Eternally Regressing Knight

Bab 786: Nalar dan Emosi

2997 Kata

Bab 786: Nalar dan Emosi

Di tengah hamparan pemikirannya yang luas dan bercabang, Encrid menarik keluar salah satu keunggulan terbesarnya: kuantitas Will yang luar biasa masif dan tak berdasar.

'Uske.'

Nama itu merujuk pada sebuah sumur aliran Will yang tak pernah kering.

Hal itu pun adalah sebilah senjata yang mematikan.

Sebuah senjata yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang petarung.

Bahkan Ragna sekalipun—sosok jenius yang konon dianugerahi bakat surgawi dan telah melangkah masuk ke ranah yang teramat langka—tidak memiliki keistimewaan kuantitas tak terbatas semacam ini.

'Itulah alasan mengapa aku selalu memegang keunggulan dalam pertarungan jangka panjang.'

Itu adalah sensasi yang selalu ia rasakan setiap kali melakoni latih tanding melawan Rem dan rekan-rekannya—atau lebih tepatnya, itu adalah konsep yang kini akhirnya sanggup ia definisikan dengan sangat jernih.

Terlebih lagi, Encrid telah menyerap taktik berbasis stamina dari berbagai pertempuran masa lalunya, seperti saat dirinya berduel melawan ksatria setengah matang bernama Reavart usai pertarungannya dengan Count Molsan.

Menjadikan aliran Will miliknya yang tak pernah habis sebagai perisai penopang, ia terus bertarung tanpa kenal lelah.

"Kenapa kau tidak memaksimalkan apa yang kau miliki?"

Itulah wejangan yang telah diulang ratusan kali oleh Luagarne—sosok yang mengajarinya seni taktik perang.

"Segala hal yang sanggup kau manfaatkan bisa menjelma menjadi senjata. Asahlah hal itu. Sebagai contoh, kau bahkan harus memperlakukan wajahmu sendiri sebagai senjata tipu daya. Perluaslah pemahamanmu tentang apa arti sejati dari sebuah senjata. Jangan terus mempersempit sudut pandangmu hingga kau mengurung dirimu sendiri di dalam sumur yang sempit."

Meskipun dirinya bukanlah seorang ksatria sejati, ia adalah seekor katak yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi seni taktik militer.

Kata-katanya meresap sangat dalam ke dalam relung batin Encrid.

Begitulah cara Encrid memahaminya.

'Segala hal bisa menjadi senjata.'

Maka itulah yang selalu ia terapkan.

Entah saat berlatih tanding dengan kawan ataupun bertarung hidup-mati melawan musuh, ia selalu memimpin jalannya duel mengandalkan pasokan Will miliknya yang tak berdasar.

'Namun Beelrog bukanlah lawan yang sanggup ditundukkan dalam pertarungan adu stamina.'

Beelrog telah hidup melintasi rentang waktu yang teramat purba.

Secara alami, sang demon dipastikan memiliki kuantitas Will yang sebegitu masifnya hingga tak terukur.

'Kuantitas tenaga murni saja tidak akan pernah cukup.'

Lantas bagaimana jika meraih kemenangan melalui perubahan sifat dan ritme kecepatan?

Ia telah mempelajari metode akselerasi aliran Will dari Yohan.

Itu adalah sebuah teknik berbahaya yang merusak struktur fisik penggunanya, namun jika raga seseorang dilatih hingga sangat kokoh, daya tahan tubuhnya untuk menahan beban tersebut pun akan meningkat secara drastis.

'Endure.'

Itu adalah istilah kolektif untuk seni beladiri yang berfokus pada menahan dan menepis rasa sakit fisik.

Jika asal-usul dari teknik Assimilation berakar dari tradisi bangsa peri, maka akar fondasi dari seni Endure bermuara dari ajaran kaum biarawan dan pendeta suci.

Audin pernah menegaskan bahwa fondasi utama dari Endure adalah penempaan raga yang teramat keras.

Apa yang akan terjadi jika ia melepaskan teknik Single Point Focus sembari menahan beban hantamannya menggunakan fisik yang terlatih dan seni Endure?

'Aku akan merebut kemenangan melalui perubahan drastis pada sifat Will.'

Ini adalah tentang merebut momentum dalam satu kedipan mata, bukan sekadar bertumpu pada kalkulasi probabilitas belaka.

