Eternally Regressing Knight

Bab 754: Menjual Hari Esok demi Hari Ini

2291 Kata

Bab 754: Menjual Hari Esok demi Hari Ini

Encrid mengamati orang-orang yang menyambutnya serta warga lain yang memperhatikan dari kejauhan—sebagian mengintip malu-malu bagaikan tupai yang waspada, sementara yang lain memiringkan kepala penasaran laksana kucing.

Kulit dengan rona keunguan dan mata cokelat yang jernih—itulah ciri fisik umum mereka.

"Nama saya Zoraslav. Silakan lewat sini."

Pria bernama Zoraslav itu memandu mereka menuju sebuah bangunan beratapkan kubah yang berdiri di tengah-tengah perkampungan.

Dari kejauhan, pemandangan warga desa yang mengintip ragu atau bersembunyi di balik pintu tidak jauh berbeda dari bagaimana orang asing dipandang di desa-desa manusia lainnya.

Dengan kata lain, itu adalah respons alami seorang manusia.

Bangunan yang dituju Zoraslav terbuat dari plester putih dan susunan bata merah. Tempat itu tampaknya berfungsi ganda sebagai balai desa sekaligus tempat peribadatan—kemungkinan satu-satunya struktur yang cukup luas untuk menampung rombongan sebesar ini.

"Kami ingin menjamu kalian dengan makanan, meski kami tidak tahu apakah hidangan ini sesuai dengan selera kalian."

Seorang wanita melangkah maju dari belakang Zoraslav.

"Selamat datang. Kurasa ini pertama kalinya desa kami kedatangan begitu banyak tamu sekaligus."

Dipandu oleh wanita berparas elok tersebut, mereka melangkah masuk ke ruangan luas yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu sekaligus ruang makan. Di sana, mereka duduk di kursi-kursi kayu gelap berukuran besar yang mengelilingi meja panjang.

Tak ada sedikit pun tanda-tanda bahaya.

Semua orang di rombongan kemungkinan merasakan hal yang sama.

Bahkan peralatan makan yang disodorkan kepada mereka tampak bersahaja dan lazim.

Jaxon mengendus aroma makanan lalu mencicipinya sedikit sebelum mengangguk pelan—tak ada racun.

Karena Shinar dan Luagarne memiliki kebiasaan makan yang berbeda, keduanya memilih tidak ikut bersantap, sementara anggota rombongan lainnya mulai menikmati hidangan.

Sajian itu berupa sup kental berbahan dasar umbi mirip kentang dan potongan daging, ditemani roti padat bercita rasa gurih.

Setelah dijamu makan dan menghabiskan waktu setengah hari di tempat itu, Rem melayangkan pandangannya ke sekeliling lalu bergumam pelan.

"Tempat ini terasa... agak janggal."

Kata-katanya menyiratkan rasa tidak nyaman—bukan karena penduduk desa ini menyembah dewa iblis, melainkan karena mereka tampak begitu lumrah seperti manusia biasa, sehingga membayangkan harus menebas mereka justru terasa mengganjal di hati.

Shinar mengerutkan alisnya sedikit—begitu samar hingga sulit disadari jika tidak diperhatikan dari dekat.

Saat melangkah masuk ke dalam sebuah Demonic Domain, seseorang biasanya bisa merasakan pergeseran hawa di udara.

Desa ini pun memancarkan sensasi yang serupa.

Encrid turut merasakannya.

"Tidak sepekat Demonic Domain sejati, tetapi tetap saja..."

Hawa yang tidak murni berembus samar di udara.

Sensasi itu membangkitkan kenangan buruk di benak Shinar—masa-masa kelam ketika ia pernah disekap di sarang iblis.

Wajar jika ia merasa tidak nyaman.

Namun ia bukan sekadar Peri biasa—ia sanggup menanggungnya dengan tegar.

"Tunanganku, jangan jauh-jauh dariku."

Hanya kalimat itu yang ia bisikkan.

Memahami suasana hati Shinar, Encrid berusaha tetap berada di dekatnya sesering mungkin.

