Eternally Regressing Knight

Bab 758: Sang Demonic Knight

2860 Kata

Bab 758: Sang Demonic Knight

"Tanpa kau suruh pun aku memang berniat maju. Paham?"

Rem menggertakkan giginya lalu memutar tubuhnya menghadap ke luar desa.

Dari segala penjuru mata angin, kawanan monster yang meneteskan air liur lapar mulai merayap mendekat, mengunci pandangan mereka pada perkampungan ini.

Dari satu sudut pandang, situasi ini justru terasa sangat efisien.

Kini mereka tak perlu lagi membuang-buang waktu berkeliling melacak monster pengelana satu per satu di belantara hutan.

Bahkan jenis-jenis monster pengelana langka yang telah lama tidak meninggalkan jejak kini mulai menampakkan diri.

Krrraaaak—!

Di langit kejauhan, seekor Harpy mengepakkan sayap elangnya yang lebar dan memamerkan otot-otot dadanya yang liat, melayang anggun di udara.

Itu adalah monster pengelana ganas yang dikenal sebagai salah satu minion bawahan Dmulere.

Mereka selalu berburu dalam kawanan beranggotakan sepuluh ekor, dan konon setiap anggotanya sanggup melesatkan bilah-bilah angin tak kasatmata.

Karena sang pemimpin adalah seekor Harpy raksasa, seluruh anggota kawanannya tentu saja merupakan monster Harpy yang sama buasnya.

Ada sebelas monster pemangsa di udara, masing-masing sanggup menembakkan bilah angin terkompresi yang setajam silet sepanjang malam tanpa henti.

Gemuruh, gemuruh, gemuruh.

Tiba-tiba, tanah tandus di bawah pijakan mereka mulai bergetar halus—bukan karena gempa bumi, melainkan akibat derap langkah berbobot dari sekawanan besar monster berkaki berat.

Siapa pun yang memiliki pengalaman tempur di medan perang pasti langsung mengenali getaran dan suara dentuman tersebut.

Di kejauhan, tampak sekawanan Rhinocer Beasts menerjang maju, cula-cula tajam di hidung mereka mencuat congkak ke angkasa.

Di antara kawanan binatang buas, monster-monster ini tergolong pejuang yang telah membangkitkan bakat fisik khusus—mereka keluar dari kedalaman Demonic Domain, berlari kencang demi melahap jamuan daging manusia segar.

Bahkan di balik kepulan debu pekat dan tanah yang bergetar, sangat jelas terlihat bahwa mereka bukanlah binatang buas biasa.

Encrid menduga kawanan monster itu kemungkinan sempat saling cakar di sepanjang jalan demi memperebutkan hak mangsa. Bertengkar demi mangsa yang lezat adalah hal yang sangat alami bagi monster buas.

Encrid telah mengantisipasi momen serbuan semacam ini sejak awal.

Dan justru karena telah menduganya, seulas senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Ini adalah sebuah pesta," gumam Encrid santai.

Di sampingnya, sang kepala desa terbelalak menatapnya dengan rasa syok yang luar biasa.

*Sebuah pesta?*

*Pesta pembantaian di mana kami semua dilemparkan sebagai tumbal pengorbanan sementara orang-orang ini menikmati tontonan berdarah?*

Sangat wajar jika keraguan semacam itu membuncah di dalam benaknya.

Bagaimanapun juga, mereka memang telah menyaksikan pria berambut hitam itu menebas roboh sang Minotaurus, tetapi serbuan kali ini berada pada skala yang sama sekali berbeda.

Kini mereka telah kehilangan naungan perlindungan dewa iblis.

Benteng gaib yang selama ini menjaga nyawa mereka telah hancur lebur.

Kematian terasa begitu dekat dan tak terelakkan.

Orang-orang yang selama ini berjuang mati-matian demi menyambung hidup kini mulai menghirup keputusasaan dan menghembuskan kepasrahan.

"Aaaarrgh!"

Salah seorang warga desa mendadak melolongkan jeritan histeris, suaranya melengking tinggi menyerupai lolongan binatang sekarat.

Mendengar jeritan itu, warga desa lainnya tampak bersiap ikut berteriak histeris dalam kepanikan massal.

