meskipun hawa tekanan yang menimpa sekujur tubuhnya sama sekali tidak bisa dibilang rendah, nada bicara gadis itu terdengar sangat arogan.

Dan berbanding terbalik dengan kata-katanya yang sok berani, tubuh fisiknya bereaksi dengan sangat jujur.

Rasanya seolah seluruh bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri tegak meremang, dan detik berikutnya dia langsung memulai transformasi binatang buasnya.

Bulu-bulu putih lebat meledak menyelimuti sekujur tubuhnya, dan penampilan fisiknya seketika berubah drastis.

Sepasang matanya berkilat semakin dalam, dan lapisan bulu tebal membalut seluruh permukaan kulitnya.

Bulu-bulu putih itu menyembul keluar dari celah pelindung lengan dan pelindung kakinya.

Zirah kulit cokelat gelapnya menggembung dan meregang melebar.

'Postur tubuhnya pun tampak semakin membesar.'

Itu adalah sebuah mutasi fisik yang belum pernah ada sebelumnya.

Seolah telah menjelma menjadi seekor predator puncak yang buas, Dunbakel memamerkan taring-taringnya yang tajam.

Grrrrrr—

Sebuah geraman rendah yang bergetar di luar jangkauan pendengaran manusia biasa, yang sanggup memicu rasa takut purba di dalam jiwa setiap insan.

Geraman buas itu memancarkan hawa tekanan yang nyata.

Metode penerapannya memang berbeda, namun hasil akhir yang dicapainya sangatlah serupa.

'Sebuah jalan pencapaian yang diraih dengan berjalan, berlari, dan merangkak di luar jalur normal.'

Hanya karena sebuah jalan tidak lazim bukan berarti jalan itu keliru.

Dunbakel murni telah merintis jalannya sendiri dengan darah dan keringat.

"Waktu bertarung melawanku tadi kau begitu patuh dan jinak, jadi ini rupanya wujud aslimu..."

Suara geram Rem terdengar menggema dari belakang.

Pria barbar itu memprotes kenapa gadis itu tidak menggunakan transformasi binatang buasnya saat bertarung melawannya tadi.

Dia memang sangat berhak merasa tidak puas.

Encrid yang mendengar suara geram Rem sebagai suara terakhir seketika melupakan lingkungan di sekitarnya lalu menghunus Dawnforged.

Konsentrasi fokusnya berkobar membara bagai lidah api, memenuhi sekujur raganya dengan luapan Will yang murni.

Dunbakel mengepalkan kedua tinjunya erat-牢 menggantikan senjata yang telah patah.

Tampaknya akan sangat bagus jika menghadiahkannya sebilah pedang lengkung Scimitar baru saat sesi latihan tanding ini usai nanti.

Sebilah pedang yang ditempa langsung oleh tangan ahli Aetri, pastinya.

Dan duel latihan tanding pun resmi dimulai.

Pertarungan itu tidak berlangsung terlalu lama.

Encrid memastikan titik-titik unik dari gaya bertarung Dunbakel lalu meresponsnya dengan tenang.

'Extinguishing Embers.'

Sebuah seni bela diri pedang tingkat tinggi yang berlandaskan pada pembacaan titik awal dari seluruh alur serangan lawan.

Itu adalah seni pedang yang bahkan sanggup menahan gempuran dahsyat milik Beelrog.

Sehebat apa pun peningkatan kemampuan Dunbakel, sedahsyat apa pun ledakan kemampuan fisiknya berkat transformasi binatang buas, mustahil bagi Encrid untuk sanggup dipatahkan oleh serangan sang manusia binatang.

Namun demikian, beberapa pukulan tinju dan tendangan kaki Dunbakel memang sempat berhasil menerobos menembus batas pertahanan yang diciptakan oleh pedang Encrid.

Hal semacam itu memang tak terhindarkan.

Cara bertarung Dunbakel saat ini memang tergolong sangat istimewa dan tak terduga.

Tepat setelah Encrid berhasil menangkis delapan belas gelombang serangannya, dan sebagai serangan balasan kesembilan belas, dia mengetukkan bagian tumpul bilah pedangnya menghantam kepala Dunbakel.

