Eternally Regressing Knight

Bab 446: Apa Impian Milio?

2656 Kata

Bab 446: Apa Impian Milio?

"Apa itu ilmu pedang?"

Oara bertanya setelah sesi adu tanding selesai.

Tempat itu adalah halaman depan sebuah rumah, sangat jauh dari sebutan halaman latihan.

Encrid berlutut satu kaki sambil memegangi perutnya.

Ia berhasil menghindar dari tebasan vertikal, lalu dari tusukan menyusul setelahnya.

Itu adalah rangkaian serangan yang sudah beberapa kali ia lihat.

Dengan mengaktifkan Sense of Evasion, serangan itu masih sanggup ia atasi.

Ia memang berhasil menghindar dari pedang, tapi tepat setelah mengayunkan senjata, Oara memangkas jarak dan menghantam perutnya menggunakan telapak tangan.

Guncangannya menembus organ dalam hingga ke punggungnya.

Beruntung ia tidak sampai memuntahkan darah.

Serangan itu tentu saja dilapisi Will, tapi gerakannya sangat sederhana.

Sangat amat sederhana.

"Pikirkanlah. Apa yang harus kau lakukan untuk menundukkan lawan?"

Encrid mengangguk paham.

Saat ia memberi hormat ala militer, Oara kembali tersenyum cerah lalu melangkah pergi.

Encrid merenungkan ucapan Oara.

Sayangnya, pesan itu tidak benar-benar meresap di batinnya.

***

Oara datang lagi keesokan harinya.

"Jangan bilang kau tak paham ucapanku kemarin? Aneh sekali, tubuhmu di tingkatan ini harusnya bereaksi sendiri."

Ksatria berambut cokelat itu memiringkan kepalanya, lalu melanjutkan seolah tak memedulikannya.

"Tidakkah kau merasa menguasai terlalu banyak hal? Setiap wadah air akan meluap jika penuh, dan kau tak bisa meminum air yang meluap, kan?"

"Apakah itu masalah?"

"Kau hanya perlu mengayunkan pedang seperlunya saat dibutuhkan. Cuma itu. Kau harus mengingatnya baik-baik."

Tak ada pencerahan kilat yang menyambar di kepalanya.

Meski begitu, ia paham apa yang dimaksud Oara.

*'Memiliki terlalu banyak hal adalah masalah?'*

Oara kembali mengatakan hal serupa sekali lagi.

"Dari sudut pandang teknis, kemampuanmu sudah lebih dari cukup. Buang apa yang perlu dibuang."

Ucapannya terdengar tegas, dan Encrid merenung.

Itu mungkin nasihat yang sangat sempurna untuk dirinya saat ini.

Namun, kenapa ia merasa sangat enggan?

Ia sendiri tak tahu alasannya.

Itu cuma perasaan batin.

Ia hanya tidak sreg melakukkannya.

***

Saat sedang merenung, pandangannya teralih dan ia melihat Rem yang sedang tekun mengasah mata kapaknya.

*Screee.*

Suara batu pengasah yang meluncur di atas mata kapak terdengar nyaring.

Itu suara yang bersih.

Bulir-bulir keringat membasahi dahi Rem.

Ia sangat tekun dan berdedikasi.

Sangat jarang melihat Rem bekerja keras seperti ini.

Bukankah ia mengerahkan jiwa dan raganya beberapa kali lipat dibanding saat menggoda Ragna atau mengerjai para prajurit?

*Screee.*

Suara yang terus terdengar konstan selama beberapa hari terakhir itu bergema di telinganya.

"Rem."

"Kau tak lihat aku sedang sibuk?"

Rem menjawab tanpa sudi memalingkan kepalanya sedikit pun.

Encrid dengan halus berdiri di posisi yang menghalangi cahaya matahari.

Bayangan jatuh di atas kepala Rem.

"Apa aku ini orang yang serakah?"

*Screee,* ia mendorong batu pengasah ke mata kapak.

