Eternally Regressing Knight

Bab 531: Tidak Semua Ksatria Sama

2363 Kata

Bab 531: Tidak Semua Ksatria Sama

"……Membunuh atau tidak membunuh, itulah pertanyaannya."

Pria itu sempat ragu sejenak sebelum bersuara dengan nada puitis yang sama seperti sebelumnya.

Ksatria Azpen itu memiliki rambut ikal gelap yang tebal, hidung mancung, serta lekuk mata yang sedikit melesak ke dalam, memberinya tatapan tajam nan dalam.

Secara keseluruhan, parasnya lumayan tampan.

Tentu tak setampan Encrid atau Krais, tapi tetap saja terhitung menarik.

Namun, tak peduli seberapa tampan wajahnya, Rem sudah memutuskan untuk mengejek si dungu ini.

"Hah? Apa? Aku tak begitu mendengarmu. Suaramu mirip orang yang habis bergumul sama ghoul."

Kata 'bergumul' di sini merujuk pada persetubuhan hewan jantan dan betina.

Ghoul tidak memiliki organ reproduksi, jadi hal semacam itu jelas tidak mungkin terjadi. Lagipula, jangankan ghoul, tidak ada manusia berakal sehat yang sudi melakukannya dengan makhluk busuk seperti itu.

Singkatnya, hinaan ini jauh lebih kasar ketimbang sekadar bertanya apakah ibunya seorang ghoul.

"Apa?"

"Selera seksualmu aneh juga, Bajingan."

"Kau bicara apa?"

"Hah? Tak dengar? Telingamu tuli? K-A-U B-E-R-G-U-M-U-L S-A-M-A G-H-O-U-L, B-A-J-I-N-G-A-N."

Rem mengeja tiap suku kata dengan sangat ramah. Pria di hadapannya sampai melongo kebingungan mendengarkan ejaan tersebut.

*'Apa yang baru saja dikatakan si barbar gila ini?'*

Tak butuh waktu lama sampai makna ucapan itu meresap ke dalam otak pria tersebut.

Selama ini ia sangat percaya diri dengan ketampanannya. Ia selalu membanggakan sorot matanya yang melankolis serta kemampuannya mendeklamasikan puisi.

Tentu saja, semua itu cuma gaya-gayaan.

Mendengar ocehan Rem, ksatria Kerajaan Azpen yang sangat ingin dijuluki *'Ksatria Pemetik Puisi'* itu merasakan urat di dahinya menonjol tebal.

Urat itu begitu menonjol hingga rasanya hampir meletup.

Karena ia tak memakai helm, tonjolan urat itu terlihat sangat jelas.

"Jangan terpengaruh oleh ucapan orang gila," celetuk pria bermata merah di belakangnya.

"Uuuu, dia beneran bergumul sama ghoul! Aku yakin dia beneran melakukannya!"

Rem benar-benar kekanak-kanakan.

Ia menjulurkan lidah dan asal mengoceh seenak jidat.

Ksatria Azpen itu tahu betul bahwa ejekan ini sangat childish.

Ia juga tahu seharusnya ia mengabaikannya.

Masalahnya, aura yang dipancarkan pria yang mengejeknya ini terlampau besar. Ditambah lagi, sikapnya benar-benar santai tanpa beban.

Meski sudah dikepung pembunuh gelap dari Monter's Marsh dan berhadapan langsung dengan ksatria Azpen, tubuhnya sedikit pun tak tegang.

Bahkan di tengah situasi terdesak ini, ia sempat-sempatnya mengorek hidung.

Segala hal tentang pria barbar ini—kata-katanya, sikapnya, penampilannya—benar-benar memancing emosi.

"Paham, kan?" tanya Rem sembari tersenyum miring.

Ksatria berambut gelap yang melangkah maju itu bertekad akan merobek mulut bajingan ini dengan tangannya sendiri.

"Mulutmu benar-benar busuk, Barbar."

Apakah pernah ada orang yang memandangnya serendah ini sebelumnya?

Mungkin pernah disinggung, tapi baru kali ini ada yang menghinanya sampai setingkat ini.

*'Hinaan itu telah membangunkan iblis yang tertidur di dalam diriku.'*

Itulah yang dipikirkan pria itu.

