Eternally Regressing Knight

Chapter 660 - Ragged Saint

2583 Kata

Chapter 660 - Ragged Saint

"Di dunia luar, orang-orang biasa memanggilku Ragged Saint. Maaf atas keterlambatan perkenalanku, tadi aku sempat bermain sebentar dengan anak ini."

Yang dia maksud dengan "bermain" adalah mengajari Seiki cara mengendalikan kekuatan suci. Seiki secara alami terlahir dengan bakat kekuatan suci yang melimpah tanpa pelatihan formal apa pun, tetapi jika dia tidak belajar cara mengendalikannya, energi itu justru bisa melukai raganya sendiri. Audin telah secara khusus mencari keberadaan sang Ragged Saint, ayah angkatnya, demi mencegah malapetaka itu terjadi.

Itulah sebabnya sang orang suci kini berada di sini. Baginya, menyelamatkan masa depan Seiki adalah tugas paling mendesak.

Seiki mengangkat tangannya melambaikan salam hangat lalu berucap, "Rasanya aku malah makin mirip seekor monster."

Semenjak kali pertama mereka bertemu, Seiki selalu menjadi anak dengan bakat yang teramat istimewa. Kehebatannya bermula dari ketajaman persepsinya yang luar biasa, dan sekali lagi, dia langsung menyadari perubahan drastis pada diri Encrid.

Bahkan andai dia tidak menyadarinya secara langsung sekalipun, bisik-bisik yang terus membicarakan sosok Encrid di seantero markas membuatnya mustahil untuk terlewatkan.

"Katanya sang Squad Leader of Enchantment berhasil membangkitkan kekuatannya usai mematahkan hati ratusan wanita."

"Bukan, itu karena dia meminum darah suci yang dikumpulkan oleh para peri."

"Apa seseorang benar-benar bisa sekuat itu hanya dengan berlatih gila-gilaan?"

Meskipun berbagai rumor konyol beredar liar di luar sana, Seiki, meski berhati murni, bukanlah gadis yang naif. Dia sangat tahu bagaimana cara menyaring antara kebenaran dan omong kosong belaka.

"Ajakan menjadi paladin tadi cuma gurauan belaka."

Sang Ragged Saint, ayah angkat Audin, kembali membuka suara. Nada bicaranya terdengar bersahaja, dan wajahnya dihiasi oleh seulas senyuman sederhana.

Dia menepuk lengan kekar Audin dengan gestur yang mencerminkan keakraban mendalam.

Audin membalasnya dengan senyuman tipis yang tenang, seperti yang selalu dia perlihatkan.

Encrid menyadari bahwa kendali kemampuan Seiki tampak semakin matang dibanding sebelumnya, tetapi lebih dari itu, perhatiannya justru tertuju pada penampilan sang orang suci.

Meskipun menyandang gelar Ragged Saint yang bermakna sang orang suci compang-camping, pakaian yang membalut tubuhnya justru menunjukkan hal yang bertolak belakang.

Klining.

Sang orang suci mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, menampakkan gelang-gelang emas tebal serta cincin-cincin bertahtakan batu rubi, zamrud, dan safir yang menghiasi kelima jemari tangannya. Sebuah liontin besar menggantung di kalungnya, berhiaskan empat batu permata berharga yang terkunci rapi di atas lempengan bertepikan perak murni.

Pakaian yang dia kenakan terbuat dari sutra halus terbaik yang tampak jauh lebih mewah daripada apa yang sanggup dibeli oleh sebagian besar kaum bangsawan.

Para bangsawan miskin sudah pasti tidak akan mampu mengenakan busana semewah itu.

Andrew Gardner, seorang bangsawan tulen, masih mengenakan pakaian kasar berbahan sederhana saat Encrid terakhir kali melihatnya.

Andrew hanya memiliki satu setelan pakaian formal yang baru dia kenakan jika ada acara yang benar-benar penting.

"Jika aku menghemat pengeluaran untuk pakaian dan makanan, rakyatku bisa menikmati sepotong daging tambahan di piring mereka. Tidak ada ruang untuk bermewah-mewahan."

Itu adalah prinsip hidup yang selalu dipegang teguh oleh Andrew, selaras dengan ambisi besarnya untuk membangun kembali kejayaan House Gardner.

Menjalani hidup dengan cara sekeras itu jelas bukan perkara gampang.

Namun Andrew yang telah menyerap kedisiplinan hidup usai mengamati sosok Encrid, mengejar cita-citanya tanpa sedikit pun merasa terbebani.

