Eternally Regressing Knight

Bab 456: Cara Merebut Inisiatif

2424 Kata

Bab 456: Cara Merebut Inisiatif

Encrid ingin Rem menangani segala sesuatunya secara mandiri—dengan bersih, cerdas, dan cepat.

Dan Rem bakal melakukan persis seperti itu.

*'Dia bakal menanganinya.'*

Itu bukan sebuah keyakinan tanpa dasar.

Rem yang dilihatnya hingga saat ini adalah sosok pria semacam itu.

Yang diinginkan Encrid adalah agar ia membunuh pemimpin monster khusus yang menembakkan panah dari buntalan benang.

Ia juga ingin Rem mengurangi jumlah monster selagi mereka berada di sana.

Ia belum menjelaskan secara terperinci, tapi ia tahu Rem dan Dunbakel bakal tahu apa yang harus dilakukan.

Apakah ada monster berbahaya lainnya di sana?

Mungkin saja ada.

Namun...

*'Jika aku adalah seekor monster...'*

Aku takkan membuang banyak pasukanku saat Oara berada di sekitar sini.

Terlebih lagi, rencananya adalah menarik lebih banyak perhatian pada dirinya sendiri mulai dari sekarang.

Encrid telah mengulang hari ini tak terhitung jumlahnya, berpikir, mempertimbangkan kembali, dan merenungkan.

Dengan melakukan hal itu, ia bisa menempatkan dirinya di posisi musuh dan melihat para sekutunya dari sudut pandang mereka.

*'Apa ancaman terbesar bagi mereka?'*

Tak perlu bertanya lagi.

Jawabannya adalah Oara.

*'Apa tujuan mereka?'*

Ia juga sudah mengetahui hal ini.

*'Ksatria Oara.'*

Merek berfokus untuk membunuh sang ksatria tunggal bernama Oara.

Persis seperti Oara yang mencoba membunuh monster inti untuk melenyapkan tanah iblis, mereka pun melakukan hal serupa.

Encrid telah membaca niat musuh, menebak incaran asli mereka, dan mengonfirmasinya di 'hari ini' yang diulang.

"Apakah dia dilahirkan jenius dalam membaca medan perang?"

Roman bergumam demikian, tapi kenyataannya tidak seperti itu.

Ia bisa melakkukannya hanya karena memiliki pengalaman.

Bagaimanapun, ia menghabiskan hari ini dan hari ini lagi dengan cara seperti itu.

Meski begitu, ia tak pernah sekali pun membuang 'hari ini' sekadar untuk mengumpulkan informasi.

Ini adalah poin yang bahkan membuat sang Ferryman merasa terperanjat.

Encrid sekadar menghabiskan hari ini, hari ini, dan setiap hari dengan mengayunkan pedangnya bagai orang gila, mijejalkan ke dalam kepalanya seluruh informasi yang menghampirinya.

Begitulah cara 'hari ini' dimulai.

Kesimpulannya: Rem dan Dunbakel bakal melakukan tugas mereka sendiri.

Jadi, Encrid pun harus melakukan apa yang harus dilakukannya.

"Hoo."

Ia membusungkan pipinya, mengembuskan napas, lalu merapatkan bibirnya dan meraup udara masuk.

*Buug, buug.*

Encrid mengambil langkah dan mulai bergerak maju.

Tubuhnya terasa ringan.

Kondisinya tidak buruk.

Tidak, kondisinya sangat bagus.

Lebih bagus dari biasanya.

Apa yang diinginkannya memercikkan kobaran api di dadanya dan menarik keluar sensasi euphoria.

Encrid meningkatkan kecepatannya menjadi lari-lari kecil, dan Rua Garne mengikutinya dari belakang.

Dari atas dinding benteng, Oara mengamatinya, sementara dari jarak dekat, Roman, ksatria magang berambut pirang pendek, dan Aisha menontonnya.

Ia telah memutuskan untuk mendapatkan kepercayaan mereka melalui tindakannya.

Jadi, yang perlu dilakukannya hanyalah memperlihatkannya dengan benar pada mereka.

***

Kepala monster laba-laba yang menerjang masuk ke dalam pandangan Encrid.

Puluhan mata di sisi samping, moncong yang terbelah ke kiri dan kanan, kaki-kaki sekeras tempaan baja.

Itu adalah monster yang lebih gesit dibanding yang lainnya.