Sebagai ksatria baru Azpen, kedalaman mentalnya sebenarnya belum teruji betul.

Bagaimana bisa teruji?

Sejak lahir, ia tak pernah sekalipun dikalahkan atau dilampaui oleh siapa pun.

Ia terlahir dengan bakat luar biasa, didukung kerja keras, serta lingkungan keluarga yang sangat menguntungkan.

Ia adalah sang jenius yang lahir dari keluarga Ekkins—Cowin Ekkins namanya.

Tangannya meletakkan jemari di gagang pedang.

*Ting!*—Bilah pedang tercabut, memantulkan berkas cahaya di sekitarnya.

Cowin menamai pedangnya *Fate*.

Artinya, 'takdir yang sudah ditentukan'.

"Wahai barbar yang tak paham irama maupun romansa, akan kucabut nyawamu."

Sejak kecil, Cowin dikaruniai bakat untuk mengintip masa depan. Ia mampu melihat arah serangan lawan dan memprediksi pergerakan mereka berikutnya.

Karena itulah ia menyandang Fate—pedang yang menentukan takdir orang lain.

Karena selalu menang dalam setiap pertarungan hidup dan mati, ia sangat percaya diri dengan pedang serta kemampuannya.

Cowin kembali berucap bak penyair, sementara Rem yang sedang mengorek telinga langsung membalas santai.

"Terserahmulah, Bajingan pencinta ghoul. Coba saja kalau bisa."

"……Kan sudah kubilang, jangan gubris dia," timpal pria bermata merah dari belakang.

Dalam adu mulut ini, Rem menang mutlak.

Saat urat dahi Cowin makin menonjol dan ujung pedangnya mengarah ke depan memancarkan tekanan, Rem hanya mengangkat bahu, mengibaskan tekanan itu begitu saja.

Di saat bersamaan, pria bermata merah yang berdiri dua langkah di belakang Cowin menancapkan ujung kakinya ke tanah lalu menyepaknya ke depan.

*PAK!* Gumpalan tanah melesat deras menembus udara menuju wajah Rem.

Rem menarik dagunya ke dalam sembari menaikkan kedua lengan untuk menepis debu tanah.

Semua gerakan itu terjadi dalam sekejap mata, mengalir sangat cepat.

Di celah sempit itu, salah seorang pembunuh dari Monter's Marsh meniup pipa beracunnya.

Itu adalah taktik yang sudah mereka rencanakan.

Suara galian tanah dan gangguan tekanan sengaja diciptakan untuk mengalihkan perhatian. Di tengah celah tersebut, sebuah jarum tanpa suara melesat tajam.

Namun, Rem dengan santai mengibaskan tangan kirinya yang berada di udara.

Tangannya bergerak dua kali—ke atas dan ke bawah—begitu cepat hingga tak terlihat oleh mata biasa.

*Wus!*

Cakupan angin dari kibasan tangannya membuat jarum beracun itu kehilangan arah dan jatuh ke tanah.

Bersamaan dengan itu, terdengar gesekan samar saat jala berbeban berat jatuh dari atas kepala Rem, sementara sebilah belati meluncur dari bawah selangkangannya.

Pembunuh Monter's Marsh memanfaatkan celah pertahanan targetnya.

Tentu saja, celah itu sengaja Rem siapkan.

Rem sempat bergeming sesaat. Lalu, sebilah kapak besar tiba-tiba sudah berada di genggamannya. Ia menyeringai lebar.

Di mata Cowin Ekkins, seluruh pergerakan itu terekam perlahan di dalam benaknya.

*PUK!*

Kapak besar itu bergerak.

*Bruk! Brik! Hantam!*

Kapak Rem berayun tanpa henti, menunjukkan fungsi sejati dari senjata brutal tersebut.

Mengikuti ayunan kapak, garis-garis merah terukir di udara.

Pemandangan itu mirip seperti buah yang dihancurkan dengan tangan telanjang.

Rem tidak repot-repot menebas dengan mata kapaknya; ia mengayunkannya begitu brutal hingga menghancurkan apa saja yang dilewatinya.

Kepala tujuh pembunuh gelap yang menerjang langsung terbelah, pecah, dan hancur berantakan.

Jala berat di udara pun robek menjadi enam bagian dan melayang tak berdaya.

