Eternally Regressing Knight

Bab 411: Kupinjam Sebentar

2821 Kata

Bab 411: Kupinjam Sebentar

Jaxon, yang tak henti-hentinya melayangkan lemparan belati, melemparkan sebilah Silent Knife tepat mengincar kening sang Count.

Belati yang meluncur tanpa suara itu meledak menggelegar di depan wajah sang Count.

Menanggapi ledakan dahsyat itu, selembar tirai hitam berkilat meredam hantaman di hadapan sang Count.

Pelindung sihir itu masih berdiri kokoh tanpa cela.

Tampaknya lemparan belati yang dibelit gulungan perkamen sihir belum cukup untuk menembusnya.

“Jangan pernah berharap akan mendapat ampunan!”

Dean Molsen, pria yang biasanya memandang dunia dengan serba mudah, kini merasakan krisis hebat begitu terpojok di tepi jurang maut.

Keringat dingin menetes membasahi punggungnya.

Ini adalah kali pertama.

pengalaman pertama yang belum pernah dirasakannya sepanjang hidup.

Lantaran hal itu, ia benar-benar kehilangan ketenangannya.

Sang Count telah merapalkan sesuatu yang melampaui tingkatan sihir milik penyihir biasa.

Bahkan saat ini, ia nekat menguras sisa usia hidupnya sendiri.

Ia memanggil kembali roh-roh dalam jumlah masif, dengan sepasang mata yang terbalik menghitam legam.

Mata hitam pekatnya terarah lurus menyergap Jaxon.

Jaxon merasakan hawa dingin yang mengerikan menjalar deras dari lubang di perutnya.

‘Hm?’

Kedua kakinya sempat lemas hingga ia hampir saja ambruk, namun Jaxon memaksa fisiknya untuk bertahan.

Lagipula, ada dua pria di sampingnya yang begitu mendambakan agar ia ikut tumbang.

“Mati, mati, mati, mati, mati...”

Sang Count mengangkat tinggi tongkat sihirnya, merapalkan mantra itu berulang-ulang sembari menatap tajam ke arah Jaxon.

Jaxon pun membalas tatapan sepasang mata itu.

Meski ia tak sanggup membedakan pupil dan iris pada sepasang mata yang menghitam total tersebut, ia mampu merasakan obsesi gila yang pekat di dalamnya.

Makin gencar kata-kata itu diucapkan sang Count, makin ganas pula hawa dingin yang menggerogoti dari rongga perutnya.

Bahkan sekadar berdiri tegak pun terasa teramat menyiksa.

Jaxon akhirnya berlutut dengan satu kaki.

Buk! Ia meletakkan satu telapak tangannya di tanah lalu memejamkan mata.

Ia harus bertahan melawan hawa dingin mengerikan itu.

Di tengah konsentrasinya yang memuncak, ia mendengar Rem bergumam acuh tak acuh di sampingnya.

“Bagus, begitu dong. Tumbanglah sekalian.”

‘Barbarian gila,’ batin Jaxon seraya makin memfokuskan pikirannya.

Trik yang dilepaskan musuh adalah sejenis mantra sihir tingkat lanjut.

Pria itu telah menanamkan sesuatu di dalam luka perutnya.

Ia hanya perlu melacak posisinya lalu mencungkilnya keluar.

Jaxon mulai memeriksa kondisi internal tubuhnya sendiri.

Ketabahan untuk menanggung rasa sakit yang luar biasa.

Ketenangan pikiran untuk memindai seluk-beluk tubuhnya.

Dan yang terakhir, kepekaan indra yang terasah.

Seandainya ada satu hal lagi yang wajib ditambahkan, itu adalah jiwa pantang menyerah.

‘Tak ada kata menyerah dalam kamusku.’

Jaxon pun banyak belajar hanya dengan mengamati gerak-gerik Encrid.

Meski ini adalah jenis mantra yang baru pertama kali dihadapinya, pasti ada celah untuk mengatasinya.

Ia akan menemukan jawabannya dengan merangkai apa yang diketahuinya, apa yang pernah dialaminya, serta melalui analisis logika yang matang.

Maka, di saat Jaxon berlutut menahan gempuran sihir—atau lebih tepatnya, sewaktu rekan-rekan peletonnya menghancurkan segala ancaman bahaya di hadapannya...

