Eternally Regressing Knight

Bab 646: Rafrathio

2079 Kata

Bab 646: Rafrathio

"Aku adalah api, dan kau adalah malaikat yang membawanya."

Seiring berjalannya waktu, sang demon telah menyuarakan kata-kata yang tak terhitung jumlahnya, di antaranya adalah godaan-godaan seperti ini.

Godaan-godaan yang teranyam oleh kebohongan, begitu sempurna hingga bahkan kepekaan tajam para Fairy tak sanggup menemukan cacat di dalamnya, membuat kata-kata tersebut terdengar nyaris seperti kebenaran murni.

*'Kata-kata memiliki kekuatan.'*

Kata-kata yang terulang bertahan di dalam pikiran, memengaruhi tindakan. Maka dari itu, kata-kata memang memegang kekuatan nyata.

"Apakah aku yang menyalakan apinya? Ataukah dirimu?"

Apakah itu perbuatan sang demon, ataukah ia sendiri yang telah memanggil demon tersebut?

Jika demikian, apakah api yang dipicu oleh demon pada akhirnya adalah kesalahannya?

Abu hitam mengalir menembus pembuluh darah Sinar. Abu itu menggerogoti hatinya dan menanamkan rasa takut di dalam dirinya.

Namun demikian, Sinar bertahan.

Ia telah lama kehilangan rasa bangganya; apa yang tersisa lebih dekat pada sebuah perjuangan nekat.

Ia berhadapan dengan api, gemetar oleh rasa takut, sembari berpura-pura sebaliknya. Itulah tindakan perlawanan milik Sinar.

Tak perlu mendeskripsikan betapa terkejutnya ia saat menyaksikan apa yang dilakukan Encrid dalam situasi semacam itu.

*'Apakah pria itu benar-benar membakar tendanya?'*

Itu adalah kegilaan murni, namun pada momen itu, entah bagaimana hal tersebut tampak bisa diterima.

Rasa takut, teror, dan api, yang telah menjadi simbol sang demon, tak lagi terlihat sama.

Alasannya? Ia tak peduli untuk mencari tahu.

Pada masa di mana ia sibuk menyembunyikan pikiran dan emosinya, ia tak punya energi untuk memikirkan alasan.

Seorang Fairy yang terkutuk hingga tak sanggup berhadapan dengan kobaran api hanya bisa tetap bungkam kala itu.

Dan kemudian, ada api membara.

Meski ia berpaling, tak sanggup menatap kobaran api yang meraung, itu tidak terasa menyakitkan yang tak tertahankan.

Mungkin hal itu berkat Bran.

Mentornya dan kawan lamanya, Bran, telah mengajarinya untuk tidak takut pada api.

Ia menyampaikan pelajarannya menurut cara para Fairy mengajar—melalui tindakan, sikap, dan jalan hidup itu sendiri.

Woodguard itu menyalakan sebatang rokok. Sangat aneh menyerupai seorang ghoul yang menyantap puding cokelat, tetapi Bran melakukannya.

Para Fairy tidak menghindari api secara mutlak, tetapi para Woodguard, Fairy yang berasal dari pepohonan, secara naluriah menjaga jarak darinya. Itu adalah perilaku yang terpatri secara mendalam.

*'Kayu dan api.'*

Sebuah kombinasi yang sangat tidak cocok, bukan?

Namun demikian, Bran berakhir menyalakan sebatang rokok sembari memegangnya di mulutnya.

Sinar merasakan waktu berakselerasi dan menyadari ia berada di dalam sebuah mimpi yang jernih.

Belenggu yang telah mengikatnya begitu lama mulai pecah. Kata-kata, yang ditempa dan dipelintir seiring waktu, telah menciptakan kutukan ini.

Demon itu telah menggenggamnya untuk waktu yang lama, memakannya bagian demi bagian. Dan kini, demon itu telah tewas.

saat kenyataan dan mimpi menyatu, kenangan masa lalu menginvasi mimpinya.

"Api. Ini adalah api."

Seekor ular dari kobaran api melilit di sekitar pergelangan kakinya, membakar kulitnya.

KRETEK! KRETEK!

Suara rumput dan bunga yang terbakar memenuhi udara, disusul oleh aroma asam yang menyengat.

Keringat mengucur membasahi tubuhnya. Rasanya seolah-olah tubuh nyatanya pun basah kuyup oleh keringat.

Kutukan yang ditinggalkan oleh seekor demon tak bisa dihindari secara sangat mudah. Kutukan semacam itu, terikat oleh kata-kata ketimbang mantra atau sihir, bertahan lama.

"Apakah kau masih merasa ingin mati saja terkadang?"

Sebuah suara menembus telinganya. Seperti halnya mimpi pada umumnya, lingkungan sekitar mendadak bergeser tanpa disadarinya.

