Bab 592
Pria yang duduk di kursi melihat dua sosok berlutut dengan tenang di samping meja.
Mereka adalah orang-orang yang diikat tanpa tidur pada malam sebelumnya.
Keduanya menghindari kontak mata, menjaga kepala mereka tetap menunduk dan mata mereka berpindah secara gugup.
'Frog menangkap mereka. Dasar bodoh.'
Pria itu tidak sedang memperhatikan Encrid melainkan menatap Frog.
Sudah jelas kedua orang ini mengandalkan Frog untuk bertindak ugal-ugalan.
Mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang menyerang pada malam sebelumnya.
Mereka tidak memiliki gagasan tentang siapa yang mereka hadapi. Orang-orang yang terkurung dalam dunia kecil mereka sering kali gagal melihat gambaran yang lebih luas.
Cross Guard Guild terlalu sibuk dengan konflik internal.
Setiap orang disibukkan dengan keuntungan pribadi, mengabaikan dunia luar.
Bahkan ada rumor yang tersebar luas bahwa sang lord mencoba memisahkan diri dari Azpen.
Mungkinkah hal semacam itu terjadi? Siapa yang tahu. Itu hanya spekulasi tak berdasar.
Orang-orang ini seperti burung dan katak yang terperangkap dalam ruang kecil, buta terhadap apa pun di luar sana.
Apakah ini murni kebodohan, atau ada seseorang yang dengan sengaja merancang hal ini?
Encrid tidak peduli sedikit pun. Jika seseorang mendatangi dirinya, hanya tujuan mereka yang penting.
"Kau di sini untuk bertarung, kan?"
Encrid melirik ke arah dapur saat bertanya. Ini masih sebelum waktu sarapan.
Datang sebelum makanan disajikan membuat mereka tampak secara tidak biasa tekun.
Atau mungkin mereka datang langsung dari perjudian sepanjang malam.
Bau asap tembakau bercampur dengan bau busuk dari mulut mereka.
Menilai dari rambut mereka yang berminyak, mandi bukanlah hobi mereka.
Yang satu ini bahkan lebih buruk dari Dunbachel.
"Apa kau bergaya karena Katak itu?"
Pria yang berbau busuk itu berbicara, mengangkat tangan kirinya, dan seekor Frog melangkah masuk bertelanjang kaki dari luar.
"Kau belum membunuh mereka?"
Ujar Frog itu seketika.
Frog yang masuk memiliki mata merah yang aneh, yang tertuju pada Luagarne.
'Katak tidak memuaskan untuk ditebas.'
Pikiran itu melintas, tetapi pikiran sang Frog tetap tidak bisa diterka.
Terlepas dari kehadiran sang Frog, Encrid melanjutkan.
"Mari kita makan sarapan sebelum bertarung."
Ini adalah kebiasaan yang lahir dari berurusan dengan para Ferryman.
Untuk berkomunikasi dengan mereka, seseorang harus menyatakan niatnya secara jelas, tidak peduli apa yang dikatakan orang lain.
Encrid berharap memiliki waktu untuk merenung dan berlatih tentang apa yang telah dia pelajari dari sang Ferryman, tetapi hal itu terasa membosankan.
"Haruskah kita?"
Pria yang duduk itu berdiri. Wawasan Encrid memprediksi langkah berikutnya.
Pria itu bakal mendorong kursi ke samping dan menarik senjatanya untuk menusuk.
Pria di belakangnya, yang mengamati dengan tenang, telah bergeser sedikit ke samping, bersiap untuk serangan terkoordinasi.
Orang yang bergerak di luar garis pandang memiliki kapak yang sering digunakan tergantung di sabuknya.
Dia sudah menempatkan tangannya pada kapak saat menggerakkan kakinya.
Niatnya sudah jelas.
'Bagaimana aku harus merespons?'
Pertanyaan itu selesai secara instan di dalam pikirannya. Ini adalah orang-orang yang membunuh tanpa ragu.
Encrid memutuskan dia bahkan tidak perlu menarik salah satu dagger miliknya.
Itu adalah penilaian yang presisi.
Plak! Cing!