Roman menggaruk kepalanya seraya melirik ke arah rombongan.

"Sudah kubilang mereka tidak biasa. Agak mengejutkan, kan? Aku juga merasakan hal yang sama waktu pertama kali tiba."

Encrid mengangguk, begitu pula anggota rombongan lainnya.

Kesimpulannya, meski mereka baru berada di sana selama setengah hari:

"Mereka tampak biasa saja."

Tentu saja ada hal-hal yang ganjil, tetapi mereka makan, minum, beristirahat, bekerja—menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan tenang.

Semuanya berjalan sangat wajar.

Di dalam area desa, ladang-ladang telah digarap rapi dan ditanami aneka tanaman pangan. Pepohonan di dekat pemukiman menghasilkan buah-buahan berwarna biru.

Itu memang bukan tanaman atau buah-buahan biasa—tetapi juga tidak beracun dan aman untuk dikonsumsi.

"Setidaknya, ini bukan sesuatu yang berbahaya untuk dimakan."

Jika ada satu hal yang benar-benar tidak lazim, itu adalah kebiasaan warga desa yang berdoa tiga kali sehari.

Kepada siapa mereka berdoa?

Seperti yang ditunjukkan oleh patung di pusat desa, mereka memanjatkan doa kepada Demon God.

"Mari kita berdoa."

Sebelum matahari senja tenggelam sepenuhnya, warga desa berlutut di hadapan patung batu di tengah perkampungan, menyentuhkan dahi mereka rapat-rapat ke tanah.

Bahkan mereka yang berada di dalam rumah pun melangkah keluar untuk bergabung.

Beberapa warga yang batuk-batuk atau sedang sakit diizinkan untuk tetap beristirahat.

Tak ada paksaan atau kekerasan dalam ibadah itu.

Tak perlu mempertanyakan mengapa mereka menyembah sang dewa iblis.

Dan menilik dari gestur doa mereka, ritual itu tampak tidak dilandasi oleh fanatisme buta yang menggebu-gebu.

Mereka melakukannya murni karena hal tersebut telah menjadi rutinitas keseharian mereka.

"Tempat yang sangat aneh," gumam Luagarne seraya menggembungkan pipinya.

Kawasan ini bukan sekadar berada di dekat perbatasan Demonic Domain.

Lebih tepat jika disebut sebagai pekarangan depan dari Demonic Domain itu sendiri.

Apa artinya?

Pagar kayu rapuh di sekeliling desa jelas tak akan sanggup melindungi apa pun di tempat ini.

Ini adalah kawasan di mana monster-monster buas bisa muncul sewaktu-waktu layaknya mendatangi lumbung makanan mereka sendiri.

Bahkan tak jauh dari sini, monster-monster ganas yang terkenal mustahil dibunuh bebas berkeliaran.

"Naungan perlindungan dari Demon God, ya," gumam Encrid.

Kalimat itu merangkum segalanya.

Desa ini sanggup bertahan hidup murni berkat perlindungan dari sang dewa iblis.

Warna kulit keunguan milik warga desa kemungkinan besar bersumber dari alasan yang sama.

Ropord memandang sekeliling lalu berujar, "Jika binatang yang tercemar sihir berubah menjadi monster, kurasa mereka ini bisa disebut sebagai manusia-sihir?"

Itu adalah istilah yang tepat bagi manusia yang tubuhnya telah terpapar miasma iblis.

Lantas, apa yang harus mereka lakukan terhadap desa ini?

"Biarkan saja mereka. Mereka hanya berusaha menjalani hidup," sahut Audin.

Menyembah dewa iblis pada dasarnya adalah bentuk ajaran sesat yang mutlak.

Namun secara mengejutkan, Audin—seorang penganut agama suci—justru membuka suara untuk membela mereka.

"Haha, kalau ini adalah diriku yang dulu, aku pasti sudah murka bagai api berkobar, menebarkan kekuatan suci, dan berusaha menyucikan miasma mereka hingga tuntas. Tapi sekarang tidak lagi. Aku telah belajar untuk menghargai kehidupan setiap orang."