Luagarne melangkah mendekat dan langsung mencengkeram leher pria yang menjerit itu dengan tangannya.

"Ghhk."

Melihat pria itu tersedak bungkam, Luagarne menggembungkan pipinya lebar-lebar lalu berteriak sekuat tenaga.

Persis seperti kuakan katak raksasa, suara cemprengnya selalu menggelegar membahana.

"Sang Tuuuaaan!"

Teriakannya yang galak dan mendominasi seketika membuat semua orang menoleh ke arahnya.

Bahkan beberapa anggota Madmen Knights pun melirik penasaran ke arah sang Katak Kecil.

Efek dari teriakannya terasa sangat instan.

Semua warga desa yang tadinya panik langsung terdiam membisu.

Perhatian seluruh warga kini terkunci rapat saat Luagarne membuka mulutnya lagi.

"Ikuti ucapanku."

Luagarne adalah seekor Katak Kecil, tetapi ia juga selalu mendeklarasikan dirinya sebagai seorang seniman sejati.

Ia bahkan pernah bekerja bersama kelompok rombongan teater sandiwara di masa lalunya.

Ia sangat memahami yel-yel magis apa yang paling dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang gentar saat ini.

"Sang Iblis!"

"...A-apa?"

"Sang Ksatria!"

Tepat pada detik itu, bilah-bilah angin tajam menghujam turun dari langit kelam.

Wuuusss!

Suaranya terdengar mendesing tajam, tetapi wujud serangannya sama sekali tak terlihat oleh mata telanjang.

Itulah mengapa suara desingan itu sendiri menjelma menjadi sumber teror yang menakutkan.

Rem mengayunkan kapak besarnya dengan tenang, membuyarkan teror tak kasatmata itu menjadi serpihan hampa.

Tepat saat kapaknya menyapu udara, sesuatu pecah berdentang keras.

Klang!

Bunyinya terdengar persis seperti kelereng kaca tebal yang dihancurkan secara paksa oleh palu godam.

"Kalian mau bermain di atas sana, begitu?" seringai Rem buas, sudut bibirnya terangkat penuh cemooh.

*Jadi keahlian kalian adalah melempar serangan dari jarak jauh, ya?*

Rem bahkan tak perlu repot-repot meraih tali ketapel lontarnya—senjata yang di benua biasa disebut sebagai sling, namun di Western Region hanya disebut sebagai ketapel sederhana.

Tangan kiri Rem bergerak sekilas.

Hanya itu yang sanggup ditangkap oleh mata orang awam.

Namun bagi mereka yang memiliki penglihatan setajam elang seperti Encrid, pemandangan itu terlihat sangat berbeda.

Tangan kiri Rem mencabut kapak lempar dari sabuk pinggangnya lalu melontarkannya ke atas dengan kecepatan luar biasa.

Gerakannya setidaknya dua kali lipat lebih cepat dibanding saat ia melemparkan kapak ke arah Jaxon tadi.

Kapak terbang itu melesat lebih cepat daripada elang pemburu yang menukik menyambar mangsanya.

Brak!

Dengan suara hantaman yang menggelegar membelah langit, kapak itu menancap telak tepat di tengah tengkorak kepala sang pemimpin Harpy.

Kepalanya meledak hancur, dan tubuh raksasanya sempat terlempar semakin tinggi ke udara sebelum jatuh bebas.

Karena jaraknya yang begitu jauh, pemandangan itu terlihat seolah-olah ada tangan gaib raksasa yang mencekik leher sang pemimpin dan menyentakkannya ke angkasa.

Kemudian, hujan darah hitam pekat mengguyur turun dari langit.

Rem melangkah mundur beberapa tindak santai demi menghindari cipratan darah beracun monster tersebut.

Tubuh sang Harpy yang berukuran sebesar beruang dewasa menghantam tanah dengan debuman keras.

Bruk!

Tubuh monster bersayap itu sempat kejang-kejang beberapa kali sebelum akhirnya meregang nyawa tak berkutik.

"Pemanasan yang cukup lumayan," komentar Rem santai.

Encrid membedah setiap jengkal gerakan Rem di dalam benaknya.

Insting tempurnya yang nyaris berada di ranah supranatural memungkinkannya membaca secara presisi apa yang baru saja dilakukan oleh sang barbarian.

