Bab 460: Pujian dan Sorakan Terbesar
"Benda itu berbeda dari setengah-setengah yang kau lawan sebelumnya. Kau tahu hal itu saat menangkisnya?"
Ujar Rem.
Nadanya bukan nada menegur.
Seolah-olah waspada terhadap Rem yang baru muncul, Jerix menghentikan pergerakannya.
Untuk ukuran monster yang diberi sebuah nama, makhluk itu tak mungkin monster biasa.
Artinya makhluk itu mungkin sanggup berpikir.
Sudah jadi akal sehat bahwa sesuatu yang terpasang di atas leher seekor ghoul hanyalah pajangan, tapi tanah iblis bukan tempat yang dikuasai oleh akal sehat.
Encrid memanfaatkan jeda dalam pertarungan—atau lebih akuratnya, situasi di mana kedua belah pihak meningkatkan kewaspadaan mereka hingga tingkat tertinggi—untuk mengamati sang ghoul bernama Jerix sekali lagi.
Apa pun itu, satu hal yang pasti.
Monster itu sangat amat kuat.
Lebih kuat dibanding para ksatria palsu yang diciptakan oleh sang count yang dulu mengendalikan arwah.
"Kelihatannya begitu," jawab Encrid.
Ia sudah merasakannya secara langsung.
Ghoul itu tahu cara bertarung.
Hal-hal yang dijuluki Rem sebagai setengah-setengah adalah para ksatria palsu itu sendiri.
Mainan rusak yang dijahit dari daging dan otot.
"Kau tahu, dan kau masih menangkisnya?" tanya Rem lagi.
"Sebab aku sanggup menanganinya."
Itu adalah kebenaran.
Di masa lalu, ia takkan sanggup menahannya, tapi sekarang, hal itu agak bisa ditangani.
Bagaimanapun, bajingan ghoul itu juga mengawasi Oara.
Karena satu dan lain hal, otot-ototnya tegang dan sendi-sendinya berderit, tapi pada akhirnya ia tak pernah tertembus oleh kuku-kukunya, bukan?
Tulang rusuknya, yang telah dihantam dua kali oleh kaki sang makhluk, terasa sakit, tapi ini adalah tingkatan rasa sakit yang bisa ditoleransi.
*'Haruskah aku berterima kasih pada Audin?'*
Jika ia tidak berlatih dengan metode pukulan menahan benturan, tulang rusuknya pasti sudah patah.
Ia juga mempelajari sesuatu dari dihantam tak terhitung jumlahnya.
Ia telah merasakan Will bergerak pada momen benturan.
Yang terpenting adalah ia telah bertahan.
Memikirkannya kembali, ia kini memiliki keyakinan untuk menahan, sampai batas tertentu, tebasan-tebasan ksatria Azpen yang dilihatnya saat itu.
***
"Apakah kau belajar membual dari pria yang payah menentukan arah itu?" terkekeh Rem sembari berpikir dalam hati.
*Ah, yang satu ini benar-benar dahsyat.*
Ini berbeda dari setengah-setengah yang diciptakan oleh count pengendali arwah.
Mereka memiliki kekuatan para ksatria tapi secara teknis tidak kompeten.
Apa bagusnya kekuatan jika orang yang menggunakannya adalah orang bodoh?
Karena itulah mereka mudah ditangani.
Tapi monster di depannya berbeda.
Merek bertarung bahkan di antara sesama mereka untuk bertahan hidup.
Apa artinya bagi seorang bajingan ghoul yang telah mengembangkan instingnya hingga tingkatan seperti itu dan selamat?
Itu adalah bukti bahwa makhluk itu telah bertarung dan bertarung hingga ke ambang kematian.
Itu adalah sebuah kemampuan yang didapat melalui perjuangan.
Oleh karena itu, makhluk ini bukan setengah-setengah.
Rem menilai situasi dengan dingin.
*'Aku tak bisa membunuhnya.'*
Sangat sulit saat ini.
Ia membutuhkan sihir.
Kemampuannya yang meningkat saja tidak cukup.
Terlebih lagi, ia baru saja datang setelah berurusan dengan lima troll yang bersembunyi di antara monster-monster.
