Eternally Regressing Knight

Bab 369: Tanpa Rakyat, Tidak Ada Raja

2227 Kata

Bab 369: Tanpa Rakyat, Tidak Ada Raja

"Banyak sekali dari mereka yang berdatangan, ini kian kacau."

Pandangan Owlbear berbelok ke arah sosok yang baru saja bersuara.

"Encrid?"

Sang monster melihat wajah akrab lainnya dan mengucapkan namanya tanpa berpikir.

Encrid melayangkan pandangan ke sekeliling, menangkap orang-orang yang baru tiba dan pria bertopi bulu burung, sebelum akhirnya menatap lurus ke arah sang makhluk.

Mata mereka bertaut.

Dalam seketika, Encrid menata beberapa fakta di dalam kepalanya.

*'Lawan mengenalku.'* *'Lawan kemungkinan adalah seorang bangsawan.'* *'Ia terhubung dengan Black Blade.'* *'Ia sedang dalam proses berubah menjadi monster.'* *'Dan ia tahu cara memanfaatkannya.'* *'Manik mata cokelatnya menyerupai seseorang yang kukenal.'*

Sebuah nama melintas di pikiran.

Seorang pria dengan raga yang tertempa, aroma amis daging, yang selalu menekankan etika dan tata krama. Seorang lawan yang sudah lama tak dilihatnya, namun bukankah pria itu berada di bawah komando Count Molsen?

Apakah ini artinya Count Molsen dan Black Blade berada di kapal yang sama?

Beberapa pertanyaan baru menyeruak, namun berhubung ia memiliki gambaran yang baik tentang siapa lawannya, Encrid membuka mulutnya.

"Baronet Ventre?"

Ia mengenalinya secara sekilas. Itulah yang dikatakan oleh indra keenamnya yang telah terasah.

Baru saat itulah Ventre menyadari mengapa wajah mereka terasa akrab. Mereka adalah orang-orang yang pernah dilewatinya sekilas saat memasuki istana kerajaan.

Momen saat ia menyadarinya, ia menghentak tanah. Ia berniat melarikan diri. Ia tahu apa yang telah dilakukan oleh orang-orang ini—para pejuang dari Batalyon Gila.

Namun pelarian dirinya tak sanggup berhasil.

Wung!

Momen saat ia melesat kabur, sebuah cakram terbang melintasi kepalanya. Segera setelah ia mendengar suaranya, nalurinya bereaksi.

*'Melompat naik artinya kau tewas!'*

Itu adalah kapak pelempar yang sangat cepat secara brutal. Ia merasakan aura yang bahkan tak sanggup ditahan oleh raga monsternya, jadi ia menghindar. Alih-alih melompat naik, Owlbear menundukkan kepalanya. Ia merunduk. Ia menghentikan pelarian dirinya dan membeku di tempat.

"Yudahnya, aku harus menebasmu."

Di belakangnya, sang ahli pedang berambut pirang mendekat dan bersuara. Dialah sosok yang memancarkan aura mengerikan di sepanjang waktu ini.

Tak lama setelah ia bersuara, mata bilah itu pun jatuh. Tebasan meluncur ke depan dan menghantam turun dari atas bagai petir dalam sabetan vertikal.

Ventre—dalam wujud monsternya—membusungkan seluruh bulunya dan menyilangkan kedua tangannya di atas demi menahan.

Crang! Srekk, Krek!

Mata bilah itu tampak tertahan, namun tetap memotong separuh lengan bawahnya.

"Kuaaaargh!"

Sebuah jeritan kesakitan—campuran raungan monster dan jeritan manusia—meledak.

"Hei, ini demi rekan kami."

Pada momen itu, pedang tipis milik Aisha—yang datang bersama Encrid—melesat terbang menuju jantungnya. Ia tadinya berdiri di belakang Encrid seakan-akan tidak ada di sana, lalu melompat keluar demi melancarkan satu tusukan.