Pria di kursi mendorongnya ke samping dan menarik pedangnya untuk menusuk.
Secara bersamaan, orang yang memegang kapak mengayunkan senjatanya ke bawah dalam gerakan menebas.
Koordinasi yang lumayan, setidaknya.
Keterampilan penyergapan mereka tidak buruk, tetapi mereka tetap bukan tandingan bahkan untuk pelatihan dasar Pasukan Cadangan Border Guard.
'Merek bakal berkembang hanya dengan menyelesaikan latihan dasar.'
Dengan pikiran yang santai, Encrid bergerak.
Meskipun pergerakannya lebih lambat dari pergerakan mereka, kekuatan dan refleksnya yang unggul membuatnya tampak lebih cepat.
Dia merentangkan tangannya dan mencengkeram bilah pedang.
Perbedaan kekuatan terlihat jelas.
Satu orang memegang pedang dengan erat memakai kedua tangan, sementara Encrid mencengkeram bilahnya hanya dengan empat jari dan satu ibu jari.
Namun, pedang itu berakhir di tangan Encrid.
Dengan sedikit tarikan, pria pemegang pedang mengeluarkan lenguhan pendek saat senjatanya terenggut lepas.
Encrid kemudian menghantam kepala pria itu dengan pelindung tangan shortsword.
Brak!
Pelindung tangan menjadi senjata mematikan, menyisakan lubang di tengkorak pemiliknya.
Secara alami, tidak ada orang yang bisa bertahan hidup dengan lubang di kepalanya.
"Urgh."
Pria pemegang pedang itu jatuh ke samping sambil mengerang.
Temannya yang memegang kapak mengalami nasib serupa.
Saat tangan kiri Encrid merebut pedang, tangan kanannya mengambil kapak dan mengembalikannya kepada pemiliknya, menancapkannya ke dalam tengkoraknya alih-alih tangannya.
Keduanya tewas secara bersamaan, dan suara ambruknya mereka seolah-olah menjadi satu benturan, memamerkan efisiensi Encrid.
Darah mereka menggenang dan menyebar di lantai.
Sementara itu, Frog bermata merah juga telah bergerak.
Namun, Frog ini telah lama melupakan bakat alaminya, terkonsumsi oleh kehausan akan darah.
Dia adalah seekor Frog gila, menikmati sensasi menebas dan memotong.
Frog yang merosot moralnya semacam ini bukan tidak pernah terdengar.
Korupsi tidak mengenal batas.
Luagarne menyadari senjata yang ditarik oleh sang Frog—sebuah Loop Sword.
Bilah senjatanya pendek tetapi bergerigi seperti gergaji.
Grrrrr!
Senjata itu mengeluarkan suara yang tidak menyenangkan saat meluncur keluar dari sarung kulitnya.
Senjata ini murni untuk kepuasan memotong daging.
Sang Frog menghentakkan kaki ke lantai kedai dengan bunyi nyaring, menerbangkan serpihan kayu ke udara saat menerjang Luagarne.
Niatnya jelas: memangkas jarak dan memotong Luagarne di bagian mana pun yang dia bisa.
Sang Frog percaya keunggulannya terletak pada menyerang lawan yang sedang duduk.
Luagarne, yang masih duduk, membaca trayektori sang Frog dan menarik cambuknya.
Cambuk itu membelah udara dan melilit leher sang Frog.
Momentum serbuannya terhenti.
Grrrk!
Bahkan dengan cambuk di lehernya, Frog bermata merah hanya mengembungkan pipinya.
Saat cambuk mengencang, sang Frog berhenti dan mencengkeramnya dengan tangannya yang bebas.
Cambuk berduri itu menggigit telapak tangannya, mengucurkan darah.
Namun sang Frog mengabaikan rasa sakit dan menarik, mengerahkan tenaga melawan cambuk.
Para Frog membanggakan kekuatan mereka, percaya diri sanggup meremukkan kaitan semacam itu.
Diberi waktu, itu bukannya tidak mungkin.
Namun secara alami, harapannya pupus.
Saat dia berjuang, Luagarne menggeledah dirinya ke depan dengan dorongan tendangan.