Saat berbicara, kilau cahaya putih suci berkedip halus di kedua mata Audin—aliran kekuatan ilahi yang bangkit tanpa sadar.

Encrid membalas tatapannya lalu mengangguk setuju.

"Mari kita lakukan itu."

Apa yang bisa kau hakimi dari orang-orang yang hanya ingin menyambung hidup, bahkan jika itu berarti harus bersujud di hadapan dewa iblis?

Zoraslav sesekali datang menghampiri untuk menceritakan cara hidup di desa tersebut.

"Benar, kami memuja Demon God demi mendapatkan perlindungan hidup. Tapi jika kalian bertanya apakah pemujaan kami ini tulus dari lubuk hati terdalam? Jawabanku... tidak sepenuhnya."

Apakah mereka memiliki keyakinan buta?

Sama sekali tidak.

Lalu mengapa?

"Demi bertahan hidup."

Mereka beribadah demi sebuah tujuan nyata.

Zoraslav menambahkan:

"Kami menyukai kehidupan kami saat ini. Bahkan jika kami harus menetap di batas hutan iblis dan menyembah dewa penguasanya."

Komunitas kecil di desa ini berbicara dengan satu suara yang seragam.

Tak ada perselisihan di antara mereka—sebab siapa pun yang memicu kericuhan telah diasingkan, dikorbankan, atau dilenyapkan di masa lalu.

Lantas, apakah mereka semua harus dibantai?

Tidak, itu bukanlah sebuah jawaban.

Jika ini memang jalan hidup yang mereka pilih sendiri, maka mereka berhak untuk terus menjalaninya.

Encrid sangat memahami dirinya sendiri.

Ia bukanlah seorang pengkhotbah—ia adalah seorang pendekar pedang.

Jadi kecuali ia berniat membantai mereka semua sampai tak bersisa, jauh lebih bijak untuk membiarkan mereka hidup tenang.

Zoraslav, selaku perwakilan warga desa, bertanya dengan nada suara yang sangat tenang.

"Kalau begitu izinkan saya bertanya: apakah kalian datang ke sini untuk menghukum kami sebagai pendosa?"

Bagi Zoraslav, rombongan bersenjata ini adalah ancaman yang nyata.

Di hadapannya berdiri para pendekar pedang berpengalaman—salah satunya adalah Katak Kecil, dan yang lainnya adalah seorang Peri sejati.

Apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang perkasa seperti mereka terhadap sebuah desa manusia yang terkontaminasi miasma?

Itu adalah pertanyaan yang sarat akan beban.

Encrid bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati:

'Apakah mereka jahat?'

Tak ada seorang pun yang sanggup menjawab pertanyaan itu dengan mudah.

Encrid memahami lebih baik dari siapa pun bahwa konsep baik dan jahat tidak bisa dipisahkan secara sederhana.

Kebaikan bagi satu pihak bisa menjadi bencana bagi pihak lain.

Sosok yang dianggap pahlawan kebenaran di mata seseorang bisa jadi merupakan pelindung ketidakadilan bagi orang lain.

Namun bukan berarti ia harus selalu menyarungkan pedangnya hanya demi menghindari menjadi sosok 'jahat' di mata pihak lain.

Ia hanya ingin menjaga rasa hormat—baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain.

Penduduk desa menyatakan bahwa mereka ingin hidup dengan cara mereka sendiri, dan Encrid memilih untuk menghormati keputusan itu.

"Tidak, kami tidak datang untuk menghukum kalian."

Mendengar penolakan Encrid, Zoraslav tersenyum lega.

Encrid telah menyaksikan orang-orang yang menyerahkan sebagian dari kemanusiaan mereka kepada dewa iblis demi menyambung nyawa.

Ia menghormati perjuangan mereka.

Namun ia juga tak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya: apakah kehidupan seperti ini benar-benar jalan yang mereka dambakan sejak awal?