'Dia memadatkan energi sihir ritualnya untuk mendongkrak kekuatan otot fisiknya secara instan.'

Tepat sebelum melemparkan senjata, Rem bergeser beberapa langkah untuk mengunci sudut lempar yang paling sempurna.

'Lalu ia melepaskannya, melontarkan kapak itu ke sasaran.'

Bersamaan dengan itu, ia menerapkan teknik yang serupa dengan pemusatan ledakan satu titik milik Will.

Dan akhirnya, dengan kendali tenaga yang teramat halus, ia meniadakan seluruh sentakan balik dari ledakan tenaga tersebut.

'Ia mengerahkan tenaga tepat sebatas yang ia butuhkan, tidak kurang dan tidak lebih.'

Itu persis seperti cara penggunaan Will di wilayah Yohan tanpa ada margin kesalahan sedikit pun—sebuah teknik tingkat tinggi yang dulu pernah diperagakan oleh Rhinox.

Dan Rem mengeksekusinya seolah hal tersebut adalah hal paling alami di dunia fana ini.

Sungguh, sebutan "bajingan monster" bahkan terasa belum cukup untuk menggambarkan bakat liarnya.

Seiring berkembangnya kemampuan Encrid, orang-orang genius gila di sekelilingnya pun ikut bertumbuh pesat bersamanya.

*Kurasa aku masih bisa menang jika kami berduel sekarang.*

*Tapi setelah beberapa bulan ke depan, siapa yang tahu apa yang akan terjadi.*

Itulah jurang pemisah mutlak antara seorang genius dan manusia biasa.

'Meskipun aku memiliki keunggulan berupa cadangan Will yang tak pernah habis, inilah batas terbaik yang bisa kuraih saat ini.'

Namun jika ada yang bertanya apakah ia merasa iri atau dengki—jawabannya sama sekali tidak.

Ia justru sangat menikmatinya.

Pertarungan ini terasa sangat menyenangkan, mendebarkan, dan memikat jiwa.

Seluruh sel di dalam tubuhnya dialiri oleh rasa antusiasme yang membara.

Meskipun telah berulang kali merasakan sensasi ini, setiap pertarungan selalu terasa segar dan baru baginya.

"Ini benar-benar menyenangkan," gumam Encrid tanpa sadar.

Namun di mata penduduk desa yang menyaksikan dari balik pagar, Encrid pasti terlihat persis seperti orang gila sejati.

Di tengah kepungan ribuan monster buas yang siap mencabik mereka, pria ini justru tersenyum dan bergumam bahwa pertempuran ini sangat menyenangkan.

*Mungkinkah... sang dewa iblis benar-benar telah merasuki tubuh manusia ini?*

Bahkan jika dugaan itu keliru, sebuah kesimpulan baru tertanam kokoh di benak seluruh warga desa: pria ini sama berbahayanya dengan Demon God itu sendiri.

Ngomong-ngomong, apa yang diteriakkan oleh sang Katak Kecil tadi?

Beberapa warga desa yang menonton mulai menyerukan suara mereka secara serempak.

"The Demonic One!"

"The Demonic Knight!"

Awalnya seruan itu terdengar canggung dan pelan.

Namun lama-kelamaan, pekikan itu menggema semakin lantang dan membahana.

Hingga akhirnya, seluruh penduduk desa meneriakkan julukan itu dengan penuh gairah membara.

"The Demonic One!"

"Demonic Knight!"

Saat ratusan suara manusia bersatu dalam satu seruan suci, gema yang tercipta memancarkan kekuatan psikologis yang luar biasa dahsyat.

Gema seratus suara yang bersatu jauh lebih memikat dan meyakinkan daripada pidato seorang orator ulung.

Encrid yang menoleh ke samping menduga ini hanyalah salah satu lelucon iseng dari sang Katak Kecil, tetapi bagi Luagarne, tak ada gelar yang lebih pantas disematkan kepada komandannya.

Demonic Knight—tak ada julukan lain yang mampu merangkum eksistensi Encrid sesempurna itu.

Lihatlah dirinya, bahkan saat ini ia memancarkan daya tarik magnetis yang begitu pekat demi memancing sang Balrog datang ke tempat ini.