Bajingan-bajingan itu pun tidak biasa.
Ada rasa sakit di lengan bawah kirinya, dan area di sekitar sendi pinggulnya juga berderit.
Saat ia membunuh troll ketiga, ia menangkis kapak batunya dengan lengan kiri dan secara bersamaan dihantam di bagian pinggang.
Itu adalah luka-luka ringan yang didapat saat bertarung melawan lima troll.
Berkat hal tersebut, keseimbangan tubuhnya sedikit melenceng.
Itu bukan luka yang mematikan.
Istirahat beberapa hari dan luka itu bakal sembuh dengan cepat.
Satu minggu paling banyak sudah cukup.
Bepergian dengan berjalan kaki takkan jadi masalah.
Berurusan dengan bandit-bandit bodoh juga bakal baik-baik saja.
Ia hanya harus menghindari pertarungan sengit saat ini.
Selama itu bukan melawan monster tidak biasa, ia bakal baik-baik saja.
Namun masalahnya adalah monster semacam itu berada tepat di depannya.
Tapi bajingan yang dipanggilnya kapten tidak memperlihatkan niat untuk mundur.
Tidak, kelihatannya pria itu bahkan menghentikan Ksatria Oara untuk melangkah masuk.
*'Ini agak berlebihan hanya untuk sekadar menepis kesialan.'*
Rem menggaruk kepalanya dengan gagang kapaknya.
Ia telah bersiap untuk menahan beberapa kesialan sejak ia memutuskan untuk pergi ke Barat, tapi ini memang berlebihan.
"Apa yang kau inginkan?"
Meski begitu, Rem bertanya.
"Mendaratkan satu pukulan."
Jawaban kembali secara instan.
Maksudnya ia telah menetapkan pikirannya.
Yah, pria itu bukan tipe orang yang ragu-ragu.
Pria bernama Encrid adalah seorang pria gila yang, alih-alih berhenti untuk merenung, bakal bertindak terlebih dahulu lalu membuat jalan yang dipilihnya menjadi jalan yang benar.
Ia sendiri menilai hal itu agak menyenangkan.
Bukankah karena itulah ia bertahan di sini?
Bukankah karena ia telah mempelajari sesuatu dari menonton pria ini hingga ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Barat?
Sang ghoul menggoyangkan jari-jarinya.
Kelihatan seolah-olah sedang melakukan semacam kalkulasi.
Seekor monster yang mengendalikan kekuatan seorang ksatria berdasarkan indra bertarung bawaannya.
Rem berpikir ia mungkin bakal tewas.
"Ayo lakukan."
Tapi ia tak punya niat untuk mundur.
Tak ada waktu untuk membentuk strategi yang layak, tapi Encrid telah menunggu Rem sejak ia mulai menata panggungnya.
Yang dibutuhkannya adalah celah singkat dalam satu momen.
Rem bakal menciptakan celah itu untuknya.
Encrid percaya demikian.
***
Para ghoul biasanya tidak berpikir.
Sebab sesuatu di atas leher mereka benar-benar sebuah pajangan.
Tapi ghoul bernama Jerix sanggup melakukan pemikiran sederhana.
Itu adalah alasan utama yang membuat monster Jerix menjadi seperti saat ini.
Melalui proses pemikiran tersebut, Jerix mengenali dan menilai situasi.
Entah dua atau tiga lawan menghalangi jalannya, hal itu tidak masalah.
Mereka lebih lemah dan lebih lambat dibanding dirinya.
Tapi jika ia membunuh mereka, bilah pedang lainnya dari belakang bakal melayang menghantamnya.
Sebuah bilah pedang yang telah dihadapinya beberapa kali.
Sang ghoul berpikir.
Yang harus dilakukannya hanyalah mengulur waktu dan bertahan.
Maka, sosok yang mendesaknya ke sini bakal melangkah ke depan.
Itulah kesimpulan dari proses pemikirannya.
Bilah pedang yang menyulitkan mendekat kembali.
Jerix dengan santai menendang menjauh mata kapak yang membidik pergelangan kakinya dengan bagian atas kakinya, sembari secara teliti menangkis pedang.
Pedang itu bercampur dengan logam yang menyulitkan.