Makhluk itu merangkak cepat mendekat dan menyilangkan dua kaki depannya menyerupai gunting.

Gate of the Sixth Sense terbuka, dan ia merasakan waktu melambat akibat konsentrasinya.

Ia bisa melihat kaki-kaki berbilah milik sang monster.

Ia bisa melihat tonjolan-tonjolan yang berjejer dalam interval teratur seperti gerigi gergaji.

Ia juga bisa merasakan kekuatan yang terkandung dalam dua kaki yang disilangkan.

Jika ia tertangkap dalam jepitan itu, tubuhnya bakal terbelah menjadi dua.

Goresan tipis saja bakal merobek dagingnya hingga hancur berkeping-keping.

Maka, yang harus dilakukannya hanyalah bergerak sebelum serangan itu mencapainya.

Di dalam rekahan waktu yang terbelah, ia mengakselerasi pikirannya dan bergerak.

Encrid mengayunkan Aker menukik ke atas dari bawah.

Bilah pedang, menggambar busur lembut, menggores melintasi dua kaki laba-laba dan berlanjut untuk membelah kepalanya.

*'Tak perlu berhenti.'*

Berpikir dan bergerak.

Setelah menebas satu monster, Encrid melangkah maju dan mulai mengayunkan Aker hanya dengan tangan kanannya.

Kaki Encrid menghentak, menggerus, dan menggeser di atas tanah dengan kecepatan yang mengerikan.

Ia memuntir pinggangnya dan membengkokkan pergelangan kakinya, menghantam menukik, menusuk, memotong, dan mengayunkan pedangnya.

*Thwack, krak, jleb, crot, krrrk!*

*'Apa yang dibutuhkan saat menghadapi banyak musuh?'*

Keberanian dan penilaian.

Kemampuan untuk menilai melalui insting alih-alih pemikiran, dan membuat seluruh penilaian itu benar, juga sangat dibutuhkan.

Orang yang paling mahir melakukan hal itu adalah Rem.

Kapaknya bakal bergerak mengikuti insting, menggambar busur-busur tanpa kekangan.

Encrid meniru Rem.

*Ting!*

Ia sudah menghunus Spark dengan tangan kirinya.

Ia tidak meniru tekniknya, melainkan auranya.

*'Aku adalah seorang barbarian.'*

Seorang barbarian gila.

Seorang barbarian yang hobinya adalah memotong kepala bangsawan.

Seorang barbarian yang bakal mengajak berkelahi siapa pun yang tidak disukainya.

Pedang-pedang di tangan Encrid melecut bagai cambuk dan bergerak bagai seberkas cahaya.

Spark, kini berupa seberkas cahaya, menusuk secara diagonal menukik ke bawah.

Kelihatannya seolah-olah menusuk udara kosong, tapi kenyataannya tidak.

Seekor monster laba-laba menusukkan kepalanya ke titik di mana tadinya tak ada apa-apa.

*Kreeeeeeek!*

Seekor laba-laba besar sedang menopang tubuhnya dengan kaki-kakinya, menjulurkan bagian belakangnya, saat kepalanya ditembus oleh Spark.

Menusuk dan menarik.

Itu adalah tebasan pedang dengan kecepatan di luar ranah orang biasa.

*Pffft!*

Monster itu, dengan lubang di kepalanya, menyemburkan racun dari lubang belakangnya saat tewas.

Cairan cokelat pekat melayang di udara dan menciprat ke atas tanah.

Secara alami cairan itu bahkan tidak menyentuh Encrid, tidak pula memengaruhinya.

Sementara satu monster penyembur racun ambruk tewas, Aker melesat melintasi medan perang bagai burung layang-layang.

Itu adalah pengulangan dari menghantam, memukul, dan meremukkan.

***

Merasakan keberadaan dari belakang, Encrid menundukkan kepalanya.

*Wuuussh!*

Kaki laba-laba melintas tepat di atas kepalanya.

Beberapa helai rambutnya terpotong dan melayang ke udara, dan Encrid memuntir pinggangnya lalu mengulurkan satu kakinya ke belakang.

*Thwack!*

Kepala laba-laba yang tertangkap oleh tumit kakinya hancur berkeping-keping.

Saat ia mengulurkan kakinya ke belakang, ia melihat makhluk lain merangkak naik, mencoba menghantam punggung kaki kirinya dengan dua kaki depan yang menyerupai sabit.