"Mereka benar-benar tidak membiarkanmu beristirahat tenang, ya," bisik Shinar seraya tersenyum geli.

"Fel, Ropord, berhenti melamun dan cepat bergerak," seru Encrid seraya melesat maju melewati mereka berdua.

Roman akhirnya memahami situasi yang sebenarnya terjadi.

Monster dan binatang buas memang menyerbu dari segala penjuru mata angin, tetapi ini bukanlah sebuah krisis mematikan.

Mengapa? Karena setiap ksatria yang berdiri di hadapannya adalah monster sejati di ranah mereka masing-masing.

Ragna melangkah tenang ke satu sisi.

Sembari berjalan, ia menghunus greatsword miliknya—bilah raksasa itu memancarkan kilau cahaya keemasan yang membelah kepekatan malam.

Pedang itu menolak cahaya rembulan dan menggantikannya dengan pancaran sinar mentari yang agung, berdiri tegak di antara bayang-bayang kegelapan.

Roman yang baru saja menerima wejangan panjang dari Ropord segera menghunus senjatanya dan menerjang masuk ke dalam pertempuran.

Dug, dug, dug, dug!

Ancaman paling nyata di depan mata saat ini adalah serbuan kawanan Rhinocer Beasts—dan dua sosok yang melangkah maju menghadang mereka adalah Audin dan Teresa.

"Mari kita dorong mereka mundur!" seru Audin lantang.

Menyambut cula tajam badak raksasa secara berhadapan langsung menggunakan kedua telapak tangan telanjangnya, Audin mengangkat dan melempar monster seberat beberapa ton itu ke samping!

Tunggu, bagaimana mungkin hal mustahil semacam itu bisa dilakukan manusia?

Bahkan seandainya mendiang Knight Oara bangkit kembali dari kuburnya, ia tak akan mampu melakukan aksi sebrutal itu!

Terlebih lagi, bukankah keahlian utama pria kekar itu adalah kekuatan suci? Namun ia bahkan tidak mengerahkan sihir sucinya sama sekali!

Itu adalah perpaduan sempurna antara kekuatan otot murni dan teknik penyaluran daya tingkat tinggi.

Tanah di bawah pijakan Audin sang manusia-beruang amblas membentuk cekungan setengah lingkaran yang dalam.

Dengan kedua tangan, kaki, dan tubuh yang kokoh laksana pilar baja tempaan, ia melempar kawanan Rhinocer Beasts seolah sedang membuang sampah.

Brak!

Dentuman dahsyat meledak di udara, suaranya bagaikan sambaran petir yang menghantam bongkahan batu karang, membuat telinga berdenging sakit.

Sang badak raksasa ambruk menimpa beberapa monster lainnya hingga bergulingan tak berdaya.

Di sampingnya, sang Half-blood Giant memperagakan aksi yang tak kalah mencengangkan.

Bedanya, Teresa menahannya menggunakan perisai raksasa miliknya.

Ia meredam momentum benturan menggunakan perisai baja lalu mendorong kawanan monster itu ke samping dengan hentakan bahunya.

Kedua kakinya pun melukis garis busur setengah lingkaran di atas tanah tandus—sebuah gerakan presisi untuk menyerap dan membalikkan aliran gaya benturan.

Meskipun Roman bukan pengamat yang jenius, ia tetaplah seorang Junior Knight.

Ia sanggup menilai betapa luar biasanya penguasaan teknik bela diri yang dimiliki oleh kedua pejuang tersebut.

'Mereka benar-benar sekumpulan monster!'

Umpatan itu meluncur secara refleks dari lubuk hatinya.

Dan kini, monster yang paling mengerikan di antara mereka semua melangkah maju ke garis depan.

Di tengah pekatnya malam, jubah perang miliknya tampak berwarna hitam legam.

Roman tahu betul bahwa jika dilihat di bawah sinar matahari siang, kain jubah itu akan tampak berwarna hijau tua yang pekat.

Wusss!

Saat pria itu melompat menerjang ke depan, jubahnya berkibar anggun dihembus angin malam.

Bentuk kainnya merentang panjang, tampak menyerupai sehelai selendang hitam yang menari-nari membelah kegelapan malam.