Ia kini duduk di tengah-tengah sebuah hutan.

Sinar menatap tangannya, kini sekecil tangannya saat masa kecil dulu.

Tangannya yang pucat muncul di hadapannya. Jika ia menggulung lengan bajunya untuk menyingkap arm miliknya, tangan itu kemungkinan bakal menunjukkan bekas luka yang belum lama sembuh.

"Jika aku harus tewas, biarlah demikian," ucapnya saat masih anak-anak dulu, tepat sebelum menjadi terkutuk.

Ayahnya telah memberitahunya bahwa itu bukan kesalahannya. Kini, ia bisa melihat ayahnya menyandar pada sebuah pohon—sumber suara yang baru saja didengarnya.

"Atau apakah kau telah merubah pikiranmu?" tanya ayahnya lagi.

Sinar menatap kosong ke arahnya.

Saat ayahnya muncul dalam mimpinya, ayahnya biasanya menyuarakan hanya beberapa kata di dalam kegelapan. Namun hari ini, ayahnya berdiri secara percaya diri di bawah sinar matahari.

Pendar halus sinar matahari yang menyaring menembus hutan menerangi ayahnya dari kepala hingga ke ujung kaki, menangkapnya secara utuh dalam jarak pandangnya.

"Dia telah berubah."

Bukan Sinar yang menjawab, melainkan ibunya. Ibunya berdiri di samping ayahnya, walau Sinar tak menyadari kedatangannya.

Ciri-ciri ibunya—alisnya, matanya, hidungnya, dan bibirnya—membawa kemiripan yang sangat mencolok dengan milik Sinar.

Saudara-saudaranya pernah berkata dulu bahwa ia mirip dengan ayahnya, sementara Sinar mirip dengan ibu mereka.

"Dan bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?" tanya ayahnya pada ibunya.

Ibunya berdiri di sana, rambut emasnya memantulkan sinar matahari.

"Kami memiliki sebuah ikatan."

"Aku juga memilikinya."

"Ya, tetapi aku merasakan ikatan yang lebih mendalam dengannya dibanding dirimu."

"Aku merasakannya pula."

Meski tonenya tenang dan terukur, ayah dan ibu Sinar sering berdebat saat ia masih kecil dulu.

Hal itu bisa disebut sebagai perdebatan gaya Fairy.

Ayahnya bakal dengan keras kepala bertahan, sementara ibunya bakal tampak secara acuh tak acuh menepisnya.

"Kau sangat keras kepala," ucap ibunya, pandangannya terkunci secara mantap pada Sinar. Meski ia berbicara pada ayahnya, matanya menyimpan cahaya yang baik dan lembut untuk Sinar—persis seperti biasanya.

"Tidak, aku seorang Fairy. Aku menyuarakan hanya kebenaran," sahut ayahnya tak tergoyahkan.

"Itu adalah distorsi kalau begitu."

"Tidak, itulah apa yang kurasakan."

"Kau mendistorsi perasaanmu sendiri."

"Hatiku memberitahuku bahwa itu benar."

Perdebatkan mereka menyeret lama. Meski tahu ini adalah sebuah mimpi, Sinar mendapati dirinya menikmati pemandangan tersebut. Itu adalah pemandangan yang menenangkan, bukan?

"Kalian berdua, tolong berhentilah. Warisan kita memengaruhi kita, tetapi hal itu tidak mendefinisikan kita secara utuh."

Kakaknya telah muncul—Naira Kirhais. Ia berbicara dengan tone sarkastik.

"Naira, kau sangat dingin," ucap ayahnya padanya.

"Aku hanyalah seorang Fairy biasa," jawabnya.

"Bran bilang kau sangat mahir mengendalikan emosimu."

"Aku mengurus urusanku sendiri."

"Itu menyedihkan."

Ketiadaan emosi yang terlihat bukan berarti ketiadaan perasaan.

Para Fairy, dengan kepekaan alami mereka, merasakan emosi secara mendalam. Saat rentang emosi mereka meluas, mereka mengalami kebahagiaan dan kesedihan secara intens, bahkan atas hal-hal kecil sekalipun.

Frog, menyadari keterbatasannya, menjalani hidup didorong oleh hasrat. Para Fairy, di sisi lain, belajar mengendalikan emosi mereka untuk melindungi struktur psikologis mereka yang rapuh.

Pikiran seorang Fairy mirip dengan kanvas kosong, siap menyerap warna apa pun.

Jika Frog mencari cara menembus batas-batas melalui pemanjaan diri, para Fairy memperkuat psikologi mereka yang rapuh dengan menguasai pengendalian emosi.

Begitu fondasi emosi mereka kokoh, para Fairy bisa mulai mengekspresikan perasaan kembali—seperti orang tua Sinar.

