Eternally Regressing Knight

Bab 578: Pesan Terakhir yang Konyol dan Eksekusi Alma

1978 Kata

Bab 578: Pesan Terakhir yang Konyol dan Eksekusi Alma

Encrid mendekat ke samping Audin. Darah menetes turun dari mata, hidung, dan telinga Audin.

Encrid teringat momen saat Audin—diselubungi oleh sorot cahaya benderang—berhadapan bersama kematian.

Ia teringat saat Audin mendadak muncul dari belakang untuk berhadapan dengan seorang duke.

Ia teringat Audin mengajarinya Technique of Isolation.

Ia teringat Audin berdoa demi dirinya.

Encrid mengingat kembali masa lalu yang sempat dibagikan Audin padanya.

Dihantui oleh rasa bersalah?

Mungkinkah sosok raksasa bersanubari ramah ini sungguh-sungguh layak disalahkan? Sungguh-sungguh layak?

Tangan Audin gemetar sekali lagi, dan darah memancar dari sudut mulutnya.

Ia sedang sekarat. Siapa pun sanggup menyaksikannya.

"Beri tahu aku apa yang kauinginkan. Aku bakal menanggungnya menggantikan posisimu."

Pria ini dulu adalah mentor Encrid, dan Encrid berniat meneruskan ketetapan hatinya.

Audin menatap ke arahnya lewat sebuah senyuman. Bahkan selagi berdarah, ia sanggup tersenyum secara baik.

"Apakah kau mendambakan untuk meruntuhkan segalanya? Apakah kau mendambakan untuk memotong bagian yang terkorupsi? Apakah kau mendambakan agar Ordo melangkah di rute yang benar? Aku bakal mewujudkannya."

Demi sosok Audin yang diingatnya, ya, Encrid bahkan bersedia menarikan tarian mata bilah.

Audin tak sekadar menyaksikan kematiannya sendiri, melepaskan pancaran divinitas miliknya, Encrid dipastikan sanggup melancarkan hal yang sama untuknya.

"Jadi, bicaralah."

Audin masih memperlihatkan ekspresi tersenyum. Bibirnya merenggang membentuk senyuman.

"Tolong hukum mereka yang mengantongi divinitas terkorupsi. Baik mereka para Holy Knights, Crusaders, maupun para pendeta, jika mereka menempuh rute yang keliru, hukum mereka. Jangan biarkan mereka menakut-nakuti masyarakat lewat cara melempar label heretik. Tolong anugerahkan kedamaian di hati mereka yang sungguh-sungguh percaya. Jadikan Ordo sebagai pihak yang membantu kaum miskin dan mereka yang tertindas."

Mungkin itulah yang sungguh-sungguh menjadi harapan terdalam Audin.

Ia jeda sejenak, lalu bersuara lagi.

"Abaikan apa yang sudah kuutarakan sejauh ini. Dan, mengenai apa yang kau—Komandanku—dambakan, wujudkanlah impianmu. Itulah apa yang sungguh-sungguh aku dambakan."

Audin tidak memindahkan tugas dan tanggung jawabnya. Ia memejamkan sepasang matanya.

Dan kemudian.

Sring.

Ia membuka sepasang matanya kembali, seolah ia mengantongi penyesalan yang tertinggal.

"Ah, beri tahu Saudara Barbar dan saudara-saudara lainnya bahwa aku bakal memberi mereka latihan tambahan jika kita bertatap muka di alam baka."

Jika ini adalah pesan terakhirnya, ini bakal menjadi pesan yang teramat menghibur.

"Aku bakal memberi tahu mereka."

"Beri tahu Saudari Teresa untuk terus melangkah maju dalam iman."

"Pasti."

"Dan saat Saudari Dunbachel kembali, jangan terlalu sering mengomelinya soal mandi. Jujur saja, ia tidak sebau itu, bukan?"

"Ada sedikit aroma pengap."

"Jangan biarkan Saudara Shepherd menegur orang lain karena kekurangan bakat. Hal itu tak akan baik baginya pula."

Mendengarkan kalimat-kalimat Audin, Encrid sanggup menangkap betapa ia memedulikan orang-orang di sekelilingnya.

Encrid secara tenang menunggu kematian mentornya, rekannya, jantung dari ordonya.

Pertarungan untuk menghormatinya bakal berlangsung secara sengit.

Bahkan sekiranya ia harus membakar habis seluruh jajaran Ordo, ia bakal mewujudkan ketetapan hati Audin.

Itu juga bagaimana Encrid bakal menggapai impian pribadinya sendiri.

Saat Audin berlalu tewas, ia bakal mengumumkan di sini dan pada akhirnya memperlihatkannya lewat tindakan nyata.