Monster-monster secara alami lemah terhadap perak.
Sebab perak adalah logam yang mengandung keilahian.
Tapi perak juga merupakan logam yang lunak, jadi membuat pedang perak sangat amat sulit kecuali seseorang adalah seorang maestro pengrajin.
Di atas segalanya, pedang perak yang tidak menerima pemberkatan tak bisa memengaruhi tubuhnya dengan cara apa pun.
Tapi potongan besi yang diayunkan sang lawan dipenuhi oleh sensasi yang buruk.
Itu sangat alami.
Aker bercampur dengan logam bernama Truesilver.
Jerix berpikir saat menghindar.
Ia hanya harus menghindari dipotong atau ditusuk secara dalam.
Oleh karena itu, itu bukan sebuah ancaman.
Entah itu pedang bercampur Truesilver atau pemukul yang diberkati, hal itu tak bermakna jika tidak menghantamnya.
Ghoul Jerix percaya diri akan hal tersebut.
Ia takkan dijatuhkan oleh ilmu pedang selemah itu.
Itu adalah fakta yang diketahuinya secara insting, setelah hidup dalam waktu yang lama.
Ia telah selesai menilai kemampuan mereka.
*Wuuussh!* Mata kapak melayang masuk kembali.
Jerix membentuk bilah tangan lebih cepat dibanding kapak lalu menangkisnya.
*Klack!*
Kulitnya yang mengeras menangkis mata kapak.
Kemudian sang lawan menarik kapak melintasi kulitnya.
*Screeeeech!*
Logam menggerus kulitnya, dan potongan-potongan daging yang mengeras, tergerus oleh mata kapak, melayang lepas.
Kulitnya tidak terpotong atau terbelah, tapi bagian dari kulit tebalnya terobek lepas.
Itu adalah sebuah pencapaian yang memungkinkan karena kulitnya sendiri mirip seperti sebuah zirah.
Jadi monster itu telah menangkisnya dengan bagus.
Jerix menangkis dengan tangan kiri dan mengulurkan tangan kanannya.
*Clank!*
Tangan kanan itu tertahan oleh mata kapak lainnya.
Beberapa pertukaran serangan terjadi saat monster itu mengulang proses menarik dan mengulurkan tangannya.
Jerix mengukur dan mengonfirmasi kemampuan lawannya.
Dengan hal tersebut, monster itu yakin bahwa kedua orang ini takkan pernah sanggup membunuhnya.
Oleh karena itu, waktu berada di pihaknya.
Tak ada kebutuhan untuk terburu-buru, jadi monster itu hanya akan secara perlahan mendesak mereka mundur.
Sang ghoul masih belajar.
Persis seperti yang dipelajarinya saat melarikan diri dari manusia yang mengayunkan pedang mengerikan, monster itu sedang belajar sekarang.
Kali ini, monster itu mempelajari cara mengulur waktu dan mendesak mundur.
Monster itu menekan dorongan pembantaiannya dan menunggu.
Sebab waktu berada di pihaknya.
Tentu saja, setiap sosok di dunia ini rentan terhadap kalkulasi yang salah.
"Ack!"
Sebuah jeritan terdengar.
Jeritan itu milik seorang manusia.
Pupil sang ghoul menyempit.
Pandangannya beralih ke tempat di mana jeritan meletup.
Monster itu melihat seorang manusia wanita kecil mencengkeram bahunya dan berguling-guling di tanah.
Darah mengalir di bahunya.
Aroma harum darah, daging yang lembut.
Dorongan untuk membantai membuncah.
Nafsu makannya menyala.
Dengan menahannya dan mengamati situasi, Jerix melangkah maju satu tahap lagi.
Monster itu berevolusi.
Bagian luarnya tetap sama, tapi bagian dalamnya telah berubah.
Pikiran sang ghoul mengakselerasi dan berkembang seolah-olah dalam krisis.
Monster itu melangkah lebih jauh.
Pada tingkatan ini, monster itu bahkan mungkin dijuluki sebagai dewa tanah iblis.
Dan kemudian...
"Sekarang!"
Itu terjadi pada momen saat pandangannya beralih ke sisi lain.