Encrid melangkah maju tiga tindak.

Langkah kaki yang terarah lurus mendekati sang Count.

Kini sang Count telah berada tepat di dalam jangkauan pedangnya.

Semua ini terwujud berkat rekan-rekan peletonnya yang tanpa lelah membendung gempuran sihir dan trik yang dilepaskan musuh.

Usai memangkas jarak, Encrid meletakkan tangannya di atas hulu pedang lalu berucap datar.

“Kamu sudah berada di dalam domainku.”

Tiga orang yang terduduk dan satu orang yang berdiri kaku, semuanya beralih menatap Encrid.

Sang Count pun ikut menatap Encrid.

Domain? Maksudnya berada di dalam jangkauan tebasan pedang?

Sang Count terkekeh sinis.

Ia teramat yakin akan keampuhan pelindung sihir yang menyelimuti tubuhnya.

Encrid mengatur ritme napasnya.

Fisiknya memang terkuras parah akibat nekat menembus sepuluh ribu prajurit roh.

Rasa lelah yang menumpuk membuat otot-otot lengannya gemetar hebat, tetapi itu bukan kendala berarti.

Sudah berapa kali ia berada dalam kondisi kritis seperti ini?

Hal semacam ini sudah menjadi makanan sehari-hari sewaktu ia mengayunkan pedangnya.

Terutamanya di masa-masa saat ia tak memiliki apa-apa, ia terbiasa menebaskan pedang hingga serabut ototnya robek.

Jika tak nekat seperti itu, ia bahkan tak akan sanggup menggapai impian yang didambakannya.

Apa yang harus dilakukan seseorang demi melangkah maju padahal pandangan di depan tertutup rapat?

Ia hanya harus mengulangnya, dan mengulangnya kembali tanpa henti.

Semua ini berkat tempaan pengalaman masa lalu.

Lantaran sudah kenyang melewati penderitaan serupa, ia sanggup memacu dirinya hingga ke batas kemampuan tertinggi.

Encrid masih sanggup bertahan.

Pandangan matanya tertuju pada tirai hitam yang berkelebat di depan sang Count.

Encrid sudah menyaksikan sendiri bagaimana lemparan belati Jaxon sempat menggoyang pelindung sihir lawan.

Dari sana, ia bisa mengkalkulasi secara kasar daya tahan tirai pelindung tersebut.

‘Meski lemparan belati tak sanggup menembusnya...’

Benda itu tetap bisa ditebas.

Tentu saja, tebasan biasa tak akan mempan.

Tak boleh ada keraguan sedikit pun dalam pikiran bahwa tirai itu pasti akan terbelah.

Karena itulah...

“Ragna, kupinjam sebentar,” cetus Encrid.

Ragna bahkan tak sempat menanyakan apa maksud ucapan itu.

Encrid kembali memperagakan teknik yang telah dicobanya tiru dan latih berkali-kali di masa lalu—teknik yang sebelumnya selalu berakhir dengan kegagalan.

Ia menggenggam pedangnya, mengarahkan ujung bilahnya menusuk tinggi ke angkasa.

Ia merapatkan kedua telapak tangannya di hulu pedang lalu merilekskan kedua bahunya.

Itu adalah kuda-kuda atas khas jurus Heavy Sword.

Lebih tepatnya, itu adalah modifikasi dari ilmu pedang yang diwariskan secara turun-temurun oleh klan terpandang di utara.

Nama keluarga Ragna adalah Jaun.

Ragna telah mengambil kuda-kuda ilmu pedang warisan klan Jaun lalu mengolahnya sesuka hati.

Encrid tentu tak mengetahui latar belakang tersebut.

Ia hanya fokus menyelesaikan persiapan untuk mengayunkan pedangnya.

Ragna menatap Encrid dengan sepasang mata yang sedikit terperanjat.

‘Boleh juga.’

Kuda-kudanya, auranya, bahkan intisari Will yang terpancar dari tubuhnya.

Sulit untuk menemukan cela dari postur tersebut.

Itu adalah kuda-kuda bertarung terbaik yang pernah diperagakan Encrid.

Kenyataan bahwa Encrid sedang menirukan jurus miliknya justru membuat Ragna kian terkesan.