Semua pembantaian itu terjadi hanya dalam satu hembusan napas.

"……Hamba memohon, biarlah kehendak-Mu bersemayam di dalam raga ini."

Melihat kebuasan Rem, pria bermata merah mulai merapalkan sihir.

Itu adalah sihir kesurupan roh.

Jiwa lain merasuk ke dalam tubuhnya.

Pria bermata merah itu gemetar hebat saat kehendak makhluk lain mendiami raganya. Matanya terpejam dan liurnya menetes.

Namun, saat matanya kembali terbuka, auranya berubah drastis, memancarkan keberadaan yang jauh lebih mengerikan.

Itu adalah seni rahasia menampung jiwa makhluk iblis—kaum bangsawan di antara para monster.

Dengan cara ini, melalui metode yang jauh lebih halus ketimbang Count Molsen, ia berhasil meminjam kekuatan untuk mencapai taraf seorang ksatria.

Usai membantai gerombolan pembunuh pertama, Rem menyandarkan sebelah tangannya pada batang pohon sembari berujar.

"Si Mata Lebar yang menyiapkan semua panggung ini bilang dia merasa cemas sepanjang jalan. Padahal aku bingung, kenapa harus cemas? Dari sudut pandangku, pertarungan ini kelihatan gampang banget."

Selagi ia berbicara, tiga pembunuh musuh kembali menerjang, mengincar celah yang sama.

Hujan jarum beracun dan belati meluncur turun dari atas.

Bubuk racun pun menyebar di udara.

Rem menghentakkan kaki ke tanah lalu melesat.

Pohon yang tadi ia sandari sebenarnya sudah terpotong dan mulai miring.

Para pembunuh yang bersembunyi di sekitar pohon itu mencerai-berai seperti semut ketiban air hujan.

Rem melirik kilat ke arah mereka. Ia menyepak batu kecil di bawah jemari kakinya ke udara, lalu memukulnya menggunakan bagian samping kapaknya.

*KLANG!*

Saat berayun, ia menjaga dorongan tenaganya tetap stabil. Tepat saat batu bertumbukan dengan bidang kapak, ia mendorongnya kembali dengan tenaga berlipat.

Bukannya hancur, batu itu justru melesat lebih cepat daripada anak panah.

Batu yang melayang itu menembus udara dan menghancurkan kepala seorang pembunuh.

*BANG!*

Darah dan otak menyembur deras, memercik di atas tanah.

Rem melanjutkan bicaranya seolah tak terjadi apa-apa.

Kapak besarnya bertengger santai di pundak.

"Kapten juga sama saja. Dia bilang tak mau ada satu pun korban di pihak kita. Kalau begitu, ya tinggal bantai saja semuanya, kan? Apa lagi yang perlu dipusingkan? Hajar saja setiap bajingan yang mendekat, beres. Benar kan, para kroco?"

Ini bukan lagi ejekan anak kecil, melainkan provokasi jujur yang membuat kedua ksatria Azpen saling pandang sejenak sebelum mengambil jarak.

Gaya bertarung mereka berdua memang berbeda.

Namun, kemampuan pedang *Fate* milik Cowin Ekkins mampu melihat masa depan.

Karena itulah, Cowin tahu cara berkoordinasi dengan sesama ksatria di sampingnya.

Meski ia sebenarnya sangat membenci kerja sama semacam ini, situasi kali ini adalah pengecualian.

Rem memperhatikan kedua orang itu mengambil posisi mengepung dari depan dan belakang.

Tubuh pria bermata merah berubah menjadi kabut merah pekat sebelum kembali menyatu.

Karena menampung kehendak vampir—iblis penghisap darah dari golongan iblis tingkat tinggi—ia mampu menggunakan sebagian sihir mereka.

Meski begitu, Rem hanya bergumam santai sembari menahan kapak di bahunya.

"Hari ini perasaanmu lagi bagus, ya?"

Ia tidak sedang berbicara pada musuhnya.

Ia sedang mengajak bicara kapak kesayangannya yang baru saja menyampaikan emosinya.

Senjata warisannya itu memberi tahu bahwa hari ini perasaannya sangat senang dan ingin bermain-main.

Para pembunuh di sekitarnya kembali merapatkan barisan, membentuk kepungan rapat.

