Eternally Regressing Knight

Bab 791: Sesi Latihan Itu Berlangsung Lama

2198 Kata

Bab 791: Sesi Latihan Itu Berlangsung Lama

"Kemampuanmu..."

Senyum tipis yang biasa menghiasi wajah Oara sedikit memudar.

Lagipula, dia bukanlah orang yang selalu tersenyum setiap saat.

Meski tidak tampak terkejut sepenuhnya, kedipan matanya yang berulang kali memperjelas rasa herannya kepada siapa pun yang melihat.

Itu sangat wajar.

Bahkan setelah bertukar beberapa serangan saja, perubahan besar pada diri pria itu sudah terlihat jelas.

Cara Encrid mengendalikan Will-Uske yang tak pernah kering, pola pikirnya, serta bagaimana dia memanfaatkan Will—

Encrid kini bagaikan sosok yang sama sekali berbeda dari pria yang dulu ditemui Oara di kota yang sempat bernama Thousand Stones, kota yang kemudian mewarisi nama sang ksatria wanita itu.

Sesaat lalu, Oara menebas ke bawah dengan pedangnya, dan Encrid menangkisnya lewat tusukan bertenaga yang langsung mementalkan bilah pedang Oara ke samping.

Namun, Oara mencengkeram kembali pedangnya, menghentikan laju senjata itu dengan kekuatan murni, lalu mengubah kuda-kudanya untuk mengalihkan sisa momentum serangan.

Knight yang telah memberi nama baru bagi kota tersebut sama sekali tidak kehilangan kehebatannya.

Encrid menyadari hal itu dengan jelas, sama seperti Oara yang menyadari bahwa pria di hadapannya sekarang sama sekali bukan pria yang dulu.

Senyum kembali merekah di wajah Oara.

Ini jauh lebih menyenangkan dari dugaannya.

Melihat perkembangan Encrid, dan saling mengadu pedang dengannya seperti ini.

Mungkin inilah satu-satunya saat dia bisa tersenyum tulus sejak ditangkap oleh Beelrog.

"Bukankah dulu aku pernah menasihatimu untuk melupakan masalah ini?"

Oara bertanya, tenggelam dalam ingatan masa lalu.

Encrid menjawab santai, seolah ucapan itu tak perlu dipikirkan terlalu lama.

"Ah, aku tidak menganggapnya serius."

Oara tersenyum mendengar tanggapan Encrid.

"...Bajingan ini benar-benar tahu cara memancing emosi orang."

Oara baru saja mengetahui satu hal baru tentang pria itu—hal yang tak sempat ia sadari saat mereka bertemu di kota dulu.

Lidah pria ini setajam lidah seekor Ghoul.

Dengan wajah dan pembawaan seperti itu—tipe orang yang tak kau sangka bakal melontarkan kata-kata pedas—sindirannya terasa dua kali lebih menusuk.

Oara, yang sangat berpengalaman di medan perang, paham betul akan hal itu.

Bugh.

Kali ini Oara menusuk ke depan, tetapi Encrid mempersempit jarak dan mengayunkan pedangnya ke bawah.

Bilah pedang mereka beradu pelan, lalu berpisah.

Tak ada percikan api yang memercik sedikit pun.

Gerakan mereka tampak seperti latihan yang sudah disepakati bersama—saling mengayun, menghindar, menahan, dan menangkis pedang satu sama lain.

Namun, ini bukanlah niat awal Oara.

Dia hanya mengikuti alur yang dipimpin oleh Encrid.

'Aku tahu dia sudah berkembang cukup pesat hingga bisa sampai ke sini, tapi...'

Apakah dia memang selalu sehebat ini?

Rasa takjub Oara terus muncul berulang kali.

Awalnya, dia tidak berniat melakukan latihan tanding seperti ini.

Dia tidak ingin menguras tenaga pria tersebut.

Itulah alasan kenapa sebelumnya dia berencana melewatkan duel dan hanya ingin berbincang-bincang santai.