Bahkan dengan tampilan emosi semacam itu, mereka tak akan saling menyakiti. Namun bagi Fairy lainnya, terutama yang lebih muda, ekspresi semacam itu bisa tidak menguntungkan.

Maka dari itu, pengendalian emosi juga merupakan cara untuk membesarkan anak-anak yang sensitif.

Namun sekarang?

Anak-anak mereka telah tumbuh dewasa, jadi mereka bisa mengekspresikan diri mereka secara bebas.

Dan ada kakaknya, Naira.

Ia telah berbakat sejak masa kecilnya, dengan cepat mempelajari dan menguasai apa pun yang dicobanya.

Pemikiran-pemikiran terjalin dan saling menumpuk, membentuk kesimpulan-kesimpulan aneh.

Jika ada seseorang yang seharusnya bertahan, itu bukan dirinya melainkan...

"Itu pemikiran yang tak berguna, Sinar. Jika ini soal seseorang yang bertahan karena kemampuan yang unggul, itu tidak seharusnya diriku—itu seharusnya Ibu. Jika beliau masuk ke dalam labirin mengetahui beliau tak bisa menggunakan sihir, beliau bakal membunuh sang demon tanpa keraguan."

Seolah-olah Naira telah membaca pemikirannya. Ia menawarkan kata-kata penghiburan dalam nada bicaranya yang biasanya.

Kata-katanya masuk akal. Para Fairy sangat mahir membalas logika dengan logika.

Ibu mereka adalah seorang genius di antara para genius yang terlahir bagi ras Fairy. Itulah apa yang dimaksudkan oleh Naira.

Naira menatapnya dengan pandangan tenang, diselimuti perhatian dan rasa cemas.

Ia berbicara melalui matanya, memberitahu Sinar untuk tidak cemas soal pulih sekaligus, melainkan bertahan pada harapan paling kecil sekalipun dan bertahan.

Hal itu tak ada bedanya dari kata-kata yang diucapkannya sebelum pergi dulu.

"Ini bukan salahmu. Kau paham?"

Ia menyuarakan hal yang sama secara lantang.

Ayahnya, mendengar hal ini, menambahkan komentar miliknya sendiri, dan ibunya sekali lagi membicarakan ikatan mereka.

Itu tidak bising—para Fairy tak pernah membuat keributan, bahkan saat berkumpul sekalipun.

Namun ketenangan bukan berarti hal itu tidak hangat.

Sinar menikmati kedamaian tersebut, meski tahu hal itu tak akan bertahan lama. Ini adalah sebuah mimpi yang jernih. Mereka telah tewas.

Ia tak akan pernah melihat mereka kembali. Mereka mungkin telah dibunuh oleh sang demon dan digunakan sebagai nutrisinya.

Saat pemikirannya mendalam, sebuah kegelapan mulai memuncak.

SWISS.

Ia pikir ia mendengar suara samar, dan kemudian seseorang menopang pipinya. Itu adalah Aden.

"Aku tak mengira kau bakal berpaling pada orang lain," ucapnya.

Aden menyukai humor Fairy. Bahkan sekarang, ia sedang membuat lelucon tak berguna.

Meski memperlakukan Sinar seperti seorang adik wanita atau keluarga sepanjang hidupnya, ia memiliki keberanian untuk menyuarakan hal semacam itu.

"Api adalah kehancuran sekaligus penciptaan. Itulah makna dari Rafrathio. Jadi api bukanlah sesuatu yang harus ditakuti—hanya sesuatu yang harus diurus dengan hati-hati," ucap Aden.

Ia mengetahui hal ini. Ia telah mengulangnya pada dirinya sendiri berulang kali: api harus diurus dengan hati-hati.

Itu adalah sebuah komitmen untuk mengelolanya, bukan menghindarinya.

Untuk mengajarinya satu kebenaran ini, Bran telah menaklukkan rasa takut primal yang terpatri pada para Woodguard lalu menyalakan sebatang rokok.

Kemudian ada Rafrathio, nama keluarga Aden—sebuah keluarga Fairy penempa besi.

Diterjemahkan ke dalam bahasa benua, itu berarti 'api tak padam'. Ditafsirkan ulang, itu bisa disebut 'kebangkitan kembali'.

Kebangkitan kembali: untuk bertahan hidup, bahkan setelah dihancurkan.

"Igniculus, nyalakan apinya. Tiupkan kehidupan ke dalam api yang telah padam," ucap Aden. Itulah keahliannya: menempa kehidupan ke dalam logam dan meniupkan spirit ke dalam api.

Itu adalah mimpi yang sangat sentimental secara tak biasa.

Lalu mendadak, segalanya menggelap seolah-olah dipadamkan.

