Bab 478: Jalan-Jalan, Disposisi, Gurauan, Sendirian
Tadi malam, Rem telah berbicara.
Ia bilang bahwa sikap terhadap kehidupan yang diperlihatkan pria bernama Encrid padanya, cara ia berjalan, telah memperlihatkannya jalan yang harus diambilnya.
Ia berterima kasih untuk hal tersebut.
Itu membuat gusar bahwa ia bakal mengikuti kawan ini kembali, tapi apa yang diapresiasi tetaplah diapresiasi.
Karena itulah.
Ayul ingin memperlihatkannya hal-hal yang dicintai oleh dirinya, keluarganya, teman-temannya, dan orang-orang Barat.
"Aku punya sesuatu untuk diperlihatkan padamu," Ayul berbicara lalu memimpin Encrid pergi.
Keduanya berjalan, menghindari semut-semut, menonton serangga-serangga, dan berhadapan dengan angin sakal.
Merek segera meninggalkan perkemahan.
Langkah-langkah mereka tanpa keraguan.
Di Barat, monster-monster tidak umum seperti di Benua, tapi seseorang tak bisa sanggup berkeliaran secara ceroboh.
Namun, baik Encrid maupun Ayul bukan jenis yang dikalahkan oleh beberapa monster.
Mereka telah membersihkan beberapa kelompok monster sementara suku sedang menetap, jadi hampir tak ada monster di dekat sana.
Mungkin seekor *copycat*, seekor kucing liar yang membujuk manusia, mungkin muncul.
Mereka lebih merupakan sebuah pengganggu dibanding sebuah bahaya.
Mereka adalah makhluk-makhluk yang secara cerdik menggunakan suara-suara untuk menguji kelemahan-kelemahan seseorang lalu menjerat mereka.
Karena itulah istilah 'kucing liar' diperlakukan sebagai sebuah umpatan umum di Barat.
Encrid akhirnya memahami kenapa Jaxon dijuluki sebagai seekor kucing liar yang jahat.
Itu adalah sebuah umpatan.
Yah, itu telah terdengar seperti sebuah umpatan bahkan saat ia tidak mengetahuinya.
***
Keduanya adalah pejalan-pejalan cepat, dan Ayul pergi lurus mendaki sebuah bukit kecil.
Encrid, mengikuti di belakang, mendongak pada langit.
"Bukankah ini indah?" tanya Ayul.
Encrid mengangguk.
Rasanya seolah-olah sebuah langit-langit putih telah terbentang melintasi langit.
Awan-awan menutupi langit, rendah dan lebar.
Tapi itu tidak gelap.
Itu adalah awan-awan tipis.
Cahaya matahari melintas menembus mereka lalu bersinar di atas tanah.
Itu adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan.
"Mereka adalah awan-awan pemblokir matahari," ujar Ayul.
Itu adalah sebuah pemandangan yang hanya bisa dilihat seseorang di Barat.
Itu indah.
Awan-awan, cahaya matahari, dan bahkan cakrawala di balik mereka.
*'Oara, yang menyerupai matahari.'*
Ia secara alami teringat pada Ksatria Oara.
Cahaya matahari mirip dengan gelak tawanya.
Itu adalah sebuah kehangatan yang tidak panas atau menyengat, melainkan sesuatu yang secara lembut memelukmu.
Itu sangat berbeda dari cahaya matahari Kota Oara.
Cahaya itu adalah sebuah cahaya yang mengusir kegelapan tanah iblis.
Itu adalah sesuatu yang memecahkan kabut dan memberikan kekuatan.
Cahaya matahari Barat tidak memecahkan apa pun, melainkan membungkus seseorang dalam sebuah pelukan damai.
Karena itulah cahaya matahari ini menyerupai Ksatria Oara, bukan Kota Oara.
Gadis itu bertarung di garis depan, tapi di dalam kehidupan hariannya, gadis itu adalah seseorang yang memeluk kota.
***
"Apakah kau melihat nilai dalam melindunginya?" sang *Ferryman* secara mendadak pernah bertanya suatu hari.
Tak ada objek, tapi niatnya jelas.
Ia sedang bertanya apakah ada nilai di dalam hal-hal yang kau cari untuk dilindungi.
Jika ada sebuah alasan untuk menahan kesakitan dan melangkah maju.
Encrid tidak merepotkan diri untuk menjawab.