Rem mengulang gerakan itu sembari menjawab.

"Kau sebut itu pertanyaan?"

Sikapnya terlihat sangat jelas.

Dan nada bicaranya mengisyaratkan jawaban yang sudah sangat jelas.

Bagi Encrid, itu terdengar seperti Rem menyuruhnya menyetop pertanyaan konyol tersebut.

Encrid pun ikut duduk di samping Rem, menghunus Aker, Spark, serta gladius miliknya, lalu mulai mengelapnya dengan minyak biji rami.

Bilah-bilah pedang berkilau memantulkan cahaya matahari.

"Grrr!"

Tepat di samping mereka, Dunbakel terengah-engah memusatkan perhatian pada latihan ototnya.

Sementara Rua Garne di sisi lain sedang mengayunkan Loop Sword serta cambuk yang melilit di pinggangnya.

Ia sempat bilang merasa indranya agak tumpul dan berusaha mengasahnya kembali.

Apakah ini kesempatan baginya untuk merasakan gaya pertarungan bangsa Frokk?

Itu hal yang patut dinantikan.

Encrid selesai mengelap pedang-pedangnya lalu mengecek jumlah Whistle Dagger miliknya.

Tersisa tiga buah, jadi ia ikut mengasah bilahnya.

Ia memeriksa kapak lempar serta bingkai perisai bulatnya, mengecek satu per satu apakah ada yang rusak akibat hawa lembap, lalu mengayunkan pedangnya di waktu senggang.

***

Pada waktu petang, mereka keluar untuk membereskan koloni yang tersisa.

Kelompok yang tersisa adalah kawanan ghoul.

Mereka adalah jenis spitting ghoul, tipe yang jarang terlihat kecuali jika kau berada di perbatasan tanah iblis.

Jelas sekali kau takkan mau terkena cairan tubuh yang mereka semburkan dari mulut. Cairan itu adalah racun beraroma asap yang sanggup mengikis baja sekalipun saat bersentuhan.

Rua Garne membereskan kawanan ghoul tersebut.

Dari jarak tiga langkah, ia melilitkan cambuknya ke leher mereka lalu memutuskannya begitu saja.

Bangsa Frokk memang dijuluki ras petarung, dan Rua Garne membuktikannya.

"Apakah ini koloni terakhir?" tanya Dunbakel.

Ia tampak ingin segera kembali, tapi Encrid mengabaikannya.

***

Sekembalinya dari sana, mereka menikmati kehidupan sehari-hari di Ordo Thousand Bricks.

Selama waktu itu, Oara sempat keluar kota sekali dan kembali berlumuran darah hitam.

"Sekelompok laba-laba berkumpul, jadi sekalian kubereskan."

Tampaknya itu cuma pemanasan ringan baginya.

"Ini berkat dirimu. Kau pria tampan yang patut dipuji. Karena tak perlu memikirkan area belakang, aku bisa mengambil tindakan pencegahan."

Seorang ksatria memang dijuluki ksatria karena sanggup membantai seribu musuh sendirian.

Wanita itu keluar seolah sedang jalan-jalan santai lalu menebas puluhan monster seorang diri.

Di sisinya ada dua ksatria magang seperti biasa.

Seorang pria bertubuh besar dan seorang wanita bertubuh mungil.

"Wajahnya memang sedikit lebih jelek dariku, tapi kemampuannya... yah, kuakui boleh juga," ujar si pria.

"Abaikan saja apa yang dikatakan bajingan ini," sela si wanita.

Encrid menatap keduanya.

Kedua orang ini juga petarung yang tangguh.

Begitu pula Oliver si Lengan Raksasa yang merupakan anggota ordo ksatria.

Berdiri di barisan belakang, Encrid memberikan anggukan tanda menghormati.

Encrid menilai mereka semua adalah orang-orang yang jujur dan lugas.

Mereka adalah individu yang hidup tanpa kekangan.

Tak ada keraguan dalam mengutarakan isi pikiran atau melempar gurauan.