Bukan hanya Ragna yang dibuat terkejut.

Rem sudah dibuat geleng-geleng kepala sedari pertempuran melawan kawanan prajurit roh tadi.

‘Dia sama sekali tak ketinggalan ritme sedikit pun.’

Encrid sanggup mengimbangi kecepatan pergerakannya dan Ragna.

Kini, rasanya sulit untuk mengingat kembali sosok kapten yang lama.

Ini sungguh menyenangkan.

Sangat menyenangkan.

batin Rem seraya mempererat cengkeraman tangannya pada kapak—berniat melemparkannya jika situasi memburuk.

Audin tak sanggup menyatukan kedua telapak tangannya, maka ia merapalkan doa murni hanya melalui celah bibirnya.

Rasa sakit akibat pelanggaran tabu terasa seolah memecahkan tempurung kepalanya, namun Audin mampu menahannya seraya terus berdoa.

“Domba yang dijaga oleh Sang Bapa telah menanggalkan bulunya dan menjelma menjadi seorang gembala.”

Dan seorang gembala adalah sosok yang menegur dan menghukum mereka yang tersesat di jalan yang salah.

Pelanggaran tabu bukanlah hal main-main.

Jika ada kesalahan sedikit saja, ia bisa menjadi gila akibat rasa sakit yang tak tertahankan.

Sudah tak terhitung banyaknya pendoa yang berakhir tragis akibat kurangnya tempaan diri.

Namun apa yang harus dilakukan, tetap harus dituntaskan.

Itulah pelajaran berharga yang dipetik Audin hanya dengan mengamati sosok pria bernama Encrid.

Jaxon mencabut stiletto milik Carmen lalu secara perlahan menusukkannya ke perutnya sendiri.

Sebuah tusukan terukur yang menyasar sumber hawa dingin, seraya menghindari organ-organ vitalnya.

Jleb!

Dengan tindakan ekstrem itu, ia berhasil meredam hawa dingin lalu mengarahkan pandangannya ke depan.

Bilah belati memang menembus perutnya, namun itu bukan luka mematikan.

Ia berhasil mengelak dari organ dalam, dan dengan perawatan yang tepat, dirinya akan baik-baik saja.

Lagipula, tusukan itu tak bersarang terlalu dalam.

Ia pun merenungi kecerobohannya.

‘Aku terlalu ceroboh.’

Ia belum memfungsikan teknik pembunuhan miliknya secara maksimal.

Tanpa alasan jelas, petuah sang guru mendadak melintas di pikirannya.

“Apakah kamu ingin mengerahkan seluruh kemampuan terbaikmu? Jika ya, pertama-tama carilah tempat tinggal yang layak.”

Mengapa gurunya berucap demikian?

Bukankah dirinyalah yang ditakdirkan untuk mewarisi organisasi Georg’s Dagger?

Bukankah ia sudah memiliki tempat tinggal?

‘Jika kamu menikmati pertarungan dengan segenap tenagamu, kamu akan mabuk oleh tindakan membantai dan dibantai.’

Demikianlah pesan yang pernah diucapkan sang guru.

Jaxon sebenarnya pernah merasakan sensasi mabuk itu di masa lalu.

Apa yang harus dilakukannya agar tak terperosok ke lubang yang sama?

Deretan pemikiran yang tak tepat waktu.

Jaxon memangkas benang lamunannya secara tegas.

Bukan hal semacam itu yang krusial saat ini.

Ia mengarahkan pandangannya ke depan.

Di sana, ia menyaksikan kaptennya yang tak lagi membutuhkan bantuannya.

Punggung sang kapten memenuhi sudut pandangnya.

Sosok itu berdiri dalam kuda-kuda mantap, bersiap melangkah maju dan mengayunkan pedangnya.

“Hoo... keparat-keparat sialan,” gumam sang Count mengatur napasnya.

Meski sempat terdesak berulang kali, menyaksikan musuh-musuhnya tumbang terduduk satu per satu membuat dirinya perlahan menemukan kembali ketenangannya.

Sepasang matanya beralih menatap Encrid.

Sang Count pun menguasai seni olah pedang.

