Bab 678

"Zaun berada di utara. Kalau kau menghadap langsung ke Pen-Hanil Mountains dan bergerak ke timur laut, kau akan menemukan sebuah gua kecil. Melewatinya akan membawamu ke Starwatch Hill. Dari sana, jika kau memutar cukup jauh ke arah timur, kau akan tiba di tujuan. Letaknya di dekat Imperial Territory."

Magrun berbicara dengan raut wajah tenang, seolah ia bukan orang yang baru saja memuntahkan darah segar tempo hari.

Encrid pernah berkelana melintasi benua sebagai seorang pemandu jalan. Kepekaan arahnya setara dengan para Knights terhebat di benua, seperti Ragna. Dibandingkan pemandu biasa, ia setidaknya cukup mahir untuk tidak mati kelaparan di jalanan.

Bahkan dengan kepekaan arah seperti itu, penjelasan Magrun langsung melukiskan peta kasar di benaknya.

Rute perjalanannya ternyata tidak serumit yang dibayangkan, memicu sebuah kesimpulan logis.

*'Zaun tidak dikenal luas bukan karena lokasinya tersembunyi.'*

Sejujurnya, kota tempat Encrid lahir dan dibesarkan jauh lebih tersembunyi daripada Zaun.

*'Mereka tidak menyembunyikan lokasi mereka. Mereka hanya tidak memamerkan nama besar mereka.'*

Zaun tidak pernah berniat mencari panggung. Mereka sama sekali tidak berminat menyebarkan nama keluarga atau membesarkan reputasi di mata dunia.

*'Bukan, mungkin pernah ada anggota yang ingin pamer, tetapi seseorang di pucuk pimpinan pasti mencegahnya.'*

Pikirannya terus bercabang menganalisis. Terkadang kepalanya secara naluriah memetakan dinamika sebab-akibat dan pola dari setiap peristiwa—salah satu bakat alami yang dulu pernah dipuji habis-habisan oleh Krais.

Menyimpulkan hal yang tak kasat mata dari apa yang terlihat—itu memang sebuah bakat.

Encrid melanjutkan penalaran itu lewat sebuah pertanyaan.

*'Kenapa harus dicegah?'*

Jika ia menanyakan hal ini kepada Krais atau Avnair, keduanya pasti punya jawaban instan. Bahkan tanpa data terperinci sekalipun, dua orang pintar itu sanggup menebak arah kebijakan yang ditempuh keluarga Zaun.

Dan kini Encrid pun bisa menebak alasannya dengan mudah.

"Imperial Territory?" tanya Encrid sembari menggigit ubi panggang manis yang ia dapatkan dari Aspen.

Tekstur ubi itu lumer empuk di sela gigi gerahamnya. Hanya butuh sedikit kunyahan sebelum aroma manis panggangan semerbak memenuhi rongga mulutnya.

*Kriuk!*

Dipadukan dengan acar lobak segar yang direndam cuka, perpaduan rasanya meledak harmonis di lidah. Sungguh nikmat.

"Sudah kubilang, letaknya dekat. Zaun berada di dekat Imperial Territory, tetapi tetap berdiri sebagai kota independen."

Magrun yang tengah mengupas kulit ubi panggangnya memberikan jawaban.

Ia meniup ubi panas itu dengan suara *huu-huu* sebelum menggigitnya lahap, membuatnya tampak mustahil sebagai orang yang beberapa hari lalu nyaris tumbang muntah darah.

Tadi pagi ia bahkan sempat bertarung latih tanding melawan Encrid. Dari luar penampilannya tampak bugar sempurna, dan Ann pun memastikan tidak ada yang perlu dicemaskan saat ini. Meski bukan bidang keahlian utamanya, Ann mengangguk sepakat.

*'Kota independen, ya.'*

Sebuah faksi petarung perkasa berdiri tepat di samping perbatasan. Jika Encrid adalah seorang kaisar penguasa, bagaimana ia akan memandang mereka?

*'Sebuah ancaman.'*

Atau sebuah peluang.

Penguasa bisa memilih antara mencaplok mereka atau membasmi mereka hingga rata dengan tanah. Namun Kekaisaran tidak melakukan keduanya.