Saat ini, dia hanya meladeni karena Encrid yang menginginkannya.

Meski begitu, Oara tahu kemampuan ini saja belum cukup untuk melewati Beelrog.

'Tapi, apa memang ada hal yang bisa kukatakan padanya?'

Tampaknya tidak ada.

Sembari bergerak, Oara menatap lekat-lekat mata lawannya.

Yang ia lihat adalah tatapan mata sejernih langit tanpa awan.

Sepasang mata yang memancarkan binar cahaya yang jarang terlihat di tempat ini.

Sorot mata yang menunjukkan tekad kuat dan tak akan pernah mundur, apa pun yang terjadi.

Karena itulah dia tidak bisa menghentikannya.

Pria itu berdiri di sini atas kehendaknya sendiri, mengayunkan pedangnya sendiri—siapakah dirinya sampai berhak melarang atau menghentikan langkah pria ini?

Sekalipun takdir akhirnya sudah terpatri, sekalipun dia sudah tahu bagaimana kisah ini akan usai, Oara tetap harus menyaksikannya sampai lembar terakhir.

Bahkan jika akhir cerita itu ditakdirkan menjadi sebuah tragedi.

'Ini masih belum cukup.'

Oara tahu betul karena dia sudah berkali-kali bertarung melawan monster itu.

Beelrog bukan sekadar monster yang kebetulan pandai bertarung.

Seperti biasa, waktu selalu terbatas.

Entah di luar maupun di dalam Labyrinth, segala hal yang berawal pasti akan menemui akhirnya.

Oara memutuskan bahwa entah berakhir tragedi atau tidak, sudah saatnya semua ini dimulai.

Trang.

Oara menepis pedang Encrid ke samping dan hendak mengatakan bahwa waktunya telah tiba.

Encrid, yang langsung mengalah tanpa perlawanan, menyarungkan pedangnya kembali.

Ada rasa disiplin yang begitu rapi dalam setiap gerakannya.

Tampaknya dia bahkan bisa langsung melakukan penghormatan militer resmi saat itu juga.

Oara bergumam dalam hati,

Ya, kau pasti tahu waktumu sudah tiba.

Tepat saat Oara hendak berbicara, Encrid lebih dulu mendahuluinya.

"Kau jago pertarungan tangan kosong?"

Lalu, tanpa aba-aba, Encrid melayangkan sebuah tinjuan.

Oara segera menghindar dari pukulan yang mengarah cepat ke kelopak mata atasnya.

Kali ini, serangannya bukan jenis yang bisa dihindari begitu saja sambil tersenyum santai.

Oara memutar pinggang, memindahkan pusat gravitasinya, dan menolehkan lehernya dengan tajam.

Pada saat yang bersamaan, dia membuka telapak tangan dan membalas menyerang.

Menghadapi serangan semacam ini, menghindar saja tidak cukup—seseorang harus melancarkan serangan balasan.

Wawasan dan kebiasaan seorang Knight yang terasah lewat latihan keras langsung bereaksi secara refleks.

Bugh!

Encrid mengarahkan tinju kirinya ke wajah Oara, lalu menyusul dengan hantaman siku kanan ke arah telapak tangan Oara yang terentang.

Suara benturannya terdengar keras—tanda nyata betapa kuatnya hantaman itu.

Oara, yang serangannya berhasil ditahan, melompat mundur dua kali seperti seekor kelinci yang terkejut.

Keahlian utamanya selalu bertumpu pada gaya pedang yang mengalir lancar dengan langkah kaki yang lincah, sehingga gerakannya jelas jauh dari kata biasa.

Bahkan bagi pandangan seorang Knight yang terlatih, kemampuannya memindahkan pusat gravitasi sangat mengesankan, dan refleks tubuhnya luar biasa.

"...Barusan itu apa?"

Oara, yang sudah mengambil jarak mundur, bertanya.