Encrid menarik kembali kakinya yang terulur lalu menendangkannya ke depan.

Tepat sebelum lengan menyerupai sabit sanggup menghantam punggung kaki kirinya, sepatu boot miliknya—yang diperkuat dengan pelat baja di bagian punggung kaki—menendang sang laba-laba.

*BOOM!*

Itu adalah monster yang relatif kecil.

Daya sentak dari tendangan itu meletupkan tubuhnya.

Cairan tubuh hitam menciprat di sekujur punggung sepatu boot-nya.

Yang besar, yang kecil, yang sedang, penyembur racun, pemutar benang, yang menggunakan kaki mereka seperti bilah pedang, yang menerjang secara membabi buta, yang menggali tanah dari bawah, yang secara licik membidik punggungnya.

Ada banyak.

Lebih dari cukup bajingan untuk dibunuh.

Encrid melihat satu inci ke masa depan.

Dan ia mengayunkan pedangnya sesuai dengan prediksi itu.

Ia menghantam menukik dengan Aker dari atas, menyarungkan Spark, menghunus gladius, lalu menghentakkannya ke tanah.

Setelah melakukan dua gerakan secara bersamaan, ia melompat ke sisi samping.

*KRAK!*

Sebuah cambuk dengan pemberat besi di ujungnya mengisi celah kosong tersebut.

Itu adalah bantuan dari Rua Garne.

Titik yang dilompatinya berada tepat di tengah-tengah sekelompok monster.

Beberapa monster laba-laba mengulurkan lengan mereka.

Ia memuntir kepalanya untuk menghindar dan, dengan memegang pedangnya secara vertikal, menggunakan bagian datar pedang untuk menghantam dan membelengkokkan lengan depan monster laba-laba.

Itu adalah sesuatu yang hanya memungkinkan karena perbedaan kemampuan yang sangat amat jauh.

Tentu saja, meski begitu, itu tetaplah sebuah tindakan yang setengah gila.

Sebaliknya, saat sebuah tindakan gila berhasil, hal itu bisa menjadi sesuatu yang luar biasa.

Bagaimanapun, seorang pria gila dan seorang pahlawan pada awalnya dipisahkan oleh garis yang sangat tipis.

Dan Encrid sedang melakukan persis seperti itu saat ini.

Ia menghindar dan menangkis, mengamankan posisinya.

Di tengah-tengah kawanan monster.

Setelah menyusupkan dirinya di antara monster-monster, Encrid mencengkeram Aker dengan kedua belah tangan lalu mengayunkannya dalam busur yang lebar.

Itu adalah tebasan yang dipenuhi gaya sentrifugal, memanfaatkan prinsip-prinsip teknik Northern Heavy Sword.

Tebasan pedangnya merobek dan meremukkan monster-monster bagai sebuah angin topan.

*CR-CR-CR-CRACK!*

Segalanya yang tersentuh oleh bilah pedang terpotong dan terbelah.

Dalam satu ayunan tunggal, ia telah menciptakan sebuah lubang di tengah-tengah kawanan monster.

Dengan tebasan itu sebagai pusatnya, area di sekitar Encrid menjadi ruang hampa untuk sekejap.

Encrid menenangkan napasnya lalu menepiskan bilah pedangnya di udara.

Cairan hitam menciprat ke tanah.

Ia telah mempelajari pola-pola monster melalui 'hari ini' yang diulang.

Encrid melukis gambaran miliknya sendiri di atas pola-pola yang dikatutinya melalui insting dan intuisi.

Setelah mencengkeram dan memprediksi kebiasaan monster-monster, itu adalah sebuah lukisan yang dilukis di atas kanvas medan perang menggunakan darah hitam monster sebagai catnya.

Biasanya, mengetahui seluruh kebiasaan monster adalah hal yang mustahil, tapi tidak untuk saat ini.

Ada 'hari ini' di mana Oara tewas, 'hari ini' di mana ia tewas, 'hari ini' bersama Rem yang memiliki lubang di perutnya, 'hari ini' di mana leher Aisha terpenggal, 'hari ini' bersama Rua Garne yang tewas dengan jantung tertembus, 'hari ini' di mana Roman tewas tanpa sanggup melakukan apa pun—ada 'hari ini' semacam itu yang tak terhitung jumlahnya.