Bilah pedang, begitu cepat hingga bayangan sekalipun kelihatan seperti garis-garis, telah berubah menjadi garis panjang dan melayang masuk sebagai sebuah tebasan.
Targetnya adalah pergelangan tangannya; itu tak bisa dihindari.
Itu terjadi dalam momen singkat saat pandangannya beralih.
Mata-mata kapak membidik kedua tangannya.
Alasan pandangannya bergeser?
Bukan karena manusia yang terluka.
Itu karena monster itu melihat pedang mengerikan di sampingnya bergerak.
Manusia yang tadinya menyudutkannya telah melangkah menjauh.
Pedang itu kemudian memotong bagian belakang manusia yang memancarkan aroma harum darah.
Lebih tepatnya, pedang itu memotong Owlbear yang tadinya membidik manusia tersebut.
*Swish, thwack, krak!*
Segalanya terjadi dalam sekejap mata.
Oara telah melempar tubuhnya ke depan dan mengayunkan pedangnya.
Owlbear terbelah secara vertikal, menyemburkan darah hitam.
Sang ghoul menyaksikan hal ini dan mengulurkan tangannya, memuntir pergelangan tangannya sehingga telapak tangannya menghadap ke langit, lalu menyambar mata kapak.
Tak ada kebutuhan untuk menyembunyikan kekuatannya lagi, jadi monster itu mengangkat kuku-kukunya dan mencengkeram mata kapak.
Suara-suara seperti remukan dan retakan terdengar.
Sebuah lubang muncul di mata kapak saat hancur.
Saat meremukkan mata kapak, Jerix menendangkan kaki kirinya ke depan.
Kaki yang melesat lurus ke depan menyerupai kartu truf tersembunyi yang disembunyikan Jerix sendiri.
Kaki yang terulur tiga kali lebih cepat dibanding tangannya.
*Boom!*
Sebuah ledakan yang memekakkan telinga meletup.
Pemilik kapak, dihantam oleh tendangan tersebut, terpental melayang ke belakang.
Segalanya berada di dalam pemikiran sang ghoul.
Segalanya terjadi di dalam kalkulasinya.
Itu terjadi pada momen saat berurusan dengan kapak.
Jerix melihat seberkas cahaya yang melampaui kognisinya.
Monster itu berhadapan dengan sesuatu di luar kalkulasinya.
Cahaya itu telah mendekat tepat di depan matanya.
Cahaya yang telah menjadi sebuah titik lenyap secepat kemunculannya.
Sangat alami bahwa cahaya itu tak lagi terlihat, karena cahaya itu telah menggunakan ruang di antara kedua matanya sebagai pintu masuk dan menembus kepalanya.
Untuk sekejap, sang ghoul tak bisa memahami apa yang telah terjadi, tapi satu hal melintas di benaknya.
Monster itu mengingat bilah pedang mengerikan yang tadinya membidiknya.
Itu adalah cahaya yang mirip dengan bilah pedang tersebut.
Saat kepalanya tertembus, Jerix mengerahkan kekuatan terakhirnya, mengangkat kuku-kukunya, lalu menusuk.
Monster itu tidak merasakan emosi tertentu, jadi tindakan terakhir ini murni berdasarkan insting.
Ujung dari kuku itu menggali dalam ke dalam daging.
***
Jika metodenya hingga saat ini adalah memeras otot-ototnya hingga ke batasnya, tebasan Roman agak sedikit berbeda.
*'Will di setiap gerakan.'*
Mulai dari mengambil langkah hingga bernapas.
Karena ia tak bisa menjadi ksatria secara langsung, Roman menyusupkan segalanya dengan Will untuk meniru tebasan seorang ksatria.
Encrid melihat metode tersebut, mempelajarinya, dan menjadikannya miliknya sendiri.
Will, sebagaimana sebutannya, bisa dirasakan, tapi tak bisa digunakan secara bebas.
Lantas bagaimana ia menggunakan Swiftness atau tebasan raksasa?
*'Segalanya berada di dalam diriku.'*
Ia bisa menggunakannya jika ia meletakkan tekadnya di dalamnya.