Di dalam hutan yang telah menjadi latar belakang bagi keluarganya dan Aden, abu hitam berkumpul, mengalir, dan menyatu, memenuhi pepohonan. Sinar matahari lenyap seolah-olah memudar.

"Anak terkutuk."

"Gara-gara dirimu, semua orang tewas."

Pengendalian emosi para Fairy mungkin terlihat mutlak bagi manusia, tetapi di antara para Fairy, bahkan kehalusan tone menyampaikan seluruh niat mereka.

Suara-suara itu datang dari dalam abu, penuh tudingan dan rasa dendam, merubah seluruh tanggung jawab ke atas bahunya.

Sinar belum melarikan diri dari kutukannya. Ia sekadar menahannya, menyadari bahwa ini adalah waktu untuk kesabaran.

Di hadapannya, ayahnya melangkah masuk untuk menghalangi jalan.

"Jika kau mau tewas, setidaknya berubah menjadi serbuk sari yang indah," ucap ayahnya.

Ibunya bergabung pula.

"Seperti kentang yang bertunas," sumpah ibunya.

Ibunya bahkan menyuarakan kata-kata yang kasar.

"Haruskah aku membakar mereka semua? Api bukan satu-satunya domain milik demon," Aden melangkah masuk pula.

Kakaknya berjongkok di depan Sinar, mengunci pandangannya.

"Bagaimana dengan pria itu?"

Bahkan Naira, yang sangat mahir menyembunyikan emosi, tak pernah melakukannya di sekitar Sinar.

Sebelum kematiannya, ia sering terlibat dalam percakapan biasa seperti ini. Rasanya seperti jenis obrolan biasa yang dimiliki saudara kandung.

"Keras kepala dan gila," sahut Sinar.

"Bagus, itulah jenis orang yang seharusnya baginya."

Dua bersaudara itu tertawa saat mereka berbicara. Kemudian mereka bangkit dan berdiri di hadapannya, menghalangi jalur rasa dendam dan kutukan.

Abu berkumpul dengan niat, berbicara dalam satu suara bersatu.

"Kutukan bagimu! Suarakan namaku! Kau tahu nama sejatiku, jadi panggillah!"

Dalam mimpi-mimpinya, Sinar selalu dikejar dan dikoyak. Namun sekarang, tak ada kebutuhan untuk hal itu.

Sinar menenangkan hatinya. Ia tak bisa menaklukkannya sekaligus, tetapi ia bisa memulai.

*'Jika kau berpikir ini sudah terlambat lalu berhenti, tak ada yang bakal pernah berubah. Enki, kau benar. Kata-katamu benar, dan aku menghormati tekadmu.'*

Dengan usaha besar, Sinar membuka mulutnya. Ia membutuhkan keberanian, jadi ia memanggilnya. Keberanian menjadi tekadnya, dan ia berbicara pada sang demon.

"Siapa kau, tadi?"

Itu adalah sebuah deklarasi atas niatnya untuk melupakan, kini saatnya telah tiba untuk melepaskan.

"Kutukan bagimu!" sang demon meraung, amarahnya meletup. Makhluk itu membakar hutan. Kobaran api raksasa memenuhi pandangannya.

Bekas luka bakar melapisi punggung dan arm milik Sinar, dan rasa sakit dari bekas luka itu kembali.

Keluarganya, yang berdiri untuk melindunginya, dilahap oleh kobaran api.

Baik Aden maupun saudara-saudaranya tak sanggup menghentikan api tersebut. Kobaran api melahap mimpi dan mulai melahap dirinya pula.

Di tengah neraka itu, secercah cahaya biru samar mulai muncul, memotong menembus api dan berdiri kokoh di hadapannya.

Mungkin berkat cahaya itu, ia merasakan hawa panas tetapi sanggup menahannya. Maka ia memutuskan—ia akan bertahan.

"Suatu hari nanti, Sinar, kau akan tersenyum kembali. Jangan lupa cara tersenyum untuk hari itu." Saat ia terbakar, ayahnya berbicara.

"Ya, Ayah, hari itu telah tiba."

Dengan senyuman memancar seindah bunga yang mekar, Sinar tertawa cerah.

Saat ia terbangun dari mimpi, ia merasakan kebasahan di sekitar matanya. Itu karena ia telah menangis dalam tidurnya.

"Ah, itu bukan mimpi yang buruk," ucapnya pada dirinya sendiri.

Dengan kata-kata itu, ia bangkit dari tempat tidurnya.

Saat berbagai pemikiran melintas menembus pikirannya, ia teringat mendengar sesuatu tentang Encrid yang memasuki mata air sebelum tidur.

Sinar melangkah keluar dari rumah kayunya.

Di luar, udaranya dingin, tetapi sinar mataharinya cerah dan lembut. Itu adalah jenis hari yang membuatnya ingin menceburkan diri ke dalam air.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.