*'Sialan!'*

Owlbear mengencangkan otot-otot dadanya dan melompat ke belakang demi mencegah jantungnya tertembus. Pedang tipis itu munjam ke dalam otot dan daging di antara bulu-bulu lalu ditarik keluar. Seberkas aluran darah merah pekat mengikuti mata bilah yang ditarik.

Lawannya adalah seorang Apprentice Knight dari Knights Order. Tidak, itu bukan masalah utamanya. Setidaknya ada lima orang lain di sini dengan tingkat kesaktian serupa dengan Apprentice Knight Aisha. Tak masalah apakah ia berubah menjadi seekor Owlbear atau kakeknya Owlbear sekalipun.

Pertarungan ini sudah selesai momen saat mereka bertemu. Menemukannya adalah bagian yang sulit, bertarung melawannya tidak. Dengan kata lain, semua sudah berakhir begitu bulan terbit.

Jika sang Apprentice Knight, atau lebih tepatnya Knights Order, tidak terlibat, situasinya mungkin berbeda. Namun berhubung mereka telah terlibat, ini adalah hasil yang alami. Jika ada hal yang di luar dugaannya, itu adalah bahwa Krang telah mengirim pengawalnya dan sang kapten pengawal telah turun tangan.

Yah, untuk mengatakannya dengan cara lain, itu artinya setidaknya ada beberapa orang yang merisaukan keselamatan dan keamanan kota, jadi itu bukan hal yang buruk.

Uuuuuu!

Ventre melepaskan beberapa raungan lagi.

"Sialan!"

Ia bertahan seraya menyemburkan umpatan.

"Tolong aku!"

Pada akhirnya, ia memohon demi nyawanya.

Melihat hal ini, kapten pengawal bertopi bulu burung meratapi secara singkat ketidakmampuannya untuk mengenali lawan-lawannya.

*'Mereka semua adalah monster.'*

Apa lagi yang bisa kaumaknai untuk orang-orang yang sanggup mempermainkan monster sejati seperti Owlbear?

Baru saat itulah ia menyadari bahwa rumor tentang Border Guard adalah benar. Di dalam ibu kota, rumor itu masih ditepis sebagai omong kosong dan kisah rekaan.

*'Omong kosong jenis apa.'*

Sang kapten pengawal—yang baru saja lolos dari pengalaman nyaris tewas—mendadak ingin merobek mulut para bajingan yang mengucapkan omong kosong semacam itu.

Owlbear yang telah bertahan dan bertahan mendapatkan lubang di pahanya dan tengkoraknya retak, dan pada akhirnya, lehernya terpotong separuh oleh mata bilah kapak.

Crat!

Di tangan Rem yang telah mengamati, Ventre ambruk ke tanah seraya memancarkan darah merah pekat. Ia jatuh menatap tanah, kepala lebih dulu.

Saat ia menerima luka mematikan dan darah monsternya mengering, transformasinya sirna. Ia kembali ke wujud manusianya. Bulu-bulu berguguran dan seluruh raganya gemetar hebat. Jumlah darah yang memancar berkurang secara signifikan. Hanya karena ia kembali menjadi manusia tak mengubah fakta bahwa ia terluka secara mematikan.

"Uhuk."

Saat Ventre yang terkapar terbatuk darah, Encrid datang dan merunduk di hadapannya.

"Kenapa kau muncul di sini?" tanyanya.

Tentu saja, Ventre tak berniat menjawab. Namun saat ia di ambang kematian, penyesalan membumbung di dalam dirinya, dan Ventre berbicara dengan nada dendam.

"Ini tidak adil."

Panah dendamnya tidak dibidikkan pada Encrid. Itu dibidikkan pada sosok yang telah membuatnya menjadi seperti ini. Mabuk oleh hasrat dan kenikmatan adalah efek samping; itu bukan apa yang sungguh-sungguh diinginkannya. Ia telah kehilangan identitas manusianya dengan menjadi monster, namun ia menemukan kembali bagian dari kemanusiaannya sebelum ajal tiba. Itulah mengapa terasa sangat tidak adil.

"Bagaimana kau bisa menjadi monster?" tanya Encrid.