Jawabannya sudah terselesaikan di hatinya.
Nilai adalah sesuatu yang diputuskan seseorang bagi diri mereka sendiri.
Haruskah seseorang mengikuti kata-kata dari seseorang yang dijuluki seorang bijak?
Apa yang diputuskan orang lain tak bisa menjadi standar milik seseorang.
Ini adalah kehidupan milik sendiri.
Maka dari itu.
Nilai diselesaikan melalui perspektif milik sendiri.
Orang-orang Barat seperti itu.
Ayul memulai ceritanya.
Dalam beberapa cara, itu adalah sebuah cerita yang tak berkesan, tapi di cara lain, itu adalah sebuah cerita yang kelihatan membawa terus semangat dari orang-orang Barat.
"Di sebuah hari yang cerah, sebuah fatamorgana panas membumbung di sebelah sana, tapi lucunya, setelah matahari yang begitu panas menghantam, itu mencurah hujan beberapa hari kelak. Kami menjuluki hal tersebut sebagai berkah dari beruang."
Untuk mendengar kenapa itu dijuluki sebagai berkah dari beruang kemungkinan bakal jadi sebuah cerita yang cukup panjang untuk menggali ke dalam mitologi.
"Kami tidak kaya. Tapi itu tidak berarti kami punya banyak kesulitan."
Apa yang harus dilindungi?
Ayul berkata.
Bahwa gadis itu mencintai Barat ini.
Bahwa itu benar-benar sebuah keriangan untuk melindungi tanah ini.
"Aku tak pernah melihat salju, tapi itu pasti mirip dengan hujan kerikil putih, kan?"
Hujan kerikil yang diutarakannya adalah hujan es.
Seseorang tak bisa membandingkan batu-batu keras dengan salju.
"Salju kemungkinan indah pula."
Hanya karena gadis itu mencintai Barat tidak berarti gadis itu memandang rendah hal-hal lain.
Tentu saja jika kau memberitahu tentara bahwa salju itu indah, bakal ada cukup banyak pria yang siap menyambar senjata-senjata mereka lalu menerjang padamu untuk mengitari arena latihan satu setengah kali lipat.
Jika ada hal lain, bakal ada lebih banyak, bukan lebih sedikit.
Tapi seseorang tak bisa menampik bahwa itu indah.
Ada hari-hari di mana ia telah menatap pada gunung-gunung yang tertutupi salju.
Ada juga hari-hari di mana ia telah melihat hutan-hutan yang terwarnai oleh daun-daun musim gugur.
Di kampung halaman Encrid, ada dua pohon yang menjaga bagian depan desa.
Mereka begitu besar hingga kau tak bisa membungkus lengan-lenganmu di sekitar mereka.
Di musim gugur, pohon-pohon tersebut mengeluarkan daun-daun crimson, dan di musim panas, mereka terbalut dalam warna hijau.
Di musim dingin, salju bakal menumpuk di atas dahan-dahan gundul mereka.
Encrid menemukan pohon-pohon tersebut menyenangkan untuk dilihat.
Nilai dari apa yang dicari seseorang untuk dilindungi diputuskan oleh diri sendiri.
Ayul sama.
Orang-orang Barat sama.
"Kami mencintai tanah ini," ujar Ayul.
Maka dari itu, mereka tidak mendambakan Benua.
Jika mereka kekurangan sesuatu, mereka murni bisa hidup dengan lebih sedikit.
Apa yang diteruskan melintasi waktu yang lama dijuluki tradisi.
Tradisi Barat terselesaikan di dalam semangat mereka.
Pada hari ini, Encrid melihat awan-awan pemblokir matahari, dan ia juga melihat menara-menara awan.
Saat ia berdiri di atas sebuah bukit tinggi, cakrawala kasat mata, dan di balik cakrawala tersebut, awan-awan putih turun seperti menara-menara.
Itu adalah sore hari saat ia kembali setelah jalan-jalan melihat cakrawala, cahaya matahari, angin, dan awan-awan.
***
Di sekitar matahari tenggelam, Ayul datang kembali.
"Hira, apakah kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja."
Encrid telah menjadi seorang boneka pembersih, atau seorang totem manusia, tapi ia tidak perlu tinggal di dalam tenda sepanjang hari.
Kutukan yang sama tak bisa menyerang kembali kecuali suku peramal melakukan ritual kelompok lainnya.
Hira tahu bahwa ritual tingkatan kelompok semacam itu tidak mudah.