Dan jika ia sanggup mengeksploitasi rasa percaya diri dan kepongahan Beelrog—

'Aku akan mempertaruhkan seluruh jiwa ragaku pada tebasan pertama.'

Namun bagaimana cara dirinya menjalankan rencana tersebut?

'Semuanya harus bermula dari mematahkan tekanan auranya.'

Beelrog mengukur kapasitas dan kelayakan lawannya melalui tekanan hawa intimidasinya. Maka Encrid dituntut untuk mematahkan dan menepis tekanan itu hanya dalam satu kejap mata.

Itulah syarat mutlak yang harus ia penuhi demi melancarkan serangan kejutan penentu kemenangan.

"Dan makhluk macam apa sebenarnya kau ini?"

Kini adalah 'hari ini' yang ke-56, dan karena ia baru saja melangkah usai membantai Donafa, sosok di depannya ini adalah lawan ketiganya.

Sang pendekar wanita yang mengandalkan sebilah pedang bermata tunggal dan pergerakan lincah memiringkan kepalanya sedikit sembari melontarkan pertanyaan.

Saat Encrid membalas tatapannya, sang pendekar wanita—yang mendadak tampak seperti seekor mangsa yang baru saja melihat seekor predator buas—seketika melompat mundur demi merenggangkan jarak.

*Sring!*

Wanita itu menghunus pedangnya sembari melangkah mundur, kewaspadaan yang teramat pekat terpancar jelas di sepasang matanya.

'Sorot mata terkutuk itu...'

Pupil matanya bergetar halus menahan ngeri.

Sepasang mata biru jernih milik Encrid tampak tenang menyerupai permukaan danau yang hening.

Namun tepat di samping danau yang tenang itu, seolah-olah ada sebuah gunung berapi aktif yang sedang meletus dahsyat, bergolak meluapkan hawa panas membara.

Jika Rem atau rekan-rekannya melihatnya saat ini, mereka dipastikan akan berkomentar, "Lihat dia, sorot matanya yang gila mulai kumat lagi."

Begitu dirinya telah menetapkan sebuah metode, ia akan merangsek maju dengan ketetapan hati yang tak tergoyahkan.

Itulah salah satu watak paling mendasar dari seorang Encrid.

Pendekar wanita berpedang tunggal di depannya tak lebih dari sekadar batu sandungan yang harus segera ia lewati.

"Aku sedang agak terburu-buru."

Disertai ucapan dingin itu, ia melesat menerjang ke depan!

"...Ck!"

Sang pendekar wanita berpedang tunggal menahan napasnya lalu melompat melancarkan serangan balasannya.

Jika dirinya memilih untuk mundur saat ini, ia takkan memiliki secercah pun peluang untuk meraih kemenangan.

Ia sangat memahami di mana letak keunggulan terbesarnya.

Bertarung secara agresif di posisi ofensif adalah satu-satunya pilihan hidupnya—bukan terpojok kaku di posisi bertahan pasif.

*Trang, trang, trang, krak!*

Ia menyeret ujung mata pedang tunggalnya di atas permukaan tanah sembari berlari kencang menerjang maju, memercikkan badai bunga api menyilaukan setiap kali bilah senjatanya bergesekan dengan bebatuan yang tertanam di lantai tanah gua. Pemandangannya tampak seolah-olah ia sedang menyeret lidah api membara di belakangnya demi menyambut serbuan Encrid.

Momen tabrakan maut di antara mereka berdua tampak tak terelakkan.

Ia tahu persis apa yang harus ia lakukan pada detik benturan krusial tersebut.

Sang pendekar wanita memusatkan seluruh konsentrasinya ke satu titik.

Tampaknya kedua sosok itu akan saling beradu senjata dalam hitungan detik, namun kenyataan yang terjadi justru bertolak belakang.

Sang ahli pedang tunggal seketika kehilangan orientasi geraknya.

'Dia... berhenti?!'

Encrid yang sedari tadi berlari dengan kecepatan penuh mendadak menghentikan laju geraknya secara total di tempat.

Ia berhenti sebegitu mendadaknya hingga seolah-olah terlihat ilusi tubuhnya yang terlempar ke depan akibat dahsyatnya gaya inersia pengereman mendadak tersebut.

Saat Encrid mengerem mendadak seperti itu, darah segar mulai menetes keluar mengalir dari lubang hidungnya.

Tetesan darah segar memercik jatuh membasahi tanah di depannya.

Tentu saja hal itu bukanlah detail yang pantas untuk diperhatikan.