"Assimilation!"

Dengan sebuah seruan lantang yang memecah udara, Encrid mengayunkan pedangnya dengan kecepatan kilat.

Seekor ghoul yang memanfaatkan kemampuan kamuflasenya untuk melebur dengan kegelapan seketika terbelah menjadi dua tepat di hadapannya!

*Sejak kapan ia menyadari keberadaan monster itu?!*

Itu adalah monster siluman yang sanggup menyembunyikan hawa keberadaannya secara sempurna.

Namun makhluk licik itu ditebas putus dan dibelah menjadi dua dalam satu kedipan mata.

Saat darah hitam pekat dan isi perutnya menyembur ke tanah, kegelapan malam seolah melahap bangkai tersebut dengan rakus.

"The Demonic One!"

"Demonic Knight!"

Seluruh penduduk desa bersorak semakin riuh mengikuti aba-aba sang Katak Kecil dari kejauhan.

Pekikan mereka mengobarkan kobaran kegilaan yang membakar jiwa.

Roman merengkuh seluruh atmosfer tersebut ke dalam dadanya.

Sebuah hasrat tempur yang membara membuncah hebat di dalam dirinya—laksana api yang menyulut padang ilalang kering, membangkitkan keinginannya untuk ikut bertarung dan menorehkan kontribusi nyata.

"Wooooaaah! Roman dari Oara datang menerjang!"

Hanyut dalam gelora suasana, Roman menghunjamkan greatsword miliknya lurus ke depan dengan segenap tenaga.

Brak!

Kepala raksasa seekor troll bertubuh tebal bertubrukan telak dengan mata pedangnya.

"Hyaaah!"

Berteriak lantang dengan seluruh tenaganya, Roman menyentakkan pedangnya ke atas dengan kekuatan otot murni.

Kepala sang troll terbelah menganga lebar.

Betapa pun hebatnya kemampuan regenerasi monster troll, begitu kepalanya terbelah menjadi dua, kematian adalah kepastian mutlak.

*Lihatlah!*

*Inilah aku—Roman dari Oara!*

Gestur tubuhnya seolah mendeklarasikan kebanggaan tersebut kepada dunia.

Tepat saat itu, sebuah bayangan melesat gesit di sampingnya dan sebuah suara tenang seketika mengguyurkan air dingin ke atas kobaran semangatnya.

"Salah. Kau mengerahkan terlalu banyak tenaga kaku dalam setiap gerakanmu. Sendi-sendimu harus bergerak lebih mengalir luwes—salurkan tenaga saat dibutuhkan, dan rilekskan ototmu saat tidak."

Suara itu adalah milik Ropord.

Lalu suara kedua menyusul dari belakang:

"Kalau nasihat lisan saja sanggup memperbaikinya, dia pasti sudah menjadi ksatria hebat sejak dulu. Biarkan saja dia. Kalau dia mati setelah mengamuk sembarangan seperti orang gila, itu memang sudah takdirnya."

Bayangan kedua itu tak lain adalah Fel.

Sembari berlari berdampingan, Ropord menimpali:

"Aku memberitahunya agar dia tidak mati konyol seperti itu."

Fel membalas ketus:

"Dan aku bilang kata-katamu itu sama sekali tidak akan membawa perbedaan apa pun."

Ropord membalas sengit:

"Mungkin telingamu yang tersumbat kemaluan anjing berwajah manusia, tapi pria ini tidak seburuk dirimu."

"Hei, bukankah kau sendiri yang selalu bilang kalau mengumpat kasar seperti itu membuat seseorang terdengar murahan?"

Ropord, yang biasanya hanya menyindir halus tanpa pernah memaki kasar, merasakan sedikit penyesalan mendalam setelah menyadari dirinya tanpa sadar meniru gaya bicara Fel.

Mungkin karena terlalu sering bergaul dengan Fel, ia mulai tertular kebiasaan buruk pria itu.

Pikiran itu membuatnya semakin kesal.

Kini saatnya membuktikan siapa yang lebih unggul di medan laga.

"Mari kita lihat siapa di antara kita yang membantai monster lebih banyak..."

"Boleh juga."

Bahkan sebelum Ropord menyelesaikan kalimatnya, Fel sudah menyanggupi tantangan tersebut.