"Pemanasan?"

Encrid menjawab dengan nada wajar tanpa beban.

"Jadi, aku cuma pemanasan bagimu?"

Oara kembali teringat betapa tajamnya mulut Encrid.

Pria ini benar-benar pandai memancing kekesalan orang.

Terlepas dari kehebatannya di medan perang, kebiasaan itu sungguh membuat jengkel.

Cerita tentang Beelrog yang tadinya sudah berada di ujung lidah Oara lenyap seketika dari benaknya.

"Kenapa? Apa Oara yang tidak tersenyum ini jadi terlihat murahan? Cuma orang biasa? Prajurit rendahan? Begitu maksudmu?"

Meskipun Oara—yang selalu tersenyum—merupakan seorang Knight berhati baja, dia bukanlah tipe orang yang tinggal diam saat diprovokasi.

Apa pun yang dikatakan lawannya, dia adalah jenis orang yang akan membalas dengan keahlian, menghancurkan musuh lewat kemampuan mutlak.

"Bukan begitu juga maksudku."

Encrid menyahut tenang, tatapan mata birunya tetap tak goyah sedikit pun.

Ketenangannya yang tak terguncang itu justru semakin memancing kekesalan.

Melihat reaksi Oara, Encrid tersenyum tipis.

Bahkan senyuman itu pun dianggap sebagai provokasi oleh Oara.

"Baiklah, kita lihat apa kau sanggup membunuhku."

Dulu, dia pernah menguasai medan perang hanya dengan sebilah pedang.

Itulah kehidupannya sebelum menjadi seorang Knight.

"Maju kalian semua!"

Namanya tersebar luas ke mana-mana berkat keberhasilannya menumbangkan kelompok ternama Ten Mercenaries seorang diri.

Kala itu, sepuluh orang tersebut menyergapnya bersamaan, berharap bahwa dengan membunuhnya—pasukan elit berukuran kecil bisa membalikkan keadaan perang, merelakan satu pertempuran demi memenangkan perang besar.

"Akan kubuat kau merangkak di antara kedua kakiku."

Orang yang terus-menerus memprovokasinya saat itu adalah orang pertama yang kehilangan kedua kakinya.

Oara tidak pernah menoleransi provokasi apa pun.

Kenapa dia tiba-tiba mengingat masa lalu itu sekarang?

Oara menepis pikiran-pikirannya yang terpecah lalu menggenggam pedangnya erat-erat.

Laughter yang dulu menjadi Engraved Weapon miliknya memang sudah tiada.

Namun sosok 'diriku' yang mengayunkan Laughter masih tetap ada di sini.

Entah ini merupakan pecahan jiwa, sekadar serpihan ingatan, atau Fragment of Lingering Thought—dia sendiri tidak tahu pasti.

Encrid sempat bertanya apakah dia pernah bertarung dengan tangan kosong, namun Oara mengabaikannya dan langsung menghunuskan pedang.

Sring.

Pedang yang terhunus meluncur begitu mulus bagaikan aliran air.

Serangan pedangnya adalah garis lurus yang tak terhentikan—sebuah gelombang yang tak pernah pecah, ombak yang tak kunjung reda.

Bilah pedang Oara membentuk lintasan diagonal, dan pedang Encrid meniru gerakan itu dengan tebasan diagonal yang sama persis.

Pemandangan itu bagai pantulan di cermin, bilah pedang mereka berdua beradu dalam posisi berlawanan yang sempurna.

Kedua bilah pedang bertemu di udara.

Trang—!

Percikan api memercik terang.

Tenaga di balik ayunan pedang mereka berdua sungguh luar biasa besar.

Lengan jubah Oara yang longgar terdorong ke atas hingga ke siku akibat benturan dahsyat itu.

Di baliknya, urat-urat otot halus bergelombang di sepanjang lengannya bagai riak ombak.

Sangat mulus.