Itu pasti telah dicapai dengan menawarkan sebuah pengorbanan.
Untuk menyebarkan kutukan pria ungu, yang terdengar konyol saat kau mendengar namanya, bakal jadi hal yang tak mungkin untuk bahkan dicoba tanpa sebuah pengorbanan.
Penyihir kepala harus bertarung dengan api melawan api.
Ia memblokirnya dengan mengorbankan kesadarannya sendiri dan rentang hidupnya.
Dengan kata lain, jenis kutukan ini adalah sesuatu yang tidak bisa dilemparkan tidak pula diblokir tanpa sebuah pengorbanan.
Ini juga merupakan alasan kenapa penyihir kepala belum terbangun.
Apa yang ditawarkan sebagai sebuah pengorbanan tidak kembali secara mudah.
Rem sesekali mampir dan bertanya apakah penyihir kepala bakal bangun, tapi bahkan Hira tidak tahu kapan hal tersebut terjadi.
*'Jika bukan karena dirinya, seluruh suku pasti sudah ambruk di bawah kutukan.'*
Mengurangi skalanya dan membeli waktu adalah apa yang telah dicapai oleh penyihir kepala.
Itu terdengar sederhana dalam kata-kata, tapi dari sebuah perspektif sihir, penyihir kepala telah berhasil dalam beberapa perjudian.
Ia telah beruntung.
Seolah-olah seseorang, di suatu tempat, telah melakukan sebuah pembersihan bagi suku.
Hira berpikir hanya sejauh itu dan tidak merepotkan diri untuk mempertanyakannya lebih jauh.
Adalah hal yang sulit untuk mencatat segalanya yang terjadi di mana-mana.
Gadis itu murni melakukan apa yang harus dilakukannya, tidur dalam potongan-potongan singkat.
Tugasnya adalah menghapus jejak-jejak kutukan bahkan sehari lebih cepat.
Hira memanaskan jarum-jarum pendek di tangannya di atas api lalu mengangguk.
Itu adalah jawabannya atas pertanyaan, *Hira, apakah kau baik-baik saja?*
"Mari kita pergi."
Ayul memimpin Encrid kembali.
Kali ini, mereka berada di jalan menuju sebuah danau yang sangat amat besar.
"Kau tak pernah menunggangi satu ekor pun, kan?" tanyanya.
Di tangannya ada seutas tali kekang, dan di ujung dari tali kekang tersebut ada seekor Velopter.
Itu adalah seekor makhluk yang mengobservasi Encrid dengan mata-mata yang terbelah secara vertikal.
Di sampingnya, Juol dan pria yang tadinya menjaga bagian depan tenda mengikuti.
Pria itu punya rambut pendek dan sebuah pola menyerupai bilah pedang terlukis di dahinya, dan impresinya secara tidak biasa buas.
Ayul telah membawa empat Velopter.
"Apakah kau tahu di mana Rem tidur?" tanya pria itu karena ia tak melihatnya sama sekali.
"Ia tidur bersamaku, di mana lagi ia bakal tidur?" jawaban datang secara instan.
Apakah mereka sudah berbaikan?
"Ini murni alami bagi pasangan suami istri untuk berbagi rumah yang sama," Ayul melanjutkan secara santai.
Pesona apa yang telah digunakannya untuk mengubah pikiran Ayul?
Satu-satunya kemampuan yang dimiliki Rem adalah mengayunkan sebuah kapak, jadi ia mungkin menaklukkannya dengan kekuatan mentah.
Encrid berkomitmen untuk memberitahunya bahwa ia tak boleh memperlakukan istrinya dengan cara seperti itu.
Juol murni tertawa di sampingnya.
Pria yang berdiri di sampingnya telah memperlihatkan permusuhan yang halus, dan kini ia berpikir ia mengetahui alasannya kenapa.
Mata pria itu melesat bolak-balik di antara dirinya dan wanita yang mengikutinya.
"Penyelamat."
Itu adalah ibu Jiba, yang bersikeras untuk ikut meskipun ia telah bilang itu tak apa-apa.
Bahkan sekarang, gadis itu meletakkan tangan-tangannya di atas lutut-lututnya, memberitahunya untuk menginjak mereka untuk menunggangi Velopter.
"Silakan, naiklah."
"Aku bisa naik sendiri."