Sang Ragged Saint mengerjapkan matanya yang tampak keruh. Pandangannya terlihat tidak fokus, sebuah pertanda nyata dari penglihatannya yang telah memburuk dimakan usia.

"Iman adalah hal yang sangat penting, sekalipun kau bukan seorang paladin."

Hari itu adalah hari yang indah, cerah dan hangat dengan musim semi yang bermekaran sempurna. Udara dingin telah resmi surut, dan tunas-tunas rumput hijau mulai mengintip dari sela-sela pepohonan yang patah atau hancur selama sesi latih tanding antara Encrid dan Rem tempo hari.

Menembus heningnya udara pagi, Encrid dapat merasakan sorot pandangan Rem dan Ragna yang tengah mengamati dari kejauhan.

Keduanya sempat memeriksa apa yang sedang terjadi, mengenali sosok sang orang suci, lalu segera kehilangan minat dan beranjak pergi.

Jaxon telah berangkat pagi-pagi sekali untuk mengurus urusan pribadinya, sementara Esther masih menikmati harinya dalam wujud macan kumbang.

Encrid awalnya berniat menuju ke area perkotaan usai merampungkan sesi latihan paginya, tetapi sang orang suci mendadak menghalangi jalurnya.

"Anak ini dan dirimu sama sekali tidak percaya pada Tuhan?"

Tanya pria tua itu lagi.

"Bisa dibilang begitu."

Sahut Encrid santai. Nada bicaranya tidak terdengar kasar, dia hanya menjawab apa adanya dengan jujur.

Kata-kata dan pembawaan sang orang suci tidak terkesan menyinggung, tetapi juga tidak sepenuhnya menyenangkan untuk didengar.

Suaranya serak dan berat, sementara wajahnya dipenuhi bintik-bintik penuaan. Namun menimbang busana mewah yang melekat di tubuhnya—

'Kalau dia melangkah masuk ke dalam kuil dengan pakaian seperti ini, dia pasti akan disangka sebagai uskup korup yang gemar memeras persembahan jemaatnya.'

Tepat saat pemikiran itu melintas di benaknya, sang orang suci kembali berucap.

"Audin."

"Ya."

"Apa yang akan kau lakukan kalau kusuruh kau membunuh temanmu ini sekarang juga?"

Sang Ragged Saint melontarkan pertanyaan itu sembari tersenyum ramah, tetapi Encrid tidak menyela. Entah Audin akan menurutinya atau menolaknya bukanlah masalah utama.

'Krais.'

Perangai sang orang suci mengingatkannya pada sosok-sosok seperti Krais, Avnair, dan Ermen.

Orang-orang seperti mereka selalu menyelipkan banyak lapisan makna ke dalam satu kalimat tunggal, menyembunyikan maksud asli mereka di balik senyuman.

Encrid tidak bisa menebak secara pasti apa motif tersembunyi di balik ucapan pria tua itu. Dia sangat lihai menyembunyikan isi kepalanya.

'Mungkin dia bahkan jauh lebih licik ketimbang Krais.'

Pria ini tampak menyembunyikan lebih banyak rahasia ketimbang Ermen. Terlepas dari itu, Audin menanggapi tanpa kehilangan senyum tenangnya.

"Kepalamu sudah tidak waras?"

Sang orang suci tertawa terbahak-bahak mendengar sahutan itu.

"Belum sampai ke tahap itu."

"Kalau merasa kurang sehat, ada tabib dan alkemis yang bisa meracik obat di dekat sini."

Ucap Encrid menimpali, membuat sang orang suci kembali tertawa sembari menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Kakek tua ini jauh lebih mahir menggunakan kekuatan suci daripada aku."

Seiki ikut menyeletuk.

Audin mengabaikan ocehan sang orang suci seperti biasanya.

"Beliau memang sering bicara ngelantur. Anggap saja ini lelucon takdir, Saudara."

Rupanya selain lelucon bangsa peri, ada pula yang namanya lelucon takdir di dunia ini.

Encrid membiarkannya lewat begitu saja, tetapi sang orang suci melangkah mendekat dan berkata:

"Kau berniat pergi ke bengkel tempa, kan? Boleh aku ikut? Seiki, kau harus melatih apa yang kuajarkan tadi setiap pagi dan petang."

"Berdoa? Membosankan sekali."

Seiki mengerucutkan bibirnya saat menjawab.

"Kau harus belajar menahan rasa bosan itu dan melatih kesabaranmu. Hanya dengan begitu kau bisa menggunakannya dengan benar."