*'Pasti menyenangkan kalau Shinar ikut.'*

Bukankah Shinar juga sangat suka bergurau?

Aisha sendiri bertugas menjaga keamanan kota selama periode ini.

Karena tak ada kelompok monster yang menyerang, praktis tak ada tugas berat baginya.

Setelah kegiatannya di luar, Oara tak keluar dari rumahnya selama dua hari.

Alasannya tak diketahui.

Sementara itu, Encrid sempat adu tanding dengan beberapa prajurit.

***

Beberapa hari kemudian, di waktu petang.

Matahari mulai terbenam, pendar senja menggantung di tepi langit.

Itu adalah momen di mana seseorang yang berdiri di bawah senja tak sanggup membedakan anjing dari serigala.

*Chirrr.*

Serangga berkicau nyaring.

Di atas api unggun yang dinyalakan Dunbakel, sepotong daging di tusukan kayu mendesis matang.

Rem menaburkan garam dan bumbu, sementara Rua Garne menggembungkan pipinya gembira sambil mengunyah serangga.

Oara datang berkunjung lagi saat itu.

Mereka adu tanding lagi, dan di akhir sesi, wanita itu berkata, "Ini sungguh baru."

"Begitukah?"

"Kau ini pria yang keras kepala, ya?"

"Aku punya tekad yang kuat."

"Jadi kau memang keras kepala."

Rem ikut menyela sambil terkekeh, "Kau punya penilaian karakter yang bagus."

"Aku setuju," Rua Garne menambahkan satu kata.

Dunbakel juga sempat membuka mulutnya, tapi setelah melihat mata Encrid, ia memilih mengunyah daging ketimbang bicara.

*Chomp, chomp.*

Ia makan dengan lahap.

Encrid tidak repot-repot membuat dalih.

Ia tidak keras kepala, ia hanya memiliki keyakinan yang teguh.

Itu adalah hal yang tak membutuhkan persetujuan dari orang lain.

"Aku bisa tahu pasti hanya dengan melihat matamu. Ada kegilaan di dalam dirimu."

Oara mengatakan sesuatu yang bakal membuatnya dihajar jika dia bukan seorang ksatria, dan dia mengatakannya dengan sangat santai.

Rem kini begitu bersemangat hingga tertawa terbahak-bahak, "Hahaha!"

"Lawan yang sepadan."

Encrid harus bertanya nanti apa yang membuat pria itu begitu bersemangat.

Itu bukan ucapan yang pantas diutarakan oleh orang paling gila di peleton ini.

"Kau orang pertama yang seperti ini. Menyenangkan sekali."

Oara mengambil sepotong daging lalu berbalik pergi.

Ia bahkan mengacungkan jempol, bilang dagingnya matang dengan sempurna.

Seluruh percakapan ini terjadi setelah Encrid menghadapi pedang Oara dengan latar matahari terbenam di punggung wanita itu.

Dengan kata lain, sesi adu tanding baru saja berakhir.

Encrid berbaring telentang di tanah.

Rasanya tidak terlalu buruk.

"Tidak buruk," ujar Rua Garne.

Bangsa Frokk itu menggembungkan pipinya ringan lalu melanjutkan.

Encrid menebak gerakan menggembungkan pipi itu adalah ekspresi rasa gembira.

"Jujur saja, aku kaget."

"Kalau kau kaget oleh hal-hal seperti itu, takkan ada habisnya. Saat aku mengajar dulu, aku kaget belasan kali sehari," ujar Rem yang sempat tertawa sebentar kini berbicara dengan ekspresi teduh.

Rua Garne bereaksi terhadap cara Rem mengakhiri kalimatnya, seolah pria itu masih punya hal lain untuk dikatakan.

"Apa yang membuatmu kaget?"

Itu pertanyaan yang dipenuhi rasa ingin tahu murni.

"Karena orang gila cuma melakukan hal-hal gila," sahut Rem bagai seorang bijak sambil menatap bintang-bintang di langit.