Maka sebab itulah, ia menunggu.

"Cuacanya bagus."

"Ini musim gugur."

"Saat musim dingin tiba, ambil kulit hewan penghangat milik Saudara Rem lalu sembunyikan untuk sementara waktu. Itu bakal menghibur."

"Itu agak keterlaluan untuk sebuah lelucon."

Rem sangat membenci dingin secara ekstrem.

Jika seseorang mengusulkan perjalanan ke pegunungan saat musim dingin, ia kemungkinan besar bakal mengayunkan kapak terlebih dahulu.

"Saudara Ragna tak akan pernah menemukan rutenya secara tepat, bukan?"

"Itu agak terlalu berlebihan untuk diminta."

Audin berlutut di atas kedua lututnya, kedua tangannya terkatup dalam doa.

Apakah ini akhir yang sebenarnya?

Ia mulai berdoa. Sebuah doa tanpa suara, bergumam dari dalam hatinya.

Mungkin ia sedang meminta Bapanya untuk datang menyambutnya.

Usai doa singkat, Audin bersuara.

"Rasanya sakit."

"Sudah sewajarnya."

Encrid tetap bertahan di sampingnya hingga akhir.

"Hah."

Audin mengembuskan napas. Encrid mengedipkan matanya beberapa kali.

Namun ia berpikir Audin terlalu banyak bicara untuk seseorang yang berada di ambang kematian.

Apakah ini pemikiran yang tak sopan?

Memikirkan hal-hal semacam itu selagi mentornya, rekannya, sedang melangkah menuju kematian?

Meski begitu, hal ini terasa agak berlebihan.

Sementara itu, Shinar mendekat lalu bersuara.

"Bukankah dia terlihat agak terlalu baik-baik saja?"

Semua orang menatap ke arah mereka berdua, terperanjat linglung.

Pemandangan Audin yang sedang meledak dalam perpisahan dan Encrid yang mengawasinya terlihat teramat memilukan dan penuh kekhidmatan, dan Encrid secara praktis telah memperjelas lewat posturnya.

Ia tampak bersiap tidak mengampuni siapa pun yang berani mencampuri urusan ini.

Bahkan Shilma—yang nyaris separuh gila—tak berani bersuara lebih jauh.

Namun,

"Hmm."

Audin mengangkat telapak tangannya untuk mengusap sepasang matanya. Meski tetesan air mata darah sempat mengalir, cairan itu telah terhenti saat ini.

Seluruh fisiknya terasa pegal, tetapi ia tak merasa seperti sedang melangkah menuju kematian. Gemetar di tangannya telah terhenti.

Terlebih lagi, rasa lelah yang dirasakannya akibat dampak melepaskan pendar divinitas kini surut secara tipis, mengembalikan sekelumit kekuatan ke dalam fisiknya.

Ia tak sanggup memanggil pendar divinitas seperti beberapa saat lalu, tetapi ia tak merasa seolah bakal tewas.

Usai mengepalkan dan merenggangkan kedua tangannya beberapa kali, ia yakin.

Keahlian regenerasi fisiknya tampaknya sedang bekerja, dan fisiknya secara bertahap memulihkan diri.

Meski tidak berada di tingkatan keahlian regenerasi fisik milik Frokk, luka-lukanya kemungkinan besar bakal sembuh.

"Hmm."

Audin mengeluarkan erangan pelan lainnya.

'Kenapa aku masih bernapas?'

Pasti ada alasannya.

Saat ia melepaskan pembatasan, ia telah menerima kematian murni.

Meski itu adalah pembatasan yang dipasangnya sendiri, usai sekian lama, jika ia sungguh-sungguh berniat melepaskannya, ia seharusnya mengupasnya secara bertahap, mengelupasnya lapis demi lapis.

Merobeknya secara nekat seharusnya merusak fisiknya secara dahsyat.

Ia seharusnya kehilangan setidaknya separuh dari fungsi fisiknya akibat dampak serangan balik, bahkan sekiranya hal itu tak mencabut nyawanya.

"Huu."

Audin menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya.

Meski merasakan ketidaknyamanan tipis, ia sanggup bernapas secara baik, artinya paru-parunya utuh.

Perutnya berdenyut, tetapi ia tak merasa seperti bakal kehilangan kendali atas otot-ototnya.

Jadi, ia baik-baik saja.

Apakah ada hal yang berbeda?

Tangan Audin secara naluriah mengarah ke pinggangnya, dan di sanalah alasannya bersemayam.

Senjata 'Counterfeit Relic'.

Itu adalah sesuatu yang diboyong Encrid dari kawasan barat. Seiring berjalannya waktu, Audin telah bekerja untuk memurnikan kutukan yang diusungnya.