"Ramuan... ramuan obat..." bisik Ventre saat ia di ambang maut.

Cahaya di matanya perlahan memudar. Ia akan segera tewas. Encrid tak bisa mengajukan pertanyaan lebih lanjut.

Ventre memeras seluruh sisa kekuatannya yang tersisa. Ia tak bisa tewas dan memejamkan mata tanpa mengucapkan hal ini.

"Aku... bukan yang terakhir."

* * *

Count Molsen menganggukkan kepala setelah menerima laporan.

"Dia ditemukan dan dibunuh lebih cepat dari perkiraan."

Bawahannya berdiri di tengah ruang kerja dan bersuara, dan sang Count—yang bersandar di kursinya—menyahut secara acuh tak acuh.

"Tak apa-apa. Lagipula dia murni bidak sekali pakai."

Apakah Encrid dan orang-orangnya lagi? Mereka sungguh gangguan yang merepotkan. Namun demikian, kata-katanya bahwa itu tidak masalah adalah hal yang jujur.

"Persiapannya?"

"Kurang dari dua minggu tersisa."

"Bagus."

Itu adalah malam berbulan purnama. Sang Count—yang telah meminum anggur dengan malam sebagai pendampingnya—menaruh gelasnya lalu bersuara.

"Mari kita lihat dalam dua minggu, Yang Mulia Ratu."

Pada saat itu, mereka akan tahu apakah dirinya atau sang Ratu yang akan duduk di atas takhta.

* * *

Di hadapan mayat Owlbear—atau lebih tepatnya wujud yang kini kembali menjadi Baronet Ventre—kapten pengawal bertopi bulu burung memberikan hormat militer pada Encrid.

"Mohon maafkan kelakuan lancangku sebelumnya."

"Itu bukan hal yang lancang."

Menjaga gerbang adalah pekerjaan yang harus dilakukan.

"Aku berterima kasih atas bantuan Anda," ujarnya.

Encrid menepisnya. Ia berpikir itu adalah pekerjaan yang akan dilakukan oleh siapa pun. Ia lebih merisaukan kata-kata yang diucapkan Baronet Ventre sebelum menyeberangi sungai maut.

"Tapi apakah tidak apa-apa bagimu meninggalkan posisimu?" tanya Encrid seraya berpaling ke arah Matthew.

Ia tak tahu apa yang sedang terjadi di dalam istana kerajaan, namun ia tahu situasinya sangat di luar biasa. Lantas mengapa pengawal Krang ada di sini?

"Tanpa rakyat, tidak ada negara. Tanpa rakyat, tidak ada raja," pangkas Matthew.

Encrid paham. Itu pasti kata-kata Krang. Itu artinya jika ia menjadi raja seraya menutup mata dari rakyatnya yang dibunuh oleh Moonlight Beast, hal itu akan menjadi tak bermakna baginya.

Ia sangat menyukai hal itu. Krang adalah jenis orang yang membuatmu ingin membantunya.

"Bagaimanapun, tampaknya kita telah membereskan berbagai hal secara bersih."

Saat Encrid berbicara, Rem—yang merasa kecewa—menyarankan agar mereka berduel latihan tanding. Ragna menyeka darah dan lemak dari pedangnya. Di satu sisi, Dunbakel mengangkat pedang lengkungnya dan mengangguk.

"Bagus, yang ini."

Ia tampak cukup puas dengan senjata yang diambil Encrid dari pembunuh gelap dan diberikan padanya.

"Tapi apakah ada orang lain dengan aroma amis daging itu?" tanya Encrid.

Dunbakel menggelengkan kepalanya.

"Aku tak melihat siapa pun dengan aroma serupa."

Lalu di mana satu orang lagi ini? Dan jika ada satu lagi, apakah situasinya akan setenang ini? Apakah ada lebih dari satu Moonlight Beast?