Apakah ada hal yang bisa diperbuat untuk mereka saat ini? Hal itu masih belum pasti.

Zoraslav kemudian menyediakan tempat beristirahat yang nyaman bagi rombongan tersebut.

Keesokan harinya, Ragna mengeluh merasa sumpek dan melangkah keluar rumah.

Ropord segera menyusul di belakangnya.

"Kau tidak boleh pergi sendirian."

"Kenapa tidak?"

Jawaban santai Ragna disambar oleh suara Rem dari belakang.

"Apa kau tidak tahu alasannya?"

"Kalau aku sudah tahu, untuk apa aku bertanya? Itu namanya logika dasar, dasar orang liar."

Encrid mendengarkan perdebatan itu dengan tenang.

Lalu Rem menoleh ke arahnya dan berkata:

"...Aku benar-benar penasaran. Tidak bisakah kita kubur saja orang pirang itu di suatu tempat? Sangat merepotkan kalau kita harus terus-menerus keluar menjemputnya."

Rem mengucapkannya dengan nada separuh bercanda, separuh serius.

Hari itu, Ragna dan Ropord kembali ke desa setelah membasmi sebuah Demonic Domain kecil di dekat sana.

Rupanya, sarang itu dipimpin oleh seekor iblis bungkuk perapal mantra sihir yang didukung oleh kawanan monster air dan ghoul.

"Monster-monster itu bersarang di sana sejak tahun lalu. Kami sangat menderita karena ulah mereka. Melangkah sedikit saja melewati batas wilayah, mereka pasti akan berusaha menyeret kami pergi."

Zoraslav tampak sangat bahagia dan bersyukur.

Ropord menceritakan bahwa sang iblis bungkuk sempat melesatkan sambaran petir dari kedua tangannya, tetapi pedang milik Ragna mendadak menyala terang dan membakar iblis itu hingga menjadi abu dalam sekejap.

"Aku mulai terbiasa menggunakannya," ujar Ragna enteng seolah hal itu bukan perkara besar.

Ia adalah seorang ksatria—seorang genius dengan bakat luar biasa—yang memegang pusaka turun-temurun keluarganya, pedang Sunrise.

Kemenangannya memang sudah sewajarnya, tetapi tetap bukanlah sesuatu yang pantas dianggap remeh.

"Kami tidak punya banyak hal mewah untuk disajikan, tapi..."

Zoraslav menyembelih seekor domba gemuk.

Benar, mereka memang beternak hewan sungguhan—ternak asli, bukan monster silang.

Malam itu, rombongan Encrid menikmati jamuan daging domba panggang yang lezat.

"Tempat ini sangat cocok dijadikan pangkalan," ujar Luagarne setelah mengamati kontur wilayah di sekeliling desa.

Apa sebenarnya tujuan utama perjalanan mereka?

Membasmi seluruh Demonic Domain kecil dan memburu monster-monster pengelana serta kawanan iblis buas.

Balrog adalah salah satu iblis purba yang mereka cari, dan karena sarangnya tak bisa dilacak secara pasti, mereka berencana memancingnya keluar dengan melantunkan serenade perang.

Melihat letak geografisnya, desa ini sangat sempurna untuk dijadikan markas operasi.

Encrid mengangguk setuju lalu berjalan mengitari perbatasan luar desa.

Sembari melangkah, pikirannya melayang teringat pada mimpi-mimpi yang ia alami selama dua malam terakhir.

Diiringi suara deburan ombak yang lembut, ia melihat perahu penyeberangan di alam mimpinya meluas menyerupai tepian sungai.

Krik.

Kerikil-kerikil kecil bergemeretak di bawah pijakan kakinya, dan riak air menyapu lembut tepat di depan ujung sepatunya.

Meskipun berdiri di atas perahu, sensasinya terasa persis seperti berjalan santai di tepi sungai.

"Mari kita berjalan sebentar."

Ferryman berbicara dengan nada santai seraya menenteng sebuah lentera kuno.

Encrid melangkah di sampingnya—berjarak sekitar tiga setengah langkah.