Melihat Encrid mengambil kuda-kuda atas, sang Count sadar bahwa ia tak boleh menyerahkan hak serangan pertama pada lawan.

Tirai hitam yang berkelebat sanggup menetralkan sebagian besar gempuran musuh.

Usai melakukan beberapa kalkulasi singkat, sang Count mengambil inisiatif menyerang lebih dulu.

Ia menghentakkan kakinya ke tanah lalu menusukkan mata pedangnya ke depan.

Sebuah tusukan yang sempurna tanpa cela.

Ujung pedang yang tampak menyerupai setitik titik meluncur lurus mengincar Encrid.

Tusukan yang begitu presisi dan tajam.

Laju serangannya teramat cepat dan bertenaga.

Encrid dengan tenang menepiskan pedangnya ke bawah, menghantam pedang sang Count.

Tring!

Sang Count berusaha menarik kembali pedangnya yang tertepis untuk melepaskan sabetan susulan, namun Encrid telah menirukan teknik Severance milik Ragna.

Kaki Encrid menghentak tanah, meluncur deras ke depan.

Di saat bersamaan, kedua bahunya berputar secara luwes, dan arah ayunan pedangnya beralih dengan tumpuan pada pinggangnya.

Pedang yang tadinya menghantam ke bawah untuk menangkis tusukan sang Count berbalik arah, meluncur lincah bagai ikan yang menari di aliran sungai.

Gelombang daya dari Heart of Power menyembur cepat menjejali tenaganya, dan di atas semua itu, ia menginfuskan Will miliknya.

‘Akan kubelah.’

Itulah wujud dari Will of Severance.

Pedang Encrid meluncur sejajar dengan permukaan tanah, menyapu tepat melintasi batang hidung sang Count.

Sret!

Tirai pelindung sihir terbelah seketika.

Will adalah manifestasi dari niat mutlak.

Will of Severance membelah pelindung sihir sekaligus memotong tempurung kepala sang Count.

Pedang Silver, usai membelah tempurung kepala musuh, hancur berkeping-keping dan melayang berkecai.

Encrid menghentikan pergerakannya dalam kuda-kuda ayunan pedangnya, melepaskan napas yang sedari tadi ditahannya.

Berdiri tegak dengan kedua tangan di hulu pedang, sepasang matanya seolah memancarkan kilatan biru pekat.

Di dalam dunia legam yang diciptakan sang Count, sepasang mata biru yang bersinar itu membuat sosoknya seolah berdiri di alam dimensi yang berbeda.

“Hoo...”

Mengembuskan napas panjang, Encrid merasakan rasa sakit di otot lengannya saat ia menurunkan sisa pedang patahnya lalu berbalik badan.

Sang Count telah kehilangan separuh bagian atas kepalanya.

Bagi orang luar yang mengawasi, itu hanya tampak bagaikan pertukaran jurus pedang yang sangat sederhana.

Encrid menepis tusukan pedang musuh, lalu ketimbang menarik kembali pedangnya untuk memulihkan kuda-kuda, ia melanjutkan gerakannya secara luwes menjadi sabetan mendatar di area atas.

Sang Count tersambar telak bahkan tanpa sempat bermimpi untuk menangkisnya.

Itu adalah bagian dari teknik yang diperagakan Ragna beberapa saat lalu, dan mengandung manifestasi Will of Severance.

Karena itulah Encrid sempat berucap bahwa ia akan meminjamnya sebentar.

“Guguk...”

Busa bercampur darah menyeruak dari mulut sang Count.

Ia adalah sosok perencana licik yang berhasil mengacaukan seluruh kerajaan Naurilia, tetapi maut berlaku adil bagi setiap manusia.

Bahkan sebutir panah nyasar pun sanggup mencabut nyawa seseorang, apalagi pria yang tempurung kepalanya telah terbelah dua.

Darah segar meluncur deras dari keretakan kepala sang Count.

Semburan darah segar itu tampak berwarna merah menyala bahkan di tengah kegelapan pekat.

Namun tepat pada saat itu, sebuah kejadian tak masuk akal mendadak terjadi.

“Aku tak boleh membiarkan semua ini berakhir seperti ini...”

Sekali lagi, deretan kata-kata gaib bergaung lurus di dalam benak mereka.