Pedang tunggal sang wanita tak sanggup menghentikan momentum lajunya.

Mencurahkan setiap jengkal aliran Will miliknya, baik yang sadar maupun bawah sadar, ia merangsek maju demi menebas tubuh sang lawan.

Jika dirinya berhenti di titik ini, dampaknya takkan sekadar berakhir dengan mimisan belaka.

*KRAK-KAK!*

Ia memanfaatkan gaya gesek dari bilah pedangnya yang memercikkan api di tanah demi melipatgandakan akselerasi lajunya.

Menjadikan permukaan bumi sebagai sarung pedang daruratnya, ia menyabetkan bilah senjatanya ke atas, membelah lapisan udara dengan suara siulan tajam yang meninggalkan gema suara di belakangnya.

Encrid yang sedari tadi mematung mendadak merendahkan tubuhnya lalu melangkah maju menerobos dengan kecepatan yang sama sekali tidak berkurang, sembari mengayunkan pedangnya!

Keduanya meluncur saling menerjang, kilatan pedang beradu membelah kegelapan.

'Bagaimana mungkin...?!'

*KLANG!*

Tepat usai pedangnya tertangkis kaku, sang pendekar wanita melihat seekor ular berwarna biru langit merayap membelit lengannya lalu mematuk telak batang lehernya.

Ular biru langit itu menyayat bersih tepat di bawah tulang selangkanya lalu merobek rongga jantungnya sebelum akhirnya lenyap menguap.

Gumpalan jelaga hitam pekat menggelayut di penglihatan matanya yang kian menggelap.

Itu adalah detik-detik terakhir sebelum ajalnya tiba.

Hal terakhir yang sanggup ia saksikan adalah sosok Encrid yang sedang mengayunkan pedangnya beberapa kali di udara kosong demi menstabilkan ritme geraknya.

Menyaksikan pemandangan itu entah bagaimana memberinya sisa tenaga yang sebelumnya tak ia miliki.

Sang pendekar wanita memuntahkan kepulan Black Mist lalu dengan sisa-sisa kekuatannya berucap lirih,

"Uhuk... apa kau... sengaja memanfaatkanku untuk latihanmu?"

Dari luka robek menganga yang disayat oleh ular biru langit tadi, Black Mist menyembur deras keluar dan tumpah berhamburan ke atas tanah.

Encrid bahkan tidak repot-repot menganggukkan kepalanya, seolah-olah telah mendengar kalimat keluhan itu terlalu sering.

Ia mengabaikannya sepenuhnya.

Lebih dari tiga puluh kali dari total lima puluh pengulangan hari ini, wanita itu selalu melontarkan kalimat yang sama persis sebelum tewas.

Pendekar wanita itu memiliki kepekaan harga diri yang sangat rapuh jika diabaikan—sebuah cacat kepribadian yang melekat pada jiwanya.

Encrid telah berhadapan dengan wanita ini lebih dari lima puluh kali.

Seiring berjalannya waktu, seluruh titik kelemahannya menjadi semakin benderang di matanya.

Mengabaikan kata-kata sang musuh, Encrid memutar ulang pertukaran serangan singkat yang baru saja terjadi di dalam kepalanya.

'Kendali aliran Will.'

Fokus utama Encrid bukan semata-mata pada Single Point Focus atau Explosion of Lines, melainkan pada kendali transisinya.

Tepat usai pengereman mendadak tadi, ia seketika beralih memicu ledakan titik.

Dalam satu kedipan mata, aliran Will miliknya mengubah ritme kecepatannya secara ekstrem.

Persis seperti seekor kuda pacu yang membutuhkan ancang-ancang lari demi berakselerasi, Encrid justru mengayunkan pedangnya dengan kecepatan maksimal bermula dari posisi berhenti total.

Lengan kanannya bergetar hebat menahan ngilu.

Sebagus apa pun kau melatih fisikmu, adalah hal yang sangat alami jika aksi nekat semacam itu akan membebani struktur ototmu.

Kau takkan bisa membantai seribu pasukan tanpa mengatur napas atau tanpa merasakan otot lenganmu pegal linu.

Bahkan setelah berhasil menjadi seorang Knight sejati dengan memperkuat Will dan mengasah raga, seseorang tidak serta-merta melompati batas-batas biologis sebagai seorang manusia.

Hal serupa pun berlaku bagi seorang keturunan Raksasa ataupun bangsa Peri.

