Bab 463: Merenungkan dan Menenun Kembali
Mereka sedang berada di tengah-tengah membicarakan Oara, yang menyerupai cahaya matahari.
Pemakaman telah selesai.
Tak ada warga kota yang meratap secara nyaring.
Mereka meneteskan air mata, tapi melakukannya secara tenang.
"Oa!"
Yang tersisa hanyalah sebuah dorongan semangat untuknya.
"Untuk Ksatria Oara!"
Teriakan-teriakan dari mereka yang ditinggalkan berlanjut.
Tekad Ksatria Oara bakal selamanya terukir di atas kota.
Persis seperti setiap ksatria yang memiliki senjata berenchantment, Oara kini memiliki sebuah kota yang terukir dengan namanya.
Kota Oara, nama baru bagi Thousand Bricks.
***
"Kalian berdua mengobrollah, sudah lama tidak bertemu. Aku bakal kembali duluan."
Saat Encrid dan Krang tenggelam dalam percakapan, Rua Garne melangkah menepi untuk memberi mereka ruang.
Setelah mengobrol, mereka mencapai gerbang benteng.
Encrid mengepalkan dan membuka tangannya beberapa kali.
Lengan bawahnya masih kaku.
Sangat kaku hingga terasa membebani untuk memegang dan mengayunkan pedang.
Sembari memeriksa kondisinya, Encrid secara mendadak bertanya.
"Apakah kau bakal segera pergi?"
Krang bisa saja beristirahat selama sehari, tapi ia bahkan belum membongkar barang-barangnya, dan raut wajah para pengawalnya makin menggelap.
Mereka juga kelihatan cemas.
Apa arti dari segalanya ini?
Artinya ia tidak bertahan di sini, melainkan kembali secara instan.
Dengan kata lain, ia datang untuk meratapi kematian seorang ksatria dan menghibur orang-orang kota, tapi ia adalah seorang pria yang sangat amat sibuk.
"Periksa kereta. Tak ada hal yang lebih menyulitkan dibanding roda yang patah di jalan."
Krang memutar kepalanya ke belakang untuk berbicara pada seorang pengawal, lalu menjawab Encrid.
"Aku membuang segalanya yang sedang kulakukan untuk datang ke sini. Jika aku tidak segera pergi, seseorang mungkin bakal tewas gara-gara bekerja terlalu keras karenaku."
Separuhnya terdengar seperti gurauan, tapi separuh lainnya terdengar serius.
"Kalau begitu..."
Krang datang dan pergi menyerupai angin.
Kelihatan seolah-olah ia pergi begitu saja, seolah-olah tak butuh ucapan selamat tinggal yang layak.
Saat ia hendak pergi, Krang hanya memutar kepalanya ke belakang lalu bertanya.
"Di kesempatan berikutnya, akankah kau datang sebagai ksatria?"
Mata Krang berbinar, memegang seberkas cahaya.
Mata itu bersinar terang bahkan di bawah cahaya matahari, memperlihatkan niatnya.
Matanya bertanya.
Bisakah kita bertemu di posisi kita masing-masing?
Akankah kau berhasil melangkah sejauh itu?
Encrid menatap lurus ke dalam mata Krang.
"Apakah kau benar-benar percaya bahwa kau sanggup melangkah naik setinggi itu bahkan tanpa mengenakan jubah merah?"
Krang tersenyum lalu membuka mulutnya.
Itu adalah sebuah pertanyaan, tapi kepercayaan berada di bawahnya.
Sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban yang sudah jelas.
Matanya yang tak tergoyahkan memperlihatkan keyakinan bahwa Encrid pasti bakal melangkah naik.
"Apakah aku perlu menjawab?"
"Tidak perlu."
Krang meletupkan gelak tawa lalu berbalik.
***
Salah satu pengawal mendekat sebelum pergi lalu berbicara.
"Aku adalah Squire Lug. Apakah Lopode baik-baik saja?"
"Mungkin saja."
Berkat mengulang hari ini, nama Lopode terasa agak samar dan jauh.
Ia adalah seorang teman yang mengikutinya hingga ke Border Guard setelah perang saudara.
Ia mengingat bagaimana teman itu terus memantik perkelahian dengan Ragna.
Selama ia belum terbunuh oleh pedang Ragna, ia seharusnya hidup dengan baik.
"Teman yang satu itu, ia sempat berkelana tanpa tujuan jelas untuk beberapa saat, lalu ia secara mendadak berubah. Dia bilang itu semua gara-gara dirimu, Tuan pembantai demon."