Zaun tidak hidup mengisolasi diri. Mereka yang tahu eksistensi keluarga itu pasti tahu persis di mana markas mereka berada.

*'Namun mereka tetap dibiarkan bebas.'*

Pasti ada alasan kuat mengapa Kekaisaran terpaksa membiarkan mereka tetap merdeka.

Secara taktis strategis, langkah itu ibarat tidak memberi alasan bagi lawan untuk menyerang.

*'Dan di saat yang sama, Zaun membuktikan bahwa serangan gegabah tidak akan berakhir hanya dengan luka goresan kecil.'*

Untuk melenyapkan keluarga petarung itu, Kekaisaran harus menggelontorkan sumber daya militer yang teramat masif. Setidaknya Kekaisaran harus rela kehilangan satu lengan demi menundukkan mereka.

Maka dari itu, mereka dibiarkan damai.

Encrid teringat pada ucapan yang pernah dilontarkan Krang suatu kali.

*"Wilayah Kekaisaran dilindungi secara unik. Pen-Hanil Mountains menjadi benteng alam di sisi benua tengah. Di sebelah barat, Hutan Belantara tempat bertahtanya Beast King menjadi perisai alami lainnya. Bahkan jalur masuk dari timur pun dibentengi oleh perisai kokoh. Dan perisai itu adalah..."*

Kala itu Encrid tidak terlalu memperhatikan ujung kalimat Krang, tetapi sekarang ia sudah tahu jawabannya.

Zaun.

Mereka pasti adalah salah satu perisai hidup itu.

Dengan bunyi berderit, Grida menyeret sebuah kursi kayu mendekat lalu menimpali,

"Keluarga kami mengklaim tidak punya ikatan resmi dengan Kekaisaran. Namun beberapa anggota keluarga yang merasa tidak cocok tinggal di rumah akhirnya merantau dan dilantik menjadi Imperial Knights. Jadi tidak bisa dibilang kami sama sekali tidak punya koneksi. Tepatnya, itu adalah hubungan persahabatan yang saling menguntungkan. Dan memang harus begitu."

Apa yang terjadi jika negara-negara tetangga tidak saling akur?

Naurillia dan Aspen sebentar lagi akan menjadi contoh nyatanya.

Sebuah lingkaran perang berdarah tanpa akhir.

"Kita akan berkuda untuk beberapa saat, tetapi pada akhirnya kita harus melanjutkan perjalanan mendaki dengan berjalan kaki," tambah Magrun.

Encrid mengangguk mengerti lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

Pintu masuk aula ruang makan itu sangat lebar, cukup untuk dilewati lima orang bertubuh sebesar Audin secara berdampingan.

Menurut penjelasan Krais, pintu itu sengaja dibuat masif demi memudahkan mobilisasi pasokan logistik dalam jumlah besar.

Yah, para Knights memang makan sangat banyak.

Mereka menelan makanan dalam porsi yang luar biasa gila. Meski jumlah mereka sedikit, jatah ransum mereka setara dengan konsumsi satu kompi pasukan penuh. Sampai-sampai militer harus mengembangkan ransum khusus masa perang demi memenuhi kalori para Knights.

Di balik pintu raksasa itu, sosok Ragna tampak berdiri tegak. Di sampingnya berdiri Lawford.

Sembari menuntaskan kunyahan makanannya, Encrid menyimak obrolan keduanya.

Ia tidak berniat menguping, tetapi suaranya terdengar sangat jelas meski ia hanya duduk diam.

"Lawford, jangan terlalu terpaku pada efisiensi gerakan."

Keduanya sama-sama memegang pedang kayu alih-alih pedang baja sungguhan. Ragna berbicara sembari mengayunkan senjatanya dengan santai.

Ayunan tangan seorang Knight sanggup mengubah ranting pohon rapuh sekalipun menjadi senjata pembunuh yang mematikan. Mengingat mereka bisa mematahkan gelondongan kayu hanya dengan tangan kosong, hampir tidak ada yang mustahil bagi mereka.

Ragna mengangkat pedang kayunya tinggi-tinggi ke arah langit dalam kuda-kuda atas. Ia menghujamkannya ke bawah dalam tebasan tajam, tetapi mendadak mengubah lintasan tepat saat bilahnya mencapai posisi horizontal.