Dalam sepersekian detik saat pedang mereka bertemu, Encrid langsung memahami sifat alami dari tebasan pedang Oara.

Dia sudah lama mengenal sang ksatria wanita, dan dia kerap berlatih menggunakan bagian dari teknik pedang Oara sebagai tolok ukurnya.

Encrid terus menekan maju, mendorong pedang lawannya ke samping dengan kekuatan penuh—sebuah dorongan berat yang sangat bertenaga.

Krang-krang-krang!

Tepat sebelum terkunci dalam posisi Bind, Oara menyadari bahwa dirinya terdesak mundur dalam adu tebasan diagonal itu dan segera menarik langkah ke belakang.

Namun secepat dia melangkah mundur, secepat itu pula dia melesat maju kembali, melancarkan tebasan diagonal sekali lagi.

Begitu derap langkah kakinya berdentang di tanah—tadak!—bilah pedangnya yang berwarna kusam meluncur turun melalui jalur miring yang sama.

Jika serangan sebelumnya terasa begitu mulus, serangan kali ini dipenuhi oleh kegigihan dan keagresifan yang liar.

Encrid mengangkat pedangnya, menyambut hantaman itu dengan dorongan halus ke atas.

Kriit-kriit.

Kedua pedang mereka bersilangan dan posisi mereka berdua saling bertukar.

Sesaat sebelumnya, api unggun berada di belakang punggung Oara, namun kini Encrid-lah yang berdiri membelakangi kobaran api.

Api dari dudukan obor berada jauh, sementara api unggun menyala begitu dekat.

Bayangan tubuh mereka berdua saling bertumpukan di antara dua sumber cahaya itu.

Tepat saat pedang dan raga mereka saling berpapasan, tatapan mata mereka pun saling bertemu.

Mata biru Encrid yang sulit ditebak tetap lurus, jernih, dan murni seperti biasanya.

Pada saat itulah, Oara tersadar kenapa dia tiba-tiba teringat pada kelompok Ten Mercenaries dari masa lalu.

Kala itu, dia sudah menyadari jebakan para tentara bayaran itu jauh-jauh hari.

Taktik mereka sebenarnya sama sekali tidak rumit.

Namun meski mengetahui hal tersebut, dia tetap meladeni mereka.

Sama persis seperti saat ini.

Ini adalah latihan tanding yang disepakati bersama.

Oara tahu bahwa jika dia bertarung dengan segenap kekuatannya, dia sanggup menorehkan setidaknya satu luka pada Encrid—meskipun kini dia hanyalah sebuah Fragment of Lingering Thought—tetapi dia memilih untuk menahan diri.

"Kemampuanmu benar-benar sudah meningkat pesat."

"Ini semua berkat kelonggaran yang kau berikan waktu itu."

"...Apa caramu bicara memang selalu seperti itu?"

"Ah, sepertinya kau melewatkan hal ini, Dame Oara. Aku memang selalu bicara begini."

Seandainya ada kontes untuk menentukan gaya bicara paling menyebalkan, pria ini pasti keluar sebagai yang terbaik di seluruh Benua.

Oara sebenarnya ingin menghabiskan waktu bersama Encrid dan membantunya.

Niat awalnya adalah membagikan sebagian pengalaman yang telah ia peroleh dari pertarungannya melawan Beelrog.

'...Bagaimana bisa kau tahu semuanya?'

Cara menggunakan sayap, cara melepaskan diri dari intimidasi, bahkan tendangan kejutan yang datang dari luar jangkauan perkiraan.

'Kau sudah mengetahui semuanya.'

Tentu saja, Encrid sudah bertarung melawan Beelrog lebih dari seratus kali belakangan ini, jadi hal itu tidaklah aneh, tetapi dari sudut pandang Oara, sulit untuk tidak menggelengkan kepala karena bingung.

Bukan berarti dia bisa mengeluh juga.

Mulai dari titik itu, Oara memahami apa yang diinginkan Encrid.