Bagaimanapun faktanya.

"Aku berhasil mempelajari hal baru darimu, Odd-eye."

Ia mencoba teknik pengereman mendadak tadi murni karena ia teringat bagaimana sosok Odd-eye di pos Border Guard dulu sanggup berhenti dan melesat berakselerasi sesuka hatinya.

Hal itu meninggalkan kesan yang teramat mendalam di benaknya hingga pada masa itu ia bahkan sempat menjuluki Odd-eye sebagai sang ksatria "Unyielding".

Meskipun usai memberi julukan itu, ia merasa terlalu terbiasa sehingga akhirnya kembali memanggilnya dengan sebutan Odd-eye.

Ketika Odd-eye mendengar julukan "Unyielding" pada masa lalu, rekannya itu hanya mendengus sinis sebagai tanggapannya.

Seolah-olah sedang menyindir, "Kenapa kau mengungkit masa lalu konyol itu lagi?"

Bagaimanapun juga.

"Kau sanggup memancing lawanmu menurunkan kewaspadaan mereka lalu membuka duel dengan manuver tak terduga yang berada di luar nalar mereka."

Itulah kesimpulan taktis yang berhasil ia petik.

Dan sabetan pedang berikutnya—yang dipadukan dengan liukan cambuk api Salamandra—adalah upaya pribadinya untuk meniru dan meleburkan berbagai variasi gerakan beladiri.

Tentu saja sebilah pedang logam takkan pernah bisa benar-benar berubah wujud menjadi seutas cambuk lentur.

Itu murni berarti lintasan sabetan pedangnya berubah arah sebegitu kilatnya hingga menciptakan ilusi visual meliuk di mata lawannya.

Dengan kata lain, Encrid telah melakukan akselerasi ganda pada momen tersebut:

Sekali saat menggerakkan raganya maju, dan sekali lagi saat mengayunkan bilah pedangnya.

'Dua kali lipat Single Point Focus.'

Lebih tepatnya, ia memadatkan ledakan titik di dalam lintasan ledakan garis lurus.

Pantas saja otot lengan bawahnya terasa berdenyut ngilu.

Bahkan usai menjalani ribuan sesi penempaan fisik bersama Audin, inilah batas maksimal yang sanggup ia tahan saat ini.

Jika bukan berkat tempaan keras itu, serat-serat otot di lengannya dipastikan sudah robek terkoyak sejak tadi.

Persis seperti bagaimana aliran pemikirannya tak pernah berhenti berputar, begitu pula dengan derap langkah kakinya; Encrid terus melangkah maju menerobos kegelapan.

Pekatnya bayangan gua tampak seolah hendak menelan dirinya, namun bagi Encrid, lorong-lorong temaram ini telah menjelma menjadi jalan setapak yang teramat familier.

Tak ada rasa takut.

Tak ada secercah pun kegentaran.

Ia hanya tahu pasti apa yang harus ia selesaikan, dan satu-satunya hal yang ia dambakan adalah bergegas maju, memperkuat pemahamannya, serta menguji seluruh teorinya dalam duel hidup-mati.

"...Oh, kau sudah tiba? Tapi ada apa dengan sorot matamu itu? Kenapa kau tampak begitu bersemangat dan bergairah?"

Oara menyadari pancaran matanya lalu bertanya heran.

Encrid melangkah mendekatinya lalu mengambil tempat duduk di samping Oara di depan api unggun.

"Apakah aku terlihat seperti itu?"

"Ya, hal itu sangat jelas terlihat oleh siapa pun."

"Kabarku sangat baik, dan Roman..."

Encrid melontarkan jawabannya secara otomatis, melafalkan kalimat yang telah ditakdirkan.

Kecuali jika Oara mendengar dialog khusus ini, wanita itu tidak akan memicu kebangkitan Beelrog.

Jika tidak, percakapan mereka akan berlarut-larut panjang.

Hari ini Encrid melafalkan kalimatnya sedikit lebih cepat dibanding biasanya.

"Apakah kau memang selalu berbicara sekaku ini? Kedengarannya sangat dipaksakan dan formal, persis seperti orang yang sedang membaca naskah sandiwara."

Bahkan di dalam kematiannya sekalipun, Oara tetaplah seorang ksatria dengan kepekaan intuisi yang teramat tajam.

"Oh, benarkah begitu?"

Encrid menganggukkan kepalanya pelan.

"Yah, um, baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah."