Jadi saat ia menggerakkan kakinya, ia bakal melangkah seolah-olah nyawanya bergantung pada hal itu, dan saat ia mencengkeram pedangnya, ia bakal melakukan hal yang sama.
Pencerahan datang dalam sekejap mata, tapi waktu yang lama dibutuhkan untuk melangkah menembusnya.
Ia mengulangnya hingga tubuhnya mencapai pencerahan tersebut.
Persis seperti saat ia melepaskan Swiftness atau tebasan raksasa, ia meresapi langkah kakinya dengan Will dan gesturnya dengan Will.
Saat ia memecah pergerakannya dan meresapi masing-masing pergerakan dengan tekad, pergerakan itu secara alami menjadi lebih sederhana.
Jika ia mencoba meresapi seluruh pergerakannya yang kompleks dengan Will, tiga ratus 'hari ini' takkan cukup.
*'Tusuk.'*
Ia mencapai proses menusukkan pedangnya dengan tekad.
Ia telah tiba.
Setelah puluhan kegagalan, ia berhasil meresapi hanya satu gerakan dengan hal tersebut.
Kaki yang ditancapkan di atas tanah terasa canggung.
Tangan yang mencengkeram pedang juga canggung.
Menyusupkan Will dari pergelangan kaki di atas tanah hingga ke ujung-ujung jarinya.
Segalanya di sekitarnya kabur.
Sangat sulit untuk mempersepsikan objek-objek.
Jadi ia sekadar bergerak seperti yang pertama kali diputuskannya.
Ia berfokus murni pada meresapi pergerakan dengan Will.
Encrid menusukkan pedangnya.
Lebih tepatnya, ia memecah tindakan menusukkan pedang, membaginya ke dalam setiap bagian tunggal, mempersepsikan seluruh pergerakan dengan Sensory Skill miliknya, dan mengeksekusinya melalui Single Point Focus.
Jika ditanya apakah ini berbeda dari biasanya, ia bakal bilang ia tidak tahu.
Namun Will yang diresapi di sekujur tubuhnya memungkinkannya mencicipi kemahakuasaan, jika hanya untuk sekejap.
*'Tusuk.'*
Sang lawan tak bisa menghindarinya.
Bakal jadi demikian.
Itu adalah hal yang sewajarnya.
Begitulah rasanya.
Dan kenyataannya memang seperti itu.
Ujung Aker menembus lurus menembus dahi Jerix.
***
Roman pernah bilang bahwa hanya satu kali itu bakal membuatnya merasa kosong, dan bahwa pada akhirnya tak ada satu ons pun kekuatan yang tersisa di sekujur tubuhnya, tapi...
Hal itu tidak berlaku bagi Encrid.
Ia mengetahuinya karena ia telah mengalaminya beberapa kali sebelumnya.
Ia tidak merasakan kekosongan apa pun dari kehilangan Will.
Sebagai gantinya, otot-otot di sekujur tubuhnya sekadar terasa sakit seolah-olah bakal putus.
Saat Jerix tewas, monster itu mengangkat kuku-kukunya dan melepaskan lecutan.
Dan sebuah bayangan putih memotong di depan Encrid.
Itu adalah Dunbakel.
Momen saat ia melihat sang monster, tubuhnya gemetar.
Ia ingin melarikan diri.
Tapi ia tidak melakkukannya.
Lari.
Kabur.
Melesat pergi.
Kata-kata ini hanya bisa diutarakan jika seseorang memilih untuk berdiri dan bertarung.
Dunbakel bertarung melawan dorongan tersebut dan melempar tubuhnya ke depan.
Ia belum memikirkannya; tubuhnya telah bergerak terlebih dahulu.
*'Kenapa aku?'*
Pertanyaan menyusul setelahnya.
Bercampur dengan suara *crot* yang lembut.
"Ughhh!"
Ia merasakan rasa sakit imajiner seolah-olah perutnya sedang tertembus.
Ia menunggu rasa sakit dahsyat dari organ dalamnya yang terobek lepas, tapi karena ia begitu tegang dan telah mengencangkan otot-otot perutnya, otot-otot itu sekadar pegal; tak ada rasa sakit.
*Vrrrrr.*
Dunbakel melihat otot-otot lengan yang gemetar hebat.