Sang orang suci meletakkan tangannya di atas bahu Seiki lalu menepuknya lembut.

Jika sesaat lalu dia tampak seperti uskup tamak yang memeras jemaatnya, kini dia terlihat tak ubahnya seorang petapa bijak yang agung, dengan permata-permatanya yang berkilau bagaikan lingkaran cahaya suci.

"Kalau begitu, aku pamit dulu, Audin."

"Aku belum memberimu izin untuk ikut."

Encrid bersikap tegas, sama sekali tidak goyah oleh kata-kata manis pria tua itu. Namun sang orang suci segera membalas dengan kilat.

"Kalau kau tidak mengizinkanku, aku akan membuntutimu dari kejauhan. Apa kau tega bersikap sekejam itu pada seorang kakek tua yang buta? Apa aku salah menilaimu? Ataukah seorang pemuda gagah memang gemar merundung orang tua yang tak berdaya?"

Kini dia tidak lagi tampak seperti petapa bijak, melainkan lebih mirip kakek tua keras kepala yang tengah merajuk manja.

"Kau sangat pandai bersilat lidah."

Sahut Encrid datar.

"Menurutmu apa modal utama seorang pengembara miskin untuk bertahan hidup di dunia yang keras ini?"

"Kekuatan suci?"

"Ah, kau berhasil menebaknya. Tapi ya, kemampuan itu pun sangat berguna."

Terlepas dari kata-katanya, dia sama sekali tidak tampak merasa kalah.

"Kudengar kau cuma pura-pura buta?"

"Audin terlalu banyak membocorkan rahasia padamu, ya?"

Sang orang suci menegur Audin pura-pura kesal.

"Memangnya itu rahasia yang harus disembunyikan?"

"Bukan juga, sih."

Ini memang bukan pertunjukan komedi tunggal, tetapi obrolan mereka terus bergulir santai. Encrid tidak memiliki alasan untuk menolaknya, dan terdorong oleh rasa penasaran, dia memutuskan untuk mengamati sosok sang orang suci dari dekat.

"Ayo jalan bersama."

"Jangan perlakukan beliau terlalu kasar. Beliau bisa sangat membantu jika kau memiliki kegelisahan di dalam hatimu, Saudara."

Audin membungkuk sedikit tanda terima kasih. Dari kejauhan, suara Rem menggelegar lantang.

"Kau mau memesan perisai dari orang bernama Eitri itu? Pastikan perisainya kokoh dan tidak gampang hancur!"

"Tentu saja."

Sahut Encrid seraya berbalik melangkah pergi.

"Kalau kau melihat ada pembunuh bayaran yang mengincarku di jalan, silakan habisi mereka sesukamu."

Ucap sang orang suci sembari berjalan beriringan di sampingnya.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan sampai diincar pembunuh bayaran?"

"Ah, lokasi persembunyianku baru-baru ini terbongkar. Secara resmi aku sudah dinyatakan tewas di Legion, tetapi kabar burung bahwa aku masih hidup mulai menyebar luas. Sekarang banyak pihak yang menginginkan kepalaku."

"Musuhmu pasti sangat banyak."

"Tidak terlalu banyak. Cuma ada belasan orang."

"Belasan orang itu kau bilang sedikit?"

"Tentu saja."

Setiap orang memiliki standar ukurannya masing-masing, jadi Encrid tidak memperdebatkannya lebih jauh.

Audin mengamati kepergian mereka berdua. Dia sangat mengenal watak ayah angkatnya—beliau bukanlah sosok yang akan mencelakai orang lain. Membiarkan mereka pergi bersama tidak akan menimbulkan bahaya apa pun.

Paling buruk, pria tua itu hanya akan melancarkan beberapa lelucon usil yang menjengkelkan.

Audin teringat pada kali pertama ayah angkatnya datang mengunjunginya di markas Border Guard dulu.

"Beliau mencabut segel pembatas itu, menyalakan kembali kekuatan suciku, dan mencarikanku tempat bernaung. Apa hatimu sekarang sudah merasa lebih tenang?"

"Sekarang sudah jauh lebih baik."

"Bagaimana dengan penglihatan gaibmu?"

"Kadang-kadang arwah itu datang dan menemaniku mengobrol sebentar."

Bocah bernama Phildin sempat mengakui perihal penglihatan arwah seorang anak laki-laki yang dibawa oleh sang orang suci, serupa dengan bilik pengakuan dosa.