Pada saat itu, ia tampak seperti orang yang telah menguasai suatu hakikat.

Tentu saja, itu cuma omong kosong.

***

Encrid tidak menyukai nasihat Oara untuk membuang hal-hal yang rumit dan berantakan.

Haruskah ia mencampakkan sesuatu yang telah menjadi jalan hidupnya, sesuatu yang telah melindunginya, hanya demi melangkah maju?

Ia bertanya pada dirinya sendiri dan menjawabnya kembali.

Ia tidak mau.

Jadi alih-alih membuangnya, ia merengkuhnya.

Lebih tepatnya, ia menggabungkannya.

Ia ingat pernah melakukannya sekali sebelumnya, dan ia sudah beberapa kali menggunakannya secara alami, jadi hal itu tidak sulit.

Awal mulanya adalah apa yang ia pelajari dari Jaxon.

*'Entah itu Sense of Evasion, ranah Sixth Sense, atau Sense of Attack.'*

Semuanya terpusat pada sensasi indra.

Jaxon menyebutnya Sensory Skill.

Apakah Jaxon menggunakan semua itu secara terpisah?

Tidak. Dia menggunakannya secara alami.

Kalau begitu, bukankah ia juga bisa melakukan hal yang sama?

Ia mengubah sudut pandangnya.

Dan ia mengwujudkannya.

Semua orang yang melihat Encrid bilang bakatnya sepele, dan ia bahkan tak melakukan repetisi hari ini, tapi ia berhasil mengwujudkannya.

Ia berhasil.

Encrid diam-diam merasa bangga akan hal itu.

Sayangnya teknik itu belum bekerja maksimal saat menghadapi Oara tadi.

"Itu karena teknikmu belum terasah," saran Rem.

Ia mengatakan ini sembari menghabiskan dagingnya lalu mengeluarkan kapak dan batu pengasahnya lagi.

"Kau bisa mengikis habis mata kapakmu kalau begini terus."

"Tak usah khawatir. Aku mengawasinya. Kau pikir aku ini si bodoh Ragna yang tak tahu arah?"

Belakangan ini, orang yang paling dimusuhi Rem adalah Ragna.

Mungkin karena ia terus digoda setelah naik ke tingkatan ksatria.

Seolah membuktikan ia tidak berada di bawah Encrid tanpa alasan, Ragna menggoda Rem dengan berbagai cara.

"Barbar, bukan begitu caranya. Bukan begitu cara makan. Kemampuanmu takkan meningkat kalau makan seperti itu. Pegang garpumu dengan benar."

Bahkan saat waktu makan pun seperti itu, jadi hal tersebut menjelaskan semuanya.

***

"Saat kau menyerang, kau menerjang seperti badai, dan saat kau bertahan, kau berdiri kokoh bagai gunung batu yang megah."

Setelah itu, Oara memberinya beberapa pelajaran lagi.

Lalu suatu sore, wanita itu bertanya.

"Kau mau jadi ksatria?"

"Ya," sahut Encrid dengan pedang menggantung rendah.

Ia tak sanggup mengerahkan tenaga di lengan kirinya.

Itu karena serangan berenchantment Will yang dipadukan dengan teknik bergulat milik Oara.

Jika sang Lembu milik Mercenary King menambahkan bobot pada pedangnya...

Pedang Oara membuat otot-otot di lengannya merinding hanya dengan sapuan tipis.

Tentu saja hal ini akan kembali normal dalam waktu singkat.

Will penolakan milik Encrid aktif, secara perlahan mendesak keluar Will yang disusupkan Oara.

Melihat hal itu, Oara sedikit terkejut.

*Kau melakukan hal-hal aneh, ya?*

Itulah makna dari tatapan matanya.

Lalu wanita itu mengajukan pertanyaan tersebut.

Apakah ia berniat menjadi seorang ksatria.

"Tak ada keraguan sedikit pun, ya. Bagus. Wajahmu tampan, dan aku suka sikapmu. Nah, mau kudengar satu nasihat?"