Dengan langkah kaki yang menyilang lincah, ia melesat menusuk ke depan.

Gerakannya tampak sederhana, tetapi manuver itu menuntut kendali tubuh sepresisi insting seekor beastman.

Encrid seketika mengenali esensi dari gerakan itu.

*'Valen Mercenary Sword Technique.'*

Menipu lawan demi merebut keunggulan taktis. Itulah filosofi inti dari Valen Mercenary Sword Technique, dan gerakan Ragna mewujudkannya secara sempurna.

Lawford yang melihat perubahan lintasan mendadak itu buru-buru bermanuver menghadang. Ia jelas adalah seorang pendekar pedang yang sangat terampil.

Nyaris berhasil menepis tusukan itu, bunyi *trak!* keras menggema saat kedua bilah kayu beradu di udara.

*'Kuncian pedang.'*

Sebuah teknik yang membelit senjata lawan.

Ragna mempertahankan pedang mereka tetap terkunci rapat, lalu melangkah maju menyilangkan kakinya sekali lagi demi memangkas jarak.

Andai Encrid yang berdiri berhadapan langsung dengannya, ia pun pasti akan sempat terperangah oleh ketidakterdugaan manuver itu.

Ragna memanfaatkan kuncian bilah itu untuk merangsek maju, lalu menepuk pipi Lawford dengan punggung tangan yang menggenggam pedang.

*Tap.*

Tidak ada dampak fisik yang berarti. Setidaknya dari segi luka fisik.

Namun hantaman terhadap harga diri Lawford? Itu cerita yang sama sekali berbeda.

Ia tidak kalah dalam hal tenaga maupun kecepatan, bukan pula tersungkur karena kurang jam terbang.

Lalu kenapa?

Kepala Lawford pasti tengah berputar keras mencari jawabannya.

Melihat murid dadakannya itu terdiam, Ragna memberikan satu wejangan terakhir.

"Jangan mengurung dirimu dalam pola gerakan yang kaku."

Itu adalah nasihat yang paling dibutuhkan Lawford saat ini. Matanya berbinar tajam—pemuda itu tengah mendobrak dinding batas kemampuannya sendiri. Siapa pun bisa melihatnya dengan jelas.

Langkah demi langkah, meski hanya setengah langkah kecil, Lawford tengah melaju maju. Ragna memberinya apa yang paling ia butuhkan pada momen itu.

Dan pemuda berambut pirang itu tidak berhenti di situ. Hilang sudah kemalasan khasnya yang biasa. Sosok yang berdiri di sana kini adalah pria yang berbeda.

"Kali ini aku akan mengajarimu cara memadatkan otot dalam sekejap untuk meledakkan tebasan. Ini adalah Middle Sword Technique: Spinning Slash."

Tempo latihan Ragna begitu cepat hingga Lawford harus bersusah payah mengimbanginya. Orang malas tidak akan pernah bisa sededikasi ini.

"Dia banyak berubah ya..." gumam Grida sembari menonton takjub.

Mungkin ini adalah pengaruh dari Encrid. Pikiran itu melintas di benaknya. Pria itu memang memiliki aura magis yang mampu memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Berada di dekat Encrid bisa mengubah seseorang. Bahkan Grida sendiri hanya dalam hitungan bulan mulai menikmati gairah panas dari latihan fisik yang melelahkan.

Encrid punya bakat alami untuk menggerakkan orang-orang di sekitarnya.

"Bukankah dia dulu bilang minggat dari rumah karena muak pada pedang?" celetuk Magrun melirik Encrid.

Sosok yang berhasil mengubah seorang jenius apatis menjadi petarung berdedikasi tinggi berdiri tepat di samping mereka.

Bagaimana cara Encrid melakukannya? Encrid akhirnya membuka suara.

"Apa yang sebenarnya dia lakukan?"

Nada bicaranya sarat keterkejutan murni.

Grida dan Magrun serempak menoleh dan menatapnya lekat-lekat.

*Kenapa kau malah ikut-ikutan kaget?*

Membaca ekspresi heran keduanya, Encrid menyahut jujur,

"Entahlah. Melihatnya bertingkah rajin seperti itu sejujurnya malah terasa mengerikan bagiku."

Kedua perwakilan Zaun itu seketika dibuat terbungkam cengo.