Kursinya tumbang ke belakang dengan dentuman pelan.
Pergerakannya mulus berbanding terbalik dengan kehancuran yang ditinggalkan sang Frog.
Di antara kedua Frog berdiri sebuah pilar penyangga.
Pura-pura bergerak ke kiri, Luagarne melesat ke kanan dan menusukkan pedangnya.
Tipuan sederhana, namun merupakan gerakan seorang veteran.
Frog bermata merah mengayun untuk memblokir ke kiri, hanya untuk meleset.
Loop Sword milik Luagarne menembus abdomennya.
Dia menarik bilah senjata ke atas, memotong daging dan tulang rusuk untuk mencapai jantung.
Krak!
Zirah dadanya terbelah di bawah tekanan bilah senjata.
Seekor Frog yang nekad, dia tidak memiliki zirah untuk melindungi abdomennya.
Pelindung dadanya, yang kokoh menghadapi serangan dari depan, gagal melindungi dari tebasan ke atas ini.
"Guh!"
Dengan jeritan dari dalam tenggorokan, lidah sang Frog terjulur saat darah mengucur dari mulutnya.
Jantungnya terbelah, menyebabkan darah menyembur keluar.
Luagarne menyeka darah dari bilah senjatanya memakai pakaian sang Frog.
Dari mana datangnya Frog yang begitu bobrok ini?
Pasti terbawa arus ke dalam kota, tertarik oleh atmosfernya yang membusuk.
Daging busuk menarik lalat.
Bagaimanapun, membelah jantung tidak meninggalkan rasa puas.
"Kacau sekali."
Komentar Luagarne.
Frasa yang tadi malam merujuk pada rasa air, kini berlaku untuk seluruh kota.
Encrid setuju.
"Bersihkan ini."
Atas perintah Encrid, dua anggota Awl Brotherhood, yang kini bertugas sebagai pembersih, bergerak cepat.
Mereka membuang mayat-mayat itu dan menggosok lantai dengan air, tetapi aroma darah justru makin kuat.
Selama proses ini, seorang pelayan yang terkejut menyajikan makanan dengan wajah pucat pasi.
Bahkan di tengah kematian, seseorang harus makan dalam perang.
Mengapa hal ini harus berbeda?
Encrid mencelupkan roti putih ke dalam puree yang terbuat dari kacang-kacangan tetapi berhenti saat menyadari bibir bergetar dari anak kecil berwajah pucat.
Anak itu sepertinya punya banyak hal untuk dikatakan, jadi Encrid mencermatinya dari kepala hingga ujung kaki.
Dalam hitungan detik, dia memetik banyak hal tentang bocah itu.
Apa yang tampak sepele bagi sebagian besar orang terlihat sangat jelas bagi Encrid.
Sekilas rasa cemas yang melintas, tarikan mundur yang halus, warna kulit yang berbeda dari saat disarankan untuk lari sebelumnya.
Ketika Encrid terus mengamatinya dalam diam, bocah itu berubah pucat bagai abu.
"Tolong ampuni saya."
Bocah itu berbisik, permohonan itu ditujukan untuk Encrid.
Kenapa? Kemungkinan karena dia telah mengotak-atik makanan tersebut.
Melihat penggunaan racun tidur, bisa jadi ada juga racun mematikan.
"Aku yang melakukannya. Bunuh aku saja."
Pemilik penginapan membuka suara, melangkah maju dengan tangan kosong.
Mungkinkah mereka ayah dan anak?
Encrid merenung sambil mengamati bocah dan pemilik penginapan yang ketakutan.
'Mereka cepat dalam menyusun rencana.'
Kapan seseorang memaksa mereka untuk meracuni makanan?
Kekacauan itu baru terjadi tadi malam.
Dalam kurun waktu satu malam saja, sudah ada dua penyergapan, dan kini makanan beracun muncul.
Keramahan ini rasanya terlampau berlebihan.
Atau apakah mereka telah menyiapkan ini sebelumnya?
Encrid merasa seolah mata berniat jahat sedang memperhatikannya dari balik semua rencana ini.
Saat pikiran itu melintas, dia benar-benar merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengamatinya.