Sang Count berucap dalam kondisi sudah tewas, dan suaranya terbelah menjadi dua intonasi yang saling bertindihan.

Darah bercucuran membasahi wajahnya, namun mulutnya masih sanggup berucap dengan sangat jelas?

Barulah pada saat itulah Audin mulai mencurigai identitas asli lawannya.

‘Apakah ini...?’

Firasat buruk yang hanya mungkin dirasakan di kedalaman wilayah iblis menusuk hingga ke pori-pori kulitnya.

“Seekor demon?” gumam Audin terperanjat.

Saat Audin bergumam sendiri, asap hitam pekat mengalir keluar dari rongga tubuh sang Count.

“Meski bukan seratus ribu melainkan hanya sepuluh ribu, aku tetap menghormatimu karena sanggup menebas mereka. Sebagai bentuk penghormatan, aku akan menghadiadkanmu kutukan pekat... Hm? Seorang witch?”

Kejadian itu berlangsung tepat setelah Audin mengucapkan kata ‘demon’ dan persis sebelum asap hitam membentuk wujud manusia.

Saat ocehan tak masuk akal terus menyeruak dari mulut sang Count, suara gemuruh petir menggelegar dari balik awan kelam.

Blarrr!

Asap hitam mendadak terhenti tepat di detik wujudnya terbentuk.

Encrid mengawasinya tajam sembari menggenggam sisa pedang patahnya.

Tep, tep...

Setelahnya, rintik-rintik air hujan mulai menetes jatuh dari langit.

“...Aku ditipu,” tutur sang Count yang telah kehilangan tempurung kepalanya dan sang demon yang belum sempat memadat wujudnya secara bersamaan.

Suara mereka bertindihan satu sama lain.

Encrid rasa kini ia paham kenapa suara sang Count sesekali terdengar berlapis.

Itu karena pria tersebut menyimpan sesosok demon di dalam tubuhnya.

Meski begitu, hal itu tak mengubah apa pun.

Encrid melemparkan sisa pedang Silver yang hancur lalu mencabut gladius miliknya.

Ia bakal memancing perhatian musuh dengan gladius, sementara tebasan mautnya...

‘Menggunakan Spark.’

Dalam sekejap mata, ia memetakan alur pertempuran di kepalanya.

Di saat semua orang dibuat terpana, hanya Encrid seorang yang sudah bersiap menerjang, hingga pandangan mata sang demon beralih kembali menatap Encrid.

“Dasar manusia lancang,” cetus sang demon.

Tak ada emosi yang tersembur dari nada bicaranya.

Itu pun bukan hal penting bagi Encrid.

Encrid hanya berniat menuntaskan pertempuran yang belum usai ini.

Terlebih lagi, seluruh rekan peletonnya tampak menderita luka-luka dan kelelahan hebat.

Artinya, hanya dirinyalah yang sanggup melangkah ke depan saat ini.

Di titik ini, seseorang mungkin bakal bertanya-tanya apakah ini dambaan dinding pembatas yang tak sanggup ditembus, namun Encrid tidak.

Melakukan hal terbaik yang bisa dieksekusinya di setiap detik.

Demikianlah cara hidup yang dijalaninya selama ini.

Ia akan mengeksekusi hal serupa saat ini juga.

Di luar alam kesadaran mental, sang Ferryman mendadak tertawa terbahak-bahak.

“Sungguh...”

Bukankah pria ini benar-benar seorang gila sejati?

* * *

Sang Count memang teramat berbakat, dan ketamakan jiwanya jauh melampaui batas kemampuan manusia.

Karena itulah, ia berhasil memperoleh dan merebut jantung milik sesosok demon.

Sang demon mengacuhkan pendekar gila yang merangsek maju lalu mengawasi hasil karya sang witch seraya berucap:

“Bukankah aku bakal kecewa jika kamu bahkan membendung kutukan terakhirku?”

Nada bicaranya terdengar ringan, namun makna yang terkandung di balik sebutan ‘demon’ sangatlah mengerikan.

Sesosok monster dengan tingkat bahaya tertinggi, jenis makhluk yang hanya bisa ditemui di kedalaman tanah iblis.

Makhluk yang dianugerahi kecerdasan tinggi, yang sangat ahli menyiksa dan membantai manusia.