Dari balik bayangan tubuhnya di tanah, sepasang sayap iblis raksasa membentang lebar.

Encrid tak kuasa menahan senyuman tipis yang merekah di bibirnya saat menatap sayap tersebut.

Senyuman halus penuh percaya diri itu tampaknya berhasil memancing harga diri Beelrog.

*—Apakah kau jenis orang bodoh yang mendambakan kematian di tangan sesosok demon purba?*

Pemandangannya seolah-olah sang demon baru saja dibangkitkan hanya untuk mendapati seorang pria gila sedang menunggunya—sebuah pertanyaan yang lahir dari rasa tak habis pikir.

Biasanya siapa pun yang memanggilnya akan langsung gemetar remuk tertimpa hawa keberadaannya, namun manusia di hadapannya ini justru menyunggingkan senyuman terlebih dahulu.

Beelrog telah bertemu dengan begitu banyak makhluk luar biasa dan perkasa sepanjang rentang hidupnya.

Orang-orang yang tersenyum tepat sebelum ajal menjemput mereka, dan bahkan sesosok manusia fana yang berhasil menundukkannya dalam duel.

Terlebih lagi, peristiwa kekalahan itu terjadi belum lama berselang.

Namun di antara seluruh makhluk berakal budi yang pernah ia jumpai, kesan pertama yang ditinggalkan oleh pria yang berdiri di hadapannya saat ini benar-benar tiada duanya.

*Dia langsung tertawa tepat di detik pertama melihat wujudku?*

Dan kemudian manusia itu membuka suara.

"Maju dan cobalah."

Encrid memprovokasinya murni karena kebiasaan lalu mempererat cengkeraman tangannya pada gagang pedang.

'Semuanya harus bermula dari menghancurkan intimidasi auranya.'

Encrid telah merumuskan bagaimana cara dirinya bertarung melawan Beelrog hanya dalam tiga kali siklus pengulangan awal.

Kini pemahamannya telah berkembang secara alami dan mandiri.

Dan telah ada lebih dari lima puluh siklus yang ia lalui hingga detik ini.

Ia memiliki segudang pengalaman tempur yang teramat melimpah.

Alih-alih membalas kata-kata lawannya, Beelrog meresponsnya dengan melepaskan gelombang intimidasi murni yang menghancurkan jiwa.

Apakah itu adalah caranya untuk menegaskan bahwa dirinya bahkan tak sudi meladeni orang yang tak sanggup menahan tekanan ini?

Hal itu sebenarnya terasa sangat menghibur.

Dan gagasan untuk membendung tekanan tersebut membuatnya merasa jauh lebih antusias.

Bahkan sebelum Beelrog sempat melepaskan seluruh gelombang intimidasinya, Encrid telah lebih dulu membentuk manifestasi Will Penolakan di dalam jiwanya.

Bisakah kerja keras mengejar ketertinggalan dari seorang jenius sejati?

Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari jawaban atas pertanyaan abadi tersebut, dan seluruh akumulasi waktu yang telah ia kumpulkan telah memadat menjadi sebuah Dinding Benteng Raksasa yang teramat kokoh di dalam lubuk jiwanya.

Sebuah dinding benteng yang menjulang tinggi dan tebal tak tertembus—Encrid telah bersumpah untuk melindungi apa pun yang berada di balik dinding tersebut.

Itulah sumpah suci yang ia pilih untuk ia genggam teguh semenjak dirinya melangkah menjadi seorang ksatria sejati.

Sebuah visi manifestasi nyata terpampang di depan matanya: sebuah dinding benteng kokoh yang tersusun dari balok-balok batu berwarna biru langit membendung lesatan rantai-rantai besi panas yang membara!

*DUKH!*

Rantai-rantai berbalut api neraka itu terpental membentur dinding lalu jatuh berserakan di atas lantai batu.

Haruskah kusebut ini sebagai Dinding Penolakan?

Ataukah ini adalah zirah pelindung yang ditempa dari seluruh tumpukan waktu yang telah kukorbankan?

Atau mungkin cukup kukatakan bahwa pertahanan ini bertahan murni karena diriku menolak untuk patah pada akhirnya.

*—Kau terus saja tersenyum.*

Bahkan usai hawa intimidasinya berhasil dibendung mentah-mentah, Beelrog sama sekali tidak memperlihatkan raut keterkejutan.