Pletak!

Gadis itu terkapar telentang di atas tanah lalu mengeluh tertahan.

"Bukankah ini namanya curang?!"

Dadanya kembang kempis memburu mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Curang apanya, dasar bodoh!"

Rem yang menonton dari tepi lapangan terkekeh geli, dan Encrid membuka suaranya dengan nada santai tanpa beban.

"Mau coba sekali lagi?"

Cara bertarung Dunbakel saat ini sangat berbeda dibanding masa lalu.

Gaya bertarungnya telah berevolusi sangat jauh.

Itulah alasan kenapa pertarungan ini terasa begitu memicu semangatnya.

"Ssrrt. Boleh, siapa takut!"

Dunbakel menghembuskan gumpalan darah beku yang menyumbat hidungnya lalu bangkit berdiri tegak kembali.

Tubuhnya yang berada dalam mode transformasi telah mengeras sekokoh raga seorang raksasa.

'Pertahanan Ironclad yang berhasil dicapai pada tingkatan alam bawah sadar.'

Kekuatan ini berbeda dari Holy Light Armor, namun efek perlindungannya bisa dibilang sangat serupa.

Di dalam istilah peradaban bangsa manusia binatang, itu bermakna bahwa gelora Life Force telah meresap menyatu ke dalam seluruh bulu di tubuhnya, mengubahnya menjadi sekeras baja murni.

Encrid kembali mengangkat pedangnya, dan Dunbakel kembali menerjang maju melancarkan serangannya.

Duel seru itu berlanjut hingga satu putaran waktu latihan tanding akhirnya berlalu.

"Kalian tidak berniat menggelar pesta perjamuan makan malam? Aku mau makan daging domba panggang yang matang sempurna!"

Dunbakel mengusulkan digelarnya sebuah pesta perjamuan demi merayakan kepulangannya.

"Memangnya kau tidak membawa minuman keras langka atau barang berharga dari Wilayah Timur? Kalau ada, cepat keluarkan sekarang juga!"

Rem segera menyambar ucapannya.

Pria itu menuntut apakah gadis ini berani pulang dengan tangan hampa tanpa membawa oleh-oleh.

"Dari mana aku bisa dapat barang mewah semacam itu?! Untuk bisa makan normal saja susahnya setengah mati di sana! Kau harus pergi ke perkemahan pusat hanya demi mendapatkan jatah ransum militer kering. Kalau tidak, kau cuma bisa mencabik-cabik daging monster mentah di alam liar. Menurutmu kenapa orang-orang di sana sampai menjual Relic-Relic kuno yang mereka temukan di Wilayah Timur, hah?!"

Makna dari penjelasan tambahannya itu adalah bahwa tim ekspedisi wilayah timur memiliki sistem perekonomian di mana mereka menjual artefak Relic temuan demi membeli perbekalan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup sehari-hari.

Dengan kata lain, itu pun terdengar bahwa teramat sulit untuk mengamankan bahan pangan di Wilayah Timur murni hanya mengandalkan perburuan dan meramu belaka.

Encrid belum pernah menginjakkan kakinya di tanah timur, namun hanya dari penuturan singkat itu saja dia sudah sanggup membayangkan betapa tandus dan kerasnya kehidupan di belantara tersebut.

Rem tidak mengamuk mendengar omelan itu dan hanya mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali.

Itu adalah sebuah ekspresi wajah yang hanya akan muncul saat pria barbar itu benar-benar merasa terkejut dari lubuk hatinya.

"Kau..."

Tepat saat Rem membuka mulutnya hendak menatap Dunbakel, Krais yang telah muncul entah sejak kapan turut mengangguk-anggukkan kepalanya dengan raut wajah kagum tepat di sampingnya.

Namun pada akhirnya, Jaxon-lah yang menarik kesimpulan telak.

"Apa kepalamu sekarang sudah bisa dipakai berpikir?"

Bahkan Audin pun turut menimpali dengan khidmat.

"Rahmat perlindungan dari Sang Penguasa rupanya telah menyertaimu dengan baik, wahai saudariku."