Hanya ada satu cara untuk menjalankannya.

Ia memindahkan sebagian dari kutukan ke dalam fisiknya sendiri untuk membakarnya lesap.

Itu menuntut menahan rasa sakit luar biasa dari membakar fisiknya, tetapi ia tak bisa mengirimkannya kembali ke jajaran Ordo, jadi Audin telah memikulnya sebagai aksi penebusan dosa.

Dan dalam prosesnya, relik tersebut telah menyerap sebagian dari energi divinitas miliknya.

Saat ia melepaskan energi divinitasnya tadi, relik ini telah menyerap sebagian dari tekanan pada fisiknya.

Dampaknya teramat minimal.

Benda itu sekadar membantu sedikit, tetapi itu sudah lebih dari cukup. Fisik kokoh Audin sanggup menangani sisa beban yang tersisa.

Apakah ini sebuah takdir atau kebetulan murni?

"Apa pun yang kauberikan, itu bakal kembali padamu. Keberuntungan kembali dari apa yang kaumulai."

Meminjam kalimat-kalimat dari Dewi Keberuntungan, tampaknya seperti inilah kasusnya.

Audin merasa teramat sangat malu. Ia mengira bakal tewas, tetapi ia terlalu baik-baik saja untuk hal tersebut.

Ia merasakan pengamatan mata biru Encrid jatuh di atas wajahnya.

"Ehem." Audin berdehem canggung.

Namun pengamatan mata itu tetap bertahan.

Tampaknya ia harus bersuara secara tepat.

"Yah, aku bakal menangani urusan bersama Ordo secara pribadi."

Encrid terus menatap ke arahnya.

"Tak perlu menunda latihan Saudara Rem dan yang lainnya."

"Ah, jadi kau hidup ya?" tanya Encrid, mempertahankan raut wajah mendatar.

Audin tersenyum lebar. Karena malu, ia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

Encrid menatap Audin sejenak sebelum mengangguk. Jujur saja, ia teramat sangat lega bahwa Audin masih bernapas di sini.

Ini bisa dijuluki sebuah belokan konyol, tetapi sanggup menyuarakan hal ini memberinya kebahagiaan dahsyat.

"Jangan membantai semua orang di dalam Ordo hingga tewas."

Menimbang pendar divinitas yang disaksikannya beberapa saat lalu, Encrid mengira sebagian besar pendeta tak akan sanggup menahan satu tepukan ringan saja tanpa kepala mereka meletus.

"Tentu saja tidak."

"Saudara Alma!" mendadak Shilma berteriak kencang.

Momen saat adegan konyol bergeser kembali menjadi pergerakan pertempuran.

Alma melirik sekilas ke sekeliling sebelum mengangkat palu perangnya tinggi-tinggi, tampaknya telah menetapkan hatinya.

"Seluruhnya demi kejayaan Ordo."

Ia pernah memberikan satu cincin pada masing-masing dari kedua muridnya.

Cincin itu bertentangan bersama divinitas—sesuatu yang ditempah oleh seekor demon.

Kenapa ia secara rahasia menganugerahkan sesuatu yang diraihnya dari Demon Realm pada para muridnya?

Ada alasannya.

Cincin yang dikenakan murid-muridnya sanggup secara cepat menyerap daya hidup mereka dan mengalirkannya ke cincin milik Alma.

Lewat cara ini, Alma sanggup melampaui batasannya untuk sementara waktu.

Insiden serupa pernah meletus saat kedua muridnya menghilang sebelumnya.

Itu adalah cara meminjam kekuatan murni.

Alasannya?

Alma bukannya terdesak akibat berputus asa atas batasan bakatnya. Ia sekadar memilih rute yang lebih praktis.

Itulah cara hidup Alma. Ia selalu memilih rute kemudahan dan kenyamanan.

Ia hidup sebaliknya dari mereka yang memilih rute penderitaan. Sebab itulah, divinitas miliknya perlahan kehilangan kilaunya.

Sebab itulah ia—seorang Crusader di tingkatan Junior-Knight—mengambil tugas-tugas rendahan semacam ini.

"Hah?"

"Apa?!"

Kedua muridnya melontarkan jeritan ketakutan.

"Aaaah!"

Jeritan itu dilapisi rasa sakit yang teramat sengit.

Encrid memalingkan pengamatannya dari Audin ke arah Alma.

Energi iblis yang menyelubunginya terlihat jelas. Ini bukan pertama kalinya ia berhadapan bersama kekuatan semacam ini. Tak ada alasan untuk terkejut.