Bahkan tanpa perlu bicara secara langsung, hanya dengan saling mengadu pedang saja sudah cukup bagi mereka untuk memahami maksud satu sama lain.

Oara mengayunkan pedangnya tanpa memikirkan pertahanan sama sekali, sementara Encrid dengan mudah menangkis, menepis, dan menahan setiap tebasan yang dilancarkan Oara ke arahnya.

Pedang besi dengan beberapa bagian gerigi yang sompel itu masih tergenggam erat di tangan Oara.

Latihan tanding mereka berlangsung sangat lama.

Bahkan saking lamanya, sekumpulan orang gila yang pergi mencari pemimpin kelompok aneh mereka sempat menemukan pria itu sebelum sesi latihan tanding ini berakhir.

"Sudah, mari kita sudahi sampai di sini."

Oara menyudahi pertarungan setelah pertukaran serangan yang panjang.

Encrid secara alami menarik kembali pedangnya dan mengambil kuda-kuda bersiap.

Tak ada waktu untuk bertukar kata.

Tiba-tiba, tubuh Oara terlempar keras ke samping.

Bagaikan boneka tali yang ditarik mendadak, dia melayang dan tersentak hebat ke arah samping.

Lalu, dari dalam bayangan tempat Oara baru saja berdiri, sebuah kaki berbalut kulit merah gelap pekat melesat keluar.

Hanya dalam sekejap mata, posisi mereka telah bergeser—kini api unggun kembali berada di belakang punggung Oara.

Bayangan mereka sempat bertumpukan, dan tepat saat hal itu terjadi, kaki mengerikan itu menerjang ganas ke arah Encrid.

Peristiwa itu terjadi tepat di depan mata mereka.

Waktu seakan melambat dan meregang di benak Encrid.

Udara menekan pundaknya dengan sangat berat, dan penglihatannya—yang telah melampaui batas normal manusia—menangkap wujud yang mendadak muncul dari dalam bayangan.

Bahkan tanpa melihatnya pun, Encrid sudah pasti tahu.

Wawasan tajam yang lahir dari ratusan pengalaman membuatnya secara naluriah menyadari apa yang sedang terjadi.

Kaki yang melesat keluar itu adalah milik Beelrog.

Bahkan dalam persepsi waktu yang meregang lambat, kaki Beelrog masih meninggalkan bayangan semu yang samar.

Bagaimanapun Encrid memacu kecepatan berpikirnya, mustahil baginya untuk menghindar—itu adalah lintasan dan kecepatan serangan yang tak mungkin dielakkan.

Dan bukan sekadar tendangan kaki biasa yang datang menerjang; ada tekanan kekuatan luar biasa yang menyertainya.

Tekanan tak kasat mata yang mewujud bagai rantai api membara langsung membelenggu kedua tangan dan kakinya.

Duarr!

Tubuh Encrid terkena tendangan telak.

Tubuhnya melesat cepat ke belakang dengan suara desingan angin kencang, melayang deras seolah hendak menghantam Wall hingga hancur lebur.

Namun hal itu tidak terjadi.

Bugh.

Sebuah tangan berukuran sangat besar—benar-benar sebesar telapak kaki seekor Bear—menangkap punggung Encrid yang tengah melayang dan mengalihkan dorongan tenaga dahsyat itu ke samping.

Sosok bertubuh raksasa yang menangkapnya itu berputar memutar arah.

Hantaman dahsyat yang tak hanya sanggup meremukkan Wall melainkan menembusnya secara langsung, seketika buyar berserakan di udara.

Suara dengungan keras menggema di telinga Encrid.

Meskipun dia telah melindungi sekujur tubuhnya dengan Will, hempasan mendadak itu tetap membuat telinganya berdenging—namun sensasi itu segera mereda berkat ketahanan tubuhnya yang kokoh.

Sosok yang telah membantunya melatih tubuh hingga sekuat inilah yang kini menopang punggungnya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.