Baru pada saat itulah Dunbakel menyadari bahwa mereka semua sedari tadi tengah mengerjainya, dan setelah menyapu wajah mereka satu per satu, dia mengunci tatapan matanya ke arah Encrid.

Encrid yang tidak mau kalah turut menambahkan satu kalimat.

"Jadi kebijaksanaan dan kecerdasan otak pun ternyata bisa ditempa melalui latihan fisik ya?"

"Kalian ini sialan sekali ya?! Dari dulu kepalaku ini memang sudah bisa dipakai berpikir sejauh itu, tahu?!"

Alih-alih sekadar gertakan sok berani demi menutupi rasa takut, gadis itu kini telah sanggup berpikir jernih tanpa perlu merasa gelagapan panik karena dia telah memahami bagaimana cara mengelola rasa takutnya sendiri.

Meskipun mereka semua memahami proses perkembangan mental tersebut, semua orang tampak sangat tulus menikmati momen saling mengejek ini.

Bagaimanapun, mereka akhirnya resmi menggelar sebuah pesta perjamuan malam.

"Apa cukup hanya dengan daging domba panggang? Mari kita keluarkan stok daging sapi muda terbaik serta hidangan ayam utuh yang digoreng garing dalam minyak panas yang baru saja dikembangkan oleh koki kita!"

Seru Krais dengan penuh semangat.

Itu adalah sebuah pesta perjamuan dadakan yang sangat meriah.

Malam itu rembulan bersinar terang benderang dan hamparan bintang-bintang menghiasi kanvas langit dengan megah.

Shinar memang tidak menampakkan batang hidungnya, namun Esther telah datang entah sejak kapan dan duduk manis di samping Encrid.

"Kalau kedua kakiku terasa pegal, apa kau mau menggendongku juga?"

Gadis penyihir itu bahkan berani melontarkan lelucon yang biasanya sangat tidak cocok dengan kepribadiannya.

"Kau pasti tadi sempat berpapasan dengan Shinar."

"Di tengah jalan."

Keberadaan Esther memang sangat sulit untuk dilacak secara pasti.

Dia kerap berlalu-lalang keluar masuk kota bangsa peri dan terkadang menjelajahi puncak Pegunungan Pen-Hanil.

Akhir-akhir ini gadis itu menghabiskan sebagian besar waktunya melatih para anggota unit sihir yang bernaung di bawah komandonya.

"Kalian membantai siapa?! Beelrog?!"

Dunbakel yang baru saja mendengar rentetan aksi heroik yang dituntaskan oleh The Order of the Madmen Knights baru-baru ini—yakni apa yang terjadi sebelumnya—merasa begitu syok hingga nyaris menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya.

"Hup!"

Sepotong daging domba sempat mencuat keluar dari bibirnya lalu tersedot masuk kembali ke dalam rongga mulutnya.

Itu sama sekali bukanlah pemandangan yang elok untuk dilihat.

"Apa kau akhir-akhir ini bahkan tidak pernah mandi bersih?"

Tanya Rem sembari berdecak lidah jijik.

"Kata-kata macam itu yang pertama kali kau ucapkan begitu melihat kepulanganku?!"

Itu memang bukan kalimat pertama yang diucapkan Rem saat gadis itu tiba tadi, namun ucapan itu kemungkinan besar terdengar seperti itu di telinga Dunbakel.

Layaknya omelan cerewet yang menjengkelkan.

"Coba ceritakan sedikit bagaimana kabarmu selama berada di sana."

Krais yang melontarkan pertanyaan tersebut.

Dunbakel tadinya berniat membual menceritakan kisah-kisah hebat perihal monster-monster purba yang ia temui di Wilayah Timur.

Seperti monster raksasa yang ukurannya sebesar bukit.

Namun setelah mendengar kisah heroik bagaimana kelompok ksatria ini menebas runtuh tembok benteng kota dan membantai Beelrog, kisah petualangannya mendadak terasa tidak terlalu spektakuler lagi.

Terlebih lagi karena gadis ini memang tidak terlalu pandai dalam merangkai kata-kata cerita.

Dia sangat menyadari kekurangannya tersebut.

"Yah, intinya aku cuma terus bertarung di sana."