Ia pernah menyaksikan sesuatu yang serupa dari Count Molsen. Maka sebuah pemikiran melintas di benaknya:

Apakah bermain-main bersama kekuatan iblis sedang menjadi tren belakangan ini?

Apakah ini pemikiran yang santai?

Mungkin saja, tetapi itu tak terhindarkan.

Dibandingkan bersama kekuatan iblis yang disaksikannya sebelumnya, ini terasa kurang.

Kedua murid Alma layu dan mengkerut, berubah rapuh bagaikan kayu kering.

Sepasang mata mereka kehilangan cahaya, dan mereka meremuk jatuh ke atas tanah.

Jeritan mereka adalah kalimat-kalimat terakhir mereka.

Bersama para muridnya yang tumbang di belakangnya, Alma bersuara, tidak menyisakan satu lirikan pun untuk mereka.

Ia sekadar memikirkan dirinya sendiri.

"Bisakah kau menahan kekuatan seorang Knight dalam kondisimu yang lelah?"

Cahaya yang dipancarkannya sungguh-sungguh keruh. Redup, bersama bintik-bintik hitam melayang di sekeliling.

Itu adalah harga dari menjual jiwanya pada seekor demon.

Apa pun metode yang dimanfaatkannya untuk menyerap daya hidup murid-muridnya, inilah hasilnya.

Dan Encrid—meski lelah dan terluka—tahu tak akan menderita kekalahan dari seorang pseudo-Knight semacam ini.

Belum lagi Shinar masih berada dalam kondisi yang teramat baik.

Jika Overdeer mencampuri urusan, itu mungkin jadi masalah, tetapi—

"Betapa memilukannya." Overdeer menggelengkan kepalanya.

Dan ia tidak berhenti di sana.

"Mundurlah." Ia menambahkan satu perintah lagi.

Encrid mengira ia menyuruh Alma untuk mundur, tetapi bukan itu kasusnya.

Sebagai tanggapan, Inquisitor Bert bergeser ke samping seolah melarikan diri.

Shilma—yang mengetahui rahasia Alma—tidak terkejut.

Ia percaya bahwa bahkan kekuatan iblis sekalipun, jika dimanfaatkan demi tujuan yang benar, adalah hal yang sah.

"Orang-orang bodoh."

Nada suara Overdeer bergeser, berbeda dari sebelumnya.

Tata bahasanya yang biasanya sopan berubah menjadi agak santai.

Ia mengangkat kedua tongkat besinya. Arahnya teramat jelas. Itu adalah kebalikan dari apa yang dilakukannya sebelumnya.

Encrid menyaksikan secara tenang, merasa dorongan untuk menambahkan satu komentar. Ia tak bisa menahannya.

"Hei, Count Molsen sudah pernah mencoba hal itu."

Ia bermaksud bahwa ia telah berhadapan bersama pseudo-Knight yang berakting seperti ini sebelumnya.

Tentu saja Crusader Alma tak akan tahu siapa Count Molsen itu.

"Apa yang kau bicarakan?!" teriak Alma, suaranya sengit.

Itu sanggup dipahami. Bersama kekuasaan baru yang luar biasa ini, seseorang mungkin merasa sanggup melancarkan apa pun.

Itu sekadar perasaan belaka, bagaimanapun. Sekadar perasaan.

Meski menerima hantaman dari Audin, pria tua berusia seratus tahun itu mengangkat tongkat besinya.

"Kau seharusnya tetap menjadi seorang martir."

Itu adalah pernyataan yang pahit.

Singkatnya, kepala Alma meremuk hanya dalam dua kali tebasan tongkat besi.

Shilma mencoba menyembunyikan dirinya lewat sihir divinitas, tetapi pedang berdaya energi milik Shinar memotong kakinya.

"Terima kasih, Peri muda."

Pria tua itu—lewat nada yang berubah—memberikan ucapan terima kasihnya.

"Usia saya seratus empat puluh delapan tahun, manusia muda," sahut Shinar, dan itulah akhir dari pertempuran ini. Situasi telah dituntaskan.

"Lord Overdeer."

Hanya satu orang yang tersisa: Bert.

"Saya rasa kita perlu berbicara."

Pria tua itu—sejenak terperanjat oleh usia Shinar—bersuara selagi mengusap darah dan cairan otak milik pseudo-Knight Alma dari jubah bertarungnya.

Encrid menatap pria tua itu, yang meski tidak memperlihatkan permusuhan terbuka, telah memperlihatkan bahwa ia bersiap bertarung bersama mereka semua sekiranya dibutuhkan.

Tus.

Tetesan air hujan mulai jatuh. Atmosfer di sekeliling sang Holy Knight Overdeer bergeser seutuhnya.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.