Mendengar penuturan Audin kala itu, sang ayah tertawa lepas lalu menepuk pundaknya sekali. Pertanyaan menjebak yang dia lontarkan pada sang kapten tadi memiliki makna tersirat yang serupa.

Mustahil ayahnya benar-benar memerintahkan seseorang untuk membunuh Encrid. Apa yang ingin dia tunjukkan kepada sang kapten adalah bahwa kesetiaan mutlak Audin kini telah tertambat pada Mad Knights, bukan pada pihak kuil.

'Tidak perlu diucapkan keras-keras. Beliau pasti sudah paham.'

Tidak ada gunanya menegaskan poin tersebut kepada sosok Encrid.

"Aku tahu Audin adalah bagian sejati dari Mad Knights."

Ucap Encrid saat mereka melangkah keluar dari gerbang barak, membalas penghormatan tegas dari para penjaga pos.

"Cuma memastikan saja."

Sahut sang orang suci santai.

Dia paham bahwa Encrid telah menangkap makna tersirat di balik percakapannya bersama Audin tadi. Sang Ragged Saint sangat tahu apa yang tengah dia lakukan.

Sang orang suci mengetukkan tongkatnya ke tanah saat melangkah, dan gerak-gerik itu mendadak mengingatkan Encrid pada dua sosok sekaligus.

Sosok pertama adalah pria tua buta yang menyebut dirinya sebagai seorang apostle tempo hari. Meski penampilan fisik mereka berbeda jauh, ada kelicikan yang serupa di antara keduanya—sebuah bakat alami untuk menyembunyikan niat asli mereka rapat-rapat.

'Tapi mereka berdua berbeda.'

Aura yang mereka pancarkan bertolak belakang seutuhnya. Sang apostle memancarkan hawa pembunuh yang keji, sedangkan sang orang suci sama sekali tidak menyimpannya.

Jika pria tua ini sanggup menyamarkan hawa keberadaan seberbahaya itu dari ketajaman nalurinya, dia pastilah pengintai yang jauh lebih hebat daripada Jaxon. Namun kenyataannya tidak demikian, insting murninya menegaskan hal tersebut.

Dan ada satu sosok lainnya.

'Kenapa bisa begitu?'

Pembawaan sang orang suci saat ini mengingatkannya pada sosok Anu, sang King of the East. Mereka adalah dua pribadi yang sepenuhnya berbeda, menjalani jalan hidup yang bertolak belakang.

"Lakukan saja urusanmu."

Ucap sang orang suci.

Encrid memang berniat melakukannya sedari awal.

Keduanya melangkah santai melintasi area pasar yang ramai lalu menuju ke bengkel tempa milik Eitri.

Trang! Duk, duk!

Suara hantaman palu godam yang menghantam logam panas dan deru hawa panas dari tungku perapian membuat wajah Encrid terasa hangat.

"Aku datang."

Eitri berdiri di sisi tungku sementara muridnya sibuk mengayunkan palu.

"Kau pasti punya banyak cerita untuk dibagikan."

Ucap Eitri yang telah menghabiskan beberapa hari tanpa memegang palu demi menanti kepulangan Encrid.

"Terima kasih atas 'Luck' (Sword of Luck). Pedang itu telah menyelamatkan nyawaku."

Pedang Sword of Luck telah membelokkan lintasan tebasan terakhir sang demon, menyelamatkan nyawa Shinar.

Seandainya Shinar tewas di tempat itu, apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan bunuh diri demi mengulang kembali garis waktu dari awal?

Encrid tidak akan pernah melakukan hal konyol semacam itu.

Bahkan dengan hati yang hancur berkeping-keping dan air mata yang membasahi pipinya sekalipun, dia akan terus melangkah maju menyongsong hari esok.

Itulah jalan hidup yang telah dipilih oleh Encrid.

Dia menolak untuk terjebak mengulang hari ini tanpa akhir. Apa pun yang terjadi, dia bertekad untuk terus bergerak maju.

Shinar bisa saja mati saat itu, meski keberuntungan akhirnya berpihak padanya.

Tujuan utama sang demon adalah memperdaya pikirannya dengan menyajikan ilusi kehidupan palsu. Makhluk itu berniat meracuninya dengan pesona sihir, mengubahnya menjadi sosok yang tak lagi bisa dikenali.

Seandainya Shinar kehilangan akal sehatnya kala itu, Encrid pasti akan memukulnya hingga pingsan lalu mengerahkan segala cara yang ada di dunia demi mengembalikannya seperti semula.