Pernah berhadapan dengan Jaxon membuat Rem sama sekali tak menganggap kroco-kroco dari Monter's Marsh ini sebagai ancaman.

Hal yang sama berlaku untuk kedua ksatria ini.

Dua bajingan amatir.

Seperti yang diyakini oleh Barnas Hurrier, tidak semua ksatria itu setara.

"Kalian pernah bertarung melawan orang yang Will-nya tak pernah habis?"

Saat Pell terpicu, ia pernah mengoceh tak karuan soal aura udara yang berubah, lalu dengan kegilaannya, ia berhasil melangkah satu tahap lebih maju.

Jaxon juga mendapatkan kejutan serupa saat memperhatikan Encrid.

Rem pun demikian.

Mencapai taraf ksatria bukanlah akhir dari segalanya.

Encrid membuktikannya lewat tindakan dan tubuhnya sendiri, dan hal itu meresap dalam-dalam ke benak Rem.

"Kalian tahu? Gara-gara pria itu, aku memaksa tubuhku berlatih gila-gilaan lagi. Paham?"

Rem membiarkan tangan kirinya terkulai santai.

Sudah waktunya memulai pertarungan sejati—gaya bertarung yang belum pernah ia perlihatkan kepada rekan-rekannya.

Rem meraba pinggangnya. Tak lama kemudian, seutas tali kulit tebal terselip di jemari tangan kirinya.

Di ujung tali kulit yang menjuntai itu, terdapat kantong kulit seukuran telapak tangan yang dirancang khusus untuk menampung amunisi—sebuah sling.

Tali pelontar itu ia buat sendiri dari rajutan urat monster harimau dan kulit Owlbear.

Saat Rem membongkar sepotong Zirah Sisik Drake dan memotongnya untuk dijadikan kantong pelontar, Krais sempat menepuk jidatnya sendiri lantaran syok.

"Kau tahu tidak seberapa mahal harga benda itu?"

"Harus tahu, ya?"

"Tidak. Mending kau hidup tanpa tahu apa-apa saja selamanya."

Krais sejak awal memang tak berniat membujuk Rem.

Ia cuma mengomel karena merasa sangat eman melihat barang berharga itu dipotong-potong sembarangan.

Bahkan jika dihajar sampai nyawanya terancam sekalipun, Krais pasti tak bakal sanggup menahan mulutnya untuk tak berkomentar.

Itu sama saja seperti Encrid yang tak bisa tidur nyenyak jika melewatkan latihan sehari saja.

Demi mengisi sling buatannya, Rem sengaja menyusuri tepi sungai, mengumpulkan puluhan batu bulat halus lalu mengabraknya hingga licin. Ia juga memesan gumpalan besi berduri dengan bentuk serupa dari pandai besi.

Tali sling itu menjuntai panjang, menyapu tanah di dekat kaki Rem.

Ukuran talinya kelewat panjang untuk orang biasa, tapi bagi Rem, ukuran ini sangat pas.

Kapak besar di tangan kanan, sling di tangan kiri.

Inilah wujud bertarung tertinggi milik Rem.

Bentuk yang sama persis saat ia membantai pejuang kanibal di masa lalu.

"Nah, ini bonus istimewa karena sudah lama tak kupakai. Anggap ini kehormatan bagimu, Pencinta Ghoul."

Rem terus memprovokasi musuhnya.

Cowin tak lagi menanggapi ejekan itu.

Ia memutuskan melepaskan segala pretensinya.

Bagaimanapun juga, ia adalah ksatria Azpen yang sudah membuktikan kemauptannya dengan bertahan hidup hingga saat ini.

Nalurinya berbisik nyaring.

Binatang berambut abu-abu di hadapannya ini jauh lebih mengancam ketimbang siapa pun yang pernah ia temui.

Meski cuma sekilas, Cowin merasa sosok musuhnya ini tampak bahkan lebih besar ketimbang gurunya sendiri, Barnas Hurrier.

*'Omong kosong!'*

Ia langsung menepis pikiran itu.

Jika kau membesarkan sosok musuh di dalam benakmu sendiri, kau akan kalah sebelum bertarung.

Seorang ksatria harus menegakkan bilah Will di dalam jiwanya.

*'Aku pasti menang.'*

Cowin memantapkan kembali tekadnya.