"Aku akan mendengarkannya dengan senang hati."

Ucapannya tenang, tapi matanya berbinar.

Oara cukup menyukai mata biru itu.

Jika tidak, tak ada alasan baginya untuk menghabiskan waktu adu tanding bersamanya.

Apakah karena ia menyukainya sebagai seorang pria? Ia menyukai wajahnya, tapi lebih dari itu, Encrid adalah tipe pria yang tindakannya sanggup memantik membara di dada seseorang.

"Jika kau ingin menjadi ksatria, pertama-tama tentukan dulu cakupan dari apa yang ingin kau lindungi."

Oara berkata sambil memunggungi matahari.

Wajahnya terselimut bayangan.

Meski begitu, senyum di wajahnya terlihat sangat jelas.

Apakah wajahnya cantik? Apakah fitur wajahnya tegas? Apakah rahangnya anggun?

Jika dinilai dari penampilan semata, Shinar dengan kecantikan luar biasa jelas lebih unggul.

Esther yang memancarkan aura mistis akan lebih menonjol.

Dalam hal kecantikan manusia biasa, wanita dari Marquisate of Vaisar itu juga sangat luar biasa.

Siapa namanya... Kin?

Dia adalah tipe wanita yang mungkin bakal mengamuk jika tahu Encrid melupakan namanya lagi.

Oara memancarkan daya hidup yang kuat.

Jika bicara soal daya hidup semata, Dunbakel juga sangat bersemangat.

Itu terpisah dari bau apak yang dimilikinya karena jarang mandi.

Ada juga Teresa yang memberikan perasaan dapat diandalkan dan stabil.

Namun, Oara berbeda dari mereka semua.

Apa yang ia tunjukkan sekarang bukanlah daya tarik sebagai lawan jenis, jadi mungkin itu hal yang wajar.

"Aku ingin menjadi arogan, tapi ini batas kemampuanku. Hal-hal yang akan kulindungi: kota ini, dan orang-orang di belakangku. Cuma itu. Itulah cakupanku."

Seorang ksatria menetapkan keyakinan mereka melalui Will.

Keyakinan itu bisa menjadi batasan sekaligus sumpah bagi seorang ksatria.

"Selama aku melindunginya, kota ini takkan jatuh. Aku takkan membiarkan tanah iblis mendekat."

Oara yang tersenyum.

Itu adalah julukannya sebagai ksatria: *The Smiling Oara*.

Itu julukan yang tak biasa.

Aisha pernah memberitahunya alasan kenapa Oara memiliki julukan seperti itu.

Sebab ia adalah orang yang tak pernah kehilangan senyumnya, tak peduli betapa buruk situasi yang dihadapi.

Oara tidak mengajukan pertanyaan, tapi Encrid sudah memiliki jawaban di dalam batinnya.

Karena itu, ia menjawab.

Sejauh mana cakupan dari apa yang harus dilindungi?

"Semua hal yang tertangkap mataku dan membebani pikiranku."

"Hah?"

Dengan matahari di punggungnya, Oara berkedip saat hujan mulai turun menetes perlahan.

Senyumnya tampak sedikit memudar.

Lalu ia kembali tersenyum cerah dan berkata.

"Kau benar-benar bajingan gila."

"Begitukah?"

"Kau terlalu arogan. Tapi yah, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan."

Memang itu rencananya sejak awal.

"Misi ini sudah selesai, jadi kau boleh kembali. Encrid dari Penjaga Perbatasan."

"Saat ini tempat ini membebani pikiranku, jadi aku akan tinggal lebih lama."

"Kurasa aku tak bisa menghentikanmu melakukan itu."

Oara melompat dan menghilang.

Encrid menyaksikan hujan yang turun mendinginkan tanah sebelum mengumpulkan perlengkapannya dan masuk ke dalam.

Ia melihat Rem yang masih tekun mengasah mata kapaknya.