Sebuah zirah pelindung lengan yang melesak masuk ke dalam pandangannya.
Pada saat yang sama, ia melihat sepotong jasad monster dipegang di tangan tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Encrid.
Momen Dunbakel menghalangi jalannya, ia telah mengangkat salah satu jasad monster.
"Bisakah kau menepi?"
Encrid merasakan kelelahan yang mengerikan.
Itu bukan sekadar tusukan sederhana; ia harus menyusupkan Will bahkan ke dalam tindakan mengangkat dan menangkis dengan jasad monster.
Kelelahan dari hal tersebut mencurah memenuhi sekujur tubuhnya.
Tak ada kekosongan, jadi pandangannya lebih jernih dibanding sebelumnya.
Orang bodoh tanpa bakat yang telah mengintip kemahakuasaan bahkan tidak mempertimbangkan seberapa besar pencapaiannya.
Sebab hal itu bukan apa yang penting saat ini.
Sebagai gantinya, pandangannya beralih ke sisi samping.
Jerix telah tewas.
Sementara itu, Roman juga telah membunuh pendekar pedang laba-laba dengan tebasan ksatria.
Owlbear telah ditebas oleh Oara.
Ia bisa melihat orang berambut pirang pendek telah terluka saat secara paksa menciptakan sebuah celah lalu ambruk.
Di sampingnya berdiri Oara.
"Kau ini sebenarnya apa?" tanya wanita itu terperanjat, menatapnya.
Encrid menjawab pertanyaannya.
"Gantian giliranmu."
Meski mendengar kata-kata yang tak terduga, Oara tidak mendebat dan memutar kepalanya ke depan.
Di sana, ia melihat sang penguasa yang sebenarnya memegang kendali atas tanah iblis ini.
Sebuah fragmen balrog.
Oara tak bisa bertarung lama gara-gara racun.
Bahkan saat itu, jika ia memaksakan diri, ia harus beristirahat untuk waktu yang lama, jadi ia tak bisa secara mudah meninggalkan kota.
Ia hanya melangkah keluar saat tak punya pilihan lain.
Jadi jika ia berhadapan dengan makhluk itu setelah bertarung melawan Jerix dan yang lainnya, ia harus sekadar menyorongkan lehernya secara pasrah dan menunggu.
Pernah melihatnya sebelumnya, Encrid tahu bahwa 'hari ini' bakal jadi seperti itu.
***
"Perlihatkan padaku. Apa yang dilindungi oleh Ksatria Oara."
Pendatang di kota itu berkata dari belakang Oara.
Pendatang itu sangat tampan dan seorang pria yang unik.
Seolah-olah ia telah tahu hal ini bakal terjadi dan bergerak sesuai dengannya.
Lantas, apakah ada masalah?
Tidak.
Oara tahu apa yang harus dilakukannya, jadi ia tersenyum.
Oara yang tersenyum mengangkat pedangnya lalu berkata, "Sorakilah aku dan aku bakal memintamu menari."
Oara, mengembalikan kata-kata yang pernah diutarakan Encrid, mengayunkan pedangnya menukik jatuh.
Saat memukul, ia menggerakkan kakinya.
Tujuan dari bilah pedang yang membengkok lembut adalah kepala balrog.
*Clang!*
Sang fragmen mengangkat bongkahan besi merah membara lalu menangkis pedang Oara.
Seorang ksatria dan seekor monster mengunci senjata dan berhenti.
Encrid pernah menginginkannya.
Untuk melihat Oara bertarung secara layak.
Untuk hal tersebut, ia telah mengulang hari ini.
Ia sudah bersorak padanya.
Dengan membunuh sang ghoul Jerix.
Menciptakan panggung ini adalah pujian dan sorakan terbesar yang sanggup dikirimkan oleh Encrid.
Ia hanya ingin melihat.
Apa yang dilakukan seorang ksatria, apa yang sanggup dilakukan oleh seorang ksatria.
Melalui pengulangan hari ini, Encrid mengutarakan apa yang ingin dikatakannya.
Dan Oara memperlihatkan padanya apa yang telah didapatkannya dan ingin dilihatnya.