Tidak, lawannya mabuk oleh darah monster. Ia menyerah pada naluri dan mencari kenikmatan lewat alat pembantaian. Itulah kesimpulan dari penyelidikan mereka, bahkan tanpa kata-kata dari kapten pengawal South Gate. Encrid bertanya-tanya apakah Ventre hanya menyemburkan omong kosong saat tewas, namun pria itu sungguh jujur saat itu. Ia tidak cukup dungu untuk melewatkan hal itu.

Lalu di mana satu orang lagi ini? Tidak berada di ibu kota. Lalu apa itu, apa lagi yang ada?

Setelah berpikir sejenak...

"Count Molsen menciptakan chimera."

Dengan mengucapkan satu kalimat itu, Encrid mencapai sebuah kesimpulan.

"Hei, aku harus melaporkan hal itu ke istana kerajaan seketika," ujar Aisha lalu bertolak pergi. Tak peduli apakah ini tengah malam atau bukan, ini adalah urusan yang mendesak.

"Uh."

Sebelum pergi, Matthew mendekat. Pada akhirnya, Encrid tak pernah sempat melihat pria ini menggunakan cambuknya. Rem, Ragna, Dunbakel, dan Aisha-lah yang telah menumbangkan Owlbear.

"Ada yang ingin kausampaikan?"

Matthew yang mendekat memilih kata-katanya beberapa kali, lalu tampak meneguhkan hatinya, menggigit bibirnya sekali, dan membuka mulutnya.

"Mohon bantu junjunganku."

"Boleh."

"Sekali saja, saat bahaya datang..."

"Ya."

"... Huh?"

"Sudah kubilang aku akan membantu."

Mengapa ia berpikir Encrid masih berkeliaran di sini alih-alih pulang ke rumah? Itu adalah untuk menyaksikan apa yang telah dilakukan Krang dan untuk mengayunkan pedangnya di sisinya. Karena pria itu akan menjadi seorang raja demi Naurilia.

Yang paling penting, dengan mengirim pengawal pemegang cambuknya ke sini, pria itu telah menyokong kata-katanya dengan tindakan. Pria itu bilang akan melayani negara, rakyat, dan warga. Pria itu bilang akan menjadi raja semacam itu. Ia pun bilang mereka akan menjadi teman.

Pria seperti itu tentu sangat layak untuk diayunkan pedang baginya, bahkan jika Encrid tak akan menjadi Knights-nya seketika. Itulah mengapa jawabannya meluncur begitu cepat, sebuah jawaban yang sangat cepat hingga mengejutkan Matthew.

"Dia bukan pria yang akan berhenti di sisiku. Jadi dia tak akan meminta bantuan."

Krang sendiri telah mengucapkannya. Ia telah bilang akan melakukan ini secara mandiri. Bahwa itu adalah perjudian, namun ia tak sanggup menang jika itu bukan sebuah perjudian.

"Yudahnya kalau begitu."

Matthew pun berbalik pergi.

Saat pagi merebak setelah malam berlalu, sebuah kabar mencapai kediaman Andrew. Itu bukan tentang kejadian tadi malam. Kisah kematian Baronet Ventre sudah dikubur. Semua orang membungkamnya. Kredit dan kisah-kisah tentang menangkap Moonlight Beast sudah dilupakan.

Kabar yang disampaikan adalah tentang upacara penganugerahan gelar Adipati Agung. Itu adalah sinyal yang diluncurkan oleh Krang.

Mungkin karena hal itu, Aisha tak lagi memamerkan wajahnya. Setelah melihatnya dan menghabiskan waktu bersamanya selama beberapa hari, ketiadaannya terasa hampa.

"Apa, Apprentice Knight itu tak datang?" Rem bahkan bertanya seraya mencarinya.

"Mereka bilang upacara penganugerahan gelar sedang digelar. Dia mungkin sedang sibuk," sahut Encrid bersimbah keringat di seluruh raganya.

Ia pun merasa kecewa.

*'Andai saja kita bisa melakukannya seratus, tidak, dua ratus kali lagi.'*

Maka ia akan sanggup menembus tekanan ujung pedangnya. Meski untuk menundukkan Aisha secara telak pasti membutuhkan jauh lebih banyak waktu. Ia menyesali semuanya. Wanita itu adalah lawan yang ingin dihadapinya puluhan dan ratusan kali lagi.