Julukan itu menjadi agak aneh.
"Tuan" telah ditambahkan, dan julukan "pembantai demon" tampaknya telah melekat.
Itu karena ia telah membuktikan kemampuannya, meski bukan bagian dari ordo ksatria.
Tentu saja Encrid sekadar berpikir itu adalah julukan yang buruk.
"Apakah memungkinkan untuk menerima bimbinganmu di masa depan?"
Squire Lug berbicara lagi.
Yang bisa dilihat di matanya adalah sebuah semangat bertarung.
Hasrat untuk menyilangkan pedang dengan seseorang yang terkenal.
"Lug, jika kau mau berhenti jadi pengawalku dan jadi pelayan Enki, bilang saja. Kau bisa pergi kapan saja."
"Tidak, Yang Mulia! Aku tak punya niat semacam itu."
"Aku bakal bertaruh anggaran satu tahun bahwa hal itu adalah kebohongan."
Saat Krang melempar gurauan tersebut sambil tertawa, Lug memberikan anggukan lalu berbalik.
"Datanglah ke Border Guard kapan saja," ujar Encrid pada punggungnya.
Lug secara singkat memutar kepalanya dan menawarkan rasa terima kasihnya dengan matanya.
"Kalau begitu, aku benar-benar pergi. Aku lelah setengah mati. Apakah ungkapannya 'ia yang mengenakan mahkota harus menanggung bebannya'? Itu semua bohong. Mereka seharusnya bilang, 'menanggung pekerjaannya'."
Setelah mengatakan hal tersebut, Krang pergi secara mendadak.
***
Merasakan cahaya matahari dan udara yang damai, Encrid juga mulai melangkah.
Ia telah melihat kelelahan Krang dari terburu-buru datang ke sini, tapi meski telah beristirahat untuk beberapa hari, tubuhnya sendiri berderit sama besarnya seperti tubuh Krang.
Itu adalah imbalan untuk berhadapan dengan Jerix.
Ia berbalik.
Saat ia berjalan lambat dan melihat sekeliling, ia melihat para prajurit sibuk dengan pembersihan.
Mereka penuh dengan vitalitas kehidupan.
Memindahkan material-material untuk memperbaiki gerbang benteng yang hancur.
Di satu sisi, banyak orang menyalakan api di tungku untuk membakar cetakan dan membuat anak-anak panah.
Ia pernah mendengar bahwa cangkang-cangkang dari jasad monster laba-laba bagus untuk membuat perisai-perisai yang kokoh, dan ia melihat orang-orang membongkar jasad-jasad tersebut untuk membuat sesuatu.
Aromanya begitu busuk hingga mereka bekerja dengan kain terikat di atas hidung mereka.
Semua orang kelihatan sibuk, bergerak secara tekun.
Pemakaman adalah pemakaman, dan pekerjaan adalah pekerjaan.
Vitalitas semacam ini adalah apa yang sejak awal cocok bagi kota ini.
"Oa!"
Teriakan perang mereka juga tetap sama.
Prajurit-prajurit datang dan pergi, memikul batang-batang kayu.
Lantas apakah nama kota ini adalah Oara sekarang?
Sejak nama sang ksatria menjadi nama kota?
Kota Oara, itu adalah nama yang agak menyenangkan untuk didengar.
***
Dalam perjalanan kembali, ia terus merasa mengantuk.
Otot-ototnya terasa pegal, otot perutnya terasa kencang, dan area di sekitar tulang belikatnya kaku.
Rasanya seperti pegal otot yang menyenangkan, tapi juga seperti sesuatu bakal salah jika ia bergerak secara keliru.
"Beristirahatlah saat kau butuh beristirahat," ujar Rua Garne yang telah menunggu di penginapan mereka, dan Encrid mengangguk.
Gadis itu benar.
Saatnya untuk memulihkan diri.
Dengan kata lain, waktu untuk memejamkan mata dan tidur.
Meski begitu, apa yang perlu dikatakan harus dikatakan.
"Dunbakel, jika kau tidak pergi mandi saat ini juga, aku bakal membuatmu mandi darah."
Ia telah mengutusnya keluar dalam misi rekognisi untuk membantu, tapi setelah menangkap beberapa monster, gadis itu sama sekali belum mandi, dan aroma dari jasad-jasad laba-laba kini menyengat di penginapan mereka.