Di sisi lain, pria bermata merah menilai situasi dengan lebih tenang. Ia sadar inilah saatnya menguatkan pendirian.

Ia memoles kembali fokusnya.

Ia menjadi ksatria lewat sihir yang menampung roh ke dalam tubuhnya.

Itu memang bukan metode lazim, tapi bukan berarti salah.

Barnas Hurrier sendiri sudah mengakui hal itu.

"Hah? Hei, sihir yang menarik. Memangnya kenapa kalau orang lain menghujatmu? Apa pedulinya? Selama kau tetap menegakkan kepala, itu sudah cukup. Lagipula, kalau kau terus melangkah maju, kau pasti akan menembus batas yang sama. Ini cuma beda cara saja."

Ksatria terkuat yang pernah dilahirkan Azpen telah mengakuinya.

*'Demi Tuan Barnas.'*

Pria bermata merah itu meneguhkan perisai jiwanya demi orang yang ia percayai.

Sementara itu, Rem...

*Wus! Wus! Wus!*

Ia mulai memutar sling di tangannya.

Tak lama kemudian, sebuah lingkaran raksasa tercipta di atas kepalanya.

*WIIIING!*

Suara lengkingan rotasi itu saja sudah cukup untuk mengintimidasi area sekitar, memamerkan daya hancur yang mengerikan.

Tanpa menunda, Rem meluruskan lengan kirinya. Pelontar itu membuktikan bahwa suara desingan tadi bukanlah gertakan belaka.

*BOOM!*

Jika batu yang dihantam kapak tadi memecahkan kepala pembunuh dan menyemburkan otak ke tanah,

maka batu dari sling ini menghancurkan kepala musuh hingga darah dan otaknya menempel di batang pohon besar di kejauhan—membentuk bercak merah mengerikan seperti lemparan tomat matang.

Jarak antara pembunuh yang tewas dan pohon itu lebih dari sepuluh langkah.

*Wiing! Wus! Wus! Wiing!*

Begitu melepas satu tembakan, sling itu langsung berputar kembali tanpa jeda.

"Nah, giliran berikutnya tiba."

Begitu proyektil pertama lepas, Rem langsung memutar sling untuk tembakan kedua.

Menyadari ada proyektil melesat cepat melebihi batas penglihatannya, Cowin langsung mengaktifkan kemampuan *Fate*.

Mata yang mampu mengintip alur masa depan.

Sadar bahwa bergeming sama saja dengan menyerahkan nyawa, pedang Cowin membelah udara.

Kakinya menghentak tanah, tubuhnya melesat maju, dan pedangnya menebas lurus secara vertikal.

Tepat saat sabetan pedangnya hendak menyentuh punggung Rem, kapak besar melintas cepat, menangkis sabetan itu hingga berdenting keras.

Di celah sempit itu, pria bermata merah melompat turun dari atas kepala Rem, mencoba menancapkan sepuluh cakar merah yang tumbuh di ujung jemarinya.

Kapak Rem menangkis pedang Cowin sekaligus menghantam seluruh cakar merah itu sekaligus.

*KTAK-KTAK-KTAK!*

Percikan api memercik hebat, membuat hawa panas membumbung tinggi.

*WUS!*

Rem mengayunkan kapak sembari mengibaskan sling secara diagonal. Bahkan sebelum rotasinya mencapai kecepatan penuh, ia sudah melepas batu kedua.

*PING! POW!*

Satu pembunuh lagi tewas mengenaskan.

Itu adalah ritme serangan yang sama sekali tidak beratur.

Siapa pun akan berpikir pergerakan para pembunuh itu bakal terhenti sejenak karena gentar.

"Semua maju! Bagi siapa pun yang ragu, hukuman yang jauh lebih mengerikan sudah menanti!"

Mendengar teriakan pria bermata merah, para pembunuh kembali bergerak menyerbu.

Namun, Rem tetap tak merasa terancam sedikit pun.

Meski harus berhadapan dengan dua ksatria sekaligus.

*'Masih jauh lebih gampang diatasi ketimbang si anjing liar atau si kucing gila.'*

Dan yang paling penting, pertarungan ini jauh lebih menyenangkan ketimbang latihan tanding melawan Encrid.

Itulah perasaan jujur Rem.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.