Encrid berbicara, berbalik ke sisi lainnya, secara ringan menendang lepas tanah, lalu menunggangi Velopter.
Itu pasti seekor yang penurut, karena itu tidak bergeming bahkan saat bobot diletakkan di atas tubuhnya.
Itu secara singkat membengkokkan lutut-lututnya untuk menahan bobot lalu berdiri kembali.
Dalam istilah manusia, kau bakal bilang itu punya refleks-refleks yang bagus.
Itu tahu cara mendispersikan kekuatan di punggungnya.
Ini adalah makhluk yang diutarakan Rem lebih pintar dan berlari lebih baik dibanding seekor kuda.
Meski begitu, itu kemungkinan tidak lebih pintar dibanding Odd-eye.
Menjadi pintar adalah satu hal, tapi Odd-eye juga memiliki sebuah hati yang teguh.
Meskipun punya darah dari seekor binatang iblis, itu punya keberanian untuk menunggangi kuda-kuda betina secara baik.
Ia telah mendengar itu telah menyebarkan benihnya di sekitar padang rumput Green Pearl.
Itu adalah sesuatu yang diutarakan Noir, kekasih Krais dan pernah berada di bawah komandan batalyon Green Pearl, padanya.
Kenapa ia memikirkan cerita-cerita semacam itu sekarang adalah sebuah misteri.
Itu pasti dipantik oleh melihat sebuah tunggangan.
Encrid mengibaskan pemikiran-pemikiran menganggur lalu mencengkeram tali kekang Velopter.
Ia telah diberitahu tali kekang di mulutnya bakal membuatnya bergerak saat ia menariknya.
Rua Garne tetap berada di dalam tenda.
Ada sebuah alasan.
"Aku mencium sesuatu yang aneh," gadis itu mengutarakannya setelah bersiap untuk bergerak.
"Aku mandi dua hari lalu?" Dunbakel, merasa terserang secara personal, berada di sampingnya.
"Bukan jenis bau seperti itu," Rua Garne menjelaskan dalam nada lembut lalu bilang gadis itu bakal melihat sekeliling.
Encrid tidak memberi banyak perhatian.
Meskipun sang Frokk dikatakan bebal, saat itu berhubungan dengan tujuan-tujuan dan hasrat-hasrat pilihan mereka, mereka lebih sensitif dibanding indra penciuman seorang beastman, jadi sesuatu pasti sedang mengganggunya.
"Mari kita pergi," ujar Ayul lalu mengambil alih kepemimpinan.
Velopter menendang tanah lalu mulai berlari.
Encrid menengangkan kaki-kakinya lalu bertahan dengan kekuatan murni.
Itu tidak sangat mudah untuk terbiasa pada Velopter.
Itu berbeda dari seekor kuda.
"Mendapati kesulitan menunggangi?" Juol, melihat ini, membantu dari sisi samping.
"Jangan tegang; lebih baik membiarkan kaki-kakimu menggantung longgar. Velopter sangat amat pintar. Murni percayakan tubuhmu padanya, dan itu bakal pergi dengan sendirinya. Yang satu ini terlatih secara baik."
Mendengarkan dialek Barat, Encrid melakukan sebagaimana yang diutarakannya.
Ayul memperlambat kecepatannya sedikit.
"Anak berbakat bisa menunggangi secara baik segera setelah mereka naik, tapi kau agak lambat, bukan?"
Gadis itu bermaksud bahwa seseorang dengan sebuah bakat alami untuk menggunakan tubuh mereka bakal belajar secara cepat.
Meski begitu, setelah menunggangi untuk sebentar, ia terbiasa padanya.
Itu karena kemampuannya mengontrol tubuhnya sendiri telah lebih dari terlipat ganda.
***
Tempat mereka tiba setelah berlari seperti itu adalah sebuah danau yang sangat amat besar.
Itu begitu besar hingga ujung-ujungnya tak bisa ditangkap dalam sebuah lirik tunggal.
"Ini adalah sebuah danau besar," Encrid melihat Ayul tersenyum saat ia berbicara.
Ia telah mendengar bahwa terkadang sebuah kabut ringan, langka di Barat, bakal menetap di sini, tapi itu bukan kasusnya hari ini.
Di bawah langit jernih ada sebuah danau yang memantulkannya.
Ia bisa melihat ikan-ikan bermain di antara gelombang-gelombang beriak.
Padang kerikil putih di sekitar danau membuatnya kelihatan bahkan lebih jernih.
Saat ia sedang mengagumi danau, pria Barat yang telah memperlihatkan permusuhan mengajukan sebuah pertanyaan.
"Aku ingin bertanya apa niatmu dengan wanita tersebut."
Memotong lurus ke poin utama adalah tipikal dari seorang Barat.
Tak ada kebutuhan untuk bertanya siapa yang dimaksudkannya.
Pria ini tak punya niat untuk menyembunyikan permusuhannya.
Ia sedang berbicara soal ibu Jiba.
"Aku tak punya ketarikan dan tak punya pemikiran-pemikiran tentangnya."
"Jangan lupa bahwa Jiba masih muda."
Pria itu berbicara, dan Encrid secara tenang membersihkan kesalahpahaman.
"Apakah kau tahu cara bertarung?"
"......Aku adalah seorang petarung."
"Mari kita punya sebuah pertarungan tanding."
Ini adalah sebuah cerita panjang dalam kata-kata.
Mereka secara kasar menyilangkan pedang-pedang lalu bertukar hantaman-hantaman.
Lawan menggunakan sebuah falchion lebar, dan kemampuannya tidak buruk.
Jika ia terus berlatih seperti ini, ia kelihatan sanggup mengungguli Squire layak mana pun.
Ia punya bakat.
"Aku tak tertarik, jadi berhentilah cemas. Dan aku tahu Jiba masih muda."
Ia mengatakan ini setelah menjegal pria tersebut lalu menghantamnya di ulu hati.
Pria itu tak bisa bernapas dan wajahnya berubah biru, tapi ia terbatuk-batuk dan berhasil membalas, "*Uhuk*, aku tahu. Itu murni kecemburuan."
Bagaimanapun juga, disposisi dari orang-orang Barat adalah sedemikian rupa sehingga mereka tidak menyembunyikan apa pun.
Bagi Encrid, hal tersebut kelihatan sebagai sebuah kekuatan.
***
"Seberapa baik Geomnarae bertarung?"
"Maksudmu Geomnarae dari suku Narae? Ia adalah petarung teratas."
Pria itu berkata, dan Ayul menambahkan, "Petarung teratas berarti ia adalah petarung terbaik di suku."
Ia telah memikirkan hal tersebut dari konteks.
Kembali ke barak kembali, berlatih, dan bertukar gurauan-gurauan dengan Geomnarae.
"Aku melihat sebuah sungai lebar. Aku melihat ayahku yang tewas di sisi seberang," itu adalah apa yang diutarakan seseorang saat bangun.
"Dan?" Geomnarae, yang sedang mendengarkan di sampingnya, bertanya.
Pria itu merendahkan suaranya, "Aku menyeberangi sungai, ayahku memanggilku."
Bahkan Jiba telah datang untuk mendengarkan.
Pria itu adalah seorang pencerita yang bagus.
Ia melempar pandangannya jauh ke depan untuk sekejap, seolah-olah menatap ke dalam kehampaan yang jauh.
Kemudian ia berbicara.
"Saat aku menyeberangi sungai, air naik ke pinggangku. Tapi arus tidak kuat. Setelah berjuang menyeberang dengan celana basahku dan berhadapan dengan ayahku."
"Dan berhadapan dengannya?" tanya Geomnarae kembali.
Encrid, juga, telah menetap di dalam sebuah posisi mendengarkan.
"Aku memukul ulu rahangnya lalu kembali, memberitahunya bahwa ini belum waktuku!"
Ia pasti tak punya kekuatan, tapi ia menepuk lengan bawah kirinya dengan tangan kanannya lalu mengangkat kepalan tinju kirinya saat ia berbicara.
Ia sedang bilang ia memukul ulu rahang ayahnya sendiri, dan semua orang tertawa.
Geomnarae tertawa terbahak-bahak, dan saat Jiba terkikik seperti seorang anak kecil, ibunya juga meletupkan gelak tawa.
"Jadi, apakah ini tempat Dewa Langit? Atau apakah Bunda Bumi menahanku kembali? Melihat wajahmu, Geomnarae, aku menebak aku masih berada di tanah bau kita."
Untuk membuat gurauan-gurauan seperti itu kurang dari setengah jam setelah bangun adalah sebuah bakat, jika kau bisa menjulukinya demikian.
"Orang luar, aku diberitahu untuk berterima kasih padamu tanpa pertanyaan saat bangun. Apakah kau mungkin mendapat sedikit tanah pada Hira?"
Pria ini benar-benar menghibur.
"Apakah aku kelihatan seperti itu?"
"Orang luar, apakah kau merayu gadis itu dengan wajah tersebut? Hira, aku tak pernah menganggapmu sebagai jenis orang seperti itu."
Pria itu tertawa terbahak-bahak saat ia bergurau.
Kelak, setelah mendengar bahwa Encrid adalah seorang totem manusia, ia memaksakan dirinya untuk duduk lalu menundukkan kepalanya.
"Terima kasih. Bakal jadi sebuah penyesalan pahit untuk tewas seperti ini. Orang luar, aku pasti bakal membalas pengabdianmu."
Beberapa orang lagi bangun seperti itu, dan Encrid mendapat sebuah lirik dari kehidupan orang-orang Barat dengan menonton Ayul dan orang-orang di sekitarnya.
***
Itu terjadi setelah melihat danau besar, awan-awan pemblokir matahari, matahari tenggelam yang keibu-ibuan, dan bukit-bukit panjang yang terhubung yang dijuluki Mir-oreum.
Ia sedang secara ringan menggerakkan tubuhnya dan berlatih di dalam barak saat ia mendengar sebuah suara.
"Ma-nu-sia!"
Petir menggema dari luar tenda.
Petir menyuarakan sebuah bahasa manusia, dan itu cukup keras untuk merobek gendang-gendang telinganya.
Encrid berdiri lalu menatap ke luar.
Pintu masuk tenda terbuka.
Di balik pintu masuk, ia bisa melihat sebuah kepala masif dan mata-mata yang berkelebat.
Itu adalah sebuah ukuran yang menentang perspektif.
Itu adalah seorang raksasa.
Setelah mendengar soal mereka, Encrid mengetahui soal dua raksasa yang mengancam seluruh suku.
Dua monster yang melampaui tingkatan dari seorang ksatria magang.
Saat ia berdiri dan menatap ke depan, mata-matanya bertemu dengan Rem, yang baru saja memasuki tenda.
Rem yang sama berbicara, "Aku tak bisa menemukanmu tak peduli di mana aku melihat."
Rem memutar tubuhnya.
Encrid mengikuti di belakangnya.
Mereka berada di depan pagar rapuh yang terbuat dari kain dan kayu.
"Bawa keluar lima manusia, aku la-par!"
Ada seorang raksasa yang menerjang secara ceroboh.
Ia mengenakan pakaian-pakaian bulu tebal dan memegang sebuah pemukul hitam bernoda yang besar, cukup besar untuk meremukkan tubuh seorang pria dewasa dalam satu hantaman tunggal.
Alasan pemukul itu hitam dan bernoda adalah bahwa darah dari mereka yang telah mereka bunuh telah membeku dan mengeras di atasnya.
Setiap kali sang raksasa bergerak, sebuah aroma amis membumbung darinya.
Itu adalah aroma menyengat dari darah dan hasrat-hasrat hina.
"Ia adalah sosok yang tangguh."
Itu adalah Rua Garne yang telah mengikutinya.
Pandangan sang Frokk bahkan mengukur tingkatan kemampuan sang raksasa.
Tentu saja Encrid bisa melakukan hal yang sama.
Sebab sang raksasa kasat mata bagi mata-matanya pula.
Seorang individu dengan kekuatan bawaan yang luar biasa, bahkan di antara raksasa-raksasa lain.
Persis seperti tidak semua manusia sama, tidak semua raksasa bakal sama.
Artinya dua raksasa yang bertarung secara baik sedang memblokir pandangan di depan mereka.
Mereka terposisi secara presisi di mana mereka memblokir cakrawala yang telah diperlihatkan Ayul padanya.
Rem mencengkeram kapaknya dan baru saja hendak melangkah ke depan saat Encrid, yang telah mendekat tanpa terperhatikan, menangkap pergelangan tangannya.
"Kau mau melakukannya bersama?"
"Tidak."
*Lantas apa?* Rem bertanya dengan mata-matanya.
Encrid mengambil satu langkah ke depan lalu berkata, "Aku sendiri."
Rem punya mata-mata.
Merek adalah lawan-lawan yang tangguh.
Namun, sendiri?
Encrid tidak mengatakannya dua kali.
Ia murni melangkah ke depan.