Setelah menyelesaikan sesi latihannya, Ragna menyeka peluh dengan handuk lalu melangkah masuk ke aula ruang makan.

Pemandangan yang sungguh tidak lazim: bermandikan keringat, mendedikasikan diri pada latihan, dan bahkan mengajari orang lain dengan telaten.

Dan bukan cuma Lawford. Di tengah jalan masuk tadi, ia sempat berpapasan dengan Clemen yang tengah terduduk kelelahan lalu menegur—

"Angkat pedangmu."

"
Eh?"

Clemen tentu mengenal Ragna. Mengingat betapa seringnya pria itu keluar-masuk barak ksatria, mustahil untuk tidak mengenalnya.

Namun keterkejutannya sangat nyata.

Sejujurnya ini adalah kali pertama Clemen berbicara langsung dengan Ragna. Pria itu biasanya mengabaikan semua panggilan dan menganggap interaksi sosial sebagai gangguan yang merepotkan.

Tergagap kaget, Clemen secara refleks menuruti perintah itu, menggenggam gagang lalu menghunus pedangnya.

"Latihlah cara mengubah cengkeraman tanganmu kapan saja. Tapi pastikan kau menggenggamnya erat-erat agar pedangmu tidak lepas kendali."

Nasihat yang singkat tetapi sangat mengena. Clemen yang masih linglung memberi hormat militer karena kebiasaan.

Raut wajah sang prajurit wanita seolah bertanya bingung: *Kenapa pria ini tiba-tiba bersikap ramah begini?*

Saat Ragna duduk mengambil porsi makanannya, ia menatap ketiga orang yang sedari tadi memandanginya tanpa berkedip.

"Apa yang tersisa di tempat yang kita tinggalkan? Itu adalah hal yang layak direnungkan," gumam Ragna filosofis.

Lagaknya seolah baru saja menelan Philosopher's Stone atau meminum seteguk Sage's Blood. Sikap Ragna yang sok bijak itu terasa sangat menjengkelkan bagi Encrid.

Pemandangan itu tak ubahnya melihat Rem berpura-pura menjadi sosok penurut yang lembut, atau Jaxon yang mendadak bersikap ceria sembari memuji betapa indahnya dunia.

Encrid secara refleks mengayunkan cangkir air di tangannya.

*Byur!*

Cairan dingin itu memercik tepat mengenai rambut pirang Ragna. Encrid merasa perlu mengusir roh halus apa pun yang tengah merasuki tubuh rekannya.

Ia pernah mendengar bahwa metode perdukunan semacam ini terkadang cukup ampuh jika diterapkan pada Rem. Maka dengan ketulusan yang murni dari lubuk hatinya, Encrid berucap khidmat:

"Enyahlah, roh jahat!"

Keheningan seketika menyelimuti seluruh aula makan.

Seorang ksatria magang yang tengah membawa nampan makanan terhenti kaku lalu diam-diam melangkah mundur, tampaknya memutuskan untuk pura-pura tidak melihat atau mendengar apa pun.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Ragna datar.

Ia tidak marah, tidak pula memprotes. Ia bahkan tidak menggelengkan kepala untuk mengibaskan air, melainkan hanya menatap Encrid dengan pandangan hampa.

Sorot mata itu justru membuat Encrid kian dongkol. Itu adalah tatapan seorang tetua bijak yang tengah memandangi anak kecil bodoh yang bertingkah konyol.

Jika dilebih-lebihkan, tatapan itu mirip dengan cara Rem memandang Encrid saat pria itu mulai bertingkah aneh.

"Kalau orang mendadak berubah sifatnya, mereka—" sembur Encrid kesal karena merasa terprovokasi.

"Iya, mereka mati," potong Ragna kalem.

Sebuah balasan pendek yang membuat Encrid merasa kalah telak.

*'Apa pemuda ini sudah dewasa?'*

Ragna tidak sedang berpura-pura tidak mengerti, ia benar-benar menjaga ketenangannya yang tak tergoyahkan.

Sikapnya bagaikan seorang sesepuh berpengalaman yang hanya bisa mendecakkan lidah memaklumi kelakuan anak muda di depannya.

"Kapten, bahkan orang yang paling ceroboh pun terkadang harus bersikap serius," timpal Magrun yang sebelumnya kerap berdiskusi teori pedang berjam-jam, kini memilih mundur selangkah.