Hari ini, seluruh pengalaman itu terkondensasi ke dalam diri satu orang pria.

Oleh karena itu, setidaknya di atas panggung ini, Encrid adalah pemburu paling berpengalaman.

*'Bolehkah juga.'*

Makin ia bergerak, tubuhnya makin terasa luwes.

Ia tidak lelah.

Hal ini tetap berlaku meski ia telah menggunakan Will of the Moment, tebasan raksasa, dan Will of Severance di sela-selanya.

Encrid tidak berhenti.

Untuk sekejap, ia melupakan Rem, melupakan Oara, dan sekadar berlari.

Ia mengayunkan pedangnya dan menggerakkan kakinya.

Ia bertarung tanpa henti.

Inilah saatnya untuk membuktikan dirinya hanya dengan hal itu saja.

Dan ada orang-orang yang sedang menontonnya.

***

Milio sedang menunggu di depan gerbang benteng, jadi ia tak bisa melihat apa yang sedang terjadi di depan.

Tepat saat ia hendak memerintahkan gerbang dibuka, ia mendengar suara yang menyuruh untuk menutupnya, tapi ia tak punya alasan untuk menuruti.

Meski begitu, ia hampir saja bergerak menuruti perintah tersebut sebelum ia menyadarinya, lalu berhenti.

"Tutup gerbangnya."

Tepat saat itu, perintah Oara turun dari atas.

Milio berpikir bahwa bahkan tanpa perintah sang ksatria pun, ia mungkin bakal mengikuti teriakan yang meletup dari depan.

"Ke dinding benteng! Semuanya, pegang busur kalian!"

Milio berkata pada anggota unit yang dipimpinnya lalu mulai bergerak.

*'Admor, kau bajingan. Kau tidak mati kan?'*

Encrid memang menyela, tapi pada akhirnya keputusan mengirim pria itu keluar adalah keputusannya sendiri.

Sebuah kekhawatiran tipis berakar di sudut pikirannya.

Tentu saja sekarang bukan waktunya untuk hal tersebut.

Bukankah monster-monster sedang berhamburan mencurah masuk tidak seperti sebelumnya?

Di antara gelombang monster, ini adalah gelombang berskala besar.

Di medan perang di mana semua orang, termasuk Oara, telah melangkah ke depan, ia tak boleh mengacaukan segalanya dengan mengkhawatirkan satu rekan.

Milio mulai melangkah kembali.

Ia tahu tak perlu memaksakan diri, tapi ia tak bisa menahan kaki kakinya untuk tidak makin cepat dengan sendirinya.

*'Kenapa mereka tidak menembak?'*

Sudah jadi akal sehat di Thousand Bricks untuk menghantam monster dengan anak panah sebelum mereka mendekat demi mengurangi jumlah mereka.

Meski begitu, tak ada panah yang melayang.

Belum saatnya.

Dengan langkah kakinya yang makin cepat secara alami, Milio berdiri di atas dinding benteng.

Lalu ia memegang busurnya dan memasang anak panah.

Sekarang, yang harus dilakukannya hanyalah menunggu perintah untuk menembak.

Oara berada di sana, tapi ada orang lain yang memegang komando.

Sudah jadi kebiasaan bagi orang lain untuk memimpin para pemanah dari belakang saat para Ksatria keluar untuk bertarung.

Begitulah cara Thousand Bricks bertahan hidup.

Milio melihat bahwa orang yang seharusnya memberikan perintah sedang tak sanggup berkata-kata.

Prajurit di sampingnya yang bertugas memberi sinyal dengan bendera pun serupa.

Tidak, bahkan Oara pun serupa.

"Dasar bajingan gila."

Oara berucap demikian, bibirnya memuntir ke atas.

Oara selalu tersenyum.

Tapi senyuman yang dibuatnya saat benar-benar antusias agak sedikit berbeda.

Itu adalah perbedaan tipis yang hanya diketahui oleh Milio.

Itu adalah keahlian khusus Milio, yang didapat dari mengamatinya dalam waktu yang lama dengan menyimpan wanita itu di dalam hatinya.

Membaca senyuman Oara.

Dan di mata Milio, Oara saat ini kelihatan benar-benar terkagum-kagum.

Secara alami, pandangan Milio beralih ke depan.

Sekali waktu, seseorang pernah melihat pertarungan yang melibatkan seorang ksatria Red Cloak Knights yang sedang melangkah naik dari Squire ke Ksatria Magang.