Pemulihan Dunbakel lebih bagus dibanding miliknya.
Yah, gadis itu bilang ia meminum semacam racun dan hal itu bagus untuk tubuhnya, tapi itu adalah sesuatu yang takkan dipahaminya bahkan jika ia mendengarkannya secara cermat.
"Apakah aku berbau?" tanya Dunbakel, berpura-pura polos.
"Bagaimana bisa kau jadi satu-satunya orang yang tak bisa mencium baumu sendiri?"
Rem, yang terbaring di satu sisi memulihkan diri, melemparkan teguran.
Tapi Dunbakel bersikap berani.
"Bukankah itu bukan urusanmu?"
Sesuatu pasti telah terjadi, karena gadis itu telah menjadi jauh lebih tanpa rasa takut dibanding sebelumnya.
Di momen terakhir, gadis itu bahkan telah melempar tubuhnya di depan Encrid.
Ia telah menangkisnya karena ia sudah mengetahuinya, tapi jika tidak, Dunbakel mungkin sudah tewas.
Itu adalah pemikiran yang menyadarkan.
Ini adalah medan perang; siapa pun bisa tewas.
*Krrrk.*
Rem tersenyum dan menggeretakkan gigi gerahamnya.
"Hanya karena tubuhku seperti ini, kau pikir aku tak bisa membunuhmu?"
...Bahkan jika itu bukan medan perang, jika kau punya seorang barbarian yang murka sebagai rekan, kau bisa saja tewas.
"Aku mau mandi. Aku pergi sekarang."
Dunbakel secara cepat mempelajari rasa takut yang baru lalu melesat ke luar.
Rem, yang mencengkeram gagang kapak yang mata kapaknya hancur separuh, berkata, "Yang satu itu kelihatannya punya penyakit di mana dia hanya mau mendengarkan setelah dipukuli dengan benar."
*Dan kau kelihatannya punya penyakit di mana kau memukuli terlebih dahulu lalu bertanya kemudian.*
Saat Encrid memikirkan hal ini dalam hati, Rem menyadarinya lalu berkata, "Rasanya kau sedang mengutukku."
"Aku ingin bertanya apa yang ada di Barat. Mari mendengarnya sekarang."
Keduanya sama-sama butuh memulihkan diri bagaimanapun juga.
Tubuh mereka berderit dari pertarungan melawan monster-monster.
Rem dekat dengan terluka parah.
Ia terbaring di sana, menjalankan mulutnya seolah-olah ia baik-baik saja, tapi orang lain mana pun bakal meratap dalam kesakitan.
"Ada langit rendah, awan-awan yang menarik, dan sebaliknya, langit tinggi, sungai pasir di mana kau tak bisa kembali. Apa, kau mau mendengar beberapa cerita lama?"
"Jika cerita-cerita itu menarik."
"Aku punya beberapa cerita sewaktu aku masih kecil."
Encrid dengan mahir mengubah topik, dan Rem melanjutkan dengan menceritakan beberapa kisah lama yang diteruskan di Barat.
Itu adalah cerita-cerita rakyat yang berhubungan dengan mitos-mitos.
Di antaranya adalah asal-usul dari langit gelap dan beberapa kata kuno yang tercampur di dalamnya.
Ia berpikir mereka mungkin menggunakan bahasa yang berbeda di Barat, tapi kenyataannya tidak demikian.
"Setelah Perang Bahasa, seluruh Benua menggunakan bahasa yang sama."
Perang Bahasa adalah perang yang dimulai oleh Kekaisaran.
Itu adalah cerita dari masa ketika Kekaisaran masih terbagi menjadi tiga kerajaan.
Rem, secara mengejutkan, adalah seorang pencerita yang mahir, dan Encrid mendengarkan dengan baik.
Sebagai contoh, ia bilang bahwa di Barat, istilah *pocket spy* adalah sebuah penghinaan yang cukup besar.
Hal ini karena mereka sangat membenci tindakan mencuri secara diam-diam alih-alih mengambil sesuatu melalui tantangan yang layak.
"Apa itu *pocket spy*?"
"Seorang pencuri."
"Mengambil sesuatu melalui tantangan yang layak mungkin boleh saja, tapi bukankah itu cuma perampokan?"
Rua Garne melempar pertanyaan tersebut.
Rem menggelengkan kepalanya.
"Agak berbeda. Perampokan murni mengambil dengan paksaan. Ini lebih mirip sebuah taruhan."
Encrid mendengarkan secara tenang.