*Bajingan ini berani menceramahiku?*

Encrid menoleh melotot ke arah Magrun, tetapi kali ini giliran Grida yang angkat bicara.

"Kau tidak bisa mengusir roh halus dengan cara seperti itu. Kau butuh pedang yang dialiri sihir atau artefak khusus... bukan cuma segelas air putih biasa."

Bukannya ia tidak tahu soal itu! Encrid terpaksa menelan kembali kata-katanya.

Jika ia mencari-cari alasan sekarang, ia hanya akan tampak semakin menyedihkan.

"Jangan siksa tunanganku, kalian tiga roh jahat!"

Shinar melangkah masuk tepat pada saat itu, melontarkan celetukan manisnya tanpa beban.

Dengan pendengaran tajam bangsa peri, ia kemungkinan besar sudah mendengar seluruh percakapan konyol itu dari luar.

Ragna yang selalu bergeming hanya mengangguk pelan seolah sudah menduganya, tatapannya tetap tenang dan tak tertebak bagaikan telaga tanpa dasar.

Encrid tidak bisa lagi mendebat perubahan sikap Ragna. Ia benar-benar tidak paham apa yang memicu rekannya berubah begitu drastis.

Namun ini bukan hal yang perlu diratapi berlarut-larut.

Dengan katalis yang tepat, manusia memang bisa berubah. Itu hanyalah hukum alam sederhana lainnya di dunia ini.

"Yah, apa pun alasannya, itu jauh lebih baik daripada bermalas-malasan," gumam Encrid menyudahi perdebatan.

Ia bangkit berdiri untuk mencari Krais. Saat melangkah pergi, ia melihat Krais menyipitkan mata penuh curiga ke arahnya.

Sebelum berangkat, ada urusan administrasi yang harus diselesaikan—ia tidak sedang melarikan diri dari situasi memalukan tadi.

"Mundur adalah taktik tempur yang sah! Biar kutahan garis pertahanan di sini! Pergilah, tunanganku tercinta!" seru Shinar dramatis di belakangnya, menghalangi pandangan yang lain.

Dua hari kemudian, setelah menyelesaikan berbagai urusan benteng:

"Pulanglah dengan selamat," ucap Krais melepas kepergian mereka.

Krais bermurah hati membekali mereka dengan sejumlah kantong uang Krona dan beberapa ekor kuda tunggangan terbaik.

Keberhasilan pembiakan kuda di dataran Green Pearl terlihat nyata—kuda-kuda ini memiliki surai berkilau halus dan tatapan mata yang cerdas.

"Baiklah," angguk Encrid.

Selama beberapa hari terakhir, Ann telah belajar menunggang kuda dengan sangat cepat.

Kini Encrid bersiap berangkat bersama ketiga perwakilan Zaun, Ragna, dan Ann.

"Waktu di jalan nanti, tolong—tolong banget—tinggalkan saja bocah itu di antah berantah," pinta Rem tulus saat mengantar mereka di gerbang.

Ragna menolehkan pandangannya ke arah Rem mendengar permohonan itu. Sorot mata teduh dan tenang yang akhir-akhir ini sering terlihat di wajahnya.

"Apa? Mau cari ribut?" dengus Rem meradang.

Namun Ragna membalasnya dengan kata-kata bijak alih-alih amarah.

"Rem, aku menghormati jalan hidup seorang barbarian. Kau tidak punya pilihan selain bertarung berdarah-darah demi bertahan hidup. Kalau tidak, kau pasti sudah mati sejak dulu."

Setelah berujar demikian, Ragna memutar tali kekang kudanya dan melangkah pergi.

*Klotok-klotok-klotok.*

Kudanya berderap tenang meninggalkan halaman markas.

"
Kepalanya barusan kena hantam batu karang atau gimana?" gumam Rem melongo bingung dengan respons bijak itu.

"Bukan ke arah situ jalannya, Ragna!" teriak Ann sembari memacu kudanya menyusul pemuda yang salah jalan itu.

Anehnya, meski kuda itu terlatih sangat baik, kuda tunggangan Ragna selalu melangkah seolah punya kehendak tersendiri untuk tersesat.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.