Suara sang Ferryman terdengar luar biasa lembut dan tipis.

"Ya, aku ingin mendengar pendapatmu tentang desa itu."

Itu adalah obrolan santai, persis seperti percakapan dalam sebuah jalan-jalan sore.

Sama seperti malam sebelumnya.

"Apa kau memperhatikan para pemuja dewa iblis itu? Apa kau melihat tanda-tanda pengorbanan jiwa?" tanya sang Ferryman sekali lagi.

Tak sulit untuk menangkap makna tersirat di balik pertanyaan tersebut.

Ferryman tidak berusaha menyembunyikan niatnya, dan Encrid sangat tanggap membaca gelagatnya.

Keduanya sama-sama memahami hal itu—sehingga Ferryman memutuskan untuk melontarkan pertanyaan intinya lebih cepat dari yang direncanakan.

"Apakah mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang punggungmu?"

Apakah mereka layak untuk dilindungi?

Atau justru harus ditebas binasa?

Di manakah letak garis pembatas antara kebajikan dan kejahatan?

Ke mana jalan hidupmu akan bermuara?

Bisakah para pemuja dewa iblis itu benar-benar disebut sebagai orang jahat?

Itu adalah momen yang menuntut sebuah keputusan kejam setelah disuguhi penglihatan yang menyiksa batin.

Ferryman memang tidak sanggup meramal masa depan secara mutlak, tetapi ia mampu melihat jutaan cabang kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya.

Ia telah melongok ke dalam cabang-cabang masa depan Encrid.

Satu hari esok: Encrid membantai habis setiap pemuja dewa iblis di desa itu tanpa sisa.

"Mereka hanyalah orang-orang biasa!"

Roman mengutuk tindakan Encrid, dan hati Encrid terombang-ambing dalam keraguan.

Apakah ini benar-benar jalan yang lurus?

Satu hari esok lainnya: Encrid membiarkan desa itu tetap utuh tanpa disentuh.

Bertahun-tahun kemudian, penduduk desa itu hanya mampu bertahan hidup dengan cara memakan daging dan meminum darah sesama manusia.

Akhir tragis itu nyaris tak terelakkan.

Mereka adalah orang-orang yang menjual hari esok mereka demi bertahan hidup pada hari ini.

Itu adalah pilihan yang mungkin saja diambil oleh siapa pun dalam keputusasaan.

Menjual hari esok demi hari ini.

Di antara dua pilihan masa depan yang suram tersebut, sang Ferryman bertanya:

"Jalan mana yang kau dambakan? Apakah 'jalan yang benar' itu benar-benar ada di dunia fana ini?"

Encrid sekali lagi menyadari bahwa ujian yang disodorkan oleh sang Ferryman belumlah usai.

"Apa yang sedang kau lamunkan?"

Suara jernih Shinar membuyarkan lamunan panjangnya.

Encrid mengerjapkan matanya lalu menatap Peri cantik yang berdiri anggun di sampingnya.

'Apa Ferryman itu seorang wanita juga?'

Pikiran itu tiba-tiba terlintas saat ia menatap paras Shinar.

Kemudian, sebuah pertanyaan meluncur secara alami dari bibirnya:

"Setelah berpindah tempat dan mengubah cara hidup bangsamu... apa kau baik-baik saja?"

Desa Peri kini telah mulai menjalin perdagangan dengan manusia, bahkan saling berbagi teknologi.

Itu adalah pertanyaan yang belum pernah ia tanyakan sebelumnya.

Shinar membalas dengan sebuah senyuman manis yang langka—senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan.

Kedua matanya yang berbentuk almond dengan manik zamrud hijau melengkung indah dan lembut.

Rambut emasnya menari-nari anggun dibelai angin malam.

"Tempat di mana seorang Fairy tinggal adalah desa Fairy."

Itu adalah jawaban yang paling sempurna.

Encrid mengulangi pertanyaan sang Ferryman di dalam lubuk hatinya yang terdalam:

'Jalan mana yang ingin kutapaki?'

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.