Bahkan jika hari ini tidak bisa diulang kembali, kata menyerah tidak pernah ada di dalam kamus hidupnya. Inilah jalan yang telah dia pilih untuk dia tapaki.

Karena itulah dia merasa sangat bersyukur. Pedang Sword of Luck telah menghalau seluruh malapetaka yang berpotensi terjadi.

"Itu benar-benar sebuah keberuntungan murni."

"Syukurlah kalau kau menyukainya. Aku juga sudah menerima barang-barang yang kau kirimkan kemarin."

Encrid telah menyerahkan seluruh persenjataan dan zirah rampasan dari para kultis kepada Eitri.

Keduanya sama-sama membutuhkan waktu—Encrid untuk mematangkan ilmu pedangnya, dan Eitri untuk meneliti serta bereksperimen dengan logam-logam sihir baru tersebut.

Itu adalah waktu yang dimanfaatkan dengan sangat berharga oleh keduanya.

"Kalau begitu, mari kita duduk."

Eitri meletakkan sebuah meja kecil dan dua cangkir teh hangat.

Sembari menyeruput teh, Encrid melirik ke luar pintu bengkel. Pintu yang terbuka lebar memperlihatkan sosok sang Ragged Saint yang tengah mondar-mandir santai di luar.

Di seberang jalan, kuncup-kuncup bunga di dahan pohon mulai mekar dengan anggun. Hembusan angin musim semi bertiup lembut, meski hawa panas dari bengkel tempa mendorongnya mundur.

Sembari memandang ke luar, Encrid menceritakan seluruh pengalamannya. Cerita itu tampak sangat panjang, tetapi saat disampaikan secara runtut, penjelasannya tidak memakan waktu lama.

Usai menyimak dengan saksama, Eitri merenung cukup dalam sebelum akhirnya menyahut.

"Kembalilah sebulan lagi."

"Dimengerti."

Tidak ada hal lain yang perlu diperdebatkan. Eitri bahkan tidak tampak terkejut saat Encrid menceritakan perihal pedang peraknya yang patah di medan laga.

Sementara itu, murid Eitri tidak pernah menghentikan ayunan palunya, terus menghantam logam membara dengan ritme yang teratur.

Encrid senang melihat pemandangan itu. Tampaknya sang murid pun tengah menapaki jalan takdirnya sendiri dengan tekun.

"Bagaimana dengan Frog?"

"Dia sedang pergi mencari bahan-bahan tempaan."

"Begitu rupanya."

Dia bisa menemuinya di lain kesempatan. Saat Encrid melangkah keluar dari bengkel, sang Ragged Saint segera menyambutnya.

"Kau tidak lapar? Kudengar mereka menjual dendeng berbumbu yang sangat lezat di sekitar sini."

"Ya, memang ada."

"Belikan aku satu porsi."

"Baiklah."

Keduanya melangkah menuju ke deretan kios makanan yang berjejer rapi.

Krais telah menata ulang tata ruang kota dengan sangat apik, membagi distrik secara teratur—satu area khusus untuk penginapan dan kedai makan, dan area lainnya untuk bengkel tempa serta para pengrajin.

Empat penginapan utama berfungsi sebagai pusat aktivitas kota, dengan kereta-kereta terbuka yang melaju lambat mengitari kawasan tersebut.

Siapa pun bisa menaiki kereta umum itu dengan membayar ongkos murah, ditarik oleh keledai-keledai kekar yang menggantikan peran kuda.

Kereta-kereta itu tanpa atap dan cukup luas untuk memuat sepuluh orang penumpang sekaligus. Namun sang orang suci dan Encrid tidak merasa perlu menaikinya; keduanya adalah pejalan kaki yang tangguh.

"Kau menantikan hasil karya sang pengrajin?"

Tanya sang orang suci di sela langkah mereka, merujuk pada sosok Eitri.

"Ya, sangat menantikannya."

Usai percakapan singkat itu, mereka tiba di sebuah kedai yang menjual dendeng panggang. Tak jauh dari sana, aroma manis dari penjual selai marmalade segera memikat perhatian mereka.

"Aromanya saja sudah cukup untuk membuat air liurku menetes."

Usai makan hingga kenyang dan membasahi tenggorokan dengan minuman segar, mereka berjalan-jalan santai menyusuri jalanan kota, di mana beberapa penduduk tampak mengenali dan menyapa sosok Encrid dengan ramah.

Sang orang suci mengamati seluruh pemandangan damai itu dalam keheningan yang sarat makna.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.