Percaya pada instingnya, Encrid melemparkan garpu di tangannya.
Tus!
Dengan suara denting, garpu itu terbang dan menancap di sudut gelap dinding penginapan, bergetar sedikit.
Pemilik penginapan memejamkan mata dan menarik anak itu ke dalam pelukannya.
Bulir-bulir keringat bergulir di dahi dan wajahnya, menyingkap ketegangannya.
"Apa yang kau lakukan mendadak begitu?"
Tanya Luagarne.
"Aku pikir ada sesuatu di sana."
Encrid melirik lagi ke dinding tempat garpu menancap.
Tidak ada apa-apa di sana.
Sementara itu, anak itu tampak makin ketakutan.
Pemilik penginapan tidak jauh berbeda.
Encrid berdiri dan menepuk pelan kepala anak itu sebelum berbicara.
"Tidak bakal ada apa-apa yang terjadi. Aku ragu kau bakal menjawab jika aku bertanya siapa yang menyuruhmu melakukan ini."
Jika Criminal Guild telah memaksa mereka, mereka bakal takut akan balasan.
Tidak ada gunanya menekan mereka lebih jauh.
Ada mereka yang mengotak-atik makanan, mereka yang merusak susunan tempat tidur, dan mereka yang mengirim pembunuh serta para Frog untuk menguji kemampuan seseorang.
Apa yang menunggu di luar penginapan?
Peluang untuk menemui skenario trik lainnya sangat tinggi.
Kemungkinan sesuatu yang lebih licik dari sebelumnya.
"Jika kau bertarung di kota, peluang berjalan ke dalam jebakan sangat tinggi."
Luagarne berbicara seolah-olah dia bisa membaca pikiran Encrid.
Katak ini juga tidak kurang pengalaman jika menyangkut menjelajahi benua.
Menilai dari situasinya, Luagarne tahu semua yang perlu dia ketahui.
"Ini mungkin membutuhkan pembersihan total."
Encrid merespons, tidak terlalu khawatir dengan bahaya yang diisyaratkan Luagarne.
Mereka berangkat untuk menangkap anggota sekte, hanya untuk menemukan sampah menumpuk di depan mereka.
Saat Encrid bersiap untuk pergi, pintu penginapan terbuka dengan derit kencang.
Itu adalah administrator, didampingi oleh dua pengawal lebih banyak dari hari sebelumnya.
"Aku mendengar kalian diserang tadi malam. Dasar orang-orang bodoh."
Administrator tampak terburu-buru namun tenang, sekaligus gelisah, sikap yang terasa canggung bagi Encrid.
"Aku minta maaf atas kekacauan dalam keamanan kota, ini semua adalah kesalahan Cult of the Demon Realm Sanctuary."
Administrator mengulangi perbuatannya.
Sebelum kedatangan administrator, Encrid merasakan sensasi diamati oleh sesuatu yang buruk.
Anehnya, perasaan itu sirna pada momen administrator melangkah masuk.
Hal itu terasa unik.
"Tangkap keduanya."
Administrator memerintah, dan dua prajurit bersenjata mencengkeram dua anggota serikat yang berubah menjadi pembersih.
"Kalian bakal digantung."
Administrator menyatakan dengan dingin saat melewati keduanya.
"Kau berinformasi dengan baik."
Encrid akhirnya berbicara, bertanya bagaimana mereka mengetahui insiden tersebut.
"Beberapa prajurit mengamati. Aku menyuruh mereka segera melapor, tapi... desah, aku minta maaf sekali lagi. Memalukan bahwa insiden seperti ini terjadi meskipun ada keterlibatan pribadiku."
Administrator berbicara seolah-olah benar-benar menyesal.
Encrid mengangguk.
Dia tidak repot-repot menunjukkan bahwa Criminal Guild tampaknya menganggap administrator sebagai orang bodoh.
"Sepertinya situasi menjadi rumit. Aku bakal mengawal kalian ke manor."
Sebelum Encrid bisa merespons penawaran administrator—
"Tidak, kau harus ikut bersamaku."
Suara yang berbeda menyela dari luar pintu.