Encrid sangat menyukai cerita petualangan, sehingga dia sedari tadi telah menanti-nanti dengan antusias, namun kalimat yang meluncur keluar terdengar terlalu pendek, sehingga dia berkomentar.

"Apa Anu sama sekali tidak mengajarimu bagaimana cara bercerita yang baik?"

"Ah, pokoknya aku cuma bertarung dan terus bertarung di sana! Di Wilayah Timur, jumlah monster yang bermunculan jauh lebih banyak dan gila dibanding apa yang ada di tempat ini!"

Meski begitu, hanya itulah yang sanggup diceritakan oleh Dunbakel.

Lalu dia menambahkan sedikit informasi mengenai faksi-faksi manusia yang bermukim di Wilayah Timur.

"Di sana ada kelompok penggembala domba?"

Fel menyela penasaran.

Hal yang paling menarik perhatiannya adalah keberadaan kaum penggembala yang dikabarkan tergabung di dalam tim ekspedisi timur.

"Aku tidak terlalu sering melihat mereka. Aku sebagian besar menghabiskan waktuku bergaul bersama orang-orang dari serikat Black Leather Guild."

Kelompok Shepherds of the Wilderness, serikat Black Leather Guild, dan ordo Glacial Rangers.

Ketiga faksi legendaris ini, dalam arti tertentu, telah menjelma menjadi mitos hidup.

Mengingat bahwa mereka adalah kelompok-kelompok tangguh yang telah bertahan hidup di satu wilayah keras di bawah panji nama yang sama selama lebih dari seratus tahun lamanya.

Luagarne pun adalah seekor manusia katak yang rasa penasarannya tidak kalah dari siapa pun.

"Apakah ekspedisi penjelajahan timur itu terus berlangsung tiada henti?"

"Yah, mereka terkadang sempat saling bertikai di antara mereka sendiri di sela-selanya, dan ada banyak sekali kekacauan yang terjadi."

Ropord turut bergabung meramaikan obrolan dan bertanya.

"Kau bilang ada banyak sekali monster-monster mutasi yang unik?"

Dunbakel menjawab santai sembari mengunyah.

"Ada seekor monster yang wujudnya menyerupai raksasa purba. Ukurannya sebesar ini, dan mayoritas bilah senjata bahkan tidak sanggup menggores kulitnya. Ada seorang pendekar petarung bersenjata lengkap yang dipersenjatai dengan tumpukan Relic timur yang berhasil membantainya. Cara dia membunuhnya adalah begini..."

Itu adalah sebuah obrolan hangat yang membuat malam terasa begitu singkat berlalu.

Dunbakel yang tadinya sempat mengeluh bahwa dirinya merasa telah salah memilih tempat untuk pulang, dengan sangat cepat berbaur akrab kembali bersama mereka semua.

"Di The Order of the Madmen Knights ini, bukankah posisi wakil kapten seharusnya menjadi jatah milikku sebagai satu-satunya manusia binatang di kelompok ini?"

Dia sempat melontarkan racauan omong kosong setelah menenggak beberapa gelas minuman keras di tengah pesta dan nyaris dihajar sampai mati di tempat.

"Bercanda, aku cuma bercanda kok! Lepaskan tanganmu dari gagang kapak itu sekarang juga! Eh tunggu, sejak kapan kau berdiri di sini sembari memegang pedang?! Pedang macam apa itu? Kelihatannya jauh lebih berharga dan berkilau dibanding mayoritas Relic kuno!"

Ragna perlahan menyarungkan kembali bilah pedang Sunrise yang sempat terhunus setengah jalan.

Dunbakel, mungkin karena merasa terlalu bersemangat membara, kini menjelma menjadi sosok yang jauh lebih cerewet dibanding masa lalu—yakni sebelum dirinya berangkat mengembara dulu.

Bagaimanapun, sang manusia binatang telah resmi kembali pulang, dan semua orang menyambut kepulangannya dengan tangan terbuka.

Malam itu adalah sebuah malam yang indah di mana binar cahaya bintang seakan menepuk pundak mereka dan memeluk hangat punggung mereka bersama-sama.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.