"Berhubung aku kecewa, aku harus memukuli sang kapten saja. Ayo keluar."

Rem—yang membasahi bibirnya—telah menggaruk rasa gatal. Encrid pun merasakan hal yang sama.

* * *

Situasi di dalam istana kerajaan berubah dari hari ke hari. Semua itu sesuai dengan niat Krang. Dan Krang mengipas kobaran api kian besar.

"Apakah kita hanya akan berdiam diri dan menonton? Seorang Adipati Agung!" "Apakah dia sedang menggali kuburannya sendiri?"

Itu cukup untuk membuat seluruh faksi bangsawan bangkit berdiri. Di dalam istana kerajaan—di mana gelar marquis adalah yang tertinggi—sang Ratu telah menyatakan akan menganugerahkan gelar Adipati Agung pada Krang.

"Ke mana Baronet Ventre pergi?" tanya Baronet Mernes.

Dialah pria yang kini menyatukan seluruh faksi di istana kerajaan. Salah satu alasan faksi-faksi yang terpecah menjadi satu adalah keberadaan lawan mereka, Krang.

Setelah merebut kendali atas Marcus Vaisar dan beberapa bangsawan lain, ia seketika mencari gelar Adipati Agung dengan sang Ratu di sisinya. Segala hal yang dilakukannya adalah ancaman bagi faksi bangsawan. Dari reformasi kelembagaan demi memperkuat kekuasaan kerajaan hingga segala hal lainnya, itu secara alami adalah situasi yang tak bisa mereka tonton saja.

Jelas bahwa pria itu harus ditumbangkan. Ia adalah ancaman bagi seluruh bangsawan. Tampaknya sang Ratu menyokongnya, namun sudah menjadi hukum untuk menumbangkan sosok yang melangkah maju dan memicu keributan paling keras terlebih dahulu.

*'Apakah dia bertindak begitu arogan karena memiliki sokongan sang Ratu?'*

Baronet Mernes menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan Krang pada akhirnya adalah kehendak sang Ratu.

*'Mengapa Anda melakukan ini, Yang Mulia.'*

Ini pada akhirnya akan mendatangkan malapetaka. Secara alami, faksi-faksi telah berkumpul dan menyatu. Jelas bahwa jika mereka tidak memproyeksikan kekuatan bersatu mereka ke luar, itu akan menjadi sakit kepala. Sang Ratu telah menggali kuburannya sendiri.

Upacara penganugerahan gelar tinggal seminggu lagi. Baronet Mernes mengerahkan gilde pembunuh gelap. Dan ia pun menggunakan kekuatan yang telah menyokongnya. Sisa-sisa pasukan kelompok Black Blade memasuki istana kerajaan. Ia menggunakan para pendukungnya di antara Royal Guard. Dan ia menginformasikan kepada mereka dari sebagian Knights Order yang telah beralih ke sisinya tentang panggilan perang.

*'Inilah kesetiaan.'*

Pasang surut telah berbalik. Perang saudara hanya akan mengikis negara. Dalam hal itu, akan lebih baik meredam semuanya sebelum bermula. Jika sang Ratu berniat menggunakan saudaranya yang mendadak muncul sebagai perisai...

*'Saudara itu akan tewas.'*

Maka sang Ratu pun tak akan lagi melakukan hal-hal semacam itu. Wanita itu akan menjadi boneka yang duduk di atas takhta. Setelah itu, ia akan membiarkan raja yang sejati membuat pintu masuknya.

*'Pekerjaanku berakhir di sana,' gumam sang baronet pelan.*

Segala hal akan berakhir sehari sebelum upacara penganugerahan gelar.

Ada kendala pada bab ini?

Tulis komentar di bawah jika Anda menemukan kesalahan translasi, nama karakter/istilah, atau masalah lainnya agar segera kami perbaiki.