Segera, Dunbakel kembali setelah mandi.
Gadis itu bergabung, dan percakapan mereka mekar.
Kisah-kisah dari Barat terasa menarik dalam banyak cara.
"Kami tidak menunggangi kuda di sana. Kami punya sesuatu yang lain. Di padang pasir, mereka punya stamina seekor unta, dan di tanah datar, mereka tidak secepat kuda, tapi mereka mahir berlari di sebagian besar medan. Kami menyebut mereka Velopter."
Ada pula kisah-kisah tentang makhluk-makhluk yang pernah didengar Encrid tapi belum pernah dilihatnya.
***
Sang Ferryman mengamati sang pelayan yang sedang membagikan cerita-cerita.
"Kau kelihatan bahagia," ujar sang Ferryman.
Sebab ia benar-benar kelihatan demikian.
Beberapa tembok, bahkan saat diatasi dengan mengulang hari ini, meninggalkan bekas luka.
Bekas luka bertahan dalam waktu lama dan menggerogoti seseorang.
Itu adalah momen seseorang berhadapan dengan sosok yang tak sanggup mereka selamatkan, tak peduli apa yang mereka lakukan.
Ini adalah 'hari ini' yang disesuaikan untuk orang gila ini, pikir sang Ferryman.
Tapi ia keliru lagi.
"Kapan seseorang tewas?" sang Ferryman bergumam.
Saat kehidupan mereka telah memenuhi alurnya?
Lantas kapan seorang ksatria tewas?
Saat pedang bernama tekad hancur.
Saat mereka gagal melindungi apa yang dicoba untuk mereka lindungi.
Ksatria bernama Oara telah memenuhi tugasnya, memegang ikrar-ikrarnya, dan tewas dengan sebuah senyuman.
Pelayan gila itu telah melepaskan masa lalu, hal-hal yang tak bisa diubah kembali.
Sebagai gantinya, ia bergerak untuk membuat pilihan yang telah dibuatnya menjadi pilihan terbaik yang memungkinkan.
Sikap tersebut membangkitkan ingatan tertentu di dalam diri sang Ferryman.
Sang Ferryman memencarkan ingatan yang membumbung ke dalam sungai dan membiarkannya mengalir pergi.
Sebab itu adalah sesuatu yang tidak ingin diangkatnya kembali.
Sebab itu adalah sesuatu yang telah dilupakan sejak waktu yang sangat amat lama.
"Menyesali jalan yang tidak ditempuh hanya menyisakan penyesalan."
Sang Ferryman bergumam seolah-olah melafalkan sebuah puisi.
Kata-katanya menyebar dengan ritme tertentu.
Sang Ferryman terus mengamati subjek dari kutukan tersebut.
Kemudian ia melihat pria tersebut, yang secara mendadak berdiri, menepis debu dari dirinya sendiri.
Ia menyadari secara baru, ini adalah seorang pria yang menepis hari kemarin yang tewas dan hidup demi hari esok.
Dilihat dari dalam 'hari ini' yang terhenti, pria itu terasa menyilaukan.
Dan begitu saja, ia tak bisa mengalihkan matanya darinya.
Sebab mereka yang hidup dalam kegelapan mendambakan cahaya.
Dan begitu saja, ia ingin mendudukkan pria tersebut di dalam kegelapan.
Bukankah hal paling alami untuk ingin menyimpan sesuatu yang bersinar di sisi seseorang?
Gelombang yang bergoyang, lentera ungu, sang Ferryman di atas perahu kecil menatap polos pada pria yang terkutuk tersebut.
Ia adalah seorang manusia yang melakukan hal-hal yang tak pernah sanggup dilakukan oleh orang lain yang pernah dilihatnya.
Hal itu membuat sang Ferryman merasakan semacam inspirasi.
Itu adalah sebuah perubahan yang dibawakan dari melihat sikapnya yang tak tergoyahkan.
Lantas apa yang tersisa sekarang?
Masih ada banyak yang tersisa.
Jika ia tersandung di ujung satu saja dari mereka dan gagal menyeberangi tembok, itu bakal jadi akhir cerita.
Karena itulah ini adalah sebuah kutukan.
Sang Ferryman yang menonton meletupkan satu seruan.
"Heh."
*Wah, gila juga ya?*
Tepat saat kelihatannya tubuhnya lebih kurang telah pulih, ia sudah bergerak seperti itu?
Pria itu mengayunkan pedangnya.