“Seekor demon,” gumam Encrid pelan.

Sepasang mata sang demon tertuju padanya.

“Ya, kamu. Kamu sungguh mengagumkan, wahai manusia. Namun tampaknya aku tak bisa bertarung denganmu saat ini, bahkan jika aku sangat menginginkannya.”

Sang demon tak tahu jalan hidup yang pernah ditapaki Encrid, namun ia tahu apa yang baru saja diraih pria ini.

Bukankah orang-orang di sekelilingnya berkumpul menjadikan manusia ini sebagai pilar utama mereka?

Terlebih lagi, bukankah sang witch yang baru saja merapalkan trik sihirnya juga merupakan bagian dari pihak pria ini?

“Jika kamu menyentuhnya, aku akan memburumu ke mana pun dan membunuhmu!”

Melintasi batas ruang, suara sang witch mengalun mencapai pendengaran sang demon.

Bahkan sesosok demon sekalipun tak akan menyambut kehancuran dengan sukacita.

Karena itulah ancaman tersebut cukup mengganggunya.

“Penyihir yang sungguh lancang,” cetus sang demon.

Dari balik kabut hitam, hanya wujud menyerupai mata yang tampak berkilat, menyapu pandangan kelamnya ke sekeliling.

Di detik Encrid merasakan aura lawannya, sebuah perasaan aneh hinggap di benaknya.

Makhluk itu jelas-jelas bukan manusia.

‘Namun apakah itu berarti ia tak bisa ditebas? Apakah benar begitu? Dia bilang dia tak akan bertarung, tetapi apakah itu bisa dipercaya? Haruskah aku mencoba menebasnya sekali saja?’

Tepat setelah pemikiran itu melintas...

Saat ia mengumpulkan sisa tenaganya untuk menerjang, sang demon melemparkan tatapan ke arahnya.

Jika sedari tadi intonasinya terdengar main-main, kali ini rasanya berbeda.

“Kita akan bertemu lagi.”

Di balik kabut, wujudnya samar-samar tertangkap oleh mata Encrid, namun sulit untuk mengenali rupa aslinya secara pasti.

“Akulah penguasa dari seratus ribu roh.”

Seraya berucap, tubuh sang demon langsung memudar cepat.

Rintik-rintik hujan yang jatuh menetes makin deras mengucur, hingga wujudnya tak sanggup lagi bertahan.

Sang witch telah menebarkan hujan berdasarkan pasokan mana miliknya.

Lantaran hujan ini merupakan fenomena alam murni, dampaknya sanggup menghapus segala bentuk kreasi buatan.

Terlebih lagi, tetesan air hujan itu terasa hangat.

Sang witch telah membuka sebagian dari dunia sorcery miliknya demi mencurahkan hujan berinfus mana.

Wujud sang demon memudar melenyap.

Tetesan air hujan yang mencurah menghapus dunia sorcery ciptaan Dean Molsen, sihir yang tadinya membantu roh-roh memadat di tanah ini.

Tepat sebelum melenyap total, sang demon mengambil kembali jantungnya lalu membaca bisikan pemikiran terakhir dari pria yang menjadi wadah sekaligus pengikutnya.

“Segalanya... berada di dalam genggaman telapak tanganku...”

Itulah penyesalan terakhir dari Dean Molsen.

“Kamu pikir dunia ini teramat mudah?”

Sang Count menyuarakan penyesalan pahitnya di detik-detik maut, tetapi tak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Itu adalah deretan kata yang hanya bisa didengar oleh sang demon.

Sisa-sisa manifestasi Will miliknya terhapus cepat.

Sang demon menjilat bibirnya.

Sungguh disayangkan ia harus kehilangan kesempatan untuk menancapkan jejak keabadian di dunia manusia.

Tepat sebelum bagian jiwa yang bersemayam di dalam tubuh wadahnya lenyap total, sang demon menatap sosok pria yang telah membunuh wadahnya.

Rambut hitam dan mata biru pekat.

“Encrid.”

Ia mengingat nama itu, lantaran sempat mendengar seseorang memanggilnya.

Ia batin seandainya mereka ditakdirkan bertemu kembali, pria ini adalah manusia dengan raut wajah yang ingin disiksanya hingga memohon kematian.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.