Keduanya berpencar ke sisi kiri dan kanan.

Di sekeliling mereka berkeliaran monster-monster yang jauh lebih mengerikan dibanding troll yang baru saja ditebas oleh Roman.

Ini adalah panggung yang sempurna untuk sebuah kompetisi berdarah.

Roman pun menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Diiringi suara gemeretak tanah, beberapa bebatuan terlempar ke udara, lalu—bum—semburan tanah dan batu karang meledak dahsyat.

'Worm!'

Seekor monster cacing tanah raksasa yang cukup besar untuk mencekik seekor beruang dalam sekejap melesat keluar dari dalam tanah.

"Itu mangsaku!" seru Fel menerjang maju.

Ia melontarkan tubuhnya ke udara, meliukkan badannya di tengah penerbangan, lalu menyabetkan pedangnya dengan anggun.

Gerakan akrobatik semacam itu berada jauh di luar jangkauan kemampuan Roman—bahkan tidak layak untuk ia coba tiru.

Meskipun monster cacing itu menggeliat liar dengan kepala yang telah terbelah, Fel terus mencincang tubuhnya dengan dingin.

Ia mengayunkan pedangnya seolah hal itu bukanlah perkara besar, namun setiap sabetan memancarkan presisi mutlak dari seorang pejuang yang mencurahkan seluruh jiwanya ke dalam bilah senjata.

'Ilmu pedang yang telah dilatih begitu mendalam hingga keluar secara otomatis di luar alam kesadaran.'

Kenyataan itu menghantam benak Roman dengan cara yang sangat baru.

Di samping bangkai cacing raksasa yang tumbang, lima ekor ghoul menerjang maju seraya meneteskan liur busuk, namun Ropord melangkah tenang menghadang mereka.

Dengan dingin dan terukur, ia memenggal kepala monster-monster itu satu per satu tanpa membuang tenaga sia-sia.

Seluruh proses pembantaian itu tampak begitu mulus dan alami.

Namun jika diperhatikan secara saksama, aksinya jauh dari kata sederhana.

'Persis seperti menyaksikan mangsa yang terperangkap di dalam jaring laba-laba.'

Itulah kesan mendalam yang ditinggalkan oleh gaya bertarung Ropord.

Ia mengunci dan membatasi setiap pergerakan kawanan ghoul, lalu menebas mereka tanpa ragu pada detik yang paling presisi.

Setelah itu, Roman tak lagi memiliki waktu luang untuk memperhatikan pertarungan rekan-rekannya.

Ia harus terus bergerak tanpa henti—sebab gelombang monster yang menyerbu masuk terlampau banyak dan tak berujung.

Dimulai dari kawanan Harpy di udara, lalu menyusul gerombolan ghoul, Human-faced Dogs, raksasa ogre, troll bercakar besi, armored skeleton, para Plague Maidens, hingga monster-monster penyebar racun mematikan.

Namun bagi rombongan ksatria ini, semua itu bukanlah ancaman yang patut ditakuti.

Lagi pula, apa artinya bertarung selama satu atau dua malam tanpa tidur bagi mereka?

Penduduk desa yang sebelumnya bersorak menyerukan nama Demonic Knight kini telah bersembunyi aman di dalam rumah-rumah mereka.

Luagarne tidak melihat alasan untuk menyeret mereka keluar dan menghadapkan mereka pada bahaya maut.

Setelah itu, sang Katak Kecil pun turut terjun ke medan pertempuran.

Ia mengarahkan garis pertahanan dari pusat desa, menambal setiap celah yang terbuka dengan sigap.

Ilmu pedang Tactical Sword gaya Luagarne, yang menjadi fondasi dasar bagi ilmu pedang ortodoks milik Encrid, memang sangat sempurna untuk memimpin dan mengatur formasi sebuah unit tempur.

Dan begitulah, dua hari penuh pertempuran berdarah pun berlalu.

Roman berdiri termangu menatap tumpukan bangkai monster dan binatang buas yang terbentang di hadapannya.

Itu bukanlah sekadar kiasan kata—bangkai-bangkai monster itu benar-benar menumpuk tinggi menggunung laksana bukit kematian di sekeliling perkampungan.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.