Itu terjadi di medan perang antara Naurilia dan Azpen, di tengah-tengah Green Pearl di seberang Border Guard.

Sang ksatria, kakinya dipenuhi tekad Will, menghentak tanah lalu menerjang.

Tebasan-tebasan pedang yang menyusul menyerupai seekor kupu-kupu, dan gerakannya menyerupai sambaran petir.

Dengan cara seperti itu, satu orang petarung merobek medan perang.

Saat seseorang di tingkatan ksatria magang masuk ke dalam barisan prajurit biasa, hal semacam itu bisa terjadi.

Itu adalah jenis kemahiran bertarung yang sanggup memutarbalikkan medan perang.

Milio belum pernah melihat pertarungan tersebut.

Ia hanya bisa melihat apa yang berada di depan matanya sendiri.

Tapi ia sedang melihat sesuatu yang serupa saat ini.

Di luar gerbang benteng.

Alasan Oara tersenyum berada di sana.

Di tengah-tengah kawanan monster, satu-satunya sekutu di dekatnya adalah sang Frokk yang mengikutinya di belakang.

Terlebih lagi, pertarungan sang Frokk bahkan tidak mencolok.

Seorang pria yang berdiri di posisi di mana ia sendiri bakal tewas tanpa bertahan bahkan dalam beberapa pertukaran serangan sedang mengayunkan pedangnya.

Ia memotong.

Ia menusuk.

Ia membelah dan meremukkan.

Ia bakal mengamuk di sisi kanan dengan Oara sebagai pusatnya, dan saat suara ledakan meletup dari sisi kiri, kau bakal melihat dan mendapati ia telah berganti posisi.

Tanah hitam membumbung tinggi dari tempat yang dihentaknya.

Sebelum gumpalan tanah itu sempat jatuh, lubang-lubang muncul di kepala empat monster.

Manusia macam apa yang sanggup melakukan hal tersebut?

Cahaya dari obor terdekat melambai liar, menerangi apa yang sedang dilakukannya.

Hanya ada sedikit prajurit yang pernah melihat para Ksatria bertarung dari jarak dekat seperti yang pernah dilihat Milio.

Karena itulah ia tahu bahwa para Squire dan ksatria magang bukanlah sosok yang tak tertandingi.

Merek pun menjadi lelah dan kehabisan tenaga jika tak sanggup tidur.

Jika mereka tak bisa makan, mereka tak bisa mengeluarkan kekuatan penuh mereka.

Tangan Milio makin berkeringat.

Jantungnya berdegup kencang.

Sebuah sensasi euphoria yang tak dikenal membuncah di dalam dirinya.

Ia tidak tahu untuk apa pria itu bertarung.

Tapi jika ada orang yang bertanya siapa yang berada di paling depan medan perang saat ini, Milio bakal menjawab dengan penuh keyakinan.

*Buug.*

"Oa!"

Seorang prajurit menghentakkan kakinya lalu meletupkan sorakan.

"Oa!"

Prajurit lainnya ikut berteriak bersama.

Beberapa orang membuka mulut mereka pada saat yang sama.

Sorakan itu menyebar luas.

Itu adalah sorakan untuk satu orang pria.

Semua orang di kota, semua orang yang mempertahankan dinding benteng, menonton dengan satu hati.

Bahkan Oara sekalipun.

"Encrid!"

Mereka meneriakkan nama satu orang.

Itu adalah hal yang aneh.

Apakah keberanian bertarung yang diperlihatkan Encrid saat ini begitu berbeda dari pemandangan yang diperlihatkan para Ksatria hingga saat ini?

Kenyataannya tidak.

Meski begitu, ada sesuatu tentang pertarungan pria itu yang membakar hati seseorang.

Jantungnya berdegup kencang.

Dadanya makin membara.

Ia merasa seolah-olah pikirannya berubah menjadi putih bersih.

Euphoria melesat ke sekujur tubuhnya, dan Milio percaya ia sanggup memukuli hingga tewas monster apa pun atau apa pun yang menghampirinya.

Meskipun dua bulan merah telah terbit, tak ada orang yang mendongak menatap langit.

Tidak ada pula orang yang membicarakan soal krisis.

Merek sekadar menonton pria yang seorang diri membantai kelompok yang tadinya bakal menjadi ancaman.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.