***

Keesokan harinya, wajah yang tak asing dari jajaran prajurit datang mencari Encrid.

"Ini Milio. Barangkali kau lupa."

Dia adalah prajurit dengan perawakan kokoh alih-alih tajam.

Dia adalah prajurit yang sempat mengajaknya berkeliling kota setelah Aisha, dan pria yang pernah bilang ingin diajari teknik bertarung.

"Aku sibuk belakangan ini karena tak dapat hari libur. Aku ingin meminta pelajaran."

Encrid meluluskan permintaannya.

Ia menghajar Milio habis-habisan.

Pria itu datang lagi keesokan harinya, dan hari berikutnya lagi.

Hujan turun selama dua hari penuh, dan meski ia terguling di tanah lumpur hingga wajahnya berlepotan, Milio tetap tekun berlatih.

Encrid merasa suasana di sekitarnya entah bagaimana berubah agak muram.

***

Fajar menyingsing di hari saat hujan berhenti.

Milio datang berkunjung pagi-pagi sekali.

"Aku bertugas di siang hari. Karena itulah aku datang jam segini."

Milio bukan satu-satunya yang datang menemui Encrid selama waktu itu.

Beberapa prajurit lain juga ikut datang.

Kemampuan mereka semua berada di tingkatan tinggi.

Melihat mereka, Encrid menyadari sesuatu.

*'Konsentrasi pasukan yang berlebihan?'*

Ada seorang ksatria di sini, dua ksatria magang ditugaskan, dan ada empat Squire.

Selain Oliver, ada tiga Squire lainnya.

Itu belum menghitung kelompoknya sendiri dan Aisha.

Mereka semua adalah petarung yang kemampuannya mendekati tingkat ksatria magang.

Di atas semua itu, tingkatan para prajurit biasa juga sangat tinggi.

Mereka adalah prajurit tangguh yang ditempa oleh pertempuran sungguhan berulang kali, takkan terdesak sedikit pun jika dibanding dengan Penjaga Perbatasan.

Satu-satunya perbedaan adalah jika pertarungan utama Penjaga Perbatasan adalah melawan Azpen, tujuan di sini adalah menahan tanah iblis.

Mereka adalah prajurit elit yang terlatih dalam pertempuran nyata.

Namun, jumlah mereka tidak banyak.

Jadi, apakah wajar menahan invasi tanah iblis hanya dengan jumlah sebanyak ini?

Mana mungkin.

Tidak mungkin demikian.

Kehadiran seorang ksatria yang membuat hal ini menjadi mungkin.

Kualitas para prajurit yang menutupi kekurangannya.

Jadi bukan berarti ada konsentrasi pasukan yang berlebihan di sini, melainkan tempat ini memang sangat berbahaya.

Karena itulah ia tidak ingin pergi.

Sebagai tambahan, setiap prajurit adalah orang yang menyimpan tujuan di dalam dada mereka.

Tugas, tanggung jawab, misi.

Di antara mereka, prajurit bernama Milio terasa lebih spesial.

"Apa tujuanmu?"

Mendengar pertanyaan Encrid, pria itu tidak biasanya memerah sedikit, menggaruk pipinya, lalu menjawab.

"Aku ingin menjadikan Ksatria Oara sebagai istriku."

Impian bajingan ini sangat ambisius.

Encrid tahu usianya baru dua puluh lima tahun ini.

Dilihat dari wajahnya, kau bakal mengira usianya tiga puluh lima, tapi bagaimanapun pria muda ini mendambakan ksatria wanita yang berusia setidaknya sepuluh tahun lebih tua darinya.

Namun Encrid tetap menyemangatinya karena itu adalah impian yang ambisius.

Ia sendiri sedang mengejar impian yang tidak mungkin.

Tak ada alasan bagi Milio untuk tidak melakukan hal yang sama.

"Lakukan yang terbaik."

"Tentu saja."

Itu terjadi dua hari setelah Encrid menyemangati impian Milio.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.