Mendengar teguran sang demon, Encrid baru menyadari bahwa bibirnya memang sedang menyunggingkan senyuman lebar.

Pada titik ini, diriku benar-benar telah menjelma menjadi orang gila.

Jika dipandang secara nalar rasional murni, sama sekali tak ada hal yang menyenangkan dari siksaan kematian berulang ini.

Namun.

'Apakah aku benar-benar sosok pribadi yang rasional?'

Jika merujuk pada apa yang pernah dikatakan Krais, dirinya konon adalah sosok yang cerdik dan penuh perhitungan.

'Siapa yang peduli.'

Tak ada waktu luang ataupun alasan untuk membuang energi memikirkan keraguan yang tidak berguna.

Sejak detik pertama berhadapan dengan Beelrog, ia telah melebur seluruh pecahan pemikiran yang ia persiapkan untuk Wave-breaker Sword menjadi satu kesatuan utuh.

Segalanya akan ia pertaruhkan pada satu sabetan pedang tunggal.

'Fokus pada satu titik.'

Konsentrasi mutlak.

Ia hanya perlu mendedikasikan seluruh jiwa raganya pada satu pemikiran tunggal tersebut.

Di satu sisi, tindakan ini mungkin tampak seperti sebuah perjudian nekat.

Seseorang sanggup berargumen bahwa hal ini hanya mungkin dilakukan murni karena 'hari ini' akan terus berulang kembali tanpa akhir.

Namun kenyataannya bukan karena alasan itu.

Encrid tak pernah sekali pun membiarkan satu hari pun berlalu sia-sia dalam hidupnya.

Ia selalu bertarung seolah-olah hari ini adalah hari terakhir dalam helaan napasnya.

'Bahkan jika aku harus mati.'

Ia akan mati sembari menuntaskan apa yang telah ia tetapkan di dalam hatinya. Ia akan mati sembari menapaki jalan yang ia pilih sendiri atas kehendak bebasnya.

Itulah alasan mengapa bahkan jika hari esok tak pernah datang kembali, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah baginya.

Sang Ferryman menyebutnya sebagai sebuah kutukan, namun bagi Encrid, 'hari ini' yang telah menjadi berkahnya kini tak lagi membatasi langkahnya.

Ketetapan tekadnya selalu berada di titik puncaknya, dan di detik ini juga, ketetapan baja itu mengalir deras menyatu ke dalam bilah senjatanya.

*Cring-cring-cring.*

Mata bilah Dawnforged berdesing tajam menyapu bibir sarungnya saat ditarik keluar.

Hal yang nyaris menggelikan adalah bahwa sudut-sudut bibir Beelrog pun ikut tertarik melengkung membentuk seringai buas yang serupa.

Jika sang demon memilih bertarung murni mengandalkan tekanan hawa keberadaannya, segalanya akan terasa sangat mudah baginya.

Ia memiliki sarana mutlak untuk merebut kemenangan tanpa perlu memeras keringat.

Namun ia sengaja memilih untuk tidak melakukannya.

Alih-alih mengandalkan kekuatan mutlak, ia memilih bertarung menggunakan sepasang tangan, kaki, dan pedangnya.

Itu bukanlah sebuah keputusan yang rasional, melainkan sebuah pilihan yang didikte murni oleh gelora emosi batinnya.

Maka pada detik ini, sosok Beelrog pada hakikatnya sama sekali tak ada bedanya dengan sosok Encrid.

Keduanya sama-sama mempertahankan seringai bengkok mereka sembari memangkas jarak di antara mereka berdua.

Encrid melesat menerjang maju, menyeret sol sepatu bot tempurnya di atas permukaan tanah, sementara Beelrog melangkah lebar-lebar dengan derap langkah raksasanya.

Sepasang sayap iblisnya membentang lebar, yang merupakan sebuah keberuntungan taktis bagi Encrid.

Sayap raksasa akan menjadi penghambat besar saat melancarkan manuver pergerakan mendadak.

Tepat saat bentangan selaput sayap itu menabrak hambatan angin, sensasinya akan terasa persis seperti belenggu tak kasatmata yang mengunci pergelangan kakinya.

*—Ah, pantas saja aku takkan pernah bisa menolak sebuah pertempuran!*

Beelrog melepaskan gelombang resonansi batinnya, larut sepenuhnya di dalam luapan kegembiraan tempurnya.

Dan Encrid tak kuasa untuk tidak menyetujui pernyataan sang demon purba tersebut.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.