Ia mencurahkan keringat saat mengayunkannya, yang tentu saja tidak kelihatan normal.
"Seorang pria gila. Seorang pria gila."
Sang Ferryman bergumam berulang kali.
Juga, melihatnya sekarang, ia secara alami bisa memahami.
Pelayan gila itu tidak sekadar membiarkan apa pun dari mereka yang tewas berlalu darinya.
Ia berada dalam proses merenungkan dan melanjutkan apa yang telah diterimanya dari mereka yang tewas.
***
Setelah beristirahat untuk dua hari lagi, tubuhnya lebih kurang telah pulih.
Bahkan sekadar menggerakkan jari-jarinya telah mengirimkan rasa sakit tajam menembus pergelangan tangannya, tapi hal itu telah lenyap seolah-olah terbasuh pergi.
*'Apakah ini dijuluki regenerasi?'*
Itu adalah alasan lain untuk berterima kasih pada Audin.
Sebab tubuhnya telah membaik dalam sekejap mata.
Ia bangun, mengumpulkan perlengkapannya, lalu pergi ke luar di depan penginapan.
"Kau sudah sabar untuk waktu yang lama."
Rua Garne sudah berada di luar.
Gadis itu menikmati cahaya matahari, memperlihatkan pipi-pipi putihnya.
Cuaca hari ini lembap.
Itu adalah jenis cuaca yang sangat disukai oleh bangsa Frokk.
"Ya," jawab Encrid, merenungkan apa yang mengapung di dalam pikirannya.
Ada banyak hal untuk dipikirkan.
Kepalanya penuh dengan apa yang telah ditinggalkan oleh Ksatria Oara.
Apa yang ditinggalkannya bukan sekadar gelak tawanya.
Oara dan fragmen balrog.
Setiap pergerakan tunggal dari pertarungan mereka tersisa di dalam ingatannya.
Mengalahkan sang balrog bakal datang nanti.
Sebab ia harus mengulang setiap hari hanya untuk mencapai hari esok.
Encrid mengetahui hal itu dengan sangat amat baik, jadi ia melakukan apa yang harus dilakukannya sekarang.
Merenungkan pergerakan-pergerakan yang diperlihatkan Oara padanya.
Ia mempelajari apa yang telah diajarkannya dalam mimpi-mimpinya.
Ia juga mempelajari pergerakan-pergerakan sang balrog yang nyaris tak sanggup dilihatnya.
Itu adalah pertarungan di tingkatan ksatria, bukan ksatria magang.
Ada lebih banyak hal yang belum dilihatnya dibanding apa yang telah dilihatnya.
Meski begitu, ada gunung hal-hal untuk direnungkan dan dipelajari, satu demi satu.
Rua Garne membantunya dengan hal tersebut.
Mari lakukan ini secara perlahan, satu per satu.
Saat Encrid memantapkan tekadnya dan bergerak...
"Aku menduga kau tak butuh nasihat apa pun soal tidak bersikap tidak sabar."
Rua Garne merasa puas.
Pria ini membawa imbalan untuk diajari.
Bahkan jika ia adalah seorang pembelajar yang lambat.
Apa yang dikatakan sang Frokk beberapa saat lalu adalah sebuah sikap terhadap kehidupan yang sudah sangat dikenal oleh Encrid.
*'Segalanya dimulai dari satu langkah tunggal.'*
Ia mempelajari apa yang tak sanggup dipahaminya, dan untuk apa yang bisa dipahaminya, ia menjadikannya miliknya sendiri melalui pengulangan dan latihan yang lambat namun tanpa akhir.
"Kau membangun pengalaman lalu menjadikannya milikmu sendiri melalui latihan," ujar Rua Garne.
Itu adalah apa yang sudah dilakukannya.
Ia merefleksikan dan merenungkan.
Ini adalah bagian dari warisan yang telah ditinggalkan oleh Oara.
Dalam pertarungan antara Oara dan sang monster, mereka berdua telah berhenti di udara, dan itu bukan sebuah metafora atau analogi—pedangnya benar-benar memancarkan cahaya.
Oara telah mengeksekusi serangkaian pergerakan sederhana yang menyeluruh secara beruntun, namun fragmen balrog tidak.
Makhluk itu membalikkan tubuhnya dan mengambil posisi-posisi tidak biasa.
Lantas bagaimana pedang Oara sanggup membalas hal tersebut?
Encrid